FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

May 2, 2007

AYUB 6:1-30

Filed under: Bahan Pemahaman Alkitab — admin @ 8:19 am

Oleh: Yusak Tridarmanto

Pasal 6 ini merupakan bagian dari response Ayub terhadap perkataan-perkataan Elifas di dalam pasal 5. Di akhir pasal dua dikatakan bahwa Elifas dan kedua temannya yang lain yakni Bildad dan Sofar duduk bersama-sama Ayub, namun tidak mengucapka sepatah katapun, karena mereka mengetahui bahwa penderitaan Ayub begitu berat. Namun setelah Ayub menyatakan ratapannya yang tak terperi di dalam pasal 3, Elifaspun menjadi tidak tahan untuk tetap berdiam diri. Di dalam pasal 4:2 ia menyatakan ketidaksanggupannya untukt etap menutup mulutnya, karena itu iapun mulai berbicara. Apa yang tersirat di dalam pasal 4 dan 5 menunjukkan bahwa Elifas meminta Ayub mengoreksi diri sendiri, sebab tidak mungkin ia menderita seperti itu kalau tidak melakukan perbuatan yang salah di mata Tuhan. Elifas tidak mempercayai bahwa Ayub sungguh-sungguh “benar” di hadapan Allah. Ini diungkapkan dalam bentuk pernyataan rhetori antara lain : “mungkinkah seorang manusia benar di hadapan Allah, mungkinkah seseorang tahir di hadapan penciptanya? (4:17). Bagi Elifas, kalau Ayub menderita itu pasti karena kesalahannya sendiri (5:7 “…. manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya sendiri”) dan karena itu Allah menegurnya (5:17 “…. berbahagialah manusia yang ditegur Allah: sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa). Dalam pengertian ini maka penderitaan Ayub dimengerti sebagai bentuk teguran Allah.

Merespon perkataan elifas ini Ayub mulai mengajukan pembelaan diri pada ayat 1-7. Dalam bagian ini secara sederhana Ayub menegaskan bahwa ratapannya tidak terperi itu masih belym sebanding dengan petaka yang menempuh dirinya. Lagi pula ia merasa memiliki alasan untuk meratap seperti itu. Ini diungkapkan dalam bentuk pernyataan thetorik pula, antara lain: “meringkikkah keledai liar di tempat rumput muda?” (ayat 5). Selanjutnya di dalam ayat 8-13 ia kembali mengulangi ratapannya, yang pada intinya lebih baik masuk ke dalam dunia orang mati dari pada hidup di dalampetaka (bandingkan pasal 3). Namun iapun menyadari bahwa hal masuk ke dalam dunia orang mati itupun berada dalam kewenangannya sendiri sebagai manusia, melainkan berada di dalam kewenangan Allah. Karena itulah ia hanya dapat berharap agar Allah mengabulkan permintaanya: yakni “menghabisi nyawaku” (ayat 9).

Pembenaran diri Ayub atas ratapannya antara lain disebabkan karena kesadaran dirinya sebagai makluk yang lemah, yang tidak mengetahui pasti masa depannya sendiri. Ini ia ungkapkan di dalam ayt 11-13. Menarik untuk diperhatikan di sini ialah pernyataan rhetoriknya: “apakah kekuatanku seperti kekuatan batu?” apakah tubuhku dari tembaga? (ayat 12). Jadi bagi Ayub, meratap seperti yang ia lakukan adalah hal yang wajar dan menjadi bagian dari kemanusiaannya yang lemah dan terbatas. Keyakinan seperti inilah rupanya yang telah mengakibatkan Ayub merasa kecewa terhadpa Elifas sebagaimana ia ungkapkan di dalam ayat 14-23. Perhatikan khususnya ayat 21: “demikianlah kamu sekarang bagiku, ketika melihat yang dahsyat, takutlah kamu”.

Pada bagian akhir dari pasal 6 ini Ayub meminta pertanggungan jawab Elifas atas tuduhan-tuduhan yang telah ia lontarkan kepada Ayub. Ia mengawali dengan meminta Elifas memberikan jalan keluar yang harus dilakukan oleh Ayub, sekaligus menjelaskan dalam hal apa Ayub telah tersesat. Namun tentu saja ini hanyalah rhetorika yang tidak benar-benar menuntut jawab dari pihak Elifas. Ini hanyalah cara bagi Ayub mengokohkan posisinya pada keyakinan yang teguh bahwa ia memang tidak bercela di hadapan Allah. Ini nampak dalam perkataannya di dalam ayat 29-30: “berbaliklah, janganlah terjadi kecurangan, berbaliklah aku pasti benar. Apakah ada kecurangan pada lidahku?

Dengan melihat alur argumentasi seperit itu, maka nampak bahwa pasal 6 ini mrupakan dialog awal yang dimaksudkan untuk membuktikan kebenaran these yang telah ditetapkan di dalam pasal satu dan dua, dimana dikatakan bahwa orang saleh atau orang benar di hadapan Allah akan sanggup berdiri tegak, betapa pun badai kehidupan menerjang dirinya (perhatikan perkataan iblis di hadapan Allah didalam pasal 1:8-9; 2:3-5). Namun untuk itu tidak berarti bahwa orang saleh tersebut bebas dari pergumulan-pergumulan hidup yang meresahkan. Di dalam pergumulan inilah muncul berbagai pertanyaan-pertanyaan dasar kegidupan yang menuntut jawab. Pertanyaan-pertanyaan dasar kehidupan ini secara lebih intensif telah mulai dimunculkan di dalam pasal 6, dan selanjutnya masih akan digumuli lagi di dalam pasal-pasal berikut dari kitab Ayub, untuk pada akhirnya ditutup dengan suatu kesimpulan di dalam pasal terakhir, yakni pasal 42, di mana di dalam ayat 7 disebutkan bahwa Allah murka terhadap Elifas dan kedua temannya karena Elifas tidak berkata benar tentang Allah seperti hambanya Ayub. Bahkan disini Ayub diperkenankan berdiri di hadapan Allah sebagai pengantara bagi Elifas dalam hal memperoleh pengampunan di hadapa Allah (ayat 8-9).

Pokok Diskusi
Pasal 6 dari kitab Ayub ini dapat kita mengerti sebagai suatu refleksi diri. Refleksi mengenai keberadaan hidup ral di dunia ini (yang tidak pernah terbatas dari berbagai macam pergumulan), dikaitkan dengan kberadaannya di hadapan Tuhan dan sesama.

Diskusikan secara lebih mendalam refleksi macam apakah itu, dan pelajaran apa yang dapat kita ambil dari padanya bagi kehidupan kita kini dan disini?

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress