FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

April 26, 2007

Keluaran 20:12; Ulangan 5:16; Efesus 6: 1-4

Filed under: Bahan Pemahaman Alkitab — Martin @ 8:59 am

MENGHORMATI ORANG TUA
Jakub Santoja
Dosen Fakultas Theologia UKDW Yogyakarta

Bacaan : Keluaran 20:12; Ulangan 5:16; Efesus 6: 1-4
Tujuan : 1. Peserta mempunyai pemahaman yang benar mengenai tempat orang tua dalam kehidupan mereka sebagai orang beriman.
2. Peserta mempunyai pemahaman tentang tanggung jawab yang menyertai kehormatan yang diberikan kepada orang tua.

PENGANTAR
Dalam rangka pendalaman pemahaman Alkitab dengan tema : “menghormati orang tua”, maka diharapkan setelah melalui proses interaksi dalam pertemuan ini para peserta memiliki pemahaman yang benar mengenai tempat orang tua dalam kehidupan mereka sebagai orang beriman. Itulah tujuan pertama. Tujuan kedua merupakan sisi lain dari pemahaman teologis tentang kedudukan tersebut ialah pemahaman tentang tanggung jawab yang menyertai kehormatan yang diberikan kepada orang tua.
Adapun pokok pikiran utama yang melatarbelakangi bahan bacaan di atas ialah “merendahkan diri dalam rangka takut kepada Tuhan” (Ef. 5:21). Pokok “ketaatan dan hormat” merupakan realisasi tatanan otoritas hubungan anak terhadap orang tuanya (Ef. 6: 1,2). Pada saat yang sama perspektif ketaatan kepada Tuhan yang diemban orang tua membawa serta tanggung jawab untuk bersikap menghargai dan menyampaikan didikan yang berisikan ajaran dan nasihat yang berasal dari Tuhan (Ef. 6:4).

PENJELASAN
Perintah dari Tuhan untuk taat kepada orang tua yang dicatat dalam Perjanjian Lama (Kel. 20:12 dan Ul.5:16) diterangkan dalam Perjanjian Baru (Ef. 6:2) sebagai perintah yang pertama (dalam bahasa Yunaninya disebut entole prote = the first comandment; dalam Alkitab LAI diterjemahkan sebagai “perintah yang penting”)yang diletakkan dalam rangka perjanjian Allah yang memberikan kesejahteraan orang yang menaatinya. Inilah hukum yang pertama dalam keseluruhan sepuluh hukum Tuhan yang mengandung tidak hanya perintah tetapi janji kesejahteraan bagi yang menaatinya. Jadi ketaatan itu diserta dengan janji kesejahteraan dan umur panjang di dunia ini. Itu merupakan hukum teologis yang menyangkut kebahagiaan dan umur panjang bagi manusia yang mengikuti hukum Tuhan tersebut.
Adapun yang menjadi sumber otoritas bagi berkat Tuhan itu bukan pada diri orang tua itu sendiri, tetapi dalam rangka “perjanjian” Allah. Seperti terlihat bahwa perintah menaati orang tua ini diletakkan dalam rangka keseluruhan sepuluh hukum Tuhan yang pada hakekatnya merupakan “perjanjian” antara Tuhan dan umat-Nya seperti yang dilakukan di Gunung Sinai. Dalam konsep perjanjian itulah maka perintah menghormati orang tua merupakan perintah pertama yang mengandung janji kesejahteraan ilahi dalam kehidupan di dunia ini (bacalah seluruh Dasa Titah dalam Keluaran 20: 1-17 dan perhatikanlah bahwa hukum ini adalah yang pertama muncul sebagai hukum yang mengatur hubungan horisontal dengan sesama manusia). Itulah sebabnya dalam naskah Yunani Perjanjian Baru muncul kata “dalam Tuhan” yang agak problematis karena dalam naskah-naskah tertentu dihilangkan, tetapi oleh para ahli diterima sebagai bagian yang seharusnya dipertahankan sebagai dasar terjemahan.
Dipertahankannya ungkapan ini agaknya dilatarbelakangi oleh kesadaran akan adanya kecenderungan ketaatan kepada orang tua sebagai manusia tanpa orientasi ilahi kepada Tuhan. Orientasi kepada Tuhan ini merupakan perspektif teologi dari perintah Tuhan itu. Orang tua mempunyai kedudukan yang khas, karena anak adalah “co-create” – mitra pencipta bagi Allah, yang melalui peran serta mereka akan-anak lahir dan hidup.
Perspektif ketaatan dalam Tuhan ini sesuai dengan kedudukan perintah hormat kepada orang tua ini dalam rangka tema besar yaitu “merendahkan diri satu sama lain di dalam takut akan Kristus” (Ef. 5:21). Dalam teks bahasa Yunani Efesus 5:21 ini menjadi awal dari rangkaian nasihat untuk hubungan istri-suami (Ef. 5:22-23), hubungan anak – orang tua (Ef. 6: 1-4) dan hubungan tuan hamba (Ef. 6: 5-9). Karena dalam Alkitab LAI Efesus 5:21 ini terpisah dari nasihat hubungan istri-suami (ay.22), maka perspektif saling merendahkan diri seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus ini menjadi hilang. Dengan demikian perspektif takut akan Kristus itulah yang menjadi landasan bagi hubungan satu sama lain yang “saling merendahkan diri”. Itulah sebabnya istri hendaknya tunduk kepada suami dan suami kendaknya mengasihi istrinya; anak hendaknya taat dan menghormati orang tua sedangkan orang tua tidak merendahkan anak sehingga menyebabkan kemarahan mereka; hamba hendaknya taat kepada tuannya sedangkan tuan tidak boleh sewenang-wenang kepada hamba.
Pada satu pihak perintah ketaatan dan menghormati orang tua itu akan mendatangkan kebaikan dan umur panjang bagi anak, dilain pihak orang tua hendaknya memperlakukan anak sedemikian rupa sehingga tidak menyebabkan mereka memendam kemarahan. Sebaliknya hendaklah orang tua mendidik anak-anak. Materi didikan itu terdiri dari “ajaran dan nasehat Tuhan” (ay.4). Ajaran dan nasihat yang berasal dari Tuhan ini menunjukkan perspektif didikan ilahi yang mengantar anak untuk sampai kepada rasa takut akan Tuhan. Materi didikan berperspektif ilahi ini biasanya dilupakan.

PERTANYAAN PANDUAN DISKUSI
1. Sebutkanlah contoh-contoh nyata bahwa anak yang tidak mentaati dan menghormati orang tua hidupnya tidak sejahtera dan umurnya tidak panjang!
2. Diskusikanlah cara-cara praktis dan kreatif untuk menyampaikan ajaran dan nasihat yang berasal dari Tuhan kepada generasi muda atau anak!
3. Apakah bentuk-bentuk nyata ketaatan dan hormat kepada orang tua anda!

VARIASI METODE
1. Sebelum pembahasan teks bisa dimulai dengan diskusi yang dipandu dengan pertanyaan-pertanyaan: kesulitan-kesulitan apakah dalam hubungan antar generasi (anak dan orang tua) yang anda rasakan dalam kehidupan anda sendiri? Apakah kiranya yang menjadi sebab utama dari kesulitan-kesulitan itu?
Pertanyaan-pertanyaan ini dimaksudkan untuk menolong para peserta mengemukakan pengamatan dan terutama pengalaman mereka sendiri tentang hubungan mereka dengan generasi di atas atau dengan generasi di bawahnya. Fokus kepada pengalaman pribadi ini akan menolong para peserta untuk lebih menghayati problem-problem hubungan antar generasi tidak hanya secara rasional tetapi juga secara emosional atau efektif. Dengan metode ini, maka pemahaman Alkitab akan lebih menyentuh aspek penghayatan pribadi daripada hanya secara rasional memahami topik “menghormati orang tua”. Jika metode efektif ini dipakai, maka dalam aplikasi para peserta dapat diajurkan untuk menggali pengalaman-pengalamannya sendiri yang secara refletik menjawab pertanyaan-pertanyaan diskusi seperti pada butir 3 diatas. Dengan demikian jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak hanya bersifat teoritas tetapi lahir dari pengalaman nyata. Dari hasil mengumpulkan pengalaman-pengalaman positif sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan panduan diskusi itu, maka akan tercipta suatu interaksi saling belajar antar para peserta dari pengalaman-pengalaman mereka. Hasilnya penting untuk dicatat dan disusun oleh pemimpin untuk dikoleksi sebagai hasil pengalaman dan kesaksian para peserta. Sudah pasti segi-segi praktis untuk penerapan ini akan sangat berguna untuk memperluas dalam mengaplikasi bahan pemahaman alkitab di atas.
2. Cara lain adalah melalui metode peragaan peran. Untuk itu pertama-tama pemimpin dapat memilih suatu kasus nyata hubungan yang tidak harmonis antara anak dan orang tua. Kasus nyata ini bisa diangkat dari kejadian nyata dalam media atau dalam kehidupan nyata yang dilihat oleh pemimpin pemahaman alkitab. Dalam hal yang terakhir ini sudah barang tentu nama disamarkan. Yang penting peran-peran dalam kasus itu nantinya diperankan oleh para peserta pemahaman Alkitab dalam suatu peragaan peran. Untuk membatasi agar peragaan ini tidak terlalu meluas, maka perlu dipilih suatu insiden tentang kasus tertentu yang terjadi antara anak dan orang tua. Metode ini akan lebih mengasah penghayatan bagi segi rasional, afektif maupun psikomotorik dari peserta. Mengingat keterbatasan waktu, peragaan peran tidak perlu harus dituntaskan, bisa juga dilanjutkan setelah pembahasan bahan pemahaman Alkitab. Yang penting metode ini membangkitkan keterlibatan para peserta pada proses penghayatan problema antar generasi ini. Kalau tahap itu sudah dicapai, pemimpin boleh menginterupsi dan menghentikan sementara proses permainan peran tersebut.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress