Ayub 12 : 1 – 25
Oleh: Paulus Sugeng Widjaja
Pada hari jumat, tanggal 23 September 2005, saya dibangunkan pada pagi hari oleh deringan telepon d rumah saya. Orang tua saya di Kudus mmberitahukan bahwa kakak ayah saya yang selama bertahun-tahun tinggal aserumah dengan keluarga saya (saya dan saudara-saudara saya mmanggil almarhumah dengan panggilan “ibu” karena beliau memang telah menjadi seperti seorang ibu kandung bagi kami), telah meninggal dunia secara mendadak disebabkan oleh serangan jantung. Malam hari itu, pada tanggal yang sama, ketika saya sedang mempersiapkan diri untuk tidur, telepon di rumah saya kembali berdering. Adik ibu saya di Jogja memberitahukan bahwa kakak iparnya yang hubunganya dekat sekali dengan keluarga saya, telah meninggal dunia karena kanker ganas yang menyerang matanya. Dua orang saudara yang terkasih meninggal dunia pada satu hari yang sama. Serasa belum cukup untuk ptu, pada hari jumat tanggal 30 September 2005 (mengapa harus selalu jumat?), saya kembali dibangunkan pada pagi hari oleh deringan telepon di rumah saya. Kali ini istri saya yangs aat itu masih berada di Bogor setelah memimpin sidang MPL Sinode GKMI di Cipayung, memberitahukan bahwa kakak sulungnya telah meninggal dunia secara mendadak karena serangan jantung.
Kematian demi kematian dari saudara-saudara yang saya kasihi datang silih berganti hanya dalam durasi satu minggu. Ketika saya kembali lagi ke kampus dan bercerita tentang kematian-kematian yang beruntun ini, pak Gerrit sempat bercanda,“Wah, keluarga pak Paulus tampaknya perlu diruwat”. Saya tidak tahu, kalau dihubungkan dengan kisah Ayub yang selama beberapa minggu ini kita gumuli, komentar pak Gerrit bisa digolongkan ke dalam komentar Elifas, Bildad atau Zofar. Tentu saja, pak Gerit hanya bercanda. Tapi menarik sekali bahwa inilah persis permasalahan dalam kitab Ayub yang sudah menjadi masalah klasik di sepanjang sejarah umat manusia beriman. Kalau kita mengalami kesusahan demi kesusahan di dunia, apakah ini merupakan hukuman Allah dan oleh karenanya perlu dilakukan ruwatan supaya terjadi rekonsiliasi kembali antara manusia yang mengalami kesusahan tersebut dengan Allah?
Setelah Elifas dan Bildad, kini goliran Zofar yang mengkritik Ayub. Zofar mengatakan bahwa Ayub terlalu banyak omong untuk membela diri (11:2-3a), sementara ia sebenarnya tidak mempunyai hikmat untuk memahami peristiwa yang terjadi pada dirinya. Itu sebabnya Zofar berharap agar Allah sendiri yang memberikan hikmat tersebut kepada Ayub, “…” (11:5-6a). Apa tujuannya? Supaya Ayub bisa menerima bahwa apa yang terjadi pada dirinya adalah merupakan hukuman Allah atas kasalahannya, “…” (11:14-15). Lebih lanjut Zofat menegaskan kepada Ayub bahwa orang benar pasti akan hidup dalam kecermelangan serta merasa amandan nyaman, sedangkan orang fasik pasti akan hidup dalam kesusahan dan penderitaan (11:17-20).
Menanggapi komentar Zofar inilah Ayub mengatakan bahwa orang-orang seperti Zofar hanya akan membawa mati hikmat yang diagung-agungkan itu (12:2). Orang-orang seperti itu tidak berguna da tidak menolong sama sekali bagi manusia yang sedang mengalami kesusahan. Dalam pasal berikutnya, Ayub bahkan mengatakan bahwa orang-orang yang sok tahu seperti Zofar itu lebih baik diam saja. Justru kalau mereka berdia diri dan tidak membuka mulut, maka mereka sebenarnya telah menunjukkan hikmat mereka (13:5). Dengan kata lain, Ayub ingin mengkritik teman-temannya bahwa pihak yang selama ini banyak omong dengan omongan-omongan yang tidak berguan itu sebenarnya bukan dia, tapi mereka. Oleh karena itu, dalam kejengkelannya Ayub memaki mereka sebagi “penghibur sialan” (16:2).
Lalu, kalau hikmat yang coba ditunjukkan oleh Zofar ternyata hanyalah hikmat kosong yang tidak berguna, maka hikmat macam apa yang hendak diusulkan oleh Ayub?
Ayub memulai dengan mengatakan bahwa keadaan yang dia alami memang membuat dia menjadi bahan tertawaan karena dia sebenarnya adalah seorang yang benar dan saleh. Begitu bear dan salehnya Ayub hingga kalau dia berseru kepada Allah maka Allah pun pasti mmberi jawaban (12:4-5). Namun sekarang dia mengalami suatu pukulan yang menyakitkan. Apa yang terjadi dalam hidupnya bukanlah sesuatu yang biasanya terjadi. Inilah yang membuat dia menjadi bahan tertawaan.
Tapi justru di tengah situasi semacam itu Ayub tetap bersikukuh bahwa ia tidak bersalah dan ia bahkan berani menggugat atau memprotes Allah (bdk. 13:3; 13, 15, 23-24). Ia yakin bahwa kalau ia menggugat Allah, maka ia akan tetap aman-aman saja. Dalam 12:6 Ayub mengatakan “…”.
Apa yang sebenarnya ada dalam benak Ayub hingga ia berani menggugat Allah tanpa merasa takut bahwa ia akan membuat Allah tersinggung dan menjadi lebih marah padanya?
Disinilah kita berhadapan dengan misteri paham retribusi dalam alkitab. Selama ini tradisi keimanan Yahudi (dan masih juga berlangsung dalam tradisi keimanan greja-gereja masa kini) seantiasa mengasumsikan adanya korelasi antara tingkah laku manusia dengan pahala/hukuman dari Allah. Jika kita menyembah Allah seperti ditunjukkan oleh Yosua, maka kita akan menang dalam peperangan. Sebaliknya jika kita mengabaikan Allah maka kitapun akan mati seperti raja Ahab yang darahnya dijilati anjing. Jika kita menjalin persekutuan dengan Allah dan menurutiNya sebagaimana dilakukan oleh Nuh, maka kita akan selamat. Sebaliknya jika kita menentang Allah dan tidak mengikuti perintah-perintahNya sebagaimana dilakukan oleh pnduduk Sodom dan Gomora, maka kita pun akan binasa. Hubungan antara manusia dan Allah didasarkan oleh pada kerakusan (akan pahal) dan ketakuan (akan hukuman). Dalam skema ini, Allah berperan sebagai seorang polisi moral untuk memastikan bahwa manusia benar-benar berjalan sesuai dengan norma-norma moral yang Ia kehendaki. Paham semacam ini jugalah yang kelihatannya lagi ngetrend di Indonesia akhir-akhir ini ketika ada banyak bencana dan kesusahan menimpa kita. Semua sinetron religius di TV menggaris-bawahi paham retribusi semacam ini.
Tapi justru paham retribusi semacam inilah yang ingin direformasi oleh Ayub. Bagi Ayub, Allah harus disingkirkan dari keseluruhan bisnis penegakan moral. Allh bukanlah seorang polisi moral. Tindakan moral yang kita lakukan tidak ada kait mengkaitnya dengan pahala atau hukuman dari Allah. Ayub ingin menolak paham kerakusan dan ketakutan dalam hubungan antara manusia dengan Allah. Ia tidak ingin kita beribadah kepada Allah hanya karena kita ingin mendapatkan pahala (paham kerakusan), atau tidak melakukan hal-hal yang jahat hanya karena kita takut mendapatkan hukuman (paham ketakutan). Ibadah kepada Allah adalah tujuan pada dirinya sendiri, bukan sarana. Allah tidak akan memberikan pahala atua hukuman berdasarkan apa yang layak kita dapatkan sebagai akibat dari tindakan kita. Ibadah adalah persoalan memberi, bukan persoalan mendapat. Kita menyembah Allah bukan karena kita ingin mendapatkan pahala atau karena kita takut mendapatkan hukuman, tapi semata-mata karena Allah adalah Allah. KepadaNya kita berikan loyalitas kita karena kita memang ingin melakukan hal itu. Itu sebabnya Ayub tidak merasa takut untuk menggugat Allah, karena ia tahu bahwa Allah tidak akan menghukum dia hanya karena ia bersikap “kurang ajar”.
Itu pula sebabnya Ayub tidak bisa menerima omongan teman-temannya yang selalu menghubngkan kesusahan yang ia alami dengan tingkah laku moralnya. Bagi Ayub, tingkah laku moral kita adalah tanggung jawab diri kita sendiri sepenuhnya, bukan tanggung jawab Allah, dan tidak ada hubungannya dengan Allah dalam pelaksanaannya. Tanggung jawab adalah sesuatu yang senantiasa berada di bahu kita sendiri, bukan di bahu kita sendiri, bukan di bahu orang lain, bahkan juga tidak berbuat di bahu Allah. Kita berbuat baik bukan supaya Allah memberikan pahala, dan kita tidak berbuat jahat bukan karena kita takut Allah akan memberikan hukuman. Tindakan moral tidak boleh ditempatkan dalam perspektif efektivitas. Ibadah kita kepada Allah, doa-doa kita, jalan hidup Kristen yang kita tempuh, kebajikan-kebajikan Kristen yang kita akumulasi dalamdiri kita; semua itu adalah sesuatu yang baik pada dirinya sendiri dan kita lakukan karena kita memang ingin melakukannya. Jangan minta bonus pada Allah, tapi juga jangan melakukan hanya karena merasa takut Allah akan tersinggung jika kita tidak melakukannya.
Pertanyaan untuk diskusi :
1. Menurut saudara, apakah para pendeta di gereja sekarang ini telah menjadi orang-orang seperti Elifas, Bildad dan Zofar yang banyak omong, tapi sebenarnya tidak menghibur dan tidak berguna bagi anggota jemaat yang sedang mengalami kesusahan? Berikan contohnya! Lalu, apakah memang sebaiknya para pendeta itu diam dan menurutp mulut saja sebagaimana diminta oleh Ayub? Apa yang saudara sendiri akan lakukan jika berhadapan dengan situasi semacam itu?
2. Kalau kita bisa menerima usulan Ayub agar tindakan moral kita disipisahkan dari paham retribusi yang berdasarkan pada kerakusan dan ketakutan, dimanakah Allah berada dalambisnis moral manusia? Apa pula fungsi yang diperankan Allah dalam bisnis moral ini?
TEOLOGI