Orang Depresi juga Sahabat Yesus
Orang Depresi juga Sahabat Yesus
Refleksi pengalaman atas hidup bersama dengan orang depresi
Karya: Mixon Simarmata, Kategori: Pilihan Mahasiswa
1. Pendahuluan
Stress, depresi akhir-akhir ini merupakan salah satu masalah yang sudah menggejala di berbagai pelosok di tanah air. Hal itu bisa saja diakibatkan oleh bencana alam yang telah merenggut nyawa dari anggota keluarga dan juga harta benda. Boleh juga diakibatkan oleh karena tingginya serta kerasnya persaingan hidup, masalah keluarga serta masalah sosial lainnya. Keterbatasan pikiran manusia dalam menemukan jalan keluarnya dapat mengarah kepada stress dan depresi. Dalam penilitian terbaru, mengatakan bahwa 90 % penyakit fisik disebabkan oleh pikiran manusia. Dan dalam menyelesaikan persoalan itu, ada banyak orang yang lebih memilih jalan pintas, seperti dengan narkoba, minuman keras, seks bebas bahkan bunuh diri .
2. Deskripsi
Di desa Neglasari, Lido - Bogor tepatnya berada di kaki gunung Salak, pada tahun 1996 berdirilah dua buah bangunan di atas tanah seluas 2 hektar. Kedua bangunan itu dibuat demikian rupa seperti kemah, dengan ukuran 5 x 10 meter. Kedua bangunan itu berada di satu tempat yang belum terjangkau Perusahaan Listrik Negara. Tetapi, oleh pemiliknya, tempat itu diberikan 2 buah solar panel yang dihubungkan ke batere, yang fungsinya untuk membantu penerangan pada malam hari. Selain kedua solar panel itu, si pemilik juga memberikan generator untuk menambah daya apabila sewaktu-waktu diperlukan.
Kedua bangunan itu, oleh pemiliknya diberi nama Kemah Boaz. Tempat itu dimaksudkan sebagai tempat rehabilitasi orang stress, sekaligus sebagai tempat penginjilan bagi orang Sunda di daerah itu. Adapun bangunan pertama adalah berfungsi sebagai tempat tidur para pasien dan orang-orang yang mendampingi mereka. Di dalam bangunan pertama itu tidak didapati sekat pemisah antara pasien dan pendampingnya. Namun mereka tidur bersama. Sedangkan di bangunan yang kedua adalah berfungsi sebagai tempat ibadah sekaligus sebagai tempat menginap bagi pemilik dan juga tamu yang datang. Kemah Boaz itu berada jauh dari pemukiman penduduk, sehingga jikalau ada pasien yang lagi “kumat” depressinya sehingga jikalau ia mau menjerit, berteriak, hal itu tidak akan mengganggu masyarakat sekeliling. Lahan yang seluas 2 hektar itu juga dengan sengaja oleh pemiliknya dibuat pembibitan pohon palem. Hal ini bertujuan untuk membuat kesibukan dari para pasien.
Di Kemah Boaz itu ada 8 orang penghuni, dimana 5 orang diantaranya adalah mereka yang stress yang dalam proses pemulihan, sedangkan 3 orang lain ialah pendamping. Kelima orang tersebut ialah : pertama, Dalfons. Sebelum ia tiba di kemah Boaz, Dalfons, yang adalah seorang pemuda Batak ini, seorang pekerja yang bekerja sama dengan pengembang. Ia memiliki idealisme yang tinggi untuk hidup “bersih”. Namun kenyataan di lapangan justeru menuntutnya untuk keluar dari pola hidup bersih itu, sehingga hal itu lama-kelamaan membuat dia frustrasi dan kecewa berat. Dia seorang pemuda yang berumur sekitar 36 tahun, belum menikah dan sudah tidak memiliki orang tua. Selama dia tinggal di Kemah Boaz, dia dibebaskan dari biaya. Dalam proses pemulihan itu, ia berkeinginan untuk pergi ke suku Badui Dalam dengan tujuan memberitakan Injil Damai Sejahtera.
Kedua, German. Dia seorang pemuda Batak yang berasal dari Tapanuli Utara, tepatnya di Dolok Sanggul, sekitar 285 km dari Medan. Kehidupan yang sulit di desanya memaksanya untuk merantau ke Medan, tepatnya di pelabuhan peti kemas Belawan. Di sana dia bekerja sebagai tukang pundak. Kehidupan yang sangat keras di dalam pekerjaannya membuat dia frustrasi. Di dalam puncak frustrasinya, German mencoba melakukan tindakan bunuh diri. Menurut pengakuannya, dia membeli satu batang rokok, satu gelas air mineral serta satu kaleng racun tikus. Sebelum tindakan bunuh diri ini dilakukannya, dia telah terlebih dahulu menyelesaikan seluruh hutangnya yang pernah dia pinjam. Karena menurutnya, supaya kalau dia mati, dia tidak meninggalkan hutang. Ternyata, apa yang terjadi setelah dia mereguk minuman yang mematikan itu ? Dia tidak mati. Sama seperti Dalfons, Germanpun selama tinggal di Kemah Boaz, dibebaskan dari biaya.
Ketiga, Sihombing. Seorang laki-laki yang masih melajang, yang sudah berumur sekitar 42 tahun. Anak dari seorang janda pensiunan polisi di Jakarta. Dia terlibat dengan minuman keras serta obat-obatan sejenis psikotropika. Tidak begitu jelas, apa yang menjadi penyebab dia terlibat minuman keras serta obat-obatan terlarang itu. Dia ditempatkan di Kemah Boaz oleh orangtuanya dengan tujuan untuk memulihkannya dari keterlibatan dengan minuman keras serta obat-obat psikotropika itu. Menurut orangtuanya, memisahkan Sihombing dari teman-temannya, akan membantu dia menyelesaikan keterikatannya dengan minuman keras dan obat psikotropika itu. Sihombing selama tinggal di Kemah Boaz, dibebankan biaya sekitar 150 ribu rupiah per bulannya. Sihombing, sedikitnya pulang ke Jakarta 1 kali dalam 3 bulan. Dan ketika dia sudah pulang dari Jakarta ke Kemah Boaz, menurut pengakuannya dia juga menyempatkan diri untuk bergabung dengan teman-temannya untuk minum-minuman keras.
Keempat, Bulianer. Seorang bapak dengan 2 orang anak. Sebelum tinggal di Kemah Boaz, adik dari seorang kopassus ini adalah seorang pengedar ganja untuk kalangan orang kaya di Jakarta. Suatu hari, menurut cerita dari Bulianer, dia kehabisan pasokan ganja yang datang dari Aceh. Sementara itu, para pelanggannya sudah bersiap-siap untuk membeli dari dirinya. Dalam pikirannya, “dari pada saya mati terbunuh”, maka dia mensiasati dengan mengambil daun kecubung lalu menjemurnya serta memipihkannya lalu memasukannya ke dalam amplop untuk dijual. Walaupun pada khirnya aksinya tercium oleh polisi. Dan setelah melewati persidangan dia divonis 7 tahun. Lalu dia ditempat di “hotel prodeo” Cipinang. Menurut pengakuannya, selama dia tinggal di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang itu, dia berusa untuk jadi kepala kamar. Dan seteleh melewati pertarungan fisik, dia menjadi kepala kamar. Lebih lanjut lagi, selama dia “menjabat” sebgai kepala kamar, dia memiliki “gaji” yang berasal dari setoran para pengunjung ke LP serta hasil dari menjual ganja di dalam LP. Namun, selama dia berada di LP, istrinya yang tercinta pergi entah ke mana meninggalkan dirinya. Sedangkan kedua anaknya ditinggalkan istrinya di rumah orangtua Bulianer. Kepada Bulianer, selama tinggal di Kemah Boaz, juga dibebankan biaya sebesar 150 ribu rupiah setiap bulannya.
Kelima, Sem Peleh. Seorang pemuda yang berumur sekitar 31 tahun, anak dari staff di Caltex Pekan Baru. Dari segi ekonomi, dia memang lebih dari cukup. Namun, menurut adik ipar dari seorang pilot Garuda yang pada tahun 1997 telah memiliki 30.000 jam terbang ini, rentetan kekecewaan terjadi padanya di tengah-tengah keluarga. Hal itu berawal di saat setelah lulus SLTA hendak melanjutkan ke Jakarta. Tetapi, orangtuanya tidak menyetujuinya. Orangtuanya lebih memilih Pekan Baru daripada Jakarta. Dan sebagai puncaknya, menurut pengakuan kakaknya, dia pernah dijadikan “tumbal” oleh orantuanya dalam mempertahankan posisinya sebagai staff di perucahan Caltex itu. Caranya yaitu dengan memasukkan sejumlah serbuk ke dalam matanya. Sebelum ke Kemah Boaz, Sem sudah pernah juga tinggal di salah satu panti rehabilitasi di Jakarta. Dengan didampingi kakaknya, dia tiba di Kemah Boaz serta membawa “segudang” penenang. Kakaknya mengatakan, bahwa Sem selama ini biasanya mengkonsumsi obat penenang untuk dapat tidur pada malam harinya. Jumlah obat yang dikonsumsi setiap malamnya ialah sebanyak 7 butir. Sama seperti Bulianer dan Sihombing, keluarga Sem juga memberikan tanggung jawab mereka kepada pemilik Kemah Boaz setiap bulannya sebesar 300 ribu rupiah.
Dari 5 pasien di atas, 3 diantara mendapat pendampingan setiap hari. Ketiga orang itu ialah Sihombing, Bulianer serta Sem Peleh. Pendampingan yang dilakukan ialah dengan tidur bersama dengan mereka. Hal ini dilakukan sebagai wujud dari perhatian pembimbing kepada mereka. Selain itu bimbingan secara rohani (Pagi dan malam) sampai mengajak mereka agar tidak bergantung kepada orang lain dan juga dengan obat-obatan serta minuman keras dan mulai berarti bagi diri sendiri. Hal itu dimulai dengan pola tanpa tidur siang. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi fungsi penenang yang biasa dilakukan untuk tidur malam, khusunya bagi Sem. Selanjutnya, mereka dilatih untuk secara bergiliran mencuci piring, dan juga mencuci pakaian mereka masing-masing. Membuat mereka “letih” secara fisik, contohnya berjalan berkeliling di sekitar kaki gunung salak, sangat efektif untuk mengalihkan perhatian mereka dari kehidupan masa lalu mereka itu.
Sem, tidak lagi bergantung kepada penenang. Artinya, pada malam hari, setelah dia berada kurang lebih 1 bulan di Kemah Boaz, dia tidak lagi menggunakan penenang. Namun dia masih bergantung kepada rokok. Kepadanya mulai dilatih dan diajarkan untuk tidak bergantung kepada rokok. Caranya dengan memberikan tanggung jawab kepadanya seperti mencuci piring. Sebagai upah dari tanggung jawabnya, ia diberikan rokok. Meskipun sebelumnya telah ada kesepakatan antara pembimbing dengan Sem, bahwa “jatah” rokoknya harus dikurangi dari hari ke hari. Namun suatu ketika, dia merasa 6 batang dalam 1 hari sangat sedikit dan akhirnya ia memutuskan untuk lari dari Kemah Boaz. Seluruh penguhuni kemah Boaz jadi bingung atas kejadian itu, karena 1 minggu kemudian baru ada berita kalau dia sudah berada di Panti Rehabilitasi Ongko Mulyo Jakarta Timur.
3. Analisa
Ada banyak penyebab yang menghasilkan penderitaan. Diantara banyaknya penyebab itu, dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, pertama bencana alam dan kedua, bencana sosial atau penyakit sosial. Dalam makalah ini, saya lebih terfokus pada bencana sosial. Ada banyak bencana atau penyakit sosial yang dapat mengakibatkan penderitaan itu. Dari kesemuanya itu, sekurang-kurangnya dapat dikelompokkan dalam 7 bagian .
Pertama, kejahatan dan kekerasan. Semua acara televisi di Indonesia memiliki satu waktu untuk menayangkan tentang tindak kriminal yang terjadi di seluruh Indonesia ini. Setiap hari, selalu ada kejahatan. Demikian juga dengan kekerasan, boleh dikatakan hampir seluruh tayangan di telivisi kita, menayangkan acara kekerasan. Salah satu diantaranya yang menuai kecaman dan kritikan yang keras ialah tayangan smackdown. Kritikan serta kecaman itu berujung pada dihentikannya tayangan smackdown itu. Apakah hanya acara SmackDown yang merupakan penyebab tunggal terjadinya perkelahian, seperti yang ditirukan oleh beberapa anak sekolah dasar di beberapa daerah di Indonesia ini ? Mengapa hanya tayangan smackdown yang dihentikan, sementara tayangan lain yang juga berisikan kekerasan, seperti fear faktor, tentunya bukanlah tempatnya untuk membahasnya dalam makalah ini. Sehubungan dengan tayangan kekerasan di banyak televisi Indonesia itu, Dedy N Hidayat mengatakan bahwa tayangan smackdown “hanya” sebagai pemicu dan “prakondisi” yang sesungguhnya telah ada sejak lama. “Budaya kekerasan dan potongan peristiwa kekerasan itu terakumulasi, dan mencapai puncaknya lewat smackdown”. Hal senada juga disampaikan Ratna Juwita. Beliau mengatakan : “bahwa melihat kekerasan yang terjadi pada anak, hal itu tidak terlepas dari sejarah, budaya dan kondisi masyarakat kini” . Sejarah mencatat bahwa perjuangan yang ada di dalam Kerajaan di Indonesia seringkali diwarnai dengan pertumpahan darah. Dan keadaan sekarang, kekerasan serta penyalahgunaan kekuasaan sudah menjadi “etalase” kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia.
Kedua, Luka sosial. Singgih dan juga Viktor memiliki cara pandang yang sama akan kepelbagaian agama. Kepelbagaian agama sebenarnya merupakan suatu modal yang sangat besar yang dapat dipergunakan untuk mewujudkan kesembuhan penyakit sosial itu. Meskipun juga harus disadari bahwa fanatisme yang sangat berlebihan dalam kepelbagaian agama itu dapat menyebabkan konflik serta ketegangan. Dan faktanya, kepelbagaian yang ada di Indonesia itu, telah banyak menimbulkan konflik yang berakhir dengan perpecahan. Dan hal itu menyisakan luka batin bagi banyak warga Negara kita. Dan satu tindakan yang sangat diperlukan ialah bagaimana memutuskan mata rantai dari dendam dan kebencian atas dampak negative dari kepelbagaian itu.
Ketiga, kemiskinan. Mengapa terjadi kemiskinan ? Ada yang bilang karena malas, bodoh, atau memakai istilah Victor, “rendahnya sumber daya manusia”. Tetapi, sesungguhnya hal di atas bukanlah penyebab utama. Penyebab utama dari kemiskinan ialah ketidakadilan struktural, namun penyebab utama ini masih diikuti oleh penyebab-penyebab lainnya seperti: malas, bodoh, mereka anggap sebagai takdir. Kalau penyebab utama ini tidak diubah, maka akan sangat sulit sekali membuat kemiskinan berkurang atau hilang. Akibatnya : orang yang mau berlaku tidak adil akan mengalami sulit; yang tidak mau berlaku tidak adil juga sulit. Memahami persoalan atau masalah akan kemiskinan ini serta menemukan cara-cara untuk menyelesaikan masalah akan kemiskinan itu adalah baik. Akan tetapi jauh lebih baik kalau tindakan dilakukanj itu lebih bersifat penyadaran akan penderitaan orang tersebut. Tentunya penyadaran ini akan diharapkan menghasilkan suatu transformasi atau penyembuhan penyakit fisik dan struktur itu yang pertama dan terutama datang dari diri orang yang mengalami kemiskinan itu.
Keempat, krisis ekologis. Ada pendapat yang mengatakan bahwa “tradisi di dunia Timur mengemban sikap toleran (harmoni) dengan diri, hidup, dan alam lingkungan serta alam makrokosmosnya.” (Aholiab Watloly : 34). Masih dapatkah pendapat ini dipertahankan? Kenyataannya, Timur yang mengemban sikap toleran itu, ternyata eksploitasi alam terbesar terdapat di Timur juga yaitu di China. Demikian juga dengan Indonesia, dalam kenyataannya kerusakan alam banyak ditemukan di Indonesia. Atau sebaliknya, masih dapatkah dipertahankan pendapat yang selalu ‘mengkambinghitamkan’ Barat ? Bukankah di sana terdapat bentuk usaha yang kuat dalam melestarikan alam ?
Kelima, rendahnya kepedulian sosial. Kecenderungan yang ada di masyarakat kita ialah kepedulian itu akan ada jikalau terdapat titik temu dengan dirinya. Tetapi sebaliknya, jika titik temu itu tidak dapat ditemukan maka berkuranglah rasa pedulinya terhadap hal itu. Contoh : jalan yang rusak. Warga memahami bahwa perbaikan jalan bukanlah urusan mereka, tetapi urusan pemerintah. Demikian juga dengan sarana umum lainnya seperti jembatan, transportasi, telepon dll.
Keenam, dekandensi moral. Satu hal yang paling nyata akan penyakit sosial yang keenam ini ialah masalah seksualitas. “Sakralitas seksualiatas sebagai anugerah Tuhan sudah direndahkan martabatnya”.
Ketujuh, emosi yang tidak cerdas. Hal ini terlihat dalam sikap yang senantiasa mengeluh, bersungut-sungut, amarah yang tidak terkendali. Ciri khas warga kita yang dulunya dikenal dengan keramah tamahannya, ternyata sekarang sudah mengalami perubahan menjadi pemarah.
Ketujuh penyakit sosial di atas tentunya cepat atau lambat akan dapat menghasilkan stress, depressi bahkan untuk gejala yang lebih berat kegilaan. Untuk hal terakhir ini, kita dapat menemukannya di berbagai daerah di Indonesia. Orang gila, gepeng (gelandangan dan pengemis) adalah suatu pemandangan yang dapat kita nikmati sehari-hari secara khusus di Yogyakarta ini. Dimanakah pemerintah atas semua dampak penyakit sosial di atas? Dimanakah gereja, ketika melihat begitu banyaknya jemaat atau yang bukan jemaat mengalami depressi berat?
Sehubungan dengan 5 kasus pasien di Kemah Boaz itu, saya mencoba membatasi persoalan dalam akar penyebab penderitaan ini dalam 2 hal ketidakadilan dan kekerasan dalam keluarga.
Ketidakadilan
Ketidakadilan telah merebak ke berbagai kalangan serta temapat, baik itu di kalangan umum maupun juga dalam komunitas gereja. Hal itu terlihat jelas dalam tindakan diskriminasi yang menyudutkan serta menyingkirkan penyandang cacat, orang kecil, orang lemah, orang miskin. Diskriminasi itu juga terjadi dalam peran serta antara perempuan dan laki-laki. Perempuan masih belum diberi tempat untuk berpartisipasi penuh dalam hak dan kewajiban baik itu dalam masyarakat umum maupun di dalam gereja.
Memang ada terlihat upaya-upaya untuk meningkatkan pembangunan di berbagai sector. Namun, manfaat dari semuanya itu pada dasarnya masih lebih menguntungkan segelintir orang saja yaitu kaum elit, tetapi lebih menyengsarakan lebih banyak orang, yaitu orang-orang kecil dan lemah yang tidak berdaya. Mereka (orang kecil dan lemah) dipandang sebagai obyek oleh orang-orang yang berkuasa. Dan merekalah yang paling gampang dikorban dalam setiap kebijakan-kebijakan yang lebih berpihak akan keuntungan para penguasa itu.
Terhadap semua hal itu, Muller mengatakan bahwa sudah merajalela dan sudah memperbudak sejumlah besar umat manusia. Dan keadaan yang menggejala itu disebut Muller dengan “ ketidakdilan sebagai tanda zaman”.
Sehubungan dengan pengalaman Dalfons, sebagai rekanan pengembang, yang lebih memilih untuk hidup “bersih” dalam pekerjaannya. Keadaan di lapangan yang seringkali harus mengorbankan kaum miskin, orang kecil membuat dia “shock”. Sebagai contoh, kalau dia bersama pengembang hendak membangun perumahan. Menurut pengakuannya, dalam pembebasan tanah, yang paling mudah dikorban ialah kaum lemah.
Yang menjadi pertanyaan : apa yang salah dengan Dalfons ? Bukankah, pola hidup yang lebih berpihak kepada orang lemah dan miskin adalah suatu yang baik ? Lalu mengapa pola hidup yang demikian akhirnya menuntunnya menjadi seorang yang depressi? Adakah ada hubungan pola hidup yang demikian dengan depressi ? Atau barangkali dia tidak memiliki komunitas yang mendukung dalam pola hidup yang demikian ? Apakah dia juga merupakan korban dari ketidakadilan itu ?
Kekerasan dalam keluarga
Kekerasan (bahasa Latin : ‘violare’ ? violatus = melukai, melanggar ) berarti pelanggaran kemanusiaan secara fisik, verbal (ucapan), psikologis maupun struktural. Wujud kekerasan itu bisa dalam bentuk nyata maupun terselubung. Dan kekerasan itu juga dapat dibagi berdasarkan tingkatannya, yaitu Individual (ini yang paling dasar), Struktural (orang tua terhadap anak yang tidak mau membuat PR. Kalau tindakan itu terjadi 1 kali, maka itu kekerasan individual. Tetapi kalau itu terjadi berulangkali, hal itu sudah menjadi kekerasan struktural. Contoh lain : ospek) dan Kultural, orang-orang yang sudah menjadi percaya terhadap sistem itu (sudah menjadi sistem kepercayaan). Dengan kata lain : ada kepercayaan bahwa harus dengan kekerasan, seseorang itu bisa menjadi disiplin. Contoh : “sivis pacem vara bellum” (perdamaian hanya dapat terwujud melalui perang) dan ”Di ujung rotan ada emas”. Atau seperti yang dikatakan Lennin : “Telur dadar hanya bisa dibuat jika telur dipecahkan”.
Mengapa seseorang bisa mencintai kekerasan ? Sehubungan dengan pertanyaan ini, ada 3 pendapat yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Erich Fromm menyimpulkan pendapat pertama dari 2 orang tokoh Konrad Lorenz dan Sigmund Freud, yang mengatakan bahwa manusia dikuasai oleh dorongan bawaan untuk merusak dan agresi yang ada dalam manusia haruslah diwujudnyatakan dalam tindakan, agar manusia itu sehat. Meskipun pendapat ini masih dapat dikritik dengan memberikan contoh binatang mamalia, khususnya primata. Binatang ini memiliki agresi untuk bertahan tetapi agresi itu tidak untuk membunuh atau menyiksa. Kritik kedua juga dapat diberikan dengan suatu asumsi bahwa kemajuan peradaban seharusnya mengurangi agresi yang destruktif, tetapi kenyataannya tidak seperti.
Sedangkan pendapat yang kedua ialah diambil dari tokoh Skinner yang mengatakan bahwa kekerasan itu adalah karena faktor lingkungan. Manusia yang baru dilahirkan diibaratkan seperti kertas putih. Pendidikan serta pengalaman sangat menentukan perkembangan kepribadiannya. Kritik terhadap pendapat ini ialah karena terlalu memperhatikan lingkungan material, sehingga manusia itu tidak mendapat perhatian.
Selanjutnya, pendapat ketiga mengatakan bahwa perkembangan kepribadian merupakan proses interaksi antara faktor lingkungan, faktor bawaan dan aktifitas orang yang bersangkutan (‘ego eksekutif). Pendapat ini berfokus pada individu dan lingkungan. Jalan keluar dari pendapat yang ketiga ini ialah dengan pembentukan karakter.
Secara khusus kekerasan dalam keluarga, kekerasan itu bisa berbentuk kekerasan terhadap anak, kekerasan terhadap orang tua. Tentunya kita tidak mau terjebak ke dalam pandangan deteministik dalam melihat akan akar kekerasan : bawaan atau faktor lingkungan. Tetapi mencoba memahami bahwa ada banyak faktor lain yang ditambahkan kemudian terhadap individu itu. Senada dengan itulah melalui tulisannya, Fromm mengajak kita untuk berdiskusi mengenai jutaan karakter manusia yang tentunya cenderung tidak statis (seperti laboratoriumnya Skinner) sesuai kondisi objektif yang melingkupinya. Artinya, adalah suatu sikap yang naif jika kita mengatakan bahwa kekerasan itu berakar dari satu sumber saja, atau menggeneralisasi semua kekerasan dengan satu akar kekerasan.
Mengangkat akar kekerasan ke permukaan tentunya akan sangat membantu dalam menyelesaikan kekerasan itu. Artinya, penyingkapan akar kekerasan tidak hanya berhenti sampai di situ saja, tetapi juga harus berlanjut sampai terciptanya jalan hidup nir-kekerasan. Penanggulangan kekerasan merupakan suatu kerja yang integratif yang semuanya itu berpusat pada kesadaran manusia.
Ketidakadilan, serta kekerasan keluarga dalam kasus di atas, setidaknya merupakan salah satu akar persoalan yang mengakibatkan terciptanya depresi. Lalu apa yang harus dilakukan ? Tindakan pendampingan orang depresi saja, menurut saya adalah suatu pekerjaan yang mulia dan baik. Namun jika hal itu saja yang dilakukan, tanpa memutuskan faktor utama penghasil depresi itu, yang dalam hal ini kekerasan dalam keluarga serta ketidakadilan, berapa banyak lagi korban yang akan terjadi ?
4. Refleksi Teologis
Untuk menjawab pertanyaan, lalu apakah yang harus kita lakukan ?, Saya mau berrefleksi dari Yohanes 5 : 1 – 18 tentang penyembuhan pada hari Sabat di kolam Bethesda. Cerita yang tidak terdapat dalam Injil Sinoptis ini, menceritakan bagaimana seorang pesakitan yang telah 38 tahun terbaring di samping kolam Betesda. Dia adalah gambaran dari orang yang kesepian dan orang yang tidak tertolong. Hal itu ditegaskan dengan pernyataannya kepada Yesus : “tidak ada orang yang mau menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya ulai goncang…” (ay.7). Dia juga gambaran dari seorang yang frustrasi yang selama 38 tahun menantikan air kolam berguncang. Namun ketika iar itu berguncang, orang lain telah lebih dahulu masuk ke kolam itu. Yang tinggal di dalam dirinya ialah rentetan rasa kecewa. Dalam keaadaan yang serba tidak pasti itu, serta penuh dengan kekecewaan, Yesus datang dan peduli dengan si sakit.
Pertanyaan Yesus yang ditujukan kepada orang sakit : “Maukah engkau sembuh?” (ay.6), menurut saya adalah pertanyaan yang aneh. Mengapa? Karena siapakah orang sakit yang tidak merindukan kesembuhan dalam hidupnya? Siapakah orang yang suka hidup putus asa, kecewa serta teralienasi ? Tentunya, pertanyaan Yesus itu juga dapat ditujukan terhadap bangsa ini yang menghadapi begitu banyak penderitaan akibat dari bencana alam dan juga bencana sosial. Pertanyaan itu mengindikasikan bahwa yang pertama yang terutama disembuhkan oleh Yesus ialah suatu dorongan keinginan yang kuat untuk sembuh dari diri si sakit. Kalau si sakit tidak memiliki keinginan untuk sembuh, maka apapun yang dilakukan orang lain terhadap diri si sakit itu tidak terlalu berdampak besar terhadapnya.
Pendampingan yang dilakukan Yesus ialah pendampingan yang mebangkitkan semangat si sakit untuk keluar dari kondisinya yang sangat menderita itu. Meskipun di sisi lain, penyembuhan dilakukan Yesus pada haris Sabat itu, juga masih memiliki implikasi lainnya. Yesus dituduh telah melanggar hari Sabat. Tetapi pernyataan Yesus : “Bapaku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga”, memberikan penegrtian bahwa kasih Tuhan tidak dibatasi dan berakhir sampai pada hari Sabat saja. Perkataan itu justru mau menghancurkan dan merubah paham Jahudi akan hari Sabat ke dalam pemahaman yang benar. Akan semua hal yang dilakukan Yesus itu, Gerrit memakai istilah “pendampingan dan konseling pastoral yang holistik” , artinya pendampingan yang dilakukan tidak hanya mengenai jiwa, atau rohani tetapi juga keragaan; tidak hanya pribadi tetapi juga keluarga, gereja, masyarakat, dan tidak hanya masyarakat manusia tetapi juga habitatnya serta strukturnya.
5. Penutup
Orang-orang stress juga adalah sahabat Yesus. Di dalam diri mereka ada Yesus. Mereka sangat memerlukan orang yang tulus mengasihi mereka. Ketulusan itu diharapkan akan menuntun para orang stress untuk mengerti akan dirinya dan memiliki keinginan keluar dari situasinya itu. Tetapi, satu hal yang tidak kalah pentingnya dengan tugas pendampingan terhadap orang stress itu ialah pemutusan struktur yang menghasilkan orang stress itu.
Komunitas gereja juga diharapkan untuk memberikan bimbingan yang berimbang, sehingga jemaat tidak memahami hidup ini dari segi berkatnya saja, tetapi juga ada salib yang harus dipikul. Bimbingan yang diberikan diharapkan sebagai sautu narasi yang membentuk karakter yang dewasa bagi jemaat. Sehingga, meskipun menghadapi ketidakdilan dan juga kekerasan, yang terjadi bukannya menjadi stress atau melarikan diri dari persoalan itu tetapi berani menghadapinya dengan pertolongan Roh Tuhan.
TEOLOGI
Syaloom lae Mixon….
produktif juga ya menulis….
Sukses ya…
Bantors Sihombing
Pematangsiantar
Comment by Bantors — March 3, 2008 @ 8:43 am
mo nanya alamat / peta Kemah Boaz, ada teman yg sedang strees & ingin kami masukkan ke kemah tersebut, terima kasih GBU.
Comment by vincent — November 12, 2008 @ 5:51 pm
mohon tanya informasi ttg kemah Boaz alamat dan no telp / hp yang bisa dihubungi dan apakah sampai sekarang masih ada kegiatannya/. Terima kasih.
Comment by dani — June 22, 2009 @ 11:09 pm
Syalom,
Pendampingan orang stres/depresi adalah tugas mulia, saya merasa salut disertai apresiasi yang setinggi-tingginya atas apa yang telah dilakukan oleh teman-teman di Boaz ini. Kebetulan saya sendiri juga punya seorang anak laki-laki berusia 23 tahun yang saat ini juga tengah mengalami gangguan kejiwaan semacam itu. Sebetulnya kasusnya sendiri sudah ditangani oleh seorang psikolog dan psikiater dan kondisinya mulai membaik, tapi karena beberapa hari lalu mencoba berhenti minum obat (atas anjuran seorang penyembuh)kondisi menjadi menurun lagi. Saya rencanakan untuk segera kembali ke dokter, memang mendampingi anak yang demikian memang perlu kesabaran, keuletan dan ketelatenan dalam waktu yang panjang. Sungguh, saya merasa dapat banyak belajar dari apa yang telah dilakukan teman-teman di Boaz ini. Mudah-mudahan Tuhan memberkati dan memampukan saya sebagai orangtua untuk melakukan semua itu.
Salam hangat dari Jogja.
Comment by Rahman_ge — July 28, 2010 @ 5:08 am