Yohanes 7:25-44 - Mesias dan Air Hidup
Karya: Chris Hartono
1.Catatan Pendahuluan
Pada perikop sebelumnya (7:14-24) kita membaca kesaksian tentang masalah yang berkaitan dengan Sabbath, khususnya mujizat yang dibuat Yesus di hari Sabbath, di samping kesaksian tentang diri Yesus sendiri. Pada perikop kita (7:25-44), kita membaca kesaksian tentang diri Yesus sendiri saja, yang terdiri dari dua bagian: pertama, asal Yesus dan kembaliNya kepada Bapa (7:25-36); dan kedua, Yesus sebagai Air sumber hidup (7:37-44). Itu berarti bahwa perikop kita menampilkan kesaksian tentang pokok pribadi Yesus dan klaim-klaimNya, hal yang sangat peka bagi orang-orang Yahudi; yang karenanya permusuhan orang-orang Yahudi terhadapnya memuncak secara dramatis dalam perikop kita. Itulah sebabnya percobaan untuk menangkap Yesus untuk pertama kalinya dinyatakan oleh perikop kita. Kedua hal itulah yang akan dikemukakan secara sederhana dalam pembicaraan kita selanjutnya, terutama pada (butir dua) Catatan Eksegetis.
2. Catatan Eksegetis
(7:25-26) Bermacam pernyataan yang meyakinkan dari beberapa orang Yerusalem dan pemimpin-pemimpin Yahudi berkenaan dengan Yesus – dalam gaya penulis Injil Yohanes yang tipikal – menunjukkan dengan jelas ketidaktahuan, yaitu ketidaktahuan kebijaksanaan manusiawi ketika penetrasi terang dari Kebijaksanaan itu menjadi terwujud dalam Yesus. Beberapa orang Yerusalem merasa bingung, karena pemimpin-pemimpin Yahudi tidak melakukan tindakan apapun terhadap Yesus. Apakah hal itu menunjukkan bahwa pemimpin-pemimpin Yahudi menduga bahwa Yesus adalah Mesias (baca pula: Kristus)?
(7:27-29). Namun agaknya tidaklah demikian halnya. Sebab dalam diri beberapa orang Yerusalem tersebut muncul masalah, yaitu kalau benar Yesus itu Mesias maka asal Yesus pasti tidak diketahui , karena itu merupakan rahasia; padahal asal Yesus telah diketahui, karena Ia berasal dari Nazareth . Dalam kaitannya dengan hal ini agaknya beberapa orang Yerusalem tadi berpikir bahwa fakta Yesus berasal dari Nazareth pada hakikatnya menghalangi diriNya sebagai Mesias yang tersembunyi, yang penuh kerahasiaan itu. Dalam situasi semacam itu Yesus erteriak dalam Bait Allah “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asalKu; …” (7:28b-29). Dengan teriakanNya itu Yesus pada hakikatnya menghilangkan seluruh rahasia kemesiasanNya. Di samping itu, dengan alasan bahwa mereka tidak mengenal Dia yang mengutusNya , maka Yesus menyangsikan mereka bahwa mereka mengetahui asal Yesus.
(7:30). Hal yang disebut terakhir dan klaim Yesus bahwa diriNya berasal dari Dia, dari Allah (7:29), itulah yang membangkitkan upaya mereka untuk menangkap Yesus; namun tidak seorangpun yang menyentuh Dia, sebab saatnya belum tiba (7:30). Sangat menarik di sini bahwa penulis Injil Yohanes seolah menegaskan tentang adanya ketidakmampuan manusia untuk menyentuh Dia, sekali pun saatnya telah tiba, kecuali Dia sendiri mengizinkannya (18:6-8). Berkenaan dengan hal ini, ada baiknya kita membandingkannya dengan kesaksian yang direkan oleh Lukas (4:29-30). Dalam penegasan itu terkandung perasaan yang mendalam tentang maksud Allah dalam peristiwa-peristiwa yang telah dikemukakan itu.
(7:31-36). Di sini (7:31) penulis Injil Yohanes menyebut bahwa di antara orang banyak itu ada banyak orang yang percaya kepadaNya, dalam kaitannya dengan hubungan antara kepercayaan dan mujizat yang dilakukan oleh Yesus. Kenyataan ini dan bisik-bisik orang-orang yang percaya kepadaNya itu telah mendorong pemimpin-pemimpin Yahudi (baca: para anggota Sanhedrin) untuk melakukan upaya penangkapan terhadap Yesus secara legal-formal, yang ditandaskan oleh penulis Injil Yohanes dengan “…, dank arena untuk menangkap Yesus” (7:32) . Upaya semacam ini mengakibatkan Yesus berpikir tentang kembalinya diriNya kepada Bapa setelah kematian dan kebangkitanNya (7:33-34) . Di sini (7:33-34) ungkapan Yesus yang berkaitan dengan itu “Tinggal sedikit waktu saja …… Kamu akan mencari kamu …. “ sesungguhnya merupakan teka-teki bagi orang-orang Yahudi. Karena itu dapat dimengerti bila mereka mengalami kebingungan, sebagai akibat dari pemahaman harafiah yang ada pada mereka tentang apa yang dikatakan Yesus.
(7:37-39) Pada akhir dan sekaligus puncak perayaan – yaitu pada hari ketujuh – Yesus berseru (baca: berteriak): “Barangsiapa haus, baiklah ia dating kepadaKu dan minum! ….’ (7:37-38). Ini tidak lepas dari apa yang dilakukan orang pada akhir perayaan itu, yaitu upacara yang berkaitan dengan kebutuhan akan air (baca: hujan) pada tahun berikutnya. Dengan seruanNya itu Ia menegaskan bahwa Ia dapat menyediakan air yang lebih baik, air yang menyegarkan, air yang menghidupkan, bagi yang percaya kepadaNya. Gagasan tentang air yang mengalir dari seseorang merupakan sebuah peringatan yang sangat jelas tentang cara kebenaran dapat disampaikan kepada orang lain. Dalam kaitannya dengan hal ini, penulis Injil Yohanes menghubungkan gagasan itu dengna kedatangan Roh (Kudus). Air yang lebih baik – aliran-aliran air hidup – itu akan diberikan bila Roh itu dating, setelah Yesus dibangkitkan dan dimuliakan. Walaupun upacara yang berkaitan dengan kebutuhan akan air tersebut dipahami oleh seorang saleh selaku lambang mengenai Roh, tetapi ternyata perkataan Yesus menunjuk kepada kebenaran di luar jangkauan orang Yahudi yang mendengarkannya.
(7:40-44) Perbincangan yang telah dikemukakan di atas (7:37-39) ternyata telah memunculkan akibat tertentu, yaitu pertentangan berkenaan ketidakmampuan mereka dalam memahami hakikat Yesus. Itu nampak dari adanya tiga pendapat: nabi, Mesias, bukan Mesias (7:40-41). Hanya dalam satu hal mereka sependapat, yaitu bahwa Kitab Suci menyatakan bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Bethlehem (catatan: agaknya mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya Yesus memenuhi nubuat yang ada dalam Kitab Suci, Mik 5:1). Pada bagian ini sekali lagi dikemukakan oleh penulis Injil Yohanes, bahwa upaya menangkap Yesus juga menemui kegagalan (bdk. 3:32)
3. Catatan Aplikatif
Demikianlah beberapa catatan eksegetis sederhana itu. Untuk keperluan diskusi selanjutnya di dalam kelompok-kelompok, setiap kelompok memiliki kebebasan untuk memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pengaplikasian hal-hal yang ada dalam perikop kita.
Sungguh pun demikian ada baiknya bila kita mempercakapkan hal-hal yang kami anggap prinsipal-teologis ini: (1) Dalam alur kesaksian penulis Injil Yohanes di atas, menurut Anda, apakah Yesus itu Mesias, yang berasal dari Allah? (2) Lepas dari apa pun jawab Anda, apakah yang menjadi sikap Anda terhadapNya? (3) Sebagai orang yang percaya, apakah Anda telah minur air yang lebih baik seperti yang dipahami oleh penulis Injil Yohanes? (4) Menurut Anda, adakah dampak konkret dari itu (butir 3) dalam kehidupan sehari-hari Anda?
TEOLOGI