Ayub 8:1-22
Oleh: Jakub Santoja , September 2005
1. Membaca secara intralinier
Jika teks ungkapan Bildad, orang suah ini dibaca secara linier tidak dijumpai kesalahan doktriner. Premis-premisnya tidak ada yang salah (baca: ayat 3). Bahkan isi teologi yang dikatakannya (baca ayat 5) dikemudian hari ternyata benar adanya (baca 42:10) sebagaimana dinyatakan oleh narator kitab ini. Bukankah teologi semacam itu adalah teologi kesalehan dari orang-orang yang ingin hidup beragama baik-baik. bukankah semua orang beragama yang bersih dan jujur, serta mencari Allah adalah hal yang mulia dan akan mengalami pemulihan (ayat 5,6,7)
Pandangan doktriner seperti itu tidak mempercayai sosok Allah yang membengkokkan keadilan atau kebenaran. Maka kunci untuk pemulihan adakah mencari Allah dan memohon kelaskasihan dariNya (ayat 5). Bukankah ini adalah suatu nasehat kesalehan yang seharusnya dilakukan sebagai orang beragama baik-baik?
Oleh karena itu adalah yang tak dapat diterima jika Ayub mengungkapkan ksesakan jiwanya dan kepedihan hatinya yang mendalam dengan kleuhan yang keluar dari mulut yang tak dapat ditahan lagi (7:11). Lebih-lebih ketika Ayub merasa terganggu dengan penempatan diri Allah sebagai penjaga terhadap dirinya (7:12- Apakah aku ini laut atua naga, sehingga Engkau menempkatkan penjaga terhadap aku?, 7:20). Perhatian dan kunjungan Allah dirasakan Ayub sebagai ujian yang tak berkeputusan (setiap saat 7:17,18). Keputusasaan akan hidup dan keinginannya agar Allah mengalihkan perhatian daripadanya supaya ia bisa hidup tanpa Allah merupakan puncak keinginan Ayub untuk lepas dari diri Allah yang menjadikan sebagai sasaran (7:20). Itulah sebabnya Bildad mnegur kata-kata Ayub yang gaya bicaranya sudah diangap kebablasan (seperti angin menderu; 8:2).
Tetapi ketika kita membaca lebih teliti dengan memperlihatkan “nada” dari ungkapan Bildad ini, terutama yng muncul dipermukaan teks sebagai kata “kalau” (awal ayat 5 da awal ayat 6) , yang dikombinasikan dengan “maka” (dalam ayat 6) akan terdengar paradigma teologi mekanistik dari rekan Bildad, orang suah itu. Teologi mekanistik seperti ini agaknya perlu kita renungkan dan diskusikan bersama dalam kelompok-kelompok. Pertanyaan yang dapat diangkat sehubungan dengan masalah ini ialah sejauh mana teologi sebagai refleksi atas realitas hidup dan peran Tuhan di dalamnya dapat dirumuskan secara mekanistik deterministik (perhatikan kata “tentu” dalam ayat 6)?
2. Apakah konsultasi dengan tradisi memadai ?
Dalam kerangka berteologi yang diterministik itu Bildad menasehatkan supaya Ayub berkonsultasi pada hidup orang-orang zaman dulu dan memperhatikan hasil penylidikan para nenek moyang (baca ayat 8). Ayub dan Bildad sebagai generasi muda adalah generasi yang “tidak mengetahui apa-apa”. Bukanlah generasi tua yang mengajari generasi muda dengan kata-kata yang keluar dari “akal budi” mereka. Bukankah juga dalam hal ini wajar jika generasi masa kini harus menghormati apa yang diajarkan oleh generasi masa lampau? Sebab bukankah tidak mungkin bagi tanaman apapun untuk meninggalkan keberakarannya, entah itu diatas rawa, air, batu atau tanah (ayat 11-19). Bukankah nasehat Bildad ini ttap ketika ia mengatakan bahwa pengalaman orang yang melupaka Allah tidak akan mengalami pertumbuhan (baca ayat 13a: bandingkan dengan ayat 11,12). Bukankah orang yang melupakan Allah seperti Ayub itu dapat digolongkan sebagai ‘orang fasik’ yang kehilangan ‘harapan’ (ayat 13b). Tidakkah ungkapan Ayub untuk lepas dari Allah adalah ketercerabutan dari akarnya, sehingga ia tidak diakui lagi (ayat 18)
Problem kaitan antara teologi deterministik dan pola kembali kepada masa lampau merupakan pokok diskusi yang agaknya relevan dengan masa kini yang ditandai dengan permasalahan pencarian identitas teologi ditengah perubahan-perubahan yang serba cepat dengan pelbagai bencana yang terjadi di sekitar hidup manusia.
3. Menangkap nada dalam kata
Pokok terakhir yang menuutp seluruh rangkaian releksi Bildad ini ialah bahwa orang saleh tidak ditolak Allah, orang benar akan dibuat tertawa. Tapi semua itu masih berupa harapan (perhatikan tensesn ‘akan’ dalam ayat 21,22). Apakah di sini tidak ada nada bahwa Bildad memang Ayub sebagai orang fasik dengan teologi deterministiknya (ayat 13) karea ia telah kehilangan harapan? Apakah karena nada ini maka Allah menyalahkan Bildad yang menyalahkan Ayub yang sedang menderita dalam musibah yang bukan karena kesalahannya, tetapi dituduh salah oleh teman-temannya. Apakah ini karena Allah lebih merasakan isi hati Ayub yang saleh daripada orang lai, dan Ayub mulai merasakan nada serangan dalam teologi rekannya karena Ayub memiliki kemantapan hati bahwa ia tidak bersalah? Atau karena teman-teman Ayub tak memasukkan realita iblis sebagai realita kejahatan? Bukankah hanya ktia sebagai pembaca diberi tahu secara jelas adanya realita dibelakang dunia nyaa sebagai kancah pergumulan Ayub beserta keluarga dan teman-temannya? Mungkinkah kapabilitas pembedaan roh ini yang akan bisa membuka kebuntuan berteologi yang linier dari teman-teman Ayub itu? (baca kembali 4:15,15). Sementara Ayub sendiri merasa mulia mampu membedakan jenis-jenis bencana (6:30).
Semoga Roh Allah menolong kita dalam penjelajahan imajinasi teologi kita dalam diskusi dan permenungan yang dialogis.
TEOLOGI