FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

April 25, 2007

Yohanes 5:19-57, ETIKA KERJA YESUS

Filed under: Bahan Pemahaman Alkitab — admin @ 7:59 am

Yahya Wijaya

Perikop yang panjang ini sebenarnya mengandung banyak pokok bahasan, sehingga tidak cukup dikupas dalam satu kali PA. Letaknya di dalam Injil Yohanes juga terkesan menginterupsi rangkaian cerita-cerita menarik. Barangkali karena itulah beberapa buku tafsiran Injil Yohanes melewati saja bagian ini dan langsung meloncat ke Mujizat Penggandaan Roti dan Ikan di pasal 6 . Dalam PA kali ini saya akan menyoroti bacaan ini dari perspektif Etika Ekonomi. Beberapa tema yang dapat dikembangkan dari perikop ini adalah:

1. Agama dan Etos Kerja
Pada bagian sebelumnya (4:17), Yesus menggambarkan Allah sebagai Bapa yang bekerja, dan pekerjaanNya itu aktual. Berdasarkan itulah maka Yesus sendiri juga bekerja. Menarik bahwa tema bekerja ini dinyatakan dalam konteks kontroversi tentang hari Sabat, yang pada praktiknya waktu itu dipahami bukan sekadar sebagai hari istirahat tetapi sebagai hari anti kerja. Pada hari Sabat, orang bukan sekadar dipersilakan beristirahat tetapi dilarang bekerja. Karena hari Sabat adalah hari yang suci, maka tidak bekerja dianggap identik dengan kesucian. Konsekuensinya, gambaran ideal orang yang suci adalah orang yang tidak bekerja atau tidak perlu bekerja tetapi bisa berwibawa. Yesus menolak gambaran seperti itu, dengan mendemonstrasikan apa yang seharusnya dilakukan pada hari Sabat. Yesus justru menjadikan hari itu sebagai saat untuk merayakan pekerjaan Allah, dengan cara melakukan pekerjaanNya, dalam hal ini adalah menyembuhkan seorang yang sakit lumpuh. Karena penyakitnya, orang itu selama ini tidak dapat menikmati keistimewaan hari Sabat. Tetapi sebenarnya kebanyakkan orang pada waktu itu juga tidak dapat menikmati, akibat teologi hari Sabat yang anti kerja. Teologi semacam itu membuat Sabat cenderung menjadi hari yang mencekam karena orang harus sangat berhati-hati agar jangan sampai secara tidak sengaja melakukan tindakan yang dapat dimasukkan kategori bekerja.

Maka tindakan penyembuhan yang dilakukan Yesus bermakna mengembalikan hari Sabat sebagai hari sukacita karena pekerjaan-pekerjaan Allah yang ajaib. Yesus bahkan menegaskan bahwa apa yang dilakukanNya bukanlah pekerjaan rekaan sendiri, melainkan pekerjaan yang bersumber pada pekerjaan Bapa, dan bagian dari pekerjaan Bapa (ayat 19). Dalam istilah bisnis sekarang barangkali dapat dikatakan: Anak sekadar melakukan outsourcing project-nya Bapa (dan ordernya semakin lama akan semakin besar: ayat 20). Dengan demikian, konsep yang memperlawankan kesucian dengan kerja tidak punya pembenaran. Allah adalah mahasuci, tetapi Ia bukan model penguasa yang sepanjang hari cuma duduk di singgasana dan dikipasi oleh dayang-dayangnya. Allah justru terus bekerja dan melibatkan kita dalam pekerjaanNya Memang kita perlu hari istirahat, supaya jangan menjadi gila kerja atau kerja gila-gilaan apalagi sampai dikerjain orang gila, tetapi istirahat tidak sama dengan anti kerja.

Mengherankan bahwa khotbah-khotbah di Gereja jarang yang mendorong jemaat untuk meningkatkan etos kerja. Yang lebih sering adalah yang memperlawankan antara kerja sehari-hari (‘cari duit’) dengan pelayanan gerejawi (‘kerja buat Tuhan’). Ini kekeliruan yang sama dengan yang dilakukan orang-orang Yahudi dalam cerita Yohanes. Padahal bangsa kita punya masalah serius dengan etos kerja. Orang yang pekerjaannya sehari-hari sebenarnya lebih bersifat bermain ketimbang bekerja dibayar jauh lebih tinggi ketimbang mereka yang bekerja dengan memeras keringat dan otak. Yang paling dihormati adalah para priyayi dan birokrat yang punya banyak waktu untuk berbasa-basi karena tidak harus bekerja. Para pekerja keras seperti pedagang kecil, buruh pabrik dan TKI terus menerus dijadikan objek pemerasan dari preman jalanan maupun preman kantoran di dinas pajak, pabean, imigrasi dan kepolisian.

2. Kerja dengan Hati
Tindakan Yesus yang menyimpang dari tradisi menimbulkan kemarahan orang-orang Yahudi. Dalam cerita ini ‘orang-orang Yahudi’ digambarkan sebagai orang-orang yang demikian takutnya terhadap tradisi, sehingga mau melakukan apa saja termasuk menganiaya dan membunuh orang yang dianggap melanggar tradisi. Apa dasarnya Yesus melakukan penyimpangan terhadap tradisi? Yesus mengklaim bahwa tindakanNya itu adalah pekerjaan Allah, yang Ia panggil ‘Bapa’. Dalam hal ini Yesus membedakan dirinya baik dengan Yohanes Pembaptis (ayat 33-36) maupun dengan Musa (ayat 45-47). Yesus menghargai kedua tokoh itu sebagai pendahuluNya, dan menganggap bahwa mereka sebenarnya bersaksi tentang diriNya. Kalau orang cukup cermat mengikuti pesan kedua tokoh itu, mereka pasti akan percaya kepadaNya. Meskipun demikian, keyakinan kepada Yesus tidak bergantung pada kedua tokoh itu. Rupanya banyak orang yang mengecam Yesus adalah mereka yang memuliakan tokoh-tokoh itu. Yesus tidak mau menyalahkan Yohanes maupun Musa. Para pengikut mereka lah yang salah memahami ajaran tokoh-tokoh itu.

Yang membedakan Yesus dengan Yohanes dan Musa adalah kerja Yesus dilakukan berdasarkan relasi dengan Allah sang ‘Pemilik Proyek’. Relasi itu bukan sekadar bersifat kontrak, tetapi relasi keluarga, bagaikan antara Bapa dan Anak. Relasi itu digambarkan sebagai relasi saling mengasihi, yang penuh dengan kesetiaan, tanggung jawab dan kepercayaan (trust). Maka kerja yang dilakukan Yesus adalah kerja dengan hati, tidak sekadar dengan tangan. Karena itulah Yesus berani melakukan terobosan-terobosan yang kreatif dan produktif. Yesus tidak takut melakukan itu karena Bapa percaya kepadaNya, dan Ia percaya kepada Bapa. Di situlah bedanya dengan kerja yang konvensional dan tradisionalis. Yang terakhir ini cenderung kurang kreatif dan tidak mampu menghadapi situasi baru, karena kerja seperti itu penuh dengan ketakutan dan kekangan. Kerja seperti itu sangat tergantung dan terbatas pada ‘juklak’ dan ‘juknis’, dan karenanya dengan mudah dapat digantikan oleh robot atau mesin. Kerja orang-orang tradisionalis mungkin menghasilkan kerapihan dan eksotisme, tetapi tidak efektif dalam memenuhi kebutuhan yang sebenarnya dari mereka yang menjadi target layanan.

Saya kuatir bahwa Gereja justru cenderung menjadi lembaga yang paling tidak kreatif dan paling ragu-ragu dalam melakukan terobosan-terobosan yang dibutuhkan oleh dunia yang dinamis ini. Para pejabat Gereja terkesan keasyikan bermain kerapihan organisasi dan eksotisme ritual, dan kurang efektif dalam merespon perkembangan budaya dan ekonomi dunia. Teologi kerja macam apakah yang membuat begitu?

3. Tidak Takut Salah tetapi Bekerja dengan Benar dan demi Kebenaran
Salah satu masalah dalam bacaan ini adalah perkataan Yesus tentang penghakiman. Dalam 3:17 ditegaskan bahwa Anak diutus bukan untuk menghakimi, tetapi dalam bacaan ini (ayat 22, 27 dan 30) dikatakan bahwa Anak itu diserahi wewenang untuk menghakimi. Dalam ayat 29 bahkan digambarkan bahwa penghakiman tidak dilakukan oleh Anak dihadapan Bapa, melainkan oleh Musa. Bagaimana memahami pernyataan-pernyataan yang terkesan tidak konsisten ini, dan apa hubungannya dengan topic ‘pekerjaan’ di muka? Barangkali Yesus mau menanggapi reaksi yang mungkin timbul terhadap klaimNya bahwa pekerjaanNya adalah pekerjaan keluarga (Bapa-Anak). Pekerjaan keluarga seringkali dipertentangkan dengan pekerjaan profesional yang jelas aturan main serta standarnya dank arena itu akuntabel hasilnya.

Dengan menyatakan kewenangannya menghakimi, Yesus mau menegaskan keseriusannya terhadap keadilan. Bahwa benar dan salah, baik dan jahat itu diperhitungkan. Relasi yang berdasarkan kasih, kesetiaan, tanggungjawab dan kepercayaan tidak meremehkan disiplin dan kebenaran. Penyimpangan tradisi yang dilakukan Yesus tidak berarti pengingkaran terhadap kebenaran yang menjadi maksud asli tradisi (yang ironisnya justru sudah dilupakan oleh pada tradisionalis, karena tradisionalisme memang cenderung terfokus pada kulit, bukan isi).

Dalam relasi dengan Bapa, Yesus bekerja dengan tidak takut salah sehingga dapat kreatif dan progresif. Di sisi lain, relasi itu juga memampukan Ia melihat kebenaran dan konsisten dengan kebenaran, sehingga pekerjaanNya yang kreatif dan progresif itu dijamin dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya di depan Allah.

Gereja sebenarnya perlu melihat lingkungan kerja dan profesi sebagai ‘stakeholder’. Apa yang dikerjakan Gereja dengan anggota-anggotanya mempunyai dampak pada kualitas kaum professional dalam masyarakat. Gereja yang terlalu menekankan disiplin dengan aturan dan sanksi yang tegas akan menghasilkan orang-orang Kristen yang bermental takut salah, dan karenanya sukar menjalankan peran-peran yang membutuhkan kreatifitas dan keberanian melakukan terobosan. Sebaliknya, Gereja yang mengikut Yesus akan kondusif bagi persemaian professional-profesional yang tidak takut salah, tetapi peka dan setia pada kebenaran.

1 Comment »

  1. “Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang yang tulus hati; Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat.” (Mazmur 7:11)

    “Dan Tuhan akan memperdengarkan suara-Nya yang mulia, akan memperlihatkan tangan-Nya yang turun menimpa dengan murka yang hebat dan nyala api yang memakan habis, dengan hujan lebat, angin ribut dan hujan batu.” (Yesaya 30:30)

    “Sebab Tuhan Allahmu adalah Allah yang cemburu di tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka Tuhan Allahmu terhadap engkau, sehingga ia memusnahkan engkau dari muka bumi.” (Ulangan 6:15)

    Tuhan menganjurkan kita untuk saling mengasihi akan tetapi dia sendiri digambarkan sebagai pembenci dan penuh dengan kebencian.

    “Sebab Engkau bukanlah Allah yang berkenan kepada kefasikan; orang jahat takkan menumpang pada-Mu. Pembual tidak akan tahan di depan mata-Mu; Engkau membenci semua orang yang melakukan kejahatan.” (Mazmur 5:5-6)

    Lebih jauh, Tuhan digambarkan sebagai pembenci dari banyak hal yang lain dan juga pembenci manusia. (Lihat Ulangan 16:22, Maleakhi 2:16, Imamat 26:30). Tuhan mempunyai kebencian khusus kepada agama-agama lain, yang mungkin menjelaskan kepada kita mengapa agama Kristen sering dikenal sebagai agamayang tidak toleran. Tuhan juga sering diutarakan mempunyai kebencian khusus terhadap mereka yang tidak memuja-Nya.

    “Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya.” (Yesaya1:14)

    Comment by xei — July 18, 2007 @ 11:17 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress