Sakramen Baptisan
Studi Pengantar Alkitab, karya: Made Gunaraksawati Mastra, kategori: Pilihan Dosen
I. Pendahuluan
Isi daripada penulisan makalah ini adalah untuk mengkaji secara singkat pandangan para penulis Injil Sinopsis, Yohanes serta Paulus dalam Perjanjian Baru serta latar belakang tradisi yang berkaitan dengan sakramen baptisan dalam Perjanjian Lama. Hal ini bertujuan untuk memahami makna serta implikasinya bagi kehidupan gereja. Kemudian disajikan beberapa isu yang berkaitan dengan sakramen baptisan dan ditutup dengan kesimpulan.
II. Sakramen Baptisan
A. Pengertian Sakramen
Menurut definisi Webster New Collegiate Dictionary, sakramen adalah salah satu ritus agamawi yang khusus dalam ritus-ritus Kristiani yang menunjuk kepada tradisi yang ditetapkan dan diakui oleh Kristus. Gereja Katolik mengakui 7 sakramen, yaitu: baptisan, penguatan iman, ekaristi (perjamuan kudus), pengakuan dosa, peminyakan, penahbisan iman atau imamat dan perkawinan. Gereja Protestan mengakui 2 sakramen, yaitu baptisan dan perjamuan kudus.
Istilah sakramen berasal dari kata sacramentum dalam bahasa Latin, yang merupakan terjemahan dari kata mysterion dalam bahasa Yunani yang berarti “misteri” atau “rahasia”, yang menunjuk kepada rencana Allah untuk menyelamatkan bangsa-bangsa di dalam Kristus. Gereja awal mengkaitkan “misteri” dari karya penyelamatan dalam Kristus dengan sakramen baptisan dan perjamuan kudus. Ke dua sakramen ini didasarkan perintah Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Ia naik ke sorga: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Matius 28:19,20). Dan berdasarkan perintahNya pada perjamuan Paskah pada malam hari sebelum Ia disalibkan, setelah memecah-mecahkan roti serta memberikannya kepada para murid pada Perjamuan Paskah: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Lukas 22:19).
Sakramen diadakan untuk meneguhkan iman kita kepada Tuhan, sebagai lambang yang nampak daripada kasih karunia Tuhan yang tidak kelihatan, sebagaimana dikemukakan oleh Peter Lombard dalam bukunya The Four Books of the Sentences sebagai berikut:
Sesuatu bisa disebut sakramen apabila ia menandakan kasih karunia Tuhan dan merupakan wujud dari suatu kasih karunia yang tidak nampak, yang mengandung gambaran dan keberadaan dari hal yang diwakilinya. Sakramen-sakramen dijadikan tradisi untuk tujuan penyucian, disamping menandakan sesuatu…Menjadikan sesuatu menjadi tradisi yang bertujuan untuk ungkapan simbolis semata-mata, menjadikannya tidak lebih dari sekedar tanda, dan bukan sakramen, seperti halnya korban-korban jasmaniah dan penyelenggaraan upacara-upacara dari Hukum Lama, yang tidak pernah bisa membenarkan orang-orang yang mengorbankannya.
Bahwa sakramen bukan sebagai tanda semata-mata, ditegaskan Harun Hadiwijono, sakramen adalah juga suatu meterai, yang berfungsi untuk meneguhkan janji-janji Allah agar supaya iman orang percaya dikokohkan. Baptisan sebagai sakramen, diyakini oleh Barth, bahwa “Kristus sendiri membuat baptisan-air berkuasa untuk pertobatan dan pengampunan dosa. Ia yang tidak memerlukan hal ini, namun menyerahkan diri-Nya untuk melakukan hal ini, dengan demikian menggerakkan apa yang terjadi di Golgota dan pada subuh Paskah, mengumumkan solidaritasnya dengan orang-orang berdosa. Baptisan dibuat menjadi perwujudan yang hidup dan ekspresif dari kematian dan kebangkitan Kristus yang memiliki nilai keimaman yang tinggi.” Namun Harun Hadiwijono mengatakan bahwa sakramen itu sendiri tidak mengandung di dalamnya kuasa, sakramen hanya menjadi sarana perantara bagi kuasa Allah melalui karya Roh Kudus untuk bekerja melalui tindakan sakramen tersebut.
Pandangan Gereja Protestan berbeda dengan Gereja Katolik mengenai ini. Menurut gereja Katolik, sakramen bekerja ex opere operato, yang artinya bekerja dengan perantaraan kerja yang dikerjakan, yaitu bahwa sakramen mengandung kuasa di dalamnya, sehingga tindakan pelayanan sakramen itu langsung membawa hasil, tidak tergantung kepada iman orang yang menerimanya. Sedangkan gereja-gereja Protestan berpandangan bahwa sakramen bekerja ex opere operantis, yang berarti bekerja karena iman orang yang menerimanya.
Apabila Baptisan diakui sebagai perwujudan sakramental dari tindakan penyelamatan Allah melalui karya Yesus Kristus, kita pertama-tama harus mencermati keseluruhan karya dan pelayanan Yesus untuk dapat menemukan maknanya.
B. Pengertian Baptisan
1. Ayat-ayat tentang Baptisan
1.1. Ayat-ayat yang berkaitan dengan baptisan di Perjanjian Lama
Baillie menafsirkan ada kaitan antara Roh Allah yang melayang-layang di atas permukaan air pada saat penciptaan (Kejadian 1:2), sehingga baptisan dengan Roh Kudus secara alamiah menggunakan air.
Rasul Paulus mengkaitkan kisah keluaran bangsa Israel menyeberangi laut yang terbelah dua dan tuntunan tiang awan dan tiang api selama pengembaraan di padang gurun (Keluaran 13:21-22; 14:15-22) sebagai baptisan Allah atas bangsa Israel dalam air dan awan (1 Korintus 10:1-2). Rasul Paulus mengatakan hal ini kepada jemaat Korintus dalam konteks sakramen baptisan sebagai tanda pertobatan dan percaya kepada Yesus Kristus dan menerima keselamatan-Nya, sebagaimana halnya baptisan dalam kisah keluaran merupakan persyaratan bagi pengikut Yesus. Dengan ini ia juga hendak mengkaitkan makna sakramen Baptisan dengan sakramen Perjamuan, bersamaan dengan sakramen Baptisan itu sebagaimana halnya bangsa Israel telah memakan makanan sorgawi, yaitu manna, dan minum minuman ilahi, yaitu air yang memancar dari batu karang setelah dipukul 2 kali oleh Musa (1 Korintus 10:3; Keluaran 17:6; Bilangan 20:11), maka orang-orang percaya memakan makanan dan minuman rohani roti dan anggur yang adalah tubuh dan darah Kristus dalam sakramen Perjamuan. Namun dalam ayat selanjutnya Paulus memperingatkan jemaat Korintus bahwa keikutsertaan dalam sakramen Baptisan maupun Perjamuan tidak menjadi jaminan untuk terhindar dari penghukuman Tuhan atas dosa-dosa kejahatan dan ketidaksetiaan mereka, sebab itu mereka harus senantiasa menjaga kekudusan dan ketaatan mereka (1 Korintus 10:5-13).
1.2. Ayat-ayat mengenai baptisan di Perjanjian Baru
a) Baptisan Yohanes
Baptisan Yohanes merupakan tanda pertobatan (Matius 3:11) dan pengampunan dosa (Matius 3:6;11; Lukas 3:3) dan sekaligus pengumuman prospek eskatologi mesianik untuk mempersiapkan jalan bagi Dia yang akan datang sesudah Yohanes, sebagaimana telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya sejak dahulu kala (Matius 3:3; Yesaya 62:10-11).
Yohanes tidak menyebut dirinya sendiri sebagai Pembaptis atas prakarsa dirinya sendiri, tetapi atas dasar perintah Allah, sebagaimana ia umumkan bahwa ia telah diutus untuk membaptis dengan air (Yohanes 1:33). Pertanyaan kritis orang-orang Farisi mengenai kualifikasinya untuk membaptis tidak membuatnya bergeming, ia malah menunjuk kepada Dia yang lebih besar, Mesias. Baptisan Yohanes langsung dikaitkan dengan kedatangan Mesias: “Untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, spaya Ia dinyatakan kepada Israel.” (Yohanes 1:31). Jadi ada hubungan yang dekat antara baptisan Yohanes dengan Kedatangan Kerajaan Allah, sebagaimana ia umumkan: “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Matius 1:31).
Yohanes menyatakan bahwa Dia akan datang lebih berkuasa dan mulia, sehingga membuka tali kasutnya pun ia tidak layak; dan ia juga menyatakan bahwa baptisannya pun berbeda, bila ia diutus untuk membaptis dengan air maka Dia yang akan datang akan membaptis dengan Roh Kudus dan api (Markus 1:7-8; Matius 3-11; Lukas 3:16; Yohanes 1:26-27, 33).
Dalam perdebatan antara Yesus dengan orang-orang Farisi mengenai sumber serta otoritas kuasa Yesus (Markus 11:30), Yesus bertanya balik kepada orang-orang Farisi dengan kuasa manakah Yohanes membaptis (Matius 21:23). Pertanyaan balik Yesus tidak dijawab oleh lawannya, karena dibalik itu ada pertimbangan. Jika dijawab dengan “dari sorga”, maka akan menimbulkan masalah atas ketidakpercayaan mereka, sedangan jika dijawab “dari manusia” akan menimbulkan konflik dengan orang banyak. Namun menurut penulis Injil, orang-orang yang memberikan dirinya dibaptis oleh Yohanes dibenarkan oleh Tuhan, sedangkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka, karena mereka tidak mau dibaptis oleh Yohanes (Lukas 7:30). Penolakan terhadap baptisan Yohanes dinyatakan sebagai penolakan terhadap kehendak Tuhan.
Latar Belakang Baptisan Yohanes
Latar belakang baptisan yang dilakukan oleh Yohanes di sungai Yordan berakar dari baptisan proselit yang ada dalam tradisi Yahudi yang terdiri dari ritus sunatan dan baptisan. Baptisan proselit merupakan persyaratan untuk masuk ke dalam masyarakat Yahudi khusus bagi orang-orang yang bukan keturunan bangsa Yahudi. Oscar Cullman mengatakan bahwa intisari daripada ritus tersebut bukanlah penerimaan seseorang masuk menjadi bangsa Yahudi namun penerimaan masuknya orang tersebut ke dalam perjanjian sebagai umat Allah yang mewarisi baik janji-janji maupun tanggungjawab-tanggungjawab sehubungan dengan perjanjian tersebut.
Baptisan yang dilakukan oleh Yohanes diberikan makna baru sebagai wujud pertobatan dan pengampunan dosa sebagai persiapan bagi kedatangan Tuhan. Baptisan kemudian dimaknai oleh jemaat Kristen mula-mula sebagai wujud pertobatan dan tanda percaya kepada Yesus, sehingga memperoleh pengampunan dosa, mendapat bagian dalam apa yang ditentukan bagi orang-orang dikuduskan dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu (Kisah Para Rasul 13:24; 19:4; 26:18,20). Sebab itulah ketika sida-sida orang Etiopia selesai mendengar pemberitaan Injil yang disampaikan oleh Filipus dan percaya, ia segera meminta agar dirinya dibaptis ketika melewati tempat yang berisi air (Kisah Para Rasul 8:35-38).
Baptisan Kristen pada gereja mula-mula dimaknai sebagai menggantikan baptisan proselit dalam tradisi Yahudi yang berupa sunatan lahiriah yang dilakukan oleh manusia, dengan sunatan rohani yang terdiri dari penanggalan tubuh yang berdosa, karena telah dikuburkan dalam baptisan dan dibangkitkan oleh kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Yesus dari kematian (Kolose 2:11-12). Rasul Paulus menentang peraturan yang mengharuskan orang-orang Kristen bukan Yahudi untuk disunat, “Jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu”, sebab di dalam Kristus sudah dilepaskan dari kewajiban hukum Taurat tersebut (Galatia 5:2).
Dalam perkembangan gereja, baptisan Kristen dimaknai sebagai inisiasi masuk ke dalam komunitas iman Kristen, tubuh Kristus yang adalah gereja, yang diberikan status baru. Aspek-aspek ini mencakup kebaharuan: hidup baru, nurani yang baru yang bersih, permulaan yang baru, hati yang baru, roh yang baru.
Sebagaimana halnya baptisan proselit adalah tanda menerima segala janji-janji sekaligus tanggungjawab sebagai umat perjanjian, maka baptisan Kristen adalah tanda penerimaan segala bentuk berkat yang dikaruniakan oleh Yesus Kristus kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya dan juga sekaligus menunjukkan kesediaan orang-orang percaya untuk memikul segala tanggungjawab serta resiko yang harus dihadapi sebagai orang-orang percaya, baptisan juga menandai kesediaan untuk meminum cawan-Nya (Markus 10:38).
b) Baptisan Yesus
Terlampir adalah perbandingan antara Injil-injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes sehubungan dengan baptisan Yesus. Dalam studi tentang Injil-injil Sinoptisi oleh para peneliti Perjanjian Baru, disepakati bahwa sumber utama adalah Injil Markus, para penulis Injil lainnya kemungkinan menafsirkan atau memodifikasi dari sumber utama tersebut.
Baptisan Yesus dengan Roh Kudus dan api
Di dalam perbandingan Injil-injil Sinoptisis ditemukan adanya perbedaan kutipan kata-kata Yohanes sehubungan dengan perbedaan baptisan air yang dilakukan dirinya dengan baptisan yang akan dilakukan oleh Yesus. Dalam Injil Markus disebutkan bahwa Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus (Markus 1:8), dalam Injil Yohanes (1:31) tidak diperinci, sedangkan dalam Injil Matius (3:11) dan Injil Lukas (3:16) disebutkan bahwa Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus dan api. Pada penampakan-Nya yang terakhir di tengah-tengah murid-muridNya setelah kebangkitan-Nya, Yesus menyuruh mereka menantikan janji Bapa seperti telah dikatakan oleh Yohanes Pembaptis, “Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus”, yang mengacu pada pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 1:4-5). Ia juga mengatakan bahwa mereka akan menerima kuasa dengan turunnya Roh Kudus ke atas mereka. Baptisan dengan ‘api’ menjadi jelas pada peristiwa pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta di mana lidah-lidah seperti nyala api bertebaran dari hinggap pada orang-orang percaya yang berkumpul dan mereka menjadi penuh dengan Roh Kudus dan mereka mulai berkata-kata dalam bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya (Kisah Para Rasul 12:3-4).
Baptisan Yesus memiliki arti penting karena ditulis dalam ke empat Injil Sinopsis (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes), sehingga ditafsirkan tidak hanya dimaksudkan untuk memberikan fakta historis namun juga untuk menunjukkan pentingnya aspek ini di dalam kehidupan Yesus Kristus dan juga menandai permulaan serta sekaligus akhir karya pelayanan-Nya di dunia dan permulaan karya-Nya di dalam kedudukan-Nya yang ditinggikan di sebelah kanan Allah Bapa setelah kebangkitan-Nya dan terangkat ke sorga (Kisah Para Rasul 1:21).
Sehubungan dengan pembaptisan Yesus oleh Yohanes, ada pertanyaan mengapa Yesus menyerahkan diri-Nya untuk dibaptis, padahal diyakini bahwa Ia tidak membutuhkan pertobatan. Hal ini juga dipertanyakan oleh Yohanes yang merasa tidak layak untuk membaptis Yesus. Namun jawaban Yesus, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah”, menurut Neville Clark disejajarkan dengan konsep Pelayan Yahweh yang dikenal oleh bangsa Yahudi. Peneguhan penerimaan misi dengan turunnya Roh Kudus dalam wujud merpati disejajarkan dengan pernyataan nubuatan nabi Yesaya bahwa mesias akan datang dari keturunan Daud (Yesaya 11:1) dan bahwa “Roh Tuhan akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan” (Yesaya 11:2), di mana Roh Tuhan ini ditafsirkan sebagai Roh Kudus. Sedangkan adanya Suara yang mengumumkan “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” disejajarkan dengan nubuatan nabi Yesaya “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa” (Yesaya 42:1) serta pernyataan mesianik dalam Mazmur 2, “Anak-Ku engkau! Engkau telah kuperanakkan pada hari ini” (Mazmur 2:7). Kesejajaran ini juga ditemukan dengan pernyataan Tuhan ketika mencobai Abraham, “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu” (Kejadian 22:1-2). Konsep mesias ini secara jelas dikaitkan dengan korban penebusan dosa, sebagaimana diungkapkan oleh Yohanes Pembaptis dalam seruannya, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29). Melalui ungkapan ini, penulis Injil berusaha mengkaitkan permulaan pelayanan-Nya dengan kematian Yesus di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia.
Yesus mengkaitkan “baptisan” yang harus Ia terima dengan “cawan” yang harus diminum-Nya, sebagaimana dikatakan-Nya, “Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima” (Markus 10:38). Hal ini dikatakan Yesus ketika Yakobus dan Yohanes memohon kedudukan istimewa di sebelah kanan dan di sebelah kiri Yesus di dalam kemuliaan-Nya kelak. Dengan ungkapan itu, Yesus hendak menyatakan bahwa kemuliaan yang ada pada-Nya berkaitan dengan misi yang diemban-Nya, yang harus dipertimbangkan oleh mereka yang ingin memiliki kedudukan istimewa itu. Bahwa cawan adalah misi yang harus Ia pikul juga tersirat dalam perkataan Yesus ketika menyuruh Petrus menyarungkan pedangnya kembali saat penangkapan-Nya di taman Getsemane dengan mengkaitkan penangkapan-Nya itu dengan cawan dari Bapa yang harus Ia minum, atau misi dari Bapa yang harus dipikul-Nya (Yohanes 18:11). Menurut Harun Hadiwijono, “baptisan” yang harus diterima sebenarnya sama dengan “cawan” yang harus diminum, dan dari doa-Nya di Getsemani diketahui bahwa misi-Nya adalah kesengsaraan dan kematian-Nya di kayu salib yang mendatangkan pengampunan dosa.
Misi yang berkaitan dengan kematian-Nya di kayu salib untuk sudah disampaikan secara tidak langsung dalam perumpamaan tentang anak terkasih ahli waris tuan kebun anggur yang diutus oleh bapanya untuk menemui penggarap-penggarap kebun anggur namun dibunuh oleh penggarap-penggarap tersebut (Lukas 20:13). Bahwa Yesus dipenuhi dengan hasrat untuk menunaikan misi yang diberikan oleh Bapa, tersirat dalam ucapannya, “Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hatiKu, sebelum hal itu berlangsung!” (Lukas 12:50; Yohanes 5:30; 6:38). Robert S. Paul mengemukakan bahwa pemakaian gambaran sakramental cawan dan baptisan secara bersamaan dalam ayat-ayat di atas menunjuk dengan jelas kepada Salib dan semangat (passion) yang melandasi seluruh pengorbanan hidup-Nya yang akan mencapai klimaks dan penggenapan secara penuh dalam kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya.
Yesus sendiri tidak pernah membaptiskan orang dengan air pada masa kehidupan-Nya. Dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa Ia membaptis banyak orang (Yohanes 3:23,26; 4:1), tapi bukan Dia sendiri yang membaptis, melainkan murid-murid-Nya (Yohanes 4:2). Harun Hadiwijono mengemukakan bahwa kematian-Nya di kayu salib adalah baptisan-Nya yang sejati, di mana Yesus tidak membaptis sejumlah orang melainkan seluruh umat manusia melalui kematian-Nya.
Perintah Yesus kepada murid-murid-Nya untuk membaptis
Dalam akhir Injil Matius, Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk “menjadikan semua bangsa menjadi murid-Nya” (menurut versi LAI) atau untuk “mengajar semua bangsa” (menurut versi King James) dan secara spesifik untuk membaptis dalam nama-Nya dan dalam nama Bapa dan Roh Kudus (Matius 28:19), di mana perintah untuk membaptis didahului dengan perintah untuk mengajarkan segala sesuatu yang telah diperintah-Nya dan diakhiri dengan janji penyertaan-Nya di dalam mereka melakukan misinya. Ayat ini yang mendasari kegiatan penginjilan di seluruh dunia dan pelaksanaan sakramen baptisan bagi orang-orang yang percaya kepada Injil itu. Ayat ini juga yang mendasari sakramen baptisan didahului dengan pengajaran kehidupan iman Kristiani. Dan dalam gereja yang melakukan baptisan anak, maka anak tersebut juga dididik dalam iman Kristiani agar pada saat dewasa dapat mengaku percaya atas kehendaknya sendiri. Namun dalam akhir Injil Lukas hanya disebutkan perintah untuk memberitakan tentang pertobatan dan pengampunan dosa dalam nama-Nya kepada segala bangsa, tanpa menyebutkan kata “baptisan” (Lukas 24:47). Pada akhir Injil Markus, dikisahkan beberapa penampakan diri Yesus setelah kebangkitan-Nya. Dalam penampakan-Nya yang terakhir sebelum terangkat ke sorga, Yesus mengecam ketidakpercayaan beberapa orang murid-Nya yang tidak percaya pada kesaksian orang-orang yang telah melihatnya karena tidak melihatnya sendiri, lalu memerintahkan murid-murid-Nya untuk pergi memberitakan Injil kepada segala mahluk ke seluruh dunia. Ia mengatakan bahwa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi yang tidak percaya akan dihukum (Markus 16:16). Ayat ini yang menggerakkan penginjilan ke seluruh penjuru dunia, di mana setiap pertobatan dan pengakuan terhadap Yesus Kristus ditandai dengan baptisan.
c) Pandangan Paulus tentang Baptisan
Rasul Paulus membaptis sangat sedikit orang, seperti tersirat dalam pernyataannya bahwa Kristus tidak mengutusnya untuk membaptis, namun untuk menyampaikan Injil (1 Korintus 1:17). Pernyataan ini bisa memberikan implikasi bahwa baptisan hanya memiliki nilai simbolis pada orang percaya. Namun bahwa rasul Paulus menekankan pentingnya baptisan, tersirat dalam suratnya kepada jemaat mula-mula di Korintus, di mana ia mengingatkan pembacanya bahwa kerajaan Allah bukan untuk penyembah berhala, orang-orang asusila, pencuri atau pemabuk, seperti beberapa orang di antara mereka sebelumnya. “Karena kamu telah memberi dirimu disucikan, dikuduskan dan dibenarkan di dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita” (1 Korintus 6:11). Ungkapan ini didasarkan kisah pertobatan rasul Paulus sendiri di mana ia mendengar suara Tuhan, dipulihkan dan dibenarkan kemudian “bangun dan dibaptis” (Kisah Para Rasul 9:6). H.T. Andrews dalam The Church and the Sacraments mengatakan bahwa kisah ini menunjukkan bahwa rasul Paulus melihat baptisan tidak sekedar sebagai simbolis semata-mata . Ia juga menunjukkan bahwa tradisi baptisan untuk orang mati pada zaman Paulus seperti diungkapkan dalam surat rasul Paulus kepada jemaat di Korintus: “Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal?” (1 Korintus 15:29), tidak mungkin dipraktekkan apabila tidak dilatarbelakangi keyakinan bahwa baptisan mengandung kuasa rohani yang tidak bisa diperoleh dengan cara lain. Ini juga tercermin dalam surat kepada jemaat di Efesus di mana Paulus menasehati untuk “memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua“ (Efesus 4:3-6). Andrew menegaskan bahwa Paulus memberikan baptisan kedudukan yang sangat penting dalam perkembangan rohani seperti tertuang dalam tulisannya kepada jemaat di Efesus di mana ia berkata-kata tentang Kristus yang mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa dengan itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela (Efesus 5:26).
d) Baptisan sebagai tanda
Baptisan merupakan tanda atau gambaran serta alat kasih karunia yang membasuh atau menyucikan dosa, ditunjukkan oleh ayat-ayat berikut. Dibaptis dalam Kristus berarti dibaptis dalam kematian-Nya, turut dikuburkan dalam kematian dan dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa seperti Kristus, dan hidup dalam hidup baru bagi Allah dalam Kristus (Roma 6:3-11). Baptisan juga disebut pemandian air yang menguduskan (Efesus 5:26), sehingga orang yang dibaptiskan adalah orang yang telah disucikan, dikuduskan dan dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah (1 Korintus 6:11). Juga disebutkan bahwa kita diselamatkan oleh rahmat-Nya melalui pemandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Titus 3:5).
Baptisan mempersatukan orang-orang yang beriman di dalam Yesus Kristus, dibaptis dalam Kristus berarti telah menjadi satu dengan Kristus, yang dikiaskan sebagai “mengenakan Kristus”, sehingga berhak untuk menerima janji Allah (Galatia 3:26-29). Dalam nasehatnya kepada jemaat di Efesus, rasul Paulus memberikan nasehat untuk memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua (Efesus 4:3-7)
C. Isu-isu Seputar Sakramen Baptisan
a) Penggunaan air dalam baptisan
Baptisan selalu dikaitkan dengan penggunaan air, sebagaimana dikatakan dalam ayat-ayat berikut:
Yohanes 3:23
23Akan tetapi Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis …
Kisah Para Rasul 8:34-39
34Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: “Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?” 35Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia membicarakan Injil Yesus kepadanya. 36Mereka melanjutkan perjalan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya jika aku dibaptis?” [37Sahut Filipus: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: “Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”] 38Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia.
b) Baptisan Yohanes dan Baptisan Yesus
Baptisan Yohanes adalah untuk situasi khusus dan kritis sebagai baptisan untuk pengampunan dosa (Markus 1:4): “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” Peristiwa ini mencerminkan tingkat keseriusan yang mutlak mengenai eskatologis, seperti jelas dalam perkataan Yohanes yang keras kepada orang-orang Farisi: “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan” (Matius 3:7,8).
Maksud daripada baptisan Yohanes adalah untuk menobatkan perubahan yang radikal, pertobatan yang radikal, transformasi hidup dari dalam diri, pengakuan dosa dalam terang Kerajaan yang akan datang. Jalan di mana Yohanes harus merintis untuk kedatangan Mesisas adalah jalam melalui padang gurun – suatu jalan pertobatan. Semua karya Yohanes menunjuk kepada kedatangan Raja, seorang Raja yang berdiri di pusat dari kegiatan baptisan Yohanes. Kotbah dan baptisan Yohanes ditujukan dan dipersiapkan bagi Mesias yang akan datang, sebagai kesaksian bagi Dia yang sekarang datang, Domba Allah, kesaksian bagi Dia yang datang sesudahnya, tetapi yang sudah ada sebelum ia ada (Yohanes 1:15).
Yesus sendiri tidak membaptis selama masa pelayanan-Nya, dikatakan bahwa murid-murid-Nya lah yang membaptis, meskipun Ia mengutus murid-murid-Nya untuk membaptis dalam nama-Nya, dan dalam nama Bapa dan Roh Kudus (Matius 28:19). Ada beberapa penafsiran mengenai mengapa Yesus tidak membaptis dan apa yang dimaksudkan oleh Yohanes Pembaptis bahwa ia membaptis dengan air namun Yesus Kristus (mesias) akan membaptis dengan Roh dan api. Salah satu penafsiran alasan mengapa Yesus sendiri tidak membaptis, menurut Robert S. Paul, adalah karena Yesus menunggu untuk menyatakan makna sakramen baptisan yang sesungguhnya di dalam pengorbanan kematian-Nya di kayu salib untuk menanggung dosa dunia dan kebangkitan-Nya atas kuasa maut untuk memberikan kehidupan baru bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Hal ini ditegaskan oleh Bishop Hicks yang mengatakan bahwa Yesus baru mulai mengucapkan kata-kata yang berhubungan dengan pengorbanan-Nya sejak perjamuan terakhir dengan murid-murid-Nya, ketika Ia melihat jalan ke depan sudah terbentang dan sudah siap untuk melaluinya hingga akhir, sebagai petunjuk yang jelas untuk memberikan pemahaman mengenai sakramen Baptisan dan Perjamuan Kudus di dalam kehidupan gereja. Ada juga yang menafsirkan ucapan Yesus dalam ayat-ayat terakhir Injil Matius (Matius 28:18-20), yang berisi amanat Yesus kepada para murid-Nya untuk membaptis, merupakan kata-kata yang ditambahkan oleh penulis Injil ke mulut Yesus yang telah dimuliakan. Perintah ini diberikan setelah Paskah, kemungkinan karena baru setelah Paskah gereja mula-mula diharapkan dapat mengerti maknanya, dan Sakramen baru mulai diterapkan oleh Gereja setelah peristiwa Penyaliban, Paskah dan Pentakosta dapat memberikan pengertian secara penuh mengenai hakekat Sakramen tersebut. Cullman menafsirkan bahwa Penyaliban Kristus merupakan “baptisan umum” yang dilakukan oleh Kristus demi kita, namun Robert S. Paul menyanggahnya karena penafsiran yang demikian dapat mengurangi arti seluruh aspek karya keselamatan Kristus yang tidak hanya mencakup aspek Penyaliban itu semata-mata.
Banyak penafsir membedakan antara baptisan Yohanes dengan baptisan Yesus. Baptisan Yohanes dianggap lebih rendah daripada baptisan Yesus karena tidak mengandung kasih karunia seperti halnya baptisan Yesus. Ada yang menafsirkan bahwa kontras ini dinyatakan oleh Alkitab sendiri di mana Yohanes mengatakan bahwa ia membaptis dengan air sedangkan Kristus akan datang untuk membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api (Markus 1:8), sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat di halaman berikut ini:
Kisah Para Rasul 1:5
5Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.
5For John truly baptized with water; but you shall be baptized with the Ho’ly Ghost not many days from here.
Kisah Para Rasul 1:8
8Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria sampai ke ujung bumi.
8But you shall receive power, after that the Ho’ly Ghost is come upon you; and you shall be witness to Me both in Je-ru’sa-lem, and in all Ju-dae’a, and in Sa-ma’ri-a, and to the uttermost part of the earth.
Kisah Para Rasul 2:38
38Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus…”
38Then Pe’ter said to them, Repent and be baptized every one of you in the name of Je’sus Christ for the remission of sins, and you shall receive the gift of the Ho’ly Ghost.
Bertitik tolak dari ini muncul tafsiran perbedaan antara baptisan dengan air dan baptisan dengan Roh Kudus. Baptisan Yohanes bukanlah sakramen yang sungguh-sungguh, tetapi persiapan untuk baptisan yang sungguh-sungguh, yang akan datang dan digenapi dalam kematian Kristus. Yohanes tidak bisa menjamin kesahihan baptisannya, tapi hanya bisa mempersiapkan jalan bagi baptisan yang sahih yang sejati, yang bisa didapatkan dari Mesias. “Pengampunan tidak bisa dikaruniakan atau berlaku melalui baptisan Yohanes, karena hanya dengan kedatangan Kristus akan dicurahkan bersama-sama dengan karunia Roh Kudus.”
Namun ada tafsiran lain yang berpendapat bahwa tidak ada perbedaan antara baptisan Yohanes dengan baptisan Yesus, perbedaan adalah antara baptisan Yohanes dengan pencurahan Roh Kudus pada Pentakosta.
c) Baptisan anak
Tidak ada ayat khusus yang menunjuk kepada baptisan anak. Baptisan anak diperuntukkan bagi anak-anak dari pasangan orangtua Kristen yang ingin anak-anaknya bertumbuh dalam iman Kristen, dan baptisan anak menandai penyerahan anak itu untuk dibimbing dalam iman Kristen.
Dalam Perjanjian Baru di Kisah Para Rasul, ketika seseorang menjadi Kristen, maka seisi anggota rumah tangganya ikut dibaptis di samping dirinya sendiri. Seperti halnya inisiasi orang kafir untuk masuk ke dalam agama komunitas Yahudi dilakukan melalui sunatan dan baptisan proselit bagi seluruh anggota keluarganya, maka dianggap wajar apabila orang Kristen, sebagai Israel baru, untuk membaptiskan anak-anaknya bahkan sejak bayi untuk ikut masuk dalam komunitas iman Kristen.
Baptisan anak tersirat dalam 1 Korintus 7:14 “Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak kudus”.
III. Kesimpulan
Hampir semua gereja melakukan baptisan secara resmi; namun seringkali ada perbedaan pendapat serta penekanan mengenai maknanya sehubungan baptisan anak-anak, hubungan baptisan dengan peneguhan sidi, cara baptisan (selam, percikan), baptisan air dan baptisan Roh Kudus. Misalnya gereja Baptis menekankan baptisan menandai titik tolak yang momental pada kehidupan rohani orang beriman secara pribadi, sedangkan gereja Pentakosta menekankan sekali baptisan roh.
Pengajaran Alkitab mengenai sakramen baptisan di Perjanjian Baru sangat sedikit dan tidak langsung, sehingga menimbulkan banyak kontroversi mengenai maknanya. Ada banyak pertanyaan exegesis yang tidak dapat dijawab dengan pasti. Oleh karena itu rekonstruksi dari teologi sakramen baptisan harus didasarkan atas pemahaman yang lebih mendalam mengenai keseluruhan pesan Kristiani di dalam Perjanjian Baru.
Daftar Pustaka
2001 Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia)
The King James Bible, Red Lettered, Special Margin Edition
1999 (Palm Beach:The Publisher)
Webster New Collegiate Dictionary
1956 (Springfield: G. & C. Merriam CO. Publishers)
Baillie, Donald M. Baillie
MCMLVII The Theology of The Sacraments
(London: Faber and Faber, mcmlvii)
Berkouwer, G.C.
1969 The Sacraments
diterjemahkan oleh Hugo Bekker dari edisi berbahasa Belanda,
De Sacramenten
(Grand Rapids : Wm. B. Eerdmans Publishing Co.)
Hadiwijono, Harun
2003 Iman Kristen
(Jakarta: BPK Gunung Mulia)
McGrath, Alister E.
1977 Chrstian Theology, An Introduction
(Cambridge: Blackwell Publishers, 2nd edition)
Paul, Robert S. Paul
MCNLX The Atonement and the Sacraments
(New York: Abingdon Press, MCMLX)
Subagjo, Meno
2005 Sakramen Perjamuan dan Kitab Suci Ibrani
(Yogyakarta: makalah yang diberikan di kelas Studi Pengantar Alkitab Program Magister Divinitas, Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana, semester Gasal 2005)
TEOLOGI
iya nih… banyak sekali tentang kontroversi mengenai baptisan, mulai dari baptisan percik di katolik dan protestan aliran lutheran, anglican, presbyterian dengan baptisan selam di bethany dan baptisan roh di pentakosta… terkadang yang saya prihatin, banyak gembala sidang sendiri yang mengatakan bahwa baptis A tidak sah karena percik, dan banyak yang lain lagi. Sedangkan di satu pihak menyatakan bahwa baptisan hanya satu kali dalam seumur hidupmu. Kebingungan baptisan ini yang membuat orang jadi bertanya2 yang mana yang harus diikuti? Gembala Sidang beberapa gereja yang saya kunjungi ada yang menjelek2kan gereja lain masalah baptisan. Sungguh prihatin…
Comment by jimy — December 20, 2007 @ 5:58 am
Saya rasa kita tidak perlu bingung. Persoalannya sederhana:
1. Kalau yg menjadi inti adalah “Makna” baptisan, maka dibaptis dengan cara apapun (entah selam, percik, bendera dll) tidak akan menjadi masalah.
2. Kalau yg menjadi inti adalah apa yg Alkitab ajarkan dan juga tradisi gereja mula-mula mengenai Baptisan, maka harus diakui secara jujur bahwa baptisan pada masa itu adalah dengan cara “baptisan selam”. Kata “baptis” berasal dr bhs Yunani “Baptizo” yg artinya diselamkan, dicelupkan ke air.
Perlu diingat, sejarah mencatat baptisan percik baru mulai ada kira2 tahun 380an..sejak keluarnya keputusan Kaisar Romawi Theodosius Agung bahwa “Agama Kekaisaran Romawi adalah agama Kristen”. Keputusan itu membuat seluruh rakyat dijadikan Kristen dan terjadilah baptisan massal. Sikon waktu itu membuat baptisan selam tdk efektif (krn byknya orang), jadi demi alasan praktis, maka org2 tersebut “dipercik”. Dari sinilah lahir tradisi baptisan percik. (Referensi ttg asal mula baptisan percik: http://bobbybutarbutar.wordpress.com/2008/06/17/asal-mula-baptisan-percik/)
Comment by Bobby — July 31, 2008 @ 8:39 pm
mengenai macam-macam baptisan yang ada di dalam gereja percik dan selam memang permasalahan yang cukup rumit dan seringkali menimbulkan perpecahan. untuk memahami arti atau makna serta praktik dari baptisan, kita harus selalu kembali kepada Alkitab sebagai standar otoritas tertinggi. kalau kita belajar teologi biblika, tentunya kita akan berbesar hati dan penuh kerendahan hati untuk melakukan baptisan selam seperti yang tercatat dalam Alkitab dan bukan berdasarkan sejarah yang tidak ada dalam Alkitab.
Comment by erwin — October 27, 2008 @ 11:37 pm
mengenai macam-macam baptisan yang ada di dalam gereja percik dan selam memang permasalahan yang cukup rumit dan seringkali menimbulkan perpecahan. untuk memahami arti atau makna serta praktik dari baptisan, kita harus selalu kembali kepada Alkitab sebagai standar otoritas tertinggi. kalau kita belajar teologi biblika, tentunya kita akan berbesar hati dan penuh kerendahan hati untuk melakukan baptisan selam seperti yang tercatat dalam Alkitab dan bukan berdasarkan sejarah yang tidak ada dalam Alkitab. untuk itulah belajar teologi, untuk mereformasi doktrin yang ada, bahkan bila perlu merubahnya. Alkitab tidak mungkin salah, tetapi doktrin bisa salah. beranilah merubah meskipun diperhadapkan dengan resiko.
Comment by erwin — October 27, 2008 @ 11:45 pm
Memang sebenarnya pemahaman arti kata Baptizo ialah dibenamkan dalam air, dibilas, dikucur dengan air, dipercik (sprinkle). Dan bila memang gereja mula-mula menjalankan baptisan selam dan kemudian baru sekitar tahun 380 diganti percik karena alasan praktis, buat pemahaman iman saya pribadi bobotnya tidak bergeser selama mendasari semuanya itu pada nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Tuhan pakai air itu menjadi sarana pemulihan dan pengudusan dari segala dosa dan kenajisan manusia sampai keakar-akarnya. Karena air tidak dapat memulihkan hanya kuasa Yesus. Ini pengalaman saya pribadi selaku hamba Tuhan, ketika merenung di depan seorang calon jemaat yang sedang sekarat tapi rindu untuk menerima Yesus dan bersedia dibaptiskan. Apakah dia dipaksa harus dengan selam baru bisa selamat ataukah cukup dengan tanda air di keningnya (alias baptis “percik”) saja? Bukankah yang menyelamatkan ialah iman percaya kepada Yesus dan pengakuan pribadinya, bahwa Yesuslah satu-satunya Juruselamat secara pribadi juga dan bukan berkutat dengan pertengkaran yang bersikukuh oleh kelompok tertentu untuk harus melaksanakan baptisan selam sesuai Alkitab dan bukan berdasarkan sejarah yang tidak ada dalam Alkitab? Semoga kita semua diberi kedamaian dan keteduhan dan hikmat-Nya yang besar. Dimuliakanlah Nama-Nya! Amin
Comment by Peter Then — January 5, 2009 @ 8:01 pm