Yahweh, Setan dan Manusia di dalam kitab Ayub pasal 1:1-2:13
(yang dibaca hanyalah ps 1:6-12 dan ps 2 : 1-7)
Oleh: E. Gerrit Singgih
The old man does not play dice with the universe
(Albert Einstein)
Pendahuluan
Kutipan dari Albert Einstein di atas berasal dari konteks perdebatan dia dengan rekan-rekannya seperti Niels Bohr dan Werner Heinsenberg. Seperti diketahui , Einstein telah merombak pmiliran fisika yang berada di bawah pengaruh Newton, dimana segala sesuatu dapat diukur dan ditentukan berdasarkan pemahaman mengenai benda sebagai benda padat yang berada dalam ruang dan waktu yang mutlak. Menurut Einstein, ruang dan waktu tidak mutlak. Benda padat pada hakikatnya tidak ada, yang ada ialah energi. Pemahaman baru ini disebut teori relativitas, dan guru fisika relativitas ini, yaitu dengan memperlihatkan situasi ketika kita yang lagi duduk di gerbong kereja api sampai di stasiun. Pada suatu saat kita merasa kita bergerak lagi, tetapi sebenarnya bukan kita yang bergerak, tetapi gerbong, dari kereta lain yang berada di samping kita. Bohr dan Heisenberg memperkembangkan lebih lanjut pemahaman Einstein dalam teori kwantum. Keduanya menemukan bahwa unsur-unsur di dalam atom tidak bisa ditentukan arahnya, segala sesuatu ternyata berjalan secara tidak pasti. Maka Heisenberg mempopulerkan prinsip yang disebutnya indeterminasi, melawan prinsip yang diwariskan oleh Newton, yaitu determinasi. Anehnya, meskipun Einstein membuka jalan untuk pemikiran indeterminasi, ia sendiri tidak setuju dengan Bohr dan Heisenberg. Maka muncullah ungkapan diatas.
Apa hubungannya tokoh-tokoh fisika di atas dengan kisah Ayub? Silakanlah mengingat ungkapan Einstein ini ketika anda mendalami Ayub 1:1-2:13 menurut terjemahan TB-LAI. Teks ini dapat dibagi atas : 1) Ps 1:1-5 yang menggambarkan karakter Ayub dan keprihatinannya kepada anak-anaknya. 2) Ps 1:6-12 Penjumpaan pertama di antara Setan dan Yahweh. 3) Ps 1:13-22 Bencana yang menimpa harta milik dan anak-anak Ayub serta tanggapan Ayub. 4) Ps 2:1-6 Penjumpaan kedua di antara Setan da Yahweh. 5) Ps 2:7-13 Penderitaan pribadi Ayub, tanggapan Ayub dan tanggapan sahabat-sahabatnya.
Ringkasan isi Ayub 1:1-2:13
1. Narator menggambarkan Ayub sebagai seorang yang saleh (tam. Sebenarnya istilah ini berarti “utuh”, “sempurna”) dan jujur (yasyar yang berarti “lurus”), takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ayub memperlihatkan karakter yang amat baik. ia mempunyai 7 anak laki-laki dan 3 anak perempuan, 7000 domba, 3000 unta, 500 pasang lembu, 500 keledai betina dan banyak budak. Ayub adalah orang yang terkaya dari semua orang kaya di sebelah timur. Ungkapan “sebelah timur” secara umum menunjuk pada daerah di luar Israel. Jadi Ayub bukan umat Israel, tetapi menyembah Yahweh. Karena ayahnya adalah orang terkaya di dunia ini, maka aak-anaknya tidak mempunyai kerjaan selain berpesta setiap hari secara bergiliran. Ayub adalah ayah yang saleh. Ia kuatir jangan-jangan dalam pesta-pesta ini anak-anaknya telah mencemarkan kekudusan Allah, jadi setiap hari dia mempersembahkan korban, suyapa andaikata anak-anaknya berbuat dosa, maka korban itu dapat menetralisir dosa anak-anaknya. Ayub adalah orang kaya yang taat beribadat dan menjalankan aturan-aturan ibadat, serta menjaga betul, agar tidak ada dosa di dalam lingkuang khidupannya.
2. Sementara itu, di atas sana, di sorga, berlangsunglah sidang sinode ilahi. Semua aggota sinode yang disebut “anak-anak Allah” (benei ha’elohim) datang menghadap Yahweh, dan diantaranya adalah iblis (ha satan). Saya berpendapat bahwa istilah “ha satan” tidak dapat diterjemahkan “iblis”. Itu pengaruh pemahaman kita sekarang di mana iblis adalah betul-betul lawan dari Tuhan, antiKris. Tetapi dalam kisah kita, “ha satan” adalah anggota sidang sinode ilahi. Maka saya menerjemahkannya sebagai “sang jaksa’. Tugasnya adalah melaporkan di sorga mengenai kelakuan manusia kepada Yahweh, dan untuk itu dia mendapat surat tugas mengelilingi dan menjelajahi bumi. Yahweh bertanya apakah dia sudah mengamati Ayub, “hambaKu”. Istilah “hamba” bila dikaitkan dengan Tuhan di dalam PL, selalu mengandung makna yang berlawanan dengan arti kata itu yang sebenarnya. Musa adalah hamb Tuhan (lih. Bil 12). Hamba masih lebih tinggi daripada nabi. Nabi mendapati pesan Tuhan melalui mimpi,hamba mendapat pesan Tuhan melalui pertemuan langsung. Yahweh bangga dengan karakter Ayub, dan tidak ada orang di dunia ini seperti Ayub, yang berkarakter baik. tetapi sesuai dengan tugasnya, Sang Jaksa mmeikirkan kemungkinan lain, Yah, mungkin dia berkarakter baik, oleh karena mendapatkan kekayaan, perlindungan (ayat 10, “Engkau membuat pagar di sekeliling dia dst”) dan berkat-berkat lain dari Tuhan. Andaikata semuanya itu tidak ada karea sudah dicabut oleh Tuhan, apakah Ayub masih memiliki karakter baik? pasti dia akan mengutuk Tuhan! Tuhan yang yakin bahwa Ayub tetap akan berkarakter baik, dan mengizinkan Sang Jaksa untuk mencabut semua berkat yang tadinya telah diberikan oleh Tuhan kepada Ayub.
3. Maka terjadilah bahwa Ayub menerima rentetan kabar celaka. Yang pertama mengenai perampok-perampok Syeba yang merampas semua lembu, sai dan keledainya. Yang kedua adalah api dari langit (kilat) yang membunuh semua penjaga dan kambing-dombanya. Yang ketiga adalah perampok-perampok Kasdim yang merampas semua untanya, dan yang keempat adalah kematian ketujuh anak lelaki dan ketiga anak perempuan kejatuhan atap rumah yang roboh diserang oleh angin topan. Menghadapi musibah beruntun ini, Ayub bereaksi dengan berkabung dan pasrah (silakan membaca ps 1:21). Kemudian narator memberi penilaian kepada tanggapan Ayub ini, “dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang adil” (1:22). Juga dalam mengalami musibah yang berat, Ayub tidak berdosa.
4. Sidang sinode sorgawi yang pertama ternyata masih disusul lagi dengan sidang sinode sorgawi yang kedua. Kapan dan berapa rentang waktunya dibandingkan dengan yang pertama tidak disebut. Hanya untuk kedua-duanya dikatakan, “pada suatu hari” (1:6, 2:1). Kembali Yahweh bertanya kepada sang jaksa mengenai Ayub, yang tetap tidak berubah sikap, “meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan” (2:3, perhatikanlah baik-baik apa yang dikatakan oleh Yahweh disini!). sang jaksa mengatakan bahwa bencana yang terjadi hanya menimpa hal-hal di luar Ayub, belum diri Ayub sendiri. Coba kalau dirinya yang terkena bencana, pasti dia akan mengutuk Tuhan! Kembali lagi Tuhan mengizinkan sang jaksa untuk mengengsarakan Ayub, kali ini dengan membuat Ayub terkena penyakit borok yang parah dan nyeri-gatal di sekujur tubuhnya. Penyakit ini rupanya menular dan najis, sehingga Ayub terpaksa “duduk di atas abu”. Abu merupakan bagian dari perkabungan. Tetapi Septuaginta (versi Yunani dari PL) memahaminya sebagia tempat sampah di pinggiran pemukiman. Itu berarti Ayub sekarang menjadi penghuni tempat sampah, sama seperti kita lihat di kota-kota besar masa kini. Nasibnya betul-betul berubah, dari orang terkaya menjadi orang gelandangan, penghuni tempat sampah.
Istrinya yang selama ini tidak muncul dalam kisah, tiba-tiba bersuara, dan mempertanyakan apa gunanya Ayub mempertahankan kesalehannya. Lbih baik apabila ia mengutuki Allah (seperti yang dikuatirkan oleh sang jaksa) dan sesudah itu mati. Tetapi Ayub menegur istrinya dan memberi argumen teologis: kalau kita senang meneri ayang baik dari Tuhan, kita juga harus senang menerima yang buruk dari Tuhan. Kembali lagi narator memberi penilaian kepada Ayub: “dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya”.dalam penilaian pertama di atas, Ayub tidak berbuat dosa. Dalam penilaian kedua ini Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Apakah Ayub sudah berbuat dosa di dalam hatinya? Silakan anda mendiskusikan hal ini. Tetapi jelaslah bahwa usaha Ayub untuk menjaga agar tidak ada dosa dalam lingkungan hidupnya tidak membuat ia bebas dari musibah. Orang yang tidak berdosapun dapat terkena penderitaan. Itulah yang di dalam pasal-pasal berikut dipertanyakan oleh Ayub kepada Yahweh, tetapi di dalam pendahuluan kitab Ayub, yaitu dalam ps 1:1-2:13 Ayub tidak mempertanyakannya, melainkan menerimanya. Tidak heran bahwa berdasarkan pendahuluan ini, Ayub digambarkan sebagai contoh orang beriman yang tawakal dan sabar.
5. Berita mengenai musibah yang dialami oleh Ayub menggugah ketiga sahabatnya, yaitu Elifas, Bildad dan Zofar untuk mengunjungi Ayub. Mereka datang untuk “mengucapkan belasungkawa dan menghibur dia” (2:11). Tentunya atas meninggalnya kesepuluh anak Ayub. Tetapi barangkali juga mereka mau berbelasungkawa karena Ayub pada dasarnya sudah seperti orang mati? Mereka melihat Ayub dari jauh, kok beda sekali dengan Ayub yang biasanya dikenal, mereka meratap untuk menyatakan bahwa mereka ikut berdukacita sedalam-dalamnya dan berkabung, lalu mereka duduk bersama-sama dengan Ayub tujuh hari tujuh malam dengan diam. Jadi bayangkanlah di tempat sampah ada seseorang yang duduk dikelilingi tiga orang selama seminggu tanpa berbicara satu patah katapun. Ketiga sahabat sangat berempati kepada Ayub. Mereka melihat betapa berat penderitaanya. Tetapi kalau betul bahwa mereka berbelasungkawa atas meninggalnya Ayub (padahal jelas Ayub belum meninggal) dan bukan atas meninggalnya anak-anak Ayub, maka kita sebagai pembaca sudah dipersiapkan untuk mendengarkan makian Ayub kepada sahabat-sahabatnya di ps 16:1 “penghibur sialan kamu semua!”.
Pertanyaan-pertanyaan untuk didiskusikan
1. Bagaimana tanggapan anda terhadap kesepakatan di antara YHWH dan sang jaksa mengenai Ayub? Pertimbangkanlah pendapat Einstein di atas di dalam diskusi.
2. Ketika semua yang dimilikinya hilang lenyap, Ayub berkata,”