FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

April 24, 2007

IMAN, PERBUATAN DAN PEMBENARAN

Filed under: Tafsir — admin @ 5:11 am

DIALOG PAULUS DAN YAKOBUS TENTANG PEMBENARAN ABRAHAM
Karya: Christian Tanduk, Kategori: Pilihan Dosen

A. PENDAHULUAN
Sebagaimana judul tulisan ini, penulis berusaha mengungkap nuansa pemberitaan Yakobus dan Paulus tentang iman dan perbuatan sebagai dasar pembenaran (justification) . Sepintas kita melihat bahwa salah pokok penting pemberitaan Yakobus (dalam Surat Yakobus) tentang peranan iman dan perbuatan dalam rangka pembenaran bertentangan dengan pemberitaan Rasul Paulus dalam surat-suratnya.

Penelitian ini tidak mencakup Surat Yakobus secara keseluruhan, tetapi difokuskan pada pasal 2:14-26, di bawah perikop (LAI) “Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati”. Dialognya dengan Paulus, akan merujuk surat kepada jemaat di Roma pasal 4:1-25 . Pemilihan ini menyangkut penokohan Abraham, karena tulisan ini akan lebih banyak menyoroti pandangan Paulus dan Yakobus terhadap tokoh Abraham dalam membangun teologianya. Memang Galatia 3:1-14 juga menyinggung iman Abraham, tetapi penulis menilai bahwa Roma 4:1-25 lebih komprehensif. Lagipula, menurut Groenen , tema utama surat Roma adalah pembenaran oleh iman. Mengikuti dialog Yakobus dan Paulus tentang hal ini diharapkan tidak sekedar bermuara jawaban akhir : bertentangan atau tidak bertentangan. Cukup mudah untuk mengatakan bahwa keduanya tidak bertentangan tetapi saling melengkapi. Cukup mudah juga untuk mengatakan Paulus incomplete, Yakobus incomplete dan keduanya in complete. Alasannya paling tidak adalah diterimanya dalam kanon dan menjadi pedoman orang Kristen di segela tempat sepanjang abad.
Tetapi dalam membaca bagian ini, penulis tidak seoptimis itu. Bukan karena pengaruh Luther yang menganggap surat sebagai Surat Jerami , yang tidak punya gaya Injil . Penulis tidak bermaksud untuk akhirnya menyatakan siapa yang benar atau salah, tetapi melihat kemungkinan menelisik lebih jauh ke dalam persoalan-persoalan yang membingkai dinamika perkembangan Gereja pada abad-abad pertama dan pengaruhnya dalam penulisan surat-surat rasuli.

B. DIALOG : ADA YANG BERBEDA ?
Seperti diungkapkan di atas bahwa dalam aras literasi, pemberitaan Paulus dan Yakobus tentang iman dan perbuatan memperlihatkan perbedaan konsep keduanya. Hal tersebut secara eksplisit tampak dalam kontradiksi pernyataan keduanya tentang “iman dan perbuatan Abraham”. Yakobus 2:21,23-24 [TB 1997].
1. Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah ?… 23Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.” 24Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.
Sementara itu, Paulus dalam Roma 4:2-3 [TB 1997]
2. Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. 3. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”
Tampaknya Paulus sangat menekankan Iman, sedangkan Yakobus menekankan Perbuatan. Uniknya, perbedaan pandangan itu merujuk kepada ketokohan Abraham. Sekiranya kepada keduanya diberi pertanyaan : Dengan cara bagaimana Abraham dibenarkan oleh Allah ? Apakah Abraham ketika dia Percaya kepada janji-janji Tuhan (Kej 15:1-6) atau setelah dia lolos uji ketika bersedia mengorbankan Ishak anaknya (Kej 22:1-14) ? Maka jawaban Paulus akan merujuk kepada Kej 15 ketika Abraham percaya kepada Tuhan yang memberikan janji keturunan kepadanya. Sementara itu Yakobus akan memilih tindakan Abraham (Kej 22) yang bersedia mengorbankan Ishak sebagai korban bakaran di tempat yang kemudian dinamainya Moria.
Jadi menurut Paulus, Abraham dibenarkan karena imannya. Tetapi menurut Yakobus, Abraham dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.

C. IMAN, PERBUATAN DAN PEMBENARAN DALAM SURAT YAKOBUS

1. Tentang Yakobus
Penulis Surat Yakobus hanya memperkenalkan dirinya sebagai “hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus” (Yak 1:1). Data yang lain tidak ada. Perjanjian Baru mencatat empat tokoh yang bernama Yakobus. Tetapi sebagian besar ahli hanya memperhatikan dua tokoh yaitu Yakobus bin Zebedeus dan Yakobus Saudara Tuhan.
Pada umumnya ada tiga pendapat yang ajukan tentang penulis surat ini : 1)Yakobus saudara Yesus; 2) Yakobus saudara Yesus, tetapi memakai jasa seorang jurutulis yang fasih dengan sastra Yunani; dan 3) Seorang dari kalangan Jemaat Yerusalem di mana Yakobus saudara Yesus (bersama Petrus) menjadi pimpinan. Dan untuk memberi wibawa kepada suratnya, maka nama Yakobus “dipakai”. Walaupun sekarang ini lebih banyak (akhirnya) diterima bahwa Yakobus saudara Yesus adalah penulisnya , namun keberatan terhadap pendapat itu sungguh banyak dan masuk akal.
Dalam tulisan ini, penulis tidak akan lebih jauh mendalami polemik penulis surat ini. Mungkin hal itu dalam pembahasan lain. Namun dalam pandangan penulis, siapapun yang menulis surat Yakobus, surat ini memberi gambaran yang cukup jelas tentang corak teologia Yakobus saudara Tuhan, salah satu pemimpin jemaat di Yerusalem, dan ditulis dengan latar belakang Yahudi Kristen. Siapapun yang menulis surat itu, tentunya menyadari bahwa nama Yakobus adalah nama yang cukup terkenal dan berwibawa dikalangan Yahudi.

2. Tentang Penerima Surat Yakobus
Surat ini di kirim kepada “duabelas suku di perantauan”. Dari alamat yang ditulis Yakobus, paling tidak kita dapat melihat dua hal :
1. Kata dw,deka fulai/j (duabelas suku) tidak secara eksplisit menunjuk suku tertentu.
2. Kata diaspora (TB: Perantauan; KJV: scattered = terpencar-pencar, tersebar di sana-sini) tampaknya lebih dari sekedar “merantau”, tetapi memberikan kesan negatif.
Dari kedua poin di atas, penulis menyimpulkan bahwa penerima surat ini adalah orang Yahudi Kristen yang berada di luar Palestina. Gunning memberikan pertimbangan lain dan memasukkan orang-orang Kristen bukan Yahudi ke dalam kelompok penerima surat ini. Dikatakan bahwa surat ini dikirim kepada orang yang tinggal di mana-mana, orang-orang yang tidak berakar atau terikat pada salah satu bangsa. Itulah yang menyebabkan surat ini dikategorikan surat Am. Namun penulis kurang sependapat dengan pandangan itu . Berbicara tentang diaspora memang dapat diartikan demikian. Tetapi keduabelas suku tidak dapat tidak, lebih spesifik menunjuk kepada orang Yahudi. Sementara itu, dari nuansa terjemahan terhadap kata diaspora mengidikasikan keadaan “merantau” itu karena terdesak oleh sesuatu. Apalagi ayat ini langsung disusul dengan pembahasan tentang pencobaan. Dalam hal ini penulis setuju dengan pandangan Douglas Moo merujuk Kis 11:19 sebagai titik tolak adanya duabelas suku diperantauan, yaitu pembunuhan atas Stefanus, yang juga disetujui Saulus (Kisah 8:1a). Peristiwa inilah yang menjadi sebagai penyebab keterserakan itu.

3. Iman dan Perbuatan dalam Yakobus 2:14-20
Nisbah antara iman dan perbuatan merupakan pokok teologia Yakobus. Implikasi tentang hal ini tersebar dalam seluruh surat Yakobus. Namun pasal 2:14-26 merupakan pembahasan langsung Yakobus tentang masalah ini.
Ayat 14 dibuka dengan sebuah pertanyaan retoris. Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia ? Sinergisnya iman dan perbuatan merupakan penekanan Yakobus. Hanya saja, Yakobus tidak memberikan pengertiannya terhadap “iman” ataupun “perbuatan”. Tampaknya pengertian tentang iman sudah tidak perlu dijelaskan lagi oleh Yakobus dengan asumsi bahwa para penerima surat ini sudah memahami dengan jelas bagaimana iman itu mulai tumbuh dalam diri seseorang . Pada bagian lain Yakobus berbicara tentang iman . Tetapi iman yang seperti apa, tidak dijelaskan. Hal ini sehubungan dengan karakter Surat Yakobus yang lebih merupakan khotbah atau nasehat praktis dari pada pengajaran . Bahkan nama Yesus hanya disebut dua kali (1:1 dan 2:1).
Demikian halnya dengan “perbuatan”. Yakobus tidak memberi gambaran lebih jauh mengenai pengertiannya tentang perbuatan. Rujukan ke taurat sama sekali tidak berdasar . Jadi pengertian Yakobus tentang perbuatan sangat tergantung pada apa yang melandasi perbuatan itu. Yang menjadi persoalan bagi Yakobus adalah perbuatan sebagai langkah lebih lanjut dari iman itu. Bahkan ketiadaan tindak lanjut dari iman adalah penghianatan terhadap iman dan menjadikan iman sebagai ironi.
Ayat 15-16 merupakan pencontohan Yakobus tentang hubungan itu. Mengucapkan “selamat jalan” kepada orang yang tidak memiliki pakaian, serta mengucapkan “selamat, makanlah sampai kenyang” kepada orang yang tidak memiliki makanan, dapat menjadi suatu ironi jika hal itu disertai dengan tindakan memberi makan atau minum. Sikap demikian mejadikan ekspresi sebelumnya menjadi sia-sia, mati. Demikianlah iman yang tidak diaktualisasikan pada hakekatnya adalah mati (nekra = mati, bisa juga tidak berguna, tidak efektif - Yak 1:17).
Ayat 18, memberikan kesulitan tersendiri dalam menafsirkannya. TB-LAI menambahkan kata “aku akan menjawab dia”. Kata itu tidak ada dalam naskah Yunani. Tampaknya itu adalah hasil tafsiran. Dengan membaca TB-LAI, kita akan menangkap kesan bahwa yang berbicara adalah dua orang. Salah satunya adalah Yakobus dan seorang penyanggah. Masalahnya terjemahan ini bisa menimbulkan kerancuan bahkan ada kesan bahwa jawaban Yakobus tidak kena-mengena dengan pernyataan penyangga. Penyangga mengatakan: “padamu ada iman ..” Tetapi Yakobus malah mengatakan “tunjukkanlah imanmu”. Gunning menerima TB-LAI walaupun tidak konsisten dengan pilihannya, karena pada akhirnya mengakui bahwa penyanggah tidak menentang pandangan Yakobus. Namun kesan pertentangan itu ada dalam TB-LAI.
Penulis lebih setuju menjadikan pernyataan ayat 18 sebagai pernyataan satu orang, dan tidak juga menyangga Yakobus seperti dalam TL-LAI dan KJV . Dia justru meneguhkan pandangan Yakobus dengan membedakan orang yang saleh yang mementingkan iman dan orang yang aktif yang mementingkan perbuatan . Dan pada akhirnya menyatakan membuat jembatan antara keduanya bahwa iman ditunjukkan melalui perbuatan .
Ayat 19-20 Yakobus kembali membuktikan ironi iman tanpa perbuatan itu. Jika hanya dengan percaya saja bahwa Allah itu Esa (Ul 6:4), setan-setanpun bisa melakukannya. Jadi siapa yang percaya tetapi mencerminkan imannya melalui perbuatan, dia dapat dibandingkan dengan setan.

4. Pembenaran Abraham Menurut Yakobus (Yak 2:21-26)
Dalam ayat 21-26, Yakobus menegaskan konsepnya dengan mengajukan dua orang yaitu Abraham dan Rahab. Menurut Yakobus, Abraham dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika dia mempersembahkan Ishak anaknya di atas mezbah (ayat 21). Jika bertolak dari keterangan Kejadian 15, interpretasi Yakobus terhadap Abraham memperlihatkan penyimpangan dari teks Kitab Suci . Bagi Yakobus, pembenaran itu diterima oleh Abraham ketika dia bersedia mempersembahkan Ishak (Kej 22:1-19). Dan inilah yang menjadi dasar bagi Yakobus mengutip Kej 15:6. “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Padahal dalam konteks kisah tersebut secara keseluruhan, yang “diperhitungkan sebagai kebenaran” bukanlah tindakan Abraham, tetapi ketika dia pulih dari keraguannya sehubungan dengan ketiadaan anak yang akan jadi ahli warisnya.
Dikisahkan dalam Kej 15:3, Abraham mengatakan “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku”. Namun Tuhan meneguhkan perjanjian keturunan itu kepadanya dengan menggambarkan keturunan Abraham sebanyak bintang di langit (Kej 15:5). Lalu Abraham percaya dengan janji itu. Kepercayaan inilah yang diperhitungkan sebagai kebenaran bagi Abraham. Jadi sebelum dia melakukan sesuatu sehubungan dengan kepercayaan itu, dia sudah dibenarkan. Menurut Kejadian 15:6, yang dimaksud dengan “hal itu” adalah kepercayaan Abraham, bukan perbuatannya. Sementara itu Yakobus merujuk pada tindakan Abraham di Moria, padahal kitab suci tidak memberi informasi tentang tanggapan Allah mengenai sikap Abraham.
Ayat 22, seakan akan memberi nuansa antisipatif terhadap kemungkinan tanggapan seperti yang penulis paparkan. Dan tentang ayat 22 itu sendiri, penulis setuju bahwa “iman berkerja sama dengan perbuatan-perbuatan, dan oleh perbuatan-perbuatan iman menjadi sempurna. Persoalannya apakah iman Abraham belum sempurna ketika dia percaya kepada Tuhan, dan baru menjadi sempurna ketika dia bersedia mengorbankan Ishak ? Menurut Gunning , Yakobus mengikuti tradisi dikalangan orang Yahudi bahwa iman Abraham bukanlah sebagai iman orang berdosa yang karena iman itu dia diterima, melainkan sebagai iman orang benar. Tradisi ini didasarkan pada kenyataan bahwa iman Abraham yang diperhitungkan sebagai kebenaran itu, terlebih dahulu sudah diawali dengan tindakan Abraham yang mau meninggalkan negerinya dan sanak saudaranya, karena menerima dan memegang teguh perjanjian Alah.
Tentang Rahab, pelacur itu, Yakobus menulis bahwa dia dibenarkan karena perbuatannnya ketika dia menyembunyikan kedua orang pengintai Yerikho (Yos 2:1 dyb). Hal ini juga merupakan interpretasi Yakobus terhadap peristiwa Yerikho dalam catatan kesaksian Kitab Suci (biasa disebut “Tanak”) yang juga menjadi tradisi di kalangan orang Yahudi . Tidak ada keterangan apakah Rahab di benarkan atau tidak dan kapan itu terjadi. Satu-satunya infomasi yang didapat dari Kitab Taurat adalah Rahab dibiarkan hidup di tengah-tengah orang Israel (Yos 6:25). Sementara itu, yang memotifasi tindakan Rahab yang menyembunyikan pengintai adalah karena dia dan sebagian orang Yeriko sudah mendengar tentang peristiwa Teberau, dan apa yang terjadi pada orang Sihon Og dan Amori dan karenanya mereka menjadi takut. Bukan karena beriman (Yos 2:9-11). Jadi dalam catatan Kitab Suci, sebenarnya tindakan Rahab semata-mata bertujuan mengamankan diri dari orang Israel yang memiliki Allah yang kedahsyatannya sudah dirasakan orang Sihon, Og dan Amori. Pikiran Rahab dalam melakukan hal itu bukan tertuju kepada Allah Israel, tetapi orang Israel. Namun interpretasi seperti itu juga diambil bukan berdasarkan kisah yang tertulis dalam kitab Taurat, tetapi merupakan bagian dari tradisi Yahudi.
Pada bagian penutup (ayat 26), Yakobus memberi pengandaian lagi untuk menegaskan pendapatnya. Tubuh tanpa roh adalah mati. Ini tidak dapat disangkal. Dengan jalan demikian, untuk kali kesekian Yakobus menegaskan bahwa Iman tanpa perbuatan adalah mati.

D. IMAN DAN PERBUATAN DALAM SURAT ROMA

1. Tentang Rasul Paulus dan Jemaat Di Roma
Mengenai identitas Paulus, di sini tidak akan dipaparkan secara detail. Namun sehubungan dengan pelayanannya, cukup penting untuk menekankan latarbelakang Paulus yang lahir dari keluarga Yahudi di Kota Tarsus. Dia seorang Yahudi yang taat dan bahkan menjadi tokoh berpengaruh dikalangan sinagoge Yerusalem. Dia hadir (dan menyetujui perajaman Stefanus) dan menjadi seorang penganiaya jemaat mula-mula. Titik balik kehidupannya adalah perjumpaan dengan Yesus dalam perjalanan ke Damsyik, dan mengubah seluruh kehidupannya dan menjadi seorang pekabar injil yang mengkhususkan diri kepada orang-orang non-Yahudi.
Jemaat di Roma terbentuk jauh sebelum Paulus tiba di Roma dan bukan oleh karya Paulus. Agaknya dibawa oleh orang Yahudi yang “berziarah” ke Yerusalem dan bertemu dengan ajaran baru (Kristen) - mungkin pada saat Pentakosta - dan mengembangkannya di Roma, bukan hanya dikalangan orang Yahudi tetapi juga orang-orang bukan Yahudi. Tetapi seperti yang dicatat Suetonius, tahun 49 M terjadi pertikaian antara orang Yahudi tentang seorang tokoh bernama Chrestus. Groenen mencoba menghubungkan tokoh ini dengan Kristus, tetapi akhirnya mematahkan sendiri teorinya. Yang jelas ada pertentangan antar sesama orang Yahudi. Akibatnya semua orang Yahudi diusir oleh Kaisar Klaudius (Kis 18 : 2). Yang tinggal adalah orang Kristen bukan Yahudi, dan terus berkembang di sana. Setelah dekrit Klaudius di cabut, dan orang Yahudi kembali tetapi tidak sebesar sebelumnya. Jadi dalam jemaat di Roma, orang Yahudi jauh lebih sedikit jumlahnya daripada orang non-Yahudi.

2. Tentang Surat Paulus kepada Jemaat di Roma
Surat Roma tidak terkonsentrasi pada satu masalah seperti yang melatarbelakangi sebagian besar suratnya, walaupun hal itu nampak dalam ps 14:1-15:13. Surat ini dikirim sebagai pendahuluan atau lebih baik perkenalan, karena Paulus merencanakan perjalanan ke Spanyol dan akan singgah di sana. Lagipula Paulus menyadari bahwa jemaat yang sudah berkembang di sana bukan karena karyanya. Dalam memahami pernyataan Paulus dalam ps. 15:20, kita dapat menghubungkannya dengan tradisi di kalangan Katolik yang menyatakan peran besar Petrus dalam pendirian Jemaat di Roma, bahkan dia meninggal di sana. Hal ini dihubungkan dengan ketokohannya dalam peristiwa pentakosta yaitu sebagai pengkhotbah pertama.
Dari kelima tujuan penulisan surat Roma yang dicatat Van den End, penulis memberi tekanan pada permintaan syafaat Paulus kepada Jemaat sehubungan ada konfrontasi dengan orang Yahudi di Yerusalem serta ketidakpastian Paulus tentang sikap jemaat Kristen di Yerusalem terhadap sumbangan jemaat-jemaat di Makedonia dan Akhaya yang dibawa Paulus ke Yerusalem (15:30-31) .
Menarik juga untuk memperhatikan bahwa pasal 1:18-11:36 yang seolah-olah menggambarkan perdebatan sengit antara Paulus dan orang Yahudi terutama menyangkut Taurat. Jika dihubungkan dengan belum dikenalnya Paulus oleh Jemaat di Roma, maka dia perlu memperkenalkan ajarannya kepada mereka. Namun gaya bahasa Paulus sangat keras seolah-olah dia berhadapan langsung dengan orang Yahudi. Padahal jemaat di Roma mayoritas berlatar belakang non Yahudi. Dari catatan Tom Jacobs, penulis melihat dua hal. Yang pertama, Paulus hendak menumpahkan kegundahannya tentang hubungan yang kurang harmonis dengan jemaat di Yerusalem yang mayoritas berlatar belakang Yahudi, termasuk kepada para pemimpinnya yaitu Petrus, Yohanes dan Yakobus terutama cara pandang terhadap Taurat. Yang kedua, Paulus hendak mengajukan pembelaan terhadap kemungkinan tersebarnya klaim negatif kepada Paulus di kalangan jemaat sebagai anti Yahudi.

3. Iman dan Perbuatan menurut Paulus
Dalam ps 3:21-31 secara ringkas dapat dikatakan bahwa ajaran Paulus tentang pembenaran didasarkan pada kenyataan bahwa semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (3:23), entah dia adalah orang Yahudi atau bukan, dan oleh anugerah-Nya telah dibenarkan dengan cuma-cuma melalui penebusan dalam Yesus Kristus (ay 24). Karena itulah dalam ayat 21 dikatakan bahwa tanpa hukum Taurat pembenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab Para Nabi. Dasar untuk memperolehnya bukanlah perbuatan tetapi berdasarkan iman (ay 27), karena manusia dibenarkan karena iman, bukan karena melakukan hukum Taurat (ay 28).
Mengenai iman, Paulus tidak memberikan rumusan pengertian yang eksplisit. Van den End mengatakan bahwa makna dari kata “iman” dalam pengajaran Paulus ini baru dapat dilihat sepenuhnya jika dipertentangkan dengan “perbuatan hukum taurat”. Keselamatan melalui hukum Taurat akan berpasangan dengan sikap manusia yang berusaha memenuhi tuntutan taurat itu. Sedangkan keselamatan tanpa hukum Taurat berpasangan dengan sikap yang sama sekali lain, yaitu sikap manusia yang mengharapkan keselamatan sepenuhnya dari rahmat Allah saja. Itulah iman.
Mengenai perbuatan, Rasul Paulus sangat pesimis terhadap setiap upaya manusia untuk melakukan setiap tuntutan Hukum Taurat. Dalam ayat 20, dengan tegas Rasul Paulus menyatakan bahwa tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat. Justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa. Ajaran Rasul Paulus ini sebenarnya merupakan refleksi dari perjalanan kehidupannya, sekaligus menjadi keyakinannya. Bagaimanapun juga, dalam keadaan yang sangat jauh dari iman kepada Kristus bahkan menjadi penganiaya jemaat, dia diterima oleh Allah untuk perkerjaan Pemberitaan Injil. Perbuatan-perbuatan yang dulu dianggapnya baik karena didasarkannya pada ketaatan kepada Taurat, justru menjadi suatu hal yang dianggapnya sebagai suatu hal yang tidak berguna .

4. Pembenaran Abraham menurut Paulus (Roma 4:1-25)
Ajaran ini sebenarnya mewarnai keseluruhan Surat Roma . Namun yang ditekankan di sini adalah pasal 4:1-25, dimana Paulus menegaskan ajarannya tentang pembenaran melalui iman (sebagaimana diuraikan pasal 3:21-31) dengan merujuk Abraham. Dalam bagian ini, Paulus menegaskan pandangannya, berangkat dari ketokohan Abraham, yang menjadi kebanggaan besar bagi orang Yahudi karena mereka adalah keturunan Abraham. Metode Paulus di sini terbilang unik, karena hendak mematahkan sikap eksklusif orang Yahudi justru dengan referensi yang sangat dijunjung tinggi orang Yahudi.
Dalam membahas bagian ini, penulis mengikuti pandangan Van den End yang membagi pasal ini menjadi enam bagian, tetapi dengan menambahkan penekanan setiap bagian :
1. Pasal 4:1-8; Manusia dibenarkan karena iman.
Penegasan ini dinyatakan dalam ayat 1 dan 2. Hal itu dibuktikan dengan mendasarkannya pada kesaksian kitab Suci. Yang pertama Kejadian 15:6 “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran”. Ditambah lagi dengan mengutip Mazmur (ayat 6) yang sering dikutip dalam tulisan-tulisan kaum Rabi Yahudi khususnya dalam hubungan dengan hari raya Pendamaian yaitu Mazmur 32:1-2 mengenai kebahagiaaan orang yang diampuni pelanggarannya dan dosa-dosanya diampuni. Naskah asli untuk ayat 6 memberi kesan yang lebih tegas lagi. TB LAI menulis: “…..dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuataannya”. Tetapi dalam nakah asli tertulis : cwri.j e;rgwn. = tanpa perbuatan.
2. Pasal 4:9-12; Abraham dibenarkan sebelum dia besunat.
Pernyataan ini menampar primordialis orang Yahudi yang sangat ketat dengan aturan sunat . Paulus mengungkap sebuah kenyataan bahwa Abraham dibenarkan sebelum disunat. Karena tanda itu diperintahkan (Kej 17:1-21) setelah janji keturunan (Kej 15) yang dengan mempercayainya Abraham telah dibenarkan. Jadi Abraham bukan hanya bapa orang bersunat, tetapi juga bapa orang-orang yang meneladani iman Abraham sebelum dia disunat .
3. Pasal 4:13-16; Perjanjian Allah bukan didasarkan pada Taurat.
Dalam bagian ini Paulus menguraikan tempat Hukum Taurat dalam rangka ajaran mengenai pembenaran oleh iman. Paulus sama sekali tidak menolak mentah-mentah Taurat. Masalahnya hukum Taurat tidak akan memungkinkan manusia memperoleh kebenaran. Lagi pula perjanjian itu bukan berdasar pada dan diterima melalui hukum Taurat. Sebab dengan adanya hukum Taurat, maka pelanggaran akan muncul (ay 15) dan pelanggaran terhadap hukum akan berhadapan dengan hukuman. Tetapi jika berdasar pada kasih karunia (16) yang diperoleh melalui iman, maka kebenaran itu berlaku bagi semua orang, baik yang memiliki/mengenal Taurat maupun yang tidak mengenalnya.
4. Pasal 4:17-22. Iman Abraham.
Paulus menjelaskan tentang iman Abraham, bahwa secara manusia, sebenarnya dia tidak punya dasar untuk berharap (ayat 18). Tubuhnya semakin lemah, dan rahim Sarah (secara manusia) sudah tertutup. Namun dia tetap percaya kepada janji Allah. Itulah yang menjadi dasar pembenaran Abraham.
5. Pasal 4:23-25 Manusia dibenarkan karena Iman.
Paulus menyeberang pada hakekat iman Kristen bertolak dari iman Abraham, yaitu percaya kepada Allah yang telah membangkitkan Yesus. Inilah yang sebenarnya menjadi tujuan utama Paulus. Melalui iman kepada Kristus yang dibangkitkan, setiap orang akan dibenarkan.

E. CATATAN ANALITIS
Mengikuti perkembangan pemikiran Paulus dan Yakobus tentang iman, perbuatan, dan pembenaran, penulis mencatat beberapa hal. Tetapi Penulis hendak membedakan dua bagian tulisan Yakobus. Yang pertama menyangkut pasal 2:14-20 dan ayat 21-26.

1. Pentingnya Iman dan Perbuatan: Pre-conversion dan Post-conversion
Adanya perbedaan pandangan antara Yakobus dan Paulus tentang iman dan perbuatan sebenarnya dipisahkan oleh titik berangkat masing-masing. Inilah yang dimaksud dalam sub topik di atas yang mengacu pada analisis Morris dan Douglas Moo. Paulus berbicara tentang perbuatan pada titik pre-vonversion, sedangkan Yakobus pada titik post-conversion.
Paulus menolak menjadikan “perbuatan” sebagai dasar untuk memperoleh pembenaran. Seseorang tidak akan dibenarkan melalui perbuatannya. Perbuatan yang dimaksud sesuai situasi yang melatarbelakangi penulisan surat Roma adalah hukum Taurat. Upaya apapun yang dilakukan manusia tidak akan membuatnya tiba pada titik di mana dia layak menerima pembenaran itu. Mempedomani hukum Taurat malah akan semakin memperjelas ketidakmampuan itu, sebab adanya hukum senantiasa berpasangan dengan pelanggaran. Dalam hal ini Paulus sangat menolak gaya legalisme Yahudi.
Setelah berbicara tentang “pembenaran” oleh iman, Paulus (dalam Surat Roma) memang berhenti dan tidak memberi bahasan tentang tindak lanjut dari iman yang membenarkan itu. Hal ini disebabkan kebutuhan yang mendesak saat itu bahwa ada paham yang berbenturan mengenai pembenaran oleh iman atau pembenaran melalui ketaatan kepada hukum Taurat. Tetapi bukan berarti bahwa dalam keseluruhan teologia Paulus, dia selalu berhenti pada konsep iman yang membenarkan itu. Dia juga banyak berbicara mengenai buah-buah iman .
Sementara itu, Yakobus (khususnya dalam Yak 2:14-26) menolak eksistensi iman yang tidak dinyatakan melalui perbuatan. Iman yang demikian adalah iman yang mati. Yakobus sendiri tidak mendefinisikan apa yang dia maksud dengan iman. Hal itu membuktikan bahwa memang Yakobus bergerak dari titik post-conversion. Hal ini kembali lagi memberikan gambaran tentang situasi yang dihadapi penulis Surat Yakobus dimana perihal iman sudah cukup dikenal. Bahkan mungkin karena sudah menjadi sangat populer sehingga iman itu menjadi hampa karena tidak disertai dengan perbuatan. Karena itu, Yakobus lebih mengedepankan aspek-etis praktis daripada aspek doktrinal, yang sangat ditekankan Paulus. Plummel mengatakan Yakobus lebih mementingkan agenda dibanding credenda . Mana yang lebih penting dari keduanya, tergantung pada konteks yang dihadapi. Karena itu perbedaan penekanan Paulus dan Yakobus disebabkan perbedaan konteks pemberitaan mereka.

2. Pembenaran Abraham : Kontradiktif.
Baik Paulus maupun Yakobus memakai pola Yahudi tentang diperlukannya dua orang saksi dalam mengemukakan pendapat agar pendapat itu memperoleh pembenaran/wibawa. Keduanya mengutip ayat yang sama untuk mengukuhkan pandangan mereka, yaitu Kejadian 15:6 tetapi untuk tujuan yang berbeda. Yakobus mengutip ayat tersebut untuk meneguhkan orang Yahudi di perantauan, namun Paulus justru terkesan “menyerang” orang Yahudi yang legalistik.
Paulus menginterpretasi Abraham dengan sangat taat kepada kitab Suci. Bahkan kronologi iman Abraham dari janji keturunan sampai peneguhan perjanjian melalui sunat diinterpretasi dengan sangat baik berdasarkan kitab Taurat. Walapun dia mengabaikan suatu teori yang berkembang dalam “Abrahamologi-nya” orang Yahudi bahwa upaya Abraham bertahan dalam pencobaan/pengujian imannya layak disebut sebagai perbuatan amal, sehingga mereka berani mengatakan bahwa Abraham dibenarkan karena perbuatannya . Namun secara umum, upayanya untuk menempatkan orang non-Yahudi dalam kerangka perjanjian menggunakan interpretasi yang sangat berdasar dan akhirnya sampai pada konsep “Abraham dibenarkan karena Iman”
Lain halnya dengan Yakobus. Seandainya dalam mengajukan konsepnya Yakobus berhenti pada ayat 20, maka dinamika perjumpaan konsep dengan Paulus tidak akan memberi kesan perbedaan teologis. Memang cukup beralasan jika Yakobus merujuk Abraham. Apalagi surat ini hendak ditujukan kepada orang berlatar belakang budaya Yahudi. Jadi tokoh Abraham harus dimunculkan. Hal ini biasa dalam diskusi-diskusi rabinis. Namun interpretasinya kepada Abraham justru membuat konsepnya memberi kesan perbedaan teologis.
Yakobus menunjuk tindakan Abraham di Moria sebagai alasan Tuhan membenarkan dia. Padahal setting teks yang dikutip jauh sebelumnya, bahkan sebelum Ishak lahir. Demikian pula rujukan terhadap Rahab. Yakobus sangat yakin bahwa Rahab dibenarkan karena perbuatannya. Padahal Kitab Suci tidak pernah menyatakan bahwa : Rahab dibenarkan. Yang terjadi adalah Rahab diperkenankan hidup di antara orang Israel. Dalam hal ini, tampaknya Yakobus sangat dipengaruhi oleh tradisi lisan Yahudi tentang Abraham dalam menginterpretasi kesaksian kitab Suci tentang dua tokoh tersebut dan akhirnya sampai pada simpulan yang bersifat teologis: “Abraham dibenarkan karena Perbuatannya, bukan karena iman saja” (Yak 2:23-24).
3. Perbedaan : Upaya kontekstualisasi yang menghasilkan perbedaan teologis.
Memahami teks Yakobus 2:14-26 secara keseluruhan di atas, mau tidak mau kita harus mengakui bahwa kerangka teologia Paulus dengan Yakobus tentang iman dan perbuatan dalam rangka pembenaran memang berbeda. Perbedaan ini juga bisa dihubungkan dengan dinamika kebersamaan Kristen Yahudi (dibawah trio pemimpin: Petrus, Yohanes dan Yakobus) dengan Kristen Non Yahudi (dalam pelayanan Paulus). Walther Schmithas dalam bukunya : Paul and James memberi perhatian terhadap ketegangan antara Jemaat di Yerusalem (yang berlatar belakang Yahudi) dan jemaat-jemaat di luar Yerusalem, terutama yang berlatar belakang non-Yahudi.
Namun lepas dari pergumulan ahli tentang hubungan Gereja di Yerusalem dengan Paulus, menurut penulis hal itu berkaitan dengan kontekstualisasi. Orang Kristen Yahudi memahami iman dalam budaya mereka sebagai orang Yahudi yang mewarisi berbagai aturan. Walaupun mereka sudah mengenal Kristus dan ajaranNya, namun identitas mereka sebagai orang Yahudi tidak akan bisa digeser begitu saja. Sementara itu, sangat wajar jika Rasul Paulus yang melayani di lingkungan orang-orang non-Yahudi tidak menempatkan pelaksanaan berbagai macam aturan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan injil kepada orang-orang non-Yahudi yang tidak mengenal Naurat. Namun upaya kontekstualisasi itu telah menghasilkan interpretasi teologis yang berbeda.
Pada awal-awal pemaparan Yakobus (2:14-20) kita bisa berasumsi bahwa perbedaan itu disebabkan desakan konteks berteologi mereka masing-masing serta berbedaan penekanan keduanya (Surat Yakobus bersifat Praktis, tetapi Surat Roma bersifat doktrinal) . Namun ketika mulai masuk dalam interpretasi terhadap Abraham, maka perbedaan konsep teologis itu mengemuka. Menurut Paulus, Abraham dibenarkan karena iman, sedangkan menurut Yakobus, Abraham dibenarkan karena perbuatannya bukan hanya karena iman.
Perbedaan inilah yang menjadi salah satu landasan perdebatan dalam proses kanonisasi dikemudian hari. Irenaeus (130) awalnya memasukkan Surat Yakobus ke dalam kanon. Namun kemudian Origenes (254) dan Eusebius (339) menolaknya Kanon. Barulah pada tahun 367, surat Yakobus diterima dalam kanon (Athanasius). Namun pada zaman reformasi, Luther menolaknya dalam kanon, walaupun dia tidak mendapat banyak dukungan. Keberatan Luther, terutama pada konsep pembenaran yang diajukan Yakobus. Tetapi mengingat nilai surat ini memberikan banyak petunjuk hidup secara etis, maka persoalan yang dikemukakan Luther menjadi terpinggirkan.

F. DIALOG YAKOBUS DAN PAULUS DALAM KONTEKS INDONESIA
Catatan aplikatif ini menyangkut dua hal yang penulis temukan dalam mengikuti dialog Yakobus dan Paulus tentang iman, perbuatan dan pembenaran. Hal ini berimplikasi dua hal yaitu perbuatan sebagai aktualisasi iman, dan masalah kontekstualisasi.

1 Antara Orthodoksi dan Orthopraksi
lepas dari cara berfikir Yakobus yang mendasarkan pendapatnya pada tradisi, apa yang hendak dikemukakannya layak diapresiasi dalam kehidupan Kekristenan di Indonesia. Pada kenyataannya, dalam pembicaraan tentang iman Kristen, kadang-kadang Gereja lebih banyak bergumul pada masalah orthodoksi ketimbang orthopraksi . Tekanan pada masalah pembenaran berdasarkan iman sering mengurung Kekristenan dalam lingkaran ortodoksi. Mungkin ini disebabkan doktrin sola fide Calvin dan Luther yang pernah menolak Surat Yakobus dalam kanon bahkan menganggapnya setengah Kristen . Dalam hal ini kita harus mengakui langkah maju saudara-saudara dari Gereja Katolik Roma yang sangat menekankan aktualisasi iman. Hal ini terlihat misalnya dari gerakan teologia pembebasan yang lebih banyak muncul dari kalangan Katolik.
Penulis tidak bermaksud mengubah doktrin “pembenaran oleh iman” dan mengubahnya menjadi “pembenaran oleh perbuatan”. Yang harus diupayakan adalah aktualisasi pembenaran itu. Mendefinisikan ibadah yang sejati bukan hanya “mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus” (Paulus, Roma 12:1) tetapi juga “mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka” (Yakobus 1:27), sebab Yesus Kristus telah memaklumkan: bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: “Tuhan, Tuhan!” akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Matius 7:21).
Hal ini juga sekaligus berimplikasi pada hubungan antar agama, yang menjadi pergumulan klasik Kekristenan di Indonesia yang sering mengurung Gereja dalam Minority Complex. Jika kita terlalu menekankan orthodoksi kita akan terseret pada polarisasi “yang beriman” dan “yang tidak beriman”. Prinsip ini akan selalu membawa ketegangan dalam hubungan dengan penganut agama lain. Tetapi dengan menekankan orthopraksi, iman Kristen dapat memberi arti untuk memberitakan “Kabar Sukacita”, bukan secara verbal, tetapi bentuk nyata. Dalam hal ini penulis sependapat dengan Knitter yang mengusulkan Pluralisme korelasional yang bertanggungjawab secara Global.

2. Kontekstualisasi yang bertanggungjawab
Seperti telah diuraikan di atas bahwa masalah perbedaan teologis tentang masalah pembenaran antara Paulus dan Yakobus sebenarnya berawal dari upaya kontekstualisasi. Yakobus mengkontekstualkan pengajarannya pada orang-orang berlatar belakang Yahudi, sedangkan Paulus kepada non-Yahudi. Namun upaya itu telah menghasilkan intepretasi yang berbeda terhadap satu kesaksian Kitab Suci. Masalahnya perbedaan interpretasi itu bukan hanya menyangkut hal praktis, tetapi sudah menghasilkan statement teologis .
Upaya berteologia dalam konteks Indonesia telah menjadi pergumulan yang mengemuka di kalangan Gereja-gereja di Indonesia akhir-akhir ini. Tentunya hal ini sangat positif agar penghayatan iman Jemaat benar-benar lahir dari Identitas dan pergumulan mereka. Gereja-gereja di Indonesia lahir dan bertumbuh sebagai buah pekabaran Injil dari Barat. Secara doktrinal, konsep yang dibawa oleh para missionaris lahir dari penggumulan iman dalam identitas mereka sebagai orang Barat serta pergumulan kontemporer yang mereka hadapi. Dengan demikian, penerapannya dalam konteks Indonesia harus disesuaikan dengan idenitas dan pergumulan lokal, dengan melakukan reinterpretasi. Namun hal ini tentunya harus diwaspadai agar upaya kontekstualisasi tidak menjadikan iman Kristen jatuh ke dalam liberalisme atau relativisme dan melahirkan interpretasi teologia yang tidak Alkitabiah.

3 Comments »

  1. kadang saya berpikir bahwa penekanan keselamatan pada iman dan bukan disertai perbuatan adalah bentuk ketidakmampuan untuk berbuat…… kita terlalu sering menggali unsur falsafi, latar belakang, atau segala sesuatu yang bersifat ilmiah dari kitab-kitab dalam alkitab ..tanpa memperhitungkan peran ilham ROH KUDUS dalam proses penulisannya yang tentunya tak terselami oleh kita manusia… Tuhan Yesus pernah mengajarkan cara mengikutiNya.. sangkal diri,pikul salib dan ikut Dia.. saya rasa itu mengacu pada iman disertai perbutan.. Bagaimana pula penjelaskan 1 Kor 13.. terutama pasal 2 dan 13.. sebenarnya saya belum membaca semua esai di atas … jadi ini cuma pendapat tidak sepenuhnya kritik…..

    Comment by arlin — April 9, 2008 @ 8:22 pm

  2. Menurut saya keselamatan hanya oleh anugerah Allah saja melalui kematian Yesus di atas salib,bukan melalui perbuatan kita, karena kalau mau jujur seberapa baik dan banyak perbuatan kita yang dapat menyelamatkan/membenarkan kita dibandingkan dengan dosa yang kita lakukan setiap hari, Perbuatan dalam surat yakobus adalah respon nyata dari Iman kita kepada Yesus, sehingga pemahamam perbuatan dalam surat Yakobus lebih merupakan konfirmasi terhadap Iman kita yang sudah diselamatkan oleh Anugerah Allah. Sudah seharusnyalah orang yang telah diselamatkan oleh kasih Kristus melakukan perbuatan benar dan baik yang nyata karena hidup kita sudah diperbaharui oleh Kristus dan ada Roh Kudus yang akan terus membimbing kita melakukan kehendak Allah. Jadi apabila kita katakan kita sudah diselamatkan oleh Kasih Allah tetapi tidak melakukan perbuatan yang nyata dari Iman kita, yang jadi masalah bukan apakah keselamtan hanya oleh iman atau oleh iman ditambah dgn perbuatan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita benar2 sudah diselamatkan atau menerima Yesus dengan sungguh2 karena orang yang sudah diselamatkan/menerima Yesus dgn sungguh2 pasti akan melakukan perbuatan2 kasih seperti yang diajarkan oleh Yesus dan karena Allah adalah kasih. Kesimpulannya tidak ada pertentangan maksud Allah dalam surat Paulus maupun Yakobus, hanya kita manusia yang dipenuhi dengan keterbatasan dan kelemahan mencoba mengerti maksud Allah dengan logika berpikir kita.

    Comment by Ferry — May 28, 2008 @ 10:26 pm

  3. […] Christian Tanduk, “Iman, Perbuatan dan Pembenaran”  dalam http: // forumteologi.com / blog / 2007/04/24/ […]

    Pingback by SEJARAH DEKLARASI BERSAMA TENTANG AJARAN PEMBENARAN IMAN ANTARA PROTESTAN DAN KATOLIK « MARSIURUPAN ANGKOLA-MANDAILING — May 6, 2010 @ 11:07 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress