Keluaran 20: 15; Ulangan 5: 19; Efesus 4: 28
JANGAN MENCURI
ChicoKwit Lim
GKI Blora
Bacaan : Keluaran 20: 15; Ulangan 5: 19; Efesus 4: 28
Tujuan : 1. Peserta mengerti mengapa Tuhan melarang umat-Nya untuk melakukan tindakan mencuri.
2. Peserta bisa menyebutkan beberapa sikap positif dan proaktif yang diharapkan Tuhan melalui titah ini.
PENGANTAR
Siapakah manusia yang selama hidupnya tidak pernah mencuri? Pertanyaan ini terdengar sinis sekali, karena disini terkandung anggapan bahwa semua orang dalam hidupnya pasti pernah mencuri. Secara sederhana, yang dimaksud mencuri adalah mengambil sesuatu yang bukan miliknya sendiri. Jika “definisi” ini diuraikan lebih luas, maka kita akan menemukan pemahaman sebagai berikut :”mengambil” menunjukkan sebuah aktivitas atau tindakan yang dilakukan secara sadar, namun juga bisa tanpa disadari (kleptomania – sebuah penyakit kejiwaan dengan gejala keinginan yang tak terkendali untuk mengambil atau menyimpan suatu benda milik orang lain). “Sesuatu” bukan hanya menunjukkan pada benda atau barang, melainkan segala hal, termasuk waktu. “Bukan miliknya” berarti milik orang lain atau pihak lain, utamanya Tuhan. Jika kita punya pemahaman yang agak luas seperti ini maka nampaknya benar bahwa semua orang memang pernah mencuri. Persoalannya adalah Tuhan tidak berkenan pada perbuatan mencuri. Dengan tegas Tuhan melarang manusia untuk mencuri dengan perintah “JANGAN MENCURI”
PENJELASAN
Keluaran 20: 15 dan Ulangan 5: 19 merupakan perintah Tuhan yang termasuk dalam 10 Perintah Tuhan dalam hukum Taurat dan kita mengenalnya sebagai Hukum kedelapan. Kita tahu bahwa 10 perintah Tuhan dibagi menjadi 2 (dua) bagian besar, yaitu Hukum I – IV, yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan Hukum V – X, yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya. Yang menarik dan menimbulkan pertanyaan bagi kita adalah mengapa masalah mencuri atau pencurian dimasukkan dalam 10 Perintah Tuhan?
Dalam kehidupan sosial – ekonomis bangsa Israel, pola tinggal yang tidak menetap (nomad), menyebabkan mereka tidak banyak memiliki harta benda. Secara ekonomis, mereka hidup dalam keterbatasan atau kekurangan. Dalam keadaan seperti ini, seringkali muncul keingian untuk hidup enak dengan memiliki lebih banyak harta benda. Dalam hal ini, nampaknya mencuri menjadi pilihan paling mudah untuk mencapai keinginan itu segera. Sementara itu, yang terjadi bukan hanya mereka yang hidup dalam kekurangan atau keterbatasan yang melakukan tindakan pencurian, namun sifat tamak yang dimiliki oleh sebagian mereka yang telah kaya, menyebabkan pencurian atau perampasan juga dilakukan mereka. Jelas sekali perbuatan mencuri, akan sangat merugikan mereka yang menjadi korban pencurian. Hak mereka, berupa harta benda yang dipergunakan untuk menopang hidup, diambil atau dirampas. Hal ini berarti bahwa dengan diambilnya harta benda mereka, maka diambil pula hak mereka untuk hidup.
Sejak awal, Alkitab menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta, sekaligus Pemilik segala sesuatu, termasuk manusia sendiri adalah milik Tuhan. Hal ini berarti pada dirinya sendiri, manusia tidak punya atau tidak memiliki apapun, karena semua adalah milik Tuhan. Tuhan, yang merupakan pemilik segala sesuatu, mempercayakan miliknya untuk dikeloka dan dipergunakan manusia. Dengan demikian mencuri sesuatu dari sesama manusia, itu artinya sama dengan mencuri milik/hak/kedaulatan Tuhan, sekaligus merugikan manusia yang diberi kepercayaan untuk mempergunakan dan mengelola milik Tuhan tersebut. Dengan dimasukkannya larangan untuk mencuri dalam 10 perintah Tuhan, jelas menunjukkan bahwa Allah memandang masalah ini adalah masalah serius, karena tindakan ini merusak hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya. Allah tidak berkenan adanya tindakan pencurian, sehingga tidak ada alasan apapun yang membenarkan tindakan pencurian.
Efesus 4: 28 dilatarbelakangi oleh keberadaan orang-orang Kristen di Efesus sebelum mereka mengenal dan percaya pada Kristus. Mereka hidup dalam dosa, yang disebut Paulus sebagai manusia lama. Hidup mereka yang ada dalam dosa bukan hanya nampak dalam ibarat ritual mereka yang menyembah berhala, namun juga dalam kehidupan sosial berupa tindakan-tindakan jahat yang dilakukan, dimana pencuri adalah salah satunya Rasul Paulus mengingatkan bahwa mereka yang telah percaya kepada Kristus, sesungguhnya hidupnya telah diubah dari manusia lama, yang penuh dengan dosa, menjadi manusia baru, yang kudus (lih. Ef. 4: 20-24). Dalam ibadah ritual sekarang mereka menyembah kepada Allah yang hidup dalam kehidupan sosial, perbuatan jahat mereka harus dibuang. Peralihan hidup dari manusia lama menjadi manusia baru, salah satunya ditandai dengan perbuatan perilaku. Jika dahulu mereka mencuri, maka perbuatan itu sekarang harus dibuang. Sekarang mereka harus bekerja keras dan melakukan pekerjaan baik dengan tangan mereka sendiri untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan mereka. Jika mereka ingin atau butuh sesuatu, baiklah mereka bekerja untuk mendapatkannya, jangan mencuri! Dan bukan hanya itu, bahkan mereka dapat menjadi saluran berkat bagi mereka yang hidup dalam kekurangan. Justru pada kesediaan “memberikan sesuatu kepada yang berkekurangan” lah keutamaan titah ke delapan ini.
PERTANYAAN PANDUAN DISKUSI
1. Menurut saudara apa yang sering kali menjadi alasan /motivasi orang untuk mencuri? Dan mengapa Tuhan melarang perbuatan mencuri?
2. Perbuatan apa saja yang termasuk kategori mencuri? (misalnya mencuri waktu (terlambat hadir) apakah termasuk kategori mencuri?)
3. Siapa yang banyak melakukan perbuatan mencuri dan siapa yang banyak menjadi korbannya?
4. Bagaimana mengatasi keinginan untuk mencuri?
VARIASI MODE
Ada baiknya ketika pimpinan PA mempersiapkan bahan ini, ilustrasi bawah ini diketik dan diperbanyak, kemudian dibagikan pada setiap peserta PA untuk dimintai komentarnya dan sekaligus menjadi bahan perenungan.
“Seorang petani yang tanaman jagungnya gagal dipanen, memutuskan untuk “meminjam” jagung dari ladang tetangganya. Dengan membawa kantong besar, dia dan anaknya menuju ladang tetangganya, dia segera pergi ke sudut ladang yang jauh. Ketika tiba, dengan waspada dia melihat ke kanan, ke kiri, ke depan ke belakang untuk memastikan bahwa tak seorang pun mengetahui keberadaannya. Ketika dia hampir meraih sebatang jagung yang pertama, anaknya berkata “pak engkau tidak melihat keatas?”
TEOLOGI