FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

April 26, 2007

Keluaran 20: 16; Ulangan 5: 20; Efesus 4: 25-27

Filed under: Bahan Pemahaman Alkitab — admin @ 9:37 am

TENTANG BERSAKSI DUSTA
Iman Santosa
GKI Salatiga

Bacaan : Keluaran 20: 16; Ulangan 5: 20; Efesus 4: 25-27
Tujuan : 1. Peserta dapat mengartikan akibat buruk dari kebohongan dan akibat baik dari “berkata benar” dalam hubungan dengan hidup bersama orang lain.
2. Peserta bisa menyambung saran tentang apa-apa yang bisa dikerjakan untuk membina hubungan yang lebih baik dengan pihak lain.

PENGANTAR
Seorang pendeta bertemu dengan beberapa anak berusia sekitar 10 sampai 12 tahun. Mereka menemukan seekor kucing yang tidak ada pemiliknya. Rupanya mereka sedang berunding siapa dari antara mereka yang berhak memiliki kucing itu. Seorang anak mengusulkan bahwa siapa yang paling pandai membuat kebohongan yang paling besar, dialah yang boleh memiliki kucing tersebut. Mendengar itu sang pendeta segera memberikan nasehat-nasehatnya dan melarang mereka berbohong. Tidak lupa pendeta itu bersaksi : “Dulu, ketika saya seusia kalian, saya tidak pernah berbohong”. Mendengar “khotbah” itu, anak-anak terdiam. Si pendeta merasa bahwa anak-anak itu sadar, bahwa berbohong itu tidak baik, dan dia merasa lega, karena telah berhasil mencegah mereka untuk berbohong. Sesaat sebelum mereka meninggalkan anak-anak itu, seorang anak berkata dengan pelan: “Ya, sudahlah, berikan kucing itu kepada bapak pendeta”.
Rasanya tidak ada orang yang tidak pernah mengucapkan kebohongan, entah itu “bohong kecil” atau “bohong besar” (serius). Dengan berbagai macam dalih dan alasan, ada saja sikap pembenaran terhadap kebohongan. Bahan PA kita adalah topik ini dan kita akan dindiskusikannya bersama-sama.

PENJELASAN
Rumusan Hukum IX dalam Kel. 20:16 dan Ul. 5:20 adalah sama, yakni: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu”. Dalam bahasa aslinya, ada perbedaan penggunaan istilah/kata. Rumusan dalam kitab Ul. Adalah “syaw” (lbr) yang berarti: “saksi sia-sia”, sedangkan kitab Kel. Memakai istilah lbr. “syeker” yang berarti “saksi dusta”. Istilah “syaw” menekankan unsur “kosong”; “tak bermakna”, sedangkan “Syeker” menekankan unsur “tipuan”; “dusta”. “mengucapkan saksi dusta” (lbr. “anah”) yang diterjemahkan dengan “mengucapkan secara harafiah berarti “menjawab”. Kata/istilah ini lazim digunakan di dunia/dalam proses pengadilan, dan dapat berarti “membela” atau “mendakwa”. Semua ini menunjukkan kepada kita bahwa dulu kala (khususnya di Israel) kesaksian palsu dapat membahayakan jiwa seseorang (yang di dakwa), lihat misalnya Bil. 35:30 perlu diingat pula bahwa si terdakwalah yang harus membuktikan bahwa ia tidak bersalah, dan bukan si penuduh yang harus membuktikan kebenaran tuduhannya. (Dr.I.J. Cairns, Tafsiran Alkitab, Ulangan I, pasal 1-11 BPK). Karena setiap orang dapat dipanggil menjadi saksi (Yer.26:11), maka mereka diingatkan akan beratnya tanggung jawab mereka. Bisa saja terjadi, karena sebuah kesaksian dusta, seseorang harus mati atau membayar denda yang besar, yang dapat menghacurkan hidup dan masa depannya.
Dalam perkembangan kemudian, arti “dusta”/”palsu” meluas menjauh lebih umum, yakni tidak hanya berarti kepalsuan langsung nyata, namun juga mencakup semua usaha untuk menutupi kebenaran dengan jalan memberikan kesaksian secara selektif, menciptakan kesan yang berat sebelah, memupuk distrosi dsb. Jadi berbicara tentang sema kebohongan pada umumnya.

Efesus 4: 25-27
Ayat-ayat ini merupakan nasihat-nasihat lepas Paulus kepada orang Kristen di Efesus, setelah dalam ayat-ayat sebelumnya Paulus menjelaskan tentang perbedaan hidup orang Kristen (yang telah percaya kepada Kristus) dengan hidup mereka sebelumnya. Hidup lama mereka telah digantikan dengan gaya hidup mereka sebelumnya. Hidup lama mereka telah digantikan dengan gaya hidup baru, sehingga kebiasaan, sikap dan perilaku mereka sekarang harus mengikuti pola hidup yang diajarkan Kristus.
Salah satu sikap hidup lama yang harus ditinggalkan adalah berkata dusta, yakni tidak berkata benar, yang merugikan relasi dengan sesama. Sebagai orang Kristen yang diciptakan dalam kebenaran dan kekudusan, berkata dusta harus ditanggalkan.
Sebagai manusia baru, bukan hanya relasi mereka dengan Allah yang dipulihkan, mamun juga relasi dengan sesama, sehingga dusta akan mencederai relasi dan merusak (hidup) persekutuan jemaat. Itu sebabnya Paulus mengatakan “karena kita adalah sesama anggota”. Kita bisa yakin bahwa tentu Paulus tidak hanya bermaksud mengatakan hal ini (tidak berkata dusta) hanya kepada sesama orang Kristen saja, namun sikap itu melekat dalam diri tiap orang Kristen sehingga dengan siapapun mereka berelasi, mereka juga tidak akan berkata dusta.
Dusta berkaitan erat dengan amarah. Jika orang tidak jujur satu sama lain, hal itu akan menimbulkan amarah, saling tidak percaya, menimbulkan kejengkelan dsb. Selanjutnya Paulus menasihatkan agar bila sampai mereka marah, jangan sampai mereka berbuat dosa.
Kalimat: “janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu” mungkin merupakan sebuah ungkapan, yang intinya berarti: jangan marah terus-menerus. Jadi yang dimaksudkan adalah bahwa bukan marah itu sendiri adalah dosa, namun orang yang marah mudah sekali berbuat/dikuasai dosa, sehingga orang harus waspada (bdk. Dengan peringatan Tuhan kepada Kain sebelum ia membunuh adiknya). Ay.27 menegaskan maksud Paulus: “jangan beri kesempatan (=ruang) kepada iblis”. Harus disadari benar bahwa kuasa/ancaman iblis dalam kehidupan (anggota) jemaat sangat besar.

PERTANYAAN PANDUAN DISKUSI
1. Mengapa sampai terjadi seseorang berkata bohong/dusta?
Apa sebabnya?mengapa bisa dicegah/diatasi?
2. Diskusikanlah tentang “berbohong demi kebaikan” Apakah saudara setuju/tidak? Berikan penjelasan.
3. Adakah “kebohongan-kebohongan” yang saudara lihat dalam kehidupan jemaat saudara? Dalam hal apa, mengapa? Apa pendapat saudara tentang hal tersebut?

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress