AYUB 3
Oleh: Robert Setio , Agustus 2005
Siapa diantara kita yang menyukai kegelapan? Jarang orang menyukai kegelapan kecuali karena alasan-alasan tertentu yang pribadi sifatnya. Itupun tidak lama-lama amat. Tidak ada orang yang senang berlama-lama dalam kegelapan. Pada waktu saya kecil dulu, ada sistem penguhukuman dimana anak yang nakal dimasukkan ke dalam kamar gelap. Maksudnya tentu saja membuat anak takut, meskipun itu tidak senantiasa berhasil. Ada juga anak yang tidak takut brada di dalam kamar glap. Namun kebanyakan anak takut pada kamar gelap. Maka sistem ini dianggap efektif. Tentu saja dengan kesadaran yang lebih baik akan pendidikan anak, sistem ini tidak patut diterapkan lagi.
Berbeda dengan kebanyakan orang yang takut gelap, Ayub justru tidak demikia. Ia lebih senang akan kegelapan. Sebaliknya, ia tidak menyukai terang. Ayat 4, 5 kemudian 9, 10 dari pasal 3 memperlihatkan sikap Ayub yang lebih suka pada kegelapan ketimbang terang. Agak lebih spesifik, Ayub memaksudkan kegelapan tersebut sebagai keglapan yang ada pada waktu sebelum ia dilahirkan atau malah sebleum ia dikandung (ayat 3). Dengan demikian kegelapan itu tidak lain adalah kondisi sebelum dirinya ada sama sekali. Atau pra keberadaan dirinya.
Bagaimana Ayub dapat menyukai sesuatu yang tidak ada? Ini sikap yang aneh. Orang biasanya menyukai sesuatu yang ada, bukan yang tidak ada atau belum ada. Tetapi Ayub tidak demikian. Ia malah sangat mengharagai saat-saat dimana ia belum berada. Saat dimana kegelapan msih meliputi segala sesuatu.
Sikap Ayub yang lebih menyukai pra keberadaannya itu mengingatkan kita akan peristiwa penciptaan, apalagi jika itu dikaitkan dengan kegelapan. Menurut kitab Kjadian, Allah menciptakan langit, bumi dan segala isinya pada waktu “bumi belum berbentuk dan kosong” dan ketika “gelap gulita meliputi samudra raya” (akan menjadi samudera purba dalam edisi revisi PL yang sedang dipersiapkan). Kata Ibrani untuk “gelap gulita” ‘ khosyek digunakan baik dalam Kejadian maupun Ayub 3. Jadi gelap adalah latar dari peristiwa penciptaan. Lalu bagaimana latar ini harus dipahami? Apakah itu harus dipahami sebagai lawan atua pengiring? Apakah khosyek itu lawan Pencintaan atau sesuatu yang mengiringinya. Jika dimengerti sebagai lawan, maka mestinya setelah penciptaan memudarkan khosyek. Kejadian I: 3 yang menyebutkan ciptan pertama adalah terang, nampaknya mengindikasikan pengertian ini. Ttapi tetap tidak tertutup kemungkinan untuk memahami bahwa ketipa penciptaan terjadi, dengan terang sebagai pembukanya, khosyek tidak berarti hilang. Keberadaan terang dan khosyek bukan saling meniadakan tetapi saling mengiringi. Untuk memudahkan pemahaman, kita bisa mnempatkan keduanya dalam posisi relatif: tetang hanya ada jika ada gelap dan gelap hanya menjadi gelap karena ada terang.
Dalam hemat saya, kedua pemahaman itu tidak ada pada Ayub. Tetapi banyak yang mungkin tidak sependapat dengan saya, termasuk LAI dan narator sendiri. Judul yang dipakai LAI untuk pasal 3 ini yaitu “keluh kesah Ayub” memperlihatkan bahwa Ayub hanya ingin mengeluh saja. Ia mengeluh karena hidupnya tidak berjalan seperti yang ia harapkan. Tentang apa saja yang dialami Ayub dalam hidupnya sehingga ia mengeluh, sudah kita ketahui bersama. Jadi masalahnya bukan bahwa Ayub menyukai kgelapan seperti yang sudah saya sebutkan tadi tetapi bahwa Ayub mengeluh karena kecewa terhadap apa yang ia dialami. Ia tidak sungguh-sungguh menganggap kegelapan itu tidak baik tetapi kalau kata-katanya bernada demikian itu hanya karena ia sedang BT saja. Selain LAI, narator cerita ini juga punya pemahaman yang mirip-mirip. Di ayat 1 narator memberi pengantar kepada apa yang nanti akan dikatakan oleh Ayub sendiri dengan istilah Ayub “mengutuki hari kelahirannya”. Apakah memang demikian? Narator rupanya khawatir terhadap kata-kata Ayub jika itu dimengerti apa adanya. Sebab kata-kata Ayub itu lebih merupakan sebuah refleksi teologis yang sangat kontroversial. Ayub bukan sedang mengutuki hari klahiranya tetapi sedang memperlihatkan bahwa kondisi sebelum ia lahir (atau dikandung) adalah jauh lebih baik adanya. Kalaupun ia sepertinya tidak suka dilahirkan dan memilih untuk tidak dilahirkan, itu bukan karena yang lebih baik adalah keberadaan di luar hidup ini. Khosyek itu memang betul-betul baik!
Kebaikan khosyek itu tidak sekedar diucapkan secara retoris saja tetai juga dibuktikan. Ayat 13 sampai 15, kemudian dilanjutkan dengan ayat 17-19 merupakan penjelasan apa yang terjadi dalam khosyek. Kalau ayat-ayat itu mau diringkas kira-kira menjadi : peace (damai). Damai itu eliputi tidak saja tidak adanya perang (ayat 18) tetapi juga tidak adanya orang yang berlaku amoral (ayat 17). Keadaan itu disertai juga dengan kesetaraan derajat antar seama manusia (ayat 19) yang memungkinkan orang untuk menikmati hal yang sama tanpa pembeda-bedaan (ayat 14 dan 15). Kalau itu memang terjadi maka layak jika hasilnya adalah seperti yang dicita-citakan oleh ayat 13 dan 26. Tidak heran jika orang mengejar-ngejar peace tersebut (ayat 21 dan 22).
Pemahaman Ayub tentang khosyek itu merupakan pukulan yang telak terhadap mereka yang beranggapan bahwa penciptaan dalam rupa adanya terang yang menghidupka adalah hal yang baik dan patut dirayakan. Bagi Ayub hidup ternyata bukannya menyenangkan tetapi susah dan pedih hati (lbr. Nafes) (ayat 20). Sekali lagi ini bukan dikatakan oleh Ayub sebagai ungkapan kfrustrasian terhadap hidupnya tetapi sebagai sebuah ulasan teologis yang memang pro kegelapan.
Sekarang bagaimana kita mengambil makna dari teologi Ayub itu. Pertama, kegelapan bukan tidak mungkin kita alami. Meditasi misalnya adalah suatu cara untuk mengalami kegelapan. Tetapi hidup di jaman global yang ditandai oleh berbagai citra glamor menyulitkan orang untuk menghargai meditasi. Jarang orang betah berlama-lama bermeditasi. Bukan karena tidak bisa tetapi karena pikirannya dipenuhi dengan berbagai macam kesenangan baik yang sudah dan sedang dialami maupun yang masih sedang dikejar. Padahal tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berada dalam kegelapan meditatif. Siapapun yang pernah bermeditasi, tahu apa artinya peace itu.
Makna kedua adalah seperti yang disadari oleh Ayub bahwa kita tidak bisa menolak untuk hidup. Mski secara teologis Ayub tidak suka tetapi ia tetap tidak bisa memilih untuk keluar daripada hidup ini. Maka segala konsekuensi hidup harus ditanggung. Termasuk jika hidup ini penuhdengan hal-hal buruk yang memang sudah seharusnya begitu karena bukan khosyek. Tidak ada seorangpun yang dapat terluput dari kemalangan dalam hidup ini. Jika demikian bukankah sebaiknya kita tolong menolong untuk menanggung kemalangan itu? Istilah Henry Nouwen yang terkenal itu: “the wounded healer” (penyembuh yang terluka) dapat kita pakai secara 2 arah: kita menyembuhkan orang lai yang terluka tetapi bukan sebagai orang yang tidak terluka melainkan sebagai penyembuh yang dirinya sendiri yang terluka. Sebagai yang sama-sama terluka tidak ada jalan lain selain saling memperhatikan dan menyembuhkan.
Pertanyaan reflektif :
1. Seberapa jauhkah kita perlu menghargai meditasi?
2. Sejauh manakah kita bisa melihat kesenangan hidup adalah kemalangan?
3. Seberapa jauhkah kita bertindak untuk saling menolong dalam kesadaran sebagai orang-orang yang sama-sama hidup dalam kemalangan?
TEOLOGI