Kemiskinan Sebagai Keterbatasan
Oleh : Tri Harmaji
, Kategori: Pilihan Dosen
Pendahuluan; realitas kemiskinan
dan upaya pegentasannya
Kemiskinan adalah suatu fakta yang
dapat kita temui dengan mudah di sekitar kita. Tidak perlu kita mengadakan
suatu penelitian yang serius dan mendetail untuk dapat menggambarkan apa itu
kemiskinan. Di negara-negara dunia ketiga, seperti Indonesia sekarang ini,
kemiskinan dan orang-orang miskin menjadi pemandangan yang paling dominan
sejauh mata kita memandang. Kalau kita mengadakan perjalanan dari Yogyakarta ke
Semarang dengan menggunakan bus kelas ekonomi misalnya, kita dengan mudah dapat
menangkap realitas kemiskinan di sepanjang perjalanan yang hanya memakan waktu
kurang lebih tiga jam itu. Ketika menunggu bus di terminal Jombor kita sudah
disuguhi dengan nyanyian dari para pengamen jalanan dan makanan kecil oleh para
pedagang asongan. Di terminal ini juga banyak tukang becak yang sedang ngetem menunggu penumpang yang turun
dari bus-bus jurusan Semarang- Yogyakarta. Setelah bus berangkat meninggalkan
terminal Jombor menuju semarang, ditengah perjalanan antara Jogja-Magelang kita
juga kembali harus mendengarkan para penyanyi jalanan beraksi sambil mengatakan
“tidak” dengan sopan kepada para pedagang asongan yang terus turun-naik
sepanjang perjalanan itu. Ketika bus berhenti di terminal Magelang dan Secang,
pengalaman yang sama dengan yang terjadi di terminal Jombor terulang lagi,
bahkan dalam skala yang lebih besar. Di kedua terminal ini, selain jumlah
pengamen dan pedagang asongan yang jauh lebih banyak, terdapat pula para
pegemis dan gelandangan yang beraksi meminta belas kasihan para penumpang
berupa uang recehan. Selanjutnya pemandangan seperti ini akan kita lihat lagi
di terminal Bawen dan yang terparah di terminal Terboyo, Semarang. Sebenarnya
gembaran di atas jauh dari lengkap untuk menggambarkan realitas orang-orang
miskin dan kemiskinan yang kita dapat lihat di sepanjang perjalanan yang hanya
berlangsung tiga jam itu. Kita masih bisa melihat para pedagang kaki lima,
orang-orang miskin (sangat tampak dari penampilan mereka) yang mungkin duduk
bersebelahan dengan kita di dalam bus yang kita tumpangi tersebut. Semua
kenyataan itu kemudian menyadarkan kita bahwa ternyata ada banyak sekali orang
miskin yang ada di negara kita ini. Kemiskinan bukan lagi suatu konsep /
istilah abstrak yang kita dengar dalam siaran-siaran televisi yang kenyataan
kongkretnya tidak pernah kita lihat, tetapi kemiskinan kemudian tiba-tiba
menjadi realitas pahit yang seketika itu berada di hadapan kita. Kemiskinan itu
kita tangkap sebagai kepahitan yang riel dalam diri orang-orang miskin seperti;
para pengamen, pedangang asongan dan kaki lima, para tukang becak dan
orang-orang lain yang kita jumpai sepanjang perjalanan tiga jam itu.
Kalau pengamatan tidak sengaja
selama tiga jam perjalanan sudah memberikan gambaran yang begitu besar mengenai
relaitas kemiskinan di sekitar kita, maka pengamatan yang seksama dan teliti
dalam jangka waktu yang panjang dan terus-menerus tentu akan menangkap realitas
kemiskinan yang jauh lebih besar lagi. Pengamatan yang seperti ini, telah
memberikan pengertian kepada kita mengenai realitas kemiskinan yang kompleks.
Kemiskinan yang dulu hanya kita lihat sebagai realitas yang simpel (sebagai
akibat dari kemalasan atau keturunan misalnya), ternyata adalah suatu realitas
yang sangat kompleks; ada masalah sosial, budaya, ekonomi dan politik di sana.
Kemiskinan bukanlah realitas yang sederhana yang bisa diatasi dengan cara-cara
mudah dan sederhana pula. Namun demikian kita semua optimis bahwa kemiskinan
bukan pula suatu masalah yang tidak bisa diatasi sama sekali. Upaya untuk
mengatasi kemiskinan sudah dilakukan oleh banyak pihak di negara ini; oleh
LSM-LSM, lembaga keagamaan, dan juga pemerintah. Namun demikian kemiskinan
masih menjadi ketakutan yang terus mengganggu ketenangan sebagian besar rakyat
Indonesia. Banyak dari penduduk Indonesia yang sangat mudah jatuh ke dalam
kemiskinan oleh fakta-fakta seperti; sakit dan kemudian tidak bisa bekerja,
pemutusan hubungan kerja (PHK), bencana alam dll.
Makalah ini akan membahas mengenai
upaya-upaya pengentasan kemiskinan yang pernah dilakukan, bagaimana bentuk-betuknya,
dan akhirnya keberhasilannya. Tentu saja harus diakui bahwa makalah ini bukan
hasil dari studi yang mendetail mengenai keberhasilan atau kegagalan dari suatu
bentuk upaya pengentasan kemiskinan yang pernah dilakukan, tetapi makalah ini
lebih berisi pikiran kasar yang coba dikemukakan berkaitan dengan kenyataan
bahwa sampai saat ini bagaimanapun masalah kemiskinan belum bisa diatasi.
Sebelum Indonesia terperosok ke dalam krisis ekonomi, jumlah penduduk yang
berada di bawah garis kemiskinan "hanya" 22,5 juta. Oleh karena
pemerintahan Orde Baru gagal menanggulangi krisis ekonomi, maka jumlah orang
miskin membengkak menjadi 78,9 juta.[1]
Memang ironis bahwa walaupun kemiskinan merupakan sebuah fenomena yang setua
peradaban manusia, tapi pemahaman terhadapnya dan upaya untuk mengentaskannya
belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Bahkan, dengan terjadinya krisis
ekonomi di Indonesia orang miskin "baru" semakin bertambah.[2]
Di bawah ini saya akan mengambil
subuah contoh usaha pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh Gerakan
Kemanusiaan – Bandung Peduli. Gerakan / organisasi ini dibentuk pada tanggal 23
- 25 Februari 1998. Bandung Peduli adalah gerakan kemanusiaan yang memfokuskan
kegiatannya pada upaya menolong orang kelaparan, dan mengentaskan orang-orang
yang berada di bawah garis kemiskinan. Dalam melakukan kegiatan, Bandung Peduli
berpegang teguh pada wawasan kemanusiaan, tanpa mengindahkan perbedaan suku,
ras, agama, kepercayaan, ataupun haluan politik.[3]
Berikut ini realitas kemiskinan yang “dibayangkan” dan digambarkan oleh Bandung
Peduli, sebagai persoalan yang mendesak:
“PALING
sedikit 23,63 juta penduduk Indonesia terancam kelaparan saat ini, di antaranya
4,35 juta tinggal di Jawa Barat. Ancaman kelaparan ini akan semakin berat, dan
jumlahnya akan bertambah banyak, seiring dengan mereka yang terancam kelaparan
adalah penduduk yang pengeluaran per kapita sebulannya di bawah Rp 30.000,00.
Di antara orang-orang yang terancam kelaparan, sebanyak 272.198 penduduk
Indonesia, berada dalam keadaan paling mengkhawatirkan. Dari jumlah itu,
sebanyak 50.333 berasal dari Jawa Barat, di antaranya 10.430 orang tinggal di
Kabupaten Bandung dan 15.334 orang tinggal di Kabupaten Garut. Mereka yang
digolongkan terancam kelaparan dengan keadaan paling mengkhawatirkan adalah
penduduk yang pengeluaran per kapitanya di bawah Rp 15.000,00 sebulan.
Angka-angka ancaman kelaparan itu dapat disimak dalam laporan Survei Sosial
Ekonomi Nasional 1996 dalam buku "Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk
Indonesia 1996" yang dipublikasikan Biro Pusat Statistik, dan buku
"Data Sosial Ekonomi Masyarakat Jawa Barat Tahun 1996" yang
dipublikasikan Kantor Statistik Provinsi Jawa Barat. Karena data dalam laporan
itu diperoleh pada tahun 1996, saat Indonesia belum terpuruk dalam krisis
ekonomi, maka sudah selayaknya perlu disimak dengan lebh hati-hati. Salah satu
rambu kehati-hatian yang diperlukan adalah keadaan Indonesia saat ini yang
ditandai dengan meroketnya harga, sedangkan pendapatan penduduk merosot yang
antara lain disebabkan oleh banyaknya orang yang terkena PHK. Ada kemungkinan
angka tahun 1996 itu lebih baik dari pada keadaan Indonesia 1998. (Pada saat
makalah ini ditulis, penulis belum membaca buku "Statistik Kesejahteraan
Rakyat 1997" yang diterbitkan BPS, Maret 1998). Dalam keadaan yang begitu
berat, sebagian penduduk Indonesia terpaksa mengais sampah untuk mempertahankan
hidupnya, seperti terpampang dalam cover majalah internasional Newsweek, 27
Juli 1998, dan Pikiran Rakyat, 6 Agustus 1998.”[4]
Berangkat
dari keprihatinan ini, Bandung Peduli berusaha mengumpulkan dana dari
sumbangan-sumbangan para dermawan. Sepanjang tahun 1998 paling tidak Bandung
Peduli telah mengumpulkan sumbangan dari Bandung, Jakarta, Amerika Serikat,
Jerman, Jepang, dan beberapa perorangan yang tak mau disebut namanya. Setelah
melakukan survei yang bisa dibilang cukup mendalam untuk mengetahi orang-orang
yang paling pantas mendapat bantuan, mereka mulai menyusun beberapa program
bantuan yang akan ditujukan kepada orang-orang miskin yang telah masuk kedalam
daftar survei tersebut. Pada awalnya Bandung Peduli hanya memberikan bantuan
dalam bentuk paket sembako yang terdiri dari beras, gula, minyak goreng, dan ikan asin.
Tetapi kemudian atas usulan dan desakan para relawannya yang kebanyakan adalah
mahasiswa, Bandung Peduli mulai menyusun program bantuan yang lebih berorientasi
pada kemandirian warga. Mereka tidak ingin lagi hanya memberi ikan, tetapi
mereka ingin memberikan kail dan sekaligus ketrampilan dalam menggunakannya. Akhirnya
tersusunlah beberapa program bantuan di bawah ini:
- Warung Peduli; program ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari program
pembagian sembako sebelumnya, hanya di sini bantuan sembako tidak
diberikan 100% lagi. Di warung ini warga kelompok miskin membayar 75% dari
harga pasar, kelompok miskin sekali membayar 50% dan kelompok paling
miskin membayar 25%. - Peningkatan Gizi Keluarga; membagikan bibit sayuran dan palawija kepada kelompok terbantu,
dan mendorong mereka untuk memanfaatkan lahan di sekitar rumah mereka
untuk ditanami dengan bibit-bibit itu. - Pengembangan Potensi Ekonomi Desa; memberikan pelatihan dan pendampingan kepada kelompok terbantu
untuk melakukan wira usaha. Pelatihan dan pendampingan ini mencakup
bagaimana mengatur keuangan, melakukan proses produksi sampai pada
bagaimana memasarkan produk mereka. - Kampanye;
program ini bertujuan untuk mengkomunikasikan keberadaan dan kegiatan
Bandung paduli dengan harapan akan muncul gerakan-gerakan serupa dalam
masyarakat, untuk mengatasi kemiskinan di lingkungan mereka sendiri. - Kaderisasi; program ini dibuat dengan tujuan untuk menjaga kelangsungan
Bandung Peduli. Karena para relawan di sini biasanya adalah mahasiswa yang
tidak akan bisa menetap, maka demi kesinambungan gerakan ini perlu adanya
perekrutan relawan dan kemudian pelatihan kepada mereka. Pelatihan ini
meliputi teknik survei, manajemen distribusi, teknologi tepat guna, serta
masalah-masalah yang berhubungan dengan pangan dan kelaparan.
Bandung
Peduli adalah satu dari ribuan gerakan / organisasi pengentasan kemiskinan yang
ada di Indonesia. Telah banyak dana, waktu dan tenaga dikeluarkan untuk
mengatasi kemiskinan; penelitian-penelitian yang menghasilkan analisis tajam
untuk mengetahui sebab-sebab kemiskinan dan kemudian merumuskan cara-cara
penanggulangannya telah sering dilakukan. Bukan hanya oleh pemerintah dan
masyarakat Indonesia, tetapi banyak lembaga bantuan asing telah mencoba
mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia. Tetapi pertanyaannya sekarang
adalah; kenapa kemiskinan masih terus ada, dan angkanya tidak pernah turun
secara signifikan, dan bahkan bisa dikatakan bahwa angka kemiskinan masih tetap
tinggi? Apakah efek nyata
gerakan-gerakan pengentasan kemiskinan tersebut? Apakan mereka telah gagal? Dan
kalau mereka benar gagal, mengapa? Di mana letak kegagalannya?
Kemiskinan; penyebab,
definisi dan upaya mengatasinya
Untuk dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan di atas, kita perlu terlebih dahulu memahami apa itu
kemiskinan dan hal-hal apa saja yang menjadi penyebab kehadirannya.
Definisi menurut ilmu sosial
Ilmu-ilmu sosial membedakan antara
kemiskinan mutlak dan kemiskinan relatif, tetapi pada umumnya kedua hal ini
saling berkaitan.[5] Yang dimaksud dengan
kemiskinan mutlak adalah suatu keadaan dimana kebutuhan-kebutuhan pokok yang
primer seperti pangan, sandang, papan, kesehatan (air bersih, sanitasi), kerja
yang wajar dan pendidikan dasar tak terpenuhi; apalagi kebutuhan-kebutuhan
sekunder seperti misalnya partisipasi, rekreasi atau lingkungan hidup yang
menyenangkan.[6] Kemiskinan mutlak ini merupakan keadaan kekurangan secara fisik
yang dalam bentuk ekstrimnya bisa menimbulkan kematian. Kekurangan pangan dapat
menyebabkan kelaparan yang akhirnya menimbulkan penyakit –busung lapar
misalnya- dan akhirnya membawa orang miskin itu kepada kematian. Hal yang sama
bisa terjadi jika orang tidak punya sandang atau papan yang cukup dan memadahi
untuk menunjang kehidupannya. Kemiskinan mutlak ini menyebabkan orang tidak
bisa tumbuh dan mengembangkan seluruh potensinya secara maksimal. Misalnya saja
seorang pengamen yang seringkali saya temui dalam perjalanan tiga jam dari
Jogjakarta ke Semarang; ada cukup banyak dari para pengamen itu yang suaranya
memang sungguh bagus, bahkan menurut saya beberapa di antara mereka jauh lebih
bagus dari pada teman-teman saya di jurusan musik (vokal) ketika saya masih
studi di Ungaran. Saya berpikir kalau mereka memiliki cukup uang untuk melatih
suara mereka dalam sekolah-sekolah musik yang berkualitas, mungkin mereka akan
menjadi penyanyi bagus dan terkenal. Tetapi kenyataannya mereka tidak memiliki
uang sebagai sarana untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya itu,
sehingga ia Cuma menthok sebagai pengamen
jalanan saja. Hal yang sama juga bisa terjadi pada potensi-potensi lain dari
seorang anak manusia yang miskin. Bakat seni, otak yang brilian, kemampuan
motorik yang baik dll. hanya menjadi potensi terpendam yang selamanya
terpendam. Potensi-potensi yang dikaruniakan oleh Tuhan untuk membekali
kehidupannya tidak bisa ia gunakan sampai ia kembali lagi kepada Dia dalam
kematian. Saya membayangkan betapa maju dan indahnya dunia ini seandainya semua
manusia dapat mengembangkan seluruh potensi yang ada di dalam diri mereka. Selain
itu kemiskinan mutlak juga membuat seseorang tidak dapat menggapai
cita-citanya. Saya percaya bahwa tidak ada satu orang pun di dunia ini yang
tidak mempunyai cita-cita dan mimpi. Memang ada banyak orang yang tidak berani
bermimpi (bercita-cita) karena mereka pesimis dengan keadaan kekurangan mereka,
tetapi itu tidak berarti bahwa mereka tidak mempunyai mimpi. Saya sedang
menonton televisi di rumah tetangga bersama ibu saya ketika saya masih
kira-kira berumur empat atau lima tahun, ketika melihat tentara yang sedang
berbaris dengan rapi dan gagah dalam siaran televisi itu, saya katakan kepada
ibu saya bahwa jika besar nanti saya ingin menjadi tentara. Ini adalah contoh
kecil bahwa sebenarnya setiap orang memiliki cita-cita, keinginan dan mimpi.
Seandainya waktu itu saya sudah tahu bahwa untuk mendaftar menjadi seorang
tentara harus membayar puluhan juta rupiah, mungkin saya tidak akan mengatakan
hal itu kepada ibu saya. Lebih dari itu kemiskinan mutlak bahkan membuat
seorang anak tidak bisa mendapatkan maian yang mereka inginkan, atau seorang
Romeo mendapatkan Julietnya.
Sedangkan yang kedua, kemiskinan relatif menyangkut pembagian
pendapatan nasional dan berarti ada perbedaan yang mencolok antara berbagai
lapisan atau kelas dalam masyarakat. Dalam setiap masyarakat pasti ada orang
yang bisa disebut miskin dibandingkan dengan mereka yang sangat kaya raya[7].
Orang yang secara relatif miskin di negara-negara maju bisa saja cukup kaya
bila dibandingkan dengan kelas menengah di negara-negara dunia ketiga yang
miskin. Tetapi orang yang relatif miskin biasanya miskin secara mutlak di
negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia ini. Jadi, kalau demikian mestikah
kemiskinan relatif juga diatasi? Tentu saja! Karena kemiskinan relatif biasanya
berkaitan dengan masalah ketidakadilan dan ketidakmerataan pendapatan nasional.
Dalam konteks Indonesia secara khusus, kebanyakan orang yang miskin relatif
biasanya juga miskin mutlak. Oleh sebab
itu masalah yang paling urgen untuk dipikirkan dan diatasi dalam konteks
Indonesia adalah kemiskinan mutlak.
Selain dua pengertian mengenai
kemiskinan di atas, kita sebenarnya masih bisa membedakan antara kemiskinan
fisik (seperti yang diterangkan di atas), kemiskinan budaya, kemiskinan
spiritualitas dll. namun demikian seperti yang telah banyak diuraikan dalam
pendahuluan, makalah ini hanya akan berfokus pada kemiskinan fisik saja.
Analisis penyebab kemiskinan
Apakah kemiskinan suatu takdir?
Kalau memang kemiskinan adalah suatu takdir, berarti memang sudah ketetapan
Allah bahwa di dunia ini harus ada orang yang miskin, maka penyebab kemiskinan
adalah jelas, Allah! Dan kalau sudah demikian tidak ada usaha apa pun yang bisa
kita lakukan untuk menyingkirkan kemiskinan dari kehidupan manusia karena
memang Allah menghendaki keberadaannya. Dan seluruh usaha manusia untuk mengentaskan orang-orang miskin dari
keadaannya yang miskin itu akan sia-sia. Kenapa kehadiran Bandung Peduli di
Bandung ternyata tidak bisa meghilangkan kemiskinan adalah jelas, karena Tuhan
mau supaya kemiskinan tetap ada, dan Bandung Peduli tidak bisa berbuat apa-apa.
Tetapi untung hal itu bukan kebenaran, kemiskinan bukanlah takdir yang
diciptakan oleh Tuhan. Kemiskinan adalah suatu efek dari proses kehidupan yang panjang
dan kompleks.
Biasanya ada dua faktor (pendekatan)
yang dipakai untuk memahami penyebab terjadinya kemiskinan, yaitu faktor
individual dan faktor struktural.[8]
Yang dimaksud sebagai faktor individual adalah bahwa kemiskinan seseorang tidak
lain disebabkan oleh orang itu sendiri, misalnya saja kemalasan dan kebodohan.
Dibandingkan dengan orang Jepang atau orang Barat, orang Indonesia dinilai
lebih santai (malas) dalam bekerja. Itulah sebabnya negara-negara barat dan
Jepang jauh lebih kaya dan maju sedangkan Indonesia tetap menjadi negara yang
miskin dan tertinggal. Hal ini bisa menjadi kaca mata analisa juga untuk
melihat tetangga A yang jauh lebih miskin dibandingkan dengan tetangga B yang
sama-sama menjadi tukang tambal ban. Ternyata tetangga A lebih miskin dibanding
tetangga B karena dia bangun jam 7.00 pagi setelah itu minum kopi dan bersantai
hingga jam 9.00 baru mulai menjalankan pekerjaannya sebagai penambal ban, lalu
sudah pulang lagi ke rumah jam 20.00, sedangkan di sisi lain tetangga B sudah
mulai buka tambal bannya sejak jam 6.00 pagi dan baru jam 22.00 dia tutup.
Pendekatan ini memang ada banyak benarnya. Sejak zaman Perjanjian Lama penulis
kitab Amsal sudah tahu kalau kemalasan itu akan menyebabkan kemiskinan (Amsl.6:6-11).
Namun demikian ada juga kasus-kasus dimana pendekatan ini tidak memadahi untuk
memahami sebab terjadinya kemiskinan. Kalau kita kembali melihat para pedagang
asongan dalam perjalanan tiga jam di atas, sebagian dari mereka ternyata tidak
bisa digolongkan sebagai orang-orang yang malas dan kurang bekerja keras.
Mereka memiliki jam kerja yang jauh lebih panjang dari para pekerja formal, dan
kalau melihat bagaimana mereka selalu mengejar dan turun-naik dari satu bus ke bus
yang lain, mereka bukanlah termasuk orang yang bekerja dengan setengah hati. Sehingga
pertanyaannya kemudian adalah “kenapa orang yang begitu rajin dan
sungguh-sungguh dalam bekerja tetap saja menjadi orang yang miskin?” tampaknya
faktor kemalasan tidak bisa menjadi jawaban lagi di sini. Oleh sebab itu kita
harus mulai mencari faktor-faktor penyebab lainnya. Lalu kita menemukan
kobodohan; oh ternyata orang itu tidak berpendidikan sehingga ia tidak bisa
mengembangkan usahanya. Lalu kita bertanya mengapa orang itu tidak
berpendidikan? Mengapa dia tidak sekolah? Kenapa biaya sekolah begitu mahal?
Dan kenapa sekolah A seakan-akan hanya diperuntukkan bagi anak-anak dari
golongan A saja, karena anak-anak dari golongan B walau pun pintar tetap tidak
bisa masuk ke sana? Kalau kita sudah sampai pada pertanyaan-pertanyaan seperti
ini, maka kita merasa bahwa pendekatan individual ternyata sama sekali tidak
memadahi untuk menerangkan penyebab kemiskinan. Oleh karena itu pendekatan
struktural akan sangat menarik perhatian kita.
Dalam pendekatan struktural,
penyebab kemiskinan terutama disebabkan oleh struktur masyarakat dan negara.
Jadi meliputi masalah sosial, budaya dan politik. Seringkali struktur
masyarakat kita terbentuk sebagai suatu struktur yang menguntungkan sedikit
orang tetapi merugikan banyak orang lainnya; ini adalah suatu struktur yang
tidak adil. Di Indonesia khususnya, struktur yang tidak adil ini – atau bisa
kita sebut sebagai ketidakadilan sosial – berdiri hampir di semua
lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sehingga ketidakadilan itu bagaikan udara yang
kita hirup setiap hari, mau tidak mau. Atau, bagaikan kekangan atau perangkap
yang menentukan dan membatasi jangkauan gerak-gerik dan pengelihatan kita.[9]
Dari perspektif ini kita kemudian bisa memahami mengapa pedagang asongan itu
tidak dapat keluar dari kemiskinannya; ternyata ketidakmampuannya dalam
mengembangkan usahanya bukanlah semata-mata karena kesalahannya sendiri karena
ia bodoh dan tak berpendidikan. Tetapi jauh lebih dalam dari itu, yang
sebenarnya menyebabkan ia tidak berpendidikan dan bodoh adalah strutur
masyarakat yang tidak adil dan pemerintah yang tidak peduli. Seharusnya masalah
pendidikan adalah tanggung jawab pemerintah, tidak memiliki uang bukan alasan
bagi seseorang tidak bisa menikmati pendidikan. Pemerintah seharusnya
menciptakan suatu sistem pendidikan yang memungkinkan orang yang paling miskin
pun bisa menikmati pendidikan sampai ke jenjang yang paling tinggi. Bukannya
malah melanggengkan diskriminasi yang membatasi kaum miskin untuk menikmati
pendidikan yang sangat butuhkan dan inginkan. Kembali pada pedagang asongan
tadi, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kemiskinan ternyata tidak
semata-mata disebabkan oleh faktor individual melainkan terutama sebenarnya
oleh faktor struktural. Dan faktor stuktural ini begitu besar mengambil peran
dalam penciptaan kemiskinan, karena ia meliputi semua orang yang ada di
dalamnya. Faktor ini berada di luar diri individu sehingga dalam banyak hal
tidak bisa dikendalikan oleh individu tersebut, tetapi sangat mempengaruhi
individu tersebut. Ia bagaikan sebuah ikatan yang menghambat seseorang untuk
dapat bergerak dengan bebas; ia menjadi jurang yang menghalangi seseorang untuk
melangkah mencapai tujuannya di seberang sana, ia juga menjadi batu besar yang
menutupi jalan yang sedang dilalui seseorang atau menjadi beban berat yang
harus dipikul oleh seseorang dalam melelusuri jalan-jalan yang terjal berbatu
dan licin.
Jadi, apa itu kemiskinan, dan bagaimana mengatasinya
Pertanyaan “apa itu kemiskinan?”
sangat penting untuk kita jawab, karena dari jawaban kita itulah kemudian kita dapat
merumuskan metode-metode dan program-program untuk mengatasinya. Jawaban kita
terhadap pertanyaan itu merupakan identifikasi kita terhadap persoalan dan
esensi kemiskinan, yang mana hal itu akan menjadi penentu tepat tidaknya
program dan metode yang kita pakai untuk mengatasinya. Apa itu kemiskinan? Ada
dua pandangan yang menurut saya saat ini dianut oleh para pecinta keadilan yang
memperjuangkan penghapusan kemiskinan, yaitu yang pertama pemahaman kemiskinan sebagai kekurangan dan yang
kedua pemahaman kemiskinan sebagai
keterbatasan.
Kemiskinan
sebagai kekurangan adalah suatu pemahaman yang memandang orang miskin adalah
orang yang sepenuhnya memiliki barbagai kekurangan. Sehingga dalam
mendefinisikan kemiskinan ia memakai kalimat-kalimat seperti; tidak mempunyai
ini atau itu, tidak dapat memenuhi kebutuhan ini atau itu, dll. dalam pemahaman
ini letak kemiskinan tukang becak adalah terletak pada ketidak-mampuannya dalam
memenuhi kebutuhan pokoknya seperti sandang, pangan, papan bagi keluarganya.
Demikian juga dilihat kemiskinan para pedagang asongan, pengamen, dan pengemis
yang kita bicarakan di atas. Pemahaman mengenai kemiskinan yang seperti ini
akan memunculkan program pengentasan kemiskinan yang hanya berorientasi pada
membantu orang-orang miskin tersebut dalam memenuhi kekurang-keurangan mereka.
Hal ini sangat tampak dalam gerakan Bandung peduli yang kita lihat di atas.
Dari deskripsinya mengenai masalah kemiskinan yang ada di Indonesia, kita tahu
bahwa yang dilihatnya sebagai masalah kemiskinan adalah sebatas masalah
kekurangan (misalnya ancaman keaparan = kekurangan pangan). Oleh sebab itu
program pengentasan kemiskinan yang mereka lakukan adalah pemberian sembako.
Dengan memberikan bantuan semacam itu, Bandung peduli berharap bisa mencukupkan
apa yang kurang (yang tidak bisa dipenuhi) dari orang-orang miskin tersebut.
Pemahaman semacam ini secara tidak langsung menganggap bahwa apabila suatu saat
nanti orang-orang miskin itu sudah bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu secara
mandiri, maka itu berarti bahwa kemiskinan sudah teratasi; karena mereka tidak
lagi mengalami kekurangan fisik seperti yang telah dialami sebelumnya. Apakah
pendekatan seperti ini benar-benar dapat menjawab masalah kemiskinan? Adam Y. Zikrullah menulis;
“Kemiskinan
dalam pengertian konvensional pada umumnya (income) komunitas yang
berada dibawah satu garis kemiskinan tertentu. Oleh karena itu sering sekali
upaya pengentasan kemiskinan hanya bertumpu pada upaya peningkatan pendapatan
komunitas tersebut. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa pendekatan
permasalahan kemiskinan dari segi pendapatan saja tidak mampu memecahkan
permasalahan komunitas. Karena permasalahan kemiskinan komunitas bukan hanya
masalah ekonomi namun meliputi berbagai masalah lainnya. Kemiskinan dalam
berbagai bidang ini disebut dengan kemiskinan plural.”[10]
Sejak
lahirnya Ajaran Sosial Gereja yang pertama (Leo XIII, Renum Novarum, 1891), gereja juga semakin menyadari bahwa pendekatan
karikatif seperti ini adalah tidak memadahi untuk mengatasi persoalan
kemiskinan yang kompleks.[11]
Pemahaman yang kedua adalah kemiskinan sebagai keterbatasan. Dalam
pemahaman ini kemiskinan dilihat sebagai halangan, rintangan, atau penindasan
yang menyebabkan seseorang tidak bisa melakukan atau bergerak dengan leluasa
mencapai apa yang ia inginkan. Kemiskinan adalah pengalaman ketidakberdayaan
dan ketergantungan[12].
Seperti yang sudah saya contohkan dalam pokok kemiskinan mutlak, kemiskinan
menyebabkan seseorang tidak bisa mengembangkan potensi yang ada di dalam
dirinya atau menggapai cita-citanya. Kemiskinan benar-benar serupa batu besar
yang meghalangi langkah maju seseorang. Kemiskinan seperti ini terutama berada
dalam bentuk struktur yang tidak adil. Ketidakberdayaan dan ketergantungan dengan
sistem dan struktur yang tidak adil itu membuat kita selalu dirugikan (paling
tidak kita tidak mendapat keuntungan seperti yang bisa didapat oleh orang-orang
yang diuntungkan oleh sistem yang tidak adil itu) dalam setiap apa yang kita
usahakan. Namun demikian kita tidak bisa melawan atau bertindak seakan-akan
struktur itu tidak ada. Tidak ada ruang yang tidak ditempatinya, tidak ada
tempat dimana kita bisa benar-benar bebas dari pengaruh dan kekuasaannya. Mau
tidak mau kita harus hidup dan melakukan segala aktifitas kita di bawah
pengaruh struktur tersebut. Karena strutur itu ternyata tidak menguntungkan
kita dan bahkan cenderung selalu menghalangi kita untuk maju, maka strutur itu
sendiri bagi orang-orang miskin yang dirugikan adalah suatu keterbatasan. Dalam
struktur ini orang-orang miskin tidak mempunyai akses/ jalan pintas menuju
tempat lebih tinggi karena jalan yang disediakan oleh struktur itu sangat
sulit, berat dan terjal, kalau tidak bisa dibilang bahwa jalan-jalan itu
sebenarnya memang dibuat buntu sama sekali.
Pemahaman yang demikian akhirnya
memunculkan gerakan-gerakan pengentasan kemiskinan yang berorintasi pada
pembebasan. Menurut saya, praksis pembebasan yang dilakukan dalam usaha
pengentasan kemiskinan sebenarnya dapat bibedakan menjadi dua, yaitu yang
pertama pembebasan dengan cara berusaha menghancurkan dan merubah sistem yang
tidak adil itu sehingga orang-orang miskin bisa mengembangkan diri mereka
dengan lebih bebas dan leluasa. Dan yang kedua pembebasan dengan cara
memberikan tenaga /kekuatan kepada orang-orang miskin itu untuk kemudian secara
mandiri berjuang melawan dan melampaui sistem yang tidak adil itu. Pendekatan
yang pertama dilakukan dengan cara mempengaruhi dan merubah sistem secara
langsung dari yang tadinya merugikan orang miskin menjadi sistem yang lebih berpihak
kepada orang-orang miskin. Misalnya saja dengan berusaha mengubah undang-undang
perburuhan yang selama ini lebih menguntungkan pengusaha supaya lebih berpihak
kepada para buruh , atau dengan mendobrak sistem pasar yang sangat merugikan
para petani kecil di desa-desa. Selain itu usaha-usaha ini bisa dilakukan
dengan pembentukan wacana-wacana yang berpihak kepada kaum miskin, seperti
feminisme, kepedulian dan kesetiakawanan sosial dll. Sedangkan pendekatan yang
kedua dilakukan dengan cara memberikan pendidikan kepada orang-orang miskin,
karena pendidikan dianggap sebagai kekuatan yang dapat dipakai oleh orang-orang
miskin untuk berjuang melawan sistem yang selama ini membatasi ruang gerak
mereka. Pendidikan ini bisa diberikan dalam bentuk pendidikan formal maupun
pendidikan khusus (ketrampilan). Usaha-usaha ini biasanya dilakukan dengan
memberikan bantuan untuk pengadaan fasilitas pendidikan dan beasiswa untuk
murid-murid yang miskin.
Kalau kita memperhatikan usaha-usaha
pengentasan kemiskinan di Indonesia, baik yang dilakukan oleh pemerintah,
lembaga keagamaan maupun oleh LSM-LSM, ternyata telah mencakup ketiga
pendekatan di atas. Usaha pengentasan kemiskinan telah dilakukan dengan
pembagian sembako, BLT (bantuan langsung tunai), perubahan berbagai peraturan
yang tidak berpihak kepada orang miskin, dan juga program-program peningkatan
pendidikan seperti peningkatan kesejahteraan guru, peningkatan fasilitas
pendidikan dan beasiswa. Bahkan lebih dari itu mengenai masalah pendidikan, pemerintah
telah menetapkan wajib belajar enam tahun yang kemudian ditingkatkan lagi menjadi
wajib belajar sembilan tahun. Sampai di sini pertanyaan yang sudah mucul dalam pendahuluan
muncul kembali; mengapa semua usaha itu seperti belum berbuah apa-apa? Mengapa
di Indonesia masih sangat banyak orang yang hidup dalam kemiskinan? Menurut
saya, masalahnya ada pada skala prioritas. Saat ini usaha-usaha pengentasan
kemiskinan dilakukan dengan banyak macam cara dan program tetapi semuanya tidak
maksimal. Selain itu program-program yang dibuat kebanyakan lebih bersifat
sementara dan tidak berorientasi pada usaha pemutusan lingkaran setan
kemiskinan. Sebut saja program pembagian sembako yang dilakukan oleh Bandung
Peduli. Bantuan itu hanya mengurangi sedikit penderitaan orang-orang miskin
yang menerima bantuan itu, tetapi sama sekali tidak dapat membuat mereka keluar
dari kemiskinan. Demikian juga dengan program BLT yang dilakukan oleh
pemerintah. Program-progaram semacam ini hanya mampu mengurangi sedikit
penderitaan orang-orang miskin karena mereka yang tadinya hanya bisa makan dua
kali sehari menjadi bisa makan tiga kali sehari dengan menu yang lebih baik.
Namun demikian, sekali lagi hal itu tidak akan membuat mereka keluar dari jerat
kemiskinan. Setelah program selesai mereka masih tetap dalam keadaan miskin dan
mungkin akan kembali makan dua kali sehari. Seperti yang telah dikutip di atas,
saya setuju dengan Zikrullah bahwa upaya pengentasan kemiskinan yang hanya
bertumpu pada upaya peningkatan pendapatan komunitas ternyata tidak mampu
memecahkan permasalahan kemiskinan. Mengenai jenis usaha yang kedua yaitu
pendobrakan terhadap struktur yang tidak adil, menurut saya merupakan program
yang baik karena didasarkan pada esensi kemiskinan yang tepat, yaitu kemiskinan
sebagai keterbatasan. Namun demikian dalam banyak kasus, kita temui bahwa
usaha-saha seperti ini ternyata kurang efektif bagi pemberantasan kemiskinan.
Mengapa saya katakan demikian? Dari kata struktur sendiri kita sebenarnya sudah
bisa membayangkan bagaimana kehidupan ini sebenarnya disusun dalan
kaitan-kaitan hal yang sangat kompleks dan rumit. Kalau kita sudah bisa
memperbaiki satu bagian dari struktur itu, belum tentu kita akan bisa bergerak
dengan lebih baik dan leluasa karena ternyata ada bagian struktur lain yang
masih sangat membatasi ruang gerak kita. Lalu kita memperbaiki bagian yang
menghambat itu, tetapi ternyata ada bagian lain lagi yang lebih menghambat
kita, dan akan begitu seterusnya. Kalau kita telah berhasil memperjuangkan perubahan
undang-undang perburuhan sehingga lebih memihak kepada para buruh, itu sama
sekali tidak menjamin bahwa para buruh tidak akan miskin lagi. Mengapa
demikian? Karena di luar pabrik mereka masih harus berhadapan dengan
transportasi yang (dibuat) mahal, kebutuhan-kebutuhan pokok yang (dibuat)
mahal, biaya pendidikan anak-anak yang (dibuat) mahal dsb. Dengan perubahan
undang-undang perburuhan mungkin memang mereka mendapat gaji yang lebih besar,
tetapi pada akhirnya gaji mereka itu juga akan habis dihisap oleh bagian-bagian
struktur lain yang mugkin lebih tidak adil. Dan sebagai hasilnya mereka tetap
saja miskin. Melalui argumentasi di atas saya tidak ingin mengatakan kalau usaha-usaha
itu sia-sia saja. Tetapi yang mau saya katakan adalah bahwa merubah struktur
yang tidak adil itu adalah suatu pekerjaan raksasa yang sangat sulit. Terlalu
banyak bagian dari struktur yang harus diperbaiki kalau kita benar-benar ingin
membukakan jalan bagi si-miskin dalam usaha menggapai cita-citanya. Dan yang
terakhir, mengenai jenis usaha yang ketiga yaitu memberikan kekuatan (melalu
pendidikan) kepada si-miskin untuk secara mandiri mendobrak struktur yang tidak
adil itu, menurut saya adalah sebagai usaha yang paling baik dan tepat. Pengetahuan
adalah suatu kekuatan, oleh sebab itu orang-orang miskin yang lemah membutuhkan
pengetahuan untuk secara mandiri bangkit dari keterpurukan mereka. Dengan
kekuatan pengetahuan itu mereka akan menyingkirkan batu-batu ketidakadilan yang
menghalangi jalan mereka, atau memutuskan tali-tali ketidakadilan yang mengikat
kaki mereka dan mendobrak penjara-penjara ketidakadilan yang selama ini sangat
membatasi ruang gerak mereka. Terlalu banyak batu, tali pengikat, penjara dan
jerat-jerat lainnya yang menyebabkan orang miskin tidak bisa bergerak, dan
untuk menghancurkan semua itu perlu waktu yang sangat lama bila mesti kita
kerjakan sendiri. Oleh sebab itu jalan satu-satu yang yang paling efektif
menurut saya adalah; marilah kita memberikan kekuatan kepada setiap orang
miskin, sehingga mereka dapat mendobrak dan menghancurkan jerat-jerat yang
mengikat diri mereka sendiri. Banyak orang miskin, yang karena kepintarannya
akhirnya bisa keluar dari jurang kemiskinan itu, walaupun ia berada dalam
struktur sosial yang sama sekali tidak menguntungkan orang-orang miskin.
Jadi sebagai kesimpulan,
ketidakberhasilan pengentasan kemiskinan di Indonesia disebabkan oleh yang
pertama banyaknya jenis program yang justru menyebabkan ketidakmaksimalan, dan
yang kedua tidak ada prioritas terhadap program yang paling penting dan
menentukan yaitu pendidikan. Misalnya saja mengenai program wajib belajar yang
dicanangkan oleh pemerintah, ternyata gema wajib belajar itu makin hari makin melemah karena komitmen bangsa
ini pada wajib belajar tidak seperti saat dicanangkan pada tahun 1984 lalu.
Jika selama ini kita melihat pendidikan tinggi itu mahal, sekolah menengah juga
mahal, SMP juga mahal, sekarang kita saksikan memasuki sekolah dasar pun sudah
mahal[13].
Sampai di sini saya tidak bermaksud mengusulkan untuk menghentikan pelayanan
karikatif, dan perubahan struktur, karena bagaimanapun hal-hal itu sangat
penting dalam kasus-kasus khusus. Tetapi saya berpendapat bahwa seharusnya
lebih banyak waktu, tenaga dan dana mesti diberikan untuk program pendidikan,
karena pendidikan sangat perpotensi untuk memutus lingkaran setan kemiskinan
pada generasi berikutnya. Apabila anak-anak kita diberikan pendidikan yang
paling baik dan maksimal, maka kemungkinan besar cucu-cucu kita sudah akan
terbebas dari kemiskinan.
Refleksi teologis;
Kalau kita membaca kitab-kitab
Injil maka kita akan menemukan bahwa dalam pelayananNya terhadap orang miskin, ternyata
Yesus tidak datang dengan membawa kekayaan. Bagi Yesus kekayaan bukanlah
jawaban bagi orang-orang miskin yang Ia layani waktu itu. Tetapi ia datang
dengan membawa pembebasan bagi orang-orang miskin yang terikat dengan
keterbatasan-keterbatasan. PernyataanNya mengenai apa yang akan Ia lakukan
dalam PelayananNya yang terlihat dari kutipan Yes. 61:1-2, yang Ia baca pada
waktu ia beribadah di Nazaret memperlihatkan bahwa orientasi pelayananNya
adalah pembebasan (Luk. 4:18-19). Ia akan membebaskan
orang-orang yang tertawan, memberi
pengelihatan kepada orang buta, membebaskan
orang tertindas dan menyampaikan kabar baik kepada orang miskin. Tertawan, sakit,
dan tertindas adalah suatu bentuk konkret dari keterbatasan, dan keterbatasan
itu sendiri adalah kemiskinan, jadi dapat dikatakan bahwa dalam pandangan Yesus
kemiskinan bukanlah terutama suatu masalah kekurangan melainkan adalah suatu
masalah keterbatasan. Oleh sebab itu Ia
terutama membawa kabar pembebasan untuk melepaskan orang-orang miskin itu dari
keterbatasannya, dan tidak membawa kekayaan untuk menutupi apa yang kurang dari
orang-orang miskin itu. Memang dalam pelayananNya Yesus pernah juga memberikan
makanan kepada orang-orang miskin (Mat. 14:13-21; Mark. 6:30-44; Luk. 9:10-17;
Yoh. 6:1-13), tetapi dari pernyataan Yesus mengenai orang-orang miskin yang
mengikutinya dalam Yoh. 6:26 terlihat bahwa Yesus tidak menganggap memberi
makanan kepada orang miskin sebagai bentuk pelayanan yang paling tepat dan
baik. Kekayaan (yang disimbolkan dengan makanan) bukanlah jalan yang ditempuh
Yesus dalam menanggapi kemiskinan. Dalam
kaca mata Yesus kekayaan sama berbahaya dengan kemiskinan, sebab kekayaan pada
akhirnya malah bisa menjadi jerat yang jauh lebih berbahaya dari pada
kemiskinan itu sendiri (Mark. 10:23). Oleh sebab itu misi Yesus adalah
membebaskan. Ia menyembuhkan orang yang lumpuh, buta, karasukan setan dan
berbagai macam penyakit lainnya yang menyebabkan
seseorang menjadi terbatas, sebagai bentuk pembebasan. Kelumpuhan adalah
keterbatasan, membuat orang tidak bisa pergi kemana-mana, ia menghabat
seseorang untuk menggapai apa yang dicita-citakannya, ia juga menghalangi
seseorang untuk mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya. Demikian juga
dapat kita katakan mengenai kebutaan, kerasukan setan dan semua jenis penyakit
lainnya. Atas semua realitas itu Yesus datang sebagai seorang pembebas.
Aksi pastoral; mari
tingkatkan pendidikan di Indonesia!!!
Mengawali makalahnya
tentang kemiskinan dan kesempatan
memperoleh pendidikan, Djauzak Ahmad, menulis;
“bagi bangsa yang ingin maju, pendidikan merupakan
sebuah kebutuhan. Sama dengan kebutuhan perumahan, sandang, dan pangan. Bahkan,
ada bangsa atau yang terkecil adalah keluarga, pendidikan merupakan kebutuhan
utama. Artinya, mereka mau mengurangi kualitas perumahan, pakaian, bahkan
makanan, demi melaksanakan pendidikan anak-anaknya.”[14]
Saat ini pendidikan di Indonesia semakin mahal dan tidak terjangkau oleh
orang-orang miskin. Ini adalah masalah yang sangat menyedihkan, karena
pendidikan adalah satu-satunya peluang bagi orang-orang miskin untuk keluar dari
kemiskinannya. Sungguh satu hal yang ironis. Sebab, pada negara yang hampir 60
tahun usianya ini, banyak anak bangsanya akan menjadi buta huruf karena dililit
kemiskinan dan negeri ini akan terpuruk karena kualitas sumber daya manusianya
tidak mampu bersaing dengan negara –negara yang lain.[15]
Oleh sebab itu sebagai aksi pastoral saya mengusulkan agar masalah pendidikan
kembali diperhatikan dan dipikirkan. Mari kita menggunakan seluruh kemampuan
kita (daya dan dana) untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia. Mari kita buat
orang yang paling miskin pun dapat menikmati pendidikan, bukan hanya pada
tingkat dasar tetapi sampai tingkat pendidikan yang tertinggi yang ia dapat
capai (S3).
Daftar pustaka
Muhammad Ridlo ‘Eisy, Kemiskinan & Kelaparan di Indonesia - Upaya ‘Bandung Peduli’ untuk Turut
Mengatasinya, www fortunecity.com (Tulisan ini juga dimuat di H.U.
Pikiran Rakyat, Edisi 27 Agustus 1998)
Adam Y.
Zikrullah, Struktur Ekonomi dan
Pengentasan Kemiskinan, www.pu.go.id
J.B.
Banawiratma, SJ & J. Muller, SJ, berteologi
sosial lintas ilmu – kemiskinan sebagai tantangan hidup beriman,
Yogyakarta: Kanisius 1993, hal. 126
J.B.
Banawiratma, SJ, Kemiskinan dan
Pembebasan, Yogyakarta: Kanisius, 1987, hal. 120
Djauzak Ahmad, Kemiskinan dan Kesempatan Memperoleh
Pendidikan Wwwkompas.com: Kamis, 05 Agustus 2004
[1] Muhammad Ridlo ‘Eisy, Kemiskinan & Kelaparan di Indonesia - Upaya ‘Bandung Peduli’ untuk Turut
Mengatasinya, www fortunecity.com (Tulisan ini juga dimuat di H.U.
Pikiran Rakyat, Edisi 27 Agustus 1998)
[2] Adam Y. Zikrullah, Struktur
Ekonomi dan Pengentasan Kemiskinan, www.pu.go.id
[3] Muhammad Ridlo ‘Eisy, Kemiskinan & Kelaparan di Indonesia - Upaya ‘Bandung Peduli’ untuk Turut
Mengatasinya
[4] Muhammad Ridlo ‘Eisy, Kemiskinan & Kelaparan di Indonesia - Upaya ‘Bandung Peduli’ untuk Turut
Mengatasinya
[5] J.B. Banawiratma, SJ & J. Muller, SJ, berteologi sosial lintas ilmu – kemiskinan sebagai tantangan hidup
beriman, Yogyakarta: Kanisius 1993, hal. 126
[6] J.B. Banawiratma, SJ & J. Muller, SJ, berteologi sosial lintas ilmu – kemiskinan sebagai tantangan hidup
beriman, hal. 126
[7] J.B. Banawiratma, SJ & J. Muller, SJ, berteologi sosial lintas ilmu – kemiskinan sebagai tantangan hidup
beriman, hal. 126
[8] J.B. Banawiratma, SJ & J. Muller, SJ, berteologi sosial lintas ilmu – kemiskinan sebagai tantangan hidup
beriman, hal. 146
[9] J.B. Banawiratma, SJ & J. Muller, SJ, berteologi sosial lintas ilmu – kemiskinan sebagai tantangan hidup
beriman, hal. 155
[10] Adam Y. Zikrullah, Pengentasan Kemiskinan,
www.pu.go.id
[11]J.B. Banawiratma, SJ, Kemiskinan
dan Pembebasan, Yogyakarta: Kanisius, 1987, hal. 120
[12] J.B. Banawiratma, SJ & J. Muller, SJ, berteologi sosial lintas ilmu – kemiskinan sebagai tantangan hidup
beriman, hal. 128
[13] Djauzak Ahmad, Kemiskinan dan Kesempatan
Memperoleh Pendidikan Wwwkompas.com: Kamis, 05 Agustus
2004
[14] Djauzak
Ahmad, Kemiskinan dan
Kesempatan Memperoleh Pendidikan
[15] Djauzak
Ahmad, Kemiskinan dan
Kesempatan Memperoleh
TEOLOGI
konteks Indonesia: lulusan S1 banyk yg nganggur mas! prosentase 20%….lulusan smu 40%…bgmn mas?
Comment by cilik — August 26, 2007 @ 4:06 am
kemiskinan tidak akan dapat dihapuskan, selama matahari terbit sampai matahari tenggelam kemiskinan akan tetap ada. jika kita berdoa untuk kedamaian..apakah TUHAN akan memberikan kedaimain, jawabnya TIDAK. akan tetapi IA memberi kesempatan untuk berdamai. jika kita berdoa untuk kerukunan..apakah TUHAN memberi hidup rukun, jawabnya TIDAK. tapi IA memberi kesempatan untuk hidup rukun. jika ingin mengubah dunia, lakukan dengan satu hal..ketulusan KASIH.
kemiskinan tidak bisa cuma diselesaikan hanya sebuah teori, teori hanya sebuah omong kosong belaka. yang membuat orang ternina bobokan impian sesaat atas nama penyelesaian masalah. atas nama ketidak adilan..atas nama kemerosotan moral…bahkan atas nama TUHAN. sungguh ironis sekali….
jika ingin berjalan 1000 langkah, mulailah dengan satu langkah…jika ingin mengubah dunia, lakukanlah dengan satu hal..KETULUSAN KASIH
Comment by puji — May 9, 2008 @ 10:10 pm
Aku setuju Mas, kemiskinan adalah masalah yang sangat kompleks.Karena itu, melawannya tidak memadai hanya dengan satu jurus pamungkas. Kadangkala ku pikir, apa iya toh kemiskinan itu bisa dibasmi???? tapi bagaimanapun kemiskinan harus kita lawan bersama. Kata Pak Presiden, “Bersama kita bisa”.
Comment by Rudy Harold — October 5, 2008 @ 8:23 am
kalau semua orang miskin sesungguhnya tidak ada masalah dengan kemiskinan. kemiskinan mjd masalah karena ada sebagian kecil orang yang punya banyak akses ke banyak sumbr daya sekaligus pada saat bersamaan ada banyak orang yang sedikit aksesnya ke sumber daya. ini soal keadilan juga. Ada relasi yang tidak adil atau bahkan rusak. kemiskinan akhirnya menjadi soal relasi antar manusia.
apabila lemiskinan mau didefinisikan menjadi keterbatasan yang berkenaan dengan hak milik rasanya perjuangan bagi si miskin menjadi dangkal. perjuangan itu Tidak cukup untuk dibatasi sebagai upaya memenuhi kebutuhan si miskin agar kecukupan. kemiskinan adalah perjuangan seluruh umat manusia agar menjadi lebih manusiawi lagi, bermartabat sebagai manusia dengan menjadi sesama manusia dalam relasi yang manusiawi.
ok, perjuangan mengatasi kemiskinan memang pantas dilakukakan dan harus berjalan sepanjang masih ada saudara kita sesama manusia yang tidak manusiawi hidupnya karena kemiskinan. Susah jadi manusia!
Comment by onggo — December 28, 2008 @ 7:56 am