FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

May 2, 2007

Ayub 15:1-15

Filed under: Bahan Pemahaman Alkitab — admin @ 8:40 am

Oleh: Wahyu Satrio Wibowo

Saya tidak membayangkan apa yang terjadi jika terjadi dialog segitiga antara Ayub dengan kelompok Elifas, Bildad, Zofar dan dengan Nietzsche, Feuerbach dkk. Berangkat dari penderitaan, denganberperan pada doktrin ortodoks kawan-kawan Ayub mengajak Ayub bertobat, sementara berangkat dari penderitaan itu Ayub ngotot mengatakan bahwa ada yang salah dengan doktrin ortodoks atau bahkan ada yang salah satu Tuhan, dan Nietzsche serta Feuerbach dan juga kemudian Karl Marx, dengan berangkat berangkat dari penderitaan justru menolak keberadaan Allah. Amor fati!…cintailah nasibmu, termasuk penderitaan. Mengadarkan diri pada Tuhan hanya sebuah kebodohan dan kesia-siaan. Dalam agama manusia menggali ketidakberdayaan dirinya sendiri. Semuanya berangkat dari pengalaman hidup dan berbicara tentang pengalaman hidup, namun dengan penafsiran dan pandangan yang berbeda.

Apabila kita mencermati proses dialog Ayub dengan kawan-kawannya kita paling tidak dapat menemukan sebuah rangkaian sbb :
1. Ayub mengalami penderitaan, Ia kemudian berkeluh kesah mengutuki hari kelahirannya (Ayub 3:3 dst)
2. Elifas menegur Ayub dan mengingatkan bahwa kesusahan berasal dari diri manusia itu sendiri (5:6-7). Mirip dengan pandangan Schopenhauer bahwa penderitaan disebabkan sendiri oleh manusia, tepatnya oleh keinginan. Elifas juga mengingatkan Ayub pada hikmat. Orang berhikmat berbeda dengan orang bodoh. Orang bodoh dibunuh dengan sakit hati dan rasa iri (5:2). Barangkali ini dikatakan untuk menyindir Ayub yang iri dengan orang fasik yang hidup senang.
3. Ayub kemudian menimpali dengan mengatakan memang hidup ini susah. Namun lebih susah lagi jika Allah memang ingin menyengsarakan manusia (6:4 dst). Ayub dengan terus terang bukan hanya mengutuki hari kelahirannya, tetapi menyalahkan Allah sebagai penyebab penderitaan.
4. Bildad kemudian menimpali dengan mengatakan bahwa Allah tidak pernah berubah menjalankan keadilannya. Dari maka ia tahu? Dasarnya adalah pengalaman-pengalaman nenek moyang. Atau dengan kata lain, orang-orang berhikmat itu.
5. Mendengar jawaban Bildad, reaksi Ayub semakin keras. Ia mengatakan bahwa keadilan memang tergantung dari selera Tuhan. Kalaupun manusia mlakukan hal yang benar, tetapi Tuhan bisa mengatakan itu tidak benar. Sebaliknya ketika manusia melakukan hal yang tidak benar, tetapi jika Tuhan mengatakan itu benar, maka itu menjadi bnar (9:20 dst). Ayub menyindir dengan mengatakan bahwa manusia memang tidak tahu kadilan Tuhan, justru karena itu Tuhan bisa melakukan apa saja. Karena manusia memang tidak tahu.
6. Mendengar itu Zofar kembali kepada tesis Bildad dan mengatakan bahwa manusia memang tidak mengetahui apa-apa tentang hakekat Tuhan. Tetapi manusia tahu satu hal, yaitu bahwa orang fasik dihukum dan orang baik diberi ganjaran.
7. Ayub kemudian semakin keras bereaksi. Setelah ia menyalahkan situasi, kemudian menyalahkan Tuan dan dilanjutkan dengan menghantam teman-temannya. Ayuib menuduh kawan-kawannya adalah orang fasik dan hikmat justru akan mati (12:2 dst). Dalil-dalil mereka adalah seperti amsal debu (13:12). Ayub kemudian mengatakan bahwa yang punya pengetahuan bukan hanya kawan-kawannya, dia pun punya pengetahuan.
Nah, elifas pada perikop ini kembali mengingatkan Ayub akan hikmat, ia mengingatkan kembali Ayub untuk kembali pada rumusan hikmat “takut akan Allah dan hormat akan Allah”. Ayub berbicara seperti orang yang mengetahuannya (da’ath) kosong. Elifas mengingatkan bahwa dibalik rumusan itu ada sekian banyak orang berhikmat yang telah berubah dan berpengalaman tentang itu. Jelas, Elifas menempatkan orang-orang beruban sebagai rujukan. Namun sayangnya, Ayub bukannya berpegang pada kata-kata orang berhikmat ini, tetapi sebaliknya Ayub malah berpegang pada kata-kata orang licik. Untuk itu Elifas bertanya, apakah kata-kata yang disampaikan orang-orang beruban itu kurang? Apakah penghiburan Allah kurang? (15:11). Jelas sekali disini Elifas menempatkan diri sebagai orang berhikmat. Elifas kemudian menceritakan berbagai cerita bagaimana orang-orang lalim dan orang-orang fasik akhirnya binasa karena mereka menentang Yang Maha Kuasa. Untuk menjawab Ayub, Elifas mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang lagir dari rahim seorang perempuan adalah benar (15:14). Namun pernyataan Elifas ini tidak menjawab apa-apa, yang Ayub permasalahkan bukanlah soal itu. Masalahnya sederhana: Elifs tidak dapat merasakan kepahian moral Ayub. Sesuatu yang begitu diyakini Ayub, begitu dihormati, begitu dipuja, yang juga diajarkan Ayub kepada orang-orang (pasal 4:30, yaitu doktrin ortodoks) ternyata tidak benar dalam kaca mata pengalaman Ayub. Elifas tidak dapat merasakan hal itu, ia tetap berpegang pada tataran normatif. Penderitaan itu bukan hanya soal harta benda yang musnah, anak-anak yang mati atau fisik Ayub yang terkena penyakit. Tetapi kpahitan moral ketika keyakinan berhadapan dengan realita.

Ayat 15-16: Elifas membuat penggambaran tentang Tuhan yang cukup mengagetkan. Bahwa di hadapan Tuhan tidak ada seorang pun yang bisa dipercayai,termasuk “orang-orang suciNya”. BIS menterjemahkan dengan malaikat. Semua tidak dapat dipercayai bahkan seluruh langit tidak bersih dalam pandangan Tuhan. Apakah memang benar, dihadapan Tuhan manusia seperti itu. Jika bnar maka hubungan seperti apa yang bisa dibangun di atas dasar kenyataan ini, yaitu bahwa Tuhan tidak mempercayai cintaannya bahkan orang-orang sucinya? Bukankah ketidakpercayaan akan menciptakan hubungan yang saling mencurigai? Pernyataan Elifas ini sebenarnya bersifat kontradiktoris dengan keyakinan doktrin ortodoks bahwa orang benar pasti diganjar kebaikan oleh Allah sementara orang fasik diganjar penderitaan. Jika semua tidak dapat dipercayai oleh Tuhan, tentunya termasuk orang benar, orang berhikmat dan berpengetahuan. Dengan demikian terbuka kemungkinan mereka dapat menderita walaupun merka adalah orang benar.

Hal lain yang bisa didiskusikan adalah :
Bagaimana kita bisa menterjemahkan, takut dan hormat akan Tuhan “dalam realita pengalama kehidupan konkret sehari-hari? Penderitaan Ayub yang sangat hebat, justru menyebabkan Ayub kehilangan rasa takut (paling tidak menurut Elifas). Kepahitan moral yang dirasakan Ayub membuat Ayub berani membantahkan dan menantang Tuhan. Dan itu sering dialami manusia yang menderita dengan hebat, ia akan kegilangan rasa takut dan berani melakukan apapun. Dan secara umum, bagaimana kita menempatkan pengalaman dalam dialog yang seimbang dengan pengajaran gereja?

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress