FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

April 26, 2007

Berteologi lokal melalui pemberian nama GKJ Cipta Wening

Filed under: Artikel, Sejarah — admin @ 10:50 am

Oleh:Setiyadi
“Dalam nama itu hidup sebuah sejarah, dan dalam nama itu masa lampau, masa kini dan masa depan berjumpa dan bersatu” (Song, Sebutkanlah Nama-nama Kami, hlm.8).

Pemaknaan C.S.Song tentang arti penting nama sangat memberi warna di tengah-tengah akan lahirnya gereja baru di lingkungan Sinode Gereja Kristen Jawa.
Tata Gereja GKJ (Tahun 1998) pasal 1 butir 2, yang berlaku kala itu memberikan arah sebagai berikut:
“Penamaan suatu Gereja dapat menggunakan nama daerah tempat Gereja itu berada, nama yang disebut dalam Alkitab atau nama lain yang mengandung makna tertentu.”

Selain nama daerah tempat Gereja berada dan nama dalam Alkitab, dimungkinkan untuk memakai nama lain yang mengandung makna tertentu. Mengingat wilayah pelayanan calon gereja baru itu mencakup tiga kecamatan (Kartasura, Banyudono, dan Sawit) yang berada di dua kabupaten (Sukoharjo dan Boyolali), maka diperlukan nama lain yang bisa berperan sebagai simbol pemersatu. Tentu saja tidak sembarang nama, namun nama yang mengungkap makna teologis bagi gereja yang akan didewasakan. Kembali, C.S.Song menyampaikan gagasan penting yang menunjukkan makna teologis di seputar masalah pemberian nama.
“Teologi yang kuat telah dibangun di sekitar masalah pemberian nama … Sebuah nama bukanlah sebuah konsep kosong. Ia adalah sebuah substantif, yang sudah tentu ada hubungannya dengan sebuah hakikat” (Song, Sebutkanlah Nama-nama Kami, hlm.5).

Asal-usul nama Cipta Wening
Ide atau ilham nama ’Cipta Wening’ tidak datang dengan sendirinya. Berikut ceritanya:
Suatu ketika saya berziarah ke Sendang Sriningsih, tempat peziarahan Bunda Maria di daerah Klaten (sekitar bulan Februari 2005).
Mula-mula adalah keterpesonaan saya pada keheningan suasana dan nuansa Sriningsih. Terlebih lagi, keheningan adalah ibu dari doa. Karena dalam keheningan, kita menerima bahwa Allah mengetahui kebutuhan kita. Namun, menjadi hening bukanlah perkara mudah, terutama keheningan batin. Untuk itulah usaha manusiawi diperlukan untuk terus menciptakan keheningan dengan memohon rahmat Allah. Usaha manusiawi yang berkecamuk dalam batin itu menetaskan ungkapan hanyipta weninging panembah (mencipta keheningan untuk bersembah-bakti pada Allah). Alangkah indahnya, bila suatu gereja, sebuah persekutuan orang-orang percaya kepada Kristus mempunyai semangat mencipta keheningan dalam menyapa dan mendengarkan Allah. Dalam hening, Allah tinggal. Dalam hening Allah menyapa. Keheningan bisa diciptakan oleh manusia yang merindukan Allah. Ciptakanlah keheningan, cipta hening, ciptaning, cipta wening …
Olah nalar itulah yang selanjutnya menginspirasi nama gereja ’Cipta Wening’. Ketika panitia pendewasaan gereja dan pentahbisan pendeta berembug untuk menentukan nama Gereja, nama Cipta Wening diusulkan dan disetujui. Akhirnya, lahirlah Gereja baru dalam lingkungan Sinode GKJ yang diresmikan pada tanggal 22 April 2005, dengan nama GKJ Cipta Wening. Untuk menandai peristiwa tersebut dirumuskanlah sengkalan surya sengkala ”Pandhawa hanyipta weninging panembah” yang berarti tahun 2005.
Nama Cipta Wening diharapkan selalu mengajak umat untuk menciptakan keheningan, mempersiapkan diri memasuki doa hening di hadapan Allah. Tidak kebetulan bila nama Cipta Wening diperoleh di Sriningsih, karena di tempat itu ada sosok teladan laku hening yaitu Bunda Maria. Nama itu terasa semakin istimewa, setelah pada bulan Mei 2006 saya membaca Riwayat Sendang Sriningsih. Dalam buku itu disebutkan bahwa letak Sendang Sriningsih berada di lereng pegunungan Mintaraga. Sebagaimana kita tahu, Mintaraga dalam pewayangan adalah nama lain dari Begawan Cipta Wening (Ciptaning), yang tidak lain adalah Arjuna ketika bertapa di Gunung Indrakila. Begawan Cipta Wening adalah simbol manusia Jawa yang mau dekat dengan Allah melalui pergaulan yang tersembunyi dalam kontemplasi heningnya. Sikap hening bukan berarti sikap menghindar dari kancah pergaulan publik, namun merupakan sumber inspirasi sangat berarti dalam berperan aktif memerangi kejahatan. Keheningan seorang Cipta Wening dalam laku semedi di Gunung Indrakila merupakan jalan mendapatkan senjata ampuh Pasopati untuk memusnahkan simbol kejahatan dalam diri Raja Raksasa pun Niwatakawaca. Dengan demikian, dari kisah Cipta Wening semakin menegaskan betapa antara kontemplasi dan aksi merupakan dwitunggal dalam laku hidup bergereja. Kisah Begawan Cipta Wening kalau direfleksikan dalam tradisi Kitab Suci mirip dengan laku Nabi besar dalam Perjanjian Lama yaitu Musa. Untuk memimpin umat Israel, Musa perlu menapaki jalan bertemu Tuhan di Gunung Horeb, sekalipun harus melalui awan gelap pekat, awan tanpa pengetahuan (the cloud of unknowing). Dalam awan tanpa pengetahuan itu, Musa mendapatkan karunia dua loh batu yang berisi 10 perintah Tuhan.
Dalam sebuah analogi dapat disebutkan Cipta Wening ibarat Musa; Gunung Indrakila ibarat Gunung Horeb; panah Pasopati yang bermata dua (wulan tumanggal) ibarat dua loh batu yang berisi hukum Tuhan. Senjata Cipta Wening untuk memusnahkan kejahatan adalah pasopati, sedangkan ‘senjata’ Musa untuk memimpin umat menuju jalan yang benar adalah Hukum Tuhan (dua loh batu). Hukum Tuhan merupakan senjata ampuh untuk memerangi dosa (kejahatan yang bersemayam dalam hati manusia). Artinya, Hukum Tuhan tidak digunakan untuk memusnahkan orang lain, tetapi untuk memusnahkan kecenderungan-kecenderungan jahat dalam hati sendiri.
Dua loh batu (10 perintah Tuhan) yang dalam Perjanjian Baru terkenal dengan sebutan Hukum Kasih (dua perintah saja) disimbolkan dalam pasopati yang bermata dua.

Pada akhir perlu disebut, bahwa gerak teologi lokal di GKJ Cipta Wening tidak bisa berhenti sampai sekedar pemberian nama dengan pemaknaan di atas. Rahmat dan cinta Allah terus bergerak, dan semoga GKJ Cipta Wening berada dalam gerak meliuk nan indah itu.

Pertapan Gunung Indrakila,
29 Maret 2007

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress