Ayub 16 : 1 – 22
Oleh: Chris Hartono
1. Catatan Pengantar
Membaca secara seksama kitab Ayub, kesan yang segera muncul adalah bahwa penulisnya siapaun dia adalah seorang Israel (baca pula : Yahudi) yang sangat setia kepada Allahnya. Keyahudianya nampak dalam penyebutan kepada Allahnya: TUHAN (YHWH), yang mempunyai makna bagi tertentu bagi umat Israel, sebagai Tuhan (Adonai) yang berbeda dari Tuhan-Tuhan yang lain. Tuhan yang menyatakan hidup dan karyaNya kepada umatNya, bahkan penyelamatannya atas umatNya. Sedangkan kesetiaannya nampak pada umanya kepada TUHAN. Tuhan yang menyatakan diriNya kepada umatNya itu tetap merupakan misteri, yang tidak mungkin dipahami secara lengkap oleh dirinya. Karena itu imannya (emunah-nya) kepadaNya teta merupakan sikap yang penuh heran dan takut akan Dia, dan serentak pula sandar dan serah diri kepadaNya (lihat 16:18-21) kepada misteri itu, kepada incognito Ilahi itu. Hal-hal itu sangat menarik.
Hal yang lebih menarik lagi adalah bahwa penulisnya ternyata adalah seorang “teolog” hebat pula. Betapa tidak! Walaupun ia seorang Yahudi yang sangat setia kepada Allahnya, namun ia menolak untuk terbelenggu oleh perkara-perkara yang berkaitan dengan kepercayaan populer, teristimewa dalam hal menghubungkan secara membabibuta antara penderitaan dan dosa: penderitaan adalah akibat dosa. Dalam rangka itu ia mengingatkan tentang ketidaksanggupan daya pikir manusia untuk menembus masalah penderitaan. Karena itu, penderitaan yang dialami oleh Ayub dilihatnya sebagai bukti kepercayaan ilahi kepadanya dan bukan sebagai kutukan dari penghakiman ilahi atasnya. Baginya cara bicara teman-teman Ayub tentang Allah dalam kaitannya dengan penderitaan Ayub sebagai buah dari dosa Ayub tidaklah mencukupi. Karena itu cara bicara lain yang harus ditempuh, yaitu berbicara tentang Allah yang memberi jaminan keselamatan kepada Ayub dan yang memberi penderitaan. Dalam rangka ini orang harus memahami bahwa Allah adalah Allah, yang di dalamnya orang harusa menaruh imannya kepadaNya.
Hal-hal yang menarik di atas (butir 1.1 dan 1.2) wajib diperhatikan dalam memahami berita yang hendak disampaikan oleh kitab Ayub pada umumnya dan nats kita pada khususnya (16:1-22 apa perlu diperluas menjadi 16:1-17: 16?)
2. Catatan eksegetis
Nats 16:1-5. Nats ini berisikan penolakan Ayub terhadap penghiburan kawan-kawannya. Terutama Elifas yang dianggapnya sebagai penghibur konyol; bahkan penghiburan hampa. Terhadap upaya Elifas untuk mempersalahkan Ayub sebagai pembual yang memberontak terhadap Allah (15:2-6). Ayub menyatakan bahwa kawannya itu adalah penghibur pembual (16:2-3). Lebih jauh Ayub menyatakan bahwa awkiranya dirinya adalah penghibur dan bukan penderita maka pastilah ada isi yang murni dalam penghiburan yang akan disampaikan.
Nats 16:6-17, Nats ini berisikan deskripsi tentang keadaan Ayub yang menyedihkan. Apa yang dilakukannya baik berbicara atau diam tidak mampu mengurangi penderitaannya (16:6). Tubuhnya yang bagaikan tulang belulang itu adalah bukti bahwa pelawan ilagi, Allah itu, mencekeramnya dengan dahsyat(16:7-8). Pelawan ilahi itu dilukiskan sebagai seekor binatang buas yang menguasai korban tangakapnnya (16:9). Rasa permusuhan Allah dilukiskan sebagai permusuhan antar manusia (16:10-11), permusuhan yang dahsyat (16:12-5). Serbuan-sebuanNya diarahkan kepada orang yang tidak bersalah; Ayub (16:15-17).
Nats 16:17-21, Nats ini menyaksikan tentang kemenangan iman Ayub. Ayub bangkit dari kedalaman yang teramat sangat kepada ketinggian yang paling agung. Karena ia tidak dapat meniadakan ketidakbersalahannya dalam menghadapi sindirian kawan-kawannya, maka kini kita melihat Ayub sebagai seorang yang tidak dapat tanpa Allahnya menghadpai keraguan dan kekhawatiran yang paling gawat. Maksudnya, ia menghadapi keraguan dan kekhawatiran yang paling gawat dengan menyandarkan dan mnyeragkan dirinya kepadaNya saja. Dalam rangka itu, seandainya kematian yang tidak adil merenggut hidupnya yang tidak bersalah itu, maka teriakan darahnya yang tidak bersalah itu akan membubung ke sorga, ke tingkat yang setinggi-tingginya (bdk. Kej 4:10). Di sana, di sorga, sekonyong-konyong Ayub meligat unggulan Ilahi, simpatiwan Ilahi, yang bersedia menjamin kesalehanya. Ia menghimbau kepada saksi sorgawi itu untuk menunjang mengatasi rongrongan sindiran kawan-kawannya dan sekaligus mengatasi pukulan Allah yang menjadi asebab penderitaannya itu. Dari keteragan-keterangan di atas tampak bahwa iman Ayub bergerak menanti akan “Allah bagi kita” (bdk. Ibr 9:24).
Apakah (penulis kitab) Ayub memahami bahwa Allah adalah Allah, dalam artian Allah yang sangat berbeda dengan manusia, yang karenanya manusia “baik dalam keadaan senang mau pun susah” wajib menyandarkan dan menyerahkan dirinya kepadaNya saja sebagai ukti imannya kepadaNya? Bagaimana dengan kita?
Berkenaan dengan apa yang diungkapkan pada 16:17-21 terutama 16:19-21 apakah (penulis Kitab) Ayub telah membayangkna bahwa saksi sorgawi di sini adalah pengantara (Allah-manusia); sang Theanthorpos itu, yang kepadaNya ia bersandar dan berserah diri sepenuhnya? Bagaimana dengan kita?
Kelompok dapat memunculkan pertanyaan-pertanyaan lain, sejauh berkaitan dengan nats kita.
TEOLOGI
theologi kitab Ayub dan apa perbedaan antara pencobaan Ayub dan Abraham
Comment by tomas dacosta — November 6, 2007 @ 12:42 am
salam sejahtera,
entah mengapa saya sangat suka sekali dengan kitab ayub yang saya lihat kitab ini sangat
berbeda dengan kitab yang lainnya. secara garis besar saya memandangnya sebagai usaha anak manusia untuk
mengenal Allah namun inisiatif itu datangnya dari Allah sendiri. Allah sangat kecewa pada Adam karena dia tidak
mengindahkan kata2 Allah. Dalam hal ini penulis mau memberi tahu bahwa ada yang lain dari pada adam yang patuh
yaitu Ayub yang mempertahan kan gengsi Allah dihadapan Iblis yang telah ternoda oleh Adam (namum dengan proses tentunya)
Jadi seluruh isi kitab ini adalah proses Anak manusia mengenal Allah. Bukan dari kebiasaan nenek moyang atau rutinitas ibadah. tapi kecintaan kepada Allah itu sendiri yang membawa manusia lebih dekat dengan Nya. Bahwa Ia super Ego dapat berbuat apa yang dia suka tampa pertimbangan benar atau salah( semua dari Dia dan Kembali KepadaNya Terpujilah Tuhan)
Walau banyak kata2 penghiburan dari sahabat2nya yang seolah2 benar namun itu hanya pengetahuan kulit saja tentang Allah tapi Ayub mengetahui secara pribadi ketika hanya nafas saja yang tinggal dimilikinya ia berusaha untuk mengenal Allah dalam segala kemuliaannya. Amin
Salam
Yohanes
Comment by yohanes — December 3, 2007 @ 9:35 pm
Secara manusia duniawi pandangannya terhadap penderitaan Ayub, yang Allah berikan padanya..?
Menganggap Ayub seperti manusia gila mengapa; diibaratkan Ayub dirampas hartanya, anak-anaknya mati,
Ayub dilukai dalam penderitaan tubuhnya, tetapi Ayub tetap setia pada Allah nya. (ini pandangan manusia
duniawi, tetapi manusia yang beriman kepada Allah mempunyai pandangan lain dengan maksud penderitaan yang manusia alami. Karena Allah memakai kesengraan untuk membentuk membangun karekter kita tahan uji untuk menimbulkan pengharapan seperti yang tertulis dalam (Roma 5:3,4) amin.
Comment by S.Berhitu — October 25, 2008 @ 4:08 am