Yosua 24: 1-18; Keluaran 20: 1-2
ALLAH YANG MENGENALKAN DIRI MELALUI KARYA PEMBEBASAN
Bacaan : Yosua 24: 1-18; Keluaran 20: 1-2
Samuel Santoso GKI Kedoya, Jakarta
Tujuan :
1. Peserta memahami kembali Allah yang mengambil prakarsa untuk membebaskan umat-Nya dari penderitaan.
2. Peserta mengerti bahwa fungsi Dasa-sabda adalah agar kebebasan dari Allah itu bisa dinikmati secara optimal oleh umat Allah baik secara individual maupun dalam kehidupan bersama orang lain.
PENGANTAR
Dasa Sabda lebih dikenal orang sebagai sebutan ‘Sepuluh Perintah Allah’ atau ‘Dasa Titah’. Bunyi dari Dasa Titah ini sering ditanyakan (untuk disebutkan secara hafalan) kepada para katekisan yang akan dibaptiskan atau mengaku percaya. Orang menilai ‘cukup’ bila anggota jemaat bisa menyebutkan dengan lancar dan secara berurutan bunyi kalimat-kalimatnya. Mestinya memang lebih dari itu. Sayang. Masih banyak yang memahami Dasa Sabda ini pertama-tama sebagai rumusan hukum yang harus ditaati dan dilaksanakan secara sempurna oleh umat Allah supaya ia/mereka ‘masuk sorga’ (celakanya secara realistis tidak ada orang yang bisa melakukannya secara sempurna). Isi titah-titah itu diterima lebih sebagai tuntutan yang mengancam dan harus diterima dengan ‘duka dan paksa’ ketimbang mencoba melaksanakannya dengan dengan sukarela dengan hati yang ikhlas.
Semua itu bisa terjadi karena orang tidak terlalu memperhatikan, atau malah mengabaikan, kalimat pendahuluan (preambule) dari Dasa Sabda padahal kalimat yang singkat padat inilah yang menjadi jiwa atau nyawa dari seluruh isi Dasa Sabda sehingga hanya dengan pertama-tama memahami makna kalimat singkat inilah kita bisa memahami dengan baik dan benar isi dan makna Dasa Sabda bagi kehidupan umat Allah. Dengan demikian umat Allah memperoleh norma atau tolok ukur bagi praksis kehidupan mereka sehari-hari secara utuh.
PENJELASAN
1. Dasa Sabda disusun begitu rupa sehingga orang dengan gampang mengingat dan menghafalkan sebagai bagian dari pembinaan hidup beriman sehari-hari kepada Tuhan tanpa mengurangi bobot isinya. Kalimat-kalimatnya memang ‘kalimat-kalimat hukum’ dari sebuah masyarakat yang tradisional tetapi tujuannya pertama-tama tidak dimaksudkan mejadi ‘hukum positif’ (oleh karena itu tidak ada bentuk sangsi yang disebut dalam Dasa Sabda bila ada pelanggaran atasnya). Kata ‘taurat’ (Ibrani ‘torah’) pertama-tama berarti ‘petunjuk’ atau ‘pedoman’ yang diberikan oleh Tuhan kepada umat-Nya tentang apa yang harus dilakukan oleh umat agar hidup mereka dalam komunitas agar kesejahteraan mereka terjamin. Memang Dasa Titah dikemudian hari menjadi patokan atau norma agama bagi hubungan yang benar antara umat dengan Allah mereka dan antar sesama mereka.
2. Di dunia Timur Tengah Kuno ada tradisi mencantumkan, dalam sebuah naskah perjanjian antar bangsa, alasan mengapa aturan-aturan yang uraikan pada bagian berikut harus ditaati. Biasanya kalimat-kalimat itu bernada negatif seperti misalnya: “Karena dikalahkan dalam peperangan dan menyatakan tahkluk maka ….. akan mentaati aturan-aturan …..”. Orang yang mentaati aturan adalah karena ditaklukkan dalam perang. Tidak demikian dengan Dasa Sabda. Prambule itu sangat positif bunyinya. Tuhan Allah yang mengambil prakarsa melakukan tindakan pembebasan umat dari cengkraman penderitaan akibat tindak perbudakan orang-orang Mesir. Umat tidak dirugikan tetapi malah Tuhan dinyatakan telah melakukan apa yang baik bagi kehidupan umat yakni memerdekakan mereka dari penjajahan. ‘Perbudakan’ adalah lawan kata dari ‘kemerdekaan’ atau ‘kebebasan’. Perbudakan bermakna sama dan sebangun dengan kesengsaraan dan penderitaan lahir dan batin – satu keadaan yang jauh dari situasi sejahtera seperti harapan manusia. Allah sendiri yang mengambil inisiatif untuk mengangkat mereka dari keadaan sengsara itu dan membawa mereka kepada kelegaan. Ini terjadi karena Allah yang, secara ajeg dan setia, mengasihi mereka dengan kasih Ilahi. Walau begitu umat Israel harus sadar bahwa mereka bukan satu individu tetapi mereka harus hidup bersama-sama dengan sesamanya. Bagi sesamanya juga kebebasan dan kemerdekaan dari Allah. Orang lain yang tinggal dan hidup besama mereka harus juga menikmati dan mengalami kebebasan dan kemerdakaan itu. Supaya kebebasan dan kemerdekaan anugerah Tuhan itu bisa dinikmati dan dihayati secara optimal bersama-sama maka Tuhan memberikan pedoman atau petunjuk-Nya. Dasa Sabda ini berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman yang dimaksud – jadi ia berfungsi sebagai rambu lalulintas jalan. Justru tujuan utama diberikannya rambu-rambu itu bukan untuk mengekang atau mengurangi kebebasan atau kemerdekaan Ilahi itu bisa dinikmati sebanyak-banyaknya secara bertanggung jawab dalam kehidupan bersama dengan Allah dan sesama manusia.
3.
PREAMBULE
“Akulah TUHAN, Allahmu …..
Sabda I – IV Mengatur sikap umat terhadap Allah
Sabda V – X Mengatur sikap umat terhadap sesamanya
4. LAI tepat sekali memberikan judul bagi Yosua 24 – pembaruan perjanjian di Sikhem. Isinya pada ay.1-13 manjabarkan, dalam kisah-kisah yang rinci, perbuatan-perbuatan Tuhan yang membebaskan mereka dari Mesir maupun paksa Mesir-perjalanan mereka menuju ke Kanaan sampai proses mereka menduduki negeri yang telah dijanjikan kepada nenek moyang mereka dengan mengalahkan para raja yang telah lebih dulu menguasai negeri itu. Seluruh proses tadi disimpulkan secara hiperbola sebagai berikut:
Demikianlah kuberikan kepadanu negeri yang kamu peroleh tanpa bersusah-susah dan kota-kota yang tidak kamu dirikan, tetapi kamulah yang diam di dalamnya; juga kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang tidak kamu tanami, kamulah yang makan hasilnya. (yos 24:13).
Umat harus mengakui bahwa secara nalar sulit bagi mereka untuk berkembang manjadi suatu bangsa dari keadaan menjadi sekelompok puak saja. Bila saja tidak ada keputusan Tuhan untuk ‘kembali mengingat’ Israel dan ia membiarkan orang-orang Ibrani ini menjadi budak-budak yang murah bagi orang Mesir maka nasib Israel tetap tidak berubah. Allah mengingat kembali perjanjian-Nya yang sudah kuno dan mewujudnyatakannya dengan tindakan membebaskan Israel keluar dari azab dan sengsara itu ke tanah terjanji – suatu negri yang berlimpah dengan susu dan madu – tanah Kanaan.
Kenyataan-kenyataan itu diungkapkan secara gamblang oleh Yosua yang menantang mereka untuk mengambil keputusan menyembah atau tidak menyembah Allah yang telah menyelamatkan dan memberi kesejahteraan sepenuhnya kepada mereka (ay. 14 – 15). Keputusan itu harus diambil dengan bebas dan dengan hati yang ikhlas serta rela dilandasi oleh kesadaran bahwa Tuhan Allah-lah yang telah mengambil prakarsa menyelamatkan mereka dengan alasan-alasan-Nya sendiri. Dan atas keputusan umat yang memilih Tuhan Allah sebagai Tuhan dan Allah mereka (ay. 21) diikatlah perjanjian antara Tuhan Allah dengan umat-Nya.
PERTANYAAN PANDUAN DISKUSI
1. Bagaimana pendapat Saudara seandainya pada Dasa Sabda tidak dicantumkan kalimat: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari Mesir, dari tempat perbudakan.” Mengapa kalimat ini penting untuk dinyatakan.
2. Menurut Saudara tepatkah bila Dasa Sabda ini disebut sebagai Sepuluh Hukum Tuhan? Jelaskan pendapata saudara. Mengapa kita sering merasa tertekan bila membicarakan Dasa Titah.
3. Bacalah Matius 5:20. Apa yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus dengan kalimat ini. Sikap terhadap taurat yang bagaimana yang diharapkan oleh Tuhan Yesus dari kita semua.
4. Apakah Saudara setuju bila Dasa-Sabda kembali lagi dibicarakan pada setiap Kebaktian Minggu seperti dulu.
TEOLOGI