Cikal Bakal Gereja Kristen Protestan Bali
Sejarah Misi Kristen di Bali
Cikal Bakal Gereja Kristen Protestan Bali
Karya: Made Gunaraksawati Mastra, Kategori: Pilihan Dosen
I. Pendahuluan
Kekristenan di Bali ada karena jasa-jasa Pekabar-pekabar Injil yang memberikan hidupnya untuk memberitakan Injil ke tengah-tengah masyarakat Bali yang belum mengenalnya. Usaha pekabaran Injil di Bali mengalami banyak tantangan dan kendala, namun tidak menghalangi untuk Injil diberitakan di pulau ini sehingga membuahkan hasil baptisan orang-orang Bali yang menjadi cikal bakal jemaat Gereja Kristen Protestan Bali.
Makalah ini akan menyajikan sejarah missi di pulau Bali yang melahirkan cikal bakal jemaat Gereja Kristen Protestan di Bali. Sejarah missi ini dibagi ke dalam 3 periode, periode pertama tahun 1597 – 1928 dan periode kedua tahun 1929 - 1936 berdasarkan efektifitas usaha penginjilan yang dilakukan. Kemudian periode terakhir 1937 – 1949 sebagai masa persiapan kelahiran Gereja Kristen Protestan Bali.
II. Usaha-usaha Pekabaran Injil ke Bali
A. Periode 1597 - 1929
Penduduk Bali adalah sebagian dari penduduk Melayu yang tersebar di seluruh Nusantara. Di samping orang-orang Bali, juga banyak terdapat orang-orang pelarian dari Jawa.
Pemberitaan Injil Masa Pendahuluan dan Akibat-akibatnya
Pada akhir abad ke-16 orang Bali telah berkenalan dengan orang-orang Portugis dalam hubungan dagang. Tetapi tidak ada catatan sejarah yang menyatakan adanya usaha pekabaran Injil dari kontak itu.
Pada tahun 1597 Bali ditaklukkan oleh Belanda dan dijadikan pusat perdagangan budak bagi maskapai perdagangan Belanda V.O.C. Pemerintahan Belanda menghambat pekabaran Injil ke Bali, sebab Belanda hanya mementingkan kepentingan ekonomi dan juga beranggapan bahwa pengaruh agama asing akan membawa kerusakan pada kebudayaan Bali yang unik. Tahun 1630 seorang pendeta Belanda bernama Justus Heurnius datang ke Bali bersama V.O.C. dengan maksud menawarkan kerjasama dengan Raja-raja Bali dalam perang melawan Lombok. Ia berharap mendapat pamrih dari hasil kerjasamanya dengan V.O.C. agar dapat memasukkan kekristenan. Sebelumnya ia melihat budak-budak Bali di Batavia suka bertanya tentang agama dan bersedia menjadi Kristen. Oleh karena itu ia mengusulkan kepada pemerintah Belanda untuk melakukan pekabaran Injil di Bali, namun permintaannya ditolak.
Pada tahun 1825 seorang utusan Inggris bernama Dr. H.W. Medhurs mengadakan perjalanan Pekabaran Injil ke Jawa Timur dan tahun 1829 ia sampai ke Bali Utara (Buleleng) dengan maksud menyelidiki situasi. Ia mendapat kesan bahwa orang Bali kotor seperti binatang, pemadat, banyak orang jual beli budak. Oleh sebab itu ia mengusulkan agar pemberitaan Injil segera dimulai disertai dengan tenaga medis. Namun usulannya itu baru dilaksanakan pada tahun 1838 dengan kedatangan Pendeta Ennis. Ennis bekerja beberapa tahun, menyampaikan Injil dengan bahasa Melayu, tetapi orang Bali sulit memahami bahasa Melayu sehingga dia gagal dalam tugasnya dan meninggalkan Bali tanpa hasil apapun.
Pada tahun 1846 Belanda berhasil mengalahkan Bali dan mendapat kedudukan yang kuat di Bali. Dr. W.R. Baron van Hoevall, seorang pendeta di Batavia berkunjung ke Bali dan berkesimpulan bahwa suasana di Bali saat itu sudah siap untuk usaha penginjilan. Pandangan orang Bali tentang Tuhan yang Esa mirip dengan Allah Tritunggal, sehingga mereka cepat bisa mencernanya. Disamping itu banyak orang Bali merasakan sistem kasta yang ada dalam agama Hindu Bali tidak adil dan banyaknya upacara dan kewajiban sehubungan dengan penyelenggaraan upacara dan persembahyangan menyebabkan mereka jadi miskin. Pada waktu kembali ke Belanda, ia menyebarkan pamflet minta perhatian supaya bisa melaksanakan Pekabaran Injil ke Bali.
Baru dalam tahun 1863, Belanda memberikan izin kepada Perhimpunan Missi Utrecht (U.Z.W.) untuk melakukan usaha pekabaran Injil di Bali. U.Z.W. bekerja sama dengan Lembaga Alkitab Belanda (N.B.G.) mengutus van der Tuuk untuk menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bali. Ia bekerja di Bali tahun 1870 – 1873. Sebelum bekerja di Bali dia bekerja di Gereja Batak dan di sana ia sudah tampak murtad dengan mengatakan “Yesus orang gila dari Nazareth”. Jadi sebenarnya waktu ia ditugaskan ke Bali dia sudah kafir, sehingga pelayanannya sama sekali tidak membawa hasil, lebih-lebih karena akhirnya ia lebih banyak bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda.
Tahun 1863 U.Z.V. menetapkan Bali sebagai lapangan kerjanya dan mengutus Pekabar Injil ke Bali. Pengurus tertarik karena penduduk Bali masih kafir dan sedikit yang beragama Islam dan Zending mengharapkan orang Bali akan lebih menerima Kristen daripada Islam. Ada tiga Pekabar Injil Belanda, yaitu van Eck, de Vroom, van der Jogt, yang mulai menjalin hubungan erat dengan orang-orang Bali, mempelajari bahasa mereka dan juga adat istiadat kehidupan mereka sebagai persiapan bagi tugas missioner mereka. Pada tahun 1873 – 13 tahun sesudah permulaan missi mereka – Van Eck dapat membaptis orang Bali yang pertama: I Gusti Karangasem dari Bali Timur.
Orang Kristen Bali pertama itu mengalami kesukaran hidup karena kekristenannya. Van Eck yang membaptisnya telah meninggalkan Bali karena terganggu kesehatannya, oleh karena itu ia menemui de Vroom untuk mencari kekuatan atas penderitaan hidupnya, tetapi setiap kali bertemu, pekabar Injil itu menguji kesetiaan imannya dengan meminta dia mengucapkan 10 Hukum Allah, doa Bapa kami serta Pengakuan Rasuli untuk mencegahnya kembali ke agamanya yang lama. Karena usahanya mencari penghiburan ditanggapi dengan peringatan-peringatan yang keras, akhirnya ia menghasut dua orang pembantu Van Eck yang beragama Islam untuk membunuh Pekabar Injil Belanda itu. Ketiga orang itu kemudian dihukum mati.
Namun timbul reaksi keras dari orang-orang Bali terhadap Pekabar Injil yang dianggap melecehkan budaya dan agama pribumi. Disamping itu tuntutan nilai rohani ajaran Kristen dianggap tidak sebanding dengan pola kehidupan mewah yang dijalani para Pekabar Injil Belanda. Terakhir, para Pekabar Injil itu gagal memperlihatkan perbedaan antara nilai-nilai ajaran agama yang dibawanya dengan penindasan yang dilakukan oleh bangsanya yang menjadi penguasa asing. Oleh sebab itu kekristenan ditolak. Atas dasar ini pemerintah kolonial menutup Bali kembali dari usaha pekabaran Injil. Hampir selama 50 tahun Bali tertutup bagi Pekabar Injil demi ketentraman dalam negeri. Pada tahun 20-an para ilmuwan, seniman dan sastrawan dari Eropa dan Amerika, yang mengagumi budaya Bali sebagi “surga akhir dunia”, turut menekan pemerintah kolonial Belanda untuk melarang perembesan unsur Kristen ke dalam budaya Bali agar Bali dapat dilestarikan sebagai sejenis “Museum Kebudayaan”.
Sampai periode ini usaha-usaha Zending atau Misi untuk memasukkan Injil ke Bali dikatakan gagal karena tidak berhasil mendirikan Gereja di Bali. Meskipun demikian usaha permulaan tetap mempunyai arti yang besar bagi persemaian pemberitaan Injil ke Bali.
B. Periode 1929 - 1936
Perjuangan Pemberitaan Injil sejak 1929 dan Hambatan-hambatannya.
Periode ini menandai keberhasilan usaha-usaha Pekabaran Injil di Bali sampai ke pelosok-pelosok di Bali. Injil bekerja sendiri menggerakkan hati orang Bali untuk tertarik belajar agama Kristen serta dibaptiskan.
Keberhasilan ini juga tidak terlepas dari jasa seorang pribumi dari Jawa bernama Salam Watias. Watias yang berasal dari Kediri menerima baptisan pada 26 Desember oleh Drs. van Engelen (utusan N.Z.H.) yang bekerja untuk G.K.J.W. Sebelum dibaptiskan dia bekerja sebagai polisi pemerintah, kemudian pada tahun 1929 ia diangkat menjadi pegawai British and Foreign Bible Society sebagai agen penjualan di kota Singaraja di Bali Utara. Waktu itu Bali merupakan daerah yang tertutup untuk Pekabaran Injil, tetapi larangan itu tidak berlaku bagi penginjil pribumi.
Selain Salam Watias, usaha penginjilan di Bali juga dilakukan dengan giat oleh I Nengah Mekiarna (Jakub), seorang Bali dari desa Git-git di Singaraja. Karena melakukan kejahatan pembunuhan lalu ditahan di Surabaya kemudian dipindahkan ke Ambon tahun 1924. Setelah bebas dia menerima baptisan dan menikah dengan wanita Ambon. Kemudian dia pulang ke Bali bersama istrinya pada tahun 1931. Ketika orang-orang desa tahu bahwa ia beragama Kristen, banyak orang yang telah membeli buku Injil datang kepadanya untuk bertanya tentang agama Kristen dan minta diberi pelajaran agama Kristen yang lengkap.
Karena orang Bali mempunyai kesenangan membaca pelajaran-pelajaran agama, maka ribuan buku terjual Buku yang paling digemari adalah Injil Lukas yang ditulis dalam bahasa Bali.
Watias memakai pendekatan kultural, jalinan hubungan historis kekerabatan Jawa Bali, dalam mendekati orang Bali dengan menjelaskan bahwa orang Bali dan Jawa bersaudara karena sama-sama “Wong Majapahit” dan dengan rajin memupuk persaudaraan dengan orang-orang Bali. Dia mengunjungi orang-orang sakit dan orang-orang yang meminta penjelasan. Hasil pekerjaannya itu membuahkan hasil. Pada tahun 1930 sekitar 80 orang Bali minta dibaptiskan. Merasa tidak sanggup melayani orang sebanyak itu karena tugas pokoknya sebagai agen penjualan membuatnya menulis surat kepada G.K.J.W. untuk melayani di Bali. Tetapi permintaannya itu tidak mendapat jawaban karena Bali masih tertutup bagi Pekabaran Injil.
Tahun itu Pendeta Brill, utusan Christian Mission Alliance (C.M.A.) dari Amerika, datang ke Bali menyamar sebagai turis untuk menyelidiki kemungkinan mengutus seorang penginjil. C.M.A. adalah usaha dari golongan Kristen di Amerika Serikat yang merasa terpanggil untuk memberitakan Inji di mana-mana dengan secepat mungkin karena pandangannya “Hari Tuhan” sudah dekat sekali. Mereka memberi tekanan secara khusus kepada eskatologi dan tidak menekankan metode kerja yang memperhatikan sekolah-sekolah, yayasan sosial, maupun mengorganisasi jemaat. Mereka tidak memperhatikan kebudayaan, yang dipentingkan adalah pertobatan untuk dibaptiskan, karena Tuhan akan segera datang. Aliran ini sangat pietis dan fundamentalis, dan senang melakukan baptisan selam yang dilaksanakan di sungai
Beberapa waktu setelah itu, Dr. R.A. Jaffray, Ketua C.M.A., datang untuk meminta izin kepada pemerintah kolonial Belanda agar bisa melayani orang-orang Tionghoa yang Kristen sebagai taktik untuk bisa masuk ke Bali dengan izin resmi dan berhasil diberikan izin.
Kemudian C.M.A. dan Chinese Missionary Union bekerjasama untuk mengutus Penginjil Cina yang bernama Tsang Kam Fuk, yang kemudian hari menyebut dirinya Tsang To Hang, untuk mengabarkan Injil di kalangan terbatas orang-orang Tionghoa di Bali. Melalui seorang wanita Bali, istri seorang Tionghoa, ia berkenalan dengan beberapa orang Bali yang ingin keluar dari tradisi Hindu-Bali. Mereka telah dipengaruhi oleh aliran mistik Jawa yang diajarkan oleh seorang Guru bernama Raden Atmajakusuma pada tahun 1908-1927. Ia mengajarkan bahwa keselamatan dapat diperoleh dari pengalaman rohani di dalam batin dan dengan bersatunya manusia dengan Allah, juga kemerdekaan rohani dan persamaan bagi semua orang. Ajarannya menggemparkan masyarakat dan agama Hindu Bali karena ajarannya banyak menyerang agama Hindu Bali, misalnya ritus-ritus atau upacara-upacara yang merupakan unsur yang sangat penting dalam agama Hindu Bali tidak diperlukan lagi.
Pemerintah kolonial mengusirnya dari Bali untuk menghindari adanya kerusuhan yang bisa mengganggu stabilitas keamanan di Bali. Namun sebelum meninggalkan murid-muridnya ia mengatakan: ”Aku akan pergi tetapi kamu jangan takut sebab ada yang akan meneruskan ajaranku.” Pada waktu Penginjil Tsang To Hang datang, orang-orang Bali mengira dia sebagai penggantinya sehingga disambut dengan baik.
Pekabaran Injil dapat berlangsung dengan baik setelah itu. Hal ini disebabkan beberapa faktor yang saling mempengaruhi. Dasar untuk penginjilan telah dipersiapkan melalui ajaran-ajaran mistik yang disambut orang Bali sebelum kedatangan Tsang. Di pihak lain, lembaga-lembaga kolonial yang ada di Bali agak melonggarkan cara memerintah yang selama ini keras dan otoriter, sehingga bisa memberikan contoh kehidupan yang baik yang menarik simpati masyarakat Bali, seperti: menyelenggarakan sekolah bagi anak-anak pribumi, memungkinkan perkawinan campur antar kasta. Selain itu, krisis perekonomian dunia saat itu, berita-berita pemberontakan di Sumatera dan Jawa, memberikan dampak di bidang ekonomi, sosial, budaya dan keagamaan yang saling kait-mengait. Permasalahan-permasalahan yang muncul membuat orang mempertanyakan kebenaran agama warisan yang diyakininya dan membuka hati orang-orang Bali bagi berita Injil, sehingga pada tahun 1932 dilaksanakan lagi baptisan di sungai Yeh Poh.
Pada waktu baptisan, Tsang bersama dengan Direktur Missi Dr. Jaffray melaksanakan baptisan, Tsang meminta agar mereka yang bertobat membakar patung-patung ilah dan menghancurkan pura keluarga, karena dianggap menjadi tempat setan dan iblis, serta melarang mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan serta kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan Pura dan Desa.
Upacara baptisan itu mendapat perhatian besar dari masyarakat Hindu Bali. Setelah itu ia sering mendapat undangan ke desa-desa untuk mengajarkan agama. Tsang mengajarkan Firman Tuhan, nyanyian-nyanyian dan doa-doa dengan penuh semangat. Kepandaiannya dalam membawakan firman menggerakkan hati pendengarnya. Namun pandangan dan sikapnya yang dianggap melecehkan agama Hindu Bali meresahkan masyarakat Hindu Bali, mereka mengadakan pembelaan serta melawan arus semangat yang melawan tradisi-tradisi agamawi mereka. Orang-orang Kristen yang tak bersedia memenuhi kewajiban-kewajiban di pura dan upacara-upacara ibadah, yang berkaitan dengan sumbangan-sumbangan wajib, dicabut haknya, dikucilkan dan dibuang dari desa, dilarang menguburkan orang mati di pekuburan desa. Orang-orang Kristen yang mengadakan kebaktian sering diganggu.
Asisten Residen orang Belanda menunjukkan sikap simpatik dan memberikan bantuan kepada orang-orang Kristen yang datang melaporkan penghambatan yang mereka alami, dan orang-orang Bali yang menjadi Kristen lebih suka memakai cara berpakaian seperti orang Belanda, mengenakan rok dan celana panjang daripada mengenakan pakaian adat Bali, sehingga orang-orang Kristen lalu dikatakan beragama Belanda dan disebut “Belanda hitam”.
Peristiwa-peristiwa penghambatan terhadap orang-orang Kristen berakibat banyak orang-orang yang dulu berkeinginan mendengarkan Injil menjadi takut dan mengundurkan diri. Di pihak lain, orang-orang Kristen menjadi sungguh-sungguh teruji sehingga menjadi orang-orang yang setia.
Pembaptisan tidak saja dilakukan di kota, tetapi juga di desa-desa. Karena jumlah orang Kristen telah banyak maka C.M.A. mengirimkan beberapa orang muda Bali untuk belajar Sekolah Alkitab di Makasar.
Peralihan dari C.M.A. kepada G.K.J.W. dan Perpisahan Gereja.
Watias yang prihatin dengan penghambatan terhadap orang Kristen akibat cara kerja penginjilan Tsang yang dianggap kasar, kemudian menyurati Dr. C.P. Cohen Stuart (kepala agen B.F.B.S. untuk Bali) untuk melaporkan situasi tersebut serta memohon dikirim penginjil-penginjil bagi orang-orang Bali. Ia lalu dihubungkan dengan Dr. H. Kraemer, utusan N.B.G. seorang missiolog Belanda. Berdasarkan permintaan Watias, Dr. H. Kraemer mengutus guru Tartib Efrayim ke Bali untuk mengadakan penyelidikan mengenai situasi sesungguhnya. Berdasarkan masukan ini dan hasil pengamatannya sendiri, ia merasa perlu mengambil alih pimpinan missi di Bali dari C.M.A.
Pemerintah kolonial Belanda akhirnya mengusir Tsang pada tahun 1933. Namun Tsang telah berhasil membaptiskan sekitar 260 orang Bali. Pada umumnya orang-orang Bali masuk Kristen dengan seluruh keluarga dan sanak keluarganya, jarang sekali secara perorangan, supaya lebih mudah menghadapi resiko penghambatan yang keras dari masyarakat Hindu Bali. Oleh karena penghambatan dari masyarakat Hindu Bali yang tidak senang dengan peralihan orang-orang Bali ke agama Kristen, pemerintah kolonial kemudian memberikan tempat bagi keluarga-keluarga Kristen itu di kawasan hutan Bali Barat, sesuai dengan pandangan orang Bali, bahwa bagian barat, yaitu kawasan tempat matahari terbenam adalah kawasan setan. Tempat itu kemudian berkembang menjadi pemukiman Kristen dengan pertanian yang berhasil.
C.M.A.
Setelah izin kerja Tsang dan seluruh kegiatan CMA dicabut, orang-orang Kristen baru untuk sementara tidak ada yang menggembalakan. Karena C.M.A. telah ditarik dari Bali, maka tahun 1934 pemuda-pemuda Bali yang ada di Makasar dipulangkan untuk memimpin jemaat di daerahnya masing-masing.
Misi Gereja Roma Katolik
Dalam masa kekosongan pemimpin dalam Gereja itu, Romo J. Kersten S.V.D. tahun 1935 datang ke Bali dan mencari hubungan dengan orang-orang Bali, bahkan ia memakai situasi di atas untuk memasukkan pengaruh gereja Roma Katolik kepada pemimpin-pemimpin Gereja.
Peranan Dr. H. Kraemer dan G.K.J.W.
Berdasarkan laporang penyelidikan dari Guru Tartib dan Dr. H. Kraemer, Sidang Sinode G.K.J.W. ke III di Swaru pada tahun 1932 telah memutuskan untuk mendukung pekabaran Injil di Bali, bukan karena orang Bali tidak puas dengan agamanya sendiri tetapi karena Roh Kudus telah mempersiapkannya, serta harus dilakukan dengan hati-hati supaya tidak menimbulkan kekacauan. Berdasarkan ini diutuslah dua orang Guru, yaitu Guru Tartib dan Guru Darmoadi, ke Bali untuk penginjilan dengan bantuan pembiayaan dari Dr. H. Kraemer. Pemerintah kolonial Belanda masih menutup Bali dari usaha Pekabaran Injil, sebab tidak disetujui oleh Volksraad yang ingin menjaga keharmonisan masyarakat Bali dan pelestarian budaya Bali yang sudah termasyhur di dunia. Oleh karena itu utusan penginjil dari G.K.J.W. menggunakan alasan untuk penggembalaan orang-orang Kristen baru di Bali.
Pedoman bagi utusan G.K.J.W. adalah untuk mempersiapkan orang Kristen Bali menjadi dewasa supaya bisa mandiri, dengan bantuan pimpinan dan pengawasan G.K.J.W., mendidik orang Kristen dalam iman Kristen dengan kemungkinan-kemungkinan mengungkapkan kepercayaannya secara Bali, sehingga agama Kristen tidak menjadi asing, serta menguatkan iman Kristen orang-orang yang baru percaya agar tegar menghadapi berbagai penghambatan. Dr. H. Kraemer juga mengusulkan agar orang Kristen Bali bersedia menurut adat istiadat desa di Bali, bekas tempat pemujaan orang yang baru percaya jangan dibongkar supaya tidak menimbulkan ketersinggungan masyarakat Hindu Bali, orang Kristen turut memberi sumbangan saat hari raya Hindu asalkan tidak menyembah, orang Kristen agar membantu bila ada upacara pembakaran mayat supaya bisa menerima warisan. Namun usulan ini ditentang keras oleh Dr. Jaffray dari C.M.A. dengan alasan bahwa tidak ada gunanya pemberitaan Injil jika orang tidak bersungguh-sungguh menjadi orang Kristen atau sekedar ikut-ikutan dan bahwa orang Kristen harus memperlihatkan kekristenannya secara nyata dari permulaan sebagai landasan kekristenan yang benar di Bali, sebab jika dari permulaan sudah lemah maka kekristenan di Bali akan selamanya lemah.
Guru Tartib mempelajari cara hidup orang Bali dan cerita-cerita wayang, sehingga bisa bercerita dan diterima baik oleh orang-orang Bali. Demikian juga Guru Darmoadi belajar bahasa Bali supaya dapat menerjemahkan Injil, nyanyian dan doa-doa.
Banyak orang menjadi tertarik untuk belajar agama Kristen serta minta dibaptiskan. Akibat banyaknya orang yang dibaptis, pemerintah setempat membolehkan orang belajar agama Kristen, tetapi tidak boleh masuk agama Kristen. Di samping itu masyarakat Hindu Bali melarang anak-anak diajar di sekolah oleh guru yang beragama Kristen.
Oleh karena hambatan-hambatan ini, baptisan orang-orang Kristen Bali lalu dilakukan di Jawa. Tetapi dengan semakin banyaknya orang-orang Bali yang minta dibaptis, akhirnya diputuskan supaya baptisan dilakukan di Bali saja atas dasar bahwa tidak ada aturan yang melarang baptisan, supaya tidak menarik perhatian besar di surat kabar dan menimbulkan persoalan baru, serta menghindari tuduhan orang menjadi Kristen karena disuap sebab biaya yang diperlukan untuk membawa orang ke Jawa sangat besar. Jemaat dipersiapkan untuk menjadi dewasa, dibentuk Majelis Jemaat yang mengadakan rapat secara rutin tiap-tiap bulan dan disusun tata tertib gerejawi.
Di samping hambatan-hambatan yang telah disebutkan di atas, juga ada hambatan dalam soal warisan yang hilang bila seorang anak menjadi Kristen, soal kasta yang dihilangkan bila meninggalkan agama Hindu dan juga pemutusan hubungan keluarga. Ini mengakibatkan orang takut masuk Kristen, terlebih-lebih mereka yang berkasta.
Dr. H. Kraemer yang banyak berperan dalam memberitakan Injil di Bali juga dikecam oleh orang-orang Eropa yang tidak setuju dengan usahanya itu. Tahun 1935 Dr. H. Kraemer pulang ke negeri Belanda dan tidak kembali lagi ke Indonesia.
Perpisahan Gereja
Jemaat Kristen di Bali secara resmi berada di bawah penggembalaan G.K.J.W., namun kepemimpinan jemaat terpecah-pecah antara yang memilih berhubungan dengan C.M.A., G.K.J.W. dan Gereja Roma Katolik. Pada bulan Maret 1935, pemimpin-pemimpin jemaat dipanggil oleh Mr. Jansen, Asisten Residen, dianjurkan untuk bersatu mencari hubungan dengan G.K.J.W. Pertemuan itu menimbulkan perpisahan jemaat-jemaat menurut hubungan yang dipilihnya.
C. Periode 1937-1949
Masa Pendudukan Jepang
Masa ini adalah masa pembangunan, di mana jemaat-jemaat agak tenang di bawah pembinaan G.K.J.W. sampai pada tahun 1942. Pada masa Jepang, Gereja muda itu ditinggalkan oleh semua utusan, tetapi karena G.K.J.W. telah mempersiapkan mereka untuk mandiri, maka keberadaan Gereja itu terjaga dengan baik.
Cikal Bakal Gereja Kristen Protestan Bali
Setelah semua Jemaat-jemaat yang sehaluan di Bali bersatu, segera diadakan rapat-rapat untuk membicarakan pekerjaan Jemaat dan persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Dari pertemuan ini diadakan koordinasi Jemaat-jemaat dan tahun 1938 dibentuk “Pasikian Kristen Bali” (Persekutuan Kristen Bali). Persekutuan ini mula-mula hanya kalau ada persoalan dalam Jemaat-jemaat.
Pada mulanya rapat ini diadakan di rumah Ds. Gramberg, kemudian diselenggarakan oleh jemaat secara bergilir, diutamakan di jemaat yang mengalami penghambatan. Pada mulanya pimpinan dipegang oleh orang, kemudian utusan Jawa dan akhirnya diserahkan kepada orang Bali sendiri. Mula-mula rapat ini hanya memberi nasehat saja terhadap persoalan-persoalan Jemaat dan kepada Pemerintah, tetapi kemudian keputusan-keputusan itu menjadi “Tindakan Gereja”.
Tidak hanya musyawarah dan keputusan yang diambil, tetapi juga mengembangkan rasa solidaritas sebagai satu Gereja. Pada akhir tahun 1947 pemimpin-pemimpin jemaat di Bali berkumpul untuk membicarakan Gereja berdiri sendiri, yang dilanjuti dengan sidang pada tanggal 14-16 Januari 1948 di Belimbingsari. Persidangan ini dengan suara bulat memutuskan Gereja berdiri sendiri dengan nama: “Persatuan Kristen Protestan Bali”. Nama ini dirubah dalam sidang berikutnya pada tahun 1949 menjadi Gereja Kristen Protestan di Bali, disingkat menjadi G.K.P.B.
III. Refleksi
Tinjauan dan Analisa
Tiap-tiap persoalan maupun masa, senantiasa dipengaruhi oleh masa lalunya. Situasi politik, sosial dan agama sangat mempengaruhi perkembangan Injil di Bali. Adanya kebudayaan yang khusus di Bali, di mana agama sangat mempengaruhi adat dan seluruh kehidupan orang di Bali, sehingga kedatangan Injil menimbulkan banyak persoalan dan menjadi diskusi di antara pemerintah, para ahli dan di lingkungan Gereja sendiri.
Usaha-usaha Pekabaran Injil ke Bali dalam tahap pendahuluan yang diwarnai dengan pembunuhan De Vroom (1597-1881) telah mengakibatkan ditutupnya Bali untuk Zending. Kemudian usaha Salam Watias (B.F.B.S.), Pendeta Tsang To Hang (C.M.A.) danZending Belanda bersama-sama dengan G.K.J.W. telah berhasil mendirikan Gereja Bali. Pekerjaan mereka juga ada yang positif dan ada yang negatif.
Semua persoalan-persoalan tersebut mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung terhadap kekristenan di Bali.
Berdasarkan hal di atas, maka tinjauan dan analisa akan digolongkan sebagai berikut:
A. Pengaruh-pengaruh Politik, Sosial dan Situasi Kerohanian terhadap Penyebaran Injil di Bali.
Politik
Setelah peristiwa de Vroom (1881), pemerintah kolonial Belanda merasa masyarakat Bali menolak kekristenan dan tidak pernah lagi memberi izin kepada Zending untuk bekerja di Bali. Kemudian ditambah dengan tekanan dari para ilmuwan, seniman, sastrawan yang ingin menjadikan Bali sebagai “Museum Kebudayaan”. Dengan menutup Bali kebudayaan akan menjaga keasliannya sehingga menarik perhatian asing ke Bali. Keputusan ini dapat dimengerti, tetapi sebenarnya mereka lupa bahwa dengan masuknya orang-orang asing ke Bali juga membawa pengaruh besar. Mereka juga lupa bahwa agama Islam sudah ada di Bali dan berkembang yang tentu juga merubah kebudayaan.
Berdasarkan ini dapat dikatakan bahwa pemerintah kolonial Belanda menjadi penghalang pekerjaan Tuhan yang tidak menghiraukan kebebasan orang untuk berpindah agama.
Agama Kristen yang dibawa oleh Pekabar Injil yang sebangsa dengan penguasa asing gagal memperlihatkan perbedaan nilai rohani ajaran Kristen yang diajarkan dengan penindasan yang dilakukan oleh bangsanya yang menjadi penguasa asing. Disamping itu, tuntutan nilai rohani ajaran Kristen dianggap tidak sebanding dengan pola kehidupan mewah yang dijalani para Pekabar Injil Belanda. Dengan kata lain, apa yang diajarkan tidak sama dengan yang dilakukan, sehingga kekristenan yang dibawakan oleh Pekabar Injil Belanda juga ditolak.
Sosial
Perekonomian pada waktu itu yang masa “Malaise” (kemunduran perdagangan dunia disebabkan oleh tersedianya banyak barang tetapi tidak diimbangi dengan daya beli yang cukup), telah menyebabkan kesukaran ekonomi dan kemelaratan. Namun terdapat perbaikan ekonomi terutama di kalangan orang Kristen. Pekabar Injil memberikan pertolongan kepada orang-orang yang berkekurangan dan Gereja juga mendapat subsidi dari Zending. Hal lain yang mempengaruhi orang tertarik menerima Kekristenan karena adanya perubahan cara hidup dan perbaikan ekonomi, sebab orang-orang tidak lagi berjudi, sabung ayam, sehingga uang dapat dipergunakan sebaik-baiknya. Juga menjadi Kristen melepaskan mereka dari tuntutan agama Hindu Bali terutama kewajiban adat-istiadat dan penyelenggaraan-penyelenggaraan upacara yang menghabiskan biaya besar.
Adanya keterbelakangan dalam pendidikan turut mendorong orang-orang menjadi Kristen, sebab mereka ingin maju yakni dapat membaca dan menulis. Dengan menjadi Kristen mereka dapat membaca Alkitab dan bernyanyi.
Kerohanian
Dalam bidang kerohanian di sekitar tahun 1930 di Bali terdapat orang-orang yang tidak puas dengan agamanya sendiri terutama pada kalangan orang-orang berpendidikan. Adanya pengaruh-pengaruh ajaran Mistik yang diajarkan oleh Raden Atmadjakusuma mengakibatkan orang berani meninjau agamanya sendiri sebagai agama yang tidak memuaskan dan membutuhkan agama baru. Semula mereka mengharapkan akan mendapat kepuasan dalam ajaran Mistik, tetapi ternyata itu tidak memberi jawaban, dan dalam kedatangan Injil dalam suasana ini membuat orang-orang menerima kekristenan.
Keberadaan orang Bali yang sangat kuat mempercayai kekuatan-kekuatan gaib, menjadi dorongan besar untuk mempelajari agama-agama agar dapat memiliki kekuatan yang lebih besar (sakti) supaya dapat mengalahkan kuasa-kuasa gelap. Hal ini juga yang menyebabkan orang-orang mempelajari Injil.
B. Pertemuan Injil dan Kebudayaan
Dalam meninjau pertemuan Injil dan Kebudayaan di Bali, dalam hal ini yang dimaksudkan adalah Injil, bukan agama Kristen, sebab agama adalah hasil budaya manusia sedangkan Injil bukan hasil karya manusia tetapi merupakan karunia Allah kepada manusia untuk menyelamatkan manusia.
Injil yang disampaikan kepada lingkungan masyarakat yang telah memiliki kebudayaan akan menimbulkan konsekwensi bahwa kebudayaan itu akan dipengaruhi dan mengalami perubahan oleh Injil. Tetapi ada kecenderungan bahwa orang Barat yang membawa Injil menggunakan budaya Barat sebagai ukuran bagi Injil, dan semua budaya asli Bali ditolak sebagai kafir.
Oleh sebab itu tidak mengherankan apabila kedatangan Injil sekitar tahun 1930 dipandang sebagai perusak kebudayaan Bali sehingga menimbulkan pertentangan-pertentangan yang tajam seolah-olah Injil dan agama Hindu Bali tidak bisa hidup berdampingan di Bali. Keadaan yang demikian ditambah dengan pandangan Pekabar Injil maupun orang Kristen yang baru itu, bahwa segala yang berbau Bali adalah berhala dan berasal dari Iblis, menyebabkan dibongkarnya tempat-tempat pemujaan yang sebelumnya dimiliki oleh orang-orang Kristen dan pelarangan mengambil bagian dalam acara-acara desa yang berhubungan dengan penyelenggaraan adat-istiadat dan upacara. Dengan demikian orang-orang Hindu Bali menjadi marah dan menghambat mereka dengan tuduhan tidak mau mengikuti peraturan desa. Hal ini dapat dimengerti. Ini bukan karena Injil itu salah atau tidak cocok di Bali, tetapi karena utusan-utusan (termasuk C.M.A.) terlalu radikal mengadakan perombakan pembaharuan (seolah-olah itu dikehendaki oleh Injil) dengan tidak memperhatikan adat Bali yang bersangkut paut dengan agama sangat mudah menimbulkan salah paham. Sebab itu sepatutnya Injil itu memperbaharui kebudayaan Bali tanpa dipaksakan menurut ukuran-ukuran Barat, serta dengan sikap dan cara yang menunjukkan penghormatan kepada agama orang lain.
C. Tinjauan Usaha-usaha Pemberitaan Injil ke Bali
Pekerjaan C.M.A.
Melihat cara kerja C.M.A., aliran ini sangat fundamentalis dan pietis. Hal ini jelas dari dilaksanakannya baptis selam, mendoakan orang sakit untuk kesembuhan Ilahi dan dari semboyan dalam nyanyian: “Marilah kita memikul salib, biarlah kita sengsara asal nanti dapat ke surga, janganlah mengikuti dunia yang najis ini, supaya kita mendapat surga”.
Karena adanya latar belakang teologis bahwa Hari Tuhan sudah dekat, mengakibatkan mereka bekerja dengan sangat tergesa-gesa dan kasar sehingga menimbulkan tanggapan yang keras dari masyarakat Hindu Bali.
Berdasarkan hal-hal di atas, pekerjaan C.M.A. mengakibatkan pengaruh-pengaruh negatif maupun positif terhadap perkembangan kekristenan di Bali.
Segi-segi negatif
a. Pekerjaan C.M.A. mengakibatkan dihancurkannya kebudayaan asli Bali sehingga menimbulkan antipati orang-orang Hindu Bali terhadap orang-orang Kristen.
b. Sikap C.M.A. tersebut menghasilkan orang Kristen Bali yang menolak dengan tegas segala yang berbau Bali karena dianggap kafir dan dari iblis. Sebaliknya mereka menerima apa saja yang dari Barat, sehingga orang-orang Kristen Bali menjadi orang asing di Bali (karena sikapnya yang serba lain dari orang-orang desa pada umumnya).
c. Karena bekerja tergesa-gesa, maka mereka tidak memperhatikan organisasi Jemaat, tetapi membiarkan Jemaat itu berdiri sendiri dan bebas.
d. Mereka terlalu menekankan aspek keselamatan jiwa dan mendapat surga, menganggap dunia ini tidak penting, sehingga mengakibatkan orang kurang menaruh perhatian pada aspek-aspek budaya dan bermasyarakat.
Segi-segi positif
a. Dengan menghadapi banyak kesengsaraan, menghasilkan orang-orang yang sungguh taat kepada imannya yang menganggap semua penghambatan yang dialaminya sebagai ujian terhadap iman mereka.
b. Dengan adanya sikap yang keras menentang segala yang berbau Bali, mengakibatkan Gereja terlepas dari sinkretisme.
c. Kepemimpinan C.M.A., khususnya Pendeta Tsang To Hang dengan segala keberanian dan semangatnya menjalankan tugas panggilan Tuhan, meyakinkan orang-orang bahwa di dalam kekristenan terdapat hidup yang baru.
Pekerjaan G.K.J.W. dan Zending
Oleh karena izin tidak pernah diberikan kepada Zending Belanda setelah peristiwa de Vroom, maka Zending Belanda melalui Dr. H. Kraemer datang ke Bali atas nama G.K.J.W. Mereka melanjutkan pekerjaan dari dua sumber, yaitu :
a. Dari Salam Watias (B.F.B.S.) selaku orang yang mengundang Dr. H. Kraemer dan G.K.J.W.
b. Dari C.M.A.
Oleh karena Zending dan G.K.J.W. mengerjakan Bali beberapa tahun sesudah ke dua badan di atas, maka Dr. H. Kraemer dan G.K.J.W. telah banyak mendapat pelajaran dari pengalaman-pengalaman C.M.A., sehingga mereka dapat mempersiapkan diri lebih baik untuk memulai pekerjaan di Bali.
Hal ini dibuktikan dari hasil penyelidikan Guru Tartib dan Dr. H. Kraemer ke Bali pada tahun 1932 yang daripadanya kemudian dibuatkan pedoman bahwa:
a. Pekabaran Injil ke Bali harus dimulai berdasarkan “kedewasaan”
b. Mencari pertemuan Injil dan kebudayaan Bali dengan menggunakan pendekatan kultural dan persaudaraan historis “Wong Majapahit”.
c. Harus ditegaskan bahwa agama Kristen bukan agama yang murah dan gampang.
Ke tiga azas tersebut dipraktekkan dengan sungguh-sungguh.
Tetapi walaupun kerja Zending dan G.K.J.W. yang demikian, sebenarnya tidak banyak memberi hasil dibandingkan dengan C.M.A. Hal ini jelas umpamanya pekerjaan di Bali Utara sampai tahun 1935 mereka hanya berhasil membaptiskan 82 orang saja, sedangkan tahun-tahun berikutnya tidak banyak hasilnya.
Pekerjaan di Bali Selatan lebih berhasil disebabkan C.M.A. telah berhasil membaptiskan ratusan orang sehingga mereka tidak takut lagi untuk pindah agama, disamping daerah ini memang telah terbuka untuk hal-hal yang baru termasuk agama.
Untuk lebih mudah menilai pekerjaan Zending dan G.K.J.W. akan dipaparkan segi-segi negatif dan positif pekerjaan mereka.
Segi-segi negatif
a. Pemimpin-pemimpin G.K.J.W. maupun Zending sering kurang kerjasama, masing-masing mencari pengaruhnya di antara orang-orang Bali, misalnya pertentangan antara Guru Tartib dan Sam Watias. Perselisihan itu bisa dimengerti sebab selain Salam Watias adalah orang yang pertama datang ke Bali dan memberi pekerjaan kepada utusan-utusan Jawa, tetapi dalam praktek selanjutnya ternyata Guru Tartib lebih berperan sebab dia seorang pendeta.
b. Utusan-utusan G.K.J.W. dipandang oleh pemimpin-pemimpin Bali sebagai orang yang kurang setia pada tugasnya dan takut menghadapi kekacauan-kekacauan (diperbandingkan dengan Tsang To Hang yang pemberani). Hal ini jelas dalam masa pendudukkan Jepang, mereka meninggalkan begitu saja tugas-tugasnya di Bali untuk menyelamatkan diri sendiri, padahal saat-saat itu orang Kristen baru itu masih membutuhkan pimpinan mereka.
Segi-segi positif
a. Utusan-utusan G.K.J.W. dan Zending bekerja dengan hati-hati sekali, mempersiapkan diri dengan baik dan berusaha mencari pertemuan Injil dan kebudayaan Bali. Juga membimbing orang-orang Kristen supaya menghargai dan memakai kebudayaan Bali.
b. Mereka berhasil membimbing Gereja untuk bersatu. Ini jelas dengan terbentuknya Pasikian Kristen Bali tahun 1938 yang kemudian menjadi Gereja Kristen Protestan di Bali (G.K.P.B.) pada tahun 1949.
c. Para utusan telah memberi contoh kepemimpinan sehingga tahun-tahun terakhir orang-orang Bali dapat mengurus Gereja.
Pemimpin-pemimpin asli Bali
Hal yang mendorong cita-cita Gereja yang berdiri sendiri antara lain disebabkan gerakan persatuan Nasional di Indonesia pada umumnya dan di Bali pada khususnya, juga telah mempengaruhi pemimpin-pemimpin Gereja Bali untuk membentuk Gereja yang berdiri sendiri dengan tidak ada campur tangan asing.
Tindakan pemimpin Gereja seperti di atas sehingga memutuskan hubungan dengan Zending, bisa dikatakan mencampuradukkan antara Gereja dengan politik. Keberatan terhadap pemahaman ini adalah Gereja dianggap sebagai arena politik sehingga melupakan bahwa Gereja adalah Am dan bersatu di bawah satu Kepala yaitu Yesus Kristus.
Di pihak lain, tindakan pemutusan hubungan dengan Zending bisa dimengerti karena Gereja masih muda dan teologinya masih sederhana, pemimpin-pemimpin Gereja telah mengambil jalan itu sebagai jalan untuk menyelamatkan Gereja dari ancaman luar yaitu supaya Gereja tidak dituduh berpihak kepada pemerintah kolonial Belanda dan sebagai mata-mata Belanda.
D. Kekristenan Bali
Orang-orang Bali menjadi Kristen mula-mula tidak dapat dikatakan sebagai orang yang sungguh-sungguh mengerti ajaran Injil. Bahkan ada yang mengatakan “Kristus” berasal dari kata “Keris” (kekuatan) dan “tus” atau “suci”. Maksudnya Kristus adalah kekuatan yang lebih besar dan lebih suci, yang kemudian diterapkan bahwa orang yang menjadi Kristen mendapatkan kekuatan yang lebih besar sehingga bisa mengalahkan kekuatan-kekuatan gaib.
Juga banyak orang Bali yang menerima Injil masih mempertahankan mistik-mistik yang telah mereka miliki waktu mereka masih Hindu Bali, di mana Injil dianggap melengkapi mistik yang mereka miliki. Setelah menerima Injil mereka merasa lebih sakti sebagai seorang dukun atau secara sembunyi-sembunyi masih mempraktekkan ilmu mistik.
Kekristenan di Bali telah meluas melalui garis kekeluargaan. Pada umumnya perpindahan ke agama Kristen tidak dilakukan secara perorangan tetapi per keluarga, yang kemudian juga mencari keluarganya yang lain. Ini disebabkan orang berpindah agama secara perorangan sering menimbulkan kesulitan-kesulitan keluarga seperti hubungan dengan leluhur dan warisan, juga supaya bisa lebih mudah menghadapi kesukaran-kesukaran akibat penghambatan dari lingkungan masyarakat Hindu Bali.
Kesengsaraan yang dialami oleh orang Kristen di Bali akibat penghambatan-penghambatan, selain menyebabkan iman orang-orang Kristen sungguh-sungguh teruji juga telah mengakibatkan orang-orang takut menjadi Kristen, sehingga pertumbuhan Gereja sangat lambat.
IV. Kesimpulan dan Saran
Dari uraian sejarah di atas diketahui bahwa kekristenan di Bali telah ditolak demi kepentingan ekonomi pemerintah kolonial Belanda dan kemudian dengan alasan untuk melindungi kebudayaan Bali. Kekristenan dituduh sebagai perusak kebudayaan. Kedua pandangan ini masih berlaku hingga sekarang dan merupakan faktor utama yang menghalangi orang Bali untuk beralih ke agama Kristen. Faktor ekonomi juga turut berperan, sebab perusakan budaya Hindu Bali dikhawatirkan dapat menyurutkan perhatian asing ke Bali melalui pariwisata yang menjadi tumpuan perekonomian Bali selama ini.
Kedatangan Injil ke Bali bertemu dengan masyarakat yang sudah memiliki agama dan kebudayaan, yang melingkupi seluruh segi kehidupan masyarakat melalui adat. Berdasarkan ini, maka pertemuan Injil dan kebudayaan Bali harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Sepatutnya sikap dan pandangan orang Kristen menunjukkan penghormatan terhadap simbol-simbol suci, adat istiadat serta budaya agama lain. Misalnya: menghindari kata-kata dan sikap yang dapat menyinggung perasaan masyarakat Hindu Bali, pembongkaran bekas tempat pemujaan supaya dilakukan dengan sikap yang rendah hati, dan sejauh dimungkinkan ikut terlibat kerjasama adat dalam batas-batas yang tidak bertentangan dengan integritas iman Kristen. Hal ini akan memudahkan penerimaan kekristenan karena sikap yang menghormati agama lain juga akan menuai penghormatan dari agama lain pula.
Pendekatan kultural yang dilakukan oleh utusan G.K.J.W. telah terbukti dapat membuka hati masyarakat Bali untuk menerima kekristenan. Gereja juga dapat mengembangkan kesenian Kristen, seperti arsitektur Gereja, dekorasi, serta musik, tari dan lagu yang diangkat dari kebudayaan Bali sebab pada hakekatnya kekristenan adalah untuk memperbaharui dan bukan untuk menghilangkan kebudayaan. Berdasarkan ini, orang Kristen Bali dapat menghargai warisan budaya Bali dalam konteks imannya dan mengembangkan cara-cara baru untuk mengungkapkan iman Kristen menggunakan budaya Bali. Hal ini akan memperkaya budaya Bali dan menepis tuduhan bahwa kekristenan merusak kebudayaan.
Pemutusan hubungan dengan Zending juga menghentikan bantuan dana dari Zending. Pada hakekatnya tiap-tiap orang Kristen terpanggil untuk berdiri sendiri dan dewasa di hadapan Tuhan dengan tetap sebagai Gereja yang Am. Kemandirian dalam dana harus senantiasa diusahakan. Bila bantuan dana diberikan maka itu adalah untuk mendukung supaya Gereja dapat mengembangkan diri menuju kemandirian yang lebih tinggi dan tidak tergantung kepada pemberi dana.
Alasan ekonomi untuk masuk Kristen perlud disikapi dengan hati-hati agar tidak memberikan kesan bahwa agama Kristen adalah agama yang murah dan gampang. Namun kenyataan bahwa banyak orang yang keadaan keuangannya sulit, maka Gereja dapat mendirikan lembaga-lembaga dan proyek-proyek yang berfungsi sebagai sarana pelayanan masyarakat, sarana pengembangan SDM, serta sarana penciptaan peluang kerja sebagai sarana penginjilan maupun untuk membantu warga jemaat.
Kekristenan di Bali yang meluas berdasarkan garis kekeluargaan pada akhirnya dapat mempengaruhi kepemimpinan Gereja di Bali dalam bentuk nepotisme, apabila pemilihan pemimpin Gereja lebih didasari oleh kepentingan keluarga daripada kemampuan dan visi misi dari calon pemimpin itu.
Kekristenan di Bali masih sangat muda dan masih harus banyak belajar untuk menjadi Gereja yang dewasa.
TEOLOGI
Senang sekali mendapat informasi tentang sejarah gereja Bali.
Meski buku ini ditulis dalam kurun waktu tertentu, tapi dapat membantu memberi pemahaman dengan pertumbuhan dan perkembangan gereja di Bali. Pertanyaan saya, apakah saat ini gereja di Bali telah makin dewasa menyikapi missinya di tengah konteks Bali yang multikultur dan modern. Sejauhmana kontekstualisasi telah dilakukan oleh gereja Bali, dan dalam bentuk-bentuk apa saja. Saya tentu sangat senang jika ada yang mau berbagai informasi dan refleksi tentang perkembangan gereja di Bali saat ini. Terima kasih. shalom..Pdt. Rudy Rahabeat di Gereja Protestan MAluku (GPM)
Comment by pdt rudy rahabeat — August 9, 2007 @ 9:33 am
Sesungguhnya orng Jawa,Bali,Kalimantan,Lombok yg tetap teguh menganut Agama Hindu Bali lebih mudah mendapat surga dibanding mereka yang pindah ke agama lain..karena Tuhan menganugerahkan Nusantara dengan agama yg dsebut oleh Beliau agama Hindu Bali..sama halnya dgn India yg menerima Hindu India dan Budha,Vatikan yg menerima Katolik,Israel yg menerima Yahudi,Arab Saudi yg menerima Islam..jika mereka meninggalkan anugerah itu sesungguhnya mereka gak taw trm kasih!Yg saya sampaikan ini bukan bualan semata..ini adalah sabda Hyang Widhi..bahkan Beliau bersabda bahwa Kristus adl Awatara(Beliau sendiri turun ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari kiamat)..kami umat Hindu yg menerima sabda ini mengakui bahwa Kristus adl Tuhan..tp sgt disayangkan jika anda org Bali tetapi memeluk agama lain dan melupakan aci-aci Kahyangan Jagat di Indonesia, melupakan Merajan untuk penghormatan Leluhur..tapi memeluk agama adl hak asasi anda…
Comment by Bisikan — December 19, 2007 @ 6:42 am
Gambaran kekinian Gereje Kristen Bali dari Perspektif Kaum Awam.
Analisis Stakeholders Menuju Organisasi Gereja Berkesinambungan
Oleh
*)I Gusti Bagus Rai Utama, SE., MMA., MA.
http://gkpb-kudus-sading.blogspot.com/
Sebenarnya secara makna stakeholder sungguh tidak terlalu asing dalam kehidupan bergereja. Jika seseorang memiliki sesuatu yang dapat menggerakkan sesuatu entah secara paksa maupun sukarela sebenarnya dia juga disebut stakeholder. Alkitab banyak mencatat tentang Para Nabi yang dapat menggerakkan umat, misalnya saja; Nabi Musa yang berhasil menggerakkan Umat Israel keluar dari tanah mesir, begitu juga sejumlah umat bersatu untuk menyuarakan niat dan dapat mempengaruhi organisasinya, maka dia juga adalah stakeholder.
Lalu apa yang sebenarnya yang disebut dengan (1) stakeholders? (2) Siapa saja yang disebut stakeholders dalam organisasi gereja?, (3) Ciri-ciri apa saja yang dimiliki oleh stakeholder? (4) Dapatkah stakeholders diidentifikasikan?
Sebelum menjawab empat pertanyaan di atas, mari kita ketahui apa itu stake? Menurut Mitchell (2006) Stake dapat mencangkup sesuatu nilai yang berbentuk sumberdaya; SDM, fisik bangunan tanah dan gedung, keuangan dan sebagainya, legalitas, moralitas, system dan tentunya juga budaya organisasi, dalam artian hal inilah yang akan di hold oleh stakeholders.
Stakhoders dalam organisasi dapat terdiri dari individu-individu dan kelompok yang diharapkan oleh sebuah organisasi dalam mewujudkan tujuan organisasi untuk pertumbuhan dan kelangsungan organisasi. Sedangkan stakeholders dalam kehidupan organisasi gereja terdiri dari para Pendeta dan Jemaatnya serta individu lainnya yang sesuai dengan definisi di atas. Mitchell, Eagle and Wood
(2006) menjelaskan bahwa Stakeholders dikelompokkan dalam beberapa tipe sesuai kemampuan mempengaruhi suatu organisasi berdasarkan power, legitimasi, dan urgensi yang dimilikinya. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Dormant stakeholder adalah stakeholder yang hanya memiliki power namun tidak memiliki legitimasi dan urgensi.
2) Discretionary stakeholder adalah stakeholder yang hanya memiliki legitimasi namun power dan urgensi tidak ada padanya.
3) Demanding stakeholder adalah stakeholder yang hanya memiliki urgensi namun tidak memiliki power dan legitimasi
4) Dominant stakeholder adalah stakeholder yang memiliki power dan legitimasi namun tidak memiliki urgensi.
5) Dangerous stakeholder adalah stakeholder yang memiliki power dan urgensi namun tidak memiliki legitimasi.
6) Dependant stakeholder adalah stakeholder yang memiliki legitimasi dan urgensi namun tidak memiliki power.
7) Definitive stakeholder adalah stakeholder yang memiliki power, legitimasi, dan juga urgensi.
Dari tujuh tipe stakeholder di atas, kita dapat mengkondisikan organisasi yang ada di gereja kita, apakah para stakeholder termasuk salah satu diantaranya? Power mungkin berupa uang, kekayaan material lainnya, karisma dan sejenisnya. Legitimasi mungkin berupa kewenangan untuk membuat keputusan dan bertindak, dan urgensi mungkin berupa keinginan, kebutuhan, dan kepentingan untuk keberlanjutan organisasi.
Tipe stakeholder yang dianut di atas akan berimplikasi pada kreasi, inovasi, dan loyalitas jemaat yang ada. Harusnya semua Stakeholder Gereja Bali ada dalam tipe definitive stakeholder yang memiliki power, legitimasi, dan juga urgensi sehingga kehidupan gereja akan mengalir dari loyalitas jemaat, jika loyalitas jemaat terbentuk maka alhasil kehidupan dalam bergereja akan dipenuhi dengan semarak saling asuh, asah, dan asih. Kebanyakan organisasi akan stagnan jika para stakeholder tidak memiliki ketiga indikator di atas. Mungkin ada sebuah organisasi di Gereja Bali, yang para stakeholdernya hanya memiliki urgensi namun tidak memiliki legitimasi dan power untuk bersuara hal ini mungkin akan menurunkan semangat kerja yang pada akhirnya menurunkan loyalitas terhadap organisasi dan sekaligus pula menurunkan produktivitasnya.
Konsep rantai pelayanan dan nilai akan sangat relevan pada saat ini. Misalnya saja, jika seorang Pendeta yang melayani Jemaat mau dan mampu melayani sesuai dinamika “konteks” kehidupan saat ini maka akan tercipta kondisi Jemaat akan merasa ingin dan butuh untuk menyantap Firman Tuhan pada setiap kebaktian di Jemaat, dalam hal ini para pendeta tidak cukup dengan kemampuan Biblical semata namun lebih daripada itu sehingga diperlukan kreasi dan inovasi yang berkelanjutan. Jika Jemaat merasa ingin dan memerlukan pelayanan Firman Tuhan senantiasi itu menandakan adanya korelasi yang nyata antara pelayanan seorang pendeta terhadap kehidupan jemaat yang digembalakannya. Jika kondisi ini terjadi maka telah terbangun loyalitas dalam organisasi sehingga konsep pelayanan diantara kita akan terbentuk dalam rantai pelayanan dan nilai organisasi. Setiap Jemaat yang datang ke gereja telah tertanam dalam benaknya, apa yang saya “dapat” hari ini? Jika kotbah seorang pendeta hanya dengan pendekatan Biblical semata, maka jemaat tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan atau “baca sendiri juga bisa”
Stagnasi organisasi juga dapat disebabkan akan kurangnya inovasi dan kreasi para stakeholder yang disebabkan ketiadaan power dan urgensi atau dalam artian sederhana stakeholder yang tidak peduli akan keberlanjutan organisasinya. Organisasi masa kini harus mampu menyentuh dan bersentuhan dengan masalah yang berhubungan dengan kemanusiaan dengan berbagai permasalahannnya (Social Value), kesejahteraan para anggotanya (Economic Value), serta kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya (Environmental Value). Ketiga hal ini sangat menentukan keberlanjutan organisasi. Jika Gereja gagal membawa nilai nilai sosial maka gereja bagaikan garam yang tawar. Sedangkan jika gereja gagal membawa nilai nilai kekristenan pada lingkungannya maka dia tidak akan dapat menjadi terang dunia. Begitu juga, jika gereja tidak mampu menjadi inspirator nilai-nilai ekonomi (Intraprenurship) maka gereja akan menciptakan umat-umat miskin fisik dan tentunya Injil akan sangat sulit untuk diwartakan. Ketiga Value (Social-Economic-Environmental) sebaiknya dijadikan bingkai segitiga dalam pelayanan Gereja masa kini dan sekaligus menjadi jembatan penghubung antara misi GKPB yang pertama dan misi GKPB saat ini.
———————————
Comment by Rai Utama — March 19, 2008 @ 2:13 am
Syalom Bapak dan Ibu yang terkasih dalam Tuhan Yesus,
Mohon bantuan Bapak dan Ibu dalam menyebarluaskan info pelatihan ini.
Jaringan Lembaga untuk Akuntabilitas (JALA) merupakan Lembaga akreditasi yang akan membantu yayasan/lembaga kristiani di seluruh Indonesia untuk meningkatkan akuntabilitas dan transparansi lembaganya dalam hal bidang keuangan yayasan.
Hanya atas Kasih dan Anugrah serta pertolongan Tuhan Yesus, JALA tetap ada dan tetap berjuang untuk meningkatkan akuntabilitas dan transparansi di negeri Indonesia tercinta ini.
Akuntabilitas tidak bisa dibangun oleh beberapa organisasi saja, akan tetapi Akuntabilitas perlu di dukung oleh kita semua, ini merupakan pekerjaan rumah kita bersama sebagai umat kristiani dan sesuai dengan firman Tuhan supaya kita menjadi Terang Dunia (Mat 5 : 14) dan terlibat di dalamnya.
Untuk membantu dalam meningkatkan dan mencapai transparansi serta akuntabilitas suatu yayasan, JALA mengadakan pelatihan-pelatihan di bidang keuangan, antara lain : PSAK 45 (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) khusus Yayasan, Perpajakan untuk ONL dan Penulisan Proposal yang kami yakin sangat di butuhkan oleh tenaga-tenaga di bidang keuangan Yayasan maunpun gereja pada saat ini.
Berdasarkan hal tersebut, kami ingin menggandeng Yayasan Bapak dan Ibu sebagai salah satu organisasi Kristen yang belum menjadi anggota JALA untuk turut bergabung membangun Indonesia yang akuntabel dan transparan sehingga nama Tuhan semakin dimuliakan. Dan bekerjasama dalam mengajak mitra-mitra Yayasan/Gereja Bapak dan Ibu yang masih membutuhkan bantuan serta pelatihan khusus dalam meningkatkan akuntabilitas lembaga/yayasan/gerejanya.
JALA akan mengadakan Pelatihan ke 5, yaitu pelatihan Penulisan Proposal dan PSAK 45 di Srondol Semarang Atas pada tanggal 9-11 April 2008 mendatang.
Brosur terlampir.
Besar harapan kami agar bapak dan ibu dapat berpartisipasi dalam pelatihan tersebut.
Terima kasih atas perhatian dan kerjasama dari Bapak dan Ibu.
Tuhan memberkati,
Evi Tobing
Kord. Jaringan JALA
Email : jala_office@yahoo.com / jala.office@gmail.com
Comment by JALA — April 2, 2008 @ 2:52 am
saya sebagai generasi muda Bali akan bertahan sekuat tenaga mempertahankan budaya bali yang dilandasi oleh ajaraj Hindu, kenapa demikian terbukti hindu adalah kedamaian coba lihat apa yg terjadi dengan rumpun agama sematik (islam-kristen-yahudi) mereka terus berperang tiada akhir dan lihat bagaimana penderitaan mereka saya tidak ingin bali seperti Palestina atau irak. Hindu adalah agama damai. dan satu lagi coba bayangkan kalau pura di bali di ganti dengan gereja apa ada turis yg datang….ingat turis datang karena mereka melihat bali itu lain daripada yg lain. Sekali lagi Hindu is my soul…..and my spirit
Comment by IGN Suwardika — April 24, 2008 @ 1:19 am
PENYEBARAN AGAMA KRISTEN DI BALI
Tulisan di bawah ini tentang awal penyebaran agama Kristen di Bali, direkam oleh Miguel Covarrubias, seorang pelukis hebat dan anthropolog jempolan asal Mexico, dalam bukunya “The Island of Bali” (hal 396 - 399), yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1937. Dipostingkan di sini sekedar sebagai pengetahuan umum, dan mudah-mudahan membantu kita untuk menempatkan arti toleransi pada perspektif yang benar.
PENYEBARAN AGAMA KRISTEN DI BALI
Selama satu abad yang lalu segala upaya dilakukan untuk mengkristenkan orang Bali telah gagal, dan kisah Nicodemus, orang Bali pertama yang masuk Kristen, sudah sangat terkenal. Nicodemus adalah pelayan dan murid pertama seorang missionari yang datang ke Bali. Dia mengijinkan dirinya untuk dibaptis setelah beberapa tahun melayani missionari itu, tapi waktu berjalan dan tidak ada orang Bali lain yang dapat ia ajak masuk Kristen, demikianlah missionari itu mulai menekan Nicodemus untuk membaptis orang lain. Anak malang ini, yang secara mental telah tersiksa karena masyarakat (banjar dan keluarga besarnya) telah mengusirnya, dan menyatakan ia secara moral “sudah mati” tidak mampu lagi menahan keadaan ini lebih jauh, membunuh tuannya, membuang agama barunya, dan menyerahkan dirinya untuk dihukum menurut hukum adat Bali. Skandal ini menyebabkan dibuatnya suatu undang-undang di negeri Belanda untuk mencegah kegiatan missionari di Bali.
Namun ini tidak menghentikan kegiatan para penyebar agama Kristen; ijin diberikan kepada mereka pada tahun 1891, dan tahun 1920, dan lagi tahun 1924, ketika agama Katolik Roma meminta ijin khusus, tapi gelombang penolakan oleh orang-orang Bali membuat upaya-upaya konversi itu gagal. Pertemuan dilakukan oleh para pemimpin Bali untuk “menghentikan malapetaka/gerubug ini” dan ijin yang telah diberikan dibatalkan oleh Pemerintah Belanda.
Tapi pada akhir tahun 1930 missionari dari Amerika berhasil mendapat ijin masuk ke Bali, dengan tujuan hanya untuk memelihara “jiwa-jiwa yang sudah diselamatkan” dan tidak mencari pengikut baru. Tapi secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi mereka mulai bekerja di antara orang-orang Bali. Para missionari awal yang lebih tulus berupaya mendapat pemeluk baru berdasarkan keyakinan tapi gagal, tapi para missionari yang datang kemudian menginginkan hasil yang lebih cepat dan memakai cara-cara yang efektif. Memanfaatkan krisis ekonomi yang mulai terasa di Bali, mereka berusaha meyakinkan calon-calon atau sasaran mereka yang umumnya sangat miskin dengan menyatakan bahwa bila mereka masuk Kristen kesulitan ekonomi mereka akan berakhir dan mereka akan bebas dari kewajiban-kewajiban (iuran) adat, - satu-satunya yang perlu mereka lakukan hanyalah formula “Saja pertjaya Jesoes Kristos”.
Bila orang yang mengucapkan kata-kata magik ini adalah seorang kepala keluarga, para missionari itu mengklaim setiap anggota keluarganya juga sebagai Kristen dan mereka akan menepuk dada mengenai tiga ratus orang pemeluk baru.
Tak berselang lama orang-orang Kristen baru ini segera mengetahui mereka ditipu; mereka tetap membayar pajak sama seperti sebelumnya, menjadi orang yang dibenci oleh desa adatnya, dan mereka diboikot (’kesepekang’). Di Mengwi, dimana para missionari itu mendapat sukses besar, para penguasa menolak untuk membebaskan orang-orang yang pindah agama ini dari kewajiban-kewajibannya, mengakibatkan konflik tak berkesudahan dengan banjar atau desa adat dan subak; gugatan di pengadilan dilakukan dan kesusahanpun dimulai. Di banyak desa awig-awig dibuat dan menjadi hukum adat yang menetapkan bahwa orang-orang yang meninggalkan agama Bali dinyatakan sebagai orang yang “telah mati.”; rapat-rapat dilakukan untuk mendiskusikan kemungkinan untuk membuang orang-orang ini ke tempat-tempat jauh seperti Djimbrana (Jembarana) bersama-sama dengan para penjahat lain. Orang-orang Kristen (baru) ini juga menjadi sangat susah mengurus mayat-mayat keluarga mereka, karena mereka dilarang menguburkan mayat-mayat itu di kuburan desa dan tempat lain yang tersedia adalah sawah atau semak-semak (yang di Bali dilarang untuk mengubur mayat, pen). Pada saat itu suasana menjadi sangat tegang dan hampir-hampir meletus jadi kerusuhan. Para pemuka desa yang mempunyai keperdulian bicara dari hati ke hati dengan orang-orang yang pindah agama ini dan berhasil membawa mereka kembali kepada agamanya semula (agama Hindu).
Sangat unik adalah kisah Pan Luting, seorang kepala desa yang pindah agama dan membantu missionari menambah jumlah pengikutnya. Dia menyesal, mengaku ia telah ditipu, dan sebagai aktor topeng yang terkenal, dalam setiap pertunjukkannya ia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengolok-olok para missionaris dan menyatakan kegembiraannya karena tidak lagi menjadi Kristen. Seorang yang lain juga berhenti menjadi Kristen karena penyakit sipilis yang dideritanya tidak sembuh setelah ia mengucapkan kata-kata magik “Saja pertjaja pada Jesoes Kristos,” sebagaimana ia dijanjikan oleh seorang missionari. Dan lagi, seorang pemeluk Kristen baru pada saat menjelang kematian cepat-cepat membuang agama barunya ketika ‘balian’ desa menolak mengobatinya, karena menurutnya obatnya tidak akan mempan terhadap seorang Kristen. Dia sembuh, dan tak perlu dikatakan lagi ia lalu mengadakan piodalan besar di sanggahnya. Kisah-kisah semacam ini terus berulang di Bali, tapi ilustrasi yang terbaik yang menggambarkan kedangkalan keyakinan para pemeluk baru ini terhadap agama Kristen adalah percakapan antara seorang pemuda yang baru masuk Kristen dengan seorang pejabat yang tersadarkan berikut ini :
“Knapa Ktoet boeang agama Bali?”
“Sebeb saja pertjaja!”
“Pertjaja apa?”
“Saja pertjaja Toean Jesoes Kristos.”
“Siapa dia?”
“Itoe Toean jang pake badjoe itam jang sering datang deri lombok.”
Akhirnya kekacauan sudah sangat jelas dan Missionari Amerika ini harus pergi meninggalkan Bali. Sampai saat itu para missionari Belanda telah menahan diri untuk melakukan kegiatan di Bali, tapi ketika datang berita bahwa missionaris saingannya berhasil mendapat berapa orang pemeluk, mereka mulai muncul kepermukaan dan melakukan segala upaya agar undang-undang yang melarang missi di Bali diubah. Kontroversi yang sengit marak di surat-surat kabar di Belanda dan Jawa; para missionari mengklaim bahwa orang-orang Bali sudah masak untuk dialih-agamakan sebab rasa keagamaan mereka, akhirnya sudah pecah. Seorang Dr. Kraemer, kepala dari missionari Protestan, pergi ke Bali untuk melakukan penyelidikan dan setelah tinggal di pulau ini selama sebulan, menulis satu laporan tebal yang dimaksudnya untuk membuktikan kegagalan dari agama Bali, dan ide bahwa orang-orang Bali sesungguhnya ingin menjadi Kristen, tapi ditentang oleh para intelektual Eropa yang tinggal di Bali. Argumen ini segera dijawab oleh Tjokorda Gede Raka Soekawati, wakil Bali di Volksraad, “DPR” di Batavia. ‘Temuan’ Dr. Kraemer yang penuh prasangka itu segera dihancurkan oleh jawaban-jawaban dan analisis atas argumennya yang dilakukan oleh para peneliti yang sebenarnya (real students) tentang Bali, orang-orang seperti Bosch, Goris, Korn, Haga, Lekkerkerker, De Bruyn Kops dan Damste. Dr. Goris menunjukkan bahwa pandangan para missionari didasarkan atas prinsip bahwa semua manusia pada dasarnya “buruk” (no good) dan dalam “konflik jiwa” tanpa harapan yang hanya dapat disembuhkan oleh satu jenis agama khusus yang dipropagandakan oleh para missionari. Menemukan bukti kecil dari “konflik jiwa” ini mereka memperbesarnya dan menciptakannya dengan mengadu domba antara kasta-kasta dan mempermainkan kemiskinan mereka, dengan demikian mereka mendorong pertentangan antar kasta ini dari pada menghilangkannya, itulah klaim mereka. Aneh sekali, missionari yang sama yang menuduh orang Bali dangkal agamanya justru menyetujui pengalihan agama berdasarkan kepura-puraan yang sama sekali tidak tahu apapun mengenai agama Kristen kecuali beberapa istilah Melayu yang umum.
Sementara itu, sementara kontrversi terus berkobar, para missionari yang cerdik mulai menemukan pijakan. Dewasa ini seorang pastor Katolik dan seorang pendeta Kristen Protestan ditempatkan di Denpasar, dan seorang missionari lain di tempatkan di Buleleng, ketiga-ketiganya tentu saja berhati-hati tapi tak kenal lelah dalam upayanya untuk “menyelamatkan” orang-orang Bali.
Tapi Bali sama sekali bukanlah tempat dimana para missionari ini dapat memperbaiki dengan cara apapun standar moral dan phisik orang-orang Bali dan sangat sulit untuk percaya, mengetahui karakter orang-orang Bali, bahwa mereka (para missionari itu) akan berhasil. Agama bagi orang Bali lebih dari sekedar upacara spektakuler dengan musik, tarian, dan sentuhan drama kejantanan; agama Hindu adalah hukum mereka, kekuatan yang membuat mereka tetap bersama. Agama Hindu adalah pendorong terbesar bagi hidup mereka sebab ia memberikan mereka etika, budaya, kebajikan dan kebahagiaan dengan upacara-upacara yang penuh kegembiraan yang mereka cintai. Lebih dari sekedar agama, agama Hindu adalah phalsafah moral dengan nilai spiritual yang tinggi, kegembiraan dan bebas dari fanatisme, yang menjelaskan kepada mereka kekuatan-kekuatan misterius dalam alam semesta ini. Sulit sekali untuk membayangkan bahwa agama (Hindu) ini akan dapat digantikan oleh agama eskapis (lari dari dunia nyata, pen) yang hambar kosong dari keindahan dan upacara-upacara yang dramatis.
Pulau kecil yang bernama Bali, sekarang terkenal karena keindahan orang-orangnya, kehidupan beragamanya yang sangat sungguh-sungguh (intense), dan keseniannya yang sangat kaya, musik dan theater, masih merupakan satu diantara bangsa-bangsa yang sangat mengagumkan yang tidak akan pernah kita kenal lagi, salah satu dari negeri-negeri yang disebut sebagai primitif. Memang benar orang-orang Bali adalah orang-orang primitif, sekalipun kita menggunakan istilah ini untuk membedakannya dengan peradaban kita yang materialis dari budaya asli dimana kehidupan sehari-hari, masyarakat, seni, dan agama membentuk satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisahkan kedalam unsur-unsur tanpa menghancurkannya; kebudayaan dimana nilai-nilai spiritual menuntun cara hidup.
Comment by J.Petrus Lazuardi — December 12, 2008 @ 8:52 pm
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Veda adalah dokumen tertulis tertua di dunia yang memuat berbagai inti sari kehidupan dan rahasia-rahasia alam duniawi dan rohani. Berbagai rongrongan, hujatan dan tipu daya ditujukan kepada Sanatana Dharma (Hindu) demi untuk mengejar pengikut sebanyak-banyaknya dengan didorong oleh fanatik sempit oleh sekian banyak oknum dari kalangan agama-agama yang tergolong agama Timur Tengah (Berger, 1981). Mulai dari usaha kalangan misionaris Kristen yang memiliki misi menterjemahkan Veda dalam bahasa Inggris denggan tujuan memutar balikkan isi Veda sampai dengan kebohongan yang dibuat-buat kepada pengikut Veda yang pemahaman tentang ajarannya masih dangkal sehingga terbujuk meninggalkan gudang mutiara Veda.
Benarkah Veda adalah dokumen kuno yang sangat kolot dan ketinggalan zaman? Apakah Hindu agamanya orang-orang pra-sejarah? Golongan orang-orang musrik penyembah berhala? Sudah saatnya kita membuka mata lebar-lebar, memilah-milah manakah kamus lengkap dan mana kamus yang cuma buat contekan. Mari kita bandingkan antara Al-kitab yang hanya terdiri dari beberapa buku (setelah diadakan pengeditan oleh Paulus I), bahkan jika dibandingkan ternyata hanya sebagian kecil dari kitab Bhagavad Gita (Ellsberg, 1991). Al-Quran yang terdiri dari sekitar 9000 ayat. Dan tahukah kita bagaimana dengan Veda? Sudahkah kita sebagai Hindu melihat atau mungkin memiliki Veda yang lengkap? Ya, ternyata Veda begitu luas dan memang susah menelah semua isinya. Banyak isi-isi Veda yang mungkin tidak masuk dinalar tetapi sungguh-sungguh terjadi. Ambil saja contoh ayat yang menyatakan kotoran sapi sebagai penyucian segala mala, Siapa yang percaya? Tetapi ternyata dari teknologi modern saat ini memang benar bahwa kotoran sapi dapat menyembuhkan berbagai penyakit oleh bakteri, jamur maupun virus karena kandungan senyawa anti biotiknya. Inilah Veda, kamus lengkap yang menaungi semua kamus-kamus kecil lainnya. Tetapi sayangnya kita sebagai pewaris ternyata tidak pernah tahu bagaimana Veda sesungguhnya, hanya bisa bengong menyaksikan unjuk kebolehan orang lain yang ternyata tidak melebihi dari seperempat saja pernyataan-pernyataan kebenaran Veda. Kita hanya bisa menunggu sampai orang lain menyelidiki dan mengemukakan keluar biasaan isi Veda.
Dalam tulisan kecil ini saya akan mencoba untuk menelah sloka-sloka Veda tentang energi Nuklir sesuai dengan bidang studi yang saya geluti saat ini di Fakultas Teknik UGM. Disamping itu sebagai tambahan saya akan coba menghubungkan Veda dengan ilmu pengetahuan populer lainnya. Mari kita cermati sisi-sisi lain, sisi yang sangat luar biasa, hal yang memang belum banyak disadari oleh pengikut Veda sendiri. Inilah satu dari ribuan sisi luar biasa Veda. Semoga kebenaran datang dari segala penjuru.
B. Tujuan
Tidak dapat dipungkiri, generasi Hindu kita saat ini sudah mulai mengalami kebutaan, kebodohan dengan mencampakkan mutiara Veda dan lebih tertarik dengan perhiasan-perhiasan tembaga dan perunggu, lebih tertarik untuk diselamatkan. Apakah itu memang benar? Siapakah yang salah? Menurut pengamatan saya, ada begitu banyak motif orang berpindah agama, diantaranya adalah :
1. Karena harta benda. Ternyata hal ini sangat banyak terjadi di sekitar kita. Dalam menjalankan misi kemisionarisannya, terdapat sekian banyak oknum Kristen dengan menjanjikan uang bagi mereka yang mau ikut seiman sebagai orang Kristiani. Dan sedihnya lagi ternyata para misionaris mendapatkan uang dari setiap kepala yang berhasil mereka konversi.
2. Kecintaan duniawi. Adalah hal yang sangat lumrah dan biasa jika seseorang rela melepas agamanya demi seorang kekasih. Meskipun dia belum tahu tentang agama yang akan dia anut apakah dengan ajaran lebih baik, lebih sesuai dengan dirinya atau malah sebaliknya? Mungkin tidak masalah jika itu sesuai dengan nuraninya, tetapi jika bertentangan, ternyata dia juga lebih memilih kekasihnya. Meski Krisna sendiri bersabda dalam Bhagavad Gita bahwa begitu banyak jalan menuju Beliau, tetapi banyak aspek lain yang harus dipertimbangkan, terlebih lebih dalam jaman kali ini.
3. Balas budi. Ada sebuah kisah keluarga yang saya temui, ternyata mereka masuk agama tertentu hanya karena mereka dibantu waktu mereka mengalami kesusahan materi. Secara tersembunyi mereka sering diajak mengikuti ritual keagaman agama tertentu. Sampai akhirnya dengan rasa hutang budi mereka mengikuti agama orang itu tanpa mengerti sedikitpun tentang isi kitab sucinya.
4. Kebodohan. Banyak orang merasa kalau agama tertentu lebih baik hanya dengan mendengar dakwah-dakwah orang saja. Merasa malu akan hujatan dan pernyataan miring yang ditujukan kepadanya. Padahal sebenarnya pengetahuan mereka tentang agamanya sendiri sangat dangkal. Inilah kasus-kasus yang sering menimpa saudara-saudara kita. Bahkan setelah pindah agama sering kali mereka menjelek-jeleknya agama yang pernah mereka anut, meskipun sebenarnya dia tidak pernah tahu hal yang sesungguhnya tentang agama tersebut. Tidak pernah membandingkan kedua kitab suci-nya, karena mereka hanya tahu dari isu-isu orang tanpa pernah mau membuktikannya. Bukan hal yang salah jika ada saudara kita masuk agama lain, asalkan mereka memang bisa lebih baik dan lebih yakin dengan agama mereka yang baru.
5. Paksaan. Bukan hal asing dalam sejarang manusia, sekelompok orang tega-teganya memaksakan keyakinannya kepada orang lain dengan dalih agama. Setidaknya inilah yang saya baca dari metode penyebaran islam melalui dakwah dalam tulisan-tulisan Harun Yahya. Silahkan anda cek di internet. Di Jogja sendiri banyak saudara- saudara kita dikawinkan dan dipaksa untuk masuk agama tertentu. Mereka tidak bisa menolak dan tidak mampu bergeming karena kebodohan mereka sendiri tentang Veda. Dan masih banyak lagi motif-motif lainnya yang tidak bisa kita bahas satu persatu dalam makalah singkat ini.
Tujuan utama dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dan kewajiban dalam mengikuti kuliah agama Hindu, dan sekaligus saya ingin menyampaikan sebatas pengetahuan saya kepada pembaca paper ini tentang hakekat Veda yang tidak pernah bertentangan dengan IPTEK. Veda benar-benar selaras dengan teknologi itu sendiri. Dan sebagai tujuan terselubung saya ingin mengajak pembaca untuk lebih mencintai Veda, mencintai Hindu. Pelajarilah Dia, dalam Veda tidak ada istilah murtat Jika kita mengutak-atik dan membuktikan kebenaran sloka-slokanya. Tetapi saya tidak yakin jika pembaca bisa melakukan hal serupa terhadap kitab agama-agama timur tengah. Andaikan ada saudara kita yang berminat pindah agama, silakan! Itu haknya, tetapi saya harap coba cermati isi-isi Veda dan bandingkanlah dengan kitab suci agama yang ingin dituju. Saya yakin orang-orang pintar akan memilih Veda, tetapi kita yang bodoh malah sebaliknya. Hal ini terbukti dengan perkembangan Veda di barat yang sangat pesatnya pada abad ini, dianut oleh cendikiawan dan ilmuwan terkenal, tetapi sebaliknya disini kita bagaikan menyia-nyiakan mutiara ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
Memperoleh kebenaran ilmiah, pengetahuan modern memakai langkah-langkah baku yang dikenal sebagai metode ilmiah. Dalam Hindu yakni dalam filsafat Samkhya, langkah-langkah tersebut disebut dengan Tri Premana yang merupakan metode ilmiah dalam Hindu. Jika hidup dipandang sebagai sebuah eksperiment (menyitir pendapat Mahatma Ghandi), maka Tri Premana adalah landasannya. Eksperiment bermula dari adanya problem yang harus dipecahkan. Pemecahan masalah didasarkan atas pengamatan atas gejala-gejala yang timbul (Anumana Premana). Mengumpulkan keterangan dari sumber tertulis atau pengalaman orang lain/data sekunder (Agama Premana) serta dibuktikan dengan pengamatan langsung/ data primer (Praktiasa Premana) (Suja, 2000).
Agama masa depan adalah agama alam semesta. Agama yang menghindari dogma dan teologi. Berlaku secara alamiah dan batiniah, serta berdasarkan pengertian agama yang muncul karena berbagai pengalaman, baik fisik maupun spiritual dan merupakan satu kesatuan yang sangat berarti. (Strathern, 2003).
Problem Gandhi dengan Kristen, semata-mata hanya pada pemahaman teologis dan etnis. Dia tidak dapat mengimani bahwa Yesus Kristus hanya satu-satunya anak Allah, juga tidak dapat menerima bahwa keselamatan bergantung pada pengakuan tersebut. Pada saat yang sama, tingkah laku orang-orang Kristen membuatnya ragu, bahwa agama mereka memiliki banyak klaim-klaim tentang kebenaran. Tidak hanya perilaku orang-orang Kristen barat yang telah memunculkan dua kali perang dunia sepanjang hidup Ghandi, tetapi juga perilaku monarki Inggris dan seluruh agen-agen kekaisaran yang merupakan pemuja Kristus di gereja (Ellsberg, 1991).
Sumber paling berharga di antara karya-karya Tustari yang luas yang mencakup inti ajarannya adalah tafsir mengenai Al-Quran, dimana Tustari sebagai pengarang utamanya dan sejumlah teman serta murid-muridnya sebagai penyusun aktual. Tafsir ini, Tafsir Al-Quran terdiri dari kompendium yang paling berharga dari tradisi Tustari dan disusun dalam bentuk finalnya antara 888 dan 910. Ia dihargai sebagai produk awal tafsir sufi mengenai Al-Quran. Sebagai tafsir Al-Quran sufi tertua yang masih bertahan dan sebagai pelopor literatur yang berwawasan luas dan penting, meskipun kaum sufi dianggap sebagai golongan sesat dalam Islam ( Berger, 1981).
Di dunia ini semua pekerjaan untuk memperoleh ganjaran atau dengan kata lain untuk mendapatkan hasil. Jika pekerjaan itu tidak mendatangkan hasil, manusia tidak akan bekerja sama sekali. Apakah keberatan Krishna kalau Arjuna menghendaki hasil perbuatannya? Bila semua orang bekerja menghendaki hasil, apakah arti yang lebih mendalam ajaran Krishna kepada Arjuna untuk bekerja untuk tidak mengharapkan ganjaran? Tujuan Krishna adalah agar segala karma atau perbuatan yang dilakukan oleh Arjuna dirubah menjadi Yoga sehingga semua perbuatannya itu membawanya menuju kebebasan. Ajaran Krishna adalah agar perbuatan Arjuna tidak hanya menjadi karma, tapi perbuatan itu harus menjadi sasaran bagi Arjuna untuk menjadi tujuan spiritual, dengan kata lain agar perbuatanya itu menjadi karma yoga. (Drucker, 1988).
Ajaran Veda ternyata sangat banyak mengandung wacana ilmiah. Veda mengajarkan bahwa secara fisik alam semesta ini terdiri atas Bhutakala (materi dan energi), dan interaksi antara keduanya itulah menyebabkan terjadinya perubahan dan karma. Menurut hukum Thermodinamika, partikel-partikel penyusun materi senantiasa menghindari dari keterikatan untuk menuju kebebasan, yang sangat relevan dengan konsep Moksa dalam Veda. Dalam hal penciptaan, sains dewasa ini dapat menerima teori ledakan besar (Big Bang), yang ternyata sesuai dengan penciptaan alam semesta menurut pandangan Waisasika Darsana. Ajaran filsafat tersebut juga telah memperkenalkan konsep atom (Anu) yang menyusun materi. Bhuana agung dan Bhuana alit juga sudah diperkenalkan berbentuk lonjong dan disimbolkan dengan lingga. Banyak lagi konsep ilmiah dalam Veda (Suja, 2000).
BAB III
TINJAUAN VEDA SECARA ILMIAH
Sebelum kita berbicara mengenai masalah pokok, yaitu mengenai hubungan Veda dengan Nuklir, mungkin ada baiknya kita juga membahas Veda dalam kontek kehidupan modern dan membandingkannya dengan agama lain. Dan dilanjutkan dengan pandangan ilmiah tentang teknologi yang sudah barang tentu didalamnya juga ada tentang teknologi nuklir.
Saya menyadari sepenuhnya aspek-aspek kehidupan begitu luas, karena itu saya akan berusaha menuliskan beberapa hal yang sesuai dengan tingkat pemahaman saya sebagai mahluk ciptaan-Nya yang tidak lepas dari maya dan kebodohan.
A. Kenapa di dunia ada banyak kitab suci?
Bertolak dari filsafat Veda, Tuhan telah memberikan jalan bagi segenap mahkluk hidup untuk kembali ke sisinya, mencapai kebebasan dengan cara menghilangkan kebodohan yang menghinggapi segenap mahkluk hidup melalui ajaran-ajaran suci yang di Wahyukan-Nya. Pertanyaannya kenapa ada banyak agama? Yang pada kenyataannya berbagai keributan, kerusuhan yang datang silih berganti selalu berkedok agama? Bhagavad Gita bab IX.29 menyebutkan: “Aku sama bagi semua mahkluk, tidak seorangpun yang terbenci dan tersayang oleh-Ku, tetapi bagi mereka yang memuja Ku dengan penuh pengabdian, maka Aku ada di dalam mereka dan mereka ada di dalam-Ku”. Veda sendiri tidak membatasi bagaimana cara seseorang memuja Tuhan, selama cara-cara itu tidak merugikan dan menyakiti mahkluk lain. Hal ini ditunjukkan dalam bentuk ajaran Catur Marga Yoga yang meliputi Bhakti, Karma, Jnana dan Raja Yoga. Terus apakah yang salah dengan saudara-saudara kita yang setiap saat menghujat orang yang tidak sekelompok dengannya dengan bertamengkan agama? Tidak bisa kita pungkiri memang seperti itulah perintah-perintah yang tertulis dalam berbagai kitab tafsirnya. Siapa yang salah? Tuhan sebagai pewahyu-Nya ataukah orang yang menafsirkannya? Hal yang sangat jarang disadari oleh sekelompok orang dengan egonya yang besar.
Inilah fanatik sempit dengan dasar ajaran rohani yang masih rendah, hanya karena mereka masih terbelenggu kebodohan mereka sendiri. Mari kita menengok kembali ke belakang bagaimana ajaran agama itu diturunkan. Sesuai dengan namanya, Sanatana Dharma (dharma = agama, sanatana = abadi, itulah Hindu) dalam perkembangannya banyak mengalami perubahan dan penyimpangan. Atas dasar ini, setiap penyimpangan yang terjadi pada Veda akan selalu mengalami pelurusan dengan turunnya berbagai Avatara. Avatara sendiri menurut kitab Visnu Purana terdapat tiga jenis, yaitu Avatara dari Tuhan itu sendiri yang meliputi Dasa Avatara, Avatara para Dewa (seperti Sankara Carya yang disebutkan Avatara dari Dewa Siwa) dan Avatara dari manusia yang diberi kekuatan khusus dari Tuhan untuk mengemban suatu misi (contohnya Muhammad dan Yesus). Hindu bagaikan kebudayaan yang terlahir berulang-ulang kali dan tampak selalu baru, bukan hanya dari orang Hindu sendiri, tapi ilmuwan barat juga telah mengakuinya. Hanya karena Veda telah menurunkan kitab-kitab khusus, ajaran-ajaran tertentu untuk masing-masing jaman dalam satu kalpa. Ingatlah setiap ajaran diturunkan sesuai dengan tempat dan waktunya.
Kenapa dulunya orang Islam dulunya diwajibkan sholat 50 kali dalam sehari dan pada akhirnya sekarang tereduksi menjadi 5 kali? Kenapa Islam cenderung keras dengan jihadnya? Dengan peraturannya yang keras dan mengikat? Tidak lebih karena keadaan masyarakat waktu Al-Qur’an diturunkan yang cenderung keras dan hanya bisa dihadapi dengan kekerasan. Sampai-sampai Nabi Muhammad sendiri harus hijrah ke Madinah karena dikejar-kejar orang-orang “bodoh”. Dalam Al-Qur’an, Muhammad sendiri menyatakan terdapat tiga ajaran yang dia miliki, ajaran yang harus dia ajarkan pada masyarakat disana, ajaran yang boleh diajarkan dan ajaran yang tidak boleh dia ajarkan. Kenapa hal ini terjadi? Karena kecerdasan masyarakat waktu itu belum mampu menerima seluruh ajaran yang Beliau bawa.
Demikian juga dengan Yesus, kenapa Beliau hanya mengajarkan 10 ajaran pokok saja? Dan berkata dalam Injil : “Ajaran jasmaniah ini saja belum bisa engkau amalkan, bagaimana bisa Aku mengajarkan ajaran rohaniah yang lebih tinggi seperti ini?” Taukah kita kalau Yesus pernah pergi dan belajar Bhakti Yoga di India selama 13 tahun dan Kitab Kristen ada yang membahas reinkarnasi? Kalau dilihat dari sejarah Kristen, dapat dikatakan kalau Kristen dibentuk oleh Paulus I. Beliau sendiri sebenarnya berlatar belakangnya adalah penjahat. Karena kesadarannya akhirnya mengumpulkan kitab-kitab tersebut dengan mengadakan seleksi yang menurutnya benar. Ada sumber yang mengatakan Kristen sebenarnya memiliki sekitar 52 kitab, tetapi oleh Paulus telah direduksi seperti sekarang ini, bahkan apa kita masih ingat atas pernyataan Galileo tentang pusat tata surya adalah matahari, bukan bumi seperti yang akhirnya ditentang gereja karena tidak sesuai dengan Injil? Artinya apa? Memang benar banyak isi dari kita Perjanjian Lama kebenarannya masih diragukan. Bahkan pengarangnya saja tidak jelas. Tentunya bukan salah Yesusnya, tetapi oleh oknum yang seenak perutnya sendiri mengedit isi kitab suci.
Bagaimana dengan Budha? Sang Budha terpaksa menolak Veda karena masyarakat dunia, khususnya India waktu itu telah menjadikan Veda sebagai tameng dalam melakukan Himsa karma demi kepuasan sendiri dengan kedok korban suci. Tanpa ada pilihan akhirnya sang Budha harus menyatakan ajaran baru yang kelihatannya sama sekali baru dari Veda dan membentuk agama baru dengan tujuan sebagai batu loncatan. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya Avatara Ciwa sebagai Sankarya Carya sebagai penerus misi Budha dan dilanjutkan oleh Sri Caitanya untuk meluruskan ajaran Veda.
Semua kejadian, semua agama telah diramalkan sebelumnya dalam Veda yaitu pada kitab-kitab Purana dan sampai saat ini belum ada satupun kejadian yang menyimpang dari ramalan tersebut. Jadi intinya semua ajaran pada dasarnya benar, tetapi harus disesuaikan sesuai dengan tempat dan waktunya. Dan kita tidak boleh malu mengatakan Veda wahyu yang pertama dan merupakan sumber dari semua kitab suci yang lain. Veda adalah saksi terpendam mengenai semua itu. Banggalah sebagai penganut Veda, Banggalah sebagai Hindu. Mari kita bangkitkan kesadaran kita tentang keluarbiasaan Veda.
B. Apa yang bisa Veda ajarkan tentang teknologi modern?
Kalau kita mengikuti perkembangan dunia barat, maka tidak jarang kita mendengar ungkapan “Sangat sulit mencari titik temu antara agama dan teknologi yang selalu bertentangan”. Benarkah semua itu? Orang barat biasanya akan cenderung membenarkan hal tersebut, mereka memang jarang bahkan tidak menemukan inti-inti teknologi dalam agama mereka yang pada umumnya Nasrani. Apa di Injil memang tidak menyinggung teknologi? Menurut penerbit buku “Hindu agama terbesar di dunia” menyatakan kalau beliau sangat tidak puas dengan ajaran agamanya, sehingga memaksanya mempelajari kitab suci lain sampai akhirnya beliau jatuh cinta pada Veda dan menjadi pengikutnya. Apa Injil itu salah? Untuk menjawab pertanyaan ini kembali harus kita sadari bahwa Tuhan akan mewahyukan kitab sesuai dengan waktu dan tempatnya. Bagaimana dengan Veda? Apakah mengalami nasib yang sama? Ternyata tidak. Veda begitu lengkap dan kita baru menyadarinya setelah peneliti-peneliti dari barat mengungkapkannya. Mereka beralih ke Veda karena pengetahuannya, tapi kita sebagai generasi pewarisnya malah menyia-nyiakan dan memilih untuk diselamatkan dengan kamus-kamus kecil yang tidak sebanding dengan Veda. Semua hanya karena ketidaktahuan kita sendiri.
Dalam Atharva Veda bab VII.107.1 menyebutkan “ Ava divas tarayanti, sapta suryasya rasmayah” artinya matahari memiliki tujuh jenis sinar, mereka adalah sumber hujan. Masih ingat dengan warna pelangi? Tentang cahaya polikromatis yang terbiaskan menjadi tujuh jenis? Cahaya memang terdiri atas dua jenis, cahaya polikromatis seperti cahaya matahari dan cahaya monokromatis, contohnya sinar laser. Dengan menggunakan pembias, atas dasar perbedaan sudut deviasi setiap jenis sinar monokromatis, maka sinar matahari sebagai sinar polikromatis dapat dipecah menjadi tujuh bagian, yang sering disebut dengan warna pelangi. Sangat tepat bukan?
Yayur Veda bab XVIII.40 mengatakan “Susumnah suryarasmiscandrama susumnah” artinya sinar matahari yang disebut susumna menerangi bulan. Bukankah hal ini juga dibuktikan dengan teknologi modern saat ini? Apa pantas golongan agama radikanl yang menyerang Hindu dewasa ini mengatakan Veda menuntun pengikutnya sebagai penyembah matahari dan bulan? Bukankah itu hanya sebagai objek konsentrasi kita atas keagungan Tuhan yang tidak terbatas?
Ternyata dasar-dasar ilmu kimia juga terdapat dalam veda. Hal ini terbukti dengan sloka dalam Atharva Veda bab III.13.5 yang menyebutkan “Agnisomau bibhratiapa it tah” artinya air terdiri atas Oksigen dan Hidrogen. Sungguh tepat sekali, semua air tersusun atas dua unsur ini, H2O untuk air biasa. D2O untuk air berat, yaitu air yang digunakan dalam reaktor nuklir PHWR sebagai moderatornya. D adalah Deutrium, Hidrogen dengan kelebihan satu neutron. Masih bisakah kita mengatakan kebudayaan Veda sebagai kebudayaan kuno yang kolot? Ya Veda memang kuno, tetapi inilah dokumen kuno yang paling modern yang pernah ada.
Dalam Sama Veda juga disebutkan “ Tam it samanam vaninas ca virudhoantarvatis ca suvate ca vivaha” Tumbuh-tumbuhan menghasilkan udara vital yang disebut samana (Oksigen) secara teratur. Lebih lanjut dalam Reg Veda VIII.72.16 disebutkan “Adhuksat pipyusim isam urjam, suryasya sapta rasmibhih” artinya tumbuh-tumbuhan menyerap tenaga yang merupakan makanan bergisi dari matahari. Coba kita tengok mengenai teori photosintesis saat ini. Apa yang anda ketahui?
Inilah sebagian kecil sloka-sloka Veda yang secara implinsit menyebutkan dasar-dasar teori modern. Begitu banyak sloka-sloka sejenis yang masih tercecer di setiap bagian Veda dan menunggu tangan-tangan kita untuk menjamahnya demi kesejahteraan umat manusia. Bukan hanya golongan kelompok tertentu saja.
C. Adakah teori ilmiah yang terselubung dalam Veda?
Tentunya sebagai umat Hindu kita sudah tidak asing lagi dengan kitab Itihasa, kitab Smrti yang sangat terkenal yaitu kisah Ramayana dan Mahabarata. Sebelumnya mari kita samakan persepsi mengenai kebenaran kisah Itihasa. Epos Ramayana dan Mahabharata ternyata bukan sekedar cerita fiksi belaka, tetapi memang benar-benar kisah nyata. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya jembatan yang menghubungkan India dengan Srilangka sebagai saksi bisu kisah jembatan yang dibangun pasukan kera dalam Ramayana. Ditemukannya puing-puing kerajaan yang tenggelam di tengah laut dan sangat tepat dengan kisah tenggelamnya kerajaan Krisna dalam Mahabarata. Serta didukung dengan banyak lagi bukti-bukti menguatkan lainnya, baik berupa benda sejarah, tulisan-tulisan dari kitab-kitab lainnya yang saling berhubungan erat, sampai pada penampakan dari luar angkasa melalui pengindraan satelit.
Mari kita tengok kisah Rsi Wiyasa yang mengembalikan keperawanan ibunya seperti sedia kala, kisah kelahiran satus korawa yang tidak lain melalui teknologi bayi tabung dan kelahiran pandawa melalui bioteknologi kloning yang dikarenakan Maharaja Pandu tidak dapat melakukan kewajibannya sebagai suami. Ternyata teknologi saat ini seperti bedah plastik, teknologi genetika sampai pada masalah kloning yang baru berkembang di dunia modern pada abad 20 ini telah terinspirasikan pada jaman Veda yang begitu tua.
Dalam Mahabarata juga disinggung tentang kemungkinan laki-laki dapat mendapatkan keturunan tanpa melalui bantuan wanita. Hal ini dikisahkan ketika Maha Rsi Wiyasa menginginkan seorang putra pada saat perang bharata yuda berlangsung. Beliau mengeluarkan kama petak yang pada akhirnya berkembang menjadi anak laki-laki (Bhagawan Suka). Saat ini, seorang wanita yang menginginkan keturunan tanpa kehadiran seorang pria sudah benar-benar dapat diwujudkan. Kapankah bioteknologi seperti kisah kelahiran Bhagawan Suka ini akan benar-benar terwujud di jaman kali ini?
Masih ingat tentang teknologi jalan layang yang dikemukakan oleh Tjokorde Raka Sukawati? Ternyata semua ini telah terinspirasi dari Veda yaitu dari Prabu Sosrobahu dalam kisah Ramayana. Dan penemuan inipun diberi nama sesuai dengan sumber inspirasinya.
D. Energi Nuklir dalam perspektif Veda
Inilah ceceran-ceceran teknologi Veda yang ternyata sangat modern. Bahkan ada yang belum sampai dibayangkan oleh manusia jaman sekarang telah lebih dahulu terlukiskan oleh Veda. Sungguh luar biasa bukan? Secarik tulisan di atas hanyalah setetes pengetahuan tentang teknologi dalam Veda, masih banyak hal-hal menakjubkan lainnya dari luasnya samudra pengetahuan Veda. Nah sampailah kita pada maksud dibuatnya makalah ini, yaitu bagaimana hubungan Nuklir sebagai bidang studi yang saya geluti saat ini dengan Veda sebagai kitab suci Hindu.
Energi nuklir muncul atas dasar teori kesetaran antara materi dengan energi yang dikumandangkan oleh Einstein dengan rumusannya yang sangat terkenal, E = m C2. Suatu penemuan yang sangat mencengakan bahkan mengantarkannya sebagai predikat orang terjenius di dunia. Tetapi mungkin berbeda ceritranya dengan seorang ahli Veda yang mendengar penemuan Einstein, kenapa? Di dalam Rgveda bab II.72.4 disebutkan “Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari” artinya : Dari aditi (materi) asalnya daksa (energi) dan dari daksa (energi) asalnya aditi (materi). Ternyata teori yang mencengakan ini telah tersurat jauh sebelum moyang dari Einstein lahir. Jadi siapa yang lebih hebat, Einstein apa Veda? Inilah dokumen Tuhan Yang Maha Esa dengan tanpa cacatnya. Adapun kejanggalan yang kita temukan hanya karena keterbatasan pemikiran kita sendiri yang terselimuti oleh maya dan kebodohan.
Dengan adanya teori kesetaraan energi dan materi, mulai awal abad ke-19 perkembangan teknologi begitu pesatnya. Banyak rahasia alam yang mulai dapat terungkap, tapi sayangnya ternyata kita sebagai kaum intelektual muda Hindu buta akan kitab suci sendiri. Kita hanya menunggu orang lain untuk mengungkapnya. Betapa tidak, ternyata kenyataan bahwa sumber energi utama di bumi ini adalah matahari tercantum dalam Rgveda bab II.13.6 yang menyebutkan “Yo bhojanam ca dayase ca vhardanam. Artinya : matahari menyediakan makanan yang bergisi pada alam semesta. Seperti kita ketahui dalam matahari (bintang) terjadi reaksi nuklir, yaitu reaksi fusi antara inti-inti Hidrogen menjadi Helium dengan melepas energi yang sangat besar. Jika kita bandingkan antara massa awal sebelum terjadinya reaksi dengan setelah reaksi ternyata terjadi penyusutan massa, massa yang hilang inilah yang terkonversi menjadi energi yang selanjutnya memancar ke seluruh penjuru dan sampai pada planet Bumi sebagai sumber energi yang paling utama.
Ada sebuah sloka dalam Atharva Veda bab XIII.3.10 menyebutkan “Yasmin surya arpitah sapta sakam” artinya : Tuhan Yang Maha Agung menciptakan tujuh buah matahari/tata surya yang kuat secara serempak. Mungkin yang dimaksud sloka ini jumlah tata surya yang mirip dengan tata surya kita dengan pusat matahari ada tujuh buah dalam satu galaksi Bima sakti ini. Dan sangat mungkin di tempat itu juga terdapat kehidupan seperti di bumi meskipun dengan corak yang berbeda. Kita buktikan saja.
Kembali beralih kepada reaksi nuklir yang terjadi pada bintang atau matahari. Dalam Rgveda bab I.164.43 menyebutkan “Sakamayam dhunam arad apasyam, visuva para enavarena” artinya : matahari pada semua sisinya dikelilingi oleh gas yang kuat. Seperti kita bahas di atas, reaksi fusi dalam matahari berbahan bakar Hidrogen dan menghasilkan produk sisa berupa Helium. Berdasarkan analisa radiasinya dan pengamatan pada saat berlangsungnya gerhana matahari, sebagian besar unsur matahari memang tersusun oleh gas, tapi karena gaya gravitasinya menyebabkan kepadatan pada bagian inti matahari jauh lebih besar dari bagian luarnya. Daerah terluar mendapat gravitasi yang paling lemah dan disini terjadi semburan lidah api dan gas-gas yang memiliki kecepatan luar biasa yang disebut korona seperti apa yang diungkapkan sloka diatas. Kalau kita ingin menyelidiki kelanjutan dari hasil reaksi nuklir dalam matahari yang selanjutnya dapat menghidupi segenap mahkluk hidup juga dapat dijelaskan secara tepat dalam banyak sloka-sloka Veda.
Mari kita tengok era nuklir dalam sejarah Veda. Ada penemuan unik yang menyebutkan pada daerah bekas perang kuru sekarang ternyata terdapat sumber radiasi yang cukup tinggi yang terpusat hanya pada daerah ini. Jika kita tarik hubungan antara senjata-senjata yang dikatakan memiliki daya ledak tinggi milik Arjuna serta senjata hebat milik ksatria-ksartia lainnya yang meledak dalam Bharata yuda, apa tidak mungkin kalau senjata yang digunakan mengandung unsur radioaktif?
Dalam peperangan antara Arjuna dengan Asvatama juga dikisahkan penggunaan senjata sakti Brahmasirah yang dapat menyemburkan api sebesar gunung. Senjata apa yang bisa mengeluarkan energi seperti itu? Andaikan minyak bumi, perlu berapa barel minyak? Sedangkan dengan bahan bakar nuklir hanya perlu sekitar 1 gram saja. Satu lagi kisah yang sangat menarik yang diceritrakan dalam mausala parwa, yaitu meledaknya senjata mausala yang menyebabkan musnahnya bangsa Wresni dan sekaligus menenggelamkan kerajaan Krisna ke dasar laut. Dengan teknologi kita sekarang ini, senjata apa yang bisa menghancurkan sedasyat itu? Bom Hidrogen? Bom dari Uranium atau yang lain? Hanya rekasi nuklir baik itu fisi (pembelahan, contoh pada Uranium) maupun fusi (penyatuan, contoh bom Hidrogen) yang memiliki daya hancur seperti itu.
Bagaimana kita bisa menolak semua kebenaran ini? Semua isi Veda yang kita ketahui benar hanyalah sebagian kecil kebenaran yang telah dibuktikan dengan cara manusia, sedangkan disana masih tersimpan banyak kebenaran yang belum bisa diketahui dengan metode manusia. Semua hanya karena ketidaktahuan dan kebodohan kita yang buta akan kebenaran suci Veda.
BAB VI
KESIMPULAN & PENUTUP
Sebagai dokumen tertulis tertua yang sampai saat inipun belum ada sarjana-sarjana dan para ahli mampu mengungkap kapan Veda diwahyukan. Mereka hanya mampu memberikan angka yang tidak pasti dengan rentang panjang yaitu sekitar 5000 SM bahkan sampai 7000 SM. Kalau kita lihat sepihak dari isi Bhagavad Gita mungkin dapat dikatakan kalau kitab ini diwahyukan sekitar 6500 SM. Tapi bagaimana dengan kitab yang lain? Bukankah Veda begitu luas dan diwahyukan bukan dalam waktu bersamaan? Bahkan dalam Bhagavad Gita disebutkan kalau Bhagavad Gita pernah diwahyukan untuk pertama kalinya oleh Krisna sebagai kepribadian Tuhan kepada Dewa Surya sekitar satu jutaan tahun sebelumnya. Dan kemudian oleh Dewa Surya diturunkan kepada Manu, nenek moyang umat manusia. Oleh karena garis perguruannya terputus, akhirnya diwahyukan kembali kepada Arjuna seperti sekarang ini. Mungkinkah itu? Berdasarkan tahun Kalpa alam semesta akan berumur sekitar 4.300.000.000 sampai akhirnya di pralaya kembali. Menurut fosil-fosil yang diketemukan dan dengan memanfaatkan kandungan Karbon-14 di dalamnya yang bersifat radioaktif dan terus meluruh dengan waktu paruh tertentu, umur suatu fosil dapat diketahui. Dan terbukti umurnya memang jutaan tahun. Kalau bagian dari Veda telah diwahyukan selama itu bukankah sangat mungkin sekali? Dan perlu digaris bawahi bahwa hukum Darwin mengenai evolusi manusia tidak pernah ada. Ilmu genetika telah membuktikan kesalahan teori Darwin sejak tahun 2000 silam. Semua ini telah dibuktikan secara ilmiah maupun dari sloka-sloka Veda. Jadi, pada dasarnya Veda menaungi semua ajaran kehidupan baik jasmani maupun yang bersifat rohani, secara tertulis dan tidak tertulis. Sebagai kitab suci tertua Veda sudah menjelaskan dan memprediksikan apa saja yang akan terjadi di masa depan, membekali manusia dengan teknologi-teknologi yang tak terbatas dan sungguh sayang ternyata kita belum mampu menangkap semua kebenaran itu. Dimana Veda disimpangkan, disanalah Avatara akan muncul dan meluruskan ajaran kebenaran Veda yang abadi. Setiap agama dengan kitab sucinya yang muncul adalah bagian dari pelurusan ajaran Veda yang disimpangkan, bukan untuk dipertentangkan. Tetapi sayangnya pertentangan inilah yang kerap kali muncul dari pikiran-pikiran fanatik karena ketidaktahuan mereka sendiri. Kebenaran hanya ada satu, yang manakah yang benar? Kitab suci Veda sebagai wahyu pertama ataukah kitab suci lain sebagai wahyu terakhir sebelum dunia ini pralaya? Pelajarilah Veda dengan hati terbuka, penuh dengan rasa Bhakti dibawah bimbingan seorang guru rohani yang terpercaya dan bandingkan dengan kitab suci-kitab suci lainnya. Saya yakin andapun akan mengerti kenapa Veda selalu eksis sejak jaman manu, saat manusia pertama diciptakan sampai saat ini. Banggalah sebagai orang Hindu, sebagai pengikut Veda! Dharma akan tetap eksis selamanya.
DAFTAR PUSTAKA
Aripta Wibawa, I Made, Pengetahuan dan Pengendalian Prana, Paramita, Surabaya
Berger, Peter L, 2003. Sisi lain Tuhan, Qirtas, Yogyakarta
Catur Veda
Drucker, A, Bhagavan Sri Satya Sai Baba Discourses on Bhagavad Gita, Sri Sathya SAI Books, Andhra Pradesh
Ellsberg, Robert, 1991. Gandhi on Christianity, LkiS, Yogyakarta
Suja, I Wayan, Titik temu IPTEK dan Agama Hindu, Manik geni, Denpasar
Subba Rao, Gandhikota V, Saitri Manthra Yanthra Thanthra, Paramita, Surabaya.
Prabhupada, 1989. Bhagavad Gita As It Is, The Bhaktivedanta Book Trust International, Sweden
Comment by J.Petrus Lazuardi — December 14, 2008 @ 8:47 am
hindu is my soul…..bali is my life
Comment by nyoman — December 14, 2008 @ 8:52 am
BALI ADALAH MILIK KRISTUS, DICIPTAKAN OLEH KRISTUS DAN UNTUK KEMULIAAN KRISTUS…. SEBAGAI ORANG BALI SAYA SANGAT BERSYUKUR KARENA ALLAH YANG SAYA SEMBAH ADALAH ALLAH YANG HIDUP… DI MENUNJUKKAN KUASANYA ATAS BALI.
SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU BUAT SAUDARA-SAUDARAKU SEIMAN DI GKPB. TERUSKAN PERJUANGANMU UNTUK MEMBERITAKAN INJIL KESELAMATAN BAGI PULAU BALI INI. TUHAN SENANTIASA MENYERTAI ENGKAU SAMPAI DENGAN AKHIR ZAMAN.
SALAM SEJAHTERA…. MADE MARIO GITA KANTER,S.Th.,S.H.
ADVOKAT & PENGACARA.
Comment by Pdt. MADE MARIO GITA KANTER S.Th.,S.H. — December 19, 2008 @ 2:36 am
Buat :Pak Made Mario
Saya justru kebalikan dari Bapak saya orang asli Malang yang sebelumnya adalah orang Kristen yang sekarang dengan kesadaran sendiri beralih menjadi Pemeluk Agama Hindu alasan saya adalah :
1.Agama Kristen agama penuh hujatan dan hayalan buktinya…setiap orang yg bukan kristen dianggap pengikut setan orang yang dikuasai kegelapan hal ini tidak saya temukan di Hindu….orang hindu tidak pernah mengujat pengikut agama lain
2.Agama Kristen penuh dengan sejarah yang kelam….di eropa ada disebut jaman kegelapan orang-orang yang dituduh tukang sihir (bidah) dibantai habis oleh gereja…..
3.Hindu mengakui dan menerima yesus sebagai orang suci tapi bukan tuhan (setitik air tidak boleh menganggap dirinya samudra)
4.Kalau ingin kebenaran sejati menengoklah ke Bharatawangsa (india) dan selami Weda (Baca buku Weda VS Injil)
Comment by J.Petrus Lazuardi — December 25, 2008 @ 7:19 pm
16 PERTANYAAN YANG TIDAK ADA JAWABANNYA (Kalau Pak Made Mario bisa tolong dijawab kalo bisa saya kasih hadiah Permen)
1. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia ketika tangan dan kakinya dipaku di tiang salib memohon pertolongan kepada Allah/Bapa?
2. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia ketika hendak membangkitkan Lazarus dari dalam kubur di depan umat Israel memohon pertolongan kepada Bapa?
3. Jika Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat, mengapa ia tidak mampu menyelamatkan dirinya dan kaumnya dari dominasi penjajah Romawi, tetapi malah ia diserahkan oleh penguasa Romawi (Pontius Pilatus) untuk disalibkan?
4. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia tidak mengetahui kapan datangnya hari kiamat?
5. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia sujud menyembah dan memohon perlindungan kepada Bapa?
6. Jika Yesus adalah Tuhan oleh karena kejadiannya sebelum Abraham, mengapa Yeremia yang juga mengalami kehidupan sebelum manusia tidak menjadi Tuhan?
7. Jika Yesus adalah Tuhan oleh karena ia lahir tanpa ayah, mengapa Adam yang lahir ke dunia tanpa ayah dan ibu tidak menjadi Tuhan?
8. Jika Yesus adalah Tuhan oleh karena ia lahir atas bantuan penuh Roh Kudus dari seorang perawan muda (Maria), mengapa Yohanes Pembaptis yang juga lahir atas bantuan penuh Roh Kudus dari seorang perempuan mandul yang tua bangka (Elisabet) tidak menjadi Tuhan?
9. Jika Yesus adalah Tuhan oleh karena ia memiliki mukjizat yang mampu menghilangkan berbagai penyakit dan mampu menghidupkan orang mati, mengapa Musa yang memiliki mukjizat jauh lebih dahsyat dari Yesus tidak menjadi Tuhan?
10. Jika Yesus adalah Tuhan oleh karena ia seorang Kristus (Mesias), mengapa kristus-kristus lain tidak menjadi Tuhan? Kristus-kristus lain dalam Alkitab: Daud Kristus (Mazmur 2:2), Koresh Kristus (Yesaya 45:1), Saul Kristus (1 Samuel 10:1), Harun Kristus (Imamat 8:12), Elisa Kristus (1 Raja-raja 19:16), dan Salomo Kristus (1 Raja-raja 1:39). Kristus (Yunani) = Mesias (Ibrani) = Yang diurapi.
11. Jika Yesus adalah Tuhan bagi ajaran Paulus, mengapa Yesus memerintahkan untuk menegakkan hukum Musa yang notabene bertentangan dengan ajaran Paulus?
12. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia tidak mampu mempengaruhi umat Israel untuk mengikuti ajarannya, padahal ia lahir, besar, dan mati di tanah Israel? (Bandingkan dengan ahli hipnotis Tommy Raphael yang mampu merubah perangai manusia dalam waktu sekejap!)
13. Jika Yesus adalah Tuhan Semesta Alam, mengapa ia ketakutan menghadapi orang-orang Yahudi? (Bandingkan dengan firman Tuhan dalam Perjanjian Lama!)
14. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia tidak pernah menyatakan dirinya sebagai Tuhan Semesta Alam di depan umat Israel? (Bandingkan dengan firman Tuhan dalam Perjanjian Lama!)
15. Jika Yesus adalah Tuhan menurut ajaran Paulus, mengapa Melkisedek yang memiliki kesetaraan dengan Yesus tidak menjadi Tuhan? (Jika Yesus adalah Tuhan, maka Melkisedek pasti Tuhan. Sebaliknya, jika Melkisedek bukan Tuhan, maka Yesus pun pasti bukan Tuhan). Ia (Melkisedek) tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah (Yesus), ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya.” (Ibrani 7:3)
16. Jika Yesus adalah Tuhan bagi umat Kristen, mengapa ia tidak pernah menurunkan satu kitab pun kepada umat Kristen sebagai pedoman hidup?
Comment by J.Petrus Lazuardi — December 26, 2008 @ 3:37 pm
hindu is the one!kembalilah kepadanya!!
kristen bangsat!!!katholik anjing!!gw dari semua agama yg ada di muka bumi gw paling benci ma ni agama!!agama paling ga nyambung sedunia!!masa Tuhan bisa di bunuh dan di salib…tuhan kan maha kuat…klo gitu tuhannya kristen…dia lebih lemah dari apapun donk…lebih lemah dari orang kristen…aduh kasihan banget…sudah gitu pake celana kolor lagi…sexy boo…masa Tuhan yang agung mau jadi manusia supaya bisa menebus dosa2 manusia!! enak banget donk…oarng yg berbuat salah tapi gampang banget terhapus dosanya…jadinya dia gak taukut bebuat dosa…yang benar manusia itu yg harus mempertaggungjawabkan perbuatannya sendiri…. nebusnya ke siapa dong klo tuhan sendiri yg turun jd manusia??ke apotik??!!tuhan tuh maha agung maha kuasa katanya tapi buat ngampunin dosa manusia aja harus jadi manusia dulu trus ngalamin penderitaan sampe disalib sgala!!dimana tuh yg namanya maha kuasa??!!asli ini mah bner2 agama karangan orang2 israel yg pada dasarnya juga ga suka sama yesus itu!!!loe mau aja loe diboongin ma setan!!guoblok2!!!dasar agama buatan manusia!!udah lah umat manusia lebih baik kita kembali kpd penyucian diri yg diajar kan oleh agama ku hindu……..manusia lah yg harus menebus dosanya masing2 dgn mengalami penderitaan akibat perbuatannya!!itulah yg namanya iman kpd agama yg didasarkan kpd pikiran kita yg telah dianugerahkan para dewa kpd kita umat manusia!!ingatlah dewa brahma akan sangat murka kpd umat manusia yg melupakan ajarannya!!kembalilah umat manusia!!
Comment by Randy — December 29, 2008 @ 9:46 pm
to : Made Gunaraksawati Mastra
lo orang tdk tahu balas budi, lo lupa sama leluhur…ingat de budaya luhhur orang bali didasari dari ajaran hindu….kristen nggak cocok di Bali kalo lo mengkristenkan Bali mana ada tamu yang datang ke bali para turis ke bali karena budaya & adat bali yang dilandasi ajaran hindu dan satu lagi walaupun ajaran agama kristen dikatakan cinta kasih tetapi buktinya selalu bikin rusuh kalo ketemu sama islam (ambon,poso) dan bali yg damai sudah jadi korban persetuan agama rumpun ambrahamik (kristen vs islam) yg memang warisan perang salib. jika bali sampai kristen maka akan terjadi lebanon (dimanapun jika islam dan kristen bertemu akan terjadi perang.
Lewat media ini saya imbau oarang Bali yg sudah beragama kristen kembalilah ke HINDU…….di kristen tidak ada kedamaian yg ada hanya perang….dan kristen itu penuh dengan sejarah yg kelam…..kalo pernah baca kitab injil kalian baru tahu seperti apa ajaran kristen itu :
mau contoh ok……
“sebab Aku datang untuk memisahkan seorang dar ayahnya, anak perempuan melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya” matius,10/35
“jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai diatas bumi, Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang” matius 10/34
Comment by Arya Mahotama — January 2, 2009 @ 9:49 am
Saya sangat tertarik membaca tentang sejarah Gereja di Bali khususnya GKPB. ada beberapa versi yang pernah saya dengar dan menurut pendapat saya banyak biasnya akan tetapi syukurnya semuanya masih menempatkan Tukad Yeh Poh sebagai tempat baptisan pertama. Yang menjadi masalah sekarang sejauh mana perhatian GKPB terhadap lokasi baptisan pertama tersebut ?????? Tanggal 11 November sudah dekat …… jangan sampai GKPB lupa dengan ” kawitan “
Comment by dicky — August 29, 2009 @ 8:50 pm
Ah..aku ketingalan rupanya…bapak bapak!
Menurutku sebaiknya orang Bali yg sudah masuk Kristen agar balik ke Hindu. Mungkin semua orang bali sudah notabene ditakdirkan beragama Hindu. Ini pengalamanku sendiri dari satu daerah ke daerah lain. Hidup dan tinggal dengan beberapa orang Bali yg sudah menjadi kristen maupun muslim di Manado, Tomohon dan Kotamobagu sulawesi utara. Mereka rata rata merasakan penyesalan yg dalam, mereka pindah ke Kristen karena awalnya dibelit kemiskinan dan menukarkan keyakinan mereka. Aku setahun di Kotamubagu, dan sering kali berkunjung ke Dumoga pusat orang Bali, orang Bali yg beragama Hindu umumnya memiliki status ekonomi yg jauh lebih bagus terlihat dari rumah, sanggah (pura keluarga), pura umum dan balai kesehatan, pusat pendidikkan seperti TK dan balai desa (banjar). Sedangkan transmigran suku bali yg sudah Kristen, justru hidup mereka menyedihkan, gereja yg tidak pernah direnovasi dan secara ekonomi mereka tertinggal jauh dari sesama transmigran asal Bali lainnya yg agamanya Hindu. Ironisnya Manado dan tomohon sebagai pusat Kristen tidak bergeming dengan keadaan umatnyanya yg seiman di Kotamubagu ini. Mengapa upaya2 misionaris dan pembanguna gereja gencar dilakukan di Bali?
Banyak Orang Bali Kristen yang anak-anaknya lebih suka memilih kembali sembahyang di Pura, silahkan lihat kenyataan di sebuah Pura di daerah Taas, di Tikala baru di kota Manado, Pura berdiri dengan megah, setiap minggu anak anak penuh di pura belajar agama Hindu dan mereka tdk lagi bisa berbahasa Bali, semua berbahasa manado, orang tua merekapun membiarkan anak anak mereka kembali belajar agama Hindu dan cukup mereka sebagai orang tua yg telah mengambil jalan salah, ini kan sama juga denagn penyataan penyesalan hidup?
Lihat di Bukit kasih kanonang ada Pura, masjid, wihara dan gereja, Mengapa Pura itu dikunjungi orang bali yg sudah Kristen di Manado? dan mereka sembahyang, mereka bilang org Bali identik ke Pura buka Gereja kata mereka. Silahkan kunjungi tempaat ini pada hari sabtu atau minggu untuk mebuktikan dan bicara dengan yg anda kebetulan temui di dalam pura, ajak mereka bicara, pasti anda kaget. Mereka kawin dgn org manado dan ikut kristen tapi diam diam melepasakn kerinduan dengan Tuhan di Pura
Di Tomohon ada wihara, banyak sekali org Bali dan China yg sudah Kristen tetap ke Wihara ini…silahkan kunjungi untuk melihatnya sendiri. Mereka KTP Kristen tapi mereka hanya merasakan ke damaian setelah sembahyang di Pura/wihara dibanding di gereja mendengar pendeta yg berkotbah dengan suara lantang dan berkobar.
I wayan Dana asal dusun lamper lombok Barat, tinggal di Bantik, kecamatan Wori minahasa selatan. Silahkan temui dia di Telawaan Bantik, dia sekarang bekerja di barakuda Dive Center dan menjadi Kristen karena paksaan istrinya, dia sedih meninggalkan agamanya setelah sadar. Anaknya 3 org meninggal karena sakit yg tdk diketahui penyakitnya.
Anak Pendeta I dewa Komang Rna di Gereja Kemah Injil di Negarasakah, Cakra Timur Lombok Barat, Stress dan Gila. Dia kepingin kembali Menjadi Hindu tapi ditentang keras oleh ayahnya yg sudah pendeta. Anaknya sering ke pura keluarga sembahyang yang ada di rumah pamannya I dewa komang renga ( saudara kandung tua ) pendeta Dewa Rna. Anak tersebut sembuh, namun ayahnya mengrim ke Makasar dan menitipkannya dengan seorang pendeta Kristen karena malu di kampung.
Demikian juga dengan anak kandung pendeta I Dewa Komang Rna yg nomor 3, dia rajin belajar kitab suci Hindu lagi setelah lulus fakultas ekonomi UNRAM dan menyatakan akan kembali menajdi Hindu. Namum Pendeta I Dewa Komang Rna sangat marah dan segera mengirimnya ke Makasar untuk mendalami Injil, Anaknya itu bukan belajar Injil namun menikah di Surabaya dan memeluk Budha.
Saya sempat tinggal debelakang Gereja kemah injil di Cakranegara desa negarasakah Lombok selama 2 tahun, dan banyak jemaat orang Bali dari kampung negarasakah yg menjadi Kristen, mereka mau karena dapat tunjangan tiap bulan dulunya, namun belakangan ini tidak satupun orang Bali di desa ini terlihat ke Gereja, mereka kemabali menjadi Hindu dan sembahyang di Pura Meru negarasakah yg ada persis di depan Banjar sebelah Gereja. Saya punya teman yg dulunya sering ngumpul nanmun terlihat dengan senangnya menjadi pengurus remaja pura meru negarasakah. Mereka bilang jauh lebih damai menjadi Hindu karena ajarannyanya tidak dogmatis kata I dewa made Banjar dan Desak made Arini yg sekarang juga guru di SD 5 negarasakah.
Orang Bali Kristen di desa ini tinggal 3 KK sj dari sebelumnya sewaktu aku disana 35 KK, selebihnya pendatang dari flores. Mereka yg masih Kristen Pendeta Dewa Komang Rna, Ni wayah Kunti, dewa Md Rendah.
Nah dari pengalaman saya keliling sebagai penjual casset/vcd, itulah kenyataan yg saya alami. Orang Bali ekonominya lebih baik, jujur sekali kalau masalah janji, tidak pernah saya ditipu dan kecolongan menjalankan kredit barang saya. Justru saya dibantu dalam hal memasarkan dagangan saya. Betapa indah menjadi orang Bali beragama Hindu itu, suatu anugrah dan mendatangkan kesejahteraan bagi mereka yg menganutnya. Saya merasa bersaudara dengan mereka yg telah mengasihi saya, memotivasi saya tanpa berharap imbalan,
Jadi bagi saudara saudaraku, jangan sekali pindah agama karena diiming-imingi, karena perut lapar. Hanya kita sendiri yg bisa menyelamtkan diri kita sendiri, yg bisa merubah nasib dan menentukan hidup kita itu diri kita sendiri. Kalau aku tidak memaksa diriku melangkah menjajakan dagangannku, aku pasti masih tertinggal dan serba kekurangan. Aku semakin paham arti perbedaan dan aku berusaha mengenal makna dibalik perbedaan itu. Di Bali aku tinggal dan kos di Tanjung bungkak dekat kampus warmadewa, aku melihat orang bali setiap hari menghaturkan bunga dan menyalakan dupa sebelum sembahyang - Ibu Jero menjelaskan kepadaku maknanya kita harus buat suasana yg hening dengan wewangian agar semua bau yg menggaggu hilang dan berganti dgn bau harum. Aku tarik kesimpulan bahwa untuk mendapatkan pikiran yg baik, suasana harus tenang dan dupa sebagai aroma therapy untuk menbuat suasan relax dan tenang barulah memohon
kepada Tuhaan. Semakin aku bergaul semakin aku senang dengan Bali yg tetap hindu, aku sering di ajak ke Pura, suasana yg nyaman dan damai, ada tarian, ada wewangian yg tujuannya membuat suasana nyaman dan pikiran tenang baru mereka berdoa. Sungguh luar biasa, apa mungkin suasana ini ada di agama lain? tidak ada! Sesaji yg dihaturkan oleh masing masing keluarga dimohonkan kepada Tuhan agar diberkati setelah selesai baru dinikmati oleh anggota keluarga. Luar biasal kan? Pendeta juga memimpinnya di pura. Berkat dimohon bukan untuk diri mereka sendiri, tapi juga untuk lingkungan mereka, sanak keluarga dan alam sekitar.
Dulu aku dilarang memakan buah yg sudah dipersembahkan di pura, karena bukan depersembahkan ke Tuhan melainkan ke setan. Aku kasi tau ya semua sesaji itu bukan untuk dipersembahkan oleh org bali tapi mereka membawa untuk dimohonkan ke Tuhan untuk diberkati agar keluarga yg menyantap persembahan itu senantiasa diberkati. Tak kenal maka tak sayang bagi mereka org bali yg meninggalkan agama Hindu.
Coba lihat di australia, di Geelong ada pura, di sydney ada pura, perth tepi swan river ada pura di eropa juga ada pura, dan yg datang sembahyang orang australia dan eropa berbaur dengan org bali, nah di Bali jangan dipicu oleh misionaris yg mencari keuntungan. Bapak Bapak sekalian, umur kristen di bali tidak bertahan lama karena penginjil yg tidal terpuji, Natal disebut Galungan Nadi, di dalam ruang Meru diisi salib dan patung bunda maria. Saya melihat banyak muda mudi asal belimbling sari dan palasari, Dalung sudah mulai enggan menjadi kristen, lihat saja karena sesuatu yg palsu pasti luntur.
Comment by Alice — December 10, 2009 @ 12:51 am
Bagaimana Umat Hindu Menghayati Tuhan
Betulkah umat Hindu hanya memuja Tuhan Yang Maha Esa? Kalau betul, mengapa mereka menghormati banyak dewa? Apakah umat Hindu juga memuja berhala? Kalau tidak, mengapa mereka menggunakan patung-patung dan berbagai jenis sajen? Apakah Tuhan yang dipuja umat Hindu bisa makan seperti manusia, sehingga umatNya perlu mempersembahkan nasi dan buah-buahan? Mengapa Hindu di India berbeda dengan Hindu di Bali, Jawa dan daerah lainnya? Apakah ajaran Hindu boleh diubah semau-maunya?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu acapkali muncul dalam berbagai kesempatan. Seperti peluru yang muntah dari moncong senapan mesin, pertanyaan itu membuat telinga menjadi merah, hati menjadi terluka, dan sakit sekali rasanya. Tapi, salahkah mereka melontarkan pertanyaan semacam itu? Tidak! Pertanyaan itu sangat wajar dan seringkali terlontar spontan dari beberapa orang yang memang tidak paham inti ajaran Hindu. Bahkan juga oleh sebagian umat Hindu yang lugu, yang selama ini belum mendapatkan penjelasan atau bacaan agama yang benar, dikarenakan kurangnya bahan-bahan tertulis berupa buku agama. Sebagaimana dimaklumi bersama buku-buku tentang ajaran Hindu masih kurang banyak dan kurang menjangkau umat yang berada di pedesaan.
Jika saja kita mau jujur dan terbuka, sebagian umat Hindu, lebih-lebih yang tidak sempat mengenyam pendidikan sekolah, tidak punya jawaban yang memuaskan atas pertanyaan yang menohok tadi. Penyebabnya, selain terbatasnya buku-buku agama Hindu, mereka kurang mampu mengupas, mengkaji, menganalisa cara penghayatan warisan dari nenek moyang. Cara penghayatan yang kaya dengan aneka simbul dan kias, terbungkus rapi oleh semarak dan kemegahan seni budaya yang indah mempesona menyilaukan mata, hingga inti hakekatnya tidak nampak seketika.
Narnun kita patut bersyukur. Sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) belakangan ini membangkitkan semangat generasi muda Hindu untuk menguak, meneliti, mempelajari, menganalisis, lalu mengoreksi bahkan melontarkan otokritik apa yang telah diadatkan dan ditradisikan oleh nenek moyang mereka. Ajaran yang gugon tuwon atau percaya secara membabi buta sangat tabu bagi para cendekiawan Hindu yang kini bangkit. Mereka merindukan jawaban, bukan saja mengenai adat istiadat, tetapi juga mengenai agarna yang mereka anut. Mereka menghendaki jawaban yang logis atau istilah kerennya berkadar ôilmiah? agar memuaskan, sekaligus sebagai bekal untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan umat lain yang ingin mengetahui ajaran Hindu.
Adalah dampak Iptek pula yang menyebabkan pemuda-pemuda, cendekiawan Hindu, tidak cukup puas dengan upacara ritual tradisional yang dilaksanakan secara bersama-sama. Dengan tidak melepaskan kebersamaan atau sifat komunal, mereka ingin menghayati Tuhan sendiri-sendiri, tidak cukup dengan sembahyang pada waktu-waktu piodalan dan hari-hari suci di pura saja. Tapi jauh lebih dari itu. Mereka memerlukan waktu yang lebih sering untuk merenungkan hakekat Tuhan, tidak hanya di pura saja. Namun sentuhan Iptek juga dapat mengancam sifat kebersamaan untuk menjadi individual, padahal kebersamaan itu sangat perlu dipertahankan sebagai budaya bangsa yang adiluhung. Sebab, sembahyang di pura, bukan hanya persoalan antara manusia dengan Tuhan, tapi juga menyangkut sosial, manusia dengan sesama. Karena itulah yang kita butuhkan adalah keseimbangan. Tidak mentah-mentah menolak Iptek, tapi tidak bersikap apriori terhadap semua yang berbau tradisi dan upacara. Apalagi tradisi yang kita warisi banyak yang patut dipertahankan karena terbukti sangat menguntungkan dalam kehidupan beragama dan sangat membantu kita dalam menghayati hakikat Tuhan.
Nama Banyak tapi Esa
Kita tahu, ada berjenis-jenis pura dengan nama dan fungsi berbeda di Indonesia. Lebih-lebih di Pulau Bali yang dijuluki Pulau Kahyangan ini yang kaya dengan simbul-simbul serta penghayatan yang khas. Tuhan dipersonifikasikan dengan sifat dan kekuasaan yang berbeda-beda.
Demikianlah, di Pura Besakih umat Hindu memuja Dewa Siwa dengan segala manifestasinya, memohon keselamatan lahir batin. Di Pura Batur umat memuja Dewa Wisnu dengan sakti-nya Dewi Danu (Dewi Sri), memohon kemakmuran. Banyak lagi kahyangan dan dang kahyangan sebagai tempat memuja Tuhan dalam manifestasinya yang berbeda-beda.
Di dalam kitab suci Hindu, Weda, dijumpai ratusan nama dewa-dewa dengan kekuasaan dan fungsinya yang berbeda-beda. Dalam Weda, Tuhan memang dijuluki ô sehasra? yaitu seribu nama. Ketika bertrisandhya, yakni memuja Tuhan setiap pagi, siang dan petang hari, kita mengucapkan mantram yang menyebutkan nama dewa itu banyak. Perhatikan kutipan bait kedua dan ketiga dalam mantram Trisandhya sebagai berikut:
OM N?r?yanah evedam sarvam yad-bhutam yacca bh?vyam
niskalanko niranjano nirvikalpo nir?khay?tah suddho devo eko n?r?yanah na dvitiyo ?sti kascit
Artinya:
Ya, Sang Hyang Widhi yang diberi gelar Narayana, segala makhluk yang ada berasal dariMu, Dikau bersifat gaib, tak berwujud, tak terbatas oleh waktu, mengatasi segala kebingungan, tak termusnahkan, Dikau maha cemerlang, maha esa tidak ada duanya, disebut Narayana dipuja semua makhluk.
OM tvam sivas tvam mah?devah isvarah paramesvarah brahm? visnusca rudras ca purusah parikirtitah
Artinya:
Ya, Hyang Widhi yang disebut pula dengan nama Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu dan Rudra, Hyang Widhi adalah asal mula dan semua yang ada.
Kata na dvitiyo yang artinya hanya satu tidak ada duanya, pada bait kedua, jelas menunjukkan bahwa agama Hindu memuja satu Tuhan meskipun beliau dipuja dengan banyak nama seperti Siwa, Mahadewa, Iswara, Paramesvara, Brahma, Wisnu, Rudra sebagaimana yang disebutkan dalam bait ketiga dalam mantram Trisandhya tadi.
Mengapa Tuhan punya banyak nama dan bagaimana cara memahamj? Untuk menjawab pertanyaan itu, baiklah kita melihat sebuah contoh kehidupan sehari-hari sebagai perbandingan.
Ada orang bernaina Sunu. Jabatan Sunu dalam lembaga pemerintahan adalah sebagai direktur. Karena itu, semua pegawai bawahannya memanggil Pak Sunu dengan sebutan Pak Direktur. Tetapi Pak Sunu ini juga sebagai rektor dari sebuah perguruan tinggi, sehingga semua mahasiswanya memanggil dengan nama Pak Rektor. Di rumah, sebagai seorang suami, istrinya memanggil dengan ucapan beli yang artinya kakak (kanda). Sebagai seorang ayah, Pak Sunu dipanggil anaknya dengan sebutan aji atau bapa yang artinya bapak atau ayah. Apakah nama yang banyak ini berarti orangnya banyak? Tidak, kan? Karena orang itu hanya satu, yaitu Pak Sunu sendiri. Pak Sunu menyandang banyak sebutan atau nama, dan setiap nama yang dipakainya itu benar, sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Jadi, nama ini erat sekali hubungannya dengan fungsi atau tugas. Demikian pula Tuhan atau Sang Hyang Widhi Wasa. Beliau disebut Brahma pada waktu menciptakan alam semesta dengan segala isinya. Beliau juga disebut Wisnu pada waktu memelihara semua ciptaannya dengan penuh cinta kasih. Beliau disebut Siwa pada waktu mengembalikan ciptaannya ke asalnya.
Sehubungan dengan fungsi Siwa ini, orang Barat banyak yang keliru memberikan tafsir. Mereka mengatakan Siwa adalah Dewa Perusak, melakukan pralina dengan terjemahan to destroy. Padahal arti sebenarnya yakni, ômengubah dan bentuk sekarang ke bentuk semula (asal)?. Misalnya, tubuh manusia yang kekar dan gagah, setelah meninggal akan hancur menjadi pretiwi (tanah), apah (zat cair), bayu (angin), teja (panas), dan akasa (ether). Karena lima unsur yang disebut Panca Maha Butha itulah asalnya manusia. Jadi istilah ôperusak? atau ôpenghancur? kurang tepat, karena konotasinya negatif. Jika istilah ini dibiarkan terus berdengung tanpa ada usaha meredam, maka jangan-jangan nanti umat Hindu ditafsirkan memuja Dewa Perusak.
Sebagaimana diyakini, Tuhan menciptakan hukum alam, hukum yang mengatur perputaran alam smesta. Planet-planet berputar teratur tanpa bertabrakan. Semua makhluk, lahir, hidup dan mati. Planet bumi berputar tidak henti-hentinya. Perubahan di dunia fana ini adalah hukum yang abadi. Segala sesuatu yang diciptakan, setelah dinikmati dan dipelihara akan kembali musnah. Semua manusia yang lahir, mau tak mau harus siap menghadapi hidup dan akhirnya antre menuju pintu kematian. Lahir, hidup dan mati adalah hukum alam yang diciptakan Tuhan. Tidak ada kekuatan manusia pun yang bisa menghindari hukum abadi ini.
Kekuasaan hukum itulah yang dimanifestasikan dan dipersonifikasikan sebagai Dewa Brahma (pencipta), Dewa Wisnu (pemelihara), Dewa Siwa (pengembali). Bayangkan, apa jadinya seandainya semua makhluk yang lahir di atas bumj ini tidak ada yang mati. Pada saat tertentu tempat berdiri pun tidak ada. Itulah sebabnya, adalah keliru kalau semua bentuk kematian dinilai jel?k. Jangan pula kehancuran itu ditakuti, karena tidak semua bentuk kehancuran itu jelek. Bukankah untuk membangun yang baru, harus menghancurkan yang lama terlebih dahulu?
Nah, lalu apa pula dewa itu? Dewa adalah tidak lain dari sinar kekuasaan Tuhan. Kata dewa berasal dan urat kata div yang artinya sinar. Ambilah contoh matahari. Kalau dunia ini diatur oleh matahari yang satu, maka hidup semua makhluk pun dipengaruhi oleh sinar matahari yang satu itu pula. Air laut diterpa sinar matahari lalu menguap menjadi embun dan jatuh menjadi hujan. Maka terbentuklah sungai yang mengalirkan air itu. Jika tidak ada panas matahari, maka air laut pun tidak menguap.
Begitu pula, angin beredar karena adanya perbedaan padatnya tekanan udara di suatu tempat dengan tempat yang lain. Perbedaan tekanan udara itu ditimbulkan oleh perbedaan panas sebagai akibat perbedaan penyinaran matahari. Andai kata angin tidak beredar, maka betapa panasnya dunia ini.
Lalu kita tahu pula, tumbuh-tumbuhan hidup karena sinar matahari. Ya, semua makhluk bisa hidup dengan baik akibat sinar matahari. Bola matahari itu sendiri tidak pernah menempel pada bumi. Hanya sinarnya saja yang menyentuh bumi.
Begitulah Tuhan, bila diumpamakan bagaikan matahari. Sinar-sinarnya adalah dewa. Sinar itu tidak lain dari sinar yang timbul dari kekuatan matahari. Bila matahari tidak ada, maka sinar itu pun tidak ada. Dewa-dewa pun begitu juga. Bila Tuhan tidak ada, dewa-dewa pun tidak ada.
Para pakar yang menggeluti ôilmu sinar? sudah meneliti bahwa sinar matahari itu banyak warnanya dan berbeda-beda pula fungsi dan khasiatnya. Ada sinarmerah, ungu, ultraviolet, infra merah dan bermacam-macam warna dan nama lainnya. Bukankah semua sinar itu sumbernya hanya satu? Para pakar matahari itu menyatakan, tiap sinar matahari itu mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap bumi. Sebab itulah diberi nama yang berbeda, karena mempunyai kekuatan yang berbeda.
Sama halnya dengan sinar matahari, dewa-dewa dalam agama Hindu pun dianggap memiliki warna yang berbeda pula. Dewa Brahma warnanya merah, Dewa Wisnu warnanya hitam, Dewa Iswara warnanya putih, Dewa Mahadewa warnanya kuning dan dewa-dewa yang lain, lain pula warnanya.
Jika Anda bertanya: kalau dewa-dewa itu tidak lain sinar kekuatan Tuhan yang satu, mengapa tidak disebut Tuhan saja? Mengapa harus diberi nama dan dipersonifikasikan lagi? Apakah penghayatan itu tidak keliru? Tidak! Andaikan penghayatan umat Hindu ini dianggap keliru, maka para ahli sinar matahari pun keliru pula karena memberi nama yang berbeda terhadap sinar matahari. Mengapa harus disebut sinar ultra merah, ultra ungu, ultraviolet dan sebagainya? Mengapa tidak disebut sinar matahari saja?
Agar dapat memahami dengan baik, maka kita hendaknya bisa memisahkan antara pengertian hakikat, penghayatan, dan praktis. Semua itu agar tidak dicampuradukkan. Kitab suci sudah tegas-tegas menyebut, pada hakikatnya agama Hindu memuja satu Tuhan. Tetapi dalam penghayatannya, umat Hindu memuja Tuhan melalui sinar-sinar kekuatan Beliau yang disebut dewa-dewa.
Di dalam praktek, umat Hindu membuatkan bangunan-bangunan khusus, untuk masing-masing dewa sesuai dengan kekhususan fungsi-Nya. Bangunan khusus mi dibuat bertujuan untuk memantapkan perasaan umat terutama yang awam tentang filsafat. Hal inilah yang sering membingungkan ôorang luar? yang tidak mengenal dan mendalami filsafat Hindu. Mereka sering terburu-buru ômenuduh? bahwa agama Hindu Politheistis. ôTuduhan? yang keliru itu tentu tidak akan muncul bila mereka memahami dengan jelas filsafat Hindu.
Untuk memperjelas, ada contoh sederhana yang bisa dipakai perbandingan. Sistem pemerintahan di Indonesia misalnya. Yang mengatur sektor pertanian yakni Departemen Pertanian. Yang mengatur bangunan jembatan dan jalan yakni Departemen Pekerjaan Umum. Sektor pariwisata diatur Departemen Parpostel. Semua departemen itu adalah lembaga pemerintah Indonesia. Departemen itu dibentuk untuk menspesialisasikan pengurusan kebutuhan rakyat.
Karena itulah, bila seorang petani mohon bimbingan tentang pertanian, akan keliru sekali kalau minta ke Departemen Agama, karena seharusnya ia datang ke Departemen Pertanian. Begitulah cara penghayatan umat Hindu terhadap Tuhan mereka. Tuhan itu dipersonifikasikan dan fungsi-Nya diumpamakan sebagai sinar matahari.
Apakah Tuhan Punya Wujud?
Selanjutnya marilah kita mencari jawaban pertanyaan ini: apakah Tuhan dalam agama Hindu mempunyai wujud? Apakah Tuhan sama seperti manusia sehingga kepadaNya kita mempersembahkan sesajen yang terbuat dari bermacam-macam makanan? Mengapa pula umat Hindu membuat patung-patung yang disakralkan? Untuk memahami ini, maka kita hendaknya tidak hanya melihat filsafatnya saja. Kita mesti memahami pula bagaimana cara-cara penghayatan umat Hindu yang awam.
Simaklah arti bait kedua mantram Trisandhya: OM SangHyang Widhi yang diberi gelar Narayana, segala makhluk yang ada berasal dari Hyang Widhi, Dikau bersfat gaib, tak berwujud, tak terbatas oleh waktu, menguasai segala kebingungan, tak termusnahkan, Dikau Maha Cemerlang, Maha Suci, Maha Esa tidak ada duanya, disebut Narayana dan dipuja oleh semua mahluk.
Di sini jelas bahwa Tuhan, Sang Hyang Widhi Wasa, tidak berwujud dan tidak dapat diwujudkan. Tetapi mengapa ada patung-patung dewa? Apakah umat Hindu berarti menyembah berhala pula? Mengapa tidak konsekwen menyembah satu Tuhan?
Mari kita lepaskan dulu prasangka dan tuduhan yang bertubi-tubi ini, meskipun datangnya dari orang yang mengaku atau merasa intelektual dan modern. Kita tahu, bahwa semua bangsa di dunia mencintai dan menghormati bangsanya. Tetapi cobalah tanya, bagaimana wajah bangsanya? Tidak seorang pun tahu dan bisa menjelaskan bagaimana rupa sebenarnya dari apa yang disebut bangsa itu. Karena itulah, semua bangsa membuat simbul. Bangsa Indonesia menggambarkan simbul bangsanya dengan bendera Merah Putih, Garuda Pancasila, dan sebagainya. Apakah memang begitu wajah Bangsa Indonesia? Bukankah bendera Merah Putih itu hanya secarik kain yang terdiri dari kain berwama merah dan putih? Apakah kita menghormati kain? Bukankah kain itu ciptaan manusia? Kita menghormati Garuda Pancasila, tapi apakah Garuda Pancasila itu persis sama dengan burung Garuda? Apakah kita termasuk penganut totem yang menghormati binatang? Kita bisa menjawab dengan gampang: tidak! Bendera Merah Putih, Garuda Pancasila, hanya simbul yang sangat berguna untuk memantapkan rasa hati berbangsa.
Perhatikanlah, pada saat bendera dinaikkan dalam upacara, baik orang yang rasional maupun yang irrasional dengan tertib dan hikmad memberi hormat kepada bendera itu, meskipun semua orang tahu bendera itu terbuat dari kain ciptaan manusia. ôKeanehan? ini timbul karena keinginan, naluri manusia, yang memvisualisasikan bentuk-bentuk yang abstrak, agar lebih mudah dimengerti atau dihayati oleh orang awam.
Demikianlah Tuhan dalam agama Hindu, sudah jelas disebutkan dalam Weda, bahwa la tidak berwujud dan tidak dapat digambarkan, bahkan dipikirkan pun tidak. Tetapi kalau orang yang sembahyang tidak menggambarkan bentuk yang disembah itu, maka konsentrasinya tidak akan bisa sempuma. Meskipun tidak berwujud patung, orang yang sembahyang tentu menggambarkan Tuhan itu dalam hatinya, minimal dalam bentuk pikiran. Nama pun adalah sebuah simbul. Adanya sebuah nama, tentu karena didahului oleh adanya sebuah bentuk, walaupun abstrak.
Istilah Tuhan, Hyang Widhi, dan nama apapun yang diberikan menurut agama lain atau daerah tertentu adalah simbul untuk menamai bentuk pikiran yang tidak dapat dilukiskan karena abstraknya. Kecenderungan ingin melukiskan Tuhan atau dewa dalam bentuk patung adalah suatu cetusan rasa bhakti (cinta). Sebagaimana halnya seorang pria yang jatuh cinta kepada seorang wanita sampai pada tingkat madnes (tergila-gila) maka bantal gulingpun dipeluknya seakan-seakan bantal guling itu kekasihnya. Bila yang sedang dimabuk asmara itu suka membaca atau mengarang puisi, maka ia menggambarkan wanita itu dengan saiak-sajaknya, yang penuh dengan perumpamaan. Misalnya, matanya seperti bintang timur, mukanya seperti bulan purnama, bibirnya merah seperti merah delima dan sebagainya. Padahal, cobalah pikir,jika ada wanita yang matanya persis menyerupai bintang timur dan mukanya bulat seperti bulan purnama, wanita itu barangkali tidak bisa disebut cantik.
Tetapi, itulah simbul, ekspresi yang muncul dari perasaan cinta. Demikian pulalah umat Hindu yang ôtergila-gila? ingin menggambarkan Tuhan-nya, dewanya. Mereka membuat patung sebagai wujud perasaan cintanya, diberi perhiasan, dipuja, dan tidak pernah terpikirkan dalam hatinya bahwa patung itu adalah sebuah kayu yang diukir.
Tuhan, Hyang Widhi Wasa yang abstrak, sulit dimengerti orang awam. Seperti halnya murid TK kelas nol kecil. Dia tidak bisa membayangkan berapa tiga ditambah tiga, karena pengertian tiga itu abstrak. Maka Ibu Guru menggambar bulatan menyerupai telur di papan tulis sebanyak tiga tambah tiga. Ibu Guru bertanya , ôIni apa anak-anak?? Seluruh anak menjawab serentak, ôTelur.?ôBerapa jumlah telur ini anak-anak?? tanya Bu Guru lagi. Anak-anakpun menghitung lalu menjawab, ôEnam.?
Berbohongkah Ibu Guru kita itu? Bukankah yang ada di papan tulis bukan telur melainkan kapur? Anak-anak pun merasa tidak perlu mempersoalkan, apakah gurunya berbohong atau tidak. Anak-anak tidak merasa dibohongi, dan Ibu Gurunya pun tidak bermaksud membohongi dalam kasus metode proses belajar mengajar ini. Karena anak-anak yang belum mampu membayangkan sesuatu yang abstrak perlu visualisasi (peragaan), dan contoh itu tidak mesti harus persis dengan kenyataan sebenamya. Begitulah, orang sulit membayangkan Tuhan bila tidak dibantu dengan membuat bentuk. Mereka tidak dapat membayangkan Tuhan seindah aslinya?, karena mata kepalanya tidak pernah melihat.
Apakah Tuhan Suka Makan?
Jika umat Hindu ke pura membawa sesajen penuh dengan buah-buahan dan makanan yang lezat, apakah Tuhan bagi umat Hindu seperti manusia, suka makan yang enak-enak? Demikian pula jika pura dihias dan diukir dengan indah, apakah Tuhan umat Hindu suka seni dan suka pula menonton tari-tarian?
Ditinjau secara filosofis, Tuhan adalah Maha Besar. Beliau menciptakan alam semesta. Belia? mengadakan semua makanan dan Beliau pula menciptakan semua keindahan. Pun Beliau tidak akan kelaparan jika kita tidak mempersembahkan sesajen. Dilihat dari segi jumlah, apalah artinya persembahan itu di mata Tuhan, karena alam dan semua isinya ini adalah milik Beliau. Dengan demikian, jelas Tuhan tidak memerlukan semua ini. Hanya orang awamlah yang mengira¦ itupun kalau masih ada saat ini ¦ Tuhan memerlukan itu semua. Sesungguhnyalah, semua sesajen dan kesenian itu adalah sebagai alat untuk mewujudkan rasa bhakti atau cinta kepada Tuhan. Orang yang bercinta tentu ingin mempersembahkan apa saja yang dia miliki. Bahkan jiwanya pun bersedia dikorbankan demi yang dicintai.
Sebagaimana seorang ibu yang mencintai bayinya yang baru berusia tiga bulan, ia memberikan baju untuk bayinya, membelikan perhiasan dan lain-lainnya, padahal si bayi sendiri tidak pernah meminta. Bahkan tidak pernah mengerti apa arti perhiasan dan baju tersebut. Semua pemberian si ibu, lahir dari dorongan cinta kasih dan membuat ia bahagia, karena merasa telah berbuat sebaik-baiknya kepada si buah hati yang dikasihi.
Demikianlah sesajen dan kesenian yang disuguhkan pada waktu upacara agama Hindu. Secara spiritual semua persembahan itu memberikan kebahagiaan kepada orang yang mempersembahkan, karena dengan semua alat ini mereka bisa mencurahkan rasa bhakti atau cinta kasihnya. Tuhan tidak minta untuk dipuja, tetapi manusialah yang mencurahkan rasa bhaktinya. Bagi orang awam persembahan sesajen itu dikira akan membikin Tuhan menjadi senang, seperti halnya si ibu mengira bayinya akan senang setelah diberi baju dan perhiasan. Cetusan rasa cinta yang suci terwujud dalam keinginan untuk memberi dan berkorban. Tetapi jika cinta telah dihinggapi oleh keserakahan maka lahirlah keinginan untuk memiliki dan menuntut dengan penuh nafsu.
Tempat dan Arah Memuja Tuhan
Umat Hindu meyakini bahwa alam semesta dengan bintang dan planet-planet di ruang angkasa yang tidak terlihat oleh mata bahkan oleh teropong bintang sekali pun, sebenarnya ada dalam diri Hyang Widhi. Bumi kita tidak lebih dan sebuah sel Hyang Widhi.
Kalau kita bandingkan diri kita setitik air di dalam samudra, titik air ini tidak boleh mengatakan dirinya samudra, karena di dalam samudra titik air ini merupakan bagian yang amat kecil. Dalam titik air ini, sifat asin samudra ada. Demikian pula manusia walaupun ada di dalam diri Tuhan tidak bisa mengatakan dirinya Tuhan, meskipun sifat-sifat ketuhanan itu ada dalam diri manusia.
Dalam susunan yang demikian itu maka sulit untuk mengatakan di mana sebenamya Tuhan itu bertahta. Tuhan ada di mana-mana. Tidak ada tempat yang tidak ditempati Tuhan. Jika Tuhan ada di mana-mana, mengapa manusia memuja Tuhan di pura atau di tempat suci lainnya? Apa perlunya membuat pura? Bukankah dari tempat tidur atau sambil jongkok, kita bisa bersembahyang?
Memang, tetapi cara yang paling mudah dan indah untuk mendekati Tuhan adalah melalui rasa. Untuk membangkitkan rasa agama, rasa cinta kepada Tuhan, maka perlu kondisi yang bisa menggiring rasa ketuhanan muncul dan bergelora dengan mantap. Hal inilah yang menyebabkan umat Hindu membuat pura di tempat-tempat yang indah, tempat-tempat bersejarah atau tempat-tempat yang bisa membangkitkan kekaguman akan kebesaranTuhan.
Sad Kahyangan di Bali yang merupakan pura inti seperti Pura Besakih, Batur, Lempuyang, Uluwatu, Batukaru, Puncak Mangu dan ribuan pura lainnya, semuanya dibangun di tempat yang penuh ketenangan, keindahan dan keagungan. Di tempat-tempat ini, orang akan merasa kecil di tengah-tengah kebesaran dan keindahan alam yang diciptakan Hyang Widhi.
Dalam kondisi demikian, maka orang akan mudah mengagumi dan menghormati Tuhan. Di tempat yang demikian rasa ego akan lenyap diganti oleh rasa kagum dan hormat, maka konsentrasi pikiran kepada Tuhan akan lebih mantap.
Karena kita ingin mewujudkan kondisi yang suci itu, maka bahan dan bentuk pura pun tidak dibuat menyerupai rumah tempat tinggal atau gedung perkantoran. Bagi umat Hindu, pura adalah Kahyangannya Tuhan. Oleh karena itu, pura dibuat dari bahan-bahan tertentu, sehingga bila memasuki pura, kita merasa masuk ke Kahyangan dan Tuhan pun rasanya ada di sana.
Menghadap ke manakah kita bersembahyang? Gunung dan tempat matahari terbit merupakan kiblat bagi umat Hindu menundukkan kepala kepada Hyang Widhi. Kenapa ke arah gunung? Karena gunung dikenal dengan sebutan ôAcala Lingga?, yang berarti tempat Tuhan yang tidak bergerak. Umat Hindu meyakini, gunung adalah linggih (tempat) Hyang Widhi. Mengapa Tuhan dipuja di puncak gunung? Bukankah Tuhan ada di mana-mana?
Benar, Tuhan ada di mana-mana. Tetapi umat meyakini bahwa untuk memuliakan Tuhan, maka Beliau ôditempatkan? di tempat yang lebih tinggi. Makin tinggi suatu tempat, makin mulialah yang dipuja. Itu pula sebabnya gunung Mahameru yang tertinggi di India dianggap sebagai linggih Siwa. Di Pulau Jawa, Gunung Semerulah yang dianggap paling tinggi oleh umat Hindu sejak zaman dulu. Sedang di Pulau Bali Gunung To Langkir atau Gunung Agung merupakan linggih Hyang Widhi (Siwa). Di pura, bangunan meru¦bangunan yang tertinggi¦dilambangkan sebagai gunung. Kata meru mengingatkan kita kepada Gunung Mahameru dan Semeru.
Selain dianggap Acala Lingga, gunung mempunyai arti penting bagi umat Hindu karena memberikan kemakmuran. Dengan hutan dan tanahnya yang subur, gunung berfungsi menyimpan air hujan lalu sedikit demi sedikit dialirkan melalui sungai, sehingga hampir sepanjang tahun manusia menikmati aliran sungai yang tidak henti-hentinya mengalir baik untuk diminum maupun untuk mengairi sawah. Karena itu gunung bisa disebut waduk ciptaan Tuhan. Maka wajar dan sepatutnyalah kalau umat Hindu menghadap ke gunung dalam bersembahyang, karena dari sanalah Tuhan menyampaikan anugrah. Melalui gunung pula umat Hindu menyampaikan rasa terimakasih.
Perwujudan rasa hormat itu, tampak pula pada etika yang hidup dalam masyarakat Hindu. Arah kaja (utara) dianggap sebagai hulu. Kata kaja berasal dan kata ke adya yang berarti ke gunung (adya artinya gunung). Kata utara berasal dan urat kata udyang artinya ômenonjol? atau ômenjulang?. Yang dimaksud dengan ômenjulang? dalam hal ini adalah tanah yang menjulang tinggi atau gunung. Sedangkan kelod (selatan) berasal dan kata ôke laut? dan dianggap sebagai hilir.
Dalam masyarakat, lebih-lebih di pegunungan, posisi tidur juga diatur ônorma? atau etika berdasarkan letak gunung. Pada saat tidur, kepala berada di arah gunung, karena gunung dianggap sebagai hulu atau kepala. Di beberapa daerah, dalam menguburkan mayat, letak kepala si mayat harus ada di arah gunung.
Sebagaimana disebutkan tadi, arah matahari terbit juga dianggap suci. Letak bangunan pura umat Hindu sebagian besar terletak di arah timur menghadap ke barat, sehingga orang yang sembahyang akan menghadap ke timur. Mengapa arah matahari terbit itu disucikan? Karena matahari itu adalah simbul kekuasaan Hyang Widhi. Menurut para ahli ilmu bumi, planet bumi kita berasal dari pecahan matahari. Dalam agama Hindu disebutkan, jazad manusia terdiri dan unsur Panca Maha Bhuta, yaitu pretiwi (tanah), apah (zat cair), teja (panas), bayu (angin), dan akasa (angkasa atau zat ether). Kekuatan yang ditimbulkan matahari menyebabkan bumi berputar, angin dan air beredar. Dengan sinar matahari semua makhluk bisa hidup. Matahari adalah sumber energi. Tanpa matahari kehidupan tidak mungkin ada.
Dalam Nitisastra disebutkan,jika saat tidur kepala berada pada arah matahari terbit (timur) maka akan menyebabkan panjang umur. Jika saat tidur kepala berada pada arah gunung, maka akan menyebabkan murah rezeki. Dalam kenyataannya, sebagaimana telah banyak disinggung, matahari merupakan sumber kehidupan dan gunung memberikan kemakmuran.
Mengapa Tuhan disebut melinggih (bertempat) di gunung, matahari dan pura? Bukankah Tuhan ada di mana-mana dan menguasai alam semesta?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kiranya kita dapat mengambil contoh: seorang tuan tanah yang memiliki tanah berhektar-hektar. Jika tuan tanah ingin melihat tanahnya, dia akan memilih tempat yang lebih tinggi dari pada daerah sekitarnya. Dengan begitu dia akan dengan mudah melihat atau mengawasi miliknya. Demikianlah Tuhan sebagai penguasa alam, ômenganggap? matahari dan gunung milik-Nya yang tertinggi dan terbaik untuk mengawasi seluruh alam dan segala isinya. Tapi ini hanya sekadar contoh untuk memudahkan pemahaman.
Demikianlah mengapa umat Hindu mencakupkan tangan memuja Tuhan ke arah matahari terbit, atau ke arah gunung. Karena dari tempat dan arah itu Hyang Widhi dipercaya mengawasi dan menyampaikan kasih berupa anugrah yang melimpah kepada semua makhluk. Maka sudah sepatutnya, dari mana datangnya kasih, melalui itu pula umat Hindu menundukkan kepala menyatakan terima kasih.
Comment by Harry C. — December 15, 2009 @ 2:06 am
NABI ISA (JESUS KRISTUS),
NABI MUSA, DAN NABI IBRAHIM DALAM
JAJARAN SANATANA-DHARMA
Menurut para ahli Bible (Injil), maka terdapat 52 versi Injil yang hadir di Timur-Tengah dan Eropah, dan tidak semuanya memuat sabda-sabda suci Sri Yesus itu sendiri. Demikian juga dengan berbagai terjemahan-terjemahannya, yang bahkan diterjemahkan ke bahasa Papua dan Bali, berbagai dialek India dan Indonesia, yang makin lama makin kabur makna-makna aslinya karena tidak diterjemahkan dengan profesional. Huruf-huruf yang teramat kecil tanpa teks asli sabda-sabda Yesus membuat para ahli bingung akan keabsahan naskah-naskah Bible dalam berbagai versi ini, apalagi agama Kristen ini sudah pecah menjadi 3200 sekte yang setiap sektenya mengklaim ajaran Kristennya yang benar. Masih untung tersisa sedikit di-sana-sini berbagai ajaran Sri Yesus yang bersifat universal, namun amat tercerai-berai karena ada sedemikian banyak versi. Dari kesemuanya yang masih dianggap asli, maka para ahli menyimpulkan adanya kesamaan ajaran Hindu akan “agama yang lurus dan lempang” yaitu agama kebenaran yang selaras ke bawah dengan agama Islam dalam intinya namun berbeda ritual-ritual dan beberapa prinsip dasarnya. Kemudian ke atas selaras sekali dengan ajaran Nabi Musa, Ibrahim, Nuh, Adam dan lebih ke atas lagi amat mirip dengan ajaran Sang Buddha dan berbagai ajaran yang hadir di Sanatana Dharma itu sendiri. Mathius (3:10) menyabdakan hukum karma secara tersirat :
“Dan saat tampak itupun diletakkan di akar pohon
tersebut, oleh sebab itu setiap pepohonan yang
tidak menghasilkan buah (pahala) yang baik akan
ditebang jatuh dan dibuang ke dalam api.”
Penulis tidak akan terlalu banyak menerangkan tentang Bible di bab ini, namun menekankan kepada sedikit catatan-catatan yang hadir di perpustakaan kaum Hindu dan Buddhis, khususnya mengenai hadirnya Sri Yesus itu sendiri baik di masa-masa muda, maupun di masa tuanya di India, Sindh (Pakistan saat ini), Afganistan dan Tibet serta Ladakh (negara bagian India), dsb. Bagi umat Hindu sendiri keberadaan Sri Yesus sudah diketahui semenjak 2000 tahun yang lalu, sampai kini masih tersisa puluhan yogi yang tinggal di pegunungan Himalaya dan Kashmir yang mengaku sebagai turunan maupun pengikut Kristus, namun perilaku mereka tidak berbeda jauh dari rekan-rekan yogi Hindu dan senantiasa hidup mengembara dan bercampur dengan kaum suci Hindu maupum Muslim. Kaum Dharma di India mengakui Sri Yesus Kristus sebagai seorang Yogi yang teramat agung dengan segala kekuatan-kekuatan super-naturalnya ibarat seorang Avatara, bukan seperti Yesus yang disalib. Hal ini didasarkan akan perilaku dan kesaktian Beliau yang amat mirip dengan para kaum suci Hindu-Buddhis dan menjurus ke perilaku Avatara yang sesungguhnya, namun belum dapat dijelaskan Avatara siapa, walaupun nama Isa sinonim dengan Shiwa. Ajaran Beliau “Sermon on the mount (khotbah di atas bukit)” jelas mirip dengan ajaran 8 roda dharmanya Sang Buddha.
Namun Sri Yesus mengalami pembaptisan oleh Yahya Sang Pembaptis, mirip sekali dengan pembaptisan umat Hindu yaitu dimalukat di sebuah sungai yang dianggap sakral. Ada ahli yang mengatakan metode pembaptisan ini mirip ritual kaum Essenes (Yogi-Shivais) yang hadir sebelum Yesus lahir di Betlehem, dan Yahya adalah kaum ini juga, perhatikan baju yang dipakainya hanyalah kulit harimau yang menutupi bagian aurat dan perutnya saja, dengan jenggot yang lebat dan tanpa harta duniawi sedikitpun. Yahya hidup sebagai Brahmacharya (selibat) seperti umumnya kaum Hindu yang suci. Demikian juga halnya dengan Yesus dan murid-muridnya yang hidup serba sederhana dan hidup dari pemberian amal umat yang meyakini ajaran dan muzizat-muzizatnya. Sebaliknya kaum paus di Vatican hidupnya serba wah-wah, memakai jubah kebesaran, tahta, singgasana, dsb. yang jauh dari amanat dan ajaran Yesus untuk meninggalkan hal-hal yang berbau duniawi ini. Tidak mengherankan kalau di era ini umat Eropah, Amerika dan Australia serta Kanada telah meninggalkan gereja karena muak dengan perilaku yang amat bertentangan dengan ajaran-agung-Nya. Al-Quran-Al-Karim mengakui keberadaan Sri Yesus yang disebutnya Nabi Isa (Issa). Di dalam ajaran yang mulia ini Yesus disebut-sebut sebagai penganut ajaran yang lurus dan lempang dalam kesatuan jajaran Musa, Ibrahim, Nuh dan Nabi Adam. Beliau hadir sekitar 600 tahun sebelum Nabi Muhammad S.A.W.
Para peneliti abad ini dan abad-abad sebelumnya banyak yang berpendapat bahwa Nabi Ibrahim (Abraham = Brahmana), leluhur bani Israel sebenarnya adalah seorang individu historis dan spiritual agung yang dilahirkan sekitar 700 tahun sebelum Yesus. Kemudian pada era itu Tuhan yang diyakininya, yang dalam bahasa Ibrani (Israel) memerintahkannya : “Pergilah dari negerimu dan dari sanak-saudaramu dan dari rumah bapamu ke negeri yang akan kutunjukkan kepadamu.” (Kejadian 12:1).
Ada sebuah teori yang diajukan oleh seorang ahli barat bernama Blavatsky; ia mengatakan asal-usul Nabi Ibrahim adalah daerah India kuno karena fonetik kuna bahasa Sansekerta hadir terserap di dalam bahasa Ibrani. Namun di samping itu bukankah huruf-huruf Ibrani adalah kemiripan dari huruf-huruf Pali ?. Dalam bukunya yang berjudul “ The Secret Doctrine” (Doktrin Rahasia), H.P. Blatvasky menunjukkan bahwasanya asal-usul wangsa Israel kuno adalah kaum Chandala (kafir berat, versi Hindu), yaitu sebuah bentuk status masyarakat yang paling rendah, tanpa etika dan moral, bahkan ada yang pemakan daging manusia dan gemar melakukan hubungan incest, sodomi, dsb. Teori ini sebenarnya merupakan pengetahuan umum di India. Pada era-era tersebut Nusantara dibangun secara dashyat oleh para raja-raja Hindu, namun dalam perjalanan mereka melalui jalan laut, banyak keluarga Chandala dibuang ke jazirah Arab, sewaktu ekpedisi Hindu ini melalui teluk Arabia. Dan hal ini berlaku dari era Rama sampai ke era Pandawa dan seterusnya antara 4000 tahun sampai 3000 tahun yang lalu. Sewaktu kaum Chandala dibuang ke daerah ini, diberikan kepada mereka bibit-bibit tumbuh-tumbuhan, Veda-Veda, Vedanta, Upanishad, pengetahuan membangun rumah, hewan peliharaan, dsb. Pada masa itu kaum Hindu tidak memakan babi karena dianggap kotor (tamasik). Menurut catatan yang ada di India, maka hewan seperti itik, kerbau tidak dapat bertahan hidup karena faktor geologi, namun kambing dan sapi serta anjing bertahan dengan baik. Pada era itu para pria Chandala disunat oleh kaum yang membuangnya dengan alasan agar tidak bercampur dengan kasta-kasta yang lain. Hal tersebut malahan menjadi hikmah tersembunyi untuk kebersihan genital mereka karena sulitnya air di kawasan tersebut. Kedua kebiasaan ini yaitu, pantang memakan babi dan sunat menjadi tradisi turun-temurun di Timur-Tengah sampai saat ini. Sunat dalam pelaksanaannya adalah wajib bagi kaum Israel, tidak dianjurkan dalam agama Kristen dan sunah dalam agama Islam.
Ternyata para Chandala ini sebagian terdiri dari kaum kasta brahmana dan berbagai golongan kasta-kasta yang lain yang terhukum karena berbagai kasus kriminal dan perbudakan di era itu. Sementara dari mereka mengambil perlindungan di daerah Chaldea Aria (kini Iran), di Sindh (kini Pakistan) dan seterusnya melanglang melalui Khyber-pass ke jazirah Israel pada awal 8000 tahun sebelum Masehi, itulah eksodus awal mereka yang sesuai dengan zaman Sri Rama.
Menurut kitab Perjanjian Lama, maka Nabi Ibrahim berasal dari sebuah negara di Timur, dari ras bangsa Terah, dan pada saat itu Ibrahim menyembah Allah yang lain (perhatikan kata Allah yang sudah ada pada masa itu),(Yosua 24:2-3). Berdasarkan kitab Kejadian II-32, Abraham (Ibrahim) berasal dari daerah yang disebut Haran (berarti menjangan, daerah yang banyak menjangannya), yang adalah pemukiman kecil di India Utara, yang sampai saat ini tetap dikenal dengan nama kota Haran, tidak jauh dari kota Srinagar di Kashmir, India. Kata Haran ini lalu diabadikan sebagai nama sebuah daerah di sebelah barat laut Mesopotamia oleh Nabi Ibrahim. Kata “Ibrani” sendiri berarti “orang-orang yang tidak mempunyai kediaman tetap dan tidak memiliki hak-hak yang permanen” yang berarti bangsa Israel.
Sedangkan kata Manu, manus (manusia), di Mesir berubah menjadi Manes (pencetus hukum = Nuh), sedangkan kata Minos berarti bangsa Kreta yang belajar hukum di Mesir. Musa, pencetus 10 firman Allah di zamannya itu, mendeklarasikan bentuk-bentuk hukum baru yang harus dipatuhi masyarakat Israel. Manu sendiri dalam bahasa Sansekerta juga berarti “manusia sempurna pencetus hukum”. Kitab-sucinya disebut Manawa Dharma Shastra, yang berisikan hukum-hukum secara amat tegas bahkan terkesan sangat mengerikan mirip hukum kisas, dsb. Hukum-hukum ini amat berdampak ke agama-agama di Timur-Tengah (baca Manawa Dharma Shastra). Kesemua kata-kata tersebut di atas memiliki sumber akar-kata Sansekerta yang sama yaitu manu (s), yang juga berasal dari kata mano + assa. Mano (mana = pikiran), (assa = memiliki) yang berarti manusia = seseorang yang memiliki daya pikiran. Musa sendiri di dalam Mesir berarti “anak yang dilahirkan kembali”, namun dalam bahasa Ibrani berarti “menyelamatkan dari air”. Semua fakta ini sesuai dengan (Keluaran 2:10). Konon para ahli Barat mengatakan Nabi Musa meninggal di daerah Kashmir, India, dan sampai saat ini makam Beliau masih hadir dan oleh penduduk setempat disebut “Muquam-I-Musa”. Di daerah ini (area Srinagar), tepatnya di Bijbihara (bihara = kuil, wihara, tempat-suci) terdapat “pemandian Musa”, di lokasi ini terdapat sebuah batu keramat yang disebut Ka-ka-bal atau Sang-I-Musa (batu Musa). Perhatikan kata Ka-Ka-Bal yang mirip dengan kata Kabalah dan Kabah. Menurut legenda setempat batu yang beratnya sekitar 70 kg ini dapat mengapung jika sebelas orang menyentuhnya setiap orangnya satu jari saja dan melafalkan mantra “ka-ka-ka-ka” pada waktu yang bersamaan. Angka sebelas dan satu batu itu sendiri menggambarkan jumlah suku-suku bangsa Israel. Ka-bal (Ka-bah) dalam bahasa Sansekerta berarti batu (Ka) dan bal (bertuah, penuh kesaktian) = “batu yang sakti.”
Juga di sebelah utara Srinagar terdapat Kohna-I-Musa (batu landasan Musa) dipercayai sebagai tempat Nabi Musa beristirahat. Masih banyak legenda tentang Musa di lokasi-lokasi ini.
Menyusul berpulangnya Nabi Musa, maka kedua belas suku bangsa Israel secara bertahap meningkatkan pengaruhnya ke seluruh kawasan Kanaan di bawah pimpinan Yosua pada abad XII sebelum Masehi. Namun baru pada pertengahan abad X sebelum Masehi negara Israel menjadi suatu negara kesatuan dengan ibukota Yerusalem (Yerusalem, Yerusalom = Kota pemberian Tuhan ?). di bawah pemerintahan Nabi Daud (David), sansekertanya mungkin Murgen, atau Murgeshen (Subramaniyam) yang berputerakan Sulaiman (Solomon) = manusia yang diberkati dalam bahasa Sansekerta = Vikramaditya), maka sebuah kuil dibangun. Kuil ini amat terkenal. Menurut Dr. Mateer dalam karyanya “The Land of Charity” (Tanah Penuh Berkah), maka Sulaiman berasal dari India. Konon bukti-buktinya ada di Srinagar dan Ujain. Di Srinagar terdapat sebuah kuil yang disebut “Takht-I-Sulaeman” (Takta Sulaeman) yang disebut juga Baghi Sulaeman = Taman Sulaeman. Kuil ini dipugar kembali pada tahun 78 AD oleh Raja Gopadatta dari Kashmir (turunan Sulaeman).
Berdasarkan sissilah Al-Kitab, maka Nabi Abraham adalah keturunan langsung dari Nabi Nuh (Noah) yang merupakan pilihan khusus Tuhan di antara umat manusia era itu, beliau diselamatkan dari banjir dashyat yang terjadi sekitar 4000 tahun sebelum masehi. Ada sekitar 250 legenda mengenai banjir dashyat ini di seluruh dunia termasuk legenda-legenda di Tana-Toraja, Sulawesi selatan, dan Tanah Batak kuno. Kesemuanya ini mengacu ke Shastra-Widhi Hindu yang disebut Vishnu-Purana (legenda kuno Sang Hyang Vishnu, Tuhan Maha Pengayom). Legenda-legenda ini hadir di India, Peruvia, dan juga di versi polynesia.
Kashyapa, yang dalam legenda Hindu berarti kura-kura (penjelmaan Vishnu pada era pengadukan Mandaragiri). Konon pada era tersebut umat Hindu percaya bahwasanya bumi ini bentuknya rata mirip punggung kura-kura yang agak melengkung, dan senantiasa mengambang di atas air. Kashyapa juga berarti Tuhan dan anak-anaknya di bumi ini. Dalam bahasanya kaum Israel hadir perihal yang mirip sekali. Bahasa Ibraninya, Israel berarti anak-anak Tuhan (Yesus juga dianggap anak Tuhan). Dan Tanah Tuhan berarti “Kashyab-Mar” yang identik dengan kata Kashmir saat ini, dahulunya Kashyab-Mar = Tanah asal bani Israel.
NABI DAUD (DAVID)
Di kitab Perjanjian Lama, kisah Nabi Daud amat mirip dengan kisah pergulatan (peperangan) Dewa Murugen yang melawan seorang Asura. Bedanya Murugen melawan raksasa yang amat besar di kawasan Indraloka, padahal tubuhnya amat kecil, dan akhirnya memenangkan pertempuran dan diangkat menjadi panglima perangnya para dewa dengan nama Skanda, dan hidupnya senantiasa sebagai seorang brahmacharya, berumur di bawah enam tahun. Beliau dipuja di setiap kuil Shiwa dan Durga disamping dewa-dewa Navagraha dan Sri Ganeshya. Di Israel Nabi Daud juga bertubuh pendek sekali, beliau mengalahkan seorang raksasa yang mengganggu kaumnya di muka bumi ini. Setelah kemenangannya Beliau beristrikan 99 wanita dengan alasan pada masa itu belum ada peraturan tentang perkawinan. Sewaktu ingin mempersunting istri yang keseratus, Nabi Daud ditegur Malaikat dan ia pun mengurungkan niatnya tersebut. Kedua tokoh ini mempunyai simbol yang amat mirip. Perhatikan di bawah ini :
Simbol Murgen (cakram 6 sudut)
plus mantram
Simbol Nabi Daud (sekarang bendera Israel)
(mantram sudah dibuang)
Simbol Nabi Daud entah apa sebabnya menghilangkan mantra-mantranya, akibatnya cakram tersebut menjadi wahana perang adharma sampai masa kini. Kaum Hindu percaya selama mantram tidak direhabilitasi maka perang di Timur-Tengah antara anak-cucu Ibrahim tidak akan pernah berhenti, karena umat-umat ini sudah terkutuk dari masa ke masa akibat tidak beriman kepada Yang Maha Esa secara total. Sebaliknya simbol Murgen adalah perang dharma, yang secara simbolis harus dimulai dari diri sendiri seperti yang terdapat dalam sabda-sabda Nabi Muhammad S.A.W. Meditasi ke arah Dewa Murgen secara tulus di bawah seorang guru spiritual yang handal akan menghasilkan kebangkitan Kundalini murni. Dan hal itu teramat sulit baik secara filosofis maupun ritual. Jadi tidak ada itu pembangkitan Kundalini yang dijual para instruktur lokal baik di India maupun Indonesia atau manapun juga, karena dapat menimbulkan ketidak-stabilan buat jiwa dan raga. Ilmu meditasi seperti yang pernah disebut-sebut di bab sebelumnya bersifat amat rahasia (rahasya) dan hanya diturunkan secara hati-hati kepada yang terpilih saja. Dewa Murgen di Bali disebut Kumara.
Perjanjian Lama tidak menyebut dari mana datang kesaktian Nabi Daud, tetapi Shastra –Widhi Hindu mengisyaratkan bahwasanya Dewa Murgen pernah berkelana di Timur-Tengah dan menjadi guru spiritual Nabi Daud (baca Enclopaedia tentang Sri Ganeshya, juga legenda Ganeshya dan Murgeshen). Sewaktu tenaga inti Kundalini bangkit di dalam seseorang, maka tubuh orang tersebut tidak dapat luka sedikitpun. Bangkitlah kesaktian aneka rupa dalam tubuh manusia itu, juga bersamaan bangkit juga nafsu sex yang amat tinggi, karena kedua faktor tersebut hadir di Muladhara Cakra tubuh setiap manusia. Kesaktian adalah sisi lain dari seks itu sendiri. Seks adalah daya cipta agung setiap manusia. Bayangkan ada satu Atman dalam setiap sel spermatozoa, dan setiap pria punya jutaan sel setiap harinya. Melalui praktek brahmachari dan meditasi spiritual gaib, maka dapat dihasilkan teja dan oja melalui pengekangan seperti yang dialami para dewa dan resi-resi di zaman lampau.
Ternyata putra Daud, yaitu Nabi Sulaeman juga pemuja Shiwa Mahadewa dan juga mendapatkan berkah tersendiri dari dewa Murgen. Lambang Murgen adalah Merak dan tangkai pena, yang secara simbolis berarti keindahan dan kebijaksanaan yang terselubung atau didampingi oleh ilmu-pengetahuan. Dewa Murgen dapat berbahasa dalam semua bahasa fauna dan flora. Demikian juga berkah yang didapatkan Raja/Nabi Sulaeman (Solomon) ini. Sekali lagi dalam bahasa setempat Solomon berarti “berkah dari Tuhan.” Berkah tersebut adalah mampu berbahasa semua jenis fauna dan flora, jin dan malaikat. Raja ini disebut raja Vikramaditya di India yang jajahannya sampai ke jazirah Arabia, dan ikut membangun kembali Kabah, dan membawa kembali agama yang benar (agama Veda-Veda) ke wangsa Arabia pada eranya.
Konon setelah berpulangnya Nabi Daud, ada 10 suku Israel yang dikabarkan menghilang. Namun para ahli barat, seperti pendeta Joseph Wolf, (sarjana hukum dan teologi), sersan Riley, seorang sarjana Perancis, G.T Vigne, Dr. James Bryce, Keith Johnson, A. Burnes, Dr. George Moore, dsb. masing-masing berargumentasi bahwasanya kesepuluh suku Israel yang hilang ini telah meninggalkan jejak-jejak mereka di Afghan, China, Iraq, dan Kashmir. Namun mayoritas peneliti condong ke Afghan dan Kashmir (keduanya adalah wilayah India juga pada masa lalu). Banyaknya kata-kata yang mirip dalam bahasa Kashmir dan Ibrani (Hewbrew) menambah bukti adanya hubungan antar dua wangsa ini. Di bawah ini, sebagian kecil kata-kata ini kami hadirkan seperti berikut :
NO. NAMA DALAM BAHASA kASHMIRI NAMA
ALKITABIAH REFERENSI
AL-KITAB
1 Amal Amal Tawarikh 7:35
2 Asheria Asher Kejadian 30:13
3 Attai Attai 1 Tawarikh 12:11
4 Bal Baal 1 Tawarikh 5:5
5 Bala Balah Yosua 19:3
6 Bera Beerah 1 Tawarikh 5:6
7 Gabba Gaba Yosua 18:24
8 Gaddi Gaddi Bilangan 13:11
9 Gani Guni 1 Tawarikh 7:13
10 Gomer Gomer Kejadian 10:2
Dan masih amat banyak lagi. Kemudian bandingkanlah nama-nama berbagai lokasi di bawah ini :
NO. TEMPAT DI KASHMIR NAMA PROPINSI DI ALKITAB REFERENSI
AL-KITAB
1 Agum Kulgam Agur Amsal 30:1
2 Ajas Srinagar Ajah Kejadian 36:24
3 Amom Anantnag Amon 1 Raja-raja 22:36
4 Amariah Srinagar Amariah 1 Tawarikh 23:19
5 Aror Awantipur Baalpeor Bilangan 25:3
6 Behatpoor Handwara Bethpoor Bilangan 34:6
7 Birsu Awantipur Birsha Kejadian 14:2
8 Harwan Srinagar Haran 2 Raja-raja 19:12
Dan seterusnya dan seterusnya. Perhatikan sekali lagi kata Haran (daerah asal menjangan, bukankah Sir Stamford Raffles, membawa menjangan-menjangan langka ini dari Kashmir dan mengembang-biakkan di Bogor ?, konon sekarang malahan dijadikan sate menjangan di kawasan Cisarua, setelah dipromosikan oleh Gus Dur). Padahal menjangan-menjangan ini berasal dari tempat kelahiran Nabi Ibrahim.
Penduduk Kashmir berbeda dari ras-ras lainnya di India. Mereka umumnya bermata biru dan coklat. Karakter dan penampilan mereka, budaya dan cara hidup dan bermasyarakat masih terjaga dari dahulu sampai sekarang, dan semua kebiasaan ini menurut para peneliti sangat identik dengan kaum Israel di Timur-Tengah. Misalnya kesamaan penutup kepala pria (Jarmulka) sampai cara baris-berbaris yang masih sama. Di Israel dan di Kashmir seorang wanita yang baru melahirkan dilarang mandi selama 40 hari, suatu budaya amat kuno di zaman Vedik. Selain bentuk-bentuk makam yang sama, janganlah kaget kalau banyak pemuda Israel yang sekarang ke Kashmir untuk menyelusuri jejak nenek-moyang mereka, apalagi bahasa mereka amat mirip dengan bahasa Kashmiri.
BUDDHA DAN KRISTUS
Ternyata banyak juga kesamaan, kemiripan yang hadir di antara agama Buddha (Buddha Dharma) dan para pengikut Kristus, apalagi dalam ajaran-ajarannya. Buddha pernah mengatakan jadilah ibarat lilin, dari satu lilin menyinari ribuan lilin-lilin yang lain. Di Bible ternyata hadir sabda-sabda serupa. Buddha selama mengembara menghidupkan yang mati, menyembuhkan ribuan orang yang sakit dan yang trance, dsb. Kristus bertindak serupa. Buddha amat sederhana, Kristus pun demikian. Ajaran Buddha amat mirip dengan ajaran kasihnya Sri Kristus. Di antara pengikut mereka hadir juga kebiasaan serupa seperti :
? Mencari makan dengan menerimanya dalam bentuk sedekah dari umat awam.
? Memakai pakaian sisa-sisa buangan orang lain, tanpa dijahit (mirip dengan Ihram).
? Menggunakan tasbih, sebuah tradisi dari Hindu yang disebut Ganitri.
? Tinggal dan belajar di bawah pohon pada waktu-waktu tertentu.
? Menyembuhkan luka dengan terapi air seni sendiri atau air seni sapi (tradisi yoga Hindu).
? Mengembara sambil mengajarkan agama/warta yang baik.
Pada era Buddhisme, agama dan ajaran ini mengalir masuk ke Timur-Tengah melalui Afghan. Banyak sekali terdapat Vihara-Vihara Buddhis sampai ke Iran dan Iraq, kata peneliti Pakistan yang berdomisili di Kanada, yang bernama Mohammed Hideyotollah (sekitar 110 ribu wihara Buddhis). Tidak mengherankan kalau hal ini berdampak juga ke ajaran Kristen dan Islam. Sampai saat ini sebenarnya arca-arca Buddha dan Hindu serta peninggalan arkeologi masih banyak terdapat di jazirah-jazirah ini tetapi lebih suka ditimbun kembali atau dimusnahkan karena khawatir masyarakat akan kembali ke ajaran-ajaran lama seperti sejarah masa lalu yang membuktikan demikian.
Sri Yesus sendiri, seperti halnya Sang Buddha amat menentang sistem kasta, dan seperti juga Sang Buddha, Beliau ini amat populer di kalangan rakyat jelata, baik di India maupun di Israel, musuhnya selalu kaum kasta tertinggi yaitu brahmana di India dan para rabbi di Israel.
Sri Yesus menurut para peneliti Hindu-Buddhis sangat mewakili karakter seorang Awatara atau Boddhistawa, yaitu personifikasi Ilahi. Jauh sebelum Kristus kembali ke Israel, Ia telah diterima dengan baik oleh masyarakat awam di India, Sindh (Pakistan), Kashmir, Tibet, Ladakh, Afghan, dsb sebagai seorang utusan Ilahi yang amat suci. Walaupun di barat ada usaha-usaha memodifikasi Injil seperti saat ini, tetap saja hadir lebih dari seratus ayat-ayat yang jelas-jelas berakarkan ke agama Buddha.
BUDDHA-YESUS SEBUAH ANALISA
Sri Buddha Gautama diyakini oleh umatnya sebagai seorang Boddhisatwa sekaligus Awatara dari Sri Wishnu, demikian juga halnya dengan Sri Rama dan Krishna yang juga awatara Hyang Wishnu pada era-nya masing-masing. Kelahiran berbagai awatara ini amatlah unik, karena senantiasa diikuti oleh berbagai fenomena-fenomena sakral yang penuh dengan mukzizat dan keajaiban yang menakjubkan. Kelahiran Sri Kristus mirip dengan kelahiran Sri Krishna (baca Srimad Bhagawatam dan Injil). Krishna dilahirkan di penjara karena Raja Kansa membantai setiap anak-anak laki yang lahir pada malam itu. Krishna sewaktu dilahirkan disaksikan oleh menjangan, merak dan sapi betina. Kristus dilahirkan di sebuah kandang sapi yang terpencil, karena malam itu Raja Herodes membantai setiap bayi laki-laki yang lahir. Kristus disaksikan oleh domba, kambing, sapi dan tiga orang Majus dari timur yang datang dengan onta-onta berpunuk satu (onta jenis ini hanya ada di Rajasthan(India) pada masa itu). Buddha terlahir sebagai seorang pangeran di Kapilavastu. Saat kelahirannya Ia langsung berjalan di atas daun teratai di kolam kerajaan. Semua kelahiran ini disertai cahaya Ilahi dan nyanyian-nyanyian sorgawi.
Cara mengajar kesemua tokoh ini mirip dengan sistem Upanishad, yaitu di bawah pohon. Buddha dan Kristus sangat mirip dalam banyak hal. Kristus dan Krishna sama-sama pernah menjadi gembala. Kristus adalah gembala domba, Krishna adalah gembala sapi dan kambing (Govinda).
Kata “Kris” pada keduanya berarti cahaya Ilahi. Kesemua awatara ini melakukan hal-hal yang menakjubkan seperti berjalan di atas air, menyembuhkan orang-orang yang mati, menggandakan makanan, dsb untuk umat yang terpesona dengan berbagai mukzizat daripada filosofi kehidupan yang tinggi. Contoh Sai Baba di abad ini, umat berbagai agama ke Beliau untuk mendapat kesembuhan, rezeki dsb. tidak untuk mendapatkan bimbingan spiritual yang agung.
Krishna, Buddha dan Yesus lahir sebagai reformis pada era masing-masing karena manusia setempat terlanda ego dan kebatilan yang tiada taranya. Para pendeta, kaum brahmana korup dan sarat dengan kekotoran mereka, dan menyesatkan umat melalui berbagai ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan Dharma itu sendiri. Upacara pembaptisan Yesus oleh Yahya berasal dari India dan menyimpang dari tradisi Yahudi. Pada masa itu kaum suci Nasrani (asal kata Nazarenes) berpakaian ala kadarnya, dengan rambut yang dibiarkan terurai. Kata Nazarenes (Nazarites) berasal dari kata Sansekerta Nazar = penglihatan bagian dalam (Nazaran). Bahasa India sampai kini masih menyebut nazar sebagai penglihatan. Yesus dianggap mampu melihat ke dalam dirinya sendiri (Nasrani).
Sebenarnya dari kata Nasrani dapat disimpulkan bahwasanya ajaran Sri Yesus seharusnya bersifat spiritual tinggi, namun kenyataannya seperti yang kita lihat selama ini di sekitar kita. Tetapi konon di pulau Agaphos di Yunani, terdapat sebuah biara dengan ratusan biarawan yang selibat dan terlibat dengan metode-metode spiritual yang amat dirahasiakan. Disamping itu, berbagai ritual-ritual umat Katholik terkesan mirip dengan Hinduisme, seperti penggunaan air suci (Tirta), roti (prashadam), dupa (kemenyan), inisiasi, non-perceraian dsb. Agak unik misalnya kalau kita lihat dengan seksama akan adanya kata-kata “sesuatu pernikahan tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun juga”. Hal ini amat mirip dengan sabda-sabda yang ada di Rig-Veda khususnya mengenai pernikahan yang begitu sakral bahkan para dewatapun tidak diperkenankan untuk menceraikan pasangan yang menikah itu sampai ajal datang menjelang. Kata-kata seperti Santa (orang suci), pemandian, Ekaristi, dsb. jelas mengarah ke ritual-ritual Hindu, walau tidak mau dikenai oleh kaum Kristiani.
Kembali ke zaman Sri Yesus, terdapat juga penemuan di lembah Qamran yang menjelaskan kehidupan kaum Essenes (yogi-yogi di Timur-Tengah) yang amat mirip dengan kehidupan sederhana Sri Yesus itu sendiri. Kaum ini telah hadir jauh sebelum kelahiran Kristus, dan sering tidak diakui oleh umat Kristiani.
Di dalam Injil, Kristus tidak pernah digambarkan sebagai non-vegetarian kecuali satu kali yaitu setelah bangkit dari kematian-Nya. Bahkan perjamuan kuduspun tidak menghadirkan daging atau ikan. Banyak ahli di India berpendapat Sri Yesus Kristus adalah vagetarian tulen, sesuai dengan penampilan dan ajaran-ajarannya, yang terkesan penuh kasih sayang dan bersifat ahimsa (penuh pengorbanan).
Menurut para peneliti di India, ternyata Sri Yesus tidak mati di salib. Hal ini rupanya juga ditekankan oleh kaum Islam; berdasarkan catatan-catatan historis yang terdapat di Persia, Kashmir, dan Pakistan, dsb. Nabi ini bernama Issa (menurut Al-Quran), sedangkan kata Yesus berasal dari kata Yeshnu (bahasa Syria). Nabi Issa diakui hadir sebelum Nabi Muhammad S.A.W. dan merupakan putra dari Maryam yang melahirkannya melalui Roh Allah yang berbentuk seorang pria sempurna (malaikat Jibril). Beliau dilahirkan secara gaib, bunda Maryam yang melahirkannya tetap berstatus perawan, pada saat itu.
Sebuah narasi kuno agama Hindu adalah berbagai puranas (kisah-kisah suci kuna). Keseluruhan antologi kuno ini terdiri dari 18 jilid, dan ada jilid khusus yang kesembilan-belas yang disebut Bhavishyat Maha Purana, yang berisikan kedatangan Sri Yesus ke India, setelah “kematian-Nya di Salib.” Menurut Holger Kersten dalam bukunya yang berjudul “Jesus lived in India,” maka penjelasan di karya ini begitu terperinci sehingga tidak ada keraguan mengenai hal tersebut, yaitu Yesus memang pernah hadir di India. Purana ini juga mancatat hadirnya wangsa Israel di India. Ayat Puran 17-32, ini bahkan menggambarkan pertemuan cucu Raja Vikramaditya (Sulaeman) yang bernama Shalivan dengan Sri Yesus di sebuah daerah di Himalaya, tepatnya di tanah Hun (Ladakh), bagian dari kerajaan Kushan. Konon dikatakan suatu hari sang raja ini melihat seorang pria duduk di suatu tempat dan memancarkan aura yang amat baik. Pria tersebut berkulit bersih dan menggunakan jubah putih. Sang raja kemudian menanyakan asal-usul dan agamanya. Sang pria ini menjawab “Aku disebut putra Tuhan, lahir dari seorang perawan, pengabdi bagi mereka yang tidak percaya akan Tuhan, dan tanpa henti-hentinya aku berusaha mencari kebenaran. Aku datang dari negeri yang asing, di mana sudah tidak ada lagi kebenaran dan di mana kejahatan sudah tidak mengenal batas lagi. Orang-orang di sana sudah tidak percaya lagi akan kehadiran Tuhan, dan di sana aku hadir sebagai Mesias. Tetapi kaum Hailaf (dasyu) ini memperlakukan aku sebagai seorang kafir dan kehidupanku berakhir dalam kuasa ihamasi (iblis, atau kejahatan).”
Selanjutnya : “wahai raja yang agung, berikanlah telingamu pada agama yang aku bawa ini untuk mereka-mereka yang tidak percaya akan kehadiran Tuhan. Setelah memurnikan batin dan raga yang tidak suci dan setelah berlindung di dalam doa-doa Naigama (Shastra-Widhi), manusia akan berdoa kepada Yang Maha Abadi. Melalui keadilan, kebenaran, meditasi dan kesatuan dalam Roh, orang akan menemukan jalannya pada Isa, sebagai pusat cahaya terang. Tuhan, seteguh mentari, akhirnya akan menyatukan roh dari segala makhluk yang mengembara ke dalam diri-Nya. Dst. dst.”
Sang raja kemudian menerima pria yang bernamakan Isa-Masih dan mengutusnya ke suatu tempat yang tidak mengenal cinta dan kasih. Menurut Prof. Hassnan, maka Raja Shalivan berkuasa pada zamannya dinasti Kushan sekitar 30 AD sampai dengan 50 AD.
Seorang peneliti lainnya, prof Nicholas Roerich, dalam karyanya yang disebut “The Heart of Asia”, yang diterbitkan pada tahun 1930 menulis akan makam Bunda Maria yang terdapat di utara Ladakh dekat wilayah Tibet. Setelah kembalinya dari Israel, konon Sri Yesus mengembara dari suatu wilayah-ke wilayah lainnya. Namun beberapa catatan dan bukti-bukti menunjukkan bahwasanya Beliau selalu berulang kali kembali ke Kashmir. Konon sekitar 60 km tenggara Srinagar, atau sekitar 12 km dari Bijbiraha (Vihara batu Musa) terdapat sebuah makam dari Zainudin Wali, seorang Islam yang suci yang hidup sekitar tahun 1408-1461 pada zaman pemerintahan Sultan Zainul Abidin Badsah. Konon semasa hidupnya sang Wali Suci ini memiliki sebuah tongkat suci yang berasal dari Nabi Musa yang konon kemudian secara estafet diberikan kepada sang wali Islam ini. Tempat makam ini berada di dalam sebuah gua Aish-Muquam (makam Isa). Dalam bahasa setempat muquam atau makam juga dapat berarti tempat peristirahatan. Mungkin saja kata para peneliti, kawasan ini pernah menjadi tempat bermeditasi Sri Yesus. Pada era itu menurut legenda dan catatan setempat dipercayai akan hadirnya seorang Nabi yang disebut “Hazrat Isa (Yang Dimuliakan Isa), semoga Roh Tuhan menyertainya.” Beliau hadir di sekitar daerah Yuz Asaf, dan menghabiskan sisa kehidupannya di lembah yang asri ini. Konon katanya ada sekitar 21 dokumen bersejarah yang memberikan kesaksian akan hadirnya Sri Yesus di Kashmir ini. Dan juga hadir sejumlah nama-nama lokasi yang dapat dijadikan bukti-bukti secara geografis akan hadirnya Beliau di Lembah Kashmir ini, seperti : Arya-Issa, Issa-Brari, Yuzu-dha, Yusu-dhara, Yuzu-gam, Yuzu-hatpura, I-Yes-Issa, Kal-Issa, Yuzu-Kun, Issa-Kush, Yus-Manggala, Yuzu-maidan, Yus-marg, Aish-muquam, Issa-mati, Issa-eil, Yus-Nag, Ram-Issa (Tuhan Yesus), Yuzu-para, Yuzu-raja, Issa-Ta, Yuzu-varman, dan I-Yesth-Issa-Vara, Yusu.
Sebuah teks yang disebut “Rajatarangin”, mengisahkan kehidupan Yesus di Kashmir. Karya ini merupakan sejarah Kashmir yang tertulis dalam versi bahasa Sansekerta oleh Pandit Kalhara, yang ditulis pada abad XII AD. Di karya ini Jesus disebut sebagai orang suci yang bernama “Isana” (kata Isana adalah sebutan Dewi Parwati, Durga shaktinya Shiwa yang juga disebut Bunda semesta).
Konon setelah Issa wafat maka Beliau dikuburkan di Kashmir, tepatnya berada di tengah-tengah daerah yang merupakan kota tua Srinagar, di Anzinar, daerah Khanjar. Bangunan yang mengelilingi kuburan batu ini disebut “Rozabal” (kependekan kata-kata Rauza dan Bala, yang bermakna Kuburan seorang yang saktiwan). Konon pada suatu era kemudian yaitu pada zaman Islam, bertambah sebuah kuburan lagi di kawasan ini, kuburan seorang Muslim yang disucikan yang bernama Nasir-UdDin. Nisan batu besar menunjukkan makam Yuz-Asaf (Nabi Isa) dan batu yang lebih kecil bagi Syed Nasir-Ud-Din. Kuburan batu yang besar mengarah dari timur ke barat, sesuai dengan kebiasaan orang Yahudi yang meninggal dunia dan tidak sesuai dengan kebiasaan Hindu maupun Islam.
Pada kuburan ini, prof. Hassnain menemukan “jejak kaki” dari Yuz-Azaz, yang terilustrasi dengan jelas, yang menunjukkan adanya tanda-tanda kaki kiri yang dipakukan ke kaki kanan. Sebuah naskah kuno menyebut kuburan ini sebagai Isa Roh-n-ilah. Kuburan yang disakralkan ini sampai dewasa ini masih ramai diziarahi oleh umat, Hindu, Muslim, dsb. Dalam bahasa setempat saat ini makam ini disebut “Kubur Hazrat Isa-Sahib.” Sebuah dokumen resmi dari Mufti Rahman Mir (Penguasa Islam setempat) menandakan pelestarian kuburan tua ini. Di dokumen tertulis : “Di sini terbaring Yuz-Asaf, yang membangun kembali kuil Sulaeman pada masa Raja Gopadatta, dan ia kembali sebagai seorang Nabi ke Kashmir. Ia melayani masyarakat, menyatakan kesatuan-Nya dengan Tuhan, Beliau menetapkan hukum bagi masyarakat.”
AJARAN YESUS
Konsep kepercayaan di dalam agama Kristen mengatakan : “Penebusan dosa di dunia yang menderita ini ditanggung melalui kematian Yesus Kristus”, namun Holger Kersten mengatakan : “Doktrin dari Kekristenan tradisional hampir secara eksklusif merupakan ide-ide palsu Paulus, dan tidak penah disebarkan oleh Sri Yesus dalam bentuk seperti itu.”
Paulus mengajarkan bahwasanya inti ajaran Yesus berpusat pada kematiannya, yang membebaskan orang-orang yang beriman dari dosa mereka, dari kesengsaraan dan dari kekuatan setan. Sebenarnya tidak satu katapun yang ditulis Paulus dan surat-suratnya merupakan ajaran Yesus yang sebenarnya, Paulus juga tidak pernah menyebut suatu cerita perumpamaan yang dipaparkan Yesus; sebaliknya ia hanya menyebarkan filsafat serta ide-ide pribadinya sendiri. Kalau kita simak dengan baik, maka Yesus Kristus adalah seorang Asia, namun “ajaran-ajaran-Nya malahan diperkaya oleh orang-orang Eropah, dan seakan-akan merupakan Nabinya orang Eropah daripada orang Asia.” Lihat saja perayaan Natal yang amat Eropah-sentris daripada Asia-sentris.
Holger selanjutnya berkata : ”Jadi Paulus adalah seorang guru manusia yang mengubah “berita sukacita” menjadi “berita ancaman” dan menyiratkan bahwa “hanya itu saja” yang dapat menunjukkan jalan menuju keselamatan.” Dengan kata lain Holger ingin mengatakan ajaran Yesus telah “diplintir atau dikorupsi” oleh Paulus untuk maksud-maksud tertentu. Apalagi pada saat penyaliban Sri Yesus, semua murid-muridnya berubah menjadi pengecut, ada yang menjualnya, dan yang lainnya bersembunyi, membiarkan sang guru disalib tak berdaya tanpa ada yang mau membela atau berkorban demi Sri Yesus, hal ini mungkin adalah hal yang paling menyakitkan dan merupakan aib terbesar para murid-muridnya sehingga Yesus memutuskan kembali ke India, demikian kesimpulan sementara peneliti India, di India Beliau ternyata diterima kembali dengan tangan terbuka.
Dewasa ini, agama Kristen konon telah terpecah-pecah menjadi lebih dari 3200 sekte-sekte di dunia, masing-masing mengklaim kebenaran dan keselamatan melalui tafsir-tafsir mereka sendiri. Ada yang pernah menjual paspor ke sorga, ada yang pernah mengkapling-kapling bumi dan menjajah berbagai negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin, dan membunuh jutaan manusia di kawasan-kawasan ini atas nama Yesus Kristus. Di Jakarta saat ini ada ratusan Hindu India yang “terhipnotis dan terkena brain-washing” dan demi uang dan keuntungan mereka merubah agama mereka. Mereka ini boleh mejalankan adat-istiadat Hindu seperti perkawinan, kematian, dsb tetapi semua buku-buku suci mereka termasuk alat-alat sembahyang dan arca-arca dibuang atau dihancurkan. Namun setelah itu masuklah ke-rumah-rumah para penganut baru ini gambar-gambar Yesus dsb yang sebenarnya diharamkan oleh Sri Yesus itu sendiri, karena apa bedanya sebuah arca dan sebuah gambar. Tempat-tempat pemujaan Kristiani gaya ini dibangun di apartemen, ruang toko bagian atas dan tempat-tempat yang tidak dicurigai penduduk setempat. Yang aneh pada perayaan Imlek kali ini, upacara Imlek masuk gereja dan ditampilkan di media elektronik. Ajaran Yesus seperti hukum sebab-akibat, Sermon on the mount, meditasi dan kehidupan kembali malah kurang diperhatikan. Pokoknya setiap penganut wajib membayar 10 persen dari income mereka ke gereja, dan sebaliknya gereja mengakomodasi massa untuk berbelanja di tempat-tempat umat Hindu dan Buddhis ini. Bahkan supir dan pembantu rumah tangga yang sudah dikristenkan pun melayani kaum kaya yang mau masuk ke agama Kristen ini.
Demikianlah sekilas data-data yang ada di India, Tibet, Ladakh, Kashmir, Pakistan dan Afghanistan. Diperlukan ribuan halaman dan ratusan peneliti dalam bidang theologi, agama, dsb. untuk menjelaskan berbagai fakta-fakta semua agama yang belum terungkap dengan jelas, agar umat manusia dapat disadarkan bahwasanya kita umat manusia adalah satu ras bangsa sesuai ajaran-ajaran yang ada di Veda-Veda, di Taurat, Injil, dan Al-Quran, dengan berbagai nabi-nabi yang diturunkan-Nya dari masa ke masa untuk berbagai suku bangsa yang teramat bhineka ini. Kesemuanya agar menjadi pemersatu dan pengagum Keagungan Tuhan Yang Maha Esa, bukan dengan saling menjelek-jelekkan atau saling berperang demi nafsu pribadi atau kebodohan-kebodohan pribadi. Nabi agama yang satu ternyata bisa saja merupakan Nabi umat yang lain, contohnya Nabi Adam dan Ibrahim apalagi Nabi Nuh adalah milik semua umat manusia. Demikianlah hormat kami kepada semua nabi dan umat-umatnya, kepada semua ajaran-ajaran agung di mana saja.
Pengaruh Hindu-Buddhis juga masuk ke China seperti yang kita ketahui selama ini. Ajaran Bunda Saraswati menjadi ajaran Kwan-Im, ajaran Buddha dan para bodhisatwa pun masuk ke China, Korea dan Jepang dst. China sendiri juga memiliki Nabi-Nabi yang budiman dan dashyat, seperti Lao Tse, Kong Ho Cu, para dewa-dewa China seperti Yam-Lo-Ong, dsb. Perpaduan antara Dharma dari India dan agama lokal di China menghasilkan suatu budaya bangsa yang hebat. Konon sewaktu saya ke Kanada pada tahun 2001, maka sejarah bangsa Indian membuktikan adanya pengaruh Hindu-Buddhist dalam budaya America-Indian dengan berbagai situs-situs arkeologi di Mexico, Peru, Bolivia dan sebagainya yang dikenal dengan nama budaya Aztec, Peruvian, dsb. Di daerah Solo, sedang dibangun sebuah kawasan yang disebut Sonosewu, di mana semua miniatur Hindu-Buddis dari seluruh dunia dihadirkan di kawasan ini, termasuk yang dari Amerika Latin, Hawai, Fiji, dst.
Sebelum penulis mengakhiri tulisan ini, ingin saya sarankan kepada umat Hindu Dharma di Indonesia untuk sekali-kali membuka Injil bagian Wahyu (revelation). Anda akan terkejut karena Kalikin-Purana ternyata hadir di bab ini hampir secara utuh. Di Wahyu, Yesus menegaskan bahwasanya Ia akan kembali sebagai pengantin pria yang didampingi oleh pengantin wanita dan akan menumpas habis iblis dsb. Karya ini persis seperti kelahiran Vishnu yang akan datang yaitu Kalikin yang menunggang kuda dan menebas habis kejahatan yang amat memuncak di zaman kali. Teori Purusha dan Prakirti Hindu hadir tersirat dengan nyata di karya Wahyu ini, tetapi umumnya para pendeta Kristiani menolak menjabarkan yang satu ini, entah karena mereka tidak berani atau karena bertolak-belakang dengan teori keselamatan yang mereka suguhkan secara indah. Terus terang di Wahyu Yesus akan menumpas seluruh unsur-unsur kemunafikan, kejahatan dan sifat-sifat iblis yang hadir di muka bumi ini tanpa kompromi apapun juga.
Mungkin sudah waktunya kaum Hindu membentuk sebuah forum solidaritas antar agama dan sekte-sekte yang hadir di Indonesia untuk mengatasi berbagai friksi-friksi yang ditimbulkan melalui pelecehan-pelecehan yang terjadi di India, Indonesia, Denmark, dst agar dapat kita selesaikan secara pro-aktif dan damai, karena mengacu ke arah kesatuan ras bangsa dunia ini yang juga satu adanya dan disebut Homo-Sapien Erectus yang adalah kita semua ini. Setiap pemuka agama dari golongan manapun juga harus berani menegur dan menindak umatnya yang kurang ajar terhadap umat lain atau agama lain. Jangan umat sendiri didiamkan, tetapi kalau dicubit umat lain lalu ramai-ramai merusak. Pengaturan etika beragama yang benar, tanpa mencuri umat lain harus diatur oleh kita untuk kita juga. Hal-hal yang bersifat komersil dalam agama manapun harus kita buang jauh-jauh dan para ulama harus saling berkunjung dan berwacana ke umat-umat lain demi terjalinnya tali persaudaraan di antara kita, yang kemudian akan diteladani oleh umat awam; atau kita semua akan mendapatkan laknat dari-Nya.
Coba diperhatikan dan dipelajari dengan baik. Seratus atau dua ratus tahun ke depan, apakah agama-agama masih akan eksis, kalau “produksi”nya masih seperti sekarang ini ? Melihat perkembangan agama Nasrani yang makin merosot dan hampir punah di kawasan Eropah, Amerika (USA), dan Australia, maka jelas sudah peranan agama akan diambil alih oleh sains dan teknologi di masa depan.
Kaum Hindu di Indonesia harus belajar dari berbagai fenomena yang kasat mata ini. Berbagai ritual yang konsumtif akan segera menghilang dari penalaran kaum muda, apa kita sudah menyediakan media alternatif Hindu yang bernuansa ke depan ? Di masa depan kata para ahli, Tuhan akan dihayati melalui sains dan teknologi, dengan kata lain agama masa depan lebih praktis dan lebih logis. Filosofi plus “spiritual-knowledge” saja. Lalu apa yang sudah disiapkan oleh PHDI, dan para cendekiawan Hindu di Indonesia untuk anak-cucu kita ?.
Di India para resi-resi modern menekankan pada ajaran-ajaran spiritual dan filosofi tanpa bertentangan dengan sains dan teknologi, karena Dewa Brahma adalah dewanya Teknologi, lihat berbagai perlengkapan pertukangan di atas singgasananya, sedang Ganeshya membuka horizon kita ke arah ilmu pengetahuan bumi dan universal (skala dan niskala), tanpa Beliau tidak ada upacara yang sah. Itu berarti ilmu pengetahuan lebih diutamakan daripada ritual-ritual. Sri Krishna bersabda yadnya yang paling utama adalah Yadnya dalam bentuk ilmu-pengetahuan. Anak-anak muda saat ini sudah piawai dalam mengelola komputer dan HP, yang di masa lalu disebut cupu dan penglihatan Wyasa. Sekarang Wyasa sudah hadir di era teknologi dalam bentuk pengetahuan dan perangkat yang canggih. Beliau tidak perlu lagi menghadirkan Mahabharata kepada Dristarata dari jarak jauh, karena media elektronik sudah mengambil-alih peran tersebut. Lalu apakah kita masih akan tetap dungu dan terikat kepada sistem kasta, dsb ?. Saya yakin kalau sebutan Widhi yang berarti pengetahuan luas tidak dijabarkan secara baik. Kaum muda menjadi resah melihat kaum tua ibarat “keledai dungu” yang melenguh tiada henti-hentinya tetapi telah ketinggalan jaman di era teknologi yang makin hari makin tidak terkejar ini.
Prediksi Kali-Yuga mengatakan dharma yang berkaki satu akan menang di atas adharma yang berkaki tiga (kebodohan, keangkuhan dan kejahatan). Namun yang memiliki Widya (ilmu-pengetahuan) akan berada di atas ketiga faktor ini. Lalu apakah hal ini sudah dihayati oleh kaum cerdik-pandai kita atau hanya sibuk berseminar dengan pepesan kayu kosong, atau sibuk melaksanakan ritual-ritual dengan biaya mahal ? Untuk itu ikuti sabda Dalai Lama yang hidup di Dharmasala, yang mengatakan agar kita juga belajar dari berbagai praktek positif umat agama lain dan lalu aplikasikan ke agama kita kalau perlu demi lestarinya dharma kita sendiri.
Om Shanti Shanti Shanti Om
Bekasi, 20 Januari 2006
Comment by Reny.S.P — December 15, 2009 @ 2:14 am
PERBANDINGAN AGAMA
AGAMA HINDU
dalam agama hindu dikenal Panca Sradha yang artinya: Sradha berarti “yakin”, “percaya”, yang melandasi umat Hindu dalam meyakini keberadaan-Nya.
Umat Hindu mendasari keyakinannya berjumlah lima, yang disebut dengan Panca Sradha. Panca Sradha meliputi:
Brahman — Widhi Tattwa, keyakinan terhadap Tuhan
Atman — Atma Tattwa, keyakinan terhadap Atman (Roh)
Karmaphala — Karmaphala Tattwa, keyakinan pada Karmaphala (hukum sebab-akibat).
Samsara — Keyakinan pada kelahiran kembali
Moksha — Keyakinan akan bersatunya Atman dengan Brahman.
Percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi)
Percaya terhadap Tuhan, mempunyai pengertian yakin dan iman terhadap Tuhan itu sendiri. Yakin dan iman ini merupakan pengakuan atas dasar keyakinan bahwa sesungguhnya Tuhan itu ada, Maha Kuasa, Maha Esa dan Maha segala-galanya. Tuhan Yang Maha Kuasa, yang disebut juga Hyang Widhi (Brahman), adalah ia yang kuasa atas segala yang ada ini. Tidak ada apapun yang luput dari Kuasa-Nya. Ia sebagai pencipta, sebagai pemelihara dan Pelebur alam semesta dengan segala isinya. Tuhan adalah sumber dan awal serta akhir dan pertengahan dari segala yang ada. Didalam Weda (Bhagavad Gita), Tuhan (Hyang Widhi) bersabda mengenai hal ini, sebagai berikut:
Tuhan (Hyang Widhi), yang bersifat Maha Ada, juga berada disetiap mahluk hidup, didalam maupun diluar dunia (imanen dan transenden). Tuhan (Hyang Widhi) meresap disegala tempat dan ada dimana-mana (Wyapi Wyapaka), serta tidak berubah dan kekal abadi (Nirwikara). Di dalam Upanisad (k.U. 1,2) disebutkan bahwa Hyang Widhi adalah “telinga dari semua telinga, pikiran dari segala pikiran, ucapan dari segala ucapan, nafas dari segala nafas dan mata dari segala mata”, namun Hyang Widhi itu bersifat gaib (maha suksma) dan abstrak tetapi ada.
Walaupun amat gaib, tetapi Tuhan hadir dimana-mana. Beliau bersifat wyapi-wyapaka, meresapi segalanya. Tiada suatu tempatpun yang Beliau tiada tempati. Beliau ada disini dan berada disana Tuhan memenuhi jagat raya ini.
Kendatipun Tuhan itu selalu hadir dan meresap di segala tempat, tetapi sukar dapat dilihat oleh mata biasa. Indra kita hanya dapat menangkap apa yang dilihat, didengar, dikecap dan dirasakan. Kemampuannya terbatas, sedangkan Tuhan (Hyang Widhi) adalah Maha Sempurna dan tak terbatas.
Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa, yang tak terjangkau oleh pikiran, yang gaib dipanggil dengan nama sesuai dengan jangkauan pikiran, namun ia hanya satu, Tunggal adanya.
Karena Tuhan tidak terjangkau oleh pikiran, maka orang membayangkan bermacam-macam sesuai dengan kemampuannya. Tuhan yang Tunggal (Esa) itu dipanggilnya dengan banyak nama sesuai dengan fungsinya. Ia dipanggil Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara dan Ciwa sebagai pelebur/pemralina. Banyak lagi panggilannya yang lain. Ia maha tahu, berada dimana-mana. Karena itu tak ada apapun yang dapat kita sembunyikan dihadapan-Nya. Orang-orang menyembah-Nya dengan bermacam-macam cara pada tempat yang berbeda-beda. Kepada-Nyalah orang menyerahkan diri, mohon perlindungan dan petunjuk-Nya agar ia menemukan jalan terang dalam mengarungi hidup ini.
Percaya Adanya Atman
Atman adalah percikan kecil dari Paramatman (Hyang Widhi/Brahman). Atman di dalam badan manusia disebut Jiwatman, yang menyebabkan manusia itu hidup. Atman dengan badan adalah laksana kusir dengan kereta. Kusir adalah Atman yang mengemudikan dan kreta adalah badan. Demikian Atman itu menghidupi sarva prani (mahluk) di alam semesta ini.
Satu That yang bersembunyi dalam setiap mahluk yang menghidupi semuanya, yang merupakan jiwa semua mahluk, raja dari semua perbuatan pada semua mahluk, saksi yang mengetahui dan tunggal. Demikianlah Atman merupakan percikan-percikan kecil dari paramatman (Tuhan) yang berada di setiap mahluk hidup. Atman adalah bagian dari pada Tuhan, bagaikan titik embun yang berasal dari penguapan air laut, karena ada pengaruh dari suatu temperatur tertentu. Seperti halnya juga percikan-percikan sinar berasal dari matahari, kemudian terpencar menerangi segala pelosok alam semesta ini.
Oleh karena Atman itu merupakan bagian dari Brahman/Hyang Widhi, maka Atman pada hakekatnya memiliki sifat yang sama dengan sumbernya, yakni Brahman itu sendiri. Atman bersifat sempurna dan kekal abadi, tidak mengalami kelahiran dan kematian, bebas dari suka dan duka. Menurut Weda (Bh.G.23,24 dan 25), sifat-sifat Atman dinyatakan sebagai berikut:
Yang dimaksud “Dia” dan “Nya” dalam sloka di atas adalah Atman itu sendiri. Dia mengatasi segala elemen materi, kekal abadi, dan tidak terpikirkan. Oleh karena itu Atman (Jiwatman) tidak dapat menjadi subyek ataupun obyek daripada perubahan-perubahan yang dialami oleh pikiran, hidup dan badan jasmani. Karena semua bentuk-bentuk yang dialami ini bisa berubah, datang dan pergi, tetapi jiwa itu tetap langgeng untuk selamanya.
Dari uraian sloka di atas, ada beberapa sifat atman yang penting di sini adalah: Achodya (tak terlukai oleh senjata). Adahya (tak terbakar oleh api), Akledya (tak terkeringkan oleh angin), Acesyah (tak terbasahkan oleh air), Nitya (abadi), Sarvagatah (dimana-mana ada), Sthanu (tak berpindah-pindah), Acala (tak bergerak), Sanatana (selalu sama), Awyakta (tak terlahirkan), Achintya (tak terpikirkan), dan Awikara (tak berubah dan sempurna tidak laki-laki atau perempuan).
Perpaduan Atman dengan badan jasmani, menyebabkan mahluk itu hidup. Atman yang menghidupi badan disebut Jiwatman. Pertemuan Atman dengan badan jasmani ini menyebabkan Dia terpengaruh oleh sifat-sifat maya yang menimbulkan awidya (kegelapan). Jadi manusia lahir dalam keadaan awidya, yang menyebabkan ketidak sempurnaannya. Atman itu tetap sempurna, tetapi manusia itu sendiri tidaklah sempurna. Manusia tidak luput dari hukum lahir, hidup dan mati. Walaupun manusia itu mengalami kematian, namun Atman tidak akan bisa mati. Hanya badan yang mati dan hancur, sedangkan Atman tetap kekal abadi.
Jiwatman yang terbelengu berpindah dari satu badan ke badan yang lain. Setiap kelahirannya membawa badan, hidup dan pikiran yang terbentuk dari pada prakerti menurut evolusinya dimasa yang lalu dan kebutuhannya dimasa yang akan datang. Apabila badan jasmani yang menjadi tua dan hancur, maka alam pikiran sebagai pembalut jiwa merupakan kesadaran baginya untuk berpindah-pindah dari satu badan ke badan yang lain yang disebut reinkarnasi atau phunarbhawa sesuai dengan karmaphalanya (hasil perbuatannya di dunia). Karena itu Atman tidak akan selalu dapat kembali kepada asalnya yaitu ke Paramaatman. Orang-orang yang berbuat baik di dunia akan menuju sorga dan yang berbuat buruk akan jatuh ke Neraka. Di Neraka Jiwatman itu mendapat siksaan sesuai dengan hasil perbuatannya. Karena itulah penjelmaan terus berlanjut sampai Jiwatman sadar akan hakekat dirinya sebagai Atman, terlepas dari pengaruh awidya dan mencapai Moksa yaitu kebahagiaan dan kedamaian yang abadi serta kembali bersatu kepada asalnya.
Percaya Adanya Hukum Karmaphala
Segala gerak atau aktivitas yang dilakukan, disengaja atau tidak, baik atau buruk, benar atau salah, disadari atau diluar kesadaran, kesemuanya itu disebut “Karma”. Ditinjau dari segi ethimologinya, kata karma berasal dari kata “Kr” (bahasa sansekerta), yang artinya bergerak atau berbuat. Menurut Hukum Sebab Akibat, maka segala sebab pasti akan membuat akibat. Demikianlah sebab dari suatu gerak atau perbuatan akan menimbulkan akibat, buah, hasil atau pahala. Hukum sebab akibat inilah yang disebut dengan Hukum Karma Phala.
Hukum karma ini sesungguhnya sangat berpengaruh terhadap baik buruknya segala mahluk sesuai dengan perbuatan baik dan perbuatan buruknya yang dilakukan semasa hidup. Hukum karma dapat menentukan seseorang itu hidup bahagia atau menderita lahir bathin. Jadi setiap orang berbuat baik (subha karma), pasti akan menerima hasil dari perbuatan baiknya itu. Demikian pula sebaliknya, setiap yang berbuat buruk (asubha karma), maka keburukan itu sendiri tidak bisa terelakkan dan pasti akan diterima.
Phala atau hasil dari perbuatan itu tidak selalu langsung dapat dirasakan atau dinikmati. Tangan yang menyentuh es akan seketika dingin, namun menanam padi harus menunggu berbulan-bulan untuk bisa memetik hasilnya. Setiap perbuatan akan meninggalkan bekas, ada bekas yang nyata, ada bekas dalam angan dan ada yang abstrak. Oleh karena itu hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat atau pada kehidupan sekarang maka akan ia terima setelah di akherat kelak dan ada kalanya pula akan dinikmati pada kehidupan yang akan datang.
Dengan demikian karma phala dapat digolongkan menjadi 3 macam sesuai dengan saat dan kesempatan dalam menerima hasilnya, yaitu Sancita Karma Phala, Prarabda Karma Phala, dan Kriyamana Karma Phala.
1.Sancita Karma Phala
Hasil perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita yang sekarang.
2.Prarabda Karma Phala:
Hasil perbuatan kita pada kehidupan ini tanpa ada sisanya lagi;
3.Kriyamana Karma Phala:
Hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat, sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang.
Jadi adanya penderitaan dalam kehidupan ini walaupun seseorang selalu berbuat baik, hal itu disebabkan oleh karmanya yang lalu (sancita karma), terutama yang buruk yang harus ia nikmati hasilnya sekarang, karena pada kelahirannya terdahulu belum habis diterimanya. Sebaliknya seseorang yang berbuat buruk pada kehidupannya sekarang dan nampaknya ia hidup bahagia, hal itu disebabkan karena sancita karmanya yang dahulu baik, namun nantinya ia juga harus menerima hasil perbuatannya yang buruk yang ia lakukan pada masa kehidupannya sekarang ini.
Tegasnya, bahwa cepat atau lambat, dalam kehidupan sekarang atau nanti, segala hasil perbuatan itu pasti akan diterima, karena hal itu sudah merupakan hukum perbuatan. Di dalam Weda (Wrhaspati Tatwa 3), dinyatakan sebagai berikut: “Wasana artinya bahwa semua perbuatan yang telah dilakukan didunia ini. Orang akan mengecap akibat perbuatannya di alam lain, pada kelahiran nanti; apakah akibat itu akibat yang baik atau yang buruk. Apa saja perbuatan yang dilakukannya, pada akhirnya kesemuanya itu akan menghasilkan buah. Hal ini adalah seperti periuk yang diisikan kemenyan, walaupun kemenyannya sudah habis dan periuknya dicuci bersih-bersih namun tetap saja masih ada bau, bau kemenyan yang melekat pada periuk itu. Inilah yang disebut wasana. Seperti juga halnya dengan karma wasana. Ia ada pada Atman. Ia melekat pada-Nya. Ia mewarnai Atman.”
Jadi segala baik dan buruk suatu perbuatan akan membawa akibat tidak saja di dalam hidup sekarang ini, tetapi juga setelah di akhirat kelak, yakni setelah Atma dengan suksma sarira (alam pikiran) terpisah dari badan (tubuh) dan akan membawa akibat pula dalam penjelmaan yang akan datang, yaitu setelah atman dengan suksma sarira memasuki badan atau wadah yang baru. Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) akan menghukum roh yang berbuat dosa dan merahmati roh seseorang yang berbuat kebajikan. Hukuman dan rahmat yang dijatuhkan oleh Hyang Widhi ini bersendikan pada keadilan.
Pengaruh hukum ini pulalah yang menentukan corak serta nilai dari pada watak manusia. Hal ini menimbulkan adanya bermacam-macam ragam watak manusia di dunia ini. Terlebih-lebih hukuman kepada roh yang selalu melakukan dosa semasa penelmaannya, maka derajatnya akan semakin bertambah merosot. Hal ini disebutkan dalam Weda sebagai berikut:
Dewanam narakam janturjantunam narakam pacuh,
Pucunam narakam nrgo mrganam narakam khagah,
Paksinam narakam vyalo vyanam narakam damstri,
Damstrinam narakam visi visinam naramarane (Clokantara 40.13-14)
Dewa neraka (menjelma) menjadi manusia. Manusia neraka (menjelma) menjadi ternak. Ternak menjadi binatang buas, binatang buas neraka menjadi burung, burung neraka menjadi ular, dan ular neraka menjadi taring. (serta taring) yang jahat menjadi bisa (yakni) bisa yang dapat membahayakan manusia.
Demikianlah kenerakaan yang dialami oleh Atman (roh) yang selalu berbuat jahat (dosa) semasa penjelmaannya di dunia. Jika penjelmaan itu telah sampai pada limit yang terhina akibat dosanya, maka ia tetap akan menjadi dasar terbawah dari kawah neraka.
Percaya Adanya Punarbhawa/Reinkarnasi/Samsara
Punarbhawa berarti kelahiran yang berulang-ulang, yang disebut juga penitisan kembali (reinkarnasi) atau Samsara. Di dalam Weda disebutkan bahwa “Penjelmaan jiwatman yang berulang-ulang di dunia ini atau didunia yang lebih tinggi disebut Samsara. Kelahiran yang berulang-ulang ini membawa akibat suka dan duka. Samsara atau Punarbhawa ini terjadi oleh karena Jiwatman masih dipengaruhi oleh kenikmatan, dan kematian akan diikuti oleh kelahiran”.
Atman yang masih diselubungi oleh suksma sarira dan masih terikat oleh adanya kenikmatan duniawi, menyebabkan Atman itu awidya, sehingga Ia belum bisa kembali bersatu dengan sumbernya yaitu Brahman (Hyang Widhi). Hal ini menyebabkan atman itu selalu mengalami kelahiran secara berulang-ulang.
Segala bentuk prilaku atau perbuatan yang dilakukan pada masa kehidupan yang lampau menyebabkan adanya bekas (wasana) dalam jiwatman. Dan wasana (bekas-bekas perbuatan) ini ada bermacam-macam. Jika wasana itu hanya bekas-bekas keduniawian, maka jiwatman akan lebih cenderung dan gampang ditarik oleh hal-hal keduniawian sehingga atman itu lahir kembali.
Sebab sebagai manusia sekarang ini adalah akibat baik dan buruknya karma itu juga akhirnya dinikmatilah karma phala itu. Artinya baik buruk perbuatan itu sekarang akhirnya terbukti hasilnya. Selesai menikmatinya, menjelmalah kembali ia, mengikuti sifat karmaphala. Wasana berarti sangskara, sisa-sisa yang ada dari bau sesuatu yang tinggal bekas-bekasnya saja yang diikuti hukuman yaitu jatuh dari tingkatan sorga maupun dari kawah-kawah neraka, adapun perbuatan baik ataupun buruk yang dilakukan di akhirat, tidaklah ia berakibat sesuatu apapun, oleh karena yang sangat menentukan adalah perbuatan-perbuatan baik atau buruk yang dilakukan sekarang juga.
Karma dan Punarbhawa ini merupakan suatu proses yang terjalin erat satu sama lain. Secara singkat dapat dikatakan bahwa karma adalah perbuatan yang meliputi segala gerak, baik pikiran, perkataan maupun tingkah laku. Sedangkan punarbhawa adalah kesimpulan dari semua karma itu yang terwujud dalam penjelmaan tersebut. Setiap karma yang dilakukan atas dorongan acubha karma akan menimbulkan dosa dan Atman akan mengalami neraka serta dalam Punarbhawa yang akan datang akan mengalami penjelmaan dalam tingkat yang lebih rendah, sengsara, atau menderita dan bahkan dapat menjadi mahluk yang lebih rendah tingkatannya. Sebaliknya, setiap karma yang dilakukan berdasarkan cubhakarma akan mengakibatkan Atman (roh) menuju sorga dan jika menjelma kembali akan mengalami tingkat penjelmaan yang lebih sempurna atau lebih tinggi.
Adapun perbuatan orang yang bodoh, senantiasa tetap berlaku menyalahi dharma; setelah ia lepas dari neraka, menitislah ia menjadi binatang, seperti biri-biri, kerbau dan lain sebagainya; bila kelahirannya kemudian meningkat, ia menitis menjadi orang yang hina, sengsara, diombang-ambingkan kesedihan dan kemurungan hati, dan tidak mengalami kesenangan.
Sedangkan orang yang selalu berbuat baik (cubhakarma), Sarasmuccaya menyebutkan: “Adapun orang yang selalu melakukan karma baik (cubhakarma), ia dikemudian hari akan menjelma dari sorga, menjadi orang yang tampan (cantik), berguna, berkedudukan tinggi, kaya raya dan berderajat mulia. Itulah hasil yang didapatnya sebagai hasil (phala) dari perbuatan yang baik”.
Kesimpulannya, dengan keyakinan dengan adanya Punarbhawa ini maka orang harus sadar, bahwa bagaimana kelahirannya tergantung dari karma wasananya. Kalau ia membawa karma yang baik, lahirlah ia menjadi orang berbahagia, berbadan sehat dan berhasil cita-citanya. Sebaliknya bila orang membawa karma yang buruk, ia akan lahir menjadi orang yang menderita. Oleh karena itu kelahiran kembali ini adalah kesempatan untuk memperbaiki diri untuk meningkat ke taraf yang lebih tinggi.
Diantara semua mahluk hidup yang ada didunia ini, manusia adalah mahluk yang utama. Ia dapat berbuat baik maupun buruk, serta dapat melebur perbuatannya yang buruk dengan perbuatan yang baik. Oleh karena itu seseorang sepatutnya bersyukur dan berbesar hati lahir sebagai manusia. Karena sungguh tidaklah mudah untuk dapat dilahirkan menjadi manusia sekalipun manusia hina.
Itulah sebabnya, maka seorang hendaknya dapat menghargai dan menggunakan kesempatan yang amat berharga ini untuk membebaskan diri dari kesengsaraan dan menuju pada kebahagiaan yang abadi yang sisebut Moksa atau kelepasan. Memang sungguh disayangkan, apabila kesempatan yang baik ini berlalu tanpa makna. Kelahiran manusia dikatakan berada ditengah-tengah antara sorga dan neraka. Jika kebajikan yang diperbuat maka tentulah hidupnya akan meningkat, tetapi jika dosa yang dilakukan, sudah pastilah akan jatuh ke neraka. Jadi setiap kali kelahiran sebagai manusia patutlah digunakan sebaik-baiknya untuk meningkatkan hidup ke jenjang yang lebih mulia dan luhur.
Percaya Adanya Moksa
Dalam Weda disebutkan: “Moksartham Jagadhitaya ca itu dharma“, maka Moksa merupakan tujuan yang tertinggi. Moksa ialah kebebasan dari keterikatan benda-benda yang bersifat duniawi dan terlepasnya Atman danri pengaruh maya serta bersatu kembali dengan sumber-Nya, yaitu Brahman (Hyang Widhi) dan mencapai kebenaran tertinggi, mengalami kesadaran dan kebahagiaan yang kekal abadi yang disebut Sat Cit Ananda.
Orang yang telah mencapai moksa, tidak lahir lagi kedunia, karena tidak ada apapun yang mengikatnya. Ia telah bersatu dengan Paramatman. Bila air sungai telah menyatu dengan air laut, maka air ungai yang ada di laut itu akan kehilangan identitasnya. Tidak ada perbedaan lagi antara air sungai dengan air laut. Demikianlah juga halnya, Atman yang mencapai Moksa. Ia akan kembali dan menyatu dengan sumbernya yaitu Brahman.
Di samping setelah di dunia akhirat, Moksa juga dapat dicapai semasa hidup didunia ini, namun terbatas kepada orang-orang yang sudah bebas dari keterikatan duniawian dan pasang surut serta duka-dukanya gelombang hidup. Sebagaimana halnya Maharsi yang telah bebas dari keinginan-keinginan menikmati keduniawian dan bekerja tanpa pamerih untuk kesejahteraan dunia. Moksa semasa hidup disebut dengan “Jiwan Mukti”.
Untuk mencapai moksa juga mempunyai tingkatan2 tergantung dari karma (perbuatannya) selama hidupnya apakah sudah sesuai dengan ajaran2 agama Hindu. Tingkatan2 seseorang yang telah mencapai moksa dapat dikatagorikan sebagai berikut.
1. Apabila seorang yang sudah mencapai kebebasan rochani dengan meninggalkan mayat disebut Moksa.
2. Apabila seorang yang sudah mencapai kebebasan rochani dengan tidak meninggalkan mayat tetapi meninggalkan bekas2 misalnya abu, tulang disebut Adi Moksa.
3. Apabila seorang yang telah mencapi kebebasan rochani yang tidak meninggalkan mayat serta tidak membekas disebut Parama Moksa.
Catur Marga
Untuk mencapai Moksa beberapa cara yang dapat ditempuh sesuai dengan bakat dan bidang yang digeluti saat ini yang disebut dengan Catur Marga ada juga yang menyebutkan dengan Catur Yoga yaitu empat jalan yang ditempuh untuk mencapai Moksa. Adapun keempat Catur Marga terdiri dari :
1. Jnana Marga Yoga.
Pada saat sekarang peranan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sangat menentukan dalam pembangunan nasional disamping ilmu pengetahuan lainnya. Setiap negara akan berusaha sekuat tenaga dengan menggunakan resource yang ada untuk berkompetisi dalam bidang IPTEK, siapa yang menguasai IPTEK maka merekalah yang menguasai dunia ini. Kata Jnana artinya adalah kebijaksanaan filsafat atau pengetahuan, Yoga berasal dari urat kata YUJ yang artinya menghubungkan diri.
Jadi Janana Marga Yoga artinyga jalan untuk mencapai persatuan atau pertemuan antara Atman dengan Paramatman (Tuhan) berdasarkan atas pengetahuan (kebijaksanaan filsafat) terutama mengenai kebenaran dan pembebasan diri dari ikatan duniawi (maya). Dalam kehidupan ini kita memilih profesi pekerjaan kita sesuai dengan bakat yang diberikan oleh Sangyang Widhi Wasa dan latar belakang pendidikan kita atau pekerjaan yang sangat menarik yang kita geluti saat ini, sebab bakat yang diberikan oleh Tuhan adalah anugrah yang sangat tinggi nilainya yang merupakan hasil Karma kita dahulu sebelum kita Reinkarnasi sebagai manusia. Apabila kita ingin mengabdi kan diri dibidang ilmu pengetahuan, perlu diperhatikan adalah ilmu pengetahuan yang dapat membantu umat manusia dalam mengatasi kehidupan ini.
2. Karma Marga Yoga.
Cara atau jalan untuk mencapai moksa (bersatunya Atman dengan Brahman), dengan selalu berbuat baik, tetapi tidak mengharapkan balasan atau hasilnya untuk kepentingan diri sendiri (amerih sukaning awah) disebut Karma Marga Yoga. Dalam Karma Marga Yoga, kita sebagai umat Hindu setiap tindak tanduk kita melakukan karya harus demi kepentingan masyarakat banyak dan jangan ada suatu keinginan untuk menikmati hasilnya, sebab kalau kita selalu berpikir hasilnya akan timbul keterikatan2, kalau keterikatan2 telah tumbuh dalam jiwa kita, maka ketenangan akan menjauh dari kenyataan, sehingga jiwa kita akan diracuni oleh Sad Ripu yaitu enam musuh utama manusia yang terdiri dari Kama, Lobha, Mada, Moha,Kroda, Matsarya (napsu, loba, kemarahan, kemabukan, kebingungan,iri hati). Didalam Bhagawad Gita disebutkan bahwa berulang kali Krisna berkata kepada Arjuna, lakukan tugasmu, lakukanlah pekerjaan yang benar tetapi jangan ingin menikmati hasil pekerjaan itu.
Tujuan Krisna memberikan wejangan kepada Arjuna agar jangan melihat hasil nya adalah, kita sebagai pelaku benar2 dalam bekerja semua perbuatan kita yaitu karma diubah menjadi Yoga sehingga kegiatan tersebut membawa kita menuju persatuan dengan Tuhan maka ini disebut dengan Karma Marga Yoga. Apabila seseorang sudah dapat melakukan pekerjaan tanpa melihat hasilnya maka ia akan menjadi orang yang benar2 bijaksana (Stithaprajna), yang tidak terpengaruh dengan keadaan suka dan duka atau gembira dan sedih.
Perbuatan adalah karma , setiap orang lahir dari karma, hidup dalam karma dan mati dalam karma, karma sumber dari baik dan buruk dosa atau kebajikan, laba atau rugi, kebahagiaan atau kesedihan, sebenarnya karmalah penyebab kelahiran, maka karma dalam kehidupan merupakan masalah yang sangat penting.
3. Bakti Marga Yoga.
Jalan atau cara untuk mencapai moksa atau kebebasan, yaitu bersatunya Atman dengan Tuhan dengan melakukan sujud bakti kehadapan Yang Widhi Wasa. Bakti adalah cinta yang mendalam kepada Tuhan, bersifat tanpa pamerih sedikitpun dan tanpa keinginan duniawi apapun juga. Bagi umat Hindu untuk melakukan Bakti Marga Yoga dengan menyanyikan nama2 Tuhan secara ber ulang2, bergaul dengan orang2 Suci yang mempunyai bakti, konsentrasi pikiran setiap saat kepada Tuhan, dan jalan Bakti ini adalah yang paling mudah dilakukan. Seperti setiap hari kita melakukan Trisandya dengan mengucapkan Gayatri Mantra tiga kali sehari.
4. Raja Marga Yoga.
Jalan untuk mencapai moksa menurut agama Hindu dapat dilakukan melalui Tapa, Brata, Yoga, dan Semadi. Untuk mengendalikan diri dengan melakukan latihan2 untuk mengatasi Sadripu disebut dengan Tapa, Brata, sebab apabila Sadripu kita sudah dapat kendalikan maka jalan mencapai moksa lebih mudah. Disamping mengendalikan Sad Ripu, kita juga melakukan latihan2 untuk dapat menyatukan Atman dengan Tuhan yang disebut dengan Yoga dan Semadi, dengan melakukan konsentrasi yang setepat tepatnya dalam ketenangan dan suasana syandu sempurna sehingga kita dapat menyatu dengan Tuhan.
Diantara keempat Marga Yoga tersebut diatas semuanya adalah sama tidak ada yang lebih tinggi kedudukannya, umat Hindu dapat memilih dari keempat Marga Yoga tersebut tergantung dari bakat masing2 dan jalan yang satu akan berhubungan dengan yang lain semuanya akan mencapai tujuan yang sama yaitu Moksa.
Toleransi umat Hindu
Agama ini memiliki ciri khas sebagai salah satu agama yang paling toleran, yang mana di dalam kitab Weda dalam salah satu baitnya memuat kalimat berikut:
Sansekerta: ???? ??? ??????: ????? ??????
Alihaksara: Ekam Sat Vipraaha Bahudhaa Vadanti
Cara baca dalam bahasa Indonesia: Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadanti
Bahasa Indonesia: “Hanya ada satu kebenaran tetapi para orang pandai menyebut-Nya dengan banyak nama.”
— Rg Weda (Buku I, Gita CLXIV, Bait 46)
Dalam berbagai pustaka suci Hindu, banyak terdapat sloka-sloka yang mencerminkan toleransi dan sikap yang adil oleh Tuhan. Umat Hindu menghormati kebenaran dari mana pun datangnya dan menganggap bahwa semua agama bertujuan sama, yaitu menuju Tuhan, namun dengan berbagai sudut pandang dan cara pelaksanaan yang berbeda. Hal itu diuraikan dalam kitab suci mereka sebagai berikut:
samo ‘ha? sarva-bh?te?u na me dve?yo ‘sti na priyah
ye bhajanti tu m?? bhakty? mayi te te?u c?py aham
(Bhagavad G?t?, IX. 29)
Arti:
Aku tidak pernah iri dan selalu bersikap adil terhadap semua makhluk.
Bagi-Ku tidak ada yang paling Ku-benci dan tidak ada yang paling Aku kasihi.
Tetapi yang berbakti kepada-Ku, dia berada pada-Ku dan Aku bersamanya pula
Ye yath? m?m prapadyante t?ms tathaiva bhaj?my aham,
mama vartm?nuvartante manusy?h p?rtha sarva?ah
(Bhagavad G?t?, 4.11)
Arti:
Jalan mana pun yang ditempuh seseorang kepada-Ku,
Aku memberinya anugerah setimpal. Semua orang mencari-Ku
dengan berbagai jalan, wahai putera Partha (Arjuna)
Yo yo y?m y?m tanum bhaktah ?raddhay?rcitum icchati,
tasya tasy?cal?m ?raddh?m t?m eva vidadh?my aham
(Bhagavad G?t?, 7.21)
Arti:
Kepercayaan apapun yang ingin dipeluk seseorang,
Aku perlakukan mereka sama dan
Ku-berikan berkah yang setimpal supaya ia lebih mantap
Meskipun ada yang menganggap Dewa-Dewi merupakan Tuhan tersendiri, namun umat Hindu memandangnya sebagai cara pemujaan yang salah. Dalam kitab suci mereka, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda:
ye ‘py anya-devat?-bhakt? yajante ?raddhay?nvit??
te ‘pi m?m eva kaunteya yajanty avidhi-p?rvakam
(Bhagavad G?t?, IX.23)
Arti:
Orang-orang yang menyembah Dewa-Dewa dengan penuh keyakinannya
sesungguhnya hanya menyembah-Ku, tetapi mereka melakukannya
dengan cara yang keliru, wahai putera Kunti (Arjuna)
Pemeluk agama Hindu juga mengenal arti Ahimsa dan “Satya Jayate Anertam”. Mereka diharapkan tidak suka (tidak boleh) membunuh secara biadab tapi untuk kehidupan pembunuhan dilakukan kepada binatang berbisa (nyamuk) untuk makanan sesuai swadarmanya, dan diminta jujur dalam melakukan segala pikiran, perkataan, dan perbuatan.
oke, ntar akan kita lanjutkan kepada agama buddha:
kepada @moderator sebelum inti ajaran agama lain belum saya paparkan, agar jangan ada yang mengotori topik ini. terimakasih.
AGAMA BUDDHA:
Perlu ditekankan bahwa Buddha bukan Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Samawi dimana alam semesta diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke surga ciptaan Tuhan yang kekal.
Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.
Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Sang Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Udana VIII : 3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang yang artinya “Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak”. Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.
Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Mahaesa ini, kita dapat melihat bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain. Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, sebab masih banyak umat Buddha yang mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan konsep Ketuhanan menurut agama-agama lain sehingga banyak umat Buddha yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain.
Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tripitaka, maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang alam semesta, terbentuknya Bumi dan manusia, kehidupan manusia di alam semesta, kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan.
Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana roh manusia tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa - dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran & realitas sebenar-benarnya.
inti sari ajaran agama buddha
EHIPASSIKO
Kata ehipassiko berasal dari kata ehipassika yang terdiri dari 3 suku kata yaitu ehi, passa dan ika. Secara harafiah ”ehipassika” berarti datang dan lihat. Ehipassikadhamma merupakan sebuah undangan kepada siapa saja untuk datang, melihat serta membuktikan sendiri kebenaran yang ada dalam Dhamma.
Istilah ehipassiko ini tercantum dalam Dhammanussati (Perenungan Terhadap Dhamma) yang berisi tentang sifat-sifat Dhamma.
Guru Buddha mengajarkan untuk menerapkan sikap ehipassiko di dalam menerima ajaranNya. Guru Buddha mengajarkan untuk ”datang dan buktikan” ajaranNya, bukan ”datang dan percaya”. Ajaran mengenai ehipassiko ini adalah salah satu ajaran yang penting dan yang membedakan ajaran Buddha dengan ajaran lainnya.
Salah satu sikap dari Guru Buddha yang mengajarkan ehipassiko dan memberikan kebebasan berpikir dalam menerima suatu ajaran terdapat dalam perbincangan antara Guru Buddha dengan suku Kalama berikut ini:
“Wahai, suku Kalama. Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya, pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau karena kalian berpikir, `Petapa itu adalah guru kami. `Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, `Hal-hal ini adalah bermanfaat, hal-hal ini tidak tercela; hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kesejahteraan dan kebahagiaan`, maka sudah selayaknya kalian menerimanya.” (Kalama Sutta; Anguttara Nikaya 3.65)
Sikap awal untuk tidak percaya begitu saja dengan mempertanyakan apakah suatu ajaran itu adalah bermanfaat atau tidak, tercela atau tidak tecela; dipuji oleh para bijaksana atau tidak, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kesejahteraan dan kebahagiaan atau tidak, adalah suatu sikap yang akan menepis kepercayaan yang membuta terhadap suatu ajaran. Dengan memiliki sikap ini maka nantinya seseorang diharapkan dapat memiliki keyakinan yang berdasarkan pada kebenaran.
Ajaran ehipassiko yang diajarkan oleh Guru Buddha juga harus diterapkan secara bijaksana. Meskipun ehipassiko berarti ”datang dan buktikan” bukanlah berarti selamanya seseorang menjadikan dirinya objek percobaan. Sebagai contoh, ketika seseorang ingin membuktikan bahwa menggunakan narkoba itu merugikan, merusak, bukan berarti orang tersebut harus terlebih dulu menggunakan narkoba tersebut. Sikap ini adalah sikap yang salah dalam menerapkan ajaran ehipassiko. Untuk membuktikan bahwa menggunakan narkoba itu merugikan, merusak, seseorang cukup melihat orang lain yang menjadi korban karena menggunakan narkoba. Melihat dan menyaksikan sendiri orang lain mengalami penderitaan karena penggunaan narkoba, itu pun suatu pengalaman, suatu pembuktian.
(Sacca)
Kebenaran atau dalam bahasa Pali disebut dengan sacca, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya. Jadi, kebenaran tidak selamanya menyangkut mengenai masalah moral semata.
Kebenaran sendiri terdiri dari 2 jenis, yaitu Paramatha-sacca atau Kebenaran Mutlak (Absolute) dan Sammuti-sacca atau Kebenaran Relatif.
Paramatha-sacca atau Kebenaran Mutlak adalah Kebenaran yang harus memiliki kriteria sebagai berikut:
Harus benar (apa adanya)
Tidak terikat oleh waktu, baik waktu dulu, sekarang dan waktu yang akan datang, kebenaran ini tetap ada dan tidak berubah ataupun berbeda.
Tidak terikat oleh tempat, baik di suatu tempat atau di tempat lain, di Indonesia atau di planet Mars, kebenaran ini ada dan tidak berubah ataupun berbeda.
Sammuti-sacca atau Kebenaran Relatif adalah Kebenaran yang masih terikat dengan waktu dan tempat. Kebenaran ini hanya ada berlaku di tempat tertentu dan waktu tertentu.
Dalam ajaranNya, Guru Buddha mengajarkan 2 jenis Dhamma, yaitu yang bersifat Paramatha-sacca dan yang bersifat Sammuti-sacca.
EMPAT KEBENARAN ARYA
(Cattari Ariya Saccani)
Di Taman Rusa Isipatana, pada bulan Asalha, ketika untuk pertama kalinya Guru Buddha membabarkan Dhamma, dalam Dhammacakkappavattana Sutta; Samyutta Nikaya 56.11 {S 5.420} , Guru Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya Saccani) kepada Lima Bhikkhu Pertama (Panca Vaggiya Bhikkhu).
Kebenaran Ariya tentang Dukkha
(Dukkha Ariya Sacca)
Guru Buddha bersabda, “Sekarang, O, para bhikkhu, Kebenaran Ariya tentang Dukkha, yaitu : kelahiran adalah dukkha, usia tua adalah dukkha, penyakit adalah dukkha, kematian adalah dukkha, sedih, ratap tangis, derita (badan), dukacita, putus asa adalah dukkha; berkumpul dengan yang tidak disenangi adalah dukkha, berpisah dari yang dicintai adalah dukkha, tidak memperoleh apa yang diinginkan adalah dukkha. Singkatnya Lima Kelompok Kemelekatan merupakan dukkha.”
Definisi
Kata ”dukkha” yang berasal dari bahasa Pali, sukar sekali untuk diwakilkan secara tepat oleh satu kata dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris karena memiliki makna yang dalam. Secara etimologi berasal dari kata ”du” yang berarti sukar dan kata ”kha” yang berarti dipikul, ditahan. Jadi kata ”du-kha” berarti sesuatu atau beban yang sukar untuk dipikul. Pada umumnya dukkha dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai penderitaan, ketidakpuasan, beban.
Tiga Bentuk Dukkha
Dalam Dukkhä Sutta; Samyutta 38.14 {S 4.259}, Y.A Sariputta menjelaskan adanya tiga bentuk dukkha kepada Jambukhadika, “ Ada tiga bentuk dari dukkha, sahabatKu, yaitu : dukkha-dukkhä, viparinäma-dukkhä, sankhärä-dukkhä. Inilah tiga bentuk dukkha.”
dukkha-dukkhä
adalah ketidakpuasan atau penderitaan yang alami dan dirasakan tubuh dan bathin, seperti sakit jantung, sakit kepala, perasaan sedih karena berpisah dengan yang dicintai, kegagalan dalam usaha, sebagainya.
viparinäma-dukkhä
adalah ketidakpuasan atau penderitaan yang tidak lepas dari adanya perubahan, seperti kondisi perasaan bahagia, yang dirasakan cepat atau lambat akan mengalami perubahan.
sankhärä-dukkhä
adalah ketidakpuasan atau penderitaan yang berhubungan dengan Lima Kelompok Kemelekatan (Panca Khanda), seperti perasaan susah karena tidak dapat menikmati makanan enak yang dipicu karena adanya indera pengecap yang merupakan salah satu dari Lima Kelompok Kemelekatan (Panca Khanda).
Kebenaran Ariya tentang Asal Mula Dukkha
(Dukkha Samudaya Ariya Sacca)
Guru Buddha bersabda, “Sekarang, O, para bhikkhu, Kebenaran Ariya tentang Asal Mula Dukkha, yaitu : Ketagihan (tanhâ) yang menyebabkan tumimbal lahir, disertai dengan hawa nafsu untuk menemukan kesenangan di sana sini, yaitu kamatanhâ : ketagihan akan kesenangan indria, bhavatanhâ : ketagihan akan penjelmaan, vibhavâtanhâ : ketagihan untuk memusnahkan diri.”
Pada bagian ini Guru Buddha menjelaskan bahwa sumber dari dukkha atau penderitaan adalah tanhâ, yaitu nafsu keinginan yang tidak ada habis-habisnya. Tanha dapat diibaratkan seperti candu atau opium yang menimbulkan dampak ketagihan bagi yang memakainya terus-menerus, dan semakin lama akan merusak fisik maupun mental si pemakai. Tanha juga dapat diibaratkan seperti air laut yang asin yang jika diminum untuk menghilangkan haus justru rasa haus tersebut semakin bertambah.
Ada tiga bentuk tanhä, yaitu :
1.Kämatanhä : adalah ketagihan akan kesenangan indriya, ialah ketagihan akan :
a. bentuk-bentuk (indah)
b. suara-suara (merdu)
c. wangi-wangian
d. rasa-rasa (nikmat)
e. sentuhan-sentuhan (lembut)
f. bentuk-bentuk pikiran
2.Bhavatanhä : adalah ketagihan untuk lahir kembali sebagai manusia yang berdasarkan pada kepercayaan yang mengatakan tentang adanya “atma (roh) yang kekal dan terpisah” (attavada).
3.Vibhavatanhä : adalah ketagihan untuk memusnahkan diri, yang berdasarkan kepercayaan yang mengatakan bahwa setelah manusia meninggal maka berakhirlah segala riwayat tiap-tiap manusia (ucchedaväda).
Kebenaran Ariya tentang Terhentinya Dukkha
(Dukkha Nirodha Ariya Sacca)
Guru Buddha bersabda, “Sekarang, O, para bhikkhu, Kebenaran Ariya tentang Terhentinya Dukkha, yaitu : terhentinya semua hawa nafsu tanpa sisa, melepaskannya, bebas, terpisah sama sekali dari ketagihan tersebut.”
Pada bagian ini Guru Buddha menjelaskan bahwa dukkha bisa dihentikan yaitu dengan cara menyingkirkan tanhä sebagai penyebab dukkha. Ketika tanhä telah disingkirkan, maka kita akan terbebas dari semua penderitaan (bathin). Keadaan ini dinamakan Nibbana.
Dalam Itivuttaka 44; Khuddaka Nikaya, Guru Buddha menjelaskan bahwa terdapat 2 elemen/jenis Nibbana, yaitu :
Sa-upadisesa-Nibbana
Nibbana masih bersisa. Yang dimaksud dengan bersisa di sini adalah masih adanya Lima Khanda. Ketika Petapa Gotama mencapai Penerangan Sempurna dan menjadi Buddha, Beliau dikatakan telah dapat mencapai Sa-upadisesa-Nibbana tetapi masih memiliki Lima Khanda (jasmani, kesadaran, bentuk pikiran, pencerapan dan perasaan). Sa-upadisesa-Nibbana juga dapat dikatakan sebagai kondisi batin (state of mind) yang murni, tenang, dan seimbang.
An-upadisesa-Nibbana
Nibbana tanpa sisa. Setelah meninggal dunia, seorang Arahat akan mencapai anupadisesa-nibbana, ialah Nibbana tanpa sisa atau juga dinamakan Pari-Nibbana, dimana tidak ada lagi Lima Khanda (jasmani, kesadaran, bentuk pikiran, pencerapan dan perasaan), tidak ada lagi sisa-sisa dan sebab-sebab dari suatu bentuk kemunculan. Sang Arahat telah beralih ke dalam keadaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Hal ini dapat diumpamakan dengan padamnya api dari sebuah pelita, kemanakah api itu pergi ? Hanya satu jawaban yang tepat, yaitu ‘tidak tahu’. Ketika Guru Buddha mangkat/wafat, Beliau dikatakan telah mencapai anupadisesa-nibbana.
Kebenaran Ariya tentang Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha
(Dukkha Nirodha Ariya Sacca)
Guru Buddha bersabda, “Sekarang, O, para bhikkhu, Kebenaran Ariya tentang Jalan yang menuju terhentinya Dukkha, tiada lain adalah Jalan Suci Berunsur Delapan, yaitu : Pengertian Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar, Konsentrasi Benar.”
Pada bagian ini Guru Buddha menjelaskan bahwa ada Jalan atau Cara untuk menghentikan dukkha.
Jalan Menuju Terhentinya Dukkha dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu :
Kebijaksanaan (Panna)
Pengertian Benar (sammä-ditthi)
Pikiran Benar (sammä-sankappa)
Kemoralan (Sila)
Ucapan Benar (sammä-väcä)
Perbuatan Benar (sammä-kammanta)
Pencaharian Benar (sammä-ajiva)
Konsentrasi (Samädhi)
Daya-upaya Benar (sammä-väyäma)
Perhatian Benar (sammä-sati)
Konsentrasi Benar (sammä-samädhi)
Demikianlah Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya Saccani) yang tidak dapat dipisahkan antara Kebenaran yang satu dengan Kebenaran yang lainnya. Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya Saccani) bukanlah ajaran yang bersifat pesimis yang mengajarkan hal-hal yang serba suram dan serba menderita. Dan juga bukan bersifat optimis yang hanya mengajarkan hal-hal yang penuh harapan, tetapi merupakan ajaran yang realitis, ajaran yang berdasarkan analisa yang diambil dari kehidupan di sekitar kita.
JALAN MULIA BERUNSUR DELAPAN
(Ariya Atthangiko Magga)
Dalam Dhammacakkappavattana Sutta; Samyutta Nikaya 56.11 {S 5.420}, Guru Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya Saccani) kepada Lima Bhikkhu Pertama (Panca Vaggiya Bhikkhu), yang di dalamnya terdapat Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha. Jalan itu disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangiko Magga).
Di dalam Jalan ini mengandung unsur sila (kemoralan), samadhi (konsentrasi), dan panna (kebijaksanaan). Berikut pengelompokan unsur yang terkandung di dalamnya:
Pañña
1. Pengertian Benar (sammâ-ditthi)
2. Pikiran Benar (sammâ-sankappa)
Sila
3. Ucapan Benar (sammâ-väcä)
4. Perbuatan Benar (sammâ-kammanta)
5. Pencaharian Benar (sammâ-ajiva)
Samâdhi
6. Daya-upaya Benar (sammâ-vâyama)
7. Perhatian Benar (sammâ-sati)
8. Konsentrasi Benar (sammâ-samâdhi)
TIGA CORAK KEHIDUPAN
(Tilakkhana)
“Sabbe sankhara anicca`ti. Yada pannaya passati; atha nibbindati dukkhe. Esa maggo visuddhiya.”
Segala sesuatu yang berkondisi adalah anicca. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini; maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.
(Dhammapada 277)
“Sabbe sankhara dukkha`ti. Yada pannaya passati; atha nibbindati dukkhe. Esa maggo visuddhiya.”
Segala sesuatu yang berkondisi adalah dukkha. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.
(Dhammapada 278)
“Sabbe dhamma anatta`ti. Yada pannaya passati; atha nibbindati dukkhe. Esa maggo visuddhiya.”
Segala sesuatu yang berkondisi dan tidak berkondisi adalah anatta. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.
KAMMA
(Perbuatan)
Dua Jenis Kamma Berdasarkan Sifatnya
Ada dua jenis kamma (perbuatan) berdasarkan sifatnya, yaitu:
Kamma Buruk/Jahat (perbuatan buruk/jahat) atau disebut dengan Akusala Kamma.
yaitu, kamma (perbuatan) yang didasari oleh pikiran yang diliputi oleh dosa (kebencian), lobha (keserakahan), dan moha (kebodohan batin). Contoh: membunuh, mencuri, berbohong, mabuk-mabukan, dan sebagainya.
Kamma Baik (perbuatan baik) atau disebut dengan Kusala Kamma.
yaitu, kamma (perbuatan) yang didasari oleh pikiran yang diliputi oleh adosa (ketidakbencian), alobha (ketidakserakahan), dan amoha (ketidakbodohan batin). Contoh: berdana, menolong makhluk yang kesukaran, berkata jujur, bermeditasi, dan sebagainya.
TIGA AKAR KEJAHATAN
(Ti Akusalamula)
Demikian telah dikatakan oleh Sang Buddha …
“Wahai para bhikkhu, ada tiga akar kejahatan.”
“Apakah tiga akar itu?”
“Akar kejahatan keserakahan (lobha), akar kejahatan kebencian (dosa), dan akar kejahatan kebodohan batin (moha). Itulah ketiganya.”
Keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, yang muncul dari dalam dirinya, akan merugikan orang yang berpikiran jahat, seperti buah bambu menghancurkan tumbuhnya pohon itu sendiri. (Itivuttaka 3.1; Khunddaka Nikaya)
Lobha adalah kemelekatan yang sangat terhadap sesuatu sehingga membuat pikiran selalu merasa lapar, serakah serta tidak puas dengan apa yang telah dimiliki.
Dosa adalah penolakan yang sangat terhadap sesuatu sehingga membuat pikiran selalu emosi, kesal dan penuh dengan kebencian.
Moha adalah kebodohan batin, yaitu tidak dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang baik.
Dari ketiga akar kejahatan inilah seseorang berbuat jahat.
oke, kira-kira inti ajaran agama buddha sudah dapat kita ketahui
AGAMA KRISTEN
Agama Kristen adalah sebuah kepercayaan yang berdasar pada ajaran, hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus atau Isa Almasih. Agama ini meyakini Yesus Kristus adalah Tuhan dan Mesias, juru selamat bagi seluruh umat manusia, yang menebus manusia dari dosa. Mereka beribadah di gereja dan Kitab Suci mereka adalah Alkitab. Murid-murid Yesus Kristus pertama kali dipanggil Kristen di Antiokia (Kisah Para Rasul 11:26).
Agama Kristen termasuk salah satu dari agama Abrahamik yang berdasarkan hidup, ajaran, kematian dengan penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan Yesus dari Nazaret ke surga, sebagaimana dijelaskan dalam Perjanjian Baru, umat Kristen meyakini bahwa Yesus adalah Mesias yang dinubuatkan dalam dari Perjanjian Lama (atau Kitab suci Yahudi). Kekristenan adalah monoteisme, yang percaya akan tiga pribadi (secara teknis dalam bahasa Yunani hypostasis) Tuhan atau Tritunggal. Tritunggal dipertegas pertama kali pada Konsili Nicea Pertama (325) yang dihimpun oleh Kaisar Romawi Konstantin I.
Pemeluk agama Kristen mengimani bahwa Yesus Kristus atau Isa Almasih adalah Tuhan dan Juru Selamat, dan memegang ajaran yang disampaikan Yesus Kristus. Dalam kepercayaan Kristen, Yesus Kristus adalah pendiri jemaat (gereja) dan kepemimpinan gereja yang abadi (Injil Matius 18: 18-19)
Umat Kristen juga percaya bahwa Yesus Kristus akan datang pada kedua kalinya sebagai Raja dan Hakim akan dunia ini. Sebagaimana agama Yahudi, mereka menjunjung ajaran moral yang tertulis dalam Sepuluh Perintah Tuhan.
Ajaran kristen adalah:
Teks Sepuluh Perintah Allah
20:1Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:
20:2″Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.
20:3Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
20:4Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
20:5Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,
20:6tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.
20:7Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
20:8Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:
20:9enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,
20:10tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.
20:11Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.
20:12Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
20:13Jangan membunuh.
20:14Jangan berzina.
20:15Jangan mencuri.
20:16Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
20:17Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”
Kotbah di Bukit adalah kotbah Yesus yang paling terkenal yang tercatat di dalam Injil Matius
Ucapan bahagia (Matius 5:1-12)
Perumpamaan garam dunia dan terang dunia (Matius 5:13-16)
Orang Kristen harus menjadi garam yang memberi rasa dan terang yang menyinari dunia
Yesus dan hukum Taurat (Matius 5:17-48)
Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat; siapa yang marah kepada saudaranya harus dihukum; berdamailah dengan lawanmu; siapa yang memandang perempuan serta menginginkannya sudah berzinah; siapa yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah menjadikan isterinya berzinah; jangan bersumpah demi apapun; jangan melawan orang yang berbuat jahat kepadamu; kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu; dan ajaran-ajaran lainnya
Hal memberi sedekah (Matius 6:1-4)
Jangan memberi sedekah seperti orang munafik (supaya dipuji), “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” (6:3)
Hal berdoa (Matius 6:5-15)
Jangan berdoa seperti orang munafik (supaya dilihat orang) ataupun bertele-tele (banyak kata-katanya supaya dikabulkan), “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (6:6)
Doa Bapa Kami (6:9-13)
Jika kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni kesalahan orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.
Hal berpuasa (Matius 6:16-18)
Jangan berpuasa seperti orang munafik (dengan muka muram, supaya orang melihat mereka sedang berpuasa), “Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (6:17-18)
Hal mengumpulkan harta (Matius 6:19-24)
Jangan mengumpulkan harta di bumi, “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga. … Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (6:20-21)
Orang tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (dewa kekayaan - yang dilambangkan dengan cinta akan uang)
Hal kekuatiran (Matius 6:25-34)
Jangan kuatir akan hidupmu, makanan atau minuman atau pakaian, karena hidup itu lebih penting dari pada semuanya, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (6:33)
Hal menghakimi (Matius 7:1-5)
Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
Hal yang kudus dan berharga (Matius 7:6)
Jangan memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan melmparkan mutiaramu kepada bagi, supaya jangan diinjak-injak, lalu ia berbalik mengoyak kamu.
Hal pengabulan doa (Matius 7:7-11)
“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (7:7)
Jalan yang benar (Matius 7:12-14)
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (7:12)[1]
Hal pengajaran yang sesat (Matius 7:15-23)
Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu; dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.
Dua macam dasar (Matius 7:24-27)
Kesan pendengar (Matius 7:28-29)
“Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaranNya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahil-ahli Taurat mereka.”
Ucapan Berbahagia adalah bagian dari kotbah Yesus di bukit yang isinya mengandung nasihat tentang arti kebahagiaan yang sejati. Kotbah di Bukit yang disampaikan oleh Yesus terdapat dalam kitab Matius
Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.
”
[sunting] Lukas 6:20-26
“ Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata:
Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.
Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.
Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.
Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.
Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.
Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”
Hukum Kasih atau Hukum yang terutama adalah inti ajaran Yesus Kristus yang terdapat pada ketiga Injil Sinoptik: Matius 22:37-40, Markus 12:28-34, dan Lukas 10:25-28.
Hukum ini diungkapkan Yesus ketika ada orang-orang Farisi yang ingin mencobai Yesus dan menanyakan “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Matius 22:36)
“Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Perintah untuk memberitakan Injil atau yang sering disebut dengan Amanat Agung Yesus Kristus adalah perintah Yesus yang terakhir yang ditulis di Matius 28:19-20.
Perintah ini diberikan setelah kebangkitan Yesus dan kesebelas murid Yesus berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika mereka melihat Dia mereka menyembahnya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Kemudian Yesus mendekati mereka dan berkata: “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.”
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Agama Islam
inti sari ajaran agama islam
inti sari ajaran agama islam sangat susah diambil karena sangat gampang ditafsir sesukanya. karena kata-kata dalam alquran sangat banyak kecacatan sehingga ditafsir dengan beragam cara yang akhirnya menimbulkan perbedaan paham. itulah bukti islam tidak mampu mengikuti perkemangan dan kemajuan akan dunia.
inti ajaran mereka adalah:
SUMBER AJARAN ISLAM: AL-QUR’AN
Al-Qur’an Sumber Rujukan
Fungsi al-Qur’an bagi manusia: sebagai huda, bayyinat min al-huda, furqan dan adz-dzikr.
Untuk itu, umat Islam harus menjadikan al-Qur’an sebagai compass dalam hidupnya di setiap aspek kehidupan.
Dalam rangka membumikan al-Qur’an diperlukan adanya tafsir oleh para pakar tafsir (mufassir) sebab kandungan al-Qur’an masih bersifat global yang bagi orang awam masih sulit menangkap maksud (pesan) yang terkandung di dalamnya. Hal ini terjadi karena tidak semua individu muslim mampu memahami ‘bahasa langit’, karena itu diperlukan Hermes-hermes yang bisa menghubungkan dengan bahasa bumi.
Alasan Perlunya Tafsir
Secara eksplisit ada perintah untuk menyimak dan memahami ayat-ayat-Nya, “Apakah mereka tidak menyimak al-Qur’an? Kalau sekiranya al-Qur’an itu bukan berasal dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan di dalamnya.” [QS. Al-Nisa (4): 82]. Ayat lain, “Maka apakah mereka tidak menyimak al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci” [QS. Muhammad (47): 24].
Secara implisit upaya mencari penafsiran ayat-ayat al-Qur’an, bahwa ia diturunkan oleh Allah untuk menjadi petunjuk [QS. Al-Baqarah (2): 2,97,185; QS. Ali ‘Imran (3): 3,138] dan rahmat [QS. Al-A’raf (7): 51,203; QS. Yunus (10): 57] bagi manusia selaku individu maupun kelompok masyarakat (collective). Agar tujuan ini terwujud dengan baik, maka al-Qur’an yang umumnya berisi konsep dan prinsip pokok yang belum terjabarkan, aturan-aturan yang mansih bersifat umum perlu dijelaskan, dijabarkan dan diaktualisasikan agar dapat dengan mudah diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat.
Susunan al-Qur’an yang tidak sistematis sehingga perlu penafsiran dan penggalian terhadap makna ayat-ayatnya yang tidak pernah berakhir (unending task). Jelasnya, selalu diperukan reaktualisasi nilai-nilai al-Qur’an sesuai dengan dinamika masyarakat. Di sinilah letak ke-universalitas-an al-Qur’an.
Faktor Penyebab Keragaman Tafsir
perbedaan kecenderungan, interest, motivasi mufassir,
perbedaan misi yang diemban,
perbedaan kedalaman (capasity) dan ragam ilmu yang dikuasai,
perbedaan masa dan lingkungan yang mengitari, perbedaan situation-condition,
semua itu menimbulkan berbagai corak penafsiran yang kemudian berkembang menjadi aliran tafsir yang beragam dengan metodenya sendiri-sendiri.
Bagaimana al-Qur’an Berbicara?
Al-Qur’an merupakan respons langit terhadap permasalahan bumi. Ia diturunkan Allah via Muhammad saw sebagai jawaban terhadap problem vertikal [penyimpangan tauhid], dan problem horisontal [penyimpangan sosial, seperti penindasan, ketidakadilan, dan eksploitasi ekonomi]. Rasulullah diutus dalam rangka mendialogkan kedua bahasa yang sangat berbeda itu, yakni bahasa langit (absolut) dengan bahasa bumi yang relatif. Sosok Muhammad sama kedudukannya dengan Hermes dalam mitologi Yunani yang menghubungkan bahasa Dewa dengan manusia. Dalam diri Muhammad ada intervensi wahyu Tuhan. Kandungan al-Qur’an berlaku sepanjang zaman dan makan, meskipun secara lafdziyyah ia banyak menggunakan terma yang familiar di Jazirah Arab [al-’ibrah bi-’umumi lafdz, la bi-khusus al-sabab].
Metode Penafsiran
Terma metode dalam bahasa Arab berkaitan dengan istilah thariqah, manhaj, ittijah dan lawn.
Menurut Hans Wehr thariqah (jamak: thara’iq) berarti cara (manner), mode, alat (means), jalan (way), metode (method), prosedur (procedure) dan sistem (system); manhaj (jamak: manahij) berarti terbuka (open), dataran (plain), jalan mudah-tol (easy road), cara (manner), prosedur (procedure), metode (method) dan program (programme); ittijah (jamak: ittijahat) berarti arah (direction), kecenderungan/kecondongan (inclination), aliran (trend) orientasi (orientation), tendency dan course; dan lawn (jamak: alwan) berarti warna (color), mewarnai (coloring, tinge), corak (hue), macam (kind) dan contoh (sample).
Kata thariqah dan manhaj mempunyai pengertian sama yaitu metode, sedangkan kata ittijah berarti kecenderungan dan arah, dan kata lawn lebih bermakna corak dan warna
Dalam penerapannya di bidang penafsiran contoh manhaj dan thariqah adalah metode tahlily, muqarin, ijmaly dan mawdlu’y.
Sedangkan ittijah berarti arah atau kecenderungan seorang mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an misalnya seorang faqih cenderung menafsirkan ayat al-Qur’an ke arah fiqh. Seorang filosof ke arah filsafat, dan seterusnya.
Adapun lawn dalam penafsiran berartoi corak, warna dan macam dari penafsiran itu sendiri, misalnya seorang filosof tentu saja dalam menafsirkan suatu ayat Al-Qur’an lebih banyak diwarnai dengan penggunaan corak rasio, seorang sufi akan menafsirkan ayat al-Qur’an dengan corak tasawwuf. Argumen-argumen yang digunakan masing-masing mufassir akan menentukan corak tafsirannya
Metode Tahlily
Tafsir dengan metode tahlily adalah tafsir yang berusaha untuk menerangkan arti ayat-ayat al-Qur’an dari berbagai seginya, berdasarkan urutan-urutan ayat atau surah dalam mushhaf, dengan menonjolkan kandungan lafadz-lafadznya, hubungan ayat-ayatnya, hubungan surah-surahnya, sebab-sebab turunnya, hadis-hadis yang berhubungan dengannya, pendapat-pendapat para mufassir terdahulu dan mufassir itu sendiri yang tentunya diwarnai oleh latar belakang pendidikan dan keahliannya.
Metode tahlily banyak dipergunakan oleh ulama pada masa-masa dahulu, akan tetapi di antara mereka ada yang mengemukakan kesemua hal tersebut di atas dengan panjang lebar (ithnab), seperti al-Alusy, al-Fakhr al-Razy, al-Qurthuby, dan Ibn Jarir al-Thabary; ada yang mengemukakannya dengan singkat (ijaz), seperti Jalal al-Din al-Suyuthy, Jalal al-Din al-Mahally dan as-Sayid Muhammad Farid Wajdy; dan ada pula yang mengambil langkah pertengahan (musawah), tidak ithnab dan tidak pula ijaz, seperti Imam al-Baidlawy, Syaikh Muhammad ‘Abduh, al-Naisabury dll. Sekalipun mereka sama-sama menafsirkan al-Qur’an dengan metode tahlily, akan tetapi corak atau warna tahlily masing-masing berbeda.
Corak Metode Tahlily
l Tafsir bi’l-ma’tsur
l Tafsir bi’l-ra’y
l Tafsir bi’l-fiqhy
l Tafsir bi’l-shufy
l Tafsir bi’l-falsafy
l Tafsir bi’l-’ilmy
l Tafsir bi’l-adaby-ijtima’y
Tafsir bil-Ma’tsur
Tafsir ma’tsur adalah menafsirkan al-Qur’an berdasarkan nash-nash, baik dengan ayat-ayat a-Qur’an sendiri, dengan hadis-hadis Nabi, dengan aqwal (perkataan) sahabat, maupun dengan aqwal tabiin. Pendapat (aqwal) tabiin masih kontroversi dimasukkan dalam tafsir bil Ma’tsur sebab para tabiin dalam memberi penafsiran ayat-ayat al-Qur’an tidak hanya berdasarkan riwayat yang mereka kutip dari Nabi lewat sahabat tetapi juga memasukkan ide-ide dan pemikiran mereka (melakukan ijtihad).
Tafsir ma’tsur yang paling tinggi peringkatnya adalah tafsir yang bersandarkan ayat Al-Qur’an yang ditunjuk oleh Rasulullah. Peringkat kedua adalah tafsir ayat dengan hadis. Di bawahnya adalah tafsir ayat dengan aqwal sahabat dan peringkat terakhir adalah tafsir ayat dengan aqwal tabiin
Kelebihan: keterbatasan dari interpretasi akal dan ide mufassir serta adanya kemudahan untuk mengetahui maksud sesuatu ayat. Apalagi tafsir ayat dengan ayat berdasarkan petunjuk Rasulullah yang tentunya memiliki tingkat validitas yang sangat tinggi, sesudah itu adalah Rasul sebagai mufasir pertama dan utama dari Al-Qur’an.
Kelemahan: terbatasnya persediaan riwayat yang merupakan tafsir ayat-ayat Al-Qur’an sehingga tidak terlalu banyak diharapkan untuk menjawab berbagai problema yang dihadapi masyarakat dari masa ke masa. Selain itu hadis-hadis yang ada pun masih memerlukan pneltian yang cermat untuk mengetahui kadar kesahihannya. Antara lain banyak riwayat demikian bercampur dengan israiliyat, suatu noda yang menonjol pada jenis tafsir ini.
Contoh kitab tafsir ma’tsur : Jami al-Bayan fi Tafsiri Al-Qur’an karangan Imam Ibn Jarir al-Thabary (w. 510 H), Ma’alim al-Tanzil yang terkenal dengan Al-Tafsir bi al-Manqul karangan Imam al-Baghawy (w. 516 H), Al-Durr al-Mantsur fy al-Tafsir bi al-Ma’tsur, karya Jalal al-Din al-Suyuthy (w. 911 H), Tanwir al-Miqyas min Tafsir Ibn Abbas, karangan al-Fayruz Abady, Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim karya Abu al-Fida’ Ismail Ibn Katsir (w. 774) dan Al-Bahr karangan Al-‘Allamah Abu al-Layts al-Samarqandy.
Tafsir bir-Ra’yi
Tafsir ra’y adalah tafsir ayat-ayat al-Qur’an yang didasarkan pada ijtihad mufasirnya dan menjadikan akal fikiran sebagai pendekatan utamanya.
Menurut Adz-Dzahaby, syarat-syarat diterimanya tafsir ra’y yaitu, bahwa penafsirnya: a) benar-benar menguasai bahasa Arab dengan segala seluk beluknya, b) mengetahui asbabun nuzul, nasikh mansukh, ilmu qiraat dan syarat-syarat keilmuan lain, c) tidak menginterpretasikan hal-hal yang merupakan otoritas Tuhan untuk mengetahuinya, d) tidak menafsirkan ayat-ayat berdasarkan hawa nafsu dan interes pribadi, e) tidak menafsirkan ayat berdasarkan aliran atau paham yang jelas bathil dengan maksud justifikasi terhadap paham tersebut, f) tidak menganggap bahwa tafsirnya itulah yang paling benar dan yang dikehendaki oleh Tuhan tanpa argumentasi yang pasti.
Tafsir ra’y yang tertolak karena tidak memenuhi kriteria di atas disebut al-tafsir bi al-ra’y al-madzmumah dan yang memenuhi tersebut al-tafsir bi al-ra’y al-mahmudah.
Contoh kitab-kitab tafsir ra’y antara lain: al-Tafsir al-Kabir Mafatih al-Ghaib karangan Al-Ustadz al-Fakhr al-Razi (w. 606 H), Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil karya Al-Ustadz Al-Baidhawy (w. 691 H), Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta’wil karangan Al-Ustadz Mahmud al-Nasafy (w. 701 H), Lubab al-Ta’wil fy Ma’any al-Tanzil karangan Al-Ustadz Al-Khazin, Irsyad al-‘Aql al-Salim ila Mazaya al-Kitab al-Karim oleh Abu Su’ud (w. 982) dan Al-Kasyaf oleh Mahmud bin Umar al-Zamakhsari (w. 538 H).
Tafsir bish-Shufy
Comment by Cornellis Yo. — December 15, 2009 @ 2:19 am
Thanks Alice,
aku setuju dan bukan itu saja yg terjadi. Kesaksianku yg lain, kakekku setelah berumur 75 tahun dan mendekati ajalnya berpesan agar saat meninggal nanti agar di aben dan agar di diselesaikan oleh Pedanda. Tentu saja ayahku sangat kaget mendengar ini, padahal tidak satupun tempat tinggal kami berbau hindu. Kakek ku sendiri sudah merubah sanggah tempat leluhur kami sembahyang menjadi tempat kandang ayam.Dion dan Michael kedua adik ku sudah mengkristal iman Kristennya. Sesuatu yg mustahil utuk menuruti pesan terakhir kakek kami karena kami sekeluarga sudah jauh dari sentuhan Hindu. Namun karena ini adalah amanah orang tua, kami membawa kakek kami ke sumbawa besar, disana masih ada tinggal keluarga yg masih Hindu dengan tujuan mereka bisa mengurus kematian kakek kami. Tiap bulan kami pulang pergi ke sumbawa dan akhir bulan July lalu, saat kakek kami kritis di rumah sakit Islam sumbawa, kembali ia berpesan agar semua keluarga kembali memeluk Hindu…sungguh membingungkan dan membaca comentar Alice di atas, mungkin kami orang Bali ditakdirkan ber agama Hindu.
Comment by Alice — December 23, 2009 @ 9:21 pm
wah apa bener begitu
Comment by Sion — December 23, 2009 @ 9:25 pm
Ini alice Talica atau Batunggu?
Comment by sion — December 24, 2009 @ 12:21 am
Masyrakat Bali yg notabene beragama Hindu memiliki bentangan sejarah yg panjang. Bermula dari Jawa yg kemudian mecari tanah baru dibagiun timur ujung pulau jawa karena tidak sudi masuk Islam. Di Bali sejak belanda menginjakkan kakinya sudah ada pula upaya untuk megganti Hindu menjadi Kristen, berbagai cara dan upaya telah dilakukan, namun usaha itu kecil hasilnya.
Bali yg Hindu dan sisa Jawa yg Hindu merupakan ladang subur bagi misionaris untuk menebarkan injil. Tunas tunas itu ada yg tumbuh dan ada juga yg mati baik d Bali dan Jawa. Usaha usaha yg keras agar percepatan pertumbuhan yg merata, upayapun dilakukan dengan agresive oleh Kristen, mulai dari pebanguan panti asuhan,pembanguna gereja disan sini, pemberian sumbangan ke desa desa miskin tertinggal. Siaran radio dan media cetak galang kangin dan juga mengundang Peter Yongren yg berkedonk mengobati orang sakit. Mereka ingin menumbuhkan jiwa jiwa baru menyebar keseluruh pelosok pelosok di bali.
Sangat jelas terlihat upaya upaya Kristen di Bali, contohnya saat Peter Yongren menyembuhkan orang sakit di lapangan denpasar justru yg disembuhkan seorang Pemangku -pelayan Hindu di Pura yg kemudian memaksa pemangku itu mengakui dirinya sembuh berkat SangHyang Yesus. Jelas sekali ini misionaris biadab dan kurang ajar yg melecehkan pelayan Tuhan di Pura. Disamping itu banyak sekali penginjil dor to dor mendatangi rumah rumah orang bali Hindu dan meberikan ceramah sambil menyodorkan buku. Bapak dan Ibu sudah berumur, saatnya mencari juru selamat - dan hanya Yesus yg akan menyelamtkan manusia. Ini kebangetan kurang ajarnya! saya sering menyampaikan issue ini ke Department agama, ternyata bukan saya sendiri yg jengkel dan beringas dengan upaya Kristen ini, ternyata pemuda Hindu di banjar banjar sudah mulai menanam bibit kebencian terhadap Kristen di bali, pelajar, mahasiswa, karyawan sudah banyak yg membicarakan hal ini. Tinggal menunggu meletus, ibarat api dalam skam. Saya tidak menyalahkan umat islam di daerah Indonesai melakukan pembakaran gereja, Islam kan lebih radikal, kalau orang bali masih terlihat toleransinya dan santai santai sj, bahkan diinjak injak, ada pendeta yg mengatakan akan mendirikan pelinggih sang hyang Yesus di Tanah lot, ada yg mengatan mata hati orang bali dibutakan oleh setan dan memohon agar Yesus membebaskan orang Bali dari belunggu itu. Ada kotbah pendeta kristen yg terang terangan mengqtakan untuk apa memberikan Tuhan saji bebantenan krn itu sebenarnya untuk setan. Ada yg jelas jelas mengatakn jangan sekali kali memakan buah buahan dan makanan yg sudah di persembahkan di pura, semua ini terang terangan sangat mengarah ke Hindu. Sungguh luar biasa kesabaran orang Bali yg 98% hindu mendiami pulau ini dengan umapatn dan hinaan Kristen Bali ini.
Tapi saya yakin lambat atau cepat akan terjadi benturan di bali, sekarang memang masih adem, mendengar akan dibagun nya lagi beberapa gereja di Bali, pemuda Bali sudah mulai menaruh rasa tidak senang, terlhat juga ketidak senangan pada orang Bali yg kemudain diketahui beragama Kristen.
Comment by Gede Daru — December 26, 2009 @ 2:01 am
inti sari ajaran agama islam sangat susah diambil karena sangat gampang ditafsir sesukanya. karena kata-kata dalam alquran sangat banyak kecacatan sehingga ditafsir dengan beragam cara yang akhirnya menimbulkan perbedaan paham. itulah bukti islam tidak mampu mengikuti perkemangan dan kemajuan akan dunia
Wah hebat kamu Cornelis, kamu mengalihkan perhatian agar orang Bali tidak benci Kristen di Bali?? Injil paling benar? Al Quran cacat?
Saudara saudara Bali Hindu, jangan perhatian saudara saudara dialihkan oleh Cornelis Yo ini… saya mendengar juga orang Bali Hindu tidak simpati dengan upaya upaya Kristenisasi di Bali. Tidak ada dalam sejarah islan di Indonesia akan ke Bali menyebarkan Islam, karena kami tau sejarah, hanya upaya Kristen saja gencar di Bali. Semua orang dijanjikan juru selamat, kenapa Kristen tidak menyelamatkan orang orang kristen sendiri yg masih melarat? di NTT, irian jaya tuh lihat pake mata, bagaimana kehidupan mereka. Kenapa orang Bali kamu kasih pencerahan yg tidak jelas, orang bali itu sudah paham agama, hidup mereka diselamatkan oleh perbuatan mereka sendiri mirip dengan islam berpacu mencari pahala,usaha keras kalau mau selamat!! buktinya secara ekonomy di indenesia orang bali hindu sangat bagus. Baca itu cooment dari Bapak Harry C sangat jelas hakekat hidup orang hindu. sok tau menyamapaikan pokok agama orang lain. Tai kambing Kamu!!!
Comment by Dede Mokoginta — December 26, 2009 @ 2:34 am
saya mengenal anda berdua Alice Talica dan Alice Batunggu, saat pelatihan bahasa di sunset road. Tapi anda mungkin lupa atau tidak ingat dengan saya, yg jelas anda pernah datang ke rumah saya saat mengantarkan cd bahasa. Tapi sy tidak menyangka leluhur anda orang bali. Cerita anda di atas juga dialami oleh beberapa teman dekat saya,salah satunya Komang Yuni yg sekarang di water boom. Alice mgk kita bisa ketemuan? rumah saya di Jalan gadung no 4. kita bisa share dgn komang
Comment by Sion — December 28, 2009 @ 9:48 pm
TUHAN MAHA PENIPU
Sadarkah anda bahwa Tuhan yang anda puja adalah raja-diraja-nya penipu? Beliaulah penipu yang ulung, yang tidak pernah gagal. Beliaulah Sang Maha Penipu.
Betulkah Tuhan adalah Maha Penipu? Tentunya orang yang membaca judul dan kalimat diatas akan memiliki dua jenis pandangan berbeda terhadap saya. Pandangan pertama mungkin bernada negatif yang menganggap saya menghina dan menjelek-jelekkan Tuhan. Tapi orang ke dua mungkin akan berpandangan jauh berbeda dengan pandangan pertama, yaitu pandangan yang positif. Orang kedua ini mungkin akan mengatakan bahwa saya sedang mengagung-agungkan Tuhan.
Jika anggapan pertama yang muncul dalam benak anda untuk pertama kalinya yang mengatakan bahwa saya menghina Tuhan, maka saya katakan pengetahuan anda masih perlu di upgrade. Anda masih perlu banyak belajar dan membaca tentang ketuhanan dan keinsafan diri. Tentunya dengan berkata seperti ini saya tidak menganggap bahwa diri saya sudah hebat. Tidak, saya sama sekali tidak hebat dan pintar, hanya saja dalam hal ini saya ada setaraf di atas anda.
Tapi jika dengan membaca judul di atas pikiran anda sudah langsung mengarahkan anda ke hal yang positif bahwa saya sedang mengagungkan Tuhan, maka saya yakin anda adalah orang yang sangat berdedikasi, orang yang sudah dewasa secara spiritual.
Tuhan sendiri menyatakan “Beliau adalah perjudian kamu penipu” dalam Bhagavad Gita 10.36;
dyutam chalayatam asmi tejas tejasvinam aham
jayo ‘smi vyavasayo ‘smi sattvam-sattvavatam aham
Artinya;
Aku adalah perjudian kaum penipu, Aku adalah kemuliaan segala sesuatu yang mulia, Aku adalah kejayaan, Aku adalah petualangan dan Aku adalah kekuatan orang yang kuat.
Penggalan sloka Bhagavad Gita diatas adalah salah satu bagian dari sloka-sloka bab 10 mengenai kehebatan Tuhan Yang Maha Mutlak. Dalam bab ini Sri Krishna menyatakan bahwa beliau adalah sumber dari segala sumber, yang paling berkuasa dari para penguasa, yang paling indah dari segala yang indah dan juga termasuk yang paling buruk diantara yang buruk sebagaimana yang beliau sabdakan dalam Bhagavad Gita 10.36 ini.
Di dunia ini terdapat berbagai jenis teknik tipu menipu, modus penipuan selalu berkembang seiring dengan perkembangan jaman, sehingga tidak heran jika aparat penegak hukum kita selalu ketinggalan satu langkah dari si tukang tipu itu sendiri.
Nah bagaimana halnya dengan Tuhan? Tuhan dapat menipu dengan cara yang lebih hebat dari pada penipu manapun. Kalau Tuhan mau menipu seseorang, maka tidak seorangpun yang mampu melebihi Tuhan dalam penipuannya, oleh karena itu Tuhan tidak pernah dapat ditipu oleh siapapun juga.
Bhagavad Gita 10.4-5 mengatakan;
Buddir jnanam asammohah ksama satyam damah samah
Sukham dukham bhavo ‘bhavo bhayam cabhayam eva ca
Ahimsa samata tustis tapo danam yaso ‘yasah
Bhavanti bhava bhutanam matta eva prthag-vidhah
Artinya;
“Kecerdasan, pengetahuan, kebebasan dari keragu-raguan dan khayalan, pengampunan, kejujuran, pengendalian indria-indria, pengendalian pikiran, kebahagiaan dan dukacita, kelahiran, kematian, rasa takut, kebebasan dari rasa takut, tidak melakukan kekerasan, keseimbangan sikap, kepuasan, kesederhanaan, kedermawanan, kemasyuran dan penghinaan, berbagai sifat tersebut yang dimiliki oleh para mahluk hidup semua diciptakan oleh Aku sendiri”
Bhagavad Gita 10.8;
aham sarvasya prabhavo mattah sarvam pravartate
iti matva bhajante mam budha bhava-samanvitah
Artinya;
“Aku adalah sumber segala dunia rohani dan segala dunia material. Segala sesuatu berasal dari-Ku. Orang bijaksana yang mengetahui kenyataan ini secara sempurna menekuni bhakti kepada-Ku dan menyembah-Ku dengan sepenuh hatinya”
Tuhan adalah sumber dari segala sumber dan sebab dari segala sebab, oleh karena itu Tuhan adalah Maha segalanya. Tuhan Maha Besar dan juga Maha Kecil, Tuhan Maha Menawan dan juga Maha Buruk Rupa, tiada satu kehebatanpun yang dapat kita lampaui dari Beliau. Sehingga dengan menyebut Tuhan Maha Kecil, Maha Buruk, Maha Kotor, Maha Jahat dan juga Maha Penipu adalah hal yang benar dan wajar, tetapi yang tidak wajar itu adalah mindset kita sebagai manusia. Otak kita selalu mengarahkan bahwa Tuhan hanya berkaitan dengan yang baik-baik saja, Otak kita mengarahkan bahwa warna putih identik dengan suci dan karena Tuhan itu suci maka kita sembahyang dengan pakaian putih. Pikiran kita mengatakan bahwa toilet itu kotor, sehingga kita beranggapan bahwa Tuhan tidak ada di Toilet. Apa benar Tuhan tidak ada di toilet? Bukankah Tuhan Maha Segalanya? Bukankah Tuhan Mada Ada? Kalau demikian apa masalahnya kalau Tuhan ada di toilet? Bukankah kalau Tuhan tidak ada di toilet maka kuman-kuman dan jasat renik lainnya tidak akan dapat hidup karena segala sumber hidup berasal dari-Nya? Anda boleh jijik dengan toilet yang kotor, tapi jasat renik yang menggantungkan hidupnya di sana mungkin menganggap toilet itu “sorga” dan memandang piring anda yang bersih sebagai “neraka” bagi mereka.
Oleh karena itu, jawabannya kembali lagi ke awal “Jangan samakan mindset anda dengan mindset Tuhan”
Comment by Oktavianus — December 30, 2009 @ 12:35 am
Aku salut dan sangat menghargai tulisanmu sahabatku. Sejarah gereja tidak hanya sebatas tumpukkan informasi namun lebih penting lagi bagaimana menemukan makna kehidupan dibalik perjalanan lembaran sejarah. Aku berdoa semoga blog ini akan memberkati banyak orang pencinta keluhuran dan kedamaian hidup. Betapapun banyaknya komentar yang rada-rada kontra bahkan terkesan menghujat atas tulisanmu dalam blog ini tentang sejarah gereja di Bali, semua itu wajar karena kita semua sedang mencari kebenaran. Kita semua sebagai pemeluk agama adalah ibarat “orang buta tuli” yang mencoba menggapai harapan untuk tiba di negeri abadi. Agama bagiku seumpama “tongkat penyangga” untuk berjalan diusia senja. Yang penting bukan kualitas tongkatnya, melainkan yakinkah dan maukah kita memegang tongkat itu demi keselamatan kita. Dalam keterbatasan dan kesederhanaanku, aku melanglang mempelajari agama-agama di dunia termasuk kepercayaan-kepercayaan umat manusia yang merindukan kebahagiaan dan kehidupan abadi. Justru dengan semakin mempelajari dan menengok ke dalam ajaran-ajaran yang ada, aku merasa menjadi orang yang sangat kotor, bodoh, lemah dan penuh dosa setta diwarnai kesombongan diri. Realitas batinku ini membuatku menjadi tidak munafik dan antipati terhadap pemeluk agama lain betapapun secara kasat mata ada tulisan dan tafsiran dari ajaran agama pada berbeda. Dalam perenunganku, ternyata agama tidak lebih dari “alat” yang Tuhan inspirasikan kepada manusia untuk dijadikan rambu-rambu lalulintas untuk dapat dan bisa kembali bersatu, manunggal bersamaNya. Agama pada dirinya tidak akan berarti apa-apa bila pemeluknya tidak meyakini kalau Tuhan itu satu-satunya Pencipta, Pemelihara dan mengembalikan segala yang hidup ke asalnya (Bersatu dengan Tuhan kembali). Betapapun baik dan realistis serta relevannya sebuah ajaran agama, namun bila pemeluknya tdk bertobat dan menunjukkan bukti perilaku hidup yang baik, maka agama tetap merupakan sebuah “alat”. Yang penting dalam agama adalah pesan Tuhan kepada umatnya,praktek dan teknis merupakan urutan yang berikutnya. Semoga orang-orang yang membenci sesamanya karena beda agama akan segera menemukan jati dirinya sebagai manusia yang sama-sama berdosa dan seperjalanan menuju kehidupan abadi. Teruslah menulis sahabatku, pantang mundur. Ilmu adalah pengetahuan yang mengilhami kita semua untuk menjadi semakin arif dan bijaksana. Diatas semua itu, hati yang legowo dan berserah kepada Tuhan akan menolong kita untuk mendapatkan manfaat dari setiap karya tulisan yang sederhana atau seburuk apapun. Karena kita percaya bahwa Tuhan sanggup menjadikan segala sesuatu indah dan kebaikkan bagi kita, asal kita percaya padaNya.
Comment by Sudiarta I Wayan, Rev. — January 15, 2010 @ 6:59 pm
Perlu saudara ketahui..sampai sejauh ini, agama atau masyarakat Hindu Bali tidak pernah mengadili dan menghukum para penulis sejarah, tidak pernah membakar perpustakaan, tidak pernah melarang buku-buku, tidak menolak suatu cabang ilmu pengetahuan, sebagaimana yang pernah dan masih dilakukan oleh masyarakat agama lainnya atas upaya saudara. Perlu saudara catat!! jika melakukan penulisan tidak bertentangan dgn fakta sejarah yg ada dan tidak juga menggunakan simbul dan kata kata suci milik Agama lain jika saudara dan rekan seiman saudara berkotbah. Pernah terpikir oleh saudara apa jadinya kalau Agama Hindu Bali seperti bangsa Malaysia, Jawa Islam??, berapa Gereja yg hancur karena ulah rekan seiman saudara yg tidak terpuji.
Hindu di Bali berpegang pada Konsep Tri Hita Karana - hubungan manusia dengan Sang Hyang Widhi (Tuhan yg tertinggi), bukan hubungan Manusia Bali dengan Tuhan org lain yaitu Yesus yg menurut sudut pandang agama Hindu dia setingkat awatara (Dewa Utusan,) Hubungan Manusia dengan Manusia (dari perkawinan manusia sampai kematian manusia) bukan hubungan manusia bali dengan jiwa jiwa baru hasil penipuan misionaris!! dan hubungan manusia dengan lingkungan ( Pura, Banjar, Desa) bukan hunbungan manusian Bali dengan Gereja gereja arsitektur Bali.
Penulisan sejarah di atas sama dengan Katak dalam Tempurung - si katak mengagungkan dunianya sendiri atas ruangan dalam tempurung, setes air dianggapnya samudera -itulah keyakinan saudara yg ingin saudara konversikan terhadap masyrakat Bali Hindu.
Perlu saudara camkan kembali misionaris di bali yg menyatakan nilai-nilai ajaran kasih dalam Kristus & janji keselamatan-Nya yang akan mengahantar semua orang masuk kerajaan surga dengan penuh kepastian dan bicara seperti pernah nge-kost di surga. Taukah saudara, akibat iman Kristus ini, orang bali yg sudah tertipu harus menerima fakta dikucilkan keluarganya?,sampai mereka frustasi, lalu pergi jauh meninggalkan desa bahkan bunuh diri? Sadarkah saudara atau pura pura tidak tau bahwa penghiburan para gembala Gereja yg menyatakan orang -orang diluar Kristen adalah orang berdosa dan sesat dalam iman? Mereka adalah para penyembah setan & kitab sucinya diturunkan oleh Raja Iblis!.
Dengan tulisan seperti diatas,saudara mengharapkan orang Bali Hindu memberikan komentar manis???? seperti doa saudara yg salut dan sangat menghargai tulisan dari seimanmu dan berdoa untuk blog ini agar diberkati?? Mimpi Kali!!!
Comment by Gede Daru — January 17, 2010 @ 11:45 pm
AYAT INJIL YANG TIDAK ILMIAH
11 September 2009 · & Komentar
1). Kejadian I : 3-5
Disebutkan bahwa cahaya diciptakan hari pertama
2). Kejadian I : 14-19
Benda yang memancarkan cahaya, Bintang, Matahari diciptakan pada hari ke-4
(Bagaimana mungkin Penyebab cahaya diciptakan pada hari ke-4 dan cahaya diciptakan pada hari pertama?)
3). Kejadian I : 9-13
Bumi diciptakan pada hari ke-3
(Bagaimana mungkin ada siang dan malam tanpa tanpa Matahari “penyebab cahaya”. Tidak mungkin bumi ada dulu daripada Matahari)
4). Kejadian I : 11-13
Tumbuhan, Empon-empon, semak belukar, pohon, mereka ciptakan pada hari ke-3
(Bagaimana mungkin tumbuhan bisa hidup tanpa ada sinar Matahari)
# Kita pasti masih ingat dengan seseorang yang kalau tidak salah bernama Galileo Galilei yang dibunuh Gereja gara-gara penemuannya yang mengatakan Matahari sebagai pusat Tata Surya. Sedangkan Gereja mengatakan Bumi sebagai pusat Tata Surya #
5. A). Ayub 26 : 11
Dikatakan pilar langit akan bergetar
5. B). Ayub 9 : 6
Dikatakan bahwa bumi punya pilar
(Bukankah langit dan bumi tidak ada pilar)
6). Kejadian 1 : 29
Dikatakan bahwa Tuhan telah memberimu tanaman yang menghasilkan biji, pohon yang menghasilkan buah. Biji itulah sebagai daging untukmu. Versi Internasional baru mengatakan : Biji menghasilkan tanaman, tanaman menghasilkan buah dan yang menghasilkan biji adalah makanan untukmu semua.
(Bukankah ada buah berbiji yang beracun?, seperti Berry liar, Strechy, Ansa dll)
7). Markus 16 : 17-18
Dikatakan bahwa akan ada tanda-tanda bagi pengikut yang setia. Diantaranya adalah Dengan namaku mereka akan dijauhkan dari setan dan mereka akan berbicara bahasa asing, mereka akan mengambil ular dan jika mereka meminum racun yang mematikan, mereka tidak luka. Jika mereka meletakkan tangan diatas orang sakit, orang sakit akan sembuh.
(meminum racun yang mematikan tidak luka. Apa bisa dibuktikan sekarang?)
8). Imamat 14 : 49-53
Cara baru untuk membasmi wabah lepra dirumah. Dikatakan : ambil 2 burung, bunuh burung pertama, ambil kayu, pukul dan masukkan burung yang masih hidup dalam air. Lalu setelah itu perciki rumah 7 hari dng air tersebut. Memerciki rumah dengan darah untuk membasmi lepra.
(bukankah darah itu sarana bagi wabah untuk menyebar?)
9). Imamat 12 : 1-5
Dikatakan setelah seorang wanita melahirkan anak laki-laki, ia tidak akan bersih setelah 7 hari. Dan masa tidak bersih akan berlangsung selama 33 hari atau lebih. Jika melahirkan anak perempuan, akan tidak bersih selama 2 minggu dan masa tidak bersih akan berlangsung selama 66 hari.
(Kita semua tahu secara medis bahwa setelah seorang ibu melahirkan dia tidak menjadi higienis (menyebabkan tidak bersih secara agama). Bagaimana mungkin seorang wanita tetap tidak bersih meski telah melewati 2 masa menstruasi)
10). Bilangan 5 :11-31
Dikatakan : Pendeta harus mengambil air suci dari suatu tempat, mengambil debu dari lantai dan meletakkan ke dalam tempat tersebut sehingga air itu menjadi pahit. Dan setelah membaca mantra dia memberi air itu pada siwanita (yang berzina). Jika wanita tersebut pernah berzina, setelah minum air itu, mantra itu masuk ke tubuhnya dan perutnya akan menggelembung dan pahanya akan membusuk dan dia akan dikutuk oleh orang banyak. Tetapi jika belum pernah berzina, dia akan tetap bersih dan melahirkan keturunan.
(Apakah tes itu bisa dipakai sekarang?. Seharusnya ketika ada scandal antara presiden AS, Bill Clinton dan sekretarisnya tes ini dipakai)
11). Imamat 11 : 6
Dikatakan bahwa Kelinci adalah seekor pemamah biak
(Kita tahu bahwa kelinci bukanlah pemamah biak yang punya susunan perut rumit, kelinci lebih cocok sebagai pengerat seperti tikus)
12). Amsal 6 : 6-8
Bahwa semut tidak punya pemimpin, rasa dan ketua
(kita semua tahu bahwa semut memiliki, pemimpin, ratu, tentara, pekerja juga aturan)
13). Imamat 11 : 20
Dikatakan : Diantara hal-hal yang menjijikkan, unggas yang berkaki 4 . Beberapa ilmuwan mengatakan unggas adalah terjemahan yang salah dari bahasa Yahudi, karena dalam versi King James berarti serangga atau makhluk bersayap
All flying insects that creep on [all] fours [shall be] an abomination to you. (New King James Version, Imamat 11:20)
(serangga mana yang berkaki 4. Semua serangga berkaki 6. tidak ada burung, unggas hewan bersayap yang berkaki 4)
14. A). Matius 4 : 8
Dikatakan : Iblis mengambil Yesus menuju gunung yang sangat tinggi dan menunjukkan pada Yesus semua kerajaan didunia & Kemegahannya
14. B). Lukas 4 : 5
Dikatakan : Iblis membawanya (Yesus) ke gunung yang tinggi dan menunjukkan pada Yesus keagungan dari seluruh kerajaan di dunia.
14. C). Daniel 4 : 10-11
Dikatakan : Dalam sebuah mimpi, pohon yang tumbuh ke surga, tanaman yang tumbuh sangat banyak, sehingga setiap orang yang ada di penjuru bumi dapat melihat pohon tersebut.
14. D). Yesaya 40 : 22
Dia tuhan duduk bertahta diatas lingkaran bumi
(dalam 14. A & 14. B dan 14. C bukankah bila kita pergi ke gunung tertinggi seperti Mount Everest dan seupama kita memiliki pengelihatan 1000 kali lebih tajam dari elang, kita tidak bisa melihat semua, melihat yang dibagian sebaliknya dari bumi. Dan kita juga tidak bisa melihat pohon yang tinggi sekali sampai langit dari balik bumi lainnya. hal itu mungkin kalau bumi bentuknya datar. Dari uraian 14. A sampai 14. D bisa disimpulkan bentuk bumi seperti “KOIN MATA UANG”)
15. A). Kejadian 16 : 30
Dikatakan bumi tidak bergerak
15. B). Masmur 93 : 1
Dikatakan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa telah menstabilkan bumi, yang berarti bumi tidak bergerak. Dalam Versi Internasional Baru dikatakan bahwa Tuhan telah membangun dan menghentikan pergerakan bumi sebagaimana dahulu
(Bukankah bumi Berotasi dan beredar mengelilingi Matahari)
16. A). Kejadian 7 : 19-20
Dikatakan bahwa Banjir yang terjadi dalam peristiwa Nabi Nuh 15 kaki diatas gunung tertinggi. Bahwa seluruh dunia tertutup air. Bukti arkeologi menunjukkan pada kita bahwa jaman Nuh jika dihitung dengan Gineologi terjadi pada abad 21-22 sebelum Masehi. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa dinasti ke-3 Babylon dan dinasti ke-11 Mesir terjadi pada abad ke-21 dan 22 sebelum Masehi dan buktinya masih ada. Karena itu bukti arkeologi menunjukkan pada kita bahwa tidak mungkin bumi atau daratan terbentuk pada abad 21 & 22 sebelum Masehi.
16. B). Kejadian 6 : 15-16
Dikatakan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa memberitahu Nuh untuk membuat sebuah Perahu atau Bahtera dengan ukuran panjang 300 kubik, lebar 50 kubik dan tinggi 30 kubik. Versi Internasional baru menyebutkan panjang 450 kaki, lebar 75 kaki dan tinggi 45 kaki. 1 kubik = 1,5 kaki. Jika diukur berarti volumenya kurang lebih 150.000 kaki kubik dan luas areanya sekitar 33.730 kaki kubik. Injil menyebutkan Kpal itu 3 lantai. Lantai dasar, ruang penyimpanan 1 dan 2. lalu dikalikan 3 hasilnya kurang lebih 101.250 kaki persegi. Dan semua spesies didunia masuk berpasangan. Bayangkan tiap pasang dari semua spesies di dunia ditampung di ruang yang luasnya 101.250 kaki persegi. Dan mereka tinggal selama 40 hari disitu, makan dan buang air bersar.
(apakah ini mungkin?. Dari poin 16. A dan 16. B bisa disimpulkan bahwa banjir yang terjadi tidak seluruh dunia, tapi suatu wilayah tempat nabi Nuh tinggal)
17). Kejadian 3 :14
Ular hidup makan debu
(tidak masuk akal)
18). Yesaya (Isaiah) 34 :7
Tentang Unicorn. Hewan dunia seperti Kuda dan Bertanduk
(ini mitos, tidak ada fosil yang ditemukan)
Comment by Oktavianus — January 18, 2010 @ 3:41 am
Stephen Knapp, seorang mantan Kristen keturunan Yahudi berkebangsaan Amerika memilki 28 alasan mengapa ia masuk Hindu, yaitu:
Apa yang diajarkan oleh agama Hindu? Peradaban Veda atau agama Hindu modern, adalah satu cara hidup. Ia bukanlah satu ras manusia atau sekedar agama atau keyakinan sektarian. Ia tidak menjadi milik satu ras atau negeri tertentu. Ia adalah satu jalan yang mendukung satu aturan tingkah laku (code of conduct) yang menghargai kedamaian dan kebahagiaan dan keadilan bagi semua orang.
Hindu adalah peradaban tertua di dunia yang tetap hidup.
Veda adalah kitab suci yang tertua dan paling lengkap.
Veda mempunyai filsafat spiritual yang paling maju dan paling sempurna.
Veda memberikan lebih banyak informasi mengenai ilmu pengetahuan tentang kehidupan sesudah mati, karma dan reinkarnasi.
Filosofi Veda menawarkan pemahaman paling lengkap mengenai Tuhan dan dimensi spiritual.
Hindu dan Veda memiliki banyak sabda dan perintah langsung dari Tuhan.
Veda menawarkan bentuk-bentuk Tuhan yang paling indah dan penuh kasih sayang.
Peradaban Veda memiliki guru-guru spiritual terbesar yang dapat anda temukan.
Veda menawarkan jalan yang paling langsung kepada realisasi dan pencerahan spiritual pribadi.
Karena Hindu adalah satu jalan yang paling ekspresif, ia juga adalah yang paling memenuhi secara emosional.
Hindu, menawarkan satu jalan hidup ilmiah, dari diet, gaya hidup, jadwal harian, dan lain-lain.
Siapapun dalam posisi apapun dapat menjadi seorang Hindu dan mempraktekan dan mendapat manfaat dari pengajaran Veda.
Jalan Veda memandang semua agama sebagai benar, atau bagian dari kebenaran yang satu, dan jalan bagi keselamatan.
Hindu, tidak menghadirkan Tuhan sebagai Tuhannya orang Hindu, Muslim, Kristen atau Sikh.
Inilah sebabnya mengapa orang-orang Hindu, pengikut dari jalan Veda, dapat hidup damai dengan orang-orang dari agama lain.
Agama Hindu tidak mempunyai konsep jihad, perang suci, perang salib, atau kesyahidan.
Pengikut filosofi Veda tidak menjadikan orang lain sebagai target konversi.
Agama Hindu menerima bahwa setiap orang mempunyai hak untuk memilih jalan mereka sendiri menuju pencerahan atau keselamatan.
Agama Hindu menawarkan satu Tuhan dan kesadaran universal, jauh melampaui sekedar tradisi lokal.
Agama Hindu mendorong kita semua melihat Tuhan dalam semua makhluk.
Di dalam Hindu anda dapat mengajukan semua pertanyaan yang anda inginkan tanpa dianggap murtad atau orang yang ragu.
Agama Hindu adalah peradaban satu miliar dollar.
Veda menawarkan jalan termudah untuk kembali kepada Tuhan.
Agama Hindu mengajarkan kesadaran universal daripada kesadaran yang berpusat pada diri sendiri.
Agama Hindu mengembangkan kepedulian yang sungguh-sungguh terhadap orang lain.
Dengan atau tanpa institusi, agama Hindu menunjukkan dan menyatakan bahwa semua orang mempunyai hubungan pribadi dengan Tuhan.
Agama Hindu, membukan pintu makna kehidupan yang sebenarnya.
Henry David Thoreau (1817-1862) Filsuf Amerika, unitarian, kritikus sosial, transendentalis dan penulis. Adalah Ralph Waldo Emerson yang membangunkannya pada sebuah antusiasme sejati pada India.Kekuatan dari Upanisad bahwa Thoreau muncul mewarisinya di Walden dan menginspirasi tidak hanya pada mereka yang mempelopori perpindahan tenaga kerja Inggris, tetapi semua yang membacanya pada hari ini. Kelok-kelok di timur laut Massachusetts, penghormatannya pada sisi luar dan pandangannya jatuh pada Walden Pond.
Ia kerap menyinggung air—kiasannya jelas—kebijaksanaan Gita mengajarkan pemurnian pikiran: “Dengan usaha kesadaran pada pikiran, kita dapat berdiri jauh dari aksi dan konsekuensinya; dan segala hal, baik maupun buruk, pergi dengan kita seperti aliran air yang deras.”
Ia telah menemukan Sungai Ganganya yang suci. Tinggal di sana dan mencoba “mempraktekan yoga dengan setia” selama dua tahun keberadaannya di Walden, ia menulis:
“Pada pagi hari saya memandikan intelektualitas saya pada filsafat yang mengagumkan dan agung dari Bhagavad Gita, sejak tahun-tahun yang berkomposisi dengan Tuhan itu berlalu, dan di dalam perbandingannya dengan dunia kita yang modern dan segala literaturnya tampak lemah dan sepele; dan saya ragu jika filosofinya tidak menjadi petunjuk pada bagian dari kehidupan sebelumnya, jadi sedikit keagungannya dari konsepsi kita. Saya meletakkan buku itu dan pergi pada sumur mata air saya, dan o! Di sana saya menemukan pelayan dari Brahmin, persembahyangan pada Brahma, Visnu dan Indra, yang tetap duduk pada kuil-Nya di sungai Ganga sambil membaca Veda, atau berhuni dengan atap dari pohon beserta kayunya dan air—kendi. Saya menemukan pelayannya datang mengambil air untuk gurunya, dan ember kita seperti digunakan mengambil air secara bersamaan pada sumur yang sama. Air murni di Walden adalah bercampur dengan air suci dari sungai Ganga.”
(Sumber: The Writings of Henry D. Thoreau – Walden 1989. Universitas Princeton. Press. p 298 and How Vedanta Came to the West – By Swami Tathagatananda – swaveda.com). Listen to The Bhagavad Gita podcast – By Michael Scherer – americanphonic.com.)
Pada tahun 1840-an Thoreau menemukan India, antusiasmenya pada filsafat India demikian mendukungnya. Dari 1849-1854, ia membawa sejumlah besar kitab India dari Perpustakaan Universitas Harvard, dan tahun 1855 ketika teman Inggrisnya Thomas Chilmondeley mengiriminya sebuah hadiah dari 44 buku-buku Timur yang terdiri dari berbagai judul seperti Reg Veda Samhita, Mandukya Upanisad, Visnu Purana, Institute of Manu, Bhagavad Gita dan Bhagavata Purana, dan lain-lain.
Pada perenungannya pada India ia menemukan “sebuah kekuatan mengagumkan tentang keniskalaan” dan kekuatan mental yang mampu menarik dari perhatian dunia yang empiris kepada pikiran yang kokoh dan terbebas dari kebingungan.
“Apa yang dikutip dari Veda telah saya baca dan bagi saya seperti cahaya dari seorang bintang yang lebih tinggi dan lebih murni, yang mendeskripsikan jalan yang agung melalui lapisan yang murni. Ia terbit bagi saya seperti bulan penuh setelah bintang-bintang keluar, menyeberang melalui sebuah lapisan di langit.”
(Sumber: Commentaries on the Vedas, The Upanishads & the Bhagavad Gita – By Sri Chinmoy Aum Publications. 1996. p 26).
“Bilamana saya telah membaca bagian-bagian Veda, saya merasa bahwa sebuah cahaya yang aneh dan tidak diketahui menyinari saya. Dengan ajaran yang hebat dari Veda, tanpa ada sentuhan dari sektarian. Ia adalah segala zaman, iklim dan kebangsaan dan adalah jalan yang megah menuju pencapaian dari Pengetahuan Terbaik. Ketika saya membacanya, saya merasa bahwa saya berada di bawah surga yeng berkelap-kelip dari sebuah malam musim panas.”
(Sumber: The Hindu Mind: Fundamentals of Hindu Religion and Philosophy for All Ages – By Bansi Pandit B & V Enterprises 1996. p 307).
Henry David Thoreau – Orang bijaksana yang memperoleh inspirasi spiritual dari Bhagavad Gita. Ditujukan pada Chitra Gallery.
“Saya ingin katakan pada para pembaca kitab suci, jika mereka mengharapkan buku yang bagus, bacalah Bhagavad Gita … yang diterjemahkan oleh Charles Wilkins. Ia pantas dibaca sebagai referensi bahkan oleh orang-orang Amerika… Di samping Bhagavad Gita, Shakespeare tampaknya kadang disemangati kaum muda… Ex oriente lux mungkin masih dijadikan semboyan oleh para sarjana, untuk dunia Barat belum diperoleh dari Timur segala cahaya yang dipersiapkan untuk diperoleh kemudian.”
Dalam bukunya Walden, Thoreau mengandung referensi tegas pada kitab-kitab India seperti:
“How much more admirable the Bhagavad Geeta than all the ruins of the East.’ (Seberapa Lebih Menarik Bhagavad Gita daripada Seluruh Reruntuhan dari Timur)
(Sumber: The Writings of Henry D. Thoreau – Walden 1989. Universitas Princeton. Press. p 57).
Thoreau menggambarkan Kekristenan sebagai “radikal” karena “moralnya yang murni” kontras pada “intelektualitas yang murni” dari Hindu.
(Sumber: A Week on the Concord and Merrimack Rivers – By Henry David Thoreau p 109 – 111).
“Veda mengandung catatan yang bijaksana dari Tuhan.” “Pemujaan yang diadakan oleh Veda adalah prestasi yang luar biasa.”
Kitab-kitabnya merangkul keseluruhan moral hidup dari Hindu dan sebagai alasan tidak ada kepercayaan selain ketulusan. Kebenaran sebagai referensi pada hati terdalam manusia, tanpa ada standar. Thoreau, seperti transendentalist lainnya telah bernafas dan berkatolisitas dalam pikiran yang membawanya mempelajari agama India. Dari awal ia dikecewakan dengan organisasi Kristen (ia tidak pernah ke gereja) dan seperti yang Emerson tunjukkan minat tingginya pada Hindu dan filsafatnya. Dalam perbandingan dengan Hebraisme, Thoreau menemukan superioritas Hindu dalam banyak hal. Bagian berikut mendemonstrasikan kekecewaan Thoreau dengan Hebraisme dan kecintaanya pada Hindu: Pada 1853 ia menulis:
“Umat Hindu adalah yang paling jelas dan religi yang penuh pertimbangan dibanding Ibrani. Mereka memiliki mungkin yang lebih murni, lebih merdeka dan pengetahuan yang impersonal (tanpa ada campur tangan manusia) mengenai Tuhan. Kitab suci mereka menggambarkan keingintahuan pertama dan akses kontemplasi kepada Tuhan; kitab Ibrani adalah hasil penelitian, terlalu dan lebih personal (ada campur tangan manusia) akan pertobatan. Itu mengejutkan dan penuh gairah. Tuhan lebih memilih jika anda mendekati-Nya dengan bijaksana, tidak mengaku dosa, meskipun anda berdosa. Hanya dengan melupakan diri anda bahwa diri anda datang mendekati-Nya. Dengan ketenangan dan kelemahlembutan di mana pendekatan dan wacana ilmiah filsafat Hindu pada tema terlarang adalah mengagumkan.”
Max Muller yang awalnya adalah seorang Indologis yang sudah berusaha keras menterjemahkan Veda dan menyusun teori salah kaprah “penyerangan bangsa Arya atas Dravida” akhirnya mengakui bahwa Veda luar biasa dan jauh lebih superior dari Kekristenan sehingga dia sendiri berkata; “Veda akan terus dikagumi dan dihargai selama samudera dan gunung masih ada di atas bumi.”
Ralph Waldo Emerson berkata; “Veda memuliakan hidup kita. Seluruh filsafat dan ilmu pengetahuan Barat tampak kecil dan tak berarti di hadapan Veda. Seluruh manusia di bumi ini harus kembali ke Veda“
Pall Thema mengatakan; “Veda adalah dokumen mulia, dokumen yang tidak saja bernilai dan menjadi kebanggaan India tetapi bagi seluruh umat manusia, karena di dalamnya kita melihat manusia berupaya untuk mengangkat dirinya di atas keberadaan dunia ini.”
Arthur Schoupenhour menyatakan: “Ini meyakinkan orang banyak bahwa Veda adalah abadi dan tidak dapat dijawab oleh manusia dan bahwa Veda berasal dari Brahman, yang adalah penciptanya“
Prof. Heeren: “Veda berdiri tegak sendirian dalam kemegahannya sebagai mercusuar cahaya suci bagi gerak maju kemanusiaan”
Lord Morley: “Apa yang ditemukan dalam Veda, tidak ada di tempat lain“
Leo Tolstoy: “Agama Veda tidak hanya agama yang tertua tapi juga agama yang paling sempurna. Ia menempati posisi pertama dan yang paling utama di antara agama-agama dunia”.
Gerald Heard mengatakan, ”Wedanta sangat ilmiah tentang – hukum-hukum yang mengatur alam semesta.”
Dr. Kenneth Walker yang menyanjung kebijaksanaan Weda dan mengatakan, ”Wedanta merupakan suatu usaha untuk meringkas seluruh pengetahuan manusia dan membuat manfaat seluruh pengalaman manusia. Pada suatu saat ia adalah agama, pada saat lainnya filsafat dan saat lainnya lagi ilmu pengetahuan.” Dengan kata lain 3 pilar ilmu pengetahuan dunia, terdapat di dalam kitab suci Hindu (Weda) yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi.
Sarvepalli Radhakrishnan: “Setelah musim dingin selama beberapa abad, kita sekarang berada pada periode kreatif dari agama Hindu. Kita mulai melihat pada agama kita yang telah berusia berabad-abad dengan pandangan mata segar“.
Albert Enstein: “Ketika saya membaca Bhagavad Gita lalu merenungkan tentang bagaimana Tuhan menciptakan jagat raya ini, segala hal lain terasa begitu tidak bermakna“
Comment by Oktavianus — January 19, 2010 @ 4:12 am
Forum teologi ini yg dibuat oleh penciptanya nampaknya bermuara pada “kerukunan antar pemeluk umat beragama”. lebih dari itu masing-masing pribadi perlu introspeksi diri dan evaluasi diri. Memperdebatkan masalah ajaran agama dan segala pernak-perniknya tdk akan pernah selesai. Yg pasti akan berakhir adalah personal pemeluknya (meninggal). Entah masuk sorga atau neraka atau dpt moksa atau numitis berkali2. Realitas ilmiah bhwa semua orang terlahir dalam kondisi yg sama dan hidup dalam dunia yg satu ini. Dan satu lagi, yg pasti manusia semua akan mati.Orang-orang suci dan para penulis kitab-kitab ajaran agama, pastilah mengharapkan hasil karya mereka tdk untuk diperdebatkan dan disalahgunakan. Melainkan dipercakapkan dan diamalkan inti kebaikan dan kebenarannya. Perkembangan teologi, sejarah keagamaan serta budaya yg membalutnya, terus mengalami perkembangan seiring dengan perubahan zaman dan revolusi global. Keaslian ajaran agama dan etika moral nampaknya banyak yg ditafsirkan untuk kepentingan pribadi,bukan untuk meniti hidup bahagia sebagai mahkluk yg seperjalanan untuk masuk kedalam kehidupan abadi. Saya masuk dalam forum ini karena rindu untuk memperkaya diri dengan pengetahuan keimanan pribadi. Saya senang membaca comentar-comentar terdahulu, trimakasi buat anda-anda yg sudah menulis. Namun saya mau undur diri dari forum ini karena “saya tdk ingin melukai hati” teman-teman penulis di forum ini dengan pandangan-pandangan saya yg disalah mengerti. Forum ini akan menjadi ajang perdebatan yg tidak kunjung selesai namun miskin dengan dialog. Saya mau turun ke dalam kehidupan real, bertemu dengan sesama pemeluk agama lain yg mengamalkan ajaran agamanya dengan dialog-interaktif dan realistis dan relevan. Kluarga besar kami terdiri dr multi-agama, sejauh ini hidup rukun dan tdk ada konflik yg berarti dalam kehidupan bermasyarakat. Mungkin ini salah satu wujud nyata dari pengamalan Injil , trihitakarana, dan Syahadat yg di dengung-dengungkan dalam sejarah. Saya undur diri, selamat berdebat dan saya mau terjun kemasyarakat utk berdialog tanpa perdebatan…wassalam,,syalom,,
Comment by sudiarta — January 21, 2010 @ 6:21 pm
saya suka
Comment by daniel — March 10, 2010 @ 5:31 am