FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

May 2, 2007

AYUB 10

Filed under: Bahan Pemahaman Alkitab — admin @ 8:33 am

Oleh: Yahya Wijaya

Pasal 10 mengulang kembali ratapan Ayub yang telah dikemukakan dalam pasal 3. Sekarang Ayub lebih terang-terangan menggugat Allah. Dalam ratapannya Ayub menggambarkan Allah sebagai bukan hanya mahakuasa, tetapi juga maha sewenang-wenang, suka iseng dan sama sekali tidak punya perasaan. Ia menuduh Allah telah membuatnya sebagai barang mainan saja: dibuat seenaknya, kemudian disakiti seenaknya pula, dan akhirnya akan dimusnahkan dengan seenaknya juga. Bagainya tidaklah fair jika Allah berperkara dengan manusia, karena kapasitas manusia tidak mungkin dapat menandingi kapasitas Akkah. Apa pun yang diperbuat manusia, tetapi bisa dianggap salah oleh Allah. Ayub berpendapat bahwa sebetulnya benar dan salah pun bagi Allah tidak banyak artinya. Kalau dia salah, jelas Allah akan menghukum, tetapi ketika ia benar pun, ia harus sangat hati-hato, sebab Allah sudah siap untuk membuktikan bahwa yang benar itu pun mengandung kesalahan. Pokoknya, Allah selalu punya alasan dan kekuasaan untuk menghukum seseorang, tak peduli bagaimana pun kondisi moral dan spiritualnya.

Ratapan Ayub sebenarnya menggugat tradisi yang menggambarkan keadilan Allah secara mekais, seperti yang diungkapkan dalam perkataan sahabat-sahabatnya. Tradisi, yang masih diyakini banyak orang beragama sampai sekarang, itu mengajarkan bahwa berkat dan kutuk dari Allah berlaku sejajar dengan kebaikan dan kejahatan manusia. Dengan paradigma itu, nasib yang dialami seseorang dapat dipakai sebagai ukuran untuk menilai sikap terhadap Allah. Ratapan Ayub menolak teori itu. Dalam hal ini Ayub mewakili pengalaman banyak orang menderita, yang penderitaannya tidak dapat dijelaskan dengan moralitas ataupun spiritualitas mereka. Maka, kalau biasanya orang minta disertai Tuhan ketika sedang dalam kesusahan, Ayub justru minta supaya ditinggalkan saja. Just leace me alone! Bagi Ayub penyertaan Tuhan bukanlah berkat. Disertai oleh penguasa yang sewenang-wenang dan suka iseng, memang, siapa mau?

Ayub sering diambil sebagai contoh dari orang beriman yang tabah menghadapi cobaan. Dalam cerita orang Kristen, Ayub seringkali digambarkan terlalu romantis. Seolah-olah ia tidak terlalu terpengaruh oleh nasib buruk yang ia alami. Seakan-akan ia selalu bisa mnerima semuanya itu dengan lapang dada. Jarang disebutkan tentang Ayub yang meratap dan menggugat Allah secra begitu blak-blakan (dan agak kurang ajar) seperti diungkapkan dalam pasal ii. Dengan meromantisasikan sosok Ayub, orang-orang yag menderita diminta untuk sellau bersyukur dalam penderitaan mereka. Mereka dituntut untuk percaya bahwa bagaimana pun Allah punya maksud baik dengan membiarkan mereka menderita. Hasilnya, orang menderita tidak berani menggugat Allah, walaupun perasaan seperti itulah yang sebenarnya berkecamuk di dalam hatinya. Doa-doa kita biasanya sangat sopan, formal dan taat asas terhadap doktrin gereja, tetapi tidak selalu mengungapkan isi hati kita yang sebenarnya. Dengan kata lain, doa dan liturgi yang indah belum tentu jujur. Padahal, kalau di hadapan Allah orang diharuskan menekan kegalauannya, ia akan mengungkapkannya dengan cara lain dan dalam forum yang lain. Kalau di depan Allah, orang mrasa serta salah dan sama sekali tak berdaya, di tempat lain ia bisa mencari “kompensasi” dengan bersikap sok kuasa da bagaimana pemegang monopoli kebenaran. Barangkali karena itulah, fenomena amuk masa dan tindakan-tindakan anarkis lain banyak terjadi di negara-negara yang sangat beragama.

Memang gambara Ayub tentang Allah yang sewenang-wenang dan suka iseng dipersoalkan pada bagian akhir dari kitab Ayub. Meskipun demikian, ratapan Ayub sendiri tampaknya dimaklumi. Buktinya, pada akhirnya Ayub dibenarkan, sedangkan sahabat-sahabatnya, yang telah berusaha membela Allah dari kecaman Ayub, justru disalahkan. Kalau kembali pada awal cerita, di mana iblis (atau “si pendakwa” menurut tafsiran EGS) menantang klaim Allah tentang kesalehan Ayub, pada akhirnya Allah terbukti benar. Ayub memang orang beriman. Yang salah adalah gambaran umum tentang orang beriman. Benar bahwa orang beriman mengakui kuasa Allah, tunduk dan berserah kepadaNya, tetapi tidak benar bahwa orang seperti itu tidak pernah mempertanyakan keadilan Allah. Ayub adalah orang beriman, justru karena ia berani mengungapkan isi hatinya tentang Allah secara jujur dan terbuka, betapa pun itu tidak sesuai denan doktrin dan tradisi resmi agama.

Beberapa pertanyaan untuk didiskusikan :
1. Banyak orang sebenarnya mempunyai gambara tentang Allah yang sewenang-wenang, termasuk di dalamnya adalah konsep takdir, tetapi mereka daat menerimannya begitu saja. Ayub punya gambaran yang sama tentang Allah, namun ia menggugat itu. Apa implikasi-implikasi etika sosial dari kedua sikap itu (menerima dan menolak keseweang-wenangan Allah)?
2. Ketika kita minta penyertaan Tuhan, gambaran tentang Tuhan macam apakah yang kita miliki? Sadarkah kita akan konsekuensinya kalau Tuhan (menurut pemahaman kita) benar-benar menyertai setiap saat?
3. Cukup jujurkah lagu-lagu semacam “Betapa Kita Tidak Bersyukur, Bertanah Air Kaya dan Makmur”, sementara kenyataannya kekayaan negeri ini sudah dan sedang dirampok oleh bangsa sediri tanpa ada yang bisa menghentikan, da rakyat harus antri beli minyak tanah, ada yang makan arang, dan beberapa sudah bunuh diri karena tidak tahan penderitaan?
4. Bagaimanakah kita beragama secara jujur dalam konteks Indonesia yang semakin hari semakin terpuruk dan semakin kacau ini?

1 Comment »

  1. Salah satu tokoh dalam Perjanjian Lama yang terkenal dengan kesetiaan dan ketaatannya walau mengalami penderitaan yang hebat adalah Ayub.

    Pertanyaannya:

    1. Sebenarnya apa saja konsep penderitaan menurut Kitab Ayub?

    2. Apa relevansi penderitaan Ayub (Kitab Ayub) bagi pendewasaan iman Kristiani dewasa ini?

    Mohon tanggapan/komentarnya.

    Terima Kasih

    Comment by Toni — December 22, 2008 @ 6:25 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress