Manfaat Teknologi - Mengusulkan Suatu Epistemologis yang Relevan Bagi Pemanfaatan teknologi di Indonesia
Oleh : Sefnat A. Hontong
Kategori: Pilihan Dosen,
1. Pengantar
Makalah ini secara khusus menyoroti
salah satu bidang kehidupan manusia yang sangat besar pengaruhnya dalam
perubahan zaman bahkan perubahan struktur dan kebudayaan bangsa-bangsa di dunia
ini, yaitu bidang “Teknologi”. Kajian dalam bidang ini menurut saya
adalah sangat penting, namun kadang-kala kurang mendapat perhatian khusus dalam
banyak analisis. Padahal kalau kita
berbicara tentang masalah ilmu dan pengetahuan, maka sebetulnya hal itu tidak
akan pernah lepas dari pembicaraan tentang teknologi. Apalagi akibat dari masa pencerahan pada abad
ke-16, justru telah melahirkan segenap kecenderungan manusia untuk memanfaatkan ilmu dan pengetahunnya demi
pertumbuhan dan perkembangan teknologi. Maka kajian terhadap teknologi adalah
hal yang berhubungan erat dengan ilmu
dan pengetahuan.
Secara filosofis, kajian
terhadap teknologi di Indonesia, dalam modus dan sasaran filsafat ilmu sosial
dan teologi sebagaimana termaktub dalam silabus matakuliah “Filsafat Ilmu
Sosial dan Teologi” dalam PPST-UKDW Jogjakarta semester gasal 2006 adalah:
bagaimana teknologi ini telah hadir dan mempengaruhi suatu realitas dan
komunitas di Indonesia? Apa yang telah
diberikan oleh teknologi terhadap penghayatan hidup bersama di Indonesia dan
bagaimana masyarakat di Indonesia menanggapi kehadiran teknologi itu? Seberapa besarkah hubungan dan ketergantungan
masyarakat di Indonesia terhadap teknologi? Apakah ada kecenderungan untuk memutlakkan teknologi itu dalam suatu
penghayatan kebenaran epistemologis dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia? Ataukah sebaliknya, justru teknologilah yang
telah mempengaruhi dan membentuk suatu penghayatan kebenaran secara
epistmologis bagi religiositas kehidupan masyaratakat di Indonesia? Adakah suatu unsur-unsur kebenaran
epistemologis dalam teknologi itu? Sehingga masyarakat begitu mempercayainya? Apa dampak sebuah kajian tentang teknologi
terhadap pemahaman tentang kebenaran epistemologis? Demikianlah pertanyaan-pertanyaan
seperti itu akan menjadi dasar dalam uraian makalah ini.
2. Apa itu Teknologi?
Pada umumnya orang selalu memahami
bahwa teknologi itu bersifat fisik, yakni yang dapat dilihat secara
inderawi. Teknologi dalam arti ini dapat
diketahui melalui barang-barang, benda-benda, atau alat-alat yang berhasil
dibuat oleh manusia untuk memudahkan dan menggampangkan
realisasi hidupnya di dalam dunia. Hal
mana juga memperlihatkan tentang wujud dari karya cipta dan karya seni (Yunani techne) manusia selaku homo technicus. Dari sini muncullah istilah “teknologi”, yang berarti ilmu yang
mempelajari tentang “techne”
manusia.
Tetapi pemahaman seperti itu baru
memperlihatkan satu segi saja dari kandungan kata “teknologi”. Menurut saya istilah teknologi sebenarnya
lebih dari sekedar penciptaan barang, benda atau alat dari manusia selaku homo technicus atau homo faber. Teknologi
bahkan telah menjadi suatu sistem atau struktur dalam eksistensi manusia di
dalam dunia. Ia (teknologi) bukan lagi sekedar sebagai suatu hasil dari daya cipta
yang ada dalam kemampuan dan keunggulan manusia, tetapi ia bahkan telah menjadi suatu “daya
pencipta” yang berdiri di luar kemampuan manusia, yang pada gilirannya kemudian
membentuk dan menciptakan suatu komunitas manusia yang lain.
Awalnya teknologi dapat dipahami sebagai hasil buatan manusia,
tetapi kini teknologi juga harus
dipahami sebagai sesuatu yang dapat menghasilkan suatu kemanusiaan
tertentu. Teknologi bukan lagi sebagai “barang’, tetapi telah menjadi semacam “ke-barang-an” yang mampu melahirkan
sejumlah cara hidup, pola hidup, dan karakter hidup dari manusia, yang dulu
menciptakannya. Demikianlah teknologi tidak hadir lagi secara
fisik-inderawi dalam barang atau benda atau alat, melainkan telah hadir dalam
bentuk sebagai suatu “roh” zaman, sistem sosial dan struktur masyarakat manusia
dalam suatu komunitas. Meminjam istilah
Mangunwijaya, maka teknologi telah menjadi “tuan”
yang memperbudak, “raja’ yang otonom
dan totaliter, bahkan “dewa” yang
menuntut pengorbanan dari manusia.[1]
Dalam pemahaman seperti itu, maka
teknologi jangan dianggap sebagai suatu pokok yang enteng atau gampangan, melainkan ia harus dipandang sebagai suatu
pokok yang serius dan bahkan harus
mengundang suatu kreativitas pengkajian yang lebih cermat, dalam dan kritis,
baik secara filosofis maupun teologis. Dalam arti bahwa teknologi juga adalah
persoalannya manusia dan dunia ini.
Dengan orientasi
pemahaman seperti itu, kita juga dapat mengerti bahwa teknologi sebenarnya
bukanlah suatu pokok atau tema yang parsial
sifatnya, melainkan adalah sesuatu yang total
dan menyeluruh. Dapat dikatakan
bahwa teknologi sesungguhnya adalah tema atau pokok yang universal dan
global. Pemahaman atau pemaknaan
terhadapnya tidak dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan
pendekatan-pendekatan lokal tradisional sebagai yang adi-luhung, suci dan bersih, lalu memandang teknologi sebagai
sesuatu yang dari luar (keBarat-Baratan),
kotor dan jahat, melainkan memerlukan suatu pendekatan yang melibatkan seluruh
bangsa dan masyarakat manusia untuk
berbicara bersama. Pendekatan seperti
ini adalah begitu penting, mengingat bahwa teknologi selain mempunyai
manfaatnya bagi manusia, ia juga punya dampak-dampak yang merugikan keberadaan
manusia. Dan baik manfaat dan maupun kerugian itu, juga bukan hanya menjadi
bagiannya masyarakat kemana teknologi itu dimanfaatkan, tetapi juga dialami
oleh masyarakat dimana teknologi itu dimulai (dihasilkan atau di’cipta’kan). Jadi sesungguhnya, teknologi itu adalah tema-nya dan pokok-nya
masyarakat global.
Penekanan teknologi
sebagai suatu pokok secara global, sebetulnya juga mengandung makna
historis. Dimana dengan terjadinya
revolusi industri yang meningkatkan keterkaitan antar bangsa di dunia, berbagai
teknologi ditemukan dan menjadi dasar bagi perkembangannya saat ini, seperti
computer dan internet. Pada saat itu
pula, berkembang secara bersama-sama pergeseran-pergeseran secara
kebudayaan. Dalam arti bahwa proses transferalisasi teknologi itu bukanlah
tanpa makna dan ide-ide tertentu, seperti dikatakan oleh Arnold J. Toynbee, dalam
Mangunwijaya:
“Transfer teknologi akan berarti juga transfer
sebuah totalitas kebudayaan satu ideologi pihak yang melahirkan teknologi
itu. Sebab kalau tidak maka sinar
kebudayaan yang lepas bagaikan elektron yang terlepas atau penyakit menular
yang tersesat”.[2]
Justru karena teknologi itu adalah
sebuah transferalisasi yang penuh
makna dan ide-ide tertentu, maka ia bukanlah sekedar barang atau benda atau
alat-alat belaka. Maka dari itu,
pemahaman terhadap teknologi, tidak bisa tidak harus membutuhkan suatu kajian
tentang makna-makna, ide-ide, dan simbol-simbol yang relevan. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa
teknologi sebenarnya adalah sebuah kebudayaan. Mengikuti Clifford Geertz, saya memahami bahwa kebudayaan adalah suatu
sistem simbol yang dengannya manusia dapat memberi makna bagi kehidupannya.[3] Ini berarti bahwa teknologi itu adalah wujud nyata dari simbol-simbol
kebudayaan manusia. Dimana dengan simbol
teknologi ini maka manusia dapat mengembangkan kehidupannya di dalam dunia.
Dari pemahaman seperti itu, maka
pendekatan terhadap teknologi juga dapat didekati secara kebudayaan. Tetapi
dalam pendekatan secara kebudayaan ini, perlu juga diwaspadai. Pada umumnya orang akan berpendapat bahwa
jika berbicara tentang kebudayaan, maka itu berarti ada kebudayaan ‘asli’ dan kebudayaan ‘asing’. Menurut saya, pemahaman seperti ini tidaklah
tepat. Sebab yang menghidupi suatu
tradisi atau kebudayaan itu adalah manusia, dan manusia yang menghidupi suatu
kebudayaan itu adalah manusia yang berhakekat sebagai makhluk sosial dan selalu berhubungan dengan orang-orang
lain dalam suatu realitas dan kebudayaan yang berbeda dengannya. Dalam hakekat seperti ini maka adalah sesuatu
yang mustahil untuk berbicara tentang adanya budaya ‘asli’ dan budaya ‘asing’. Yang tepat adalah membicarakan bahwa yang
terjadi dalam percakapan kebudayaan adalah “perjumpaan” kebudayaan. Dimana
dalam perjumpaan itu, baik budaya sendiri (bukan
yang asli) atau budaya orang lain (bukan
yang asing) sama-sama aktif dan proaktif dalam rangka saling membentuk dan
saling mempengaruhi. Dalam perjumpaan
itu tidak akan ada yang hilang atau musnah, malahan dibaharui secara baru.[4]
Dengan pemahaman seperti ini, maka
pendekatan terhadap teknologi di Indonesia dapat dikerjakan dengan beberapa
pendekatan sebagai berikut: Yang
Pertama: teknologi bukanlah masalah
kapitalisme atau sosialisme atau pancasialisme, melainkan adalah masalah
globalisme. Teknologi tidak harus
dipahami sebagai semacam perjuangan dan imperialisme kaum kapitalis terhadap
sejumlah ideologi yang ada, melainkan pertama-tama harus dipahami sebagai suatu
pokok atau tema globalisasi. Apalagi
kalau ia telah terhubung dengan Ilmu pengetahuan, Industri dan Bisnis (ITIB),
maka ia akan mempunyai suatu wujud wajah yang konkrit. Dimana ITIB mempunyai proses dan perangai
yang faktual sama, entah di olah di Amerika atau Eropa, Jepang, bahkan Cina
juga. Sebab walaupun sistem komunis itu
bertolak belakang dengan sistem kapitalis, tetapi itu hanya dalam sistem
politik saja. Walapun ideologi kapitalis
dan komunis itu diketahui saling bertentangan, tetapi tidak boleh lupa bahwa
cara-cara membuat mesin diesel,
menjahit pakaian massal serta penyediaan energi dalam proses dasarnya adalah
sama baik di Amerika ataupun di Cina. Jip Will’s maupun Gaz dipakai juga oleh Aangkatan Bersenjata Republik
Indonesia yang katanya adalah Pancasilais itu.[5]
Kedua: teknologi bukanlah asosiasi Barat-Timur atau negara maju dan negara
berkembang (belum maju), melainkan
adalah konkritisasi dari perwujudan cara berada manusia mulai dari Timur sampai
ke Barat, juga dari Utara sampai ke Selatan, yang didalamnya terdapat sejumlah
masyarakat yang dikatakan sudah maju maupun yang sedang berkembang (belum maju)
atau yang tradisional maupun yang
modern.[6] Artinya kalau teknologi itu dipahami sebagai wujud dari manusia selaku homo technicus atau homo faber dan
maupun sebagai suatu sistem dan struktur dalam suatu komunitas manusia, maka
bukankah itu juga adalah kondisi dan realitas manusia di seluruh dunia dari
dahulu sampai sekarang? Bukankah sebuah gerobak sapi di desa saya di Halmahera
dengan sebuah mobil di Jakarta milik
seorang pengusaha akan mempunyai fungsi dan manfaat yang terkondisikan menurut realitas dan kebutuhan serta cara
memanfaatkanya? Sebagai hasil dari teknologi manusia?
Ketiga: teknologi
harus ditanggapi dengan sikap yang kritis. Kata Mangunwijaya: “kita tidak perlu benci pada ITIB, tetapi
juga adalah tolol sekali bila ITIB sampai kita anggap selaku Dewi Sri terpuja
masa kini”.[7] Hal ini menunjukkan bahwa dalam menghadapi realitas teknologi, kita
perlu membangun atau memerlukan suatu sikap yang kritis. Pertanyaannya adalah: kritis terhadap apa? Dan bagaimana menjadi kritis? Untuk pertanyan
ini ada beberapa langkah yang dapat dikerjakan antara lain:
1). Aktif. Artinya dengan sikap
yang gamblang, paham perkaranya dan tahu apa yang harus diperbuat, bertanggung
jawab baik terhadap diri sendiri maupun juga kepada generasi yang akan
datang. Hal ini dimaksudkan sebagai suatu perumusan sikap dan strategi politik
teknologi yang arif. Hal mana sangat berdampak pada suatu technostructure
(struktur teknologi) yang berperangai sebagai kekuasaan, terutama melalui MNC (Multi National Corporation). Tetapi hal ini bukan hanya menjadi tugas dari
negara-negara yang sedang berkembang saja, melainkan menjadi tugas seluruh
bangsa di dunia ini dalam proses Kultur
und Zivilisation. Hal ini akan
ditunjang pula oleh kecenderungan dalam masyarakat post-modernis,
pasca-industrial yang memberi fokus terhadap segi-segi non-teknis. [8]
2). Melihat teknologi sebagai sesuatu yang tidak
netral. Teknologi itu tidak hanya berdampak positif,
melainkan juga negatif. Ia tidak statis
dan tanpa pengaruh, melainkan juga dapat menjadi suatu “kuasa” yang sulit
dikendalikan. Apalagi kalau dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan dan upaya benefit
belaka. Karena itu, maka hal yang perlu
dibuat adalah mengembangkan konsep teknologi yang sepadan, seperti yang
diusulkan oleh Isao Fujimoto, dalam
Mangunwijaya, yaitu dengan melakukan empat prinsip yang penting, antara lain:
Teknologi berdasarkan upaya swadaya dan tidak tergantung pada para ahli,
desentralisasi, kerja sama dan bukan
persaingan, sadar akan tanggung jawab sosial dan ekologis.[9]
3). Tanggung jawab moral dan etika. Hal ini
dimaksud untuk menanggapi seluruh dampak teknologi yang merugikan, dan bahkan
semua orang dan terutama para sarjana dipanggil untuk hal ini berdasarkan
akar-akar religiositas manusia sendiri, yang dalam iklim teknologi seolah-olah
telah hilang ditelan oleh sekularisme dan rasionalisme. Pertanyaannya adalah dari segi apa hal ini
dapat dikembangkan? Tiada lain adalah
melalui segi budaya berdasarkan proses kontekstualisasi. Terutama dengan memberi penghargaan kepada
orang-orang atau wadah-wadah gerakan yang sadar akan adanya bahaya teknologi
dan berupaya untuk menciptakan suatu
masyarakat yang mencita-citakan suatu paham konvivial
menurut konteksnya masing-masing. [10]
4). Menciptakan iklim yang relevan manusiawi
dengan pemahaman yang tepat tentang ilmu pengetahuan dan teknologi.[11] Dalam arti bahwa pemanfaatan sejumlah
teknologi haruslah menjamin suatu kelangsungan kehidupan. Teknologi dengan segala keunggulannya bukan
dipakai demi pengrusakan dan eksploitasi seluruh nagat ini, melainkan untuk
suatu pengolahan yang berkelanjutan.
Demikianlah
beberapa langkah yang dapat dikerjakan dalam pemanfaatan dan penggunaan ilmu
pengetahuan berikut teknologi yang diciptakannya. Di
sini kita diminta untuk benar-benar menjadi kritis dan betanggung jawab.
3. Makna Kebenaran Epistemologi dalam Teknologi
Secara manusiawi,
sebenarnya karya-karya teknologi yang telah dicapai hingga hari ini, telah
menunjukkan benar-benar bahwa itulah wujud konkritisasi dari salah satu hakekat manusia di dalam
dunia, yaitu selaku homo technicus. Tetapi hal ini bukan berarti bahwa
teknologi adalah satu-satunya wujud atau jawaban yang tepat dalam realiasi
kemanusiaannya sebagai manusia di dalam dunia ini. Sebab kalau kita perhatikan pada sisi yang
lain, terutama dari segi dampaknya teknologi itu., maka akan tergambar bahwa
ternyata perkembangan teknologi itu bukan tanpa masalah. Maka dari itu, kita juga perlu untuk memahami
dan memaknai satu sisi lain dari
wujud konkrit hakekat manusia di dalam dunia, yaitu bahwa manusia juga adalah homo morales yang bertanggung jawab
secara moral terhadap realitasnya sendiri.
Bagaimana hal ini dapat dikerjakan? Tiada lain selain membangun sikap yang kritis dan tanggap terhadap semua
perkembangan dan perubahan yang telah dicapainya sendiri selaku homo technicus di dalam dunia teknologi
itu. Inilah satu bentuk kesadaran
manusia yang perlu dikembangkan dan diolah dengan baik. Terutama kesadaran terhadap eksistensi
manusia dan segenap struktur yang melingkarinya dalam proses eksistensi itu. Sebab bagaimanapun juga antara tuntutan
perwujudan eksistensi dan pengaruh sebuah struktur dalam eksistensinya adalah
sangat kuat dalam membentuk ke-diri-an manusia. Kesadaran seperti ini
sebenarnya juga adalah suatu perwujudan dari hakekat manusia yang lain, yang jarang dipikirkan dan
diwujudkan orang, yakni kesadaran tentang hakekatnya sebaga homo morales.
Dalam hal ini kita
melihat tentang sebuah tanggung yang harus diemban oleh manusia dalam
eksistensinya. Bahkan perwujudan tugas dan
tanggung jawab ini sekaligus mengandung sikapnya yang kritis terhadap dirinya
sendiri. Seandainya hal ini sempat
dilupakan oleh manusia maka yang terjadi adalah ketidak-seimbangan dalam hidupnya. Perubahan dan perkembangan teknologi dalam realitas dunia hingga hari
ini dari satu segi, dengan jelas telah memperlihatkan ketidak-seimbangnya kemanusiaan itu. Ketidak-seimbangan ini bukan hanya menjadi
persoalan-persoalan di dunia Timur yang biasanya/umumnya dipahami, tetapi juga
adalah ketidak-seimbangannya dunia Barat. Maka pengkajian terhadapnya adalah
sangat penting dan mutlak perlu. Bukan
hanya untuk melihat sebuah persoalan dari ketidak-seimbangan
belaka, melainkan justru adalah sebuah panggilan dari hakekatnya manusia dalam
dunia, yang harus dikerjakan atau disengajakan
secara sistematis seperti halnya ia memperkembangkan teknologinya yang telah ia
alami dan capai ketika berperan sebagai homo technicus. Jadi baik selaku homo technicus ataupun homo morales adalah sama-sama hakekatnya
diri manusia dalam dunia ini, maka hal itu pula yang harus dikerjakannya dengan
baik. Bagaimana hal itu dapat
dikerjakan? Tiada lain, maka seperti technicus-nya manusia hadir dan
menghayatinya dalam sebuah sistem budaya, maka begitu pula morales-nya manusia harus dan dapat menghayatinya pula melalui budaya dalam konteksnya
masing-masing.
Pemahaman tentang
kontekstualisasi seperti ini akan sangat menolong kita untuk menjawab setiap
persoalan yang dapat ditimbulkan oleh teknologi. Artinya kalau teknologi itu terpaksa harus
menghadirkan sejumlah masalah dan persoalan dalam suatu komunitas manusia
tertentu, maka hal itu dapat pula ditanggapi menurut konteksnya suatu komunitas
tersebut, tanpa harus terjebak dalam sikap-sikap yang naif dan a-priori serta cenderung hanya
mempersalahkan orang atau budaya dan komunitas serta bangsa lain. Umumnya setiap budaya ataupun suatu komunitas
manusia akan mempunyai suatu akar persoalan yang berbeda dengan daerah yang
lain tetapi hal itu dapat dijawab menurut konteks masing-masing.
Dengan cara pandang
seperti ini, kita juga akan terhindar dari suatu pendekatan yang menggunakan
suatu tipologi umum untuk sejumlah
persoalan-persoalan realitas manusia. Masyarakat di Indonesia sekalipun punya
persoalan tentang teknologi, tetapi persoalan di Indonesia dengan pokok yang
satu ini belum tentu sama persisnya dengan yang dihadapi di Eropa atau di Arab. Maka pendekatan terhadap persoalan-persoalan itu, juga harus semestinya
berbeda dan tidak perlu sama. Walaupun
kita harus mengakui bahwa persoalan teknologi adalah persoalan secara global.
Inilah makna kebenaran
epistemologis dari realitas dan kajian tentang teknologi di Indonesia. Dengan kata lain, yang namanya kebenaran
epistemologis itu sangat ditentukan oleh suatu penghayatan dan cara pandang
dalam suatu konteks tertentu. Kebenaran
epistemologis ini tidak dapat menjadi sebuah kebenaran universal, sebab kalau
ini yang terjadi, maka akibatnya adalah setiap hubungan kemanusiaan dan
kebudayaan adalah saling menindas, menekan, menganggap sebagai yang ‘suci’ dan ‘kafir’, dan pada akhirnya
sebuah kebenaran epistemologis akan
menjadi sebuah ideologi yang radikal dan kejam.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Bahan Rujukan:
Adeney-Risakotta, B. (Ed), “Agama
dan Masyarakat; Kumpulan Bacaan Teori Sosial”.
Jogjakarta
. PPST-UKDW, tanpa tahun.
Geertz
C., “The Interpretation Of Culture”.
New York
. Basic Books, 1973.
Mangunwijaya, Y.B., “Pasca
Indonesia
Paca Einstein; Esei-esei Tentang Kebudayaan
Indonesia
Abad Ke-21”.
Jogjakarta
. Kanisius, 1999.
Bahan Bacaan:
Brunsvick Y.,& A. Danzin, “Lahirnya
Sebuah Peradaban; Goncangan Globalisasi”. Jogjakarta. Kanisius, 2005.
Grifin, D.R., “Tuhan & Agama
Dalam Dunia Postmoder”. Jogjakarta. Kanisius, 2005.
Habermas, J., (Terj.), “Ilmu Dan Teknologi Sebagai Ideologi”. Jakarta. LP3ES, 1990.
Hardiman, F.B., “Melampaui
Positivisme dan Modenitas; Diskursus Filosofis Tentang Metode Ilmuah dan
Problem Modernitas”. Jogjakarta. Kanisius, 2003.
Soetoprawiro K., “Bukan
Kapitalisme Bukan Sosialisme”. Jogjakarta. Kanisius, 2003.
[1] Y.B. Mangunwijaya, “Pasca
Indonesia
Pasca Einstein; Eseiesei Tentang
Kebudayaan
Indonesia
Abad ke-21”, (Jogjakarta,
Kanisius, 1999), Hlm. 119-124
[2] I b i d, Hlm. 139
[3] Clifford Geertz, “The Interpretation Of Culture”, (New York: Basic Books,
1973), p. 89.
[4] Lihat: Bernard Adeney-Risakotta, “Modernitas,
Agama dan Budaya Nenek Moyang; Suatu Model Masyarakat
Indonesia
”,
dalam Bernard Adeney-Risakotta (Ed), “Agama
Dan Masyarakat; Kumpulan Bacaan Teori Sosial”, (
Jogjakarta
:
PPST-UKDW, tanpa tahun), Hlm. 3-9.
[5] Y.B. Mangunwijaya, Op. Cit. Hlm. 121-123
[6] I b i d, Hlm. 132-136.
[7] I b I d, Hlm. 123-124
[8] I b I d . Hlm 126-133
[9] I b I
d. Hlm. 157
[10] I b I d, Hlm. 136-146
[11] I b I d Hlm. 148.
TEOLOGI
Wah… wah… Sepertinya bahasan rekan satu ini cukup menarik. Tetapi kalau diijinkan untuk mengkritisi, saya dapat memulainya dari Judul. Judul yang diangkat adalah MANFAAT TEKNOLOGI: Mengusulkan Suatu Epistemologis Yang Relevan Bagi Pemanfaatan Teknologi di Indonesia. Ada dua kata kunci di sini, yaitu “Manfaat” dan “Epistemologi”. Saya pikir, penulis belum memasukkan kategori Manfaat Teknologi ini pada bidang bahasan yang tepat. Mungkin sebaiknya bahasan ini diarahkan pada upaya penemuan Aksiologi yang relevan, karena ketika berbicara tetang Manfaat, maka akan berbicara tentang fungsi praksisnya di tengah masyarakat. Epistemologi Teknologi akan berbicara seputar Sumber-Sumber Pengetahuan yang melahirkan Teknologi, Watak Pengetahuan itu, Syarat-Syarat Yang Memungkinkan Pengetahuan itu ada, Bagaimana Cara Memperoleh Pengetahuan Itu (sarana dan metode pemerolehan pengetahuan yang melahirkan teknologi), Dasar-Dasar Kebenaran yang Membuat Pengetahuan tentang Teknologi Dapat Dipertanggungjawabkan Secara Nalar. Persoalan Negatif atau Tidak Teknologi, maka itu adalah urusan Aksiologi dalam hal ini lebih tepatnya Etika Teknologi. Saya mengusulkan buku bagus yang layak dibaca, yaitu ETHICS IN AN AGE OF TECHNOLOGY karangan Ian Barbour yang melihat bahwa ketika membicarakan manfaat teknologi maka ada 2 nilai yang patut diperhatikan, yaitu Nilai Kemanusiaan dan Nilai Lingkungan yang mendapatkan dasarnya dari Ilmu, Filsafat dan Agama.
Lebih dari itu, kita dapat berdiskusi lanjut tentang Filsafat Teknologi, mulai dari aspek Ontologi (hakekat) Teknologi, Epistemologi Teknologi dan Aksiologi Teknologi.
Comment by Nikolas — December 11, 2008 @ 10:52 pm