PENYEMAIAN GEREJA KRISTEN INDONESIA
Karya: Martin Krisanto N. Kategori: Pilihan dosen
1.1. Kemasyarakatan dan Budaya di Pulau Jawa.
Dalam sejarah agama dan masyarakat Indonesia, dikenal agama dan masyarakat suku yang berperan dalam pertemuannya dengan agama yang kemudian datang seperti Hindu, Budha, Islam dan Kristen. Dapat diakui bahwa keterkaitan agama suku dengan mitos, silsilah nenek moyang, dewa-dewa, adat dan budaya turut berpengaruh terhadap pertemuannya dengan kekristenan. Walaupun telah berjumpa dengan agama lainnya, segala tradisi yang dibawa oleh tiap agama tersebut menjadi bagian dari pemahaman mereka dalam beragama.
Sebagai contoh di Jawa Timur; pada masa masyarakat agraris. Ciri-ciri yang terkait erat dengan kepercayaan asli seperti; Animisme dan Dinamisme, upacara selamatan yang dipersembahkan kepada Dewi Sri yang berkuasa menyuburkan tanaman-tanaman terutama padi. Pengaruh Hindu dan Budha yang berlangsung kira-kira 15 abad bertemu dengan agama Islam yang pada gilirannya ber-akulturasi .
Secara menarik disertasi Zakaria J. Ngelow mempertanyakan “Sejarah Agama Kristen?” (sekitar tahun 1938) bagaimana keterkaitan kekristenan dengan kenyataan sosial politik zamannya dalam kerangka sejarah nasional Indonesia. Suasana yang berbeda terjadi didalam masyarakat seperti yang dikatakan oleh Pradjarta Dirjosanjoto dimana “bukan Jawa yang diislamkan melainkan Islam yang dijawakan”. Dari kedua disertasi diatas ditemukan bahwa tanggapan yang berbeda terjadi pada agama ketika mendapat pengaruh dari masyarakatnya yang dalam hal ini dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda.
1.2. Pekabaran Injil dan Kaum Tionghoa
1.2.1. Sejarah Singkat Pekabaran Injil di Jawa
Agama Kristen pertama-tama diperkenalkan bersama dengan munculnya kapal-kapal orang Portugis di perairan Jawa dan Maluku dan direbutnya Malaka tahun 1511. Sebuah bangsa yang punya luka sejarah sebagai daerah jajahan orang-orang Arab yang beragama Islam. Dengan motivasi merebut jalur perdagangan untuk melemahkan bangsa Turki yang aktif menyerang Eropa. Selain itu mereka juga bermaksud menyiarkan agama Kristen (pietisme), didukung dengan sistem “Padroado” yang tentunya pembiayaan pekerjaan gerejani disokong oleh raja. Bersama dengan Spanyol, Bangsa Portugis tidak menganggap aneh apabila jalan untuk misi dibuka melalui perang. Pada saat itu sedikit orang yang sadar akan pertentangan kepentingan negara & perdagangan dengan gereja & pekabaran Injil (selanjutnya disingkat p.I.), ironisnya mereka disebut penyesat.
Abad ke-17 semasa ikutnya Belanda dalam kancah perjalanan dagang di Asia bersama dengan serikat dagangnya yang terkenal dengan nama VOC. Berbeda dengan bangsa Portugis dan Spanyol, VOC bisa dikatakan tidak berkepentingan dalam penyiaran kekristenan walau terdapat kesamaan sifat seperti yang bangsa Portugis miliki yaitu misi. Penyiaran Injil dilakukan oleh zending dengan mengutus para zendeling. Akibat kepentingan politik dan ekonomi tersebut, kekristenan semakin tercoreng disatu sisi namun disisi lain juga mendapat kesempatan baru dalam pandangan teologisnya.
Sekitar awal abad ke-20 terdapat perubahan dan penambahan motif, tujuan dan metode p.I. Belanda di Indonesia. Korporasi-korporasi p.I. NZG, NZV, UZV, JC dan STC (th.1800-1890) memiliki motif pietis yang terbentuk oleh semangat p.I. Reveil. Cirinya adalah unsur iba hati kepada orang yang belum menerima Kristus sebagai Juruselamatnya dan unsur memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan dengan pertobatan orang-orang perseorangan(evangelisasi), pada masa 1890-1910 metode bertambah dengan metode kristenisasi. Pergeseran juga terjadi dari sikap yang negatif terhadap kebudayaan pribumi (+1800-1820) menjadi terbuka (+ 1820-1840) dan menjadi sikap positif (setelah tahun 1847). Dalam beberapa hal tersebut munculnya aliran etis (De la Saussaye Sr, 1818-1874 & J. H. Gunning Jr, 1829-1905) bersamaan dengan aliran modern dan konfesional berperan penting dalam rangka perubahan dan pergeseran .
1.2.2. Sejarah Orang Tionghoa.
Orang Tionghoa di Indonesia sudah sejak lama, yaitu sekitar abad-abad awal tarikh Masehi. Keberadaan Nusantara dikenal karena hubungannya dengan Tiongkok baik tahun-tahun Dinasti Han (206 sM – 24) dalam catatan perjalanan laut Chien Han Shu sampai pada nama Indonesia yang dipakai oleh J.R. Logan (1850) dalam karangannya tentang asal-usul bangsa Indonesia. Jadi sudah tentu bahwa terjalinnya hubungan antara Indonesia dan Tiongkok yang semula karena orang Tionghoa mau menyelidiki, berkembang menjadi persahabatan dan perdagangan. Maka terhimpunlah mereka didaerah pesisir dimana perahu-perahu berlalu lalang sejalan dengan hidupnya perekonomian dikawasan pelabuhan, di Jawa Barat seperti Banten dan Batavia. Batavia / Jakarta merupakan pusat kegiatan penjajah Belanda sejak 1619, sehingga pengaruh pemerintah kolonial Belanda dalam bidang politik dan ekonomi sangat kuat. Namun tidak demikian dengan kekristenan di Jawa Barat, hampir seluruh penduduknya beragama Islam. Kehadiran VOC juga membutuhkan banyak orang Tionghoa, oleh sebab itu mereka mendatangkannya dari Tiongkok. Jumlah mereka bertambah banyak lagi sejak dibukanya perkebunan-perkebunan di Jawa Barat (1872) .
Orang Tionghoa dari Tiongkok ini sebagian besar berasal dari propinsi Fukien dan Kwantung. Orang-orang Hokkien (Hokkian) atau suku Hakka berasal dari Fukien didorong oleh semangat berdagang dan orang-orang Kwongfu (Kanton) berasal dari Kwantung didorong semangat pertukangan dan industri. Dalam pertumbuhannya, mereka lama kelamaan bercampur melalui pernikahan dengan orang pribumi dan jadilah orang Tionghoa peranakan yang sampai jaman pendudukan Jepang masih menyebut dirinya orang Tionghoa.
Menurut Charles A. Coppel; Orang Tionghoa di Indonesia merupakan kelompok etnis “asing” yang terbesar dan tidak mempunyai daerah pijakan asal. Menjelang tahun 1860 diperkirakan jumlah mereka sebanyak 222.000 orang dan dua pertiganya berada di Jawa. Perkembangan pesat terjadi dalam 70 tahun belakangan, bersamaan dengan meluasnya kekuasaan Belanda. Tahun 1930 terjadi penurunan jumlah imigran Tionghoa, namun sekitar dua pertiga dari penduduk Tionghoa di Indonesia itu dilahirkan di Indonesia.
Walaupun telah lama mereka menetap di Indonesia namun secara politis, kultural dan sosial tetap dianggap asing. Pada masa UUD 1945 (Undang Undang Dasar) diberlakukan, “yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara ”. Maka secara umum dipahami bahwa WNI (Warga Negara Indonesia) adalah dari keturunan asing. Penyempitan arti seringkali juga banyak membias pada kehidupan ekonomi. Istilah “nasional” dalam pembangunan ekonomi nasional menempatkan Tionghoa pada kelompok “asing”dan orang Tionghoa tidaklah homogen.
Orang Tionghoa di Indonesia adalah orang keturunan Tionghoa secara fungsi dan berpihak pada masyarakat Tionghoa atau dianggap demikian oleh orang pribumi, dengan tidak menutup kemungkinan bahwa ada orang Indonesia pribumi yang bisa saja dikira orang Tionghoa (suku Manado, Nias, dsb). Definisi tadi dibarengi dengan ciri-ciri negatif yang terbentuk dalam masyarakat, diantaranya; sifatnya yang suka mengelompok di kawasan tersendiri, budaya negeri leluhur, memihak kepada Indonesia demi alasan-alasan oportunistis (mementingkan uang, dagang dan bisnis), ahli dalam penyogokan juga penyelundupan, bahkan ikut menindas setelah diberi posisi yang menguntungkan oleh Belanda melalui dominasi ekonomi. Sekitar tahun 1920 orang Tionghoa di Indonesia berjumlah 810.000, dengan 60%-nya adalah Tionghoa totok(orang Tionghoa peranakan di pulau Jawa saja 70%).
Namun yang terjadi diantara orang Tionghoa sendiri mengarah kepada perpecahan. Kesenjangan yang menyolok adalah orang Tionghoa totok lebih berorientasi ke Tiongkok sedangkan orang Tionghoa peranakan lebih berorientasi ke Belanda. Sementara kesenjangan lainya adalah pergaulan antara orang Tionghoa Jawa Barat, Tengah dan Timur tidaklah baik hubungannya. Tionghoa totok menguasai ekonomi dan orang Tionghoa peranakan menjadi korban, mereka juga mengatakan bahwa orang Tionghoa peranakan “Tidak patriotik” dan “Tidak seperti Tionghoa” .
1.2.3. Penyemaian Injil kepada Orang Tionghoa.
Beberapa lembaga zending seperti yang telah disebut sebelumnya adalah pengasuh yang mewarnai corak teologis bagi jemaat-jemaat Tionghoa di Jawa. Di Jawa Barat ada dua kelompok yaitu asuhan NZV yang zendelingnya berasal dari NHK (Nederlandsche Hervormde Kerk) dan asuhan BFM dari Methodist Episcopal Church (MEC). Di Jawa Tengah terdapat tiga kelompok yaitu asuhan ZGKN dengan latar belakang teologis seperti Gereformeerde Kerken in Nederland, asuhan zending Salatiga (umumnya pietis yang zendelingnya menganut asas “Faith Mission”) dan asuhan DZV dari Doopsgezind (Mennonite). Sedangkan di Jawa Timur terdapat dua kelompok yaitu dilingkungan Zending der Gereformeerde Kerken in Hersteld Verband (ZGKHV) dan asuhan BFM dari Methodist.
Sekitar tahun 1920 keadaan jemaat-jemaat Tionghoa, orang Kristen Tionghoa di Hindia Belanda umumnya dan di Jawa Barat khususnya sangat memprihatinkan. Karena perpecahan yang disebabkan faktor politis, persaingan yang mementingkan kelompoknya masing-masing dan banyak kepentingan yang bertubrukan. Sementara latar belakang denominasi gereja mereka yang berbeda-beda juga kurang mendukung kebersatuan. Timbullah keprihatinan di kalangan orang-orang Kristen Tionghoa yang menggerakkan para tokoh yang menggumulkan masa depan yang diinspirasikan oleh semangat kesatuan di Tiongkok (terutama pembentukan National Christian Council, NCC 1922).
Seorang pemimpin jemaat Tionghoa di Gang Ketapang (Batavia) bernama Pouw Peng Hong pada tahun 1926 menyarankan perwujudan kesatuan. Semangat ini ditanggapi dengan baik oleh para pemimpin Kristen Tionghoa lainnya, lalu berusahalah mereka menyelenggarakan konferensi yang akan membahas masalah kesatuan orang-orang Kristen Tionghoa di Hindia Belanda. Semua pihak, dari para tokoh jemaat Tionghoa di Jawa Barat dan para tokoh West Java Zending (NZV) turut membantu persiapannya.
1.3. Historis THKTKH sampai GKI
Hasil asuhan seperti diceritakan diatas telah siap dituai dengan munculnya orang-orang Tionghoa yang setelah menjadi Kristen bahkan mengkabarkan Injil dilingkungan mereka. Dalam hal ini yang dimaksud seperti Ang Boen Swie (Indramayu, 1858), Khouw Tek San (Purbolinggo, 1866), Gouw Kho (Jakarta, 1868) dan Oei Soei Tiong (Surabaya, 1898) dengan menghasilkan jemaat-jemaat rumah. Cikal bakal jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) dimana mereka melakukan pelayanan tidak lepas dari ikatan-ikatan yang dibangun.
Bagaimana ikatan tersebut dibangun, yaitu diawali semangat kesatuan dan pengaruh dari peristiwa oikumenis yaitu Konferensi p.I. se-Dunia di Edinburg (1910) dan berdirinya NCC in China seperti yang sudah dibahas sebelumnya menghantar mereka pada konferensi tanggal 23-27 November 1926 di Cipaku Bogor. Konferensi ini disebut konferensi Tiong Hwa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) yaitu pembentukan Bond Kristen Tionghoa (BKT). Dengan kesatuan ini memudahkan gereja-gereja Tionghoa di Jawa untuk berhubungan dengan gereja di Tiongkok. Keputusan-keputusan yang diambil adalah; Pembentukan wadah, bergerak pada kemandirian gereja, kepemimpinan Kristen dalam keluarga dan usulan untuk meminta agar lembaga-lembaga zending tidak merintangi mereka.
Kegiatan BKT selanjutnya yaitu berupa konferensi tanggal 22-27 Juni 1927 di Cirebon. Selain menentukan peraturan dan kepengurusan, konferensi menganjurkan gerakan kemandirian jemaat-jemaat Tionghoa dan pendirian sekolah teologi. Rupanya bersama dengan berbagai kendala seperti kurangnya kesadaran tentang hakekat gereja, kurang mantapnya peraturan dan kurangnya tenaga yang terlibat, BKT sampai tahun 1928 cukup mampu menjadi pemacu dan pendorong gerakan keesaan selanjutnya dalam bentuk Klasis (Khu Hwee) dan Sinode (Thay Hwee) serta kemandirian agar tidak bergantung pada p.I. dan gereja-gereja di luar negeri.
Jalan lain yang ditempuh BKT dengan memprakarsai konferensi pembentukan Gereja Tionghoa Serikat (GTS, 13-15 Juli 1934) di Cirebon. Kembali menekankan kesatuan, kemandirian, kebangsaan dan kebudayaan Tionghoa. Selain itu sadar akan ketertinggalan upaya-upaya p.I. pada suku Tionghoa dibandingkan suku-suku lain oleh zending, memacu upaya p.I. dikalangan orang Tionghoa. Tidak kalah pentingnya adalah penekanan usaha-usaha perbaikan taraf hidup orang Tionghoa dan usaha sosial dengan menolong orang-orang yang dalam kesusahan. GTS melaksanakan konferensinya kedua di Bandung pada tanggal 30 Mei – 1 Juni 1936 dengan pengesahan peraturan, pengangkatan pengurus dan pembentukan Klasis dengan prosedur diantaranya; mendahulukan pendewasaan jemaat-jemaat Tionghoa barulah membentuk Klasis baru kearah gereja serikat . Pada konferensi berikutnya antara lain membentuk Panitia Pembentukan Klasis Jawa Barat yang harus melakukan pertemuan intensif melihat tidak mudahnya pembentukan ini. Kerja keras membawa hasil pada pertemuan di jemaat Mangga Besar tanggal 20 November 1937 berhasil membentuk Klasis Jawa Barat dengan nama THKTKH – Khu Hwee Jawa Barat serta pengesahan panitia perancang tata gereja Klasis Jawa Barat. Dalam peristiwa ini dicatat besarnya peranan West Java Zending khususnya Dr. H. Kraemer. Namun usaha GTS menemui kendala yaitu seringnya terjebak dengan tindak pemaksaan dan wacana konflik akibat perbedaan denominasi, amanat kesatuan ditegakkan kembali melalui “pertemuan diperluas” dengan pembentukan Gereja Kristen Tionghoa (GKT) pada “Konferensi Lawang” (5 Desember 1939) yang dihadiri THKTKH Jawa Barat, Jawa Tengah Selatan dan Jawa Timur.
Dalam pertemuan yang antara lain dihadiri Oei Soei Tiong (sebagai salah satu anggota panitia perumus), E.C. Burgstede (WJZ) dan H.A.C. Hildering sebagai penceramah(OJZ), dibahas dasar kesatuan GKT dari ketiga Klasis THKTKH yaitu Yohanes 17:20-23. Kemudian dibentuk panitia perumus peraturan, perumus dasar-dasar kesatuan lalu menuangkan konsepnya pada tata gereja GKT. Maka selanjutnya GKT berdampingan dengan GTS dengan saling pengertian dalam konferensi bersama. Dampak positif dan negatif ditimbulkan dari adanya dua wadah kesatuan, akibatnya terjadi perpecahan di THKTKH Jawa Barat dikarenakan perbedaan denominasi pengasuhnya.
Usaha kesatuan tak kunjung reda, secara menarik konferensi Dewan Gereja-gereja Kristen Tionghoa di Indonesia tanggal 25-28 Mei 1948 di Jakarta dapat menerima segala status anggotanya baik jemaat, Klasis maupun Sinode (data tahun 1951). Konferensi I dihadiri 49 jemaat baik di Jawa maupun luar Jawa, konferensi II dihadiri 69 jemaat Tionghoa mengantongi tujuan mempererat hubungan antar gereja. Perkembangan kearah kuantitatif tidak membawa perkembangan kualitatif kearah kesatuan. Sementara Dewan Gereja Indonesia (DGI) terbentuk dengan tujuan yang sama bahkan dinilai lebih luas dan terarah memberi kesempatan kepada anggota DGKTI untuk menjadi anggotanya. Usaha pembentukan wadah yang didukung oleh ketiga Klasis mengaktifkan DGKTI tidak direspon, mereka membentuk Badan Permusyawaratan Persatuan Gerejani (BPPG, th 1954-1962). BPPG berhasil menyusun Tata Kebaktian Minggu, buku nyanyian bersama, buku katekisasi bersama, penentuan sikap terhadap jenazah dan peyusunan sejarah gereja-gereja Tionghoa. Setelah mempertimbangkan beberapa hal yaitu: Hakekat gereja yang menemukan dirinya ditengah kehidupan suatu bangsa dimana ia hidup, melihat kenyataan hampir seluruh anggotanya adalah warganegara Indonesia dan berbahasa Indonesia (tidak lepas dari hasil Konferensi Meja Bundar, 27 Desember 1949) maka sadar akan pentingnya keterbukaan bagi segala golongan etnis/kesukuan. BPPG mengusulkan untuk mengubah THKTKH menjadi GKI, akhirnya ketiga sinode merubah nama menjadi GKI Jawa Tengah (th. 1956), GKI Jawa Barat dan GKI Jawa Timur (th.1958). Semangat keesaan yang diusahakan DGI dan ditinggalkannya alasan etnis membawa ketiga GKI menjadi Sinode Am GKI pada 27-29 Maret 1962 di Jalan Kelinci 34 Jakarta dalam Sidang pertamanya sekaligus mensahkan Sinode Am GKI berikut Tata Sinode Am GKI, “pernyataan” pada DGI dan pembubaran BPPG. GKI menjadi anggota DGI pada tahun 1950
2.1. Intisari Basis Tionghoa
Orang Tionghoa di pulau Jawa kebanyakan terdiri dari pedagang dan karyawan suku Hokkien. Pada akhir abad ke-19 orang-orang Tionghoa yang datang ke Jawa biasanya laki-laki, lalu mereka kawin dengan wanita setempat yang lama kelamaan membentuk masyarakat yang mantap disebut dengan “Tionghoa peranakan sebelum perang” (PDII) . Gambaran tersebut menunjukkan setidaknya karakter orang-orang Tionghoa yang pada umumnya mempunyai jiwa yang suka berdagang dan sebagian dari mereka tidak mengalami kesulitan untuk berbaur dengan lingkungan dimana mereka melaksanakan usahanya. Disamping kepentingan dagang juga ada identifikasi diri dengan elite yang berkuasa, yakni dengan orang Belanda berikut agama dan budayanya.
Ada beberapa penyebab mengapa mereka bertemu dengan Kristus. Keantusiaan mereka dalam mencari kedamaian dan kebenaran hidup menjadi pemicu ketika mereka berjumpa dengan Kristus atas peranan dari Roh Kudus. Sebagai contoh adalah Ang Boen Swie dimana pengembaraan melalui pelajaran berbagai agama menghantar dia pada keselamatan dalam diri Kristus, Tan Ki An yang terbelalak oleh ayat dalam Matius 18:20, Liem Keng Ho dan Ong Boegel sadar akan dosa mereka melalui penelaahan Alkitab oleh Zendeling. Bahkan ada seorang bernama Ny. Liem Keng Ho yang begitu rajin ikut kebaktian dengan tujuan negatifnya yang mencari kelemahan dan kesalahan justru dipakai oleh Roh Kudus untuk ditandai pada baptisan menjadi Kristen. Faktor psikologis penunjang diantaranya pretise para zendeling yang dihormati oleh orang-orang Tionghoa membentuk identifikasi psikologis yang mengarah pada meneladan sifat suka bergaul, suka mengabdi, rendah hati dan suka memberi pengorbanan dalam pelayanan kemanusiaan. Kekristenan yang membuka jalinan solidaritas dan hubungan pribadi yang terpuji membuat mereka memilih demi kesejahteraan dibanding tradisi “agama” Tionghoa yang hanya mendasari tindakan mereka dengan hubungan keluarga dan pribadi. Selain itu mereka mendapat kepuasan psikologi karena peranan pendeta yang menuntun, memimpin, melindungi dan menasehati dapat mengisi kekosongan pada penyembahan di “agama” Tionghoa pada nenek moyang. Menurut D.E. Willmot; kebutuhan intelektual-emosional karena pikiran yang maju terpenuhi dalam kekristenan, masih dilengkapi lagi dengan tersedianya sekolah Kristen. Faktor luar yang menunjang adalah nasionalisme Tiongkok yang diberi wadah pada dibentuknya GKT di Indonesia .
Rintangan menjadi Kristen. Anggapan diri pada identitas ketionghoaan mengikat mereka pada pemeliharaan tradisi, sehingga mereka takut tertimpa bahaya akibat meninggalkan nenek moyang mereka. Anggapan tentang sulitnya memahami ajaran kekristenan karena kebiasaan mereka pada ajaran “agama” Tionghoa yang bersifat praktis-moralis. Demikian pula dengan sikap keluarga atau masyarakat yang menghalangi mereka terkadang menjadi rintangan yang cukup berarti disamping sikap keras para zendeling terhadap tradisi-tradisi yang tidak sesuai dengan pengajaran zending protestan.
Mengapa mereka tidak memilih Islam? Alasan orang Tionghoa tidak menjadi Islam antara lain karena agama tersebut belum menjawab kebutuhan bagi tujuan kedatangan mereka yang cenderung sementara. Alasan lain adalah politik “devide et impera” Belanda dengan mengelompokkan mereka di daerah-daerah pecinan berakibat terpecahnya mereka menjadi tingkatan sosial; golongan atas (Eropa), golongan menengah (Timur asing) dan golongan rendah (Pribumi). Status membawa orang-orang Tionghoa menghindari merosotnya status apabila mereka menjadi Islam, karena pada umumnya masyarakat pribumi saat itu beragama Islam. Catatan lain yang merupakan sejarah pahit antara orang-orang Tionghoa dengan Islam adalah “Peristiwa Kudus” dimana konflik antara para pedagang Tionghoa dan pedagang Islam mengakibatkan pembakaran rumah-rumah orang Tionghoa di Kudus pada Oktober 1918.
2.2. Intisari Kemandirian.
Kondisi orang-orang Tionghoa di Indonesia dapat ditinjau dalam beberapa hal, yaitu:
Sebagai pendatang. Sifat kebanggaan terdapat negara leluhur Tiongkok membuat orang-orang Tionghoa di Indonesia berusaha membangun identitasnya sebagai salah satu etnis yang dapat hidup ditengah-tengah berbagai perbedaan suku dan permasalahan ekonomi, sosial, politik dan budaya. Namun orientasi mereka pada Tiongkok terbatas, bahwa dalam perkembangannya tidak dapat dipungkiri bahwa ada kekuatiran dampak dari pembauran dan lunturnya identitas. Salah satu dampaknya ialah tidak diakuinya lagi orang-orang Tionghoa di Indonesia ini sebagai orang-orang Tiongkok.
Dampak psikologis. Saat itu orang-orang Tionghoa di Indonesia telah menyadari bahwa mereka didalam suatu status yang sudah terbentuk sebagai etnis “asing” di Indonesia. Sayangnya kelompok etnis yang berada dalam bayang-bayang keterpecahan, kekristenan yang mereka pegang sebagai dasar kehidupan ternyata masih mengandung “misteri” ketika diperhadapkan pada perbedaan denominasi yang seakan-akan menghalangi kesatuan. Sejarah kurang pedulinya zending terhadap mereka ditambah dengan kondisi sebagai etnis “asing” dan bayang-bayang keterpecahan mampu menyadarkan akan kebutuhan bersama akan bersatu dan mandiri.
Menghindari kebergantungan pada Zending. Dalam tumbuh kembang jemaat-jemaat Kristen Tionghoa, ketertinggalan p.I. dibanding etnis lainnya disatu sisi menunjukkan bahwa peranan para zendeling mendapat tempat yang cukup beressensi dalam p.I. Tokoh-tokoh Kristen Tionghoa beranggapan bahwa gereja harus bisa tidak bergantung pada zending dalam p.I. melainkan semangat yang telah diteladani oleh tokoh-tokoh pendahulu mereka juga sebagai faktor penunjang usaha p.I. dikalangan orang-orang Tionghoa.
Dorongan Teologis. Seperti yang diungkapkan dalam kesatuan Gereja Kristen Tionghoa didasari Yohanes 17:20-23. Dimana pengutusan orang-orang Kristen yang memancarkan wajah Kristus sebagai teladan kebersatuannya dengan Bapa. Dasar inilah yang secara serius dapat diupayakan untuk menjawab persoalan potensi perpecahan di antara umat percaya sendiri selain masalah didalam etnis Tionghoa. Bersatunya mereka pada konferensi-konferensi memberi kesempatan baik bagi bertemunya dialog mengenai cita-cita kedewasaan melalui kemandirian penuh, melihat campur tangan zending yang terkadang mencampuri.
Dorongan dari luar. Terbukanya hubungan dengan lembaga-lembaga Kristen baik di Tiongkok dan negara lainnya membawa ide-ide dan semangat keteladanan bagi usaha kemandirian bagi gereja-gereja Kristen Tionghoa di Indonesia.
3.1. Penilaian Negatif dan Positif terhadap 2.1.
3.1.1. Penilaian Negatif.
Aspek Politis. Orang-orang Tionghoa Kristen (Gereja) disibukkan oleh fokus pada penyatuan jemaat-jemaat Tionghoa, sementara pendekatan p.I. para zendeling yang cukup muda dibanding dengan suku lain ditambah faktor minoritas dan sifat dagang membuat wajah gereja-gereja Tionghoa di hadapan kekuatan politik Indonesia saat itu (sekitar 1945) tidaklah akrab. Sehingga peranan gereja Tionghoa dalam wadahnya yang begitu bergejolak akan pembentukan demi pembentukan dalam kancah perjuangan kemerdekaan tidak memegang peranan sebagai penggerak bagi jemaatnya. Walaupun secara pribadi tidak dipungkiri bahwa ada keterlibatan orang-orang Tionghoa dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, namun semangat nasionalisme kehilangan dengungnya. Secara politis hal tadi tidak membantu memulihkan pendapat negatif masyarakat terhadap golongan Tionghoa, apalagi golongan Tionghoa Kristen yang seagama dengan pihak kolonial Belanda.
Sifat-sifat negatif seperti eksklusifitas, berdagang tanpa pertimbangan terjadinya pelanggaran hak, ketidakadilan dan semacamnya. Keberadaan mereka sebagai minoritas cenderung membawa dalam sikap memihak pada yang menguntungkan atau yang tidak membahayakan kepentingan ekonomi, sosial dan politik golongannya. Namun keberagaman mereka secara internal justru membawa pada perpecahan, pertentangan walau hal tersebut umum terjadi terutama apabila pihak-pihak yang berseberangan mempunyai kepentingan yang sama dan berusaha saling berebut.
Aspek sosial ekonomi. Secara pribadi, masing-masing anggota jemaat Tionghoa berpeluang dalam posisi rentan menjadi “batu sandungan” bagi masyarakat dimana mereka bekerja baik karena perdagangan yang menindas maupun dominasi kearah monopoli golongannya. Peristiwa tersebut dimungkinkan karena belum terbentuknya integritas hidup sebagai orang Kristen. Praktek-praktek kolusi dimungkinkan mendapat peluang karena faktor kedekatan.
Aspek Budaya. Jika dalam sejarahnya terdapat berbagai pengaruh budaya selain budaya tanah leluhurnya, orang-orang Tionghoa mendapat pengaruh dari budaya asing. Tradisi-tradisi kekristenan yang dibawa oleh Belanda pada gilirannya akan mengubah pola hidup mereka. Dengan demikian peluang untuk pengaruh budaya suku makin kecil diperkuat dengan pemahaman zending yang negatif terhadap kebudayaan suku. Pergeseran budaya kuat mengindikasikan bahwa menjadi awal ditinggalkannya tradisi atau budaya positif yang menjadi salah satu pengikat yang ditekankan para leluhur.
Aspek Geografis. Tidaklah berlebihan bahwa salah satu keterlambatan jangkauan p.I. para zendeling terhadap orang-orang Tionghoa salah satunya diakibatkan kebijakan Belanda (pada jaman VOC) agar zending mengkonsentrasikan p.I. di daerah non-Islam atau agama suku yang umumnya terletak jauh dari daerah perdagangan. Sedangkan telah dijelaskan bahwa orang-orang Tionghoa banyak berada dipusat-pusat perdagangan seperti pelabuhan, pusat kota. Kemungkinan jangkauan dapat terjadi bagi mereka yang bermukim di perkebunan.
3.1.2. Penilaian Positif.
Aspek sosial politis. Kedekatan orang-orang Tionghoa pada Hindia Belanda memberi keuntungan sosial politis. Melihat kesamaan kepentingan dagang dan kecilnya potensi perlawanan kaum Tionghoa membuat sikap Hindia Belanda memberi kesempatan lebih dengan mendatangkan mereka dari Tiongkok. Jumlah mereka yang tidak besar memberi ruang gerak yang cukup dimanapun mereka berpenghidupan. Gerakan-gerakan penyatuan yang terjadi pada jemaat-jemaat Tionghoa seiring dengan semangat yang tumbuh didalam kekristenan dunia, Hindia Belanda yang adalah bagian dari kekristenan menempatkan gereja-gereja Tionghoa pada pihak yang berdampingan. Bahkan semangat kemandirian yang timbul seakan-akan tidak mendapat hambatan yang berarti bagi wadah kesatuan gereja Tionghoa di Indonesia.
Kondisi positif lain akibat kedekatannya pada Hindia Belanda secara politis menunjang pembentukan karakter yang tangguh sebagai salah satu etnis pendatang. Pengaruh kekristenan juga membawa dampak positif bagi usaha mereka keluar dari krisis identitasnya sebagai bagian dari bangsa Indonesia, pertemuan mereka (tokoh-tokohnya) akan karya Yesus Kristus Kepala Gereja memacu kearah kesatuan untuk menjawab keprihatinan akan rentannya perpecahan.
Etnosentrisme. Terbangunnya semangat kesukuan tidak hanya membawa dampat negatif, melainkan juga menjadi faktor pemersatu bagi kesatuan gereja-gereja Kristen Tionghoa. Tantangan akan identitas-identitas negatif yang diatributkan pada orang-orang Kristen Tionghoa justru secara positif juga membangun usaha perbaikan atau re-identifikasi menuju integrasi kekristenan.
Aspek Ekonomi. Keberhasilan sebagian besar orang-orang Tionghoa Kristen dalam dunia perekonomian, tidak dapat disangkali memberi kontribusi bagi tertunjangnya pekerjaan pelayanan gereja-gereja Tionghoa di Indonesia. Semangat akan peningkatan taraf hidup bagi segenap jemaatnya juga menjadi bagian dari berkembangnya kemampuan kerja baik dalam bidang religius maupun sekuler.
Aspek Teologis. Landasan Alkitabiah dan pengajaran-pengajaran di dalam terang kasih Kristus dan Yesus sebagai kepala gereja menjadi sumber satu-satunya yang memberikan motivasi, visi dan misi sehingga p.I. yang ditujukan pada orang-orang Tionghoa meluas menjadi lintas suku dan budaya. Masalah eksklusifitas dan hal semacam dapat dikikis dikit demi sedikit sehingga upaya kontekstualisasi dapat terwujud pada tujuannya.
3.2. Penilaian Negatif dan Positif Terhadap 2.2.
3.2.1. Penilaian Negatif.
Kemandirian dalam arti ketidak bergantungan dapat melemahkan hubungan diantara suatu jemaat dengan jemaat lainnya, terutama pada pandangan teologis yang berbeda karena perbedaan memberi peluang kepada terjadinya pelemahan kemampuan dialogis antar denomisasi yang mengarah pada perpecahan.
Kemandirian seakan-akan menjadi wadah baru bagi kaum Tionghoa Kristen di Indonesia untuk memelihara sebagian dari sifat eksklusifnya, walaupun hal ini tidak terjadi dengan THKTKH yang mengantar pada terbentuknya sinode Am GKI. Dalam mengemban tugas sosial dalam mengentas ketidakadilan, penderitaan dan kemiskinan, gereja kehilangan andilnya.
3.2.2. Penilaian Positif.
Kemandirian yang dibangun bersama dengan semangat kesatuan makin memperkokoh visi dalam p.I. sehingga semangatnya masih terdengung sampai masa kini. Walau cukup sulit membuat batasan-batasan yang mana menandai sampai dimana suatu kemandirian tersebut telah tercapai atau tidak, yang pasti bahwa secara spiritualitas yang elemen-elemen pendukungnya telah cukup mampu melaksanakan tugas-tugas gerejani disebut gereja mandiri.
Semangat menuju kemandirian merupakan sarana tepat sebagai pemersatu di dalam gereja. Kerjasama didalam gereja akan lebih terjalin, berani bertindak untuk kepentingan masyarakat sekitar gereja dengan cukup melalui kesepakatan setempat. Keterpecahan yang dialami sekarang ini dapat dilalui dengan lebih bijaksana belajar dari pengalaman masa lalu.
Kemandirian yang sekarang diwujudkan dalam pelembagaan merupakan suatu awal dari tugas gereja, sehingga dengan kemandirian maka jemaat dapat terdorong untuk lebih berperan aktif dalam pelayanannya. Mengenai persyaratan pelembagaan suatu bakal jemaat GKI yang berupa angka-angka matematis dapat dinilai sebagai suatu usaha pemacu dari pencapaian target secara kuantitas, namun perlu dipahami bahwa pencapaian itu sesungguhnya lebih membantu jemaat untuk lebih mengutamakan pencapaian secara kualitas yang lebih sulit diukur dan dievaluasi.
IV. RELEVANSI
Setelah mempelajari dan meninjau kembali sejarah bersatunya gereja-gereja Tionghoa di Jawa dalam hal ini menjadi GKI, ada beberapa masalah yang berkaitan dengan keberadaan GKI pada tenggang waktu sekitar lima puluh-an tahun sesudah kemerdekaan Republik Indonesia di proklamasikan. Masalah-masalah yang di maksud antara lain:
1. Pengaruh dari asuhan para zendeling yang kental dengan tradisi dan budayanya sedikit banyak dipertahankan tanpa kritis untuk mengembangkannya lebih kontekstual terhadap pergeseran jaman. Bukankah permasalahan struktural, nilai-nilai budaya dan kondisi perekonomian saat ini sangatlah berbeda dengan masa penjajahan Belanda sampai jaman sesudah kemerdekaan? Permasalahan ini walau perlahan telah diupayakan terjawab dalam perubahan-perubahan yang dibuat dalam tata gereja yang dibuat oleh Sinode GKI. Salah satunya yaitu dimungkinkannya perubahan pengakuan iman, walaupun sejauh ini jarang ada pendeta yang menyadarinya dan memcoba menformulasikan pengakuan iman yang lebih kontekstual.
2. Walaupun belum ada studi khusus mengenai peranan dan wajah orang-orang Tionghoa dalam GKI akhir-akhir ini, dalam pembaurannya GKI pada umumnya masih didominasi oleh orang-orang Tionghoa peranakan. Bisa jadi bila dilakukan pencatatan persentase secara teliti dapat menggambarkan bahwa dalam kebaktian-kebaktian GKI sekarang ini dipadati oleh beragam orang-orang pribumi. Persentase orang-orang Tionghoa akan sangat kecil dibanding saat-saat awal pembentukan GKI. Bahkan tidak jarang dibeberapa GKI justru orang-orang Tionghoa peranakkan secara persentase sangatlah kecil. Kejadian percampuran yang tidak terbatas etnis merupakan bukti bahwa cita-cita luhur GKI menjadi salah satu gereja teladan kebersatuan dari keanekaragaman tengah berjalan kearah pencapaiannya.
3. Masalah-masalah etnis didalam GKI sekarang hampir dapat dikatakan tidak ada. Cita-cita kesatuan makin terpacu melalui berbagai momen penting seperti disatukannya GKI menjadi satu sinode dan dengan satu tata gereja. Pembauran yang sudah dikantongi membawa para majelis jemaat GKI setempat dihadapkan pada dilema baru, yaitu haruskah mempertahankan orang-orang Tionghoa didalam kancah kepemimpinan GKI sebagai wujud penghargaan akan peranan sejarah atau GKI tidak perlu lagi memikirkan etnisitas anggotanya melainkan lebih terbuka.
4. Kemandirian dapat dipandang lebih kearah kesehatian yang digambarkan dalam Roma 15:1-6, agar tidak diartikan lebih bersifat teknis kelembagaan yang mengarah pada pemenuhan syarat-syarat administratif yang tidak membawa arti bagi pertumbuhan iman dan perkembangan persekutuan dan pelayanan dalam suatu gereja.
5. Misi kemanusiaan yang masih menjadi “pekerjaan rumah” dari sinode GKI dapat menjadi salah satu barometer kemandirian dari segenap jemaat GKI baik dipulau Jawa maupun diluar Jawa, dalam hal ini yang dimaksud GKI Batam dan GKI Denpasar.
V. KESIMPULAN
Dalam mempelajari sejarah gereja khususnya penyemaian GKI, dapat dihayati bahwa perjuangan sekelompok besar etnis Tionghoa Kristen di pulau Jawa menuju kesatuannya dalam menanggapi kasih karunia Kristus melalui karya penyelamatannya merupakan suatu jerih payah yang sangat patut dihargai dan diteruskan kearah pertumbuhan dan pengembangan. Dan kemandirian gereja merupakan komponen penting dalam menyongsong kesatuan gereja. Penyemaian Injil di Indonesia telah diberi teladan bersatunya suatu keterpecahan, bersatunya suatu keberagaman suku, budaya dan adat, bersatunya pemahaman untuk memegang amanat pekabaran Injil dibawah penyertaan dan pimpinan Yesus sebagai kepala gereja dalam peristiwa penyemaian gereja Kristen Indonesia.
TEOLOGI
????????(!!!) ? ????? ??????????? ?????? ?????? ?? ??? ??????? ??? ?????????????!!!
??????? ?? ????
Comment by AcacegobAbews — September 14, 2008 @ 1:41 am
Tuhan memberkati..
Comment by Ibi Gibreson — September 19, 2008 @ 10:33 am
Ayuh teruskan maju di dalam iman, kudus, bagi kemuliaan Bapa kita di syurga..
Comment by Ibi Gibreson — September 19, 2008 @ 10:34 am
acne home quick remedy acne medication sun pictures acne on back treatment clearing up acne scars lemon juice help acne acne acne.ozmarketing.info adult treatment acne and olive leaf acne acne inc type acne food help that acne best natural treatment prescription cream exfolliator acne treatment acne best form treatment causes of cystic acne hydrogen peroxide for acne acne b5 good vitamin acne cure inc pimples homeopathy treatment for acne laser for acne scars clear light acne therapy facial treatments for acne acne link proactive treatment.blogspot.com
Comment by cackAmamirivy — October 1, 2008 @ 5:34 pm
Hi, everybody!
I think, that this is a great forum. Very intresting and useful.
But I can’t find the search function, cause I want faster find the topics that could be intresting for me to express my opinion…
Please help me with search function on this forum!
Comment by Cammadwew — October 5, 2008 @ 12:48 pm
Hi! I’m Crystal. I am almost 18.

I guess forumteologi.com - nice name for this site!
It is so interestingly here, especially in this category.
I was surfed about 2 hours before found this site. I think i’ll be here for a long time! :-*
Comment by AMistyCrissy — October 8, 2008 @ 4:01 pm
Hello I am 25 year old seniorita and I will be naked in front of you i minutes if you want
come to me
http://she25.com
Comment by Groorptruth — October 10, 2008 @ 9:15 pm
Hello,
I have some friends who bought some “rolex” for less than $300.00 and they look exactly the same !!
There are also many other brands available.
You can check http://lakedoll.com/
They are 100% serious. Got my Cartier 10 days after ordering
Bye
Alaine
Comment by replico — October 11, 2008 @ 8:44 pm
Hi All:
New member just wanting to say hi
Comment by RetireWhoMeNotNow — October 15, 2008 @ 12:25 am
Well, thought it was time to introduce myself, been reading so much about this place I thought best to signup and participate and helpout if I can.
So..hello and I hope to learn and help others out..peace
Comment by Rearinuareelp — November 11, 2008 @ 7:45 am
sextir.com is a free porn site - We provide the world with free: porn videos,porn movie,xxx free movie
Comment by PrineeengeniA — November 18, 2008 @ 5:51 pm
G’day everyone, I figured it was about time I stopped lurking around and said hello. So here is my very first post and hopefully the first of many…
Comment by MichaellaS — November 20, 2008 @ 6:47 am
FREE massive multi player online game based on the REAL MAFIA lifestyle in
Chicago where Al Capone Ruled with an Iron Fist. REAL CASH PRIZES EVERY ROUND!
Free Live Poker! Come be a Chicago Mob Boss, where you can even take your enemies as Hostages!
http://www.thechicagounderworld.com
Check it out. Free to play.
Comment by ChicagoUnderworld — December 4, 2008 @ 2:37 am
SEO ZONE is a search engine optimization(seo) firm, provides seo, seo article, seo tools,seo news and seo related informations,helping companies leverage the internet to increase revenues and profits.
Comment by RIsEoben — December 4, 2008 @ 7:46 pm
Cute Women In Pantyhose A cute blonde and a sultry redhead show off their sexy pantyhosed legs.. Cum On Sexy Pantyhose A boring night at home is never going to happen when Erica has her stockings on.. Hot Pantyhosed Slut Naughty curly-haired blonde poses in classy white pantyhose and high heels.. Red Sheer Stockings Sweet blonde in red see through stockings playing with her pussy.. Nice Teen Ass In Pantyhose Innocent blonde teen is showing off her nice ass in pantyhose.. Hot Pussies In Tights Two sexy girls in tights spreads legs and fresh pussies exposed.
sniffing nylon feet
nylons for big girls in minneapolis
www nylon stocking
little girls in nylons
Comment by ToogmaWeevemi — December 5, 2008 @ 2:08 pm
Hi, i’m new to the forum and saying hello. http://engineering-jobs.themartinblog.com -
Comment by BeerfonureMed — December 27, 2008 @ 1:27 am
Hi, i’m new to the forum and saying hello everyone.
Comment by HaigoPedyPady — December 30, 2008 @ 4:44 am
***********************************
WebwiseMedia Rip Off Scam Artist * Beware * Web Wise Media Rip Off
***********************************
Admin please leave this up for the world to see. They Scammed my Father out of $5,500 dollars.
This was his retirement money. The Police say they can not do anything. We can not afford a high price lawyer and I am
affraid these people will go un touched.!!!!!
*********************************
Save the Planet from these Liars and Theives!!!!!
*********************************
Can you say USED Car sales?!?!
HI MJ the “Sales Manager” and Janine
In fact Used Car people have more ethics
http://webwisemedia.com/
******************************
They down play PPC or Pay Per Click. YOU NEED that FOLKS.
The talk about a Money Back Guarantee. READ the small print!!!!
They show you examples. Call the company. They Hate Webwisemeda.
They ask the customer to give them the keywords to show well.
Hey customer who barely knows the internet. What is really working for you.
oh yeah that is a good keywords. Can you give me $5,500 dollars for the year.
You know Organic search does not work month to month. Why would we want to EARN your business each month?
*** Stay Away from these USED Car Sales People ***
Also get a lawyer you will need to file yet another lawsut agains this company.
****************************
By the way Watch out if your an SEO Company. They will click on your clients PPC ad, and call them. Great. Call Google they are fraud
****************************
They say they have been around for 10 years…Yeah right do your re-search
This company has purchased this name from a business that went out of business
*******************************
He mentions his association with other SEO associations and boards.
Business Business Bureau…
he has lots of compliants
*********************
He says he does not compete. Ask him his other companies DBA names
Watch MJ get mad. He will go through the roof!!!
” I will go to the sales board and erase your category”
First come first server.
Bullshit MJ
*********************
By the way I have A recorded Call from Janine and MJ..
And we are putting to get a class action against. People know bullshit and lies
In January we are going to see a price increase…
Close them HARD MJ!!!
go scare the SEO out the uninformed owners of busineses!!!!
Give me the Depost
Organic SEO by WebwiseMeda Scammed Clients
*************Some Truth****************
Not sure who will read this but here is the truth.
1. SEO stands for Search Engine Optimization
2. Google is a Search Engine, Yahoo is a Search Engine
3. You have to optmize your site. You have to get links to your site.
4. Optimzing your site takes time
5. SEO takes time
6. PPC takes 5 days!!!!
7. If you look at the result page you will see (3) three things
8. Web Site Visitors look at PPC part
9. Web Site Visitors look on the local part
10. Web Site Visitors look on the natural part
AT the end of 6 months of advertising you should have the following.
1. 1st page natual listings
2. 300 keywords brought down from 2000 keywords. If you track and bid based on phone conversions then you are doing well. You own this information
3. 1st page local results
4. ** An average of $50 to $125 per call. Depends on your industry
6. ** An average per sale that works for your business.
*********************************
No one knows your keywords that convert. You have to PAY MONEY to find this out. Then never let this info out. This is part of your business.
Comment by Pyncadank — December 31, 2008 @ 10:58 pm