FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

April 30, 2007

Kesalehan yang Sesat (Matius 15 : 21-28)

Filed under: Tafsir — admin @ 6:29 pm

                                                                        Oleh Karya: Tri Harmaji

, Kategori: Pilihan dosen

Absrak

 Dalam narasi ini Yesus melayani orang Yahudi Palestina, tetapi tulisan
Injil ini ditujukan kepada orang Yahudi diaspora. Dalam narasi ini Yesus
berkata bahwa Ia diutus hanya kepada domba yang hilang dari umat Israel.
Pertanyaanya adalah; “siapakan yang dimaksud Yesus sebagai yang hilang itu?dan
selanjutnya juga siapa yang dimaksud sebagai yang tidak hilang itu? Menurut
penulis yang pertama adalah orang-orang Yahudi yang hidup dengan mementingkan
hukum lisan (adat istiadat) dari hukum tertulis sedangkan sebaliknya yang kedua
adalah orang-orang yang lebih mengutamakan hukum tertulis dari pada hukum
lisan.

 Pertanyaan selanjutnya adalah apakah makna pernyataan
Yesus ini dalam konteks perikop (berarti bagi orang Yahudi Palestina)? Dan yang
kedua apakah makna pernyataan ini bagi jemaat Matius (berarti orang yahudi
Diaspora)? Bagi penulis, yang pertama bermakna sebagai penyadaran dan pelajaran
akan inklusifitas misi dan kasih Allah. Kemudian yang kedua bermakna sebagai
usaha memutuskan ketergantungan orang Yahudi diaspora kepada Yudaisme
Palestina.

 

Pendahuluan; Yahudi Palestina
dan Yahudi Diaspora

 Menurut banyak ahli Injil Matius
ditulis sekitar tahun 72-85 M, dan ditujukan kepada orang-orang Yahudi Yang ada
di Antiokhia, Syria.[1]
Jadi jemaat yang dituju Injil ini merupakan orang Yahudi yang berbeda dengan
orang Yahudi Paletina yang kepadanya Yesus melayani. Oang Yahudi yang tinggal
di Antiokhia itu disebut sebagai Yahudi diaspora, sedangkan orang Yahudi yang
dilayani Yesus waktu itu dapat disebut (untuk membedakan saja kita pakai
istilah) Yahudi palestina. Munculnya dua kelompok ini sudah dimulai sejak jaman
pembuangan pada tahun 568-450 sM. Ketika kerajaan Persia mengalahkan Babel,
Koresy mengeluarkan suatu keputusan untuk mengijinkan orang-orang Yahudi pulang
ke negerinya sendiri dan diperintahkan untuk membangun kembali Bait Suci yang
telah dihancurkan (Ezr.1:1-11). Tetapi hanya sedikit dari orang Yahudi yang
waktu itu mau pulang dan berpartisipasi dalam pembangun Bait Suci bersama Ezra,
sedangkan selebihnya tetap memilih tinggal di negeri pembuagan.[2]
Nah orang-orang yang kembali dari pembuangan itulah yang dalam makalah ini
kemudian disebut sebagai orang Yahudi Palestina, sedangkan orang-orang Yahudi
yang tidak mau kembali dari pembuangan disebut sebagai orang Yahudi diaspora.

 Pengalaman pahit
pembuangan telah menyadarkan (membawa kepada kesimpulan) orang-orang Yahudi
yang pulang ke Palestina, bahwa mereka harus secara sungguh-sungguh memelihara
iman kepada YHWH. -Oleh sebab dalam perkembangan selanjutnya, dapat dikatakan
bahwa dokrin-doktri Yudaisme lahir sebagai hasil dari perjuangan orang-orang Yahudi
untuk menjaga dan melakukan Taurat.-[3]
Kesimpulan semacam ini berakar pada pandangan para nabi dalam masa
pra-pembuangan dan pembuangan yang selalu menyerukan bahwa sebenarnya karena
dosa-dosa Israel-lah YHWH murka dan kemudian membuang mereka ke Babel. Selain dosa-dosa
ketidakadilan dan penindasan yang mereka lakukan terhadap sesama mereka
sendiri, salah satu dosa besar yang dilakukan oleh orang Israel pra-pembuangan
adalah keterbukaan mereka pada bangsa-bangsa di sekitar mereka yang akhirnya
membuka jalan bagi masuknya kepercayaan-kepercayaan kafir dalam iman orang
Israel. Pemahaman ini akhirnya membuat orang-orang Israel yang telah kembali
dari pembuangan sedapat mungkin menutup kontak dengan orang-orang kafir
disekitar mereka. Dalam kitab Ezra pasal 10 digambarkan bagaimana Ezra menyuruh
orang-orang Israel untuk mengusir istri-istri kafir mereka dan anak-anak yang
dilahirkan dari padanya. Ini adalah gambaran ekstrim dari tekad orang Israel
untuk menjaga kemurnian bangsa dan iman mereka kepada YHWH. Tindakan-tindakan
pemurnian ini sebenarnya dibangun di atas paham monotheisme dan kepercayaan
mengenai pemilihan[4]. Orang Israel percaya
bahwa hanya YHWH saja Allah yang sesungguhnya, allah-allah yang disembah oleh
bangsa-bangsa lain adalah benda mati dan kebohongan. YHWH –Allah yang
sesungguhnya itu- kemudian hanya memilih mereka (orang Israel) untuk dijadikan
umat kepunyaanNya sendiri. Dari sinilah kemudian timbul dikotomi antara umat
pilihan dan bangsa kafir. Kemudian, langkah kedua yang mereka lakukan adalah
berusaha “menterjemahkan” hukum Taurat ke dalam peraturan-peraturan praktis
yang dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Hal ini dilakukan untuk
menjaga orang Israel supaya tidak melanggar hukum Taurat kerena ketidaktahuan
atau ketidaksengajaan. Pembaharuan-pembaharuan inilah yang kemudian melahirkan
Yudaisme.  

 

Deskripsi cerita: Aku hanya
diutus kepada domba yang hilang dari Israel

Pada nast yang kita bahas ini, seringkali dimunculkan
pertanyaan-pertanyaan di sekitar sikap inklusif Yesus terhadap orang-orang
kafir, yang kemudian biasanya dipertentangkan dengan sikap Yudaisme sendiri
yang sangat tertutup. Memang tidak salah, menurut saya, bahwa cerita ini ingin
berbicara tentang sikap terbuka Yesus untuk menerima orang-orang –yang menurut
Yudaisme bukan pilihan itu-. Bahkan menurut Barclay, perikop ini bukan hanya ingin
memberikan pesan bahwa Yesus dalam pelayananNya pernah keluar dari wilayah
orang Yahudi saja, tetapi lebih jauh dari itu, perikop ini sebenarnya ingin
menunjukkan bahwa semestinya Injil harus dan akan diberitakan keseluruh dunia.[5]
Selain itu, dalam narasi Matius perikop ini juga berfungsi menyiapkan para
murid untuk peristiwa akhir (penyaliban). Yesus ingin memastikan bahwa
murid-muridNya sudah mendapat cukup pelajaran dan pengertian mengenai keterbukaan
misi/ Injil Yesus kepada seluruh bangsa di bumi ini.[6]
Jadi perginya Yesus ke Sidon dan Tirus bukan semata-mata karena Ia mau melarikan
diri dari orang Farisi yang memusuhi dia, atau dari orang banyak yang ingin
menjadikanNya raja.[7]

 Bila kita membandingkan
antara cerita ini dengan perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati
dalam Lukas 10:25-37, maka sebenarnya sikap Yesus dalam cerita ini memiliki
kemiripan dengan kedua sikap yang ditampilkan oleh seorang imam dan lewi dalam
perumpamaan orang Samaria yang murah hati di atas. Di sini Yesus pertama kali mengambil sikap tertutup dan tidak
peduli kepada perempuan Kanaan yang meminta tolong kepadaNya (ay.23 –Yesus sama
sekali tidak menjawabnya), ketika murid-muridNya meminta Yesus untuk memperhatikan
perempuan itu Yesus dengan tegas menolaknya (ay. 24 –Aku hanya diutus kepada
domba-domba yang hilang dari umat Israel
), dan untuk yang ketiga kalinya Yesus
tetap mengambil sikap defensif ketika
akhirnya Yesus berbicara dengan dia (ay. 26 –makanan untuk anak tidak
seharusnya diberikan kepada anjing). Sebenarnya sikap Yesus ini merupakan
gambaran dari sikap orang-orang Yahudi terhadap orang-orang kafir yang
cenderung tidak perduli –atau bahkan malah senang- kalau mereka mengalami suatu
kemalangan, orang-orang Yahudi menganggap mereka hampir tidak berharga, bahkan
menajiskan seperti anjing (orang Yahudi memiliki makian seperti: anjing kafir,
atau juga sesudahnya anjing kristen)[8].
Namun demikian, dalam cerita ini sikap Yesus ternyata tidak berhenti sampai di
sini, karena Yesus akhirnya mau juga menerima perempuan kanaan itu karena
ternyata Yesus menemukan hal yang baik dan berharga di dalam diri perempuan
itu, yaitu iman dan kasih, sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang-orang Yahudi
waktu itu.

Namun demikian, walau pun makalah ini akan banyak
menyinggung mengeni masalah inklusifitas dalam ajaran Yesus, tetapi fokus kita
akan kita tempatkan pada ayat 24, di mana Yesus mengatakan bahwa misiNya adalah
hanya ditujukan kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Dalam
konteks ceita ini, kata-kata Yesus ini merupakan argumen/alasan bagi Yesus
kenapa Dia tiak mau menolong perempuan kanaan terebut, tetapi menurut saya
sebenarnya kata-kata ini mengandung pesan yang jauh lebih dalam dari pada hanya
sekedar alasan bagi penolakan Yesus terhadap perempuan kanaan itu. Pernyataan
ini sebenarnya lebih khusus merupakan pandangan –kritik- Yesus terhadap
sikap/praktek hidup orang-orang Yahudi waktu itu, yang karena paham monotheis
dan pemilihan-nya akhirnya mengambil sikap eksklusif terhadap bangsa-bangsa di sekitarnya
demi kesalehan yang munafik dan sesat.

Dengan demikian, yang menjadi pertanyaan penulis di sini
adalah “siapakah yang sebenarnya dianggap/ dimaksudkan Yesus sebagai
domba-domba yang hilang dari umat Israel itu (ay.24)?”. Dalam pernyataan ini
sebenarnya juga mengandung pemahaman bahwa Yesus ternyata membagi orang Israel dalam dua kelompok, yaitu
kolompok yang terhilang dan kelompok yang tidak terhilang. Dan kalau memang
demikian, sebagai pertanyaan kedua, sipakah yang dimaksud sebagai kelompok yang
tidak terhilang itu? Kata hilang di sini dalam bahasa Yunani memakai kata
avpolwlo,ta yang artinya
adalah rusak (ruin, destroy). Kata
ini mungkin dipakai untuk menunjukkan bagaimana parahnya keadaan orang-orang
yang akan dilayani oleh Yesus itu. Mereka yang hilang itu ternyata tidak hanya
sekedar dalam keadaan tersesat/ salah jalan tetapi sudah dalam keadaan yang
jauh lebih parah yaitu rusak.

 

Israel yang terhilang

 Kalau kita membaca perikop sebelumnya - Mat. 15:1-20, maka kita
tahu bahwa yang dimaksud dengan domba yang terhilang dari Israel adalah
orang-orang Farisi dan semua orang lain yang mengikuti/ hidup menurut “hukum Taurat”
tetapi yang menurut Yesus sebenarnya tidak lebih dari sekedar adat-istiadat nenek
moyang, yang justru dalam beberapa kasus malah bertetangan dengan perintah
Allah dalam Taurat Musa. Mengapa Yesus mengatakan peraturan keagamaan Yudaisme
itu sebagai adat-istiadat semata? Apakah penilaian Yesus itu bersifat obyektif
ataukah hanya semata-mata kritik kosong karena perseteruannya kepada orang
Farisi? Pada zaman Yesus ada dua macam Taurat, dua jenis hukum agama. Yang
pertama adalah kelima kitab Musa yang diterima di gunung Sinai yang disebut
sebagai hukum tertulis, dan yang kedua Taurat lisan; yaitu hukum yang tidak
tertulis, yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari generasi yang satu kepada
generasi yang lain. Hukum lisan ini dikembangkan oleh para ahli Taurat, dan
pada masa Yesus golongan Farisi mentaatinya secara harfiah.[9]
Hukum lisan ini berkembang melalui tiga tahap: tahap yang pertama, atu Midras, muncul setelah bangsa Yahudi
kembali ke tanah airnya dari pembuangan Babel. Midras adalah tafsiran ayat demi
ayat yang menjelaskan kitab suci yang tertulis. Tafsiran ini langsung diberikan
setelah setiap ayat, yang kemudian dihafalkan dan diajarkan kepada
generasi-generasi berikutnya sampai akhirnya dituliskan setelah zaman Yesus.
Tahap kedua dari tafsiran ini muncul pada dua abad sebelum Yesus. Tahap ini
mencapai puncaknya sekitar empat abad kemudian (kira-kira 200 M) ketika
tradisi-tradisi lisan itu berangsur-angsur ditulis dalam Misnah. Akhirnya kumpulan tulisan mengenai hikmat dan hukum ini
diperluas, dalam tahap ketiga, menjadi Talmud.
Kumpulan hukum lisan yang terakhir ini menjadi kitab yang terpisah dari
Yudaisme, yang dapat disejajarkan dengan Perjanjian Baru bagi orang Kristen.[10]

