Cikal Bakal Gereja Kristen Protestan Bali
Sejarah Misi Kristen di Bali
Cikal Bakal Gereja Kristen Protestan Bali
Karya: Made Gunaraksawati Mastra, Kategori: Pilihan Dosen
I. Pendahuluan
Kekristenan di Bali ada karena jasa-jasa Pekabar-pekabar Injil yang memberikan hidupnya untuk memberitakan Injil ke tengah-tengah masyarakat Bali yang belum mengenalnya. Usaha pekabaran Injil di Bali mengalami banyak tantangan dan kendala, namun tidak menghalangi untuk Injil diberitakan di pulau ini sehingga membuahkan hasil baptisan orang-orang Bali yang menjadi cikal bakal jemaat Gereja Kristen Protestan Bali.
Makalah ini akan menyajikan sejarah missi di pulau Bali yang melahirkan cikal bakal jemaat Gereja Kristen Protestan di Bali. Sejarah missi ini dibagi ke dalam 3 periode, periode pertama tahun 1597 – 1928 dan periode kedua tahun 1929 - 1936 berdasarkan efektifitas usaha penginjilan yang dilakukan. Kemudian periode terakhir 1937 – 1949 sebagai masa persiapan kelahiran Gereja Kristen Protestan Bali.
II. Usaha-usaha Pekabaran Injil ke Bali
A. Periode 1597 - 1929
Penduduk Bali adalah sebagian dari penduduk Melayu yang tersebar di seluruh Nusantara. Di samping orang-orang Bali, juga banyak terdapat orang-orang pelarian dari Jawa.
Pemberitaan Injil Masa Pendahuluan dan Akibat-akibatnya
Pada akhir abad ke-16 orang Bali telah berkenalan dengan orang-orang Portugis dalam hubungan dagang. Tetapi tidak ada catatan sejarah yang menyatakan adanya usaha pekabaran Injil dari kontak itu.
Pada tahun 1597 Bali ditaklukkan oleh Belanda dan dijadikan pusat perdagangan budak bagi maskapai perdagangan Belanda V.O.C. Pemerintahan Belanda menghambat pekabaran Injil ke Bali, sebab Belanda hanya mementingkan kepentingan ekonomi dan juga beranggapan bahwa pengaruh agama asing akan membawa kerusakan pada kebudayaan Bali yang unik. Tahun 1630 seorang pendeta Belanda bernama Justus Heurnius datang ke Bali bersama V.O.C. dengan maksud menawarkan kerjasama dengan Raja-raja Bali dalam perang melawan Lombok. Ia berharap mendapat pamrih dari hasil kerjasamanya dengan V.O.C. agar dapat memasukkan kekristenan. Sebelumnya ia melihat budak-budak Bali di Batavia suka bertanya tentang agama dan bersedia menjadi Kristen. Oleh karena itu ia mengusulkan kepada pemerintah Belanda untuk melakukan pekabaran Injil di Bali, namun permintaannya ditolak.
Pada tahun 1825 seorang utusan Inggris bernama Dr. H.W. Medhurs mengadakan perjalanan Pekabaran Injil ke Jawa Timur dan tahun 1829 ia sampai ke Bali Utara (Buleleng) dengan maksud menyelidiki situasi. Ia mendapat kesan bahwa orang Bali kotor seperti binatang, pemadat, banyak orang jual beli budak. Oleh sebab itu ia mengusulkan agar pemberitaan Injil segera dimulai disertai dengan tenaga medis. Namun usulannya itu baru dilaksanakan pada tahun 1838 dengan kedatangan Pendeta Ennis. Ennis bekerja beberapa tahun, menyampaikan Injil dengan bahasa Melayu, tetapi orang Bali sulit memahami bahasa Melayu sehingga dia gagal dalam tugasnya dan meninggalkan Bali tanpa hasil apapun.
Pada tahun 1846 Belanda berhasil mengalahkan Bali dan mendapat kedudukan yang kuat di Bali. Dr. W.R. Baron van Hoevall, seorang pendeta di Batavia berkunjung ke Bali dan berkesimpulan bahwa suasana di Bali saat itu sudah siap untuk usaha penginjilan. Pandangan orang Bali tentang Tuhan yang Esa mirip dengan Allah Tritunggal, sehingga mereka cepat bisa mencernanya. Disamping itu banyak orang Bali merasakan sistem kasta yang ada dalam agama Hindu Bali tidak adil dan banyaknya upacara dan kewajiban sehubungan dengan penyelenggaraan upacara dan persembahyangan menyebabkan mereka jadi miskin. Pada waktu kembali ke Belanda, ia menyebarkan pamflet minta perhatian supaya bisa melaksanakan Pekabaran Injil ke Bali.
Baru dalam tahun 1863, Belanda memberikan izin kepada Perhimpunan Missi Utrecht (U.Z.W.) untuk melakukan usaha pekabaran Injil di Bali. U.Z.W. bekerja sama dengan Lembaga Alkitab Belanda (N.B.G.) mengutus van der Tuuk untuk menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bali. Ia bekerja di Bali tahun 1870 – 1873. Sebelum bekerja di Bali dia bekerja di Gereja Batak dan di sana ia sudah tampak murtad dengan mengatakan “Yesus orang gila dari Nazareth”. Jadi sebenarnya waktu ia ditugaskan ke Bali dia sudah kafir, sehingga pelayanannya sama sekali tidak membawa hasil, lebih-lebih karena akhirnya ia lebih banyak bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda.
Tahun 1863 U.Z.V. menetapkan Bali sebagai lapangan kerjanya dan mengutus Pekabar Injil ke Bali. Pengurus tertarik karena penduduk Bali masih kafir dan sedikit yang beragama Islam dan Zending mengharapkan orang Bali akan lebih menerima Kristen daripada Islam. Ada tiga Pekabar Injil Belanda, yaitu van Eck, de Vroom, van der Jogt, yang mulai menjalin hubungan erat dengan orang-orang Bali, mempelajari bahasa mereka dan juga adat istiadat kehidupan mereka sebagai persiapan bagi tugas missioner mereka. Pada tahun 1873 – 13 tahun sesudah permulaan missi mereka – Van Eck dapat membaptis orang Bali yang pertama: I Gusti Karangasem dari Bali Timur.
Orang Kristen Bali pertama itu mengalami kesukaran hidup karena kekristenannya. Van Eck yang membaptisnya telah meninggalkan Bali karena terganggu kesehatannya, oleh karena itu ia menemui de Vroom untuk mencari kekuatan atas penderitaan hidupnya, tetapi setiap kali bertemu, pekabar Injil itu menguji kesetiaan imannya dengan meminta dia mengucapkan 10 Hukum Allah, doa Bapa kami serta Pengakuan Rasuli untuk mencegahnya kembali ke agamanya yang lama. Karena usahanya mencari penghiburan ditanggapi dengan peringatan-peringatan yang keras, akhirnya ia menghasut dua orang pembantu Van Eck yang beragama Islam untuk membunuh Pekabar Injil Belanda itu. Ketiga orang itu kemudian dihukum mati.
Namun timbul reaksi keras dari orang-orang Bali terhadap Pekabar Injil yang dianggap melecehkan budaya dan agama pribumi. Disamping itu tuntutan nilai rohani ajaran Kristen dianggap tidak sebanding dengan pola kehidupan mewah yang dijalani para Pekabar Injil Belanda. Terakhir, para Pekabar Injil itu gagal memperlihatkan perbedaan antara nilai-nilai ajaran agama yang dibawanya dengan penindasan yang dilakukan oleh bangsanya yang menjadi penguasa asing. Oleh sebab itu kekristenan ditolak. Atas dasar ini pemerintah kolonial menutup Bali kembali dari usaha pekabaran Injil. Hampir selama 50 tahun Bali tertutup bagi Pekabar Injil demi ketentraman dalam negeri. Pada tahun 20-an para ilmuwan, seniman dan sastrawan dari Eropa dan Amerika, yang mengagumi budaya Bali sebagi “surga akhir dunia”, turut menekan pemerintah kolonial Belanda untuk melarang perembesan unsur Kristen ke dalam budaya Bali agar Bali dapat dilestarikan sebagai sejenis “Museum Kebudayaan”.
Sampai periode ini usaha-usaha Zending atau Misi untuk memasukkan Injil ke Bali dikatakan gagal karena tidak berhasil mendirikan Gereja di Bali. Meskipun demikian usaha permulaan tetap mempunyai arti yang besar bagi persemaian pemberitaan Injil ke Bali.
B. Periode 1929 - 1936
Perjuangan Pemberitaan Injil sejak 1929 dan Hambatan-hambatannya.
Periode ini menandai keberhasilan usaha-usaha Pekabaran Injil di Bali sampai ke pelosok-pelosok di Bali. Injil bekerja sendiri menggerakkan hati orang Bali untuk tertarik belajar agama Kristen serta dibaptiskan.
Keberhasilan ini juga tidak terlepas dari jasa seorang pribumi dari Jawa bernama Salam Watias. Watias yang berasal dari Kediri menerima baptisan pada 26 Desember oleh Drs. van Engelen (utusan N.Z.H.) yang bekerja untuk G.K.J.W. Sebelum dibaptiskan dia bekerja sebagai polisi pemerintah, kemudian pada tahun 1929 ia diangkat menjadi pegawai British and Foreign Bible Society sebagai agen penjualan di kota Singaraja di Bali Utara. Waktu itu Bali merupakan daerah yang tertutup untuk Pekabaran Injil, tetapi larangan itu tidak berlaku bagi penginjil pribumi.
Selain Salam Watias, usaha penginjilan di Bali juga dilakukan dengan giat oleh I Nengah Mekiarna (Jakub), seorang Bali dari desa Git-git di Singaraja. Karena melakukan kejahatan pembunuhan lalu ditahan di Surabaya kemudian dipindahkan ke Ambon tahun 1924. Setelah bebas dia menerima baptisan dan menikah dengan wanita Ambon. Kemudian dia pulang ke Bali bersama istrinya pada tahun 1931. Ketika orang-orang desa tahu bahwa ia beragama Kristen, banyak orang yang telah membeli buku Injil datang kepadanya untuk bertanya tentang agama Kristen dan minta diberi pelajaran agama Kristen yang lengkap.
Karena orang Bali mempunyai kesenangan membaca pelajaran-pelajaran agama, maka ribuan buku terjual Buku yang paling digemari adalah Injil Lukas yang ditulis dalam bahasa Bali.
Watias memakai pendekatan kultural, jalinan hubungan historis kekerabatan Jawa Bali, dalam mendekati orang Bali dengan menjelaskan bahwa orang Bali dan Jawa bersaudara karena sama-sama “Wong Majapahit” dan dengan rajin memupuk persaudaraan dengan orang-orang Bali. Dia mengunjungi orang-orang sakit dan orang-orang yang meminta penjelasan. Hasil pekerjaannya itu membuahkan hasil. Pada tahun 1930 sekitar 80 orang Bali minta dibaptiskan. Merasa tidak sanggup melayani orang sebanyak itu karena tugas pokoknya sebagai agen penjualan membuatnya menulis surat kepada G.K.J.W. untuk melayani di Bali. Tetapi permintaannya itu tidak mendapat jawaban karena Bali masih tertutup bagi Pekabaran Injil.
Tahun itu Pendeta Brill, utusan Christian Mission Alliance (C.M.A.) dari Amerika, datang ke Bali menyamar sebagai turis untuk menyelidiki kemungkinan mengutus seorang penginjil. C.M.A. adalah usaha dari golongan Kristen di Amerika Serikat yang merasa terpanggil untuk memberitakan Inji di mana-mana dengan secepat mungkin karena pandangannya “Hari Tuhan” sudah dekat sekali. Mereka memberi tekanan secara khusus kepada eskatologi dan tidak menekankan metode kerja yang memperhatikan sekolah-sekolah, yayasan sosial, maupun mengorganisasi jemaat. Mereka tidak memperhatikan kebudayaan, yang dipentingkan adalah pertobatan untuk dibaptiskan, karena Tuhan akan segera datang. Aliran ini sangat pietis dan fundamentalis, dan senang melakukan baptisan selam yang dilaksanakan di sungai
Beberapa waktu setelah itu, Dr. R.A. Jaffray, Ketua C.M.A., datang untuk meminta izin kepada pemerintah kolonial Belanda agar bisa melayani orang-orang Tionghoa yang Kristen sebagai taktik untuk bisa masuk ke Bali dengan izin resmi dan berhasil diberikan izin.
Kemudian C.M.A. dan Chinese Missionary Union bekerjasama untuk mengutus Penginjil Cina yang bernama Tsang Kam Fuk, yang kemudian hari menyebut dirinya Tsang To Hang, untuk mengabarkan Injil di kalangan terbatas orang-orang Tionghoa di Bali. Melalui seorang wanita Bali, istri seorang Tionghoa, ia berkenalan dengan beberapa orang Bali yang ingin keluar dari tradisi Hindu-Bali. Mereka telah dipengaruhi oleh aliran mistik Jawa yang diajarkan oleh seorang Guru bernama Raden Atmajakusuma pada tahun 1908-1927. Ia mengajarkan bahwa keselamatan dapat diperoleh dari pengalaman rohani di dalam batin dan dengan bersatunya manusia dengan Allah, juga kemerdekaan rohani dan persamaan bagi semua orang. Ajarannya menggemparkan masyarakat dan agama Hindu Bali karena ajarannya banyak menyerang agama Hindu Bali, misalnya ritus-ritus atau upacara-upacara yang merupakan unsur yang sangat penting dalam agama Hindu Bali tidak diperlukan lagi.
Pemerintah kolonial mengusirnya dari Bali untuk menghindari adanya kerusuhan yang bisa mengganggu stabilitas keamanan di Bali. Namun sebelum meninggalkan murid-muridnya ia mengatakan: ”Aku akan pergi tetapi kamu jangan takut sebab ada yang akan meneruskan ajaranku.” Pada waktu Penginjil Tsang To Hang datang, orang-orang Bali mengira dia sebagai penggantinya sehingga disambut dengan baik.
Pekabaran Injil dapat berlangsung dengan baik setelah itu. Hal ini disebabkan beberapa faktor yang saling mempengaruhi. Dasar untuk penginjilan telah dipersiapkan melalui ajaran-ajaran mistik yang disambut orang Bali sebelum kedatangan Tsang. Di pihak lain, lembaga-lembaga kolonial yang ada di Bali agak melonggarkan cara memerintah yang selama ini keras dan otoriter, sehingga bisa memberikan contoh kehidupan yang baik yang menarik simpati masyarakat Bali, seperti: menyelenggarakan sekolah bagi anak-anak pribumi, memungkinkan perkawinan campur antar kasta. Selain itu, krisis perekonomian dunia saat itu, berita-berita pemberontakan di Sumatera dan Jawa, memberikan dampak di bidang ekonomi, sosial, budaya dan keagamaan yang saling kait-mengait. Permasalahan-permasalahan yang muncul membuat orang mempertanyakan kebenaran agama warisan yang diyakininya dan membuka hati orang-orang Bali bagi berita Injil, sehingga pada tahun 1932 dilaksanakan lagi baptisan di sungai Yeh Poh.
Pada waktu baptisan, Tsang bersama dengan Direktur Missi Dr. Jaffray melaksanakan baptisan, Tsang meminta agar mereka yang bertobat membakar patung-patung ilah dan menghancurkan pura keluarga, karena dianggap menjadi tempat setan dan iblis, serta melarang mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan serta kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan Pura dan Desa.
Upacara baptisan itu mendapat perhatian besar dari masyarakat Hindu Bali. Setelah itu ia sering mendapat undangan ke desa-desa untuk mengajarkan agama. Tsang mengajarkan Firman Tuhan, nyanyian-nyanyian dan doa-doa dengan penuh semangat. Kepandaiannya dalam membawakan firman menggerakkan hati pendengarnya. Namun pandangan dan sikapnya yang dianggap melecehkan agama Hindu Bali meresahkan masyarakat Hindu Bali, mereka mengadakan pembelaan serta melawan arus semangat yang melawan tradisi-tradisi agamawi mereka. Orang-orang Kristen yang tak bersedia memenuhi kewajiban-kewajiban di pura dan upacara-upacara ibadah, yang berkaitan dengan sumbangan-sumbangan wajib, dicabut haknya, dikucilkan dan dibuang dari desa, dilarang menguburkan orang mati di pekuburan desa. Orang-orang Kristen yang mengadakan kebaktian sering diganggu.
Asisten Residen orang Belanda menunjukkan sikap simpatik dan memberikan bantuan kepada orang-orang Kristen yang datang melaporkan penghambatan yang mereka alami, dan orang-orang Bali yang menjadi Kristen lebih suka memakai cara berpakaian seperti orang Belanda, mengenakan rok dan celana panjang daripada mengenakan pakaian adat Bali, sehingga orang-orang Kristen lalu dikatakan beragama Belanda dan disebut “Belanda hitam”.
Peristiwa-peristiwa penghambatan terhadap orang-orang Kristen berakibat banyak orang-orang yang dulu berkeinginan mendengarkan Injil menjadi takut dan mengundurkan diri. Di pihak lain, orang-orang Kristen menjadi sungguh-sungguh teruji sehingga menjadi orang-orang yang setia.
Pembaptisan tidak saja dilakukan di kota, tetapi juga di desa-desa. Karena jumlah orang Kristen telah banyak maka C.M.A. mengirimkan beberapa orang muda Bali untuk belajar Sekolah Alkitab di Makasar.
Peralihan dari C.M.A. kepada G.K.J.W. dan Perpisahan Gereja.
Watias yang prihatin dengan penghambatan terhadap orang Kristen akibat cara kerja penginjilan Tsang yang dianggap kasar, kemudian menyurati Dr. C.P. Cohen Stuart (kepala agen B.F.B.S. untuk Bali) untuk melaporkan situasi tersebut serta memohon dikirim penginjil-penginjil bagi orang-orang Bali. Ia lalu dihubungkan dengan Dr. H. Kraemer, utusan N.B.G. seorang missiolog Belanda. Berdasarkan permintaan Watias, Dr. H. Kraemer mengutus guru Tartib Efrayim ke Bali untuk mengadakan penyelidikan mengenai situasi sesungguhnya. Berdasarkan masukan ini dan hasil pengamatannya sendiri, ia merasa perlu mengambil alih pimpinan missi di Bali dari C.M.A.
Pemerintah kolonial Belanda akhirnya mengusir Tsang pada tahun 1933. Namun Tsang telah berhasil membaptiskan sekitar 260 orang Bali. Pada umumnya orang-orang Bali masuk Kristen dengan seluruh keluarga dan sanak keluarganya, jarang sekali secara perorangan, supaya lebih mudah menghadapi resiko penghambatan yang keras dari masyarakat Hindu Bali. Oleh karena penghambatan dari masyarakat Hindu Bali yang tidak senang dengan peralihan orang-orang Bali ke agama Kristen, pemerintah kolonial kemudian memberikan tempat bagi keluarga-keluarga Kristen itu di kawasan hutan Bali Barat, sesuai dengan pandangan orang Bali, bahwa bagian barat, yaitu kawasan tempat matahari terbenam adalah kawasan setan. Tempat itu kemudian berkembang menjadi pemukiman Kristen dengan pertanian yang berhasil.
C.M.A.
Setelah izin kerja Tsang dan seluruh kegiatan CMA dicabut, orang-orang Kristen baru untuk sementara tidak ada yang menggembalakan. Karena C.M.A. telah ditarik dari Bali, maka tahun 1934 pemuda-pemuda Bali yang ada di Makasar dipulangkan untuk memimpin jemaat di daerahnya masing-masing.
Misi Gereja Roma Katolik
Dalam masa kekosongan pemimpin dalam Gereja itu, Romo J. Kersten S.V.D. tahun 1935 datang ke Bali dan mencari hubungan dengan orang-orang Bali, bahkan ia memakai situasi di atas untuk memasukkan pengaruh gereja Roma Katolik kepada pemimpin-pemimpin Gereja.
Peranan Dr. H. Kraemer dan G.K.J.W.
Berdasarkan laporang penyelidikan dari Guru Tartib dan Dr. H. Kraemer, Sidang Sinode G.K.J.W. ke III di Swaru pada tahun 1932 telah memutuskan untuk mendukung pekabaran Injil di Bali, bukan karena orang Bali tidak puas dengan agamanya sendiri tetapi karena Roh Kudus telah mempersiapkannya, serta harus dilakukan dengan hati-hati supaya tidak menimbulkan kekacauan. Berdasarkan ini diutuslah dua orang Guru, yaitu Guru Tartib dan Guru Darmoadi, ke Bali untuk penginjilan dengan bantuan pembiayaan dari Dr. H. Kraemer. Pemerintah kolonial Belanda masih menutup Bali dari usaha Pekabaran Injil, sebab tidak disetujui oleh Volksraad yang ingin menjaga keharmonisan masyarakat Bali dan pelestarian budaya Bali yang sudah termasyhur di dunia. Oleh karena itu utusan penginjil dari G.K.J.W. menggunakan alasan untuk penggembalaan orang-orang Kristen baru di Bali.
Pedoman bagi utusan G.K.J.W. adalah untuk mempersiapkan orang Kristen Bali menjadi dewasa supaya bisa mandiri, dengan bantuan pimpinan dan pengawasan G.K.J.W., mendidik orang Kristen dalam iman Kristen dengan kemungkinan-kemungkinan mengungkapkan kepercayaannya secara Bali, sehingga agama Kristen tidak menjadi asing, serta menguatkan iman Kristen orang-orang yang baru percaya agar tegar menghadapi berbagai penghambatan. Dr. H. Kraemer juga mengusulkan agar orang Kristen Bali bersedia menurut adat istiadat desa di Bali, bekas tempat pemujaan orang yang baru percaya jangan dibongkar supaya tidak menimbulkan ketersinggungan masyarakat Hindu Bali, orang Kristen turut memberi sumbangan saat hari raya Hindu asalkan tidak menyembah, orang Kristen agar membantu bila ada upacara pembakaran mayat supaya bisa menerima warisan. Namun usulan ini ditentang keras oleh Dr. Jaffray dari C.M.A. dengan alasan bahwa tidak ada gunanya pemberitaan Injil jika orang tidak bersungguh-sungguh menjadi orang Kristen atau sekedar ikut-ikutan dan bahwa orang Kristen harus memperlihatkan kekristenannya secara nyata dari permulaan sebagai landasan kekristenan yang benar di Bali, sebab jika dari permulaan sudah lemah maka kekristenan di Bali akan selamanya lemah.
Guru Tartib mempelajari cara hidup orang Bali dan cerita-cerita wayang, sehingga bisa bercerita dan diterima baik oleh orang-orang Bali. Demikian juga Guru Darmoadi belajar bahasa Bali supaya dapat menerjemahkan Injil, nyanyian dan doa-doa.
Banyak orang menjadi tertarik untuk belajar agama Kristen serta minta dibaptiskan. Akibat banyaknya orang yang dibaptis, pemerintah setempat membolehkan orang belajar agama Kristen, tetapi tidak boleh masuk agama Kristen. Di samping itu masyarakat Hindu Bali melarang anak-anak diajar di sekolah oleh guru yang beragama Kristen.
Oleh karena hambatan-hambatan ini, baptisan orang-orang Kristen Bali lalu dilakukan di Jawa. Tetapi dengan semakin banyaknya orang-orang Bali yang minta dibaptis, akhirnya diputuskan supaya baptisan dilakukan di Bali saja atas dasar bahwa tidak ada aturan yang melarang baptisan, supaya tidak menarik perhatian besar di surat kabar dan menimbulkan persoalan baru, serta menghindari tuduhan orang menjadi Kristen karena disuap sebab biaya yang diperlukan untuk membawa orang ke Jawa sangat besar. Jemaat dipersiapkan untuk menjadi dewasa, dibentuk Majelis Jemaat yang mengadakan rapat secara rutin tiap-tiap bulan dan disusun tata tertib gerejawi.
Di samping hambatan-hambatan yang telah disebutkan di atas, juga ada hambatan dalam soal warisan yang hilang bila seorang anak menjadi Kristen, soal kasta yang dihilangkan bila meninggalkan agama Hindu dan juga pemutusan hubungan keluarga. Ini mengakibatkan orang takut masuk Kristen, terlebih-lebih mereka yang berkasta.
Dr. H. Kraemer yang banyak berperan dalam memberitakan Injil di Bali juga dikecam oleh orang-orang Eropa yang tidak setuju dengan usahanya itu. Tahun 1935 Dr. H. Kraemer pulang ke negeri Belanda dan tidak kembali lagi ke Indonesia.
Perpisahan Gereja
Jemaat Kristen di Bali secara resmi berada di bawah penggembalaan G.K.J.W., namun kepemimpinan jemaat terpecah-pecah antara yang memilih berhubungan dengan C.M.A., G.K.J.W. dan Gereja Roma Katolik. Pada bulan Maret 1935, pemimpin-pemimpin jemaat dipanggil oleh Mr. Jansen, Asisten Residen, dianjurkan untuk bersatu mencari hubungan dengan G.K.J.W. Pertemuan itu menimbulkan perpisahan jemaat-jemaat menurut hubungan yang dipilihnya.
C. Periode 1937-1949
Masa Pendudukan Jepang
Masa ini adalah masa pembangunan, di mana jemaat-jemaat agak tenang di bawah pembinaan G.K.J.W. sampai pada tahun 1942. Pada masa Jepang, Gereja muda itu ditinggalkan oleh semua utusan, tetapi karena G.K.J.W. telah mempersiapkan mereka untuk mandiri, maka keberadaan Gereja itu terjaga dengan baik.
Cikal Bakal Gereja Kristen Protestan Bali
Setelah semua Jemaat-jemaat yang sehaluan di Bali bersatu, segera diadakan rapat-rapat untuk membicarakan pekerjaan Jemaat dan persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Dari pertemuan ini diadakan koordinasi Jemaat-jemaat dan tahun 1938 dibentuk “Pasikian Kristen Bali” (Persekutuan Kristen Bali). Persekutuan ini mula-mula hanya kalau ada persoalan dalam Jemaat-jemaat.
Pada mulanya rapat ini diadakan di rumah Ds. Gramberg, kemudian diselenggarakan oleh jemaat secara bergilir, diutamakan di jemaat yang mengalami penghambatan. Pada mulanya pimpinan dipegang oleh orang, kemudian utusan Jawa dan akhirnya diserahkan kepada orang Bali sendiri. Mula-mula rapat ini hanya memberi nasehat saja terhadap persoalan-persoalan Jemaat dan kepada Pemerintah, tetapi kemudian keputusan-keputusan itu menjadi “Tindakan Gereja”.
Tidak hanya musyawarah dan keputusan yang diambil, tetapi juga mengembangkan rasa solidaritas sebagai satu Gereja. Pada akhir tahun 1947 pemimpin-pemimpin jemaat di Bali berkumpul untuk membicarakan Gereja berdiri sendiri, yang dilanjuti dengan sidang pada tanggal 14-16 Januari 1948 di Belimbingsari. Persidangan ini dengan suara bulat memutuskan Gereja berdiri sendiri dengan nama: “Persatuan Kristen Protestan Bali”. Nama ini dirubah dalam sidang berikutnya pada tahun 1949 menjadi Gereja Kristen Protestan di Bali, disingkat menjadi G.K.P.B.
III. Refleksi
Tinjauan dan Analisa
Tiap-tiap persoalan maupun masa, senantiasa dipengaruhi oleh masa lalunya. Situasi politik, sosial dan agama sangat mempengaruhi perkembangan Injil di Bali. Adanya kebudayaan yang khusus di Bali, di mana agama sangat mempengaruhi adat dan seluruh kehidupan orang di Bali, sehingga kedatangan Injil menimbulkan banyak persoalan dan menjadi diskusi di antara pemerintah, para ahli dan di lingkungan Gereja sendiri.
Usaha-usaha Pekabaran Injil ke Bali dalam tahap pendahuluan yang diwarnai dengan pembunuhan De Vroom (1597-1881) telah mengakibatkan ditutupnya Bali untuk Zending. Kemudian usaha Salam Watias (B.F.B.S.), Pendeta Tsang To Hang (C.M.A.) danZending Belanda bersama-sama dengan G.K.J.W. telah berhasil mendirikan Gereja Bali. Pekerjaan mereka juga ada yang positif dan ada yang negatif.
Semua persoalan-persoalan tersebut mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung terhadap kekristenan di Bali.
Berdasarkan hal di atas, maka tinjauan dan analisa akan digolongkan sebagai berikut:
A. Pengaruh-pengaruh Politik, Sosial dan Situasi Kerohanian terhadap Penyebaran Injil di Bali.
Politik
Setelah peristiwa de Vroom (1881), pemerintah kolonial Belanda merasa masyarakat Bali menolak kekristenan dan tidak pernah lagi memberi izin kepada Zending untuk bekerja di Bali. Kemudian ditambah dengan tekanan dari para ilmuwan, seniman, sastrawan yang ingin menjadikan Bali sebagai “Museum Kebudayaan”. Dengan menutup Bali kebudayaan akan menjaga keasliannya sehingga menarik perhatian asing ke Bali. Keputusan ini dapat dimengerti, tetapi sebenarnya mereka lupa bahwa dengan masuknya orang-orang asing ke Bali juga membawa pengaruh besar. Mereka juga lupa bahwa agama Islam sudah ada di Bali dan berkembang yang tentu juga merubah kebudayaan.
Berdasarkan ini dapat dikatakan bahwa pemerintah kolonial Belanda menjadi penghalang pekerjaan Tuhan yang tidak menghiraukan kebebasan orang untuk berpindah agama.
Agama Kristen yang dibawa oleh Pekabar Injil yang sebangsa dengan penguasa asing gagal memperlihatkan perbedaan nilai rohani ajaran Kristen yang diajarkan dengan penindasan yang dilakukan oleh bangsanya yang menjadi penguasa asing. Disamping itu, tuntutan nilai rohani ajaran Kristen dianggap tidak sebanding dengan pola kehidupan mewah yang dijalani para Pekabar Injil Belanda. Dengan kata lain, apa yang diajarkan tidak sama dengan yang dilakukan, sehingga kekristenan yang dibawakan oleh Pekabar Injil Belanda juga ditolak.
Sosial
Perekonomian pada waktu itu yang masa “Malaise” (kemunduran perdagangan dunia disebabkan oleh tersedianya banyak barang tetapi tidak diimbangi dengan daya beli yang cukup), telah menyebabkan kesukaran ekonomi dan kemelaratan. Namun terdapat perbaikan ekonomi terutama di kalangan orang Kristen. Pekabar Injil memberikan pertolongan kepada orang-orang yang berkekurangan dan Gereja juga mendapat subsidi dari Zending. Hal lain yang mempengaruhi orang tertarik menerima Kekristenan karena adanya perubahan cara hidup dan perbaikan ekonomi, sebab orang-orang tidak lagi berjudi, sabung ayam, sehingga uang dapat dipergunakan sebaik-baiknya. Juga menjadi Kristen melepaskan mereka dari tuntutan agama Hindu Bali terutama kewajiban adat-istiadat dan penyelenggaraan-penyelenggaraan upacara yang menghabiskan biaya besar.
Adanya keterbelakangan dalam pendidikan turut mendorong orang-orang menjadi Kristen, sebab mereka ingin maju yakni dapat membaca dan menulis. Dengan menjadi Kristen mereka dapat membaca Alkitab dan bernyanyi.
Kerohanian
Dalam bidang kerohanian di sekitar tahun 1930 di Bali terdapat orang-orang yang tidak puas dengan agamanya sendiri terutama pada kalangan orang-orang berpendidikan. Adanya pengaruh-pengaruh ajaran Mistik yang diajarkan oleh Raden Atmadjakusuma mengakibatkan orang berani meninjau agamanya sendiri sebagai agama yang tidak memuaskan dan membutuhkan agama baru. Semula mereka mengharapkan akan mendapat kepuasan dalam ajaran Mistik, tetapi ternyata itu tidak memberi jawaban, dan dalam kedatangan Injil dalam suasana ini membuat orang-orang menerima kekristenan.
Keberadaan orang Bali yang sangat kuat mempercayai kekuatan-kekuatan gaib, menjadi dorongan besar untuk mempelajari agama-agama agar dapat memiliki kekuatan yang lebih besar (sakti) supaya dapat mengalahkan kuasa-kuasa gelap. Hal ini juga yang menyebabkan orang-orang mempelajari Injil.
B. Pertemuan Injil dan Kebudayaan
Dalam meninjau pertemuan Injil dan Kebudayaan di Bali, dalam hal ini yang dimaksudkan adalah Injil, bukan agama Kristen, sebab agama adalah hasil budaya manusia sedangkan Injil bukan hasil karya manusia tetapi merupakan karunia Allah kepada manusia untuk menyelamatkan manusia.
Injil yang disampaikan kepada lingkungan masyarakat yang telah memiliki kebudayaan akan menimbulkan konsekwensi bahwa kebudayaan itu akan dipengaruhi dan mengalami perubahan oleh Injil. Tetapi ada kecenderungan bahwa orang Barat yang membawa Injil menggunakan budaya Barat sebagai ukuran bagi Injil, dan semua budaya asli Bali ditolak sebagai kafir.
Oleh sebab itu tidak mengherankan apabila kedatangan Injil sekitar tahun 1930 dipandang sebagai perusak kebudayaan Bali sehingga menimbulkan pertentangan-pertentangan yang tajam seolah-olah Injil dan agama Hindu Bali tidak bisa hidup berdampingan di Bali. Keadaan yang demikian ditambah dengan pandangan Pekabar Injil maupun orang Kristen yang baru itu, bahwa segala yang berbau Bali adalah berhala dan berasal dari Iblis, menyebabkan dibongkarnya tempat-tempat pemujaan yang sebelumnya dimiliki oleh orang-orang Kristen dan pelarangan mengambil bagian dalam acara-acara desa yang berhubungan dengan penyelenggaraan adat-istiadat dan upacara. Dengan demikian orang-orang Hindu Bali menjadi marah dan menghambat mereka dengan tuduhan tidak mau mengikuti peraturan desa. Hal ini dapat dimengerti. Ini bukan karena Injil itu salah atau tidak cocok di Bali, tetapi karena utusan-utusan (termasuk C.M.A.) terlalu radikal mengadakan perombakan pembaharuan (seolah-olah itu dikehendaki oleh Injil) dengan tidak memperhatikan adat Bali yang bersangkut paut dengan agama sangat mudah menimbulkan salah paham. Sebab itu sepatutnya Injil itu memperbaharui kebudayaan Bali tanpa dipaksakan menurut ukuran-ukuran Barat, serta dengan sikap dan cara yang menunjukkan penghormatan kepada agama orang lain.
C. Tinjauan Usaha-usaha Pemberitaan Injil ke Bali
Pekerjaan C.M.A.
Melihat cara kerja C.M.A., aliran ini sangat fundamentalis dan pietis. Hal ini jelas dari dilaksanakannya baptis selam, mendoakan orang sakit untuk kesembuhan Ilahi dan dari semboyan dalam nyanyian: “Marilah kita memikul salib, biarlah kita sengsara asal nanti dapat ke surga, janganlah mengikuti dunia yang najis ini, supaya kita mendapat surga”.
Karena adanya latar belakang teologis bahwa Hari Tuhan sudah dekat, mengakibatkan mereka bekerja dengan sangat tergesa-gesa dan kasar sehingga menimbulkan tanggapan yang keras dari masyarakat Hindu Bali.
Berdasarkan hal-hal di atas, pekerjaan C.M.A. mengakibatkan pengaruh-pengaruh negatif maupun positif terhadap perkembangan kekristenan di Bali.
Segi-segi negatif
a. Pekerjaan C.M.A. mengakibatkan dihancurkannya kebudayaan asli Bali sehingga menimbulkan antipati orang-orang Hindu Bali terhadap orang-orang Kristen.
b. Sikap C.M.A. tersebut menghasilkan orang Kristen Bali yang menolak dengan tegas segala yang berbau Bali karena dianggap kafir dan dari iblis. Sebaliknya mereka menerima apa saja yang dari Barat, sehingga orang-orang Kristen Bali menjadi orang asing di Bali (karena sikapnya yang serba lain dari orang-orang desa pada umumnya).
c. Karena bekerja tergesa-gesa, maka mereka tidak memperhatikan organisasi Jemaat, tetapi membiarkan Jemaat itu berdiri sendiri dan bebas.
d. Mereka terlalu menekankan aspek keselamatan jiwa dan mendapat surga, menganggap dunia ini tidak penting, sehingga mengakibatkan orang kurang menaruh perhatian pada aspek-aspek budaya dan bermasyarakat.
Segi-segi positif
a. Dengan menghadapi banyak kesengsaraan, menghasilkan orang-orang yang sungguh taat kepada imannya yang menganggap semua penghambatan yang dialaminya sebagai ujian terhadap iman mereka.
b. Dengan adanya sikap yang keras menentang segala yang berbau Bali, mengakibatkan Gereja terlepas dari sinkretisme.
c. Kepemimpinan C.M.A., khususnya Pendeta Tsang To Hang dengan segala keberanian dan semangatnya menjalankan tugas panggilan Tuhan, meyakinkan orang-orang bahwa di dalam kekristenan terdapat hidup yang baru.
Pekerjaan G.K.J.W. dan Zending
Oleh karena izin tidak pernah diberikan kepada Zending Belanda setelah peristiwa de Vroom, maka Zending Belanda melalui Dr. H. Kraemer datang ke Bali atas nama G.K.J.W. Mereka melanjutkan pekerjaan dari dua sumber, yaitu :
a. Dari Salam Watias (B.F.B.S.) selaku orang yang mengundang Dr. H. Kraemer dan G.K.J.W.
b. Dari C.M.A.
Oleh karena Zending dan G.K.J.W. mengerjakan Bali beberapa tahun sesudah ke dua badan di atas, maka Dr. H. Kraemer dan G.K.J.W. telah banyak mendapat pelajaran dari pengalaman-pengalaman C.M.A., sehingga mereka dapat mempersiapkan diri lebih baik untuk memulai pekerjaan di Bali.
Hal ini dibuktikan dari hasil penyelidikan Guru Tartib dan Dr. H. Kraemer ke Bali pada tahun 1932 yang daripadanya kemudian dibuatkan pedoman bahwa:
a. Pekabaran Injil ke Bali harus dimulai berdasarkan “kedewasaan”
b. Mencari pertemuan Injil dan kebudayaan Bali dengan menggunakan pendekatan kultural dan persaudaraan historis “Wong Majapahit”.
c. Harus ditegaskan bahwa agama Kristen bukan agama yang murah dan gampang.
Ke tiga azas tersebut dipraktekkan dengan sungguh-sungguh.
Tetapi walaupun kerja Zending dan G.K.J.W. yang demikian, sebenarnya tidak banyak memberi hasil dibandingkan dengan C.M.A. Hal ini jelas umpamanya pekerjaan di Bali Utara sampai tahun 1935 mereka hanya berhasil membaptiskan 82 orang saja, sedangkan tahun-tahun berikutnya tidak banyak hasilnya.
Pekerjaan di Bali Selatan lebih berhasil disebabkan C.M.A. telah berhasil membaptiskan ratusan orang sehingga mereka tidak takut lagi untuk pindah agama, disamping daerah ini memang telah terbuka untuk hal-hal yang baru termasuk agama.
Untuk lebih mudah menilai pekerjaan Zending dan G.K.J.W. akan dipaparkan segi-segi negatif dan positif pekerjaan mereka.
Segi-segi negatif
a. Pemimpin-pemimpin G.K.J.W. maupun Zending sering kurang kerjasama, masing-masing mencari pengaruhnya di antara orang-orang Bali, misalnya pertentangan antara Guru Tartib dan Sam Watias. Perselisihan itu bisa dimengerti sebab selain Salam Watias adalah orang yang pertama datang ke Bali dan memberi pekerjaan kepada utusan-utusan Jawa, tetapi dalam praktek selanjutnya ternyata Guru Tartib lebih berperan sebab dia seorang pendeta.
b. Utusan-utusan G.K.J.W. dipandang oleh pemimpin-pemimpin Bali sebagai orang yang kurang setia pada tugasnya dan takut menghadapi kekacauan-kekacauan (diperbandingkan dengan Tsang To Hang yang pemberani). Hal ini jelas dalam masa pendudukkan Jepang, mereka meninggalkan begitu saja tugas-tugasnya di Bali untuk menyelamatkan diri sendiri, padahal saat-saat itu orang Kristen baru itu masih membutuhkan pimpinan mereka.
Segi-segi positif
a. Utusan-utusan G.K.J.W. dan Zending bekerja dengan hati-hati sekali, mempersiapkan diri dengan baik dan berusaha mencari pertemuan Injil dan kebudayaan Bali. Juga membimbing orang-orang Kristen supaya menghargai dan memakai kebudayaan Bali.
b. Mereka berhasil membimbing Gereja untuk bersatu. Ini jelas dengan terbentuknya Pasikian Kristen Bali tahun 1938 yang kemudian menjadi Gereja Kristen Protestan di Bali (G.K.P.B.) pada tahun 1949.
c. Para utusan telah memberi contoh kepemimpinan sehingga tahun-tahun terakhir orang-orang Bali dapat mengurus Gereja.
Pemimpin-pemimpin asli Bali
Hal yang mendorong cita-cita Gereja yang berdiri sendiri antara lain disebabkan gerakan persatuan Nasional di Indonesia pada umumnya dan di Bali pada khususnya, juga telah mempengaruhi pemimpin-pemimpin Gereja Bali untuk membentuk Gereja yang berdiri sendiri dengan tidak ada campur tangan asing.
Tindakan pemimpin Gereja seperti di atas sehingga memutuskan hubungan dengan Zending, bisa dikatakan mencampuradukkan antara Gereja dengan politik. Keberatan terhadap pemahaman ini adalah Gereja dianggap sebagai arena politik sehingga melupakan bahwa Gereja adalah Am dan bersatu di bawah satu Kepala yaitu Yesus Kristus.
Di pihak lain, tindakan pemutusan hubungan dengan Zending bisa dimengerti karena Gereja masih muda dan teologinya masih sederhana, pemimpin-pemimpin Gereja telah mengambil jalan itu sebagai jalan untuk menyelamatkan Gereja dari ancaman luar yaitu supaya Gereja tidak dituduh berpihak kepada pemerintah kolonial Belanda dan sebagai mata-mata Belanda.
D. Kekristenan Bali
Orang-orang Bali menjadi Kristen mula-mula tidak dapat dikatakan sebagai orang yang sungguh-sungguh mengerti ajaran Injil. Bahkan ada yang mengatakan “Kristus” berasal dari kata “Keris” (kekuatan) dan “tus” atau “suci”. Maksudnya Kristus adalah kekuatan yang lebih besar dan lebih suci, yang kemudian diterapkan bahwa orang yang menjadi Kristen mendapatkan kekuatan yang lebih besar sehingga bisa mengalahkan kekuatan-kekuatan gaib.
Juga banyak orang Bali yang menerima Injil masih mempertahankan mistik-mistik yang telah mereka miliki waktu mereka masih Hindu Bali, di mana Injil dianggap melengkapi mistik yang mereka miliki. Setelah menerima Injil mereka merasa lebih sakti sebagai seorang dukun atau secara sembunyi-sembunyi masih mempraktekkan ilmu mistik.
Kekristenan di Bali telah meluas melalui garis kekeluargaan. Pada umumnya perpindahan ke agama Kristen tidak dilakukan secara perorangan tetapi per keluarga, yang kemudian juga mencari keluarganya yang lain. Ini disebabkan orang berpindah agama secara perorangan sering menimbulkan kesulitan-kesulitan keluarga seperti hubungan dengan leluhur dan warisan, juga supaya bisa lebih mudah menghadapi kesukaran-kesukaran akibat penghambatan dari lingkungan masyarakat Hindu Bali.
Kesengsaraan yang dialami oleh orang Kristen di Bali akibat penghambatan-penghambatan, selain menyebabkan iman orang-orang Kristen sungguh-sungguh teruji juga telah mengakibatkan orang-orang takut menjadi Kristen, sehingga pertumbuhan Gereja sangat lambat.
IV. Kesimpulan dan Saran
Dari uraian sejarah di atas diketahui bahwa kekristenan di Bali telah ditolak demi kepentingan ekonomi pemerintah kolonial Belanda dan kemudian dengan alasan untuk melindungi kebudayaan Bali. Kekristenan dituduh sebagai perusak kebudayaan. Kedua pandangan ini masih berlaku hingga sekarang dan merupakan faktor utama yang menghalangi orang Bali untuk beralih ke agama Kristen. Faktor ekonomi juga turut berperan, sebab perusakan budaya Hindu Bali dikhawatirkan dapat menyurutkan perhatian asing ke Bali melalui pariwisata yang menjadi tumpuan perekonomian Bali selama ini.
Kedatangan Injil ke Bali bertemu dengan masyarakat yang sudah memiliki agama dan kebudayaan, yang melingkupi seluruh segi kehidupan masyarakat melalui adat. Berdasarkan ini, maka pertemuan Injil dan kebudayaan Bali harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Sepatutnya sikap dan pandangan orang Kristen menunjukkan penghormatan terhadap simbol-simbol suci, adat istiadat serta budaya agama lain. Misalnya: menghindari kata-kata dan sikap yang dapat menyinggung perasaan masyarakat Hindu Bali, pembongkaran bekas tempat pemujaan supaya dilakukan dengan sikap yang rendah hati, dan sejauh dimungkinkan ikut terlibat kerjasama adat dalam batas-batas yang tidak bertentangan dengan integritas iman Kristen. Hal ini akan memudahkan penerimaan kekristenan karena sikap yang menghormati agama lain juga akan menuai penghormatan dari agama lain pula.
Pendekatan kultural yang dilakukan oleh utusan G.K.J.W. telah terbukti dapat membuka hati masyarakat Bali untuk menerima kekristenan. Gereja juga dapat mengembangkan kesenian Kristen, seperti arsitektur Gereja, dekorasi, serta musik, tari dan lagu yang diangkat dari kebudayaan Bali sebab pada hakekatnya kekristenan adalah untuk memperbaharui dan bukan untuk menghilangkan kebudayaan. Berdasarkan ini, orang Kristen Bali dapat menghargai warisan budaya Bali dalam konteks imannya dan mengembangkan cara-cara baru untuk mengungkapkan iman Kristen menggunakan budaya Bali. Hal ini akan memperkaya budaya Bali dan menepis tuduhan bahwa kekristenan merusak kebudayaan.
Pemutusan hubungan dengan Zending juga menghentikan bantuan dana dari Zending. Pada hakekatnya tiap-tiap orang Kristen terpanggil untuk berdiri sendiri dan dewasa di hadapan Tuhan dengan tetap sebagai Gereja yang Am. Kemandirian dalam dana harus senantiasa diusahakan. Bila bantuan dana diberikan maka itu adalah untuk mendukung supaya Gereja dapat mengembangkan diri menuju kemandirian yang lebih tinggi dan tidak tergantung kepada pemberi dana.
Alasan ekonomi untuk masuk Kristen perlud disikapi dengan hati-hati agar tidak memberikan kesan bahwa agama Kristen adalah agama yang murah dan gampang. Namun kenyataan bahwa banyak orang yang keadaan keuangannya sulit, maka Gereja dapat mendirikan lembaga-lembaga dan proyek-proyek yang berfungsi sebagai sarana pelayanan masyarakat, sarana pengembangan SDM, serta sarana penciptaan peluang kerja sebagai sarana penginjilan maupun untuk membantu warga jemaat.
Kekristenan di Bali yang meluas berdasarkan garis kekeluargaan pada akhirnya dapat mempengaruhi kepemimpinan Gereja di Bali dalam bentuk nepotisme, apabila pemilihan pemimpin Gereja lebih didasari oleh kepentingan keluarga daripada kemampuan dan visi misi dari calon pemimpin itu.
Kekristenan di Bali masih sangat muda dan masih harus banyak belajar untuk menjadi Gereja yang dewasa.
TEOLOGI
Senang sekali mendapat informasi tentang sejarah gereja Bali.
Meski buku ini ditulis dalam kurun waktu tertentu, tapi dapat membantu memberi pemahaman dengan pertumbuhan dan perkembangan gereja di Bali. Pertanyaan saya, apakah saat ini gereja di Bali telah makin dewasa menyikapi missinya di tengah konteks Bali yang multikultur dan modern. Sejauhmana kontekstualisasi telah dilakukan oleh gereja Bali, dan dalam bentuk-bentuk apa saja. Saya tentu sangat senang jika ada yang mau berbagai informasi dan refleksi tentang perkembangan gereja di Bali saat ini. Terima kasih. shalom..Pdt. Rudy Rahabeat di Gereja Protestan MAluku (GPM)
Comment by pdt rudy rahabeat — August 9, 2007 @ 9:33 am
Sesungguhnya orng Jawa,Bali,Kalimantan,Lombok yg tetap teguh menganut Agama Hindu Bali lebih mudah mendapat surga dibanding mereka yang pindah ke agama lain..karena Tuhan menganugerahkan Nusantara dengan agama yg dsebut oleh Beliau agama Hindu Bali..sama halnya dgn India yg menerima Hindu India dan Budha,Vatikan yg menerima Katolik,Israel yg menerima Yahudi,Arab Saudi yg menerima Islam..jika mereka meninggalkan anugerah itu sesungguhnya mereka gak taw trm kasih!Yg saya sampaikan ini bukan bualan semata..ini adalah sabda Hyang Widhi..bahkan Beliau bersabda bahwa Kristus adl Awatara(Beliau sendiri turun ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari kiamat)..kami umat Hindu yg menerima sabda ini mengakui bahwa Kristus adl Tuhan..tp sgt disayangkan jika anda org Bali tetapi memeluk agama lain dan melupakan aci-aci Kahyangan Jagat di Indonesia, melupakan Merajan untuk penghormatan Leluhur..tapi memeluk agama adl hak asasi anda…
Comment by Bisikan — December 19, 2007 @ 6:42 am
Gambaran kekinian Gereje Kristen Bali dari Perspektif Kaum Awam.
Analisis Stakeholders Menuju Organisasi Gereja Berkesinambungan
Oleh
*)I Gusti Bagus Rai Utama, SE., MMA., MA.
http://gkpb-kudus-sading.blogspot.com/
Sebenarnya secara makna stakeholder sungguh tidak terlalu asing dalam kehidupan bergereja. Jika seseorang memiliki sesuatu yang dapat menggerakkan sesuatu entah secara paksa maupun sukarela sebenarnya dia juga disebut stakeholder. Alkitab banyak mencatat tentang Para Nabi yang dapat menggerakkan umat, misalnya saja; Nabi Musa yang berhasil menggerakkan Umat Israel keluar dari tanah mesir, begitu juga sejumlah umat bersatu untuk menyuarakan niat dan dapat mempengaruhi organisasinya, maka dia juga adalah stakeholder.
Lalu apa yang sebenarnya yang disebut dengan (1) stakeholders? (2) Siapa saja yang disebut stakeholders dalam organisasi gereja?, (3) Ciri-ciri apa saja yang dimiliki oleh stakeholder? (4) Dapatkah stakeholders diidentifikasikan?
Sebelum menjawab empat pertanyaan di atas, mari kita ketahui apa itu stake? Menurut Mitchell (2006) Stake dapat mencangkup sesuatu nilai yang berbentuk sumberdaya; SDM, fisik bangunan tanah dan gedung, keuangan dan sebagainya, legalitas, moralitas, system dan tentunya juga budaya organisasi, dalam artian hal inilah yang akan di hold oleh stakeholders.
Stakhoders dalam organisasi dapat terdiri dari individu-individu dan kelompok yang diharapkan oleh sebuah organisasi dalam mewujudkan tujuan organisasi untuk pertumbuhan dan kelangsungan organisasi. Sedangkan stakeholders dalam kehidupan organisasi gereja terdiri dari para Pendeta dan Jemaatnya serta individu lainnya yang sesuai dengan definisi di atas. Mitchell, Eagle and Wood
(2006) menjelaskan bahwa Stakeholders dikelompokkan dalam beberapa tipe sesuai kemampuan mempengaruhi suatu organisasi berdasarkan power, legitimasi, dan urgensi yang dimilikinya. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Dormant stakeholder adalah stakeholder yang hanya memiliki power namun tidak memiliki legitimasi dan urgensi.
2) Discretionary stakeholder adalah stakeholder yang hanya memiliki legitimasi namun power dan urgensi tidak ada padanya.
3) Demanding stakeholder adalah stakeholder yang hanya memiliki urgensi namun tidak memiliki power dan legitimasi
4) Dominant stakeholder adalah stakeholder yang memiliki power dan legitimasi namun tidak memiliki urgensi.
5) Dangerous stakeholder adalah stakeholder yang memiliki power dan urgensi namun tidak memiliki legitimasi.
6) Dependant stakeholder adalah stakeholder yang memiliki legitimasi dan urgensi namun tidak memiliki power.
7) Definitive stakeholder adalah stakeholder yang memiliki power, legitimasi, dan juga urgensi.
Dari tujuh tipe stakeholder di atas, kita dapat mengkondisikan organisasi yang ada di gereja kita, apakah para stakeholder termasuk salah satu diantaranya? Power mungkin berupa uang, kekayaan material lainnya, karisma dan sejenisnya. Legitimasi mungkin berupa kewenangan untuk membuat keputusan dan bertindak, dan urgensi mungkin berupa keinginan, kebutuhan, dan kepentingan untuk keberlanjutan organisasi.
Tipe stakeholder yang dianut di atas akan berimplikasi pada kreasi, inovasi, dan loyalitas jemaat yang ada. Harusnya semua Stakeholder Gereja Bali ada dalam tipe definitive stakeholder yang memiliki power, legitimasi, dan juga urgensi sehingga kehidupan gereja akan mengalir dari loyalitas jemaat, jika loyalitas jemaat terbentuk maka alhasil kehidupan dalam bergereja akan dipenuhi dengan semarak saling asuh, asah, dan asih. Kebanyakan organisasi akan stagnan jika para stakeholder tidak memiliki ketiga indikator di atas. Mungkin ada sebuah organisasi di Gereja Bali, yang para stakeholdernya hanya memiliki urgensi namun tidak memiliki legitimasi dan power untuk bersuara hal ini mungkin akan menurunkan semangat kerja yang pada akhirnya menurunkan loyalitas terhadap organisasi dan sekaligus pula menurunkan produktivitasnya.
Konsep rantai pelayanan dan nilai akan sangat relevan pada saat ini. Misalnya saja, jika seorang Pendeta yang melayani Jemaat mau dan mampu melayani sesuai dinamika “konteks” kehidupan saat ini maka akan tercipta kondisi Jemaat akan merasa ingin dan butuh untuk menyantap Firman Tuhan pada setiap kebaktian di Jemaat, dalam hal ini para pendeta tidak cukup dengan kemampuan Biblical semata namun lebih daripada itu sehingga diperlukan kreasi dan inovasi yang berkelanjutan. Jika Jemaat merasa ingin dan memerlukan pelayanan Firman Tuhan senantiasi itu menandakan adanya korelasi yang nyata antara pelayanan seorang pendeta terhadap kehidupan jemaat yang digembalakannya. Jika kondisi ini terjadi maka telah terbangun loyalitas dalam organisasi sehingga konsep pelayanan diantara kita akan terbentuk dalam rantai pelayanan dan nilai organisasi. Setiap Jemaat yang datang ke gereja telah tertanam dalam benaknya, apa yang saya “dapat” hari ini? Jika kotbah seorang pendeta hanya dengan pendekatan Biblical semata, maka jemaat tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan atau “baca sendiri juga bisa”
Stagnasi organisasi juga dapat disebabkan akan kurangnya inovasi dan kreasi para stakeholder yang disebabkan ketiadaan power dan urgensi atau dalam artian sederhana stakeholder yang tidak peduli akan keberlanjutan organisasinya. Organisasi masa kini harus mampu menyentuh dan bersentuhan dengan masalah yang berhubungan dengan kemanusiaan dengan berbagai permasalahannnya (Social Value), kesejahteraan para anggotanya (Economic Value), serta kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya (Environmental Value). Ketiga hal ini sangat menentukan keberlanjutan organisasi. Jika Gereja gagal membawa nilai nilai sosial maka gereja bagaikan garam yang tawar. Sedangkan jika gereja gagal membawa nilai nilai kekristenan pada lingkungannya maka dia tidak akan dapat menjadi terang dunia. Begitu juga, jika gereja tidak mampu menjadi inspirator nilai-nilai ekonomi (Intraprenurship) maka gereja akan menciptakan umat-umat miskin fisik dan tentunya Injil akan sangat sulit untuk diwartakan. Ketiga Value (Social-Economic-Environmental) sebaiknya dijadikan bingkai segitiga dalam pelayanan Gereja masa kini dan sekaligus menjadi jembatan penghubung antara misi GKPB yang pertama dan misi GKPB saat ini.
———————————
Comment by Rai Utama — March 19, 2008 @ 2:13 am
Syalom Bapak dan Ibu yang terkasih dalam Tuhan Yesus,
Mohon bantuan Bapak dan Ibu dalam menyebarluaskan info pelatihan ini.
Jaringan Lembaga untuk Akuntabilitas (JALA) merupakan Lembaga akreditasi yang akan membantu yayasan/lembaga kristiani di seluruh Indonesia untuk meningkatkan akuntabilitas dan transparansi lembaganya dalam hal bidang keuangan yayasan.
Hanya atas Kasih dan Anugrah serta pertolongan Tuhan Yesus, JALA tetap ada dan tetap berjuang untuk meningkatkan akuntabilitas dan transparansi di negeri Indonesia tercinta ini.
Akuntabilitas tidak bisa dibangun oleh beberapa organisasi saja, akan tetapi Akuntabilitas perlu di dukung oleh kita semua, ini merupakan pekerjaan rumah kita bersama sebagai umat kristiani dan sesuai dengan firman Tuhan supaya kita menjadi Terang Dunia (Mat 5 : 14) dan terlibat di dalamnya.
Untuk membantu dalam meningkatkan dan mencapai transparansi serta akuntabilitas suatu yayasan, JALA mengadakan pelatihan-pelatihan di bidang keuangan, antara lain : PSAK 45 (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) khusus Yayasan, Perpajakan untuk ONL dan Penulisan Proposal yang kami yakin sangat di butuhkan oleh tenaga-tenaga di bidang keuangan Yayasan maunpun gereja pada saat ini.
Berdasarkan hal tersebut, kami ingin menggandeng Yayasan Bapak dan Ibu sebagai salah satu organisasi Kristen yang belum menjadi anggota JALA untuk turut bergabung membangun Indonesia yang akuntabel dan transparan sehingga nama Tuhan semakin dimuliakan. Dan bekerjasama dalam mengajak mitra-mitra Yayasan/Gereja Bapak dan Ibu yang masih membutuhkan bantuan serta pelatihan khusus dalam meningkatkan akuntabilitas lembaga/yayasan/gerejanya.
JALA akan mengadakan Pelatihan ke 5, yaitu pelatihan Penulisan Proposal dan PSAK 45 di Srondol Semarang Atas pada tanggal 9-11 April 2008 mendatang.
Brosur terlampir.
Besar harapan kami agar bapak dan ibu dapat berpartisipasi dalam pelatihan tersebut.
Terima kasih atas perhatian dan kerjasama dari Bapak dan Ibu.
Tuhan memberkati,
Evi Tobing
Kord. Jaringan JALA
Email : jala_office@yahoo.com / jala.office@gmail.com
Comment by JALA — April 2, 2008 @ 2:52 am
saya sebagai generasi muda Bali akan bertahan sekuat tenaga mempertahankan budaya bali yang dilandasi oleh ajaraj Hindu, kenapa demikian terbukti hindu adalah kedamaian coba lihat apa yg terjadi dengan rumpun agama sematik (islam-kristen-yahudi) mereka terus berperang tiada akhir dan lihat bagaimana penderitaan mereka saya tidak ingin bali seperti Palestina atau irak. Hindu adalah agama damai. dan satu lagi coba bayangkan kalau pura di bali di ganti dengan gereja apa ada turis yg datang….ingat turis datang karena mereka melihat bali itu lain daripada yg lain. Sekali lagi Hindu is my soul…..and my spirit
Comment by IGN Suwardika — April 24, 2008 @ 1:19 am
PENYEBARAN AGAMA KRISTEN DI BALI
Tulisan di bawah ini tentang awal penyebaran agama Kristen di Bali, direkam oleh Miguel Covarrubias, seorang pelukis hebat dan anthropolog jempolan asal Mexico, dalam bukunya “The Island of Bali” (hal 396 - 399), yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1937. Dipostingkan di sini sekedar sebagai pengetahuan umum, dan mudah-mudahan membantu kita untuk menempatkan arti toleransi pada perspektif yang benar.
PENYEBARAN AGAMA KRISTEN DI BALI
Selama satu abad yang lalu segala upaya dilakukan untuk mengkristenkan orang Bali telah gagal, dan kisah Nicodemus, orang Bali pertama yang masuk Kristen, sudah sangat terkenal. Nicodemus adalah pelayan dan murid pertama seorang missionari yang datang ke Bali. Dia mengijinkan dirinya untuk dibaptis setelah beberapa tahun melayani missionari itu, tapi waktu berjalan dan tidak ada orang Bali lain yang dapat ia ajak masuk Kristen, demikianlah missionari itu mulai menekan Nicodemus untuk membaptis orang lain. Anak malang ini, yang secara mental telah tersiksa karena masyarakat (banjar dan keluarga besarnya) telah mengusirnya, dan menyatakan ia secara moral “sudah mati” tidak mampu lagi menahan keadaan ini lebih jauh, membunuh tuannya, membuang agama barunya, dan menyerahkan dirinya untuk dihukum menurut hukum adat Bali. Skandal ini menyebabkan dibuatnya suatu undang-undang di negeri Belanda untuk mencegah kegiatan missionari di Bali.
Namun ini tidak menghentikan kegiatan para penyebar agama Kristen; ijin diberikan kepada mereka pada tahun 1891, dan tahun 1920, dan lagi tahun 1924, ketika agama Katolik Roma meminta ijin khusus, tapi gelombang penolakan oleh orang-orang Bali membuat upaya-upaya konversi itu gagal. Pertemuan dilakukan oleh para pemimpin Bali untuk “menghentikan malapetaka/gerubug ini” dan ijin yang telah diberikan dibatalkan oleh Pemerintah Belanda.
Tapi pada akhir tahun 1930 missionari dari Amerika berhasil mendapat ijin masuk ke Bali, dengan tujuan hanya untuk memelihara “jiwa-jiwa yang sudah diselamatkan” dan tidak mencari pengikut baru. Tapi secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi mereka mulai bekerja di antara orang-orang Bali. Para missionari awal yang lebih tulus berupaya mendapat pemeluk baru berdasarkan keyakinan tapi gagal, tapi para missionari yang datang kemudian menginginkan hasil yang lebih cepat dan memakai cara-cara yang efektif. Memanfaatkan krisis ekonomi yang mulai terasa di Bali, mereka berusaha meyakinkan calon-calon atau sasaran mereka yang umumnya sangat miskin dengan menyatakan bahwa bila mereka masuk Kristen kesulitan ekonomi mereka akan berakhir dan mereka akan bebas dari kewajiban-kewajiban (iuran) adat, - satu-satunya yang perlu mereka lakukan hanyalah formula “Saja pertjaya Jesoes Kristos”.
Bila orang yang mengucapkan kata-kata magik ini adalah seorang kepala keluarga, para missionari itu mengklaim setiap anggota keluarganya juga sebagai Kristen dan mereka akan menepuk dada mengenai tiga ratus orang pemeluk baru.
Tak berselang lama orang-orang Kristen baru ini segera mengetahui mereka ditipu; mereka tetap membayar pajak sama seperti sebelumnya, menjadi orang yang dibenci oleh desa adatnya, dan mereka diboikot (’kesepekang’). Di Mengwi, dimana para missionari itu mendapat sukses besar, para penguasa menolak untuk membebaskan orang-orang yang pindah agama ini dari kewajiban-kewajibannya, mengakibatkan konflik tak berkesudahan dengan banjar atau desa adat dan subak; gugatan di pengadilan dilakukan dan kesusahanpun dimulai. Di banyak desa awig-awig dibuat dan menjadi hukum adat yang menetapkan bahwa orang-orang yang meninggalkan agama Bali dinyatakan sebagai orang yang “telah mati.”; rapat-rapat dilakukan untuk mendiskusikan kemungkinan untuk membuang orang-orang ini ke tempat-tempat jauh seperti Djimbrana (Jembarana) bersama-sama dengan para penjahat lain. Orang-orang Kristen (baru) ini juga menjadi sangat susah mengurus mayat-mayat keluarga mereka, karena mereka dilarang menguburkan mayat-mayat itu di kuburan desa dan tempat lain yang tersedia adalah sawah atau semak-semak (yang di Bali dilarang untuk mengubur mayat, pen). Pada saat itu suasana menjadi sangat tegang dan hampir-hampir meletus jadi kerusuhan. Para pemuka desa yang mempunyai keperdulian bicara dari hati ke hati dengan orang-orang yang pindah agama ini dan berhasil membawa mereka kembali kepada agamanya semula (agama Hindu).
Sangat unik adalah kisah Pan Luting, seorang kepala desa yang pindah agama dan membantu missionari menambah jumlah pengikutnya. Dia menyesal, mengaku ia telah ditipu, dan sebagai aktor topeng yang terkenal, dalam setiap pertunjukkannya ia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengolok-olok para missionaris dan menyatakan kegembiraannya karena tidak lagi menjadi Kristen. Seorang yang lain juga berhenti menjadi Kristen karena penyakit sipilis yang dideritanya tidak sembuh setelah ia mengucapkan kata-kata magik “Saja pertjaja pada Jesoes Kristos,” sebagaimana ia dijanjikan oleh seorang missionari. Dan lagi, seorang pemeluk Kristen baru pada saat menjelang kematian cepat-cepat membuang agama barunya ketika ‘balian’ desa menolak mengobatinya, karena menurutnya obatnya tidak akan mempan terhadap seorang Kristen. Dia sembuh, dan tak perlu dikatakan lagi ia lalu mengadakan piodalan besar di sanggahnya. Kisah-kisah semacam ini terus berulang di Bali, tapi ilustrasi yang terbaik yang menggambarkan kedangkalan keyakinan para pemeluk baru ini terhadap agama Kristen adalah percakapan antara seorang pemuda yang baru masuk Kristen dengan seorang pejabat yang tersadarkan berikut ini :
“Knapa Ktoet boeang agama Bali?”
“Sebeb saja pertjaja!”
“Pertjaja apa?”
“Saja pertjaja Toean Jesoes Kristos.”
“Siapa dia?”
“Itoe Toean jang pake badjoe itam jang sering datang deri lombok.”
Akhirnya kekacauan sudah sangat jelas dan Missionari Amerika ini harus pergi meninggalkan Bali. Sampai saat itu para missionari Belanda telah menahan diri untuk melakukan kegiatan di Bali, tapi ketika datang berita bahwa missionaris saingannya berhasil mendapat berapa orang pemeluk, mereka mulai muncul kepermukaan dan melakukan segala upaya agar undang-undang yang melarang missi di Bali diubah. Kontroversi yang sengit marak di surat-surat kabar di Belanda dan Jawa; para missionari mengklaim bahwa orang-orang Bali sudah masak untuk dialih-agamakan sebab rasa keagamaan mereka, akhirnya sudah pecah. Seorang Dr. Kraemer, kepala dari missionari Protestan, pergi ke Bali untuk melakukan penyelidikan dan setelah tinggal di pulau ini selama sebulan, menulis satu laporan tebal yang dimaksudnya untuk membuktikan kegagalan dari agama Bali, dan ide bahwa orang-orang Bali sesungguhnya ingin menjadi Kristen, tapi ditentang oleh para intelektual Eropa yang tinggal di Bali. Argumen ini segera dijawab oleh Tjokorda Gede Raka Soekawati, wakil Bali di Volksraad, “DPR” di Batavia. ‘Temuan’ Dr. Kraemer yang penuh prasangka itu segera dihancurkan oleh jawaban-jawaban dan analisis atas argumennya yang dilakukan oleh para peneliti yang sebenarnya (real students) tentang Bali, orang-orang seperti Bosch, Goris, Korn, Haga, Lekkerkerker, De Bruyn Kops dan Damste. Dr. Goris menunjukkan bahwa pandangan para missionari didasarkan atas prinsip bahwa semua manusia pada dasarnya “buruk” (no good) dan dalam “konflik jiwa” tanpa harapan yang hanya dapat disembuhkan oleh satu jenis agama khusus yang dipropagandakan oleh para missionari. Menemukan bukti kecil dari “konflik jiwa” ini mereka memperbesarnya dan menciptakannya dengan mengadu domba antara kasta-kasta dan mempermainkan kemiskinan mereka, dengan demikian mereka mendorong pertentangan antar kasta ini dari pada menghilangkannya, itulah klaim mereka. Aneh sekali, missionari yang sama yang menuduh orang Bali dangkal agamanya justru menyetujui pengalihan agama berdasarkan kepura-puraan yang sama sekali tidak tahu apapun mengenai agama Kristen kecuali beberapa istilah Melayu yang umum.
Sementara itu, sementara kontrversi terus berkobar, para missionari yang cerdik mulai menemukan pijakan. Dewasa ini seorang pastor Katolik dan seorang pendeta Kristen Protestan ditempatkan di Denpasar, dan seorang missionari lain di tempatkan di Buleleng, ketiga-ketiganya tentu saja berhati-hati tapi tak kenal lelah dalam upayanya untuk “menyelamatkan” orang-orang Bali.
Tapi Bali sama sekali bukanlah tempat dimana para missionari ini dapat memperbaiki dengan cara apapun standar moral dan phisik orang-orang Bali dan sangat sulit untuk percaya, mengetahui karakter orang-orang Bali, bahwa mereka (para missionari itu) akan berhasil. Agama bagi orang Bali lebih dari sekedar upacara spektakuler dengan musik, tarian, dan sentuhan drama kejantanan; agama Hindu adalah hukum mereka, kekuatan yang membuat mereka tetap bersama. Agama Hindu adalah pendorong terbesar bagi hidup mereka sebab ia memberikan mereka etika, budaya, kebajikan dan kebahagiaan dengan upacara-upacara yang penuh kegembiraan yang mereka cintai. Lebih dari sekedar agama, agama Hindu adalah phalsafah moral dengan nilai spiritual yang tinggi, kegembiraan dan bebas dari fanatisme, yang menjelaskan kepada mereka kekuatan-kekuatan misterius dalam alam semesta ini. Sulit sekali untuk membayangkan bahwa agama (Hindu) ini akan dapat digantikan oleh agama eskapis (lari dari dunia nyata, pen) yang hambar kosong dari keindahan dan upacara-upacara yang dramatis.
Pulau kecil yang bernama Bali, sekarang terkenal karena keindahan orang-orangnya, kehidupan beragamanya yang sangat sungguh-sungguh (intense), dan keseniannya yang sangat kaya, musik dan theater, masih merupakan satu diantara bangsa-bangsa yang sangat mengagumkan yang tidak akan pernah kita kenal lagi, salah satu dari negeri-negeri yang disebut sebagai primitif. Memang benar orang-orang Bali adalah orang-orang primitif, sekalipun kita menggunakan istilah ini untuk membedakannya dengan peradaban kita yang materialis dari budaya asli dimana kehidupan sehari-hari, masyarakat, seni, dan agama membentuk satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisahkan kedalam unsur-unsur tanpa menghancurkannya; kebudayaan dimana nilai-nilai spiritual menuntun cara hidup.
Comment by J.Petrus Lazuardi — December 12, 2008 @ 8:52 pm
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Veda adalah dokumen tertulis tertua di dunia yang memuat berbagai inti sari kehidupan dan rahasia-rahasia alam duniawi dan rohani. Berbagai rongrongan, hujatan dan tipu daya ditujukan kepada Sanatana Dharma (Hindu) demi untuk mengejar pengikut sebanyak-banyaknya dengan didorong oleh fanatik sempit oleh sekian banyak oknum dari kalangan agama-agama yang tergolong agama Timur Tengah (Berger, 1981). Mulai dari usaha kalangan misionaris Kristen yang memiliki misi menterjemahkan Veda dalam bahasa Inggris denggan tujuan memutar balikkan isi Veda sampai dengan kebohongan yang dibuat-buat kepada pengikut Veda yang pemahaman tentang ajarannya masih dangkal sehingga terbujuk meninggalkan gudang mutiara Veda.
Benarkah Veda adalah dokumen kuno yang sangat kolot dan ketinggalan zaman? Apakah Hindu agamanya orang-orang pra-sejarah? Golongan orang-orang musrik penyembah berhala? Sudah saatnya kita membuka mata lebar-lebar, memilah-milah manakah kamus lengkap dan mana kamus yang cuma buat contekan. Mari kita bandingkan antara Al-kitab yang hanya terdiri dari beberapa buku (setelah diadakan pengeditan oleh Paulus I), bahkan jika dibandingkan ternyata hanya sebagian kecil dari kitab Bhagavad Gita (Ellsberg, 1991). Al-Quran yang terdiri dari sekitar 9000 ayat. Dan tahukah kita bagaimana dengan Veda? Sudahkah kita sebagai Hindu melihat atau mungkin memiliki Veda yang lengkap? Ya, ternyata Veda begitu luas dan memang susah menelah semua isinya. Banyak isi-isi Veda yang mungkin tidak masuk dinalar tetapi sungguh-sungguh terjadi. Ambil saja contoh ayat yang menyatakan kotoran sapi sebagai penyucian segala mala, Siapa yang percaya? Tetapi ternyata dari teknologi modern saat ini memang benar bahwa kotoran sapi dapat menyembuhkan berbagai penyakit oleh bakteri, jamur maupun virus karena kandungan senyawa anti biotiknya. Inilah Veda, kamus lengkap yang menaungi semua kamus-kamus kecil lainnya. Tetapi sayangnya kita sebagai pewaris ternyata tidak pernah tahu bagaimana Veda sesungguhnya, hanya bisa bengong menyaksikan unjuk kebolehan orang lain yang ternyata tidak melebihi dari seperempat saja pernyataan-pernyataan kebenaran Veda. Kita hanya bisa menunggu sampai orang lain menyelidiki dan mengemukakan keluar biasaan isi Veda.
Dalam tulisan kecil ini saya akan mencoba untuk menelah sloka-sloka Veda tentang energi Nuklir sesuai dengan bidang studi yang saya geluti saat ini di Fakultas Teknik UGM. Disamping itu sebagai tambahan saya akan coba menghubungkan Veda dengan ilmu pengetahuan populer lainnya. Mari kita cermati sisi-sisi lain, sisi yang sangat luar biasa, hal yang memang belum banyak disadari oleh pengikut Veda sendiri. Inilah satu dari ribuan sisi luar biasa Veda. Semoga kebenaran datang dari segala penjuru.
B. Tujuan
Tidak dapat dipungkiri, generasi Hindu kita saat ini sudah mulai mengalami kebutaan, kebodohan dengan mencampakkan mutiara Veda dan lebih tertarik dengan perhiasan-perhiasan tembaga dan perunggu, lebih tertarik untuk diselamatkan. Apakah itu memang benar? Siapakah yang salah? Menurut pengamatan saya, ada begitu banyak motif orang berpindah agama, diantaranya adalah :
1. Karena harta benda. Ternyata hal ini sangat banyak terjadi di sekitar kita. Dalam menjalankan misi kemisionarisannya, terdapat sekian banyak oknum Kristen dengan menjanjikan uang bagi mereka yang mau ikut seiman sebagai orang Kristiani. Dan sedihnya lagi ternyata para misionaris mendapatkan uang dari setiap kepala yang berhasil mereka konversi.
2. Kecintaan duniawi. Adalah hal yang sangat lumrah dan biasa jika seseorang rela melepas agamanya demi seorang kekasih. Meskipun dia belum tahu tentang agama yang akan dia anut apakah dengan ajaran lebih baik, lebih sesuai dengan dirinya atau malah sebaliknya? Mungkin tidak masalah jika itu sesuai dengan nuraninya, tetapi jika bertentangan, ternyata dia juga lebih memilih kekasihnya. Meski Krisna sendiri bersabda dalam Bhagavad Gita bahwa begitu banyak jalan menuju Beliau, tetapi banyak aspek lain yang harus dipertimbangkan, terlebih lebih dalam jaman kali ini.
3. Balas budi. Ada sebuah kisah keluarga yang saya temui, ternyata mereka masuk agama tertentu hanya karena mereka dibantu waktu mereka mengalami kesusahan materi. Secara tersembunyi mereka sering diajak mengikuti ritual keagaman agama tertentu. Sampai akhirnya dengan rasa hutang budi mereka mengikuti agama orang itu tanpa mengerti sedikitpun tentang isi kitab sucinya.
4. Kebodohan. Banyak orang merasa kalau agama tertentu lebih baik hanya dengan mendengar dakwah-dakwah orang saja. Merasa malu akan hujatan dan pernyataan miring yang ditujukan kepadanya. Padahal sebenarnya pengetahuan mereka tentang agamanya sendiri sangat dangkal. Inilah kasus-kasus yang sering menimpa saudara-saudara kita. Bahkan setelah pindah agama sering kali mereka menjelek-jeleknya agama yang pernah mereka anut, meskipun sebenarnya dia tidak pernah tahu hal yang sesungguhnya tentang agama tersebut. Tidak pernah membandingkan kedua kitab suci-nya, karena mereka hanya tahu dari isu-isu orang tanpa pernah mau membuktikannya. Bukan hal yang salah jika ada saudara kita masuk agama lain, asalkan mereka memang bisa lebih baik dan lebih yakin dengan agama mereka yang baru.
5. Paksaan. Bukan hal asing dalam sejarang manusia, sekelompok orang tega-teganya memaksakan keyakinannya kepada orang lain dengan dalih agama. Setidaknya inilah yang saya baca dari metode penyebaran islam melalui dakwah dalam tulisan-tulisan Harun Yahya. Silahkan anda cek di internet. Di Jogja sendiri banyak saudara- saudara kita dikawinkan dan dipaksa untuk masuk agama tertentu. Mereka tidak bisa menolak dan tidak mampu bergeming karena kebodohan mereka sendiri tentang Veda. Dan masih banyak lagi motif-motif lainnya yang tidak bisa kita bahas satu persatu dalam makalah singkat ini.
Tujuan utama dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dan kewajiban dalam mengikuti kuliah agama Hindu, dan sekaligus saya ingin menyampaikan sebatas pengetahuan saya kepada pembaca paper ini tentang hakekat Veda yang tidak pernah bertentangan dengan IPTEK. Veda benar-benar selaras dengan teknologi itu sendiri. Dan sebagai tujuan terselubung saya ingin mengajak pembaca untuk lebih mencintai Veda, mencintai Hindu. Pelajarilah Dia, dalam Veda tidak ada istilah murtat Jika kita mengutak-atik dan membuktikan kebenaran sloka-slokanya. Tetapi saya tidak yakin jika pembaca bisa melakukan hal serupa terhadap kitab agama-agama timur tengah. Andaikan ada saudara kita yang berminat pindah agama, silakan! Itu haknya, tetapi saya harap coba cermati isi-isi Veda dan bandingkanlah dengan kitab suci agama yang ingin dituju. Saya yakin orang-orang pintar akan memilih Veda, tetapi kita yang bodoh malah sebaliknya. Hal ini terbukti dengan perkembangan Veda di barat yang sangat pesatnya pada abad ini, dianut oleh cendikiawan dan ilmuwan terkenal, tetapi sebaliknya disini kita bagaikan menyia-nyiakan mutiara ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
Memperoleh kebenaran ilmiah, pengetahuan modern memakai langkah-langkah baku yang dikenal sebagai metode ilmiah. Dalam Hindu yakni dalam filsafat Samkhya, langkah-langkah tersebut disebut dengan Tri Premana yang merupakan metode ilmiah dalam Hindu. Jika hidup dipandang sebagai sebuah eksperiment (menyitir pendapat Mahatma Ghandi), maka Tri Premana adalah landasannya. Eksperiment bermula dari adanya problem yang harus dipecahkan. Pemecahan masalah didasarkan atas pengamatan atas gejala-gejala yang timbul (Anumana Premana). Mengumpulkan keterangan dari sumber tertulis atau pengalaman orang lain/data sekunder (Agama Premana) serta dibuktikan dengan pengamatan langsung/ data primer (Praktiasa Premana) (Suja, 2000).
Agama masa depan adalah agama alam semesta. Agama yang menghindari dogma dan teologi. Berlaku secara alamiah dan batiniah, serta berdasarkan pengertian agama yang muncul karena berbagai pengalaman, baik fisik maupun spiritual dan merupakan satu kesatuan yang sangat berarti. (Strathern, 2003).
Problem Gandhi dengan Kristen, semata-mata hanya pada pemahaman teologis dan etnis. Dia tidak dapat mengimani bahwa Yesus Kristus hanya satu-satunya anak Allah, juga tidak dapat menerima bahwa keselamatan bergantung pada pengakuan tersebut. Pada saat yang sama, tingkah laku orang-orang Kristen membuatnya ragu, bahwa agama mereka memiliki banyak klaim-klaim tentang kebenaran. Tidak hanya perilaku orang-orang Kristen barat yang telah memunculkan dua kali perang dunia sepanjang hidup Ghandi, tetapi juga perilaku monarki Inggris dan seluruh agen-agen kekaisaran yang merupakan pemuja Kristus di gereja (Ellsberg, 1991).
Sumber paling berharga di antara karya-karya Tustari yang luas yang mencakup inti ajarannya adalah tafsir mengenai Al-Quran, dimana Tustari sebagai pengarang utamanya dan sejumlah teman serta murid-muridnya sebagai penyusun aktual. Tafsir ini, Tafsir Al-Quran terdiri dari kompendium yang paling berharga dari tradisi Tustari dan disusun dalam bentuk finalnya antara 888 dan 910. Ia dihargai sebagai produk awal tafsir sufi mengenai Al-Quran. Sebagai tafsir Al-Quran sufi tertua yang masih bertahan dan sebagai pelopor literatur yang berwawasan luas dan penting, meskipun kaum sufi dianggap sebagai golongan sesat dalam Islam ( Berger, 1981).
Di dunia ini semua pekerjaan untuk memperoleh ganjaran atau dengan kata lain untuk mendapatkan hasil. Jika pekerjaan itu tidak mendatangkan hasil, manusia tidak akan bekerja sama sekali. Apakah keberatan Krishna kalau Arjuna menghendaki hasil perbuatannya? Bila semua orang bekerja menghendaki hasil, apakah arti yang lebih mendalam ajaran Krishna kepada Arjuna untuk bekerja untuk tidak mengharapkan ganjaran? Tujuan Krishna adalah agar segala karma atau perbuatan yang dilakukan oleh Arjuna dirubah menjadi Yoga sehingga semua perbuatannya itu membawanya menuju kebebasan. Ajaran Krishna adalah agar perbuatan Arjuna tidak hanya menjadi karma, tapi perbuatan itu harus menjadi sasaran bagi Arjuna untuk menjadi tujuan spiritual, dengan kata lain agar perbuatanya itu menjadi karma yoga. (Drucker, 1988).
Ajaran Veda ternyata sangat banyak mengandung wacana ilmiah. Veda mengajarkan bahwa secara fisik alam semesta ini terdiri atas Bhutakala (materi dan energi), dan interaksi antara keduanya itulah menyebabkan terjadinya perubahan dan karma. Menurut hukum Thermodinamika, partikel-partikel penyusun materi senantiasa menghindari dari keterikatan untuk menuju kebebasan, yang sangat relevan dengan konsep Moksa dalam Veda. Dalam hal penciptaan, sains dewasa ini dapat menerima teori ledakan besar (Big Bang), yang ternyata sesuai dengan penciptaan alam semesta menurut pandangan Waisasika Darsana. Ajaran filsafat tersebut juga telah memperkenalkan konsep atom (Anu) yang menyusun materi. Bhuana agung dan Bhuana alit juga sudah diperkenalkan berbentuk lonjong dan disimbolkan dengan lingga. Banyak lagi konsep ilmiah dalam Veda (Suja, 2000).
BAB III
TINJAUAN VEDA SECARA ILMIAH
Sebelum kita berbicara mengenai masalah pokok, yaitu mengenai hubungan Veda dengan Nuklir, mungkin ada baiknya kita juga membahas Veda dalam kontek kehidupan modern dan membandingkannya dengan agama lain. Dan dilanjutkan dengan pandangan ilmiah tentang teknologi yang sudah barang tentu didalamnya juga ada tentang teknologi nuklir.
Saya menyadari sepenuhnya aspek-aspek kehidupan begitu luas, karena itu saya akan berusaha menuliskan beberapa hal yang sesuai dengan tingkat pemahaman saya sebagai mahluk ciptaan-Nya yang tidak lepas dari maya dan kebodohan.
A. Kenapa di dunia ada banyak kitab suci?
Bertolak dari filsafat Veda, Tuhan telah memberikan jalan bagi segenap mahkluk hidup untuk kembali ke sisinya, mencapai kebebasan dengan cara menghilangkan kebodohan yang menghinggapi segenap mahkluk hidup melalui ajaran-ajaran suci yang di Wahyukan-Nya. Pertanyaannya kenapa ada banyak agama? Yang pada kenyataannya berbagai keributan, kerusuhan yang datang silih berganti selalu berkedok agama? Bhagavad Gita bab IX.29 menyebutkan: “Aku sama bagi semua mahkluk, tidak seorangpun yang terbenci dan tersayang oleh-Ku, tetapi bagi mereka yang memuja Ku dengan penuh pengabdian, maka Aku ada di dalam mereka dan mereka ada di dalam-Ku”. Veda sendiri tidak membatasi bagaimana cara seseorang memuja Tuhan, selama cara-cara itu tidak merugikan dan menyakiti mahkluk lain. Hal ini ditunjukkan dalam bentuk ajaran Catur Marga Yoga yang meliputi Bhakti, Karma, Jnana dan Raja Yoga. Terus apakah yang salah dengan saudara-saudara kita yang setiap saat menghujat orang yang tidak sekelompok dengannya dengan bertamengkan agama? Tidak bisa kita pungkiri memang seperti itulah perintah-perintah yang tertulis dalam berbagai kitab tafsirnya. Siapa yang salah? Tuhan sebagai pewahyu-Nya ataukah orang yang menafsirkannya? Hal yang sangat jarang disadari oleh sekelompok orang dengan egonya yang besar.
Inilah fanatik sempit dengan dasar ajaran rohani yang masih rendah, hanya karena mereka masih terbelenggu kebodohan mereka sendiri. Mari kita menengok kembali ke belakang bagaimana ajaran agama itu diturunkan. Sesuai dengan namanya, Sanatana Dharma (dharma = agama, sanatana = abadi, itulah Hindu) dalam perkembangannya banyak mengalami perubahan dan penyimpangan. Atas dasar ini, setiap penyimpangan yang terjadi pada Veda akan selalu mengalami pelurusan dengan turunnya berbagai Avatara. Avatara sendiri menurut kitab Visnu Purana terdapat tiga jenis, yaitu Avatara dari Tuhan itu sendiri yang meliputi Dasa Avatara, Avatara para Dewa (seperti Sankara Carya yang disebutkan Avatara dari Dewa Siwa) dan Avatara dari manusia yang diberi kekuatan khusus dari Tuhan untuk mengemban suatu misi (contohnya Muhammad dan Yesus). Hindu bagaikan kebudayaan yang terlahir berulang-ulang kali dan tampak selalu baru, bukan hanya dari orang Hindu sendiri, tapi ilmuwan barat juga telah mengakuinya. Hanya karena Veda telah menurunkan kitab-kitab khusus, ajaran-ajaran tertentu untuk masing-masing jaman dalam satu kalpa. Ingatlah setiap ajaran diturunkan sesuai dengan tempat dan waktunya.
Kenapa dulunya orang Islam dulunya diwajibkan sholat 50 kali dalam sehari dan pada akhirnya sekarang tereduksi menjadi 5 kali? Kenapa Islam cenderung keras dengan jihadnya? Dengan peraturannya yang keras dan mengikat? Tidak lebih karena keadaan masyarakat waktu Al-Qur’an diturunkan yang cenderung keras dan hanya bisa dihadapi dengan kekerasan. Sampai-sampai Nabi Muhammad sendiri harus hijrah ke Madinah karena dikejar-kejar orang-orang “bodoh”. Dalam Al-Qur’an, Muhammad sendiri menyatakan terdapat tiga ajaran yang dia miliki, ajaran yang harus dia ajarkan pada masyarakat disana, ajaran yang boleh diajarkan dan ajaran yang tidak boleh dia ajarkan. Kenapa hal ini terjadi? Karena kecerdasan masyarakat waktu itu belum mampu menerima seluruh ajaran yang Beliau bawa.
Demikian juga dengan Yesus, kenapa Beliau hanya mengajarkan 10 ajaran pokok saja? Dan berkata dalam Injil : “Ajaran jasmaniah ini saja belum bisa engkau amalkan, bagaimana bisa Aku mengajarkan ajaran rohaniah yang lebih tinggi seperti ini?” Taukah kita kalau Yesus pernah pergi dan belajar Bhakti Yoga di India selama 13 tahun dan Kitab Kristen ada yang membahas reinkarnasi? Kalau dilihat dari sejarah Kristen, dapat dikatakan kalau Kristen dibentuk oleh Paulus I. Beliau sendiri sebenarnya berlatar belakangnya adalah penjahat. Karena kesadarannya akhirnya mengumpulkan kitab-kitab tersebut dengan mengadakan seleksi yang menurutnya benar. Ada sumber yang mengatakan Kristen sebenarnya memiliki sekitar 52 kitab, tetapi oleh Paulus telah direduksi seperti sekarang ini, bahkan apa kita masih ingat atas pernyataan Galileo tentang pusat tata surya adalah matahari, bukan bumi seperti yang akhirnya ditentang gereja karena tidak sesuai dengan Injil? Artinya apa? Memang benar banyak isi dari kita Perjanjian Lama kebenarannya masih diragukan. Bahkan pengarangnya saja tidak jelas. Tentunya bukan salah Yesusnya, tetapi oleh oknum yang seenak perutnya sendiri mengedit isi kitab suci.
Bagaimana dengan Budha? Sang Budha terpaksa menolak Veda karena masyarakat dunia, khususnya India waktu itu telah menjadikan Veda sebagai tameng dalam melakukan Himsa karma demi kepuasan sendiri dengan kedok korban suci. Tanpa ada pilihan akhirnya sang Budha harus menyatakan ajaran baru yang kelihatannya sama sekali baru dari Veda dan membentuk agama baru dengan tujuan sebagai batu loncatan. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya Avatara Ciwa sebagai Sankarya Carya sebagai penerus misi Budha dan dilanjutkan oleh Sri Caitanya untuk meluruskan ajaran Veda.
Semua kejadian, semua agama telah diramalkan sebelumnya dalam Veda yaitu pada kitab-kitab Purana dan sampai saat ini belum ada satupun kejadian yang menyimpang dari ramalan tersebut. Jadi intinya semua ajaran pada dasarnya benar, tetapi harus disesuaikan sesuai dengan tempat dan waktunya. Dan kita tidak boleh malu mengatakan Veda wahyu yang pertama dan merupakan sumber dari semua kitab suci yang lain. Veda adalah saksi terpendam mengenai semua itu. Banggalah sebagai penganut Veda, Banggalah sebagai Hindu. Mari kita bangkitkan kesadaran kita tentang keluarbiasaan Veda.
B. Apa yang bisa Veda ajarkan tentang teknologi modern?
Kalau kita mengikuti perkembangan dunia barat, maka tidak jarang kita mendengar ungkapan “Sangat sulit mencari titik temu antara agama dan teknologi yang selalu bertentangan”. Benarkah semua itu? Orang barat biasanya akan cenderung membenarkan hal tersebut, mereka memang jarang bahkan tidak menemukan inti-inti teknologi dalam agama mereka yang pada umumnya Nasrani. Apa di Injil memang tidak menyinggung teknologi? Menurut penerbit buku “Hindu agama terbesar di dunia” menyatakan kalau beliau sangat tidak puas dengan ajaran agamanya, sehingga memaksanya mempelajari kitab suci lain sampai akhirnya beliau jatuh cinta pada Veda dan menjadi pengikutnya. Apa Injil itu salah? Untuk menjawab pertanyaan ini kembali harus kita sadari bahwa Tuhan akan mewahyukan kitab sesuai dengan waktu dan tempatnya. Bagaimana dengan Veda? Apakah mengalami nasib yang sama? Ternyata tidak. Veda begitu lengkap dan kita baru menyadarinya setelah peneliti-peneliti dari barat mengungkapkannya. Mereka beralih ke Veda karena pengetahuannya, tapi kita sebagai generasi pewarisnya malah menyia-nyiakan dan memilih untuk diselamatkan dengan kamus-kamus kecil yang tidak sebanding dengan Veda. Semua hanya karena ketidaktahuan kita sendiri.
Dalam Atharva Veda bab VII.107.1 menyebutkan “ Ava divas tarayanti, sapta suryasya rasmayah” artinya matahari memiliki tujuh jenis sinar, mereka adalah sumber hujan. Masih ingat dengan warna pelangi? Tentang cahaya polikromatis yang terbiaskan menjadi tujuh jenis? Cahaya memang terdiri atas dua jenis, cahaya polikromatis seperti cahaya matahari dan cahaya monokromatis, contohnya sinar laser. Dengan menggunakan pembias, atas dasar perbedaan sudut deviasi setiap jenis sinar monokromatis, maka sinar matahari sebagai sinar polikromatis dapat dipecah menjadi tujuh bagian, yang sering disebut dengan warna pelangi. Sangat tepat bukan?
Yayur Veda bab XVIII.40 mengatakan “Susumnah suryarasmiscandrama susumnah” artinya sinar matahari yang disebut susumna menerangi bulan. Bukankah hal ini juga dibuktikan dengan teknologi modern saat ini? Apa pantas golongan agama radikanl yang menyerang Hindu dewasa ini mengatakan Veda menuntun pengikutnya sebagai penyembah matahari dan bulan? Bukankah itu hanya sebagai objek konsentrasi kita atas keagungan Tuhan yang tidak terbatas?
Ternyata dasar-dasar ilmu kimia juga terdapat dalam veda. Hal ini terbukti dengan sloka dalam Atharva Veda bab III.13.5 yang menyebutkan “Agnisomau bibhratiapa it tah” artinya air terdiri atas Oksigen dan Hidrogen. Sungguh tepat sekali, semua air tersusun atas dua unsur ini, H2O untuk air biasa. D2O untuk air berat, yaitu air yang digunakan dalam reaktor nuklir PHWR sebagai moderatornya. D adalah Deutrium, Hidrogen dengan kelebihan satu neutron. Masih bisakah kita mengatakan kebudayaan Veda sebagai kebudayaan kuno yang kolot? Ya Veda memang kuno, tetapi inilah dokumen kuno yang paling modern yang pernah ada.
Dalam Sama Veda juga disebutkan “ Tam it samanam vaninas ca virudhoantarvatis ca suvate ca vivaha” Tumbuh-tumbuhan menghasilkan udara vital yang disebut samana (Oksigen) secara teratur. Lebih lanjut dalam Reg Veda VIII.72.16 disebutkan “Adhuksat pipyusim isam urjam, suryasya sapta rasmibhih” artinya tumbuh-tumbuhan menyerap tenaga yang merupakan makanan bergisi dari matahari. Coba kita tengok mengenai teori photosintesis saat ini. Apa yang anda ketahui?
Inilah sebagian kecil sloka-sloka Veda yang secara implinsit menyebutkan dasar-dasar teori modern. Begitu banyak sloka-sloka sejenis yang masih tercecer di setiap bagian Veda dan menunggu tangan-tangan kita untuk menjamahnya demi kesejahteraan umat manusia. Bukan hanya golongan kelompok tertentu saja.
C. Adakah teori ilmiah yang terselubung dalam Veda?
Tentunya sebagai umat Hindu kita sudah tidak asing lagi dengan kitab Itihasa, kitab Smrti yang sangat terkenal yaitu kisah Ramayana dan Mahabarata. Sebelumnya mari kita samakan persepsi mengenai kebenaran kisah Itihasa. Epos Ramayana dan Mahabharata ternyata bukan sekedar cerita fiksi belaka, tetapi memang benar-benar kisah nyata. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya jembatan yang menghubungkan India dengan Srilangka sebagai saksi bisu kisah jembatan yang dibangun pasukan kera dalam Ramayana. Ditemukannya puing-puing kerajaan yang tenggelam di tengah laut dan sangat tepat dengan kisah tenggelamnya kerajaan Krisna dalam Mahabarata. Serta didukung dengan banyak lagi bukti-bukti menguatkan lainnya, baik berupa benda sejarah, tulisan-tulisan dari kitab-kitab lainnya yang saling berhubungan erat, sampai pada penampakan dari luar angkasa melalui pengindraan satelit.
Mari kita tengok kisah Rsi Wiyasa yang mengembalikan keperawanan ibunya seperti sedia kala, kisah kelahiran satus korawa yang tidak lain melalui teknologi bayi tabung dan kelahiran pandawa melalui bioteknologi kloning yang dikarenakan Maharaja Pandu tidak dapat melakukan kewajibannya sebagai suami. Ternyata teknologi saat ini seperti bedah plastik, teknologi genetika sampai pada masalah kloning yang baru berkembang di dunia modern pada abad 20 ini telah terinspirasikan pada jaman Veda yang begitu tua.
Dalam Mahabarata juga disinggung tentang kemungkinan laki-laki dapat mendapatkan keturunan tanpa melalui bantuan wanita. Hal ini dikisahkan ketika Maha Rsi Wiyasa menginginkan seorang putra pada saat perang bharata yuda berlangsung. Beliau mengeluarkan kama petak yang pada akhirnya berkembang menjadi anak laki-laki (Bhagawan Suka). Saat ini, seorang wanita yang menginginkan keturunan tanpa kehadiran seorang pria sudah benar-benar dapat diwujudkan. Kapankah bioteknologi seperti kisah kelahiran Bhagawan Suka ini akan benar-benar terwujud di jaman kali ini?
Masih ingat tentang teknologi jalan layang yang dikemukakan oleh Tjokorde Raka Sukawati? Ternyata semua ini telah terinspirasi dari Veda yaitu dari Prabu Sosrobahu dalam kisah Ramayana. Dan penemuan inipun diberi nama sesuai dengan sumber inspirasinya.
D. Energi Nuklir dalam perspektif Veda
Inilah ceceran-ceceran teknologi Veda yang ternyata sangat modern. Bahkan ada yang belum sampai dibayangkan oleh manusia jaman sekarang telah lebih dahulu terlukiskan oleh Veda. Sungguh luar biasa bukan? Secarik tulisan di atas hanyalah setetes pengetahuan tentang teknologi dalam Veda, masih banyak hal-hal menakjubkan lainnya dari luasnya samudra pengetahuan Veda. Nah sampailah kita pada maksud dibuatnya makalah ini, yaitu bagaimana hubungan Nuklir sebagai bidang studi yang saya geluti saat ini dengan Veda sebagai kitab suci Hindu.
Energi nuklir muncul atas dasar teori kesetaran antara materi dengan energi yang dikumandangkan oleh Einstein dengan rumusannya yang sangat terkenal, E = m C2. Suatu penemuan yang sangat mencengakan bahkan mengantarkannya sebagai predikat orang terjenius di dunia. Tetapi mungkin berbeda ceritranya dengan seorang ahli Veda yang mendengar penemuan Einstein, kenapa? Di dalam Rgveda bab II.72.4 disebutkan “Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari” artinya : Dari aditi (materi) asalnya daksa (energi) dan dari daksa (energi) asalnya aditi (materi). Ternyata teori yang mencengakan ini telah tersurat jauh sebelum moyang dari Einstein lahir. Jadi siapa yang lebih hebat, Einstein apa Veda? Inilah dokumen Tuhan Yang Maha Esa dengan tanpa cacatnya. Adapun kejanggalan yang kita temukan hanya karena keterbatasan pemikiran kita sendiri yang terselimuti oleh maya dan kebodohan.
Dengan adanya teori kesetaraan energi dan materi, mulai awal abad ke-19 perkembangan teknologi begitu pesatnya. Banyak rahasia alam yang mulai dapat terungkap, tapi sayangnya ternyata kita sebagai kaum intelektual muda Hindu buta akan kitab suci sendiri. Kita hanya menunggu orang lain untuk mengungkapnya. Betapa tidak, ternyata kenyataan bahwa sumber energi utama di bumi ini adalah matahari tercantum dalam Rgveda bab II.13.6 yang menyebutkan “Yo bhojanam ca dayase ca vhardanam. Artinya : matahari menyediakan makanan yang bergisi pada alam semesta. Seperti kita ketahui dalam matahari (bintang) terjadi reaksi nuklir, yaitu reaksi fusi antara inti-inti Hidrogen menjadi Helium dengan melepas energi yang sangat besar. Jika kita bandingkan antara massa awal sebelum terjadinya reaksi dengan setelah reaksi ternyata terjadi penyusutan massa, massa yang hilang inilah yang terkonversi menjadi energi yang selanjutnya memancar ke seluruh penjuru dan sampai pada planet Bumi sebagai sumber energi yang paling utama.
Ada sebuah sloka dalam Atharva Veda bab XIII.3.10 menyebutkan “Yasmin surya arpitah sapta sakam” artinya : Tuhan Yang Maha Agung menciptakan tujuh buah matahari/tata surya yang kuat secara serempak. Mungkin yang dimaksud sloka ini jumlah tata surya yang mirip dengan tata surya kita dengan pusat matahari ada tujuh buah dalam satu galaksi Bima sakti ini. Dan sangat mungkin di tempat itu juga terdapat kehidupan seperti di bumi meskipun dengan corak yang berbeda. Kita buktikan saja.
Kembali beralih kepada reaksi nuklir yang terjadi pada bintang atau matahari. Dalam Rgveda bab I.164.43 menyebutkan “Sakamayam dhunam arad apasyam, visuva para enavarena” artinya : matahari pada semua sisinya dikelilingi oleh gas yang kuat. Seperti kita bahas di atas, reaksi fusi dalam matahari berbahan bakar Hidrogen dan menghasilkan produk sisa berupa Helium. Berdasarkan analisa radiasinya dan pengamatan pada saat berlangsungnya gerhana matahari, sebagian besar unsur matahari memang tersusun oleh gas, tapi karena gaya gravitasinya menyebabkan kepadatan pada bagian inti matahari jauh lebih besar dari bagian luarnya. Daerah terluar mendapat gravitasi yang paling lemah dan disini terjadi semburan lidah api dan gas-gas yang memiliki kecepatan luar biasa yang disebut korona seperti apa yang diungkapkan sloka diatas. Kalau kita ingin menyelidiki kelanjutan dari hasil reaksi nuklir dalam matahari yang selanjutnya dapat menghidupi segenap mahkluk hidup juga dapat dijelaskan secara tepat dalam banyak sloka-sloka Veda.
Mari kita tengok era nuklir dalam sejarah Veda. Ada penemuan unik yang menyebutkan pada daerah bekas perang kuru sekarang ternyata terdapat sumber radiasi yang cukup tinggi yang terpusat hanya pada daerah ini. Jika kita tarik hubungan antara senjata-senjata yang dikatakan memiliki daya ledak tinggi milik Arjuna serta senjata hebat milik ksatria-ksartia lainnya yang meledak dalam Bharata yuda, apa tidak mungkin kalau senjata yang digunakan mengandung unsur radioaktif?
Dalam peperangan antara Arjuna dengan Asvatama juga dikisahkan penggunaan senjata sakti Brahmasirah yang dapat menyemburkan api sebesar gunung. Senjata apa yang bisa mengeluarkan energi seperti itu? Andaikan minyak bumi, perlu berapa barel minyak? Sedangkan dengan bahan bakar nuklir hanya perlu sekitar 1 gram saja. Satu lagi kisah yang sangat menarik yang diceritrakan dalam mausala parwa, yaitu meledaknya senjata mausala yang menyebabkan musnahnya bangsa Wresni dan sekaligus menenggelamkan kerajaan Krisna ke dasar laut. Dengan teknologi kita sekarang ini, senjata apa yang bisa menghancurkan sedasyat itu? Bom Hidrogen? Bom dari Uranium atau yang lain? Hanya rekasi nuklir baik itu fisi (pembelahan, contoh pada Uranium) maupun fusi (penyatuan, contoh bom Hidrogen) yang memiliki daya hancur seperti itu.
Bagaimana kita bisa menolak semua kebenaran ini? Semua isi Veda yang kita ketahui benar hanyalah sebagian kecil kebenaran yang telah dibuktikan dengan cara manusia, sedangkan disana masih tersimpan banyak kebenaran yang belum bisa diketahui dengan metode manusia. Semua hanya karena ketidaktahuan dan kebodohan kita yang buta akan kebenaran suci Veda.
BAB VI
KESIMPULAN & PENUTUP
Sebagai dokumen tertulis tertua yang sampai saat inipun belum ada sarjana-sarjana dan para ahli mampu mengungkap kapan Veda diwahyukan. Mereka hanya mampu memberikan angka yang tidak pasti dengan rentang panjang yaitu sekitar 5000 SM bahkan sampai 7000 SM. Kalau kita lihat sepihak dari isi Bhagavad Gita mungkin dapat dikatakan kalau kitab ini diwahyukan sekitar 6500 SM. Tapi bagaimana dengan kitab yang lain? Bukankah Veda begitu luas dan diwahyukan bukan dalam waktu bersamaan? Bahkan dalam Bhagavad Gita disebutkan kalau Bhagavad Gita pernah diwahyukan untuk pertama kalinya oleh Krisna sebagai kepribadian Tuhan kepada Dewa Surya sekitar satu jutaan tahun sebelumnya. Dan kemudian oleh Dewa Surya diturunkan kepada Manu, nenek moyang umat manusia. Oleh karena garis perguruannya terputus, akhirnya diwahyukan kembali kepada Arjuna seperti sekarang ini. Mungkinkah itu? Berdasarkan tahun Kalpa alam semesta akan berumur sekitar 4.300.000.000 sampai akhirnya di pralaya kembali. Menurut fosil-fosil yang diketemukan dan dengan memanfaatkan kandungan Karbon-14 di dalamnya yang bersifat radioaktif dan terus meluruh dengan waktu paruh tertentu, umur suatu fosil dapat diketahui. Dan terbukti umurnya memang jutaan tahun. Kalau bagian dari Veda telah diwahyukan selama itu bukankah sangat mungkin sekali? Dan perlu digaris bawahi bahwa hukum Darwin mengenai evolusi manusia tidak pernah ada. Ilmu genetika telah membuktikan kesalahan teori Darwin sejak tahun 2000 silam. Semua ini telah dibuktikan secara ilmiah maupun dari sloka-sloka Veda. Jadi, pada dasarnya Veda menaungi semua ajaran kehidupan baik jasmani maupun yang bersifat rohani, secara tertulis dan tidak tertulis. Sebagai kitab suci tertua Veda sudah menjelaskan dan memprediksikan apa saja yang akan terjadi di masa depan, membekali manusia dengan teknologi-teknologi yang tak terbatas dan sungguh sayang ternyata kita belum mampu menangkap semua kebenaran itu. Dimana Veda disimpangkan, disanalah Avatara akan muncul dan meluruskan ajaran kebenaran Veda yang abadi. Setiap agama dengan kitab sucinya yang muncul adalah bagian dari pelurusan ajaran Veda yang disimpangkan, bukan untuk dipertentangkan. Tetapi sayangnya pertentangan inilah yang kerap kali muncul dari pikiran-pikiran fanatik karena ketidaktahuan mereka sendiri. Kebenaran hanya ada satu, yang manakah yang benar? Kitab suci Veda sebagai wahyu pertama ataukah kitab suci lain sebagai wahyu terakhir sebelum dunia ini pralaya? Pelajarilah Veda dengan hati terbuka, penuh dengan rasa Bhakti dibawah bimbingan seorang guru rohani yang terpercaya dan bandingkan dengan kitab suci-kitab suci lainnya. Saya yakin andapun akan mengerti kenapa Veda selalu eksis sejak jaman manu, saat manusia pertama diciptakan sampai saat ini. Banggalah sebagai orang Hindu, sebagai pengikut Veda! Dharma akan tetap eksis selamanya.
DAFTAR PUSTAKA
Aripta Wibawa, I Made, Pengetahuan dan Pengendalian Prana, Paramita, Surabaya
Berger, Peter L, 2003. Sisi lain Tuhan, Qirtas, Yogyakarta
Catur Veda
Drucker, A, Bhagavan Sri Satya Sai Baba Discourses on Bhagavad Gita, Sri Sathya SAI Books, Andhra Pradesh
Ellsberg, Robert, 1991. Gandhi on Christianity, LkiS, Yogyakarta
Suja, I Wayan, Titik temu IPTEK dan Agama Hindu, Manik geni, Denpasar
Subba Rao, Gandhikota V, Saitri Manthra Yanthra Thanthra, Paramita, Surabaya.
Prabhupada, 1989. Bhagavad Gita As It Is, The Bhaktivedanta Book Trust International, Sweden
Comment by J.Petrus Lazuardi — December 14, 2008 @ 8:47 am
hindu is my soul…..bali is my life
Comment by nyoman — December 14, 2008 @ 8:52 am
BALI ADALAH MILIK KRISTUS, DICIPTAKAN OLEH KRISTUS DAN UNTUK KEMULIAAN KRISTUS…. SEBAGAI ORANG BALI SAYA SANGAT BERSYUKUR KARENA ALLAH YANG SAYA SEMBAH ADALAH ALLAH YANG HIDUP… DI MENUNJUKKAN KUASANYA ATAS BALI.
SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU BUAT SAUDARA-SAUDARAKU SEIMAN DI GKPB. TERUSKAN PERJUANGANMU UNTUK MEMBERITAKAN INJIL KESELAMATAN BAGI PULAU BALI INI. TUHAN SENANTIASA MENYERTAI ENGKAU SAMPAI DENGAN AKHIR ZAMAN.
SALAM SEJAHTERA…. MADE MARIO GITA KANTER,S.Th.,S.H.
ADVOKAT & PENGACARA.
Comment by Pdt. MADE MARIO GITA KANTER S.Th.,S.H. — December 19, 2008 @ 2:36 am
Buat :Pak Made Mario
Saya justru kebalikan dari Bapak saya orang asli Malang yang sebelumnya adalah orang Kristen yang sekarang dengan kesadaran sendiri beralih menjadi Pemeluk Agama Hindu alasan saya adalah :
1.Agama Kristen agama penuh hujatan dan hayalan buktinya…setiap orang yg bukan kristen dianggap pengikut setan orang yang dikuasai kegelapan hal ini tidak saya temukan di Hindu….orang hindu tidak pernah mengujat pengikut agama lain
2.Agama Kristen penuh dengan sejarah yang kelam….di eropa ada disebut jaman kegelapan orang-orang yang dituduh tukang sihir (bidah) dibantai habis oleh gereja…..
3.Hindu mengakui dan menerima yesus sebagai orang suci tapi bukan tuhan (setitik air tidak boleh menganggap dirinya samudra)
4.Kalau ingin kebenaran sejati menengoklah ke Bharatawangsa (india) dan selami Weda (Baca buku Weda VS Injil)
Comment by J.Petrus Lazuardi — December 25, 2008 @ 7:19 pm
16 PERTANYAAN YANG TIDAK ADA JAWABANNYA (Kalau Pak Made Mario bisa tolong dijawab kalo bisa saya kasih hadiah Permen)
1. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia ketika tangan dan kakinya dipaku di tiang salib memohon pertolongan kepada Allah/Bapa?
2. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia ketika hendak membangkitkan Lazarus dari dalam kubur di depan umat Israel memohon pertolongan kepada Bapa?
3. Jika Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat, mengapa ia tidak mampu menyelamatkan dirinya dan kaumnya dari dominasi penjajah Romawi, tetapi malah ia diserahkan oleh penguasa Romawi (Pontius Pilatus) untuk disalibkan?
4. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia tidak mengetahui kapan datangnya hari kiamat?
5. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia sujud menyembah dan memohon perlindungan kepada Bapa?
6. Jika Yesus adalah Tuhan oleh karena kejadiannya sebelum Abraham, mengapa Yeremia yang juga mengalami kehidupan sebelum manusia tidak menjadi Tuhan?
7. Jika Yesus adalah Tuhan oleh karena ia lahir tanpa ayah, mengapa Adam yang lahir ke dunia tanpa ayah dan ibu tidak menjadi Tuhan?
8. Jika Yesus adalah Tuhan oleh karena ia lahir atas bantuan penuh Roh Kudus dari seorang perawan muda (Maria), mengapa Yohanes Pembaptis yang juga lahir atas bantuan penuh Roh Kudus dari seorang perempuan mandul yang tua bangka (Elisabet) tidak menjadi Tuhan?
9. Jika Yesus adalah Tuhan oleh karena ia memiliki mukjizat yang mampu menghilangkan berbagai penyakit dan mampu menghidupkan orang mati, mengapa Musa yang memiliki mukjizat jauh lebih dahsyat dari Yesus tidak menjadi Tuhan?
10. Jika Yesus adalah Tuhan oleh karena ia seorang Kristus (Mesias), mengapa kristus-kristus lain tidak menjadi Tuhan? Kristus-kristus lain dalam Alkitab: Daud Kristus (Mazmur 2:2), Koresh Kristus (Yesaya 45:1), Saul Kristus (1 Samuel 10:1), Harun Kristus (Imamat 8:12), Elisa Kristus (1 Raja-raja 19:16), dan Salomo Kristus (1 Raja-raja 1:39). Kristus (Yunani) = Mesias (Ibrani) = Yang diurapi.
11. Jika Yesus adalah Tuhan bagi ajaran Paulus, mengapa Yesus memerintahkan untuk menegakkan hukum Musa yang notabene bertentangan dengan ajaran Paulus?
12. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia tidak mampu mempengaruhi umat Israel untuk mengikuti ajarannya, padahal ia lahir, besar, dan mati di tanah Israel? (Bandingkan dengan ahli hipnotis Tommy Raphael yang mampu merubah perangai manusia dalam waktu sekejap!)
13. Jika Yesus adalah Tuhan Semesta Alam, mengapa ia ketakutan menghadapi orang-orang Yahudi? (Bandingkan dengan firman Tuhan dalam Perjanjian Lama!)
14. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia tidak pernah menyatakan dirinya sebagai Tuhan Semesta Alam di depan umat Israel? (Bandingkan dengan firman Tuhan dalam Perjanjian Lama!)
15. Jika Yesus adalah Tuhan menurut ajaran Paulus, mengapa Melkisedek yang memiliki kesetaraan dengan Yesus tidak menjadi Tuhan? (Jika Yesus adalah Tuhan, maka Melkisedek pasti Tuhan. Sebaliknya, jika Melkisedek bukan Tuhan, maka Yesus pun pasti bukan Tuhan). Ia (Melkisedek) tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah (Yesus), ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya.” (Ibrani 7:3)
16. Jika Yesus adalah Tuhan bagi umat Kristen, mengapa ia tidak pernah menurunkan satu kitab pun kepada umat Kristen sebagai pedoman hidup?
Comment by J.Petrus Lazuardi — December 26, 2008 @ 3:37 pm
hindu is the one!kembalilah kepadanya!!
kristen bangsat!!!katholik anjing!!gw dari semua agama yg ada di muka bumi gw paling benci ma ni agama!!agama paling ga nyambung sedunia!!masa Tuhan bisa di bunuh dan di salib…tuhan kan maha kuat…klo gitu tuhannya kristen…dia lebih lemah dari apapun donk…lebih lemah dari orang kristen…aduh kasihan banget…sudah gitu pake celana kolor lagi…sexy boo…masa Tuhan yang agung mau jadi manusia supaya bisa menebus dosa2 manusia!! enak banget donk…oarng yg berbuat salah tapi gampang banget terhapus dosanya…jadinya dia gak taukut bebuat dosa…yang benar manusia itu yg harus mempertaggungjawabkan perbuatannya sendiri…. nebusnya ke siapa dong klo tuhan sendiri yg turun jd manusia??ke apotik??!!tuhan tuh maha agung maha kuasa katanya tapi buat ngampunin dosa manusia aja harus jadi manusia dulu trus ngalamin penderitaan sampe disalib sgala!!dimana tuh yg namanya maha kuasa??!!asli ini mah bner2 agama karangan orang2 israel yg pada dasarnya juga ga suka sama yesus itu!!!loe mau aja loe diboongin ma setan!!guoblok2!!!dasar agama buatan manusia!!udah lah umat manusia lebih baik kita kembali kpd penyucian diri yg diajar kan oleh agama ku hindu……..manusia lah yg harus menebus dosanya masing2 dgn mengalami penderitaan akibat perbuatannya!!itulah yg namanya iman kpd agama yg didasarkan kpd pikiran kita yg telah dianugerahkan para dewa kpd kita umat manusia!!ingatlah dewa brahma akan sangat murka kpd umat manusia yg melupakan ajarannya!!kembalilah umat manusia!!
Comment by Randy — December 29, 2008 @ 9:46 pm
to : Made Gunaraksawati Mastra
lo orang tdk tahu balas budi, lo lupa sama leluhur…ingat de budaya luhhur orang bali didasari dari ajaran hindu….kristen nggak cocok di Bali kalo lo mengkristenkan Bali mana ada tamu yang datang ke bali para turis ke bali karena budaya & adat bali yang dilandasi ajaran hindu dan satu lagi walaupun ajaran agama kristen dikatakan cinta kasih tetapi buktinya selalu bikin rusuh kalo ketemu sama islam (ambon,poso) dan bali yg damai sudah jadi korban persetuan agama rumpun ambrahamik (kristen vs islam) yg memang warisan perang salib. jika bali sampai kristen maka akan terjadi lebanon (dimanapun jika islam dan kristen bertemu akan terjadi perang.
Lewat media ini saya imbau oarang Bali yg sudah beragama kristen kembalilah ke HINDU…….di kristen tidak ada kedamaian yg ada hanya perang….dan kristen itu penuh dengan sejarah yg kelam…..kalo pernah baca kitab injil kalian baru tahu seperti apa ajaran kristen itu :
mau contoh ok……
“sebab Aku datang untuk memisahkan seorang dar ayahnya, anak perempuan melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya” matius,10/35
“jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai diatas bumi, Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang” matius 10/34
Comment by Arya Mahotama — January 2, 2009 @ 9:49 am