AYUB 11
Oleh: Tabita Kartika C , September 2005
Karena derita yang sedemikian hebat dan sulit dimengerti atau dijelaskan penyebabnya, ditambah ketidakmengertian sahabat-sahabatnya, maka Ayub berperkara dengan Allah. Pada pasal 9-10 Ayub melontarkan protes dan kritik yang cukup keras kepada Allah, sehingga Zofar,t emannya yang ketiga, bereaksi dengan keras pula (11:2-6). Zofat menyebut Ayub sebagai orang banyak bicara, banyak mulut dan berbua. Sama seperti Elifas dan Bildad, Zofar juga mewakili cara berpikir dogmatis dari agama monoteistis, dalam hal ini agama Yahudi.
Zofar tidak dapat diyakinkan oleh Ayub bahwa ia tidak bersalah, dan bahwa Allah membinasakan baik orang yang bersalah maupun yang tidak bersalah. Zofar tetap yakin bahwa Allah benar dan adil dalam perlakuanNya terhadap Ayub. Zofar tetap yakin bahwa Ayub pasti bersalah sehingga ia mengalami penderitaan yang hebat itu. Inilah rahasia himkat Allah yang terlalu gelap bagi manusia untuk mmahaminya. Hanya jika Allah sendirilah yang membukakan rahasia itu, Ayub akan mengerti. Ayat 6c “maka engkau akan mengetahui” dapat diterjelmahkan “maka engkau tidak akan membantah lagi”. Ayub akan mengerti bahwa hukuman Allah itu masih ringan, karena hanya memperhitungkan sebagian dari kesalahan Ayub, dan tidak memperhitungkan sebagian yang lain.
Pada ayat 7-9 Zofar menegaskan transendensi Allah, bahwa hakikat Allah tak dapat dipahami manusia dan bahwa kekuasaanNya melampaui segala ukuran maksimal yang dikeal orang pda zaman itu :
• Jarak vertikal ke tas dari bumi ke langit.
• Jarak vertikal ke bawah dari bumi ke dunia orang mati (Syeol)
• Jarak horisontal dari ujung timur sampai ujung barat.
• Jarak horisontal yang lebar seperti samudera.
Di hadapan Allah yang hakikat dan kekuasaanNya sebesar itu, dapatkah manusia memahami Allah?
Lebih lanjut Zofar menekankan pada ayat 10-12, bahwa sebagai hakin Allah mengetahui segala sesuatu, sampai yang tersembunyi sekalipun, dan Ia tidak dapat dikontrol oleh manusia. Ayat 12, yang berupa peribahasa, menekankan bahwa mustahil bagi Ayub untuk mengerti rahasia Allah dalam menghakimi kesalahan atau kejahatanya.
Seperti Elifas (5:8) dan Bildad (8:5), pada ayat 13-14 Zofar mengajak Ayub untuk bertobat, yakni untuk menuhi kejahatan dan kecurangan, serta untuk datang kepada Allah dalam doa (dengan mnadahkan tangan, suatu sikap doa orang Israel).
Zofar yakin jika Ayub bertobat maka ia akan dipulihkan oleh Allah (ayat 15-19). Pengalaman pahitnya akan terlupakan, dan ia akan kembali menjadi orang yang kuat dan terhormat. Kebahagiaan, yang dilambangkan dengan cahaya yang terang dan cemerlang (ayat 17), dan khidupan yang aman (ayat 18-19) akan kembali dialami Ayub.
Sebaliknya, jika orang (Ayub) tidak mau bertobat dan membiarkan diri menjadi orang fasik, ia tidak akan dapat melarikan diri dari penderitaan; yang dapat diharapkannya hanyalah kematian (ayat 20). Ayub sudah beberapa kali merindukan kematian (pasal 3; 6:8-9; 10:1) zofar seakan-akan mengatakan, “tidak perlu berputus asa, Ayub engkau tidak perlu mati sekarang. Cukup bertobat saja, maka engkau akan dipulihkan”.
Beberapa pertanyaan yang dapat dikembangkan dalam kelompok PA :
1. Bagaimanakah orang (Kristen) meyakini bahwa dosa dan penderiaan itu memiliki hubngan sebab dan akibat? Bagaimanakah jika orang (Kristen) menghubungkan penderitaan dengan dosa umum yang dimiliki setiap orang?
2. Bagaimanakah mempertemukan keyakinan bahwa Allah mahakuasa dan mengetahui segala sesuatu dengan keinginan manusia untuk berperkara (seperti yang dilakukan Ayub)?
3. pernahkah anda mengalami penderitaan dan keinginan mati seperti Ayub, lalu ada orang seperti Zofar yang mmberi nasihat kepada Anda? Apakah cara Zofar menasihati Ayub merupakan sikap pastoral yang tepat? Jika tidak, bagaimana seharusnya?
TEOLOGI