Dunia Bisnis dalam Perspektif Kristen
Karya: Martin Krisanto N., Kategori: Pilihan dosen
Sikap Gereja
Menarik apa yang ditulis oleh Robert Setio dalam artikel utama majalah ‘Mitra GKI’ yang mengelompokkan sikap gereja ke dalam lima macam: (1) Bukan urusan – ekonomi adalah urusan duniawi, gereja tidak sepatutnya mengurusi masalah perekonomian. (2) Krisis/Anti – berbeda dengan yang pertama, pandangan ini tidak anti-ekonomi melainkan anti-kapitalisme serta menekankan social gospel. (3) Mengatur – agak jarang di Indonesia, gereja mengatur perekonomian jemaatnya, menerapkan pajak untuk gereja dan tidak jarang praktek-praktek yang menggambarkan bahwa tak bedanya sebuah perusahaan. (4) Kolaborasi – pada prinsipnya bahwa gereja dan ekonomi saling mendukung. Seperti yang ditemukan secara tidak disengaja oleh Max Weber (sosiolog Jerman), tentang pengaruh etika protestan (Calvinisme) terhadap kemajuan ekonomi dibeberapa negara Eropa Barat bagian utara. (5) Alternatif – reaksi dari sistem perekonomian kapitalis yang terlalu membuka kesempatan individu untuk meraih kesuksesan tanpa memperdulikan pihak lain, pandangan ini berupaya membuat alternatif lain dalam dunia ekonomi.
Menanggapi tulisan diatas memang pada poin ke lima kurang jelas bedanya dengan poin ke dua yang anti-kapitalisme liberal, sementara juga belum dipaparkan upaya alternatif seperti apa, apakah sistem labelisasi dapat menjadi mesin kapitalisme? Toh pandangan terhadap kapitalisme tetap buruk. Jika menyebutkan “… membentuk komunitas yang saling mencukupi diri sendiri secara ekonomi.” Maka ini menggambarkan citra sosialis tak bedanya dengan ide dasar Karl Marx dengan komunismenya yang bercirikan sifat distributif. Baik di satu sisi, belum tentu disisi lainnya. Bagaimana pendapatnya mengenai Neo-liberalisme, sudah dapat kurang-lebih diprediksikan.
Membandingkan opini diatas dengan apa yang disampaikan Yahya Wijaya , berdasarkan beberapa orang responden yang kurang lebih menggambarkan sikap gereja dewasa ini sudah cenderung menghargai dan mendukung, walau pemberitaan gereja tentang isyu-isyu bisnis kurang/tidak memadai, karena bahan tertulis tentang etika bisnis Kristen di gereja tidak tersedia, dan mereka mempelajari prinsip-prinsip moral untuk diterapkan dalam bisnis umumnya dari keluarga. Maka gambaran-gambaran akan lebih berbentuk puzzle yang belum lengkap untuk menggambarkan sikap gereja sesungguhnya, walaupun indikasinya tetap mengarah pada sikap yang cukup terpisah.
Dalam bukunya “Business, Family and Religion”, Yahya Wijaya secara menarik menggali beberapa kelompok pendapat dan dengan teliti membahas potensi-potensi khas dari masing-masing kelompok, baik pandangan yang menentang kapitalisme seperti : Gustavo Gutierrez (Peru), Ulrich Düchrow (Jerman), Kim Yong-Bock (Korea-Selatan) dan Tissa Balasuriya (Sri lanka) dan secara kontras kelompok yang memandang kapitalisme secara positif yakni: Michael Novak, Brian Griffiths, Max Stackhouse atau pendatang baru lain yaitu Paul Zane Pilzer. Dengan tidak mempertentangkannya melainkan lebih melihat kontribusi mereka secara positif terhadap perekonomian masyarakatnya, sementara beliau sendiri mengembangkan konsep keluarga Allah sebagai dasar bangunan teologi ekonomiknya.
Bagaimanakah Pandangan Kita tentang Bisnis?
Pada awal ketika mulai mendalami teologi ekonomik, maka bagi kita yang telah berkecimpung di dunia bisnis akan berasumsi bahwa ini merupakan masalah yang tidak terlampau sulit. Sama halnya dengan memutuskan beberapa “aturan main” non-formal yang bagi beberapa pelaku bisnis Kristen sudah mencerminkan nilai-nilai ke-Kristenan, misalnya: Membedakan kolusi dengan komisi, dimana kolusi adalah memberi uang kepada orang-orang “kunci” dipihak calon pembeli, sebelum transaksi selesai, sedangkan komisi adalah memberikan uang setelah transaksi dengan nilai yang kita tentukan sendiri. Lalu timbul pertanyaan yang sulit dijawab, bagaimana jika komisi tersebut dijanjikan sebelum transaksi? Kegamangan demi kegamangan terjadi didalam bisnis konkret. Atau semangat seperti memberikan sebagian deviden untuk kepentingan sosial atau gereja, mengeluarkan dalil-dalil moral seperti berbudi luhur atau anti-korupsi sebagai hasil kesimpulan pahit pengalaman ekonomik di negara kita ini.
Lalu setelah melalui beberapa tahap pengetahuan mengenai diskusi etis-teologis dalam literatur-literatur tentang ekonomi-politik dan dunia bisnis pada era pasar global serta mempelajari pendekatan-pendekatan teologis sambil mempertimbangkan faktor-faktor yang khas pada konteks Indonesia, justru melihat dunia ekonomi dan kompleksitasnya terasa makin rumit. Tentu salah satunya kenyataan ini dikarenakan gereja dalam perbincangannya seakan-akan terpisah dengan dunia bisnis. Bisa jadi karena para teolog memang tidak terlibat langsung atau tidak dibekali pemahaman yang cukup jika harus menyumbangkan pemikiran teologisnya tentang ilmu ekonomi. Namun hal ini belum tentu terjadi di kalangan jemaat yang menggeluti dunia bisnis.
Teologi Ekonomik dalam Kitab Yohanes
Saya memilih untuk berangkat dari pemahaman teologi yang cukup konservatif, yang mengacu pada Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. Tidaklah berlebihan jika pemahaman ini sudah mengambil tempat yang mendasar dalam proses pembentukan budaya yang bersifat inter-kultural di dalam gereja, khususnya yang menyebut dirinya sebagai gereja “Calvinis”. Tanpa meragukan pekerjaan Max Weber, saya juga memilih untuk membangun anggapan bahwa benih kapitalisme di ‘Barat’ agar dibedakan akibat pengaruh dunia kultur pluralistik di pulau Jawa yang tentu mewarnai corak kapitalismenya sehingga memiliki ke-khas-an tersendiri , bahkan pengaruh doktrin Injili yang kental akan tradisi ‘Barat’ itupun mempunyai ciri khas ketika bergerak dalam konteksnya. Kenyataan ini cukup mewakili sebagian penggambaran kondisi jemaat GKI yang majemuk, baik dari ras, tingkat ekonominya, profesi, cukup sulit akhir-akhir ini untuk mengatakan bahwa ada sekelompok minor tertentu yang mendominasi. Untuk itu teologi ekonomik mempunyai peluang untuk mengembangkan intrepretasi baru yang melandaskan cara berpikir yang berintegrasi dengan kehidupan ekonomi.
Diskusi dimulai dari pertanyaan Petrus tentang kemanakah Yesus akan pergi (13:36), demikian pula pertanyaan Tomas: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ ? ” (14:5) topik pembicaraan mereka sesungguhnya tertuju kepada “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal” (14:2) oivki,a| (oikia) yang artinya adalah household. Seperti dialog antara M. Douglas Meeks dengan Y. Wijaya , dimana konsep rumah inilah yang memperjelas konsep mengenai Allah, dimana konsep ekonomi adalah bagian darinya. Maka disepakati bahwa memahami Allah dengan sendirinya tidak dapat memisahkan ekonomi dengan Allah sendiri. Demikianlah tudingan mereka terhadap pendapat ‘monoteisme radikal ’ ataupun panteisme (kolektifisme), yang tidak lebih baik. Jika kita pertemukan dengan narasi Yohanes, maka menjadi suatu diskursus menarik tentang konsep kristologi yang diturunkan dari konsep trinitas yang diangkat oleh Michael Novak dalam kapitalisme demokratik.
Memahami kalimat demi kalimat dalam alkitab yang bersifat relasional ketimbang makna doktriner, “… datang kepada Bapa … melalui Aku, … mengenal Aku … mengenal Bapa-Ku … mengenal Dia … sudah melihat Dia. … sudah melihat Aku … sudah melihat Bapa … Aku bersatu dengan Bapa … Bapa bersatu dengan Aku …Ia akan memberikan kepadamu Penolong …tinggal bersama kalian … Dia itu Roh Allah …(BIS)”. Jika dipertemukan dengan apa yang saya kutip dari dialog antara Meeks dan Y. Wijaya terdapat titik pertemuan yakni Allah adalah komunitas pribadi-pribadi menjadi satu yang saling memberikan diri dan memberikan dirinya bagi dunia. Penggambaran rumah sebagai keluarga, dimana yang kolektif tidak meniadakan keunikan karakter individu dan sebaliknya. Ketiganya tampil dengan satu sama lain, untuk satu sama lain, dan dalam satu sama lain. Setidaknya ini merupakan manajemen (nomos) rumah (oikos) tersebut.
‘Jalan’ yang dimaksudkan adalah eksistensi Allah dalam sejarah manusia, dan melalui-Nya maka manusia masuk ke dalam komunitas Allah. Ini menjadi puncak pemberian dari manajemen rumah Allah kepada komunitasNya. Secara menarik keluarga dalam rumah ini adalah suatu unit produksi yang dituntut untuk memproduksi sesuatu dalam sejarah secara nyata. Demikianlah Yohanes memaparkannya: “Dialah yang melakukan pekerjaanNya” dan ini menjelaskan banyaknya pekerjaan dalam rumah tersebut. Dan pada ayat 12 dikatakan “bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu”. Bukanlah suatu pekerjaan yang sama dan berulang semata-mata, melainkan terjadi pembaharuan dan perkembangan terhadap pekerjaan-pekerjaan itu, dimana setiap bagian dikerjaan oleh keterlibatan individu-individu yang ‘satu’. Pekerjaan merupakan pemberian yang senantiasa bergulir dilakukan oleh salah satu kepada yang lain (ayat 13-14). Sistem ekonomi Allah inilah yang menginspirasi dunia bisnis yang dikenal dengan sistem stakeholder, sebagai cerminan paradigma householder.
Demikianlah langkah tafsir yang sekurang-kurangnya boleh memberi stimulasi bagi kancah ber-teologi dalam konteks Indonesia yang menyentuh sebagian dari sendi-sendi perekonomian, tanpa harus tergesa-gesa mencapai relevansi (Preston).
Jasa Teologi Pembebasan
Tidak disangkali bahwa konsep teologi telah mengambil bentuknya yang beraneka ragam di dalam praksis, berbagai bentuk teologi yang selama ini telah berkembang pesat seperti teologi pembebasan yang berjasa besar dalam mengentas berbagai ketidak adilan yang terjadi dalam struktur masyarakat tertentu. Dalam paradigma inilah perbincangan kaum sosialis berkiprah, yang benar-benar bersikap tegas pada perilaku bisnis yang rakus dan tamak dan meninggalkan banyak korban-korban tertindas. Namun sayangnya pola pikir keadilan distributif semacam ini yang memegang teguh pemahaman “menang atau kalah (zero-growth)” atau zero-sum society dimana hanya ada satu ‘roti’ yang harus diperebutkan, tidak memberi sumbangan bagi laju perekonomian karena permasalahan filosofinya-lah yang menghambat seperti contoh yang diangkat Novak menyoroti ketertinggalan ekonomi di Amerika Selatan. Dalam hal ini teologi pembebasan menerima tantangan untuk mempertimbangkan dan mengembangkan dasar-dasar pemikirannya.
Krueger memaparkan bahwa ide keadilan komutatif yang menekankan keadilan dalam transaksi ekonomik dan kontrak sejak filsuf Yunani klasik seperti Aritoteles telah mewarnai teologi etis. Sementara perkembangan berikutnya yang senada adalah keadilan distributif yang memperhatikan keadilan distribusi kebutuhan dan pelayanan jasa ekonomik. Krueger menambahkannya dengan keadilan produktif bahwa dalam kedua macam keadilan diatas dibutuhkan aktivitas yang produktif efektif, menekankan daya juang dan kerja keras, profesional, disiplin dan berkemampuan baik dilandasi etika tanggung jawab. Secara luas pemikiran ekonomik akan bertanggungjawab untuk memproduksi kesejahteraan masyarakat dan distribusi yang adil.
DISKUSI
Dari berbagai pendapat diatas maka sebaiknya kita beranikan diri untuk membangun sikap kita tentang dunia bisnis, bersama-sama kita ketahui pergeseran diskusi ekonomik telah sampai pada pandangan neo-liberalisme yang menjunjung tinggi mekanisme pasar bebas dengan mengupayakan terjaminnya kebebasan itu sendiri. Memang benar bahwa tidak mungkin suatu pasar benar-benar bebas, atau semata-mata dikendalikan oleh ‘tangan tak kasat mata’ seperti pendapat Adam Smith. Namun apa yang akan terjadi apabila mekanisme pasar bebas dengan sebebas-bebasnya merasuk diberbagai lini, misalnya: Agama dan pendidikan? Masihkah ada kemampuan koreksi yang demokratis seperti yang diharapkan oleh Novak pada sistem kapitalisme demokratik, dimana ketiga pilar dapat saling mengkoreksi; Negara (politik/hukum) – Ekonomi/bisnis – Sosio-kultural.
Berdasarkan masukan dari beberapa teolog diatas maka dapat kita simpulkan sementara bahwa agama sesungguhnya telah menanamkan benih-benih doktrinal penting dalam dunia bisnis, jika pasar seakan-akan mempunyai kecenderungannya sendiri ini tidak terlepas sama sekali dari masalah filosofis masyarakat yang hidup didalam pasar tersebut. Disinilah peluang penting yang dapat dimanfaatkan para teolog untuk memproduksi teologi yang terus berinteraksi dengan pasar global, dengan konteks inter-kultural, berdialog dengan berbagai ideologi yang terus bergeser.
Melihat sedikitnya teolog di Indonesia yang menekuni permasalahan ini, maka ini merupakan tantangan agar dapat merangkul para ekonom, psikolog, serta berbagai disiplin terkait lainnya guna meracik wacana-wacana yang mendasar sehubungan dengan lokal-lokal tertentu tanpa melupakan wacana-wacana global.
Semangat Wirausaha
Perilaku ekonomik seseorang dipengaruhi oleh pengetahuan ekonomik, faktor sosio-kultural, pengalaman ekonomik sebelumnya. Pengaruh paradigma berpikir sosialis yang menganggap bahwa hanya ada satu ‘roti’ yang diperebutkan pada pasar akan diperteguh jika seseorang beberapa kali mengalami kesulitan dalam berwirausaha, melihat kenyataan ‘kejam’-nya persaingan bisnis, serta berbagai alasan lain. Secara kreatif dan inovatif kita dapat melihat kenyataan bahwa ternyata ‘roti’ itu dapat diciptakan, sehingga daya juang kita mendapatkan angin segar pada pasar yang secara otentik kita ciptakan. Tentu setelah jangka waktu tertentu ‘roti’ yang kita ciptakan itu pada gilirannya akan padat diperebutkan kembali namun setidaknya kita akan mengupayakan efisiensi tinggi, optimalisasi manajemen.
Menggulirkan roda usaha kita dengan menanamkan prinsip-prinsip moral yang ada dan ditambah dengan semangat kemandirian – tidak menutup kemungkinan membuka usaha sebagai out-source ataupun counter-part, kerja keras – memberi apresiasi yang proporsional pada prestasi-prestasi kerja, dan produktifitas – membangun kriteria evaluatif yang didasarkan lebih pada hasil produksi selain loyalitasnya.
Masukan berharga dari teologi ekonomik dapat kita maknai dalam usaha yang kita rintis, misalnya konsep householder yang dijiwai oleh semangat kekeluargaan yang bebas berbagai macam bias seperti: patriakal, otoritarianisme, nepotisme dan sebagainya. Dalam mengembangkan householder perlu dipikirkan untuk melibatkan filsuf atau teolog yang mempunyai ketertarikkan khusus pada dunia bisnis, agar memberikan corak-corak potensi positif dari budaya atau ideologi yang ada disekitar kita sehingga dengan cermat memanfaatkannya sebagai basis filosofi usaha yang diselenggarakan.
Sistem lain yang telah dikembangkan oleh beberapa perusahaan besar yaitu stakeholders, yang masih cukup dilematis melihat kondisi konkret dimana perusahaan yang baru dimulai atau perusahaan yang baik secara omset maupun marginnya relatif kecil. Sistem ini muncul pada 1963 dalam sebuah memorandum internal dari Stanford Research Institute, California. R. Edward Freeman menjelaskan stakeholders sebagai “individu-individu dan kelompok-kelompok yang dipengaruhi oleh tercapainya tujuan-tujuan organisasi dan pada gilirannya dapat mempengaruhi tercapainya tujuan-tujuan tersebut” – semua pihak yang berkepentingan dengan kegiatan suatu perusahaan. Terkadang masih dibagi lagi atas pihak “dalam” dan “luar”, baik pemegang saham, manajer atau karyawan dan para konsumen, pemerintah, masyarakat dan lingkungan hidup.
Nuansa ini mencerminkan pemahaman “rumah” yang telah dibahas sebelumnya, sehingga satu sama lain secara produktif berusaha memberi diri maka baik perusahaan dan sekitarnya akan terbangun bersama-sama. Saya setuju dengan model hubungan gereja-bisnis yang digambarkan oleh Y. Wijaya berbasis civil-society bahwa gereja sebagai stakeholder Bisnis dan sebaliknya, bersifat kemitraan, mengupayakan komunikasi intensif dialogis antara kedua pihak dengan saling belajar dan saling mendengar juga sharing SDM.
Misi Gereja
Jika dari survei gereja missioner oleh LPPS GKJ-GKI Jateng , 1997, tentang persepsi anggota GKJ dan GKI Jateng tentang misi yang berkaitan dengan kebudayaan – 44%, politik – 32%, ekonomi – 5%. Setidaknya menggambarkan jika pengaruh gereja pada perkembangan ekonomi masyarakatnya sangat lemah tidak mengherankan lagi, namun apakah demikian yang terjadi di Jawa Timur atau daerah lainnya? Lalu jika kita berusaha memikirkan misi, maka gambaran seperti apa?
Bisa jadi misi gereja berkaitan dengan ekonomi adalah bagaimana gereja dapat mempunyai sistem debet otomatis berkala agar pengelolaan persembahan dapat lebih rapih dan terencana, atau gereja mempunyai kekuatan finansial sehingga tidak tergantung pada persembahan, atau gereja memikirkan jemaatnya yang masih pengangguran, atau gereja menyelenggarakan pelatihan gratis bagi jemaatnya, atau gereja menyarankan para pengusahanya untuk lebih memperhatikan sesama jemaat yang membutuhkan pekerjaan, bahkan kalau perlu gereja yang membuka lapangan pekerjaan? lalu ada yang bertanya: “Benarkah semua itu yang dimaksud dengan misi ekonomik gereja, mengapa semua itu terkesan masih eksklusif?”
Lalu beberapa pemerhati mengeluarkan pendapatnya: gereja bisa membuka koperasi bagi jemaat dan non-jemaat sehingga pedagang kaki lima dapat tambahan modal untuk pengembangan usahanya, jika ada kegiatan pelatihan tentu ini dibuka untuk umum, demikian halnya para pengusaha bersikap adil terhadap siapapun yang akan di rekrut tanpa membedakan agama, ras dan sebagainya. Bukankah gereja juga memikirkan untuk memberi pompa air dan bibit katak “bullfrog” bagi panti asuhan yang tengah memulai upaya kemandiriannya? Upaya-upaya reformatif seperti ini rupanya menjadi ciri khas gereja-gereja di berbagai penjuru dunia, yang saling bertukar inpirasi dari masa ke masa.
Misi Gereja yang transformatif adalah misi yang mengerjakan perubahan-perubahan dan pembaharuan cara berpikir masyarakat sekitarnya berdasarkan potensi-potensi budaya, pengetahuan dan sebagainya yang terkandung di dalam masyarakat itu sendiri. Gereja dapat menawarkan nilai-nilai utama dalam kehidupan, konsep kepemimpinan, sumber pembentukan karakter bisnis, serta konsep-konsep tentang konteks bisnis. Sebaliknya dunia bisnis dapat membagikan kepada gereja berupa kualitas sumber daya manusianya, mengutamakan penelitian dan pengembangan, ketahanan dalam menghadapi tekanan, menawarkan informasi, manajemen keuangan, sensifitas terhadap kebutuhan, kepuasan dan selera pasar dan kegairahan berkompetisi yakni merubah ancaman menjadi inspirasi, berani menghadapi resiko, memandang pihak-pihak oposisi sebagai pemicu kemajuan, semangat untuk terus belajar.
PENUTUP
Mempertimbangkan faktor ekonomi, sebagai salah satu soko guru kehidupan gereja dalam masyarakatnya adalah kebutuhan gereja masa kini yang secara serius menuntut perhatian, mengingat arus perkembangan dunia bisnis yang relatif lebih cepat dibandingkan arus perkembangan pola pandang gereja yang cenderung berkutat dengan masalah-masalah internal. Permasalahan ekonomi dan politik yang selama ini dianak tirikan sesungguhnya tidak dapat begitu saja diubah, alangkah indahnya bila pergumulan iman jemaatnya diwadahi dalam suatu proyek penelitian dan pengembangan yang berkenaan dengan kedua hal tersebut. Sudah waktunya gereja memanfaatkan potensi jemaatnya yang taraf pendidikan dan latarbelakang disiplin yang memadai untuk menunjang tujuan ini.
TUHAN, terima kasih untuk semua yang telah terjadi dalam dunia ini.
Baik dunia di luar diriku, alam semesta, sesama maupun dunia di dalam diriku,
Pikiran, perasaan, kebutuhan, dan iman.
Untuk kebahagiaan dan penderitaan
Untuk keindahan alam dan bencana alam
Untuk kelahiran dan kematian
Untuk terangnya siang dan gelapnya malam
Untuk mereka yang menyukaiku Dan juga untuk mereka yang tidak menyukaiku
Untuk kemudahan yang tersedia Dan untuk tantangan yang menghadang
Untuk keberhasilan dan kegagalan
Terima kasih untuk kesempatan bahwa aku boleh mengalami semua ini.
Terutama untuk kesadaran akan semua pengalaman itu,
Terlebih lagi untuk penemuan makna Bahwa Engkau selalu hadir
Dalam semua pengalaman itu Sekalipun pada saat-saat tertentu
Aku tidak memahami rencana-Mu Sehingga aku sulit untuk menerima pengalaman itu apa adanya
Sekalipun demikian, Aku selalu ingin berusaha
Membuka diri dalam memahami rencana-Mu
Dan kesulitan menjadi begitu memuncak
Pada saat aku tidak punya kesediaan untuk Mengakui keterbatasan manusiawiku
Khususnya dalam memahami rencana-Mu untuk diriku dan untuk dunia ini
Dalam keadaan dunia seperti saat ini Aku tetap ingin berusaha terus untuk meyakini
Bahwa Engkau selalu hadir Dan yang Engkau inginkan adalah Kedamaian bagi alam semesta ini
Dan kebahagiaan bagi setiap Dan seluruh umat manusia, Amin. (Anthony de Mello)
DAFTAR PUSTAKA
• Amir MS, Wiraswasta: Manusia Unggul – Berbudi Luhur, Yayasan Sosial Pendidikan AINI, Jakarta: PT. Pustaka Binaman Pressindo, 2000
• Bertens, K., Pengantar Etika Bisnis, Yogyakarta: Kanisius, 2000
• Krueger, David A., The Business Corporation & Productive Justice, Nasville: Abingdon, 1997
• Meeks, M. Douglas, God the Economist: The Doctrine of God and Political Economy, Minneapolis: Fortress Press, 1989
• Novak, Michael, The Spirit of Democratic Capitalism, Lanham: Madison, 1991
• Setio, Robert, Artikel: MITRA GKI, Februari – Maret 2006, Sikap Gereja dalam Kemelut Perekonomian Indonesia
• Wijaya, Yahya, Business, Family and Religion: Public Theology in the Context of the Chinese-Indonesian Business Community, Oxford; Bern; Berlin; Bruxelles; Frankfurt am Main; New York; Wien: Lang, 2002
• Winarto, Paulus, First Step to be an Entrepreneur: Berani Mengambil Risiko untuk Menjadi Kaya, Kata Pengantar dari Hermawan Kartajaya, Jakarta: PT Elex Media Komputindo – PT. Gramedia, 2002
TEOLOGI
makasih buat pandangan dunia bisnis dalam perspektif kristen. karena sangat membantu saya dalam pembuatan tugas teologi entrepreneurship. Gbu
Comment by yubilia christy — May 9, 2008 @ 8:56 am
Kalau bisa hasil penelitian atau tulisan tentang teologi entrepreneur-nya dikirim ke post@forumteologi.com kalau udah jadi ya. Thanks, Tuhan memberkati
Comment by Martin K. Nugroho — May 17, 2008 @ 5:28 pm