 Pada prakteknya, ternyata hukum lisan yang sebenarnya hanya
tafsiran para rabi ini, menjadi semakin penting dalam praktek keagamaan orang Yahudi.
Tradisi lisan ini segera memperoleh kewibawaan yang setingkat, kalau bukan
lebih besar, dari pada hukum yang tertulis.[11]
Dalam pasal 15:1-9, ketika orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat mengkritik
para murid yang tidak membasuh tangan mereka sebelum makan - yang mana itu
melanggar kebiasaan dan adat nenek moyang mereka (hukum lisan), Yesus
sebaliknya justru menuduh mereka telah berbuat jauh lebih jelek dari para murid
yang mereka kritik itu. Dalam ayat 3-9 Yesus mengecam hukum lisan mereka yang
sebenarnya justru berlawanan dengan Firman Allah dalam Taurat Musa, tetapi yang
mereka anggap lebih penting untuk dilakukan. Demi sesuatu yang mereka pikir
memuliakan Allah –persembahan untuk Allah (berarti juga untuk para imam dan Bait
Suci), mereka tidak mau lagi memberikan biaya pemeliharaan kepada orang tua
mereka – yang sebenarnya merupakan perintah Allah langsung dalam hukum
tertulis. Cara hidup keagamaan yang seperti inilah yang menurut Yesus salah dan
munafik (ay. 7). Dalam contoh persoalan di atas, demi kepentingan diri sendiri
para pemimpin agama tega mengambil hak-hak yang seharusnya diberikan kepada
para orang tua. Dan lebih buruknya lagi, perintah itu didasarkan pada
legitimasi religius dan dikalim sebagai persembahan kepada Allah. Menurut Yesus
praktek-praktek seacam ini telah menyebabkan orang Yahudi rusak (
avpolwlo,ta) dan terhilang.

 

Israel yang tidak terhilang

 Kalau
dalam rumusan pertanyaan di atas kita telah mengandaikan bahwa Yesus sebenarnya
telah membagi Israel menjadi dua bagian, di sini sekarang tugas kita untuk
mencari bagian yang kedua itu, yaitu siapakan dari antara orang Israel yang
dapat dikelompokkan sebagai yang tidak terhilang? Mempertimbangkan bahwa Yesus
hanya melakukan pelayanan di antara orang Yahudi Palestina saja, dan sebaliknya
tidak melayani di daerah-daerah Yahudi Diaspora, mungkinkan yang dimaksud oleh Yesus
adalah kelompok diaspora itu? Kita akan coba mempertimbangkan kelompok ini.
Sudah kita bahas dalam pendahulun bahwa kelompok diaspora Yahudi terutama
muncul sejak pembuangan Babel dan pada waktu selanjutnya oleh sebab-sebab yang
lain juga seperti pengungsian atau alasan-alasan ekonomi yang lain. Dari segi
keagamaan, memang mereka tidak termasuk dalam kelompok-kelompok yang
menciptakan hukum-hukum lisan -yang ternyata dalam pandangan Yesus justru
bersifat munafik dan seringkali menyesatkan. Namun demikian ada banyak bukti
yang menunjukan bahwa mereka juga menganut dan mempraktekkan hukum-hukum lisan
yang sama seperti yang diproduksi dalam kelompok Yudaisme Palestina. Menurut
Sanders, tipe dasar agama Yudaisme Palestina yang dapat disebut sebagai “convenantal nomism”- yaitu suatu
pandangan yang mengatakan bahwa keselamatan hanya datang dari menjadi
anggota-anggota perjanjian dan ketaatan dalam melindungi/ melakukan
perintah-perintah Allah, juga menyebar ke daerah-daerah diaspora.[12]
Selain itu, kesetiaan orang-orang Yahudi diaspora terhadap agamanya juga
menyebabkan mereka terus berhubungan dan dalam banyak segi bergantung dengan
Yerusalem dan Bait Suci. Kraybill menulis, Bait suci adalah puncak dari
kehidupan beragama, jantung ibadah, ritus, keyakinan, dan emosi Yahudi. Bait
Suci di Yerusalem membangkitkan semangat keagamaan. Ia terbungkus dalam rahasia
dan pesona. Disitulah bertahta hikmat, hukum dan kitab suci. Di situ juga satu-satunya
mezbah Yahudi ditempatkan, dimana Imam Besar melakukan upacara kurban
pendamaian sekali setahun, bagi suluruh dunia Yahudi.[13]
Orang-orang Yahudi yang saleh dan tinggal di luar Palestina datang tiga kali
setahun ke Bait Suci untuk merayakan hari-hari raya keagamaan.[14]
Melihat kenyataan itu, nampaknya mudah bagi kita menyimpulkan bahwa praktek
keagamaan yang sama dengan yang di Palestina terjadi pula di daerah diaspora.
Oleh sebab itu nampaknya kita akan salah alamat jika mengatakan bahwa kelompok
inilah yang dimaksudkan oleh Yesus sebagai Israel yang tidak terhilang itu.

 Jadi
kalau demikian siapakah yang dimaksud oleh Yesus dalam pernyataanNya itu?
Akhirnya, penulis berpendapat bahwa yang dimaksud oleh Yesus dengan yang tidak
terhilang mungkin memang tidak menunjuk suatu kelompok tertentu dari
orang-orang Yahudi. Dalam pandangan Yesus seluruh orang Yahudi baik itu, orang
Farisi, ahli Taurat, orang Saduki, orang Zelot, Eseni, dan kelompok diaspora
adalah sama. Mereka –seperti manusia pada umumnya merupakan sasaran yang sama dari
misi Yesus di dunia. Oleh sebab itu mungkin lebih tepat kalau kita
mengalamatkan tebakan kita kepada individu-individu yang bisa saja tersebar
dalam kelompok-kelompok Yahudi itu. Ada orang benar di antara orang Yahudi
Palestina, ada orang benar di antara orang Farisi, orang Zaduki, orang Zelot,
orang Eseni dan orang Yahudi diaspora.

 Penunjukan
ini memang tidak se-spesifik seperti penunjukan yang pertama mengenai yang
terhilang dari Israel, karena Yesus dalam pernyataanNya itu memang ingin memfokuskan
pada point yang terhilang. Atau bahkan sebenarnya pada saat mengucapkan
pernyataan ini yang ada di pikiran Yesus adalah orang-orang Yahudi yang
terhilang saja, dan sebaliknya secara spesifik tidak ada bayangan mengenai
kelompok yang kedua ini. Jadi point dari pernyataan Yesus ini adalah bahwa
orang Yahudi harus sadar akan keadaan mereka yang terhilang dan rusak. Sehingga
tidak pantas dan memalukan bahwa mereka masih merasa lebih tinggi dari pada
orang-orang kafir yang sebenarnya justru memiliki iman dan kasih yang jauh
lebih besar dari pada yang mereka miliki – seperti yang akan kita lihat di
bawah ini.

 

Makna pernyataan ini dalam konteks perikop

 Tirus
dan Sidon secara tradisional selalu dipahami sebagai wilayah bangsa kafir.
Sidon adalah tempat asal Isebel (1Raj. 16:31) yang membawa penyembahan baal
kepada orang Israel,  namun demikian pada
masa Elia di tempat ini ada seorang perempuan yang menerima mujizat dan percaya
kepada YHWH (1Raj. 17:8-24) [15]
justru pada saat orang Israel sendiri dibiarkan mati kelaparan. Unik bahwa sekali
lagi dari tempat inilah seorang perempuan Kanaan itu datang untuk meminta
bantuan Yesus. Siapakah perempuan kafir ini? Sejahat Isebelkah, atau sebaliknya
sebaik janda Sarfat yang mlayani Elia? Dari narasi kita diberi tahu bahwa
perempuan yang datang itu ternyata lebih bisa disamakan dengan janda Sarfat, dari
pada dengan Isebel yang membawa Israel pada penyembahan baal. Keener sekali
lagi menulis bahwa sebenarnya perikop ini ditulis dengan maksud untuk menyindir
orang-orang Yahudi yang masih rasialis.[16]
Sindiran itu terlihat dalam dua hal: yang pertama, seperti yang sudah
disebutkan di atas, orang Yahudi seringkali mengucapkan makian “anjing kafir”.
Orang-orang Yahudi seringkali menganggap orang-orang kafir tidak lebih berharga
dari pada seekor anjing jalanan yang kotor, liar dan seringkali berpenyakit.
Dalam ayat 26, Yesus secara tidak langsung juga mengatakan bahwa perempuan itu
dapat disamakan dengan seekor anjing. Tetapi perlu diperhatikan, bahwa kata
anjing yang digunakan oleh Yesus di sini adalah kunaria: yang artinya adalah anjing peliharaan (the little household pets), jadi bukan
anjing jalanan seperti yang sering digunakan oleh orang-orang Yahudi yang arogan
itu.[17]
Dari hal ini nyata bahwa di mata Yesus perempuan Kanaan itu (dan semua orang
kafir lainnya) jauh lebih berharga dari pada apa yang dipikirkan oleh
orang-orang Yahudi pada umumnya. Dan yang kedua, sindiran itu terlihat dari
suatu kenyataan yang muncul dari peristiwa ini bahwa orang-orang kafir ternyata
justru memiliki iman dan kasih yang jauh lebih baik dari pada orang-orang Yahudi
yang katanya memiliki hukum Allah itu –disini peristiwa janda Sarfat terulang
kembali-. Menurut Barclay alasan mengapa Yesus akhirnya mau menolong perempuan
Kanaan itu adalah karena iman dan kasih yang ada dalam diri perempuan tersebut.
Hal ini sangat kontras dengan orang-orang Yahudi: kasih perempuan itu kepada
anaknya yang sakit sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh
orang Yahudi yang demi adat-istiadat (mereka beraggapan demi Allah) tega
mengabaikan kasih kepada orang tua mereka. Selain itu iman yang ada di dalam
diri perempuan itu juga kontras dengan yang tampak di dalam diri para ahli Taurat
dan orang-orang Farisi dalam pasal 15:1 di atas.

 Dalam
suasana cerita ini, sebenarnya orang-orang Yahudi merasa bangga karena Yesus ternyat
tidak mau melayani orang kafir melainkan hanya melayani orang-orang Yahudi
saja. Dan hal ini bisa saja semakin memperbesar arogansi orang-orang Yahudi
terhadap orang-orang kafir di sekeliling mereka. Tetapi perikop ini menjelaskan
kepada kita bahwa ternyata Yesus tidak membiarkan hal ini terjadi. Dengan
mengatakan bahwa Ia hanya diutus kepada domba yang hilang dari umat Israel,
sebenarnya Yesus bermaksud mengatakan bahwa mereka semua –orang-orang Yahudi
yang Ia layani itu- sebenarnya adalah orang-orang yang terhilang dan bahkan telah
dalam keadaan rusak. Tetapi sebaliknya, justru orang kafir yang mereka anggap
tidak berharga itu ternyata malah memiliki iman dan kasih yang cukup besar
untuk membuat Yesus kagum. Dengan persitiwa dan perkataan ini, Yesus ingin menyadarkan dan sekaligus
mengajarkan kepada orang-orang Yahudi mengenai bagaimana penghargaan dan
keterbukaan misi Allah terhadap orang-orang kafir dan semua bangsa.

 

 

 

 

Makna pernyataan ini untuk jemaat Matius

 Seperti telah kita sebut di pendahuluan, Injil
ini pada mulanya ditujukan kepada jemaat Yahudi perantauan yaitu di kota
Antiokhia, Syria[18]. Mengenai temat ini, apabila
kita membaca surat Paulus kepada jemaat di Galatia, maka kita akan menemukan
bahwa di jemaat Matius ini, Paulus pernah mengkritik dan menentang apa yang
dilakukan oleh Petrus berkaitan dengan sikapnya terhadap orang-orang Yunani;

“Tetapi waktu kefas datang ke Antiokhia, aku terus terang menentangnya,
sebab ia salah. Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia
makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah
mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan
saudara-saudara yang bersunat. Dan orang-orang Yahudi lain pun turut berlaku
munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan
mereka. (Gal. 2:11-13).”

 

Kalau
kita cermati, pertikaian ini sebenarnya mengandung dua persoalan utama yaitu yang
pertama menyangkut adat istiadat Yahudi tentang peraturan makan (dan) yang
kedua berkaitan dengan sikap eksklusifitas mereka terhadap orang-orang kafir
yang tidak bersunat. Menurut Stambaugh dan Balch Mat.15 ditulis juga dalam
rangka mengomentari pertikaian Paulus tersebut.[19]
Jadi kedua narasi ini (Mat. 15 dan Gal.2) sama-sama melihat adat-istiadat Yahudi
dan sikap eksklusifitas mereka sebagai hal yang salah, sehingga demikian keduanya
berharap supaya jemaat Syria tidak mengikuti kemunafikan dan kesesatan mereka
tersebut.

 Mempertimbangkan persoalan di atas,
maka pesan dari pernyataan Yesus bahwa Ia hanya diutus kepada domba yang hilang
dari umat Israel, bagi jemaat Yahudi Matius adalah bermakna khusus. Makna
apakah itu? Seperti telah kita bahas di atas, dalam hal keagamaan orang-orang
diaspora masih sangat berkiblat ke Yerusalem selama waktu itu. Paulus sendiri
dapat kita pakai sebagai contoh dalam hal ini; ia dikirim oleh orang tuanya ke
Yerusalem untuk belajar Taurat pada masa mudanya. Ini menunjukkan bahwa
orang-orang diaspora masih sangat berkiblat pada Yerusalem dalam pendidikan
agama. Selain itu pengaruh kuat Yudaisme Palestina terhadap oang-orang diaspora
dapat kita lihat pula, misalnya dari perdebatan mengenai hal sunat dalam
surat-surat Paulus. Di jemaat Galatia, Paulus sempat naik darah gara-gara ulah
orang-orang kristen Yahudi yang datang dari Yerusalem dan mengajarkan bagaimana
pentingnya untuk tetap melakukan adat-istiadat Yahudi walaupun mereka telah
menjadi Kristen. Mereka mengajarkan bahwa orang-orang Kristen Yunani pun sebenarnya
harus menjadi Yahudi dahulu –yang berarti harus disunat dan mempraktekkan Taurat
(hukum lisan) dalam kehidupannya untuk mendapatan keselamatan. Dalam kasus
Galatia, ternyata banyak jemaat diaspora yang percaya pada para pengajar dari
Yerusalem itu dan mengikuti apa yang mereka ajarkan. Sekali lagi ini merupakan
pertanda bagaimana kuatnya pengaruh Yudaisme Palestina terhadap orang-orang Yahudi
diaspora.

 Sepanjang Perjanjian Baru –terutama
dalam surat-surat Paulus, walau pun terdapat penghargaan yang besar terhadap
orang Yahudi, tetapi keterikatan kepada hukum lisan Yahudi selalu dianggap
sebagai hal yang salah. Oleh sebab itu ada nada cukup keras dalam
tulisan-tulisan Perjanjian Baru yang berusaha ingin memutus hubungan antara
kekristenan dengan Yudaisme (khususnya dalam hal adat-istiadat/ hukum lisan
& eksklusifitas mereka). Apa lagi dalam tahun-tahun penulisan Injil ini –yaitu
setelah Bait Suci dihancurkan, secara politik adalah kerugian apabila
keristenan tetap dianggap sebagai bagian dari Yudaisme, karena pada masa ini
orang-orang Yahudi telah kehilangan hak-hak khusus mereka dalam kekaisaran
Romawi karena pemberontakan yang mereka lakukan pada tahun 70 M. dan sebaliknya
justru orang-orang Yahudi dipandang amat negatif sejak masa ini. Hal-hal ini
semakin memantabkan para pemimpin Kristen untuk berusaha memutus ikatan mereka
dengan Yudaiesme dan kemudian memantabkan diri untuk berdiri sendiri. Kembali
pada pokok bahasan kita, menurut penulis pernyataan Yesus dalam ay. 24 ini,
bagi jemaat Matius dapat berfungsi untuk tujuan ini. Dengan mengatakan bahwa
sebenarnya praktek-praktek Yudaisme saat ini adalah salah, maka penulis Injil Matius
ingin supaya jemaatnya menjadi sadar bahwa sudah seharusnya mereka tidak lagi
mau bergantung pada Yudaisme Yerusalem. Melainkan sebaliknya memantabkan diri
untuk siap-siap berdiri sendiri sebagai agama Kristen yang mandiri.

 

Kesimpulan

 Akhirnya
judul makalah ini “kesalehan yang sesat” cukup tepat untuk menggambarkan apa
yang terjadi pada orang-orang Yahudi berkaitan dengan hukum lisan mereka.
Memang tidak semua hukum lisan berlawanan dengan hukum Taurat tertulis, tetapi
letak ketersesatan orang-orang Yahudi adalah terutama terletak pada sikapnya
terhadap hukum lisan itu. Mereka lebih mementingkan hukum lisan itu dari pada hukum
tertulis. Maka tepat juga kalau Yesus menilai itu adalah suatu kesalehan yang
membuat mereka justru terhilang dari hadapan Allah, dan sekaligus membuat
penulis Injil Matius ingin memutuskan ketergantungan jemaatnya terhadap mereka.

 

 

Daftar pustaka

 

Drs. M.E. Duyverman, pembimbing ke dalam Perjanjian Baru, Jakarta: BPK Gunung  Mulia, 1999.

 

Jacob Neusner, Judaism
when Chritianity Began, ­
London: Westminster John Konx  Press, 2002.

 

Leo Baeck, the
essece of Judaism
, New York: Schocken Books, 1948.

 

Eung Chung Park, Either
Jew or Gentile – Paul’s Unfolding Theology of Inclusivity,  
London: Westminster John Knox
Press, 2003. 

 

William Barclay, the
Gospel of the Mattew, vol.2
­ Kentucky: Westminster John Knox  Press, 1958.

 

Donald B. Kraybill, Kerajaan yang sungsang, Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1993.

 

John J. Collins, Between
Athens and Jerusalem
- Jewish identity
in the Hellenistic  Diaspora
, New
York: The Crossroad Publishing Company, 1983.

 

Craig S. Keener, the
IV P Bible bacground commentary New Testamen,
Illinois:  InterVarsity Press, 1993.

 

Willi Marxsen, pengantar perjanjian baru - pendekatan
kritis terhadap masalah- masalahnya
,
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.

 

John
Stambaugh-David Balch, dunia sosial
kekristenan mula-mula,
Jakarta: BPK  Gunung
Mulia, 2004.

 


[1] Drs. M.E. Duyverman, pembimbing
ke dalam Perjanjian Baru,
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999. hal.49-56

[2] Jacob Neusner, Judaism when
Chritianity Began, ­
London: Westminster John Konx Press, 2002. hal. 57

[3] Leo Baeck, the essece of Judaism,
New York: Schocken Books, 1948. hal. 12

[4] Eung Chung Park, Either Jew or
Gentile – Paul’s Unfolding Theology of Inclusivity,
London: Westminster
John Knox Press, 2003. hal 13

[5] William Barclay, the Gospel of
the Mattew, vol.2
­ Kentucky: Westminster John Knox Press, 1958. hal. 120

[6] William Barclay, the Gospel of
the Mattew, vol.2
, hal. 120

[7] William Barclay, the Gospel of
the Mattew, vol.2
, hal. 121

[8] William Barclay, the Gospel of
the Mattew, vol.2
, hal. 122

[9] Donald B. Kraybill, Kerajaan
yang sungsang
, Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1993. hal. 141

[10] Donald B. Kraybill, Kerajaan
yang sungsang
, hal. 141-142

[11] Donald B. Kraybill, Kerajaan
yang sungsang
, hal. 142

[12] John J. Collins, Between Athens
and Jerusalem
- Jewish identity in the
Hellenistic Diaspora
, New York: The Crossroad Publishing Company, 1983.
hal. 13

[13] Donald B. Kraybill, Kerajaan
yang sungsang
, hal. 48

[14] Donald B. Kraybill, Kerajaan
yang sungsang
, hal. 49

[15] Craig S. Keener, the IV P Bible
bacground commentary New Testamen,
Illinois: InterVarsity Press, 1993. hal.
88

[16] Craig S. Keener, the IV P Bible
bacground commentary New Testamen
, hal. 88

[17] William Barclay, the Gospel of
the Mattew, vol.2
, hal. 122

[18] Willi Marxsen, pengantar perjanjian baru - pendekatan kritis terhadap
masalah-masalahnya
, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003
, hal.184

 

[19] John Stambaugh-David Balch, dunia sosial kekristenan mula-mula, Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2004, hal. 178

 

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress