Ayub 28:1-28, Manusia tidak dapat menemukan hikmat
Oleh:E.Gerrit Singgih, Oktober 2005
Pendahuluan
Perdebatan-perdebatan yang terjadi silih berganti di antara Ayub dan ketiga sahabatnya (atau ketiga musuhnya?) bisa membuat pembaca menjadi tegang dan tidak tahan, ingin segera menuju ke penyelesaiannya. Nah, Ayub pasal 28 masih jauh dari menyelesaikan masalah, tetapi di sini perdebatan itu terhenti sejenak, dan kita bisa bernafas sedikit (dan mungkin mendengarkan musik selingan sambil mengisap rokok). Narator memasukkan sebuah tema baru, mengenai hikmat yang tidak dapat ditemukan. Tetapi tema baru ini dikemas sebagai bagian terakhir dari argumentasi Ayub di pasal 27. apakah tema baru ini merangkum hasil perdebatan yang lalu, atau mau mengantar pembaca pada hal-hal baru sesudah itu (munculnya Eligu orang keempat, di pasal 32-37) dan penyataan diri Yahweh kepada Ayub sampai 2x di pasal 38-42), tidak begitu jelas. Wim van der Weiden yang mengarang Seni Hidup: Sastra Kebijaksanaan di dalam Perjanjian Lama, LBI, Kanisius, Yogyakarta, 1995, p. 195, menganggapnya sebagai kesimpulan dari hasil perdebatan yl. Kemalangan Ayub tidak bisa dijelaskan dengan mengacu kepada kebijaksanaan, oleh karena kebijaksanaan yang diperlukan untuk itu tidak ada pada manusia, hanya pada Allah! Manusia TIDAK BISA (huruf kapital dari v.d Weiden) memecahkan masalah itu. Sambil jalanlah kita melihat apakah pendapat ini bisa dipertahankan.
Pasal 28 oleh v.d. weiden dibagi atas: 1) Ayat 1-11 Kemahiran manusia dalam hal ihwal pertambangan, 2) Ayat 12-14 Refrein dimanakah kebijaksanaan dapat diperoleh? 3) Nilai kebijaksanaan di atas segala sesuatu 4) Ayat 20-22 Refrein: dimana tempat kebijaksanaan 5) Ayat 23-27 Allah mengetahui tempat kebijaksanaan. Ayat 28 tambahan yang bersifat koreksi.
(catatan : buku v.d. Weiden di atas merupakan sebuah mutiara tafsir Perjanjian Lama bagian Hikmat yang menurut saya kurang dihargai. Saya sangat menganjurkan agar buku ini dibaca oleh masyarakat FTh UKDW).
Tafsiran Ayub 28: 1-28
1. Ayat 1-11
Dalam bagian ini diperlihatkan kemampuan bahkan keunggulan manusia di dalam mencari benda-benda yang dianggapnya sebagai amat berharga, dalam hal ini hal ihwal pertambangan perak, emas, besi dan tembaga, tetapi terutama batu-batu mulia. Dalam ayat 6 batu mulia ini menurut TB-LAI adalah “lazurit” atau lazuardi (TB-BIS: “nilakandi”), batu mulia yang berwarna biru dan di dalamnya kadang-kadnag ada debu atau butiran emas. Dari dulu sampai sekarang semua orang di Asia barat daya kuno amat mengemari batu-batuan mulia (kita juga di Indonesia). Barangnya mahal sekali karena tidak mudah didapat. Orang harus bekerja keras menambangnya ke dalam bagian bumi yang terdalam, yang gelap, kelam dan pekat. Bahkan burung buas dan mata elangpun tidak bisa menembus kegelapan ini (ayat 7). Istilah-istilah Ibrani yang dipakai pada ayat 3 yaitu hosyek (gelap), ofel (gelap pekat), dan tsalmawet (kelam) mengingatkan kita pada tafsiran Robert Setio mengenai Ayub pasal 3, yang katanya memperlihatkan bahwa Ayub adalah orang yang senang pada kegelapan dan bukannya pada terang. Di sini secara tidak langsung juga mau diperlihatkan bahwa usaha mencari kebijaksanaan merupakan sebuah usaha yang berat, karena tidak hanya mengandalkan pada terang, tetapi justru mau masuk ke bagian-bagian yang dalam dan gelap! Istilah tsalmawet dipakai dalam Mzm 23:4, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman (bege tsalmawet), aku tidak takut bahaya” (TB-LAI). Tetapi terjemahan lama melihat istilah tersebut sebagai terdiri dari dua kata, tsal yang berarti “bayangan” dan mawet yang berarti “maut”, sehingga membaca bege tsamawet sebagai “lembah bayang-bayang maut”.
2. Ayat 12-14
Manusia masuk ke dalam kegelapan, mengambil batu-batu yang berharga dan langka, dan membawanya ke telmat terang. Tetapi apakah dengan cara demikian juga hikmat dan akal budi diperoleh? Kata yang diterjemahkan “hikmat” oleh TB-LAI adalah hahokmah, “hikmat itu” (dengan kata sandang), jadi bukan sekedar hikmat biasa saja, sedangkan yang diterjemahkan “akal budi” adalah binah, yang berarti “pengertian” (band. TB-BIS) yang bertolak dari Hikmat. Dalam ayat 13-14 apa yang implisit di dalam ayat 12 dijadikan eksplisit. Ngak ada jalan ke situ. “Samudera raya” dalam bahasa Ibrani adalah tehom, yang seperti diketahui dari teks Kejadian 1:1-2 merupakan amteri yang tidak diciptakan “laut” (yam) juga demikian. Kedua-duanya tidka memiliki atau menyimpan hikmat. Kalau bumi yang digali dalam-dalam menghasilkan lazurit tetapi bukan hikmat, maka lawan dari bumi yaitu laut dan samudera juga tidak menghasilkan hikmat.
3. Ayat 15-19
Mulai ayat 15-19 dikemukakan kemungkinan membeli atau menukar hikmat dengan barang-barnag berharga yang lain: emas murni, perak, emas ofir, permata krisopras dan permata lazurit, emas (lagi), kaca (apakah kaca barang berharga? Ya! Di zaman dahulu cermin diasah dari semacam batu khusus dan amat langka sehingga harganya lebih mahal daripada emas – bisa dilihat pada koleksi makam raja Tutankhamon dari Mesir), permata dari emas tua, gewang, hablur, mutiara, permata krisolit Ethopia dan kembali lagi ke emas murni. Semuanya ini tidak dapat membeli hikmat.
4. Ayat 20-22
Ayat 20 kembali mengungkapkan apa yang sudah ditanyakan di ayat 12. Kita tidak mengetahui dari mana datangnya Hikmat itu, dan tempat pengertiapun kita tidak tahu. Dari segala makluk hidup dna burung di udara ia terlindung (maksudnya tidak kelihatan). Istilah “kebinasaan” diterjemahkan dari abaddon, yang merupakan salah satu dari istilah-istilah untuk menunjuk pada wilayah kematian. “Maut” diterjemahkan dari mawet. Kalau negeri orang hidup tidak menghasilkan hikmat, maka negeri orang matipun tidak menghasilkannya. Bahkan mungkin saja masih untung negeri orang mati, sebab di situ mereka mendengar tentang “desas-desusnya”.
5. Ayat 23-27
Semua tidak tahu, kecuali Allah. Dan Allah mengetahuinya, ketika Ia melaksanakan tindakan penciptaanNya, ketika itu IA melihat dan mengharga/menilai Hikmat itu (ayat 27. TB-LAI menerjemahkan istilah yang kedia sebagai “memberitakan”tetapi salah. TB-BIS yang betul, “menilai”). Di dalam tindakan menyusun tatanan alamsemesta, dalam memberikan sosok kepada makluk-makluk dan membatasi atau membagi-bagi wilayah mereka, Allah mempertimbangkan hikmat. Jadi sebenarnya hikmat tidak berlokasi, melainkan hikmat ditemukan dalam karya atau tindakan penciptaan (lih. Carol Newsom, The New Interpreter’s Bible, p. 530).
Kita melihat disini hikmat yang dipandang sebagai sebuah prinsip atau pola penciptaan, yang digambarkan terpisah dari Allah sebagai pencipta. Di dalam Amsal 8:22 hikmat terlahir (qonani) sebagai perbuatan Yahweh yang pertama, dan di dalam Amsal 8:27 hikmat ada bersama-sama dengan Yahweh pada waktu penciptaan. Kata qonani di dalam TB-LAI dan TB-BIS diterjemahkan “diciptakan” tetapi menurut saya kata ini justru tidak termasuk dalam perbendaharaan kata-kata mengenai penciptaan di dalam PL. Sama seperti apa yang kita lihat dalam Ayub pasal 28 hikmat itu (hakokmah) eksis sebelum penciptaan, bahkan Yahweh menciptakan dengan menggunakan hikmat itu sebagai pola atau cetak biru!
Kita kembali sebentar ke pendapat v.d. weiden di dalam pendahuluan di atas, yang mengatakan bahwa manusia tidak memiliki kebijaksanaan yang diperlukan untuk itu. Nah, disini hanya Allah yang mempunyai akses ke situ. Pendapat v.d. weiden memang benar. Tetapi saya menambahkan sedikit (dan sedikit ini berbeda banget dengan dia, kalau sudah sampa pada ayat terakhir): karena hanya Allah yang mempunyai akses ke situ, maka yang bisa menghadapi Ayub akhirnya adalah Allah sendiri, dan memang Allah muncul di hadapan Ayub pada pasal 38-42. Tetapi kok didahului oleh Elihu? Yah, biasalah, narator mau melatih kesabaran kita untuk mengikuti jalur cerita Ayub.
Ayat 28
Menurut v.d. weiden ayat ini merupakan tambahan yang bersifat koreksi (bahkan sebenarnya seluruh pasal 28 adalah sisipan, yang menurut v.d. weiden sebenarnya menafikan adanya teofani di dalam pasal 38-42. Kalau begitu ayat 28 adalah tambahan terhadap tambahan!). Manusia tidak bisa menemukan hikmat itu, hanya Allah yang bisa. Kalau begitu ngapain saya berusaha untuk berhikmat? Nah, kata sebagian orang yang membaca Ayub 28:1-27 dan “gatal” mengoreksi pasal 28, kamu juga bisa mendapatkan hikmat itu. “Takut akan Tuhan” itulah hikmat, “menjauhi kejahatan” itulah pengertian! Tetapi ini pengertian etis yang dimasukkan ke dalam konstruk pasal 28, supaya sama dengan Mzm 111:10 dan Amsal 1:7;9:10 (ada di catatan kaki teks pasal 28 di TB-LAI).
Tetapi saya lebih suka mengikuti Carol Newsom (dalam The New Interpreters Bible, p.533) yang berpendapat bahwa ayat 28 merupakan bagian integral dari pasal 28. “takut akan Tuhan” dan “menjauhi kejahatan” adalah tindakan-tindakan kreatif dari manusia. Kalau hikmat ditemukan dalam tindakan penciptaan Allah, maka hikmat dapat juga ditemukan dalam tindakan penciptaan manusia. Memang bukan tindakan kreatif fisik, melainkan tindakan kreatif moral. Manusia tidak dapat ditemukan hikmat dengan menggali atau membeli, tetapi dengan menciptakan tindakan-tindakan bermoral, ia mengejawantahkan hikmat itu.
Penutup yang berupa pertanyaan-pertanyaan :
Apa hubungannya “takut akan Tuhan” dan “menjauhi kejahatan” dengan tokoh-tokoh kita yang sedang berdebat? Mungkin kesan kita dalam mengikuti dengan cermat perdebatan Ayub dengan teman-temannya, Ayub berada dalam bahaya sedang lalui dalam bidang ini saking bersemangatnya di dalam membela ketidakbersalahannya, sedangkan dari pendahuluan kitab Ayub pasal 1-2 kita sudah tahu bahwa Ayub selalu menjauhi kejahatan. Tetapi siapa tahu makna “takut akan Tuhan” dan “menjauihi kejahatan” juga bisa lain dari apa yang kita perkirakan semula? Siapa tahu dasar yang dipakai Ayub untuk “menjauhi kejahatan” dan “takut akan Tuhan” ternyata adalah hikmat (dengan huruf besar), yang bisa berlawanan dengan pengertian kita mengenai Hikmat (dengan huruf kecil)?
TEOLOGI