AYUB 40 : 1-19
Oleh: M. W. Wyanto
Catatan pengantar
1. Umum
Kitab Ayub masuk kategori kitab mengajarkan hikmat. Kerangka narasinya tidak selalu “pas” dengan ajaran hikmat yang mau disampaikan.
2. Tokoh Ayub (dalam narasi)
Ayub adalah yang yang mengakui kemahakuasaan dan keagunan Allah. Ayub, secara teoritis, tahu bahwa tidak ada manusia yang benar dan cuku berharga di hadapan Allah (ps. 9 khususnya ayat 1,2). Tetapi berkaitan dengan kasusnya (apalagi asetelah mendengar ‘tuduhan’ teman-temannya bahwa ia pasti sudah bersalah) ia menolak bahwa dirinya bersalah dihadapan Allah. Ia ‘menuduh’ Allah-lah yang sudah bertindak tanpa alasan untuk ‘menghancurkan’nya. Tetapi juga dikatakan bahwa ia sangat berharap bahwa Allah juga akan menjadi saksi/pembela yang akan membenarkan dirinya (termasuk dalam perkaranya dengan Alla! – 16:19-21). ‘Tuduhan’nya bahwa tindakan Allah ‘sewenang-wenang lebih berkaitan dengan keyakinannya akan kemahakuasaan Allah: Allah punya hak mutka untuk bertindak apapun. Kartena itu,’tuduhan’nya tidak disertai dengan tindakan meninggalkan Allah! Ia tetap setia kepada Allah, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan (band. Dengan pengenalan Allah akan Ayub dalam 1:8). Secara tersirat Ayub menyatakan Allah tidak dibatasi moral (boleh bertindak sewenang-wenang).
Penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (seperti sikap Ayub), tanpa pengenalan akan jati diri Allah, bisa berakibat ‘penilaian’ yang keliru tentang Allah. (‘Penilaian’ keliru yang disertai ‘penyerahan diri penuh’, macam ini, di hadapan Allah dipandang salah atau tidak?)
3. Catatan atas alur narasi dalam ps. 32:1-42:6
Kata-kata Elihu dalam ps.32-37 dapat dipandang sebagai ‘pengantar’ untuk jawaban dan 2 gugatan Tuhan kepada Ayub (ps. 38:1-41:25).
Eligu mengungkapkan kedahsyatan Allah yang Maha Kuasa dalam selutuh alam raya ini. Yang Maha Kuasa ini mutlak kuasa dan keadilanNya. Dia tak dapat dipahami dengan hikmat manusia; Dia juga Allah yang tidak pernah berbuat sewenang-wenang (lih. 37:23-24).
Jawaban Allah (38:1-33) berkaitan dengan ‘tuduhan’ Ayub bahwa Tuhan, dengan kuasa mutlakNya (dan tanpa alasan, atau dengan sewenang-wenang) sudah ‘menghancurkan’ dirinya. Inti jawaban retoris Tuhan adalah: siapakah yang sudah mengambil keputusan/berbicara dengan tanpa alasan/sewenang-wenang? Apakah Ayub mengerti apa yang sudah Allah buat di alam raya ini? (Ayub sudah menuduh tanpa alasan, tanpa pengertian akan tindakan Allah! – Ayublah yang berbicara sewenang-wenang! ; catatan: narator di awal kitab ini menyatakan bahwa Allah ‘menyepakati tindakan pengancuran’ diri Ayub bukan dengan sembarangan, tetapi karena pengenalanNya atas diri Ayub!). jawaban ini dilanjutkan dengan gugatan I dan pengakuan salah dari pihak Ayub (38:34-38).
Ps. 40:1-41:25 berisi gugatan II (yang juga diikuti pengakuan salah dari Ayub pada 42:1-6). Ayat-ayat kita adalah bagian dari gugatan II ini.
Penjelasan singkat atas 40:1-19
Kerangka narasi bagian ini menyiratkan bahwa Tuhan dengan ‘sengaja’ menghukum Ayub – hal ini tidak cocok dengan narasi ps.1. Dalam 42:7 juga dinyatakan bahwa Ayub sudah berkata benar tentang Tuhan – akhir narasi Ayub ini juga tidak pas untuk bagian gugatan Tuhan. Karena itu, dengan mempertimbangkan ajaran hikmat bagian ini, ‘Ayub’ disini perlu dibedakan dari tokoh Ayub dalam narasi; “Ayub” disini boleh dimengerti sebagai nama simbolis untuk semua manusia yang biasa ‘memprotes’ keputusan Allah.
Kata ‘pengadilanKu’ dalam ayat 3 adalah terjemahan …………….. (= keputusanKu, tindakan yang Ku putuskan). Kata-kata ‘meniadakan pengadilanKu’ dapat dimengerti ‘mengusulkan ralat atas tindakan Tuhan (yang dianggap keliru)’.
Apakah seorang Ayub (manusia) boleh tetap menganggap Tuhan keliru, dan merasa layak untuk mengusulkan ralat atas tindakan yang diputuskanNya jika :
1. Terbukti bahwa ia bersalah- dalam arti: tidak pernah punya niat, atau sekalipun punya niat tetapi tak punya kekuatan/kemampuan, untuk menghentikan kejahatan orang-orang fasik? (ayat 4-9).
Sekedar tidak membuat kesalahan belum berarti benar dalam hal ini orientasi Ayub/manusia dalam berefleksi diri sangat sempit – hanya mengacu pada apa yang dimiliki dan dialaminya! (dan mungkin karena orientasi yang sempit ini, maka gambaran tindakan Tuhan dalam alam raya mendapat tekanan dalam kitab Ayub – demi orientasi yang luas/menyeluruh!).
2. Ia sadar bahwa dirinya lemah/hina dan bukan apa-apa di hadapan Tuhan? (ayat 10-19).[dalam ayat 10-19 ini dipakai bahasa kiasan. Kuda nil disebutkan sebagai binatang ciptaan pertama – yang dalam dirinya masih membawa sesuatu yang mirip dengan apa yang ada pada Penciptanya, yaitu: kekuatan/kekuasaan. Adakah orang yang mampu mencocok hidung kuda nil dengan keluan (seperti kerbau)? Apakah Ayub yang lemah dan hina mau mencoba dan mearasa boleh/mampu ‘mencocok hidung’ Yang Maha Kuasa dengan ‘keluan’ agar bisa mengendalikanNya?]
Pengetahuan bahwa Allah Maha Kuasa (Maha Esa) seharusnya disertai dengan sikap yang sepenuhnya menundukkan diri kepadaNya. Yang Maha Kuasa-lah yang harus jadi pusat seluruh pertimbangan bagi keputusan/tindakan kita (dan bukan kondisi/kebutuhan kita).
[catatan 39:20-41:25 mestinya masih masuk bagian ini – dengan memakai kiasan buaya – dan diakhiri dengan tekanan pada ‘keharusan takut akan Tuhan’ (band. 41:25)]
Pertanyaan untuk kelompok-kelompok PA
1. Dari realita kehidupan sehari-hari dalam hubungan kita dengan Tuhan, ajaran hikmat apa saja yang dapat kita peroleh dari bahan ini? Apa yang semestinya kita lakukan?
2. Adakah beda antara ‘berorientasi kepada Allah Yang Maha Kuasa’ dan ‘berorientasi kepada hukum dan/atau paham mengenai Allah’? manakah yang biasa ada pada kita?
TEOLOGI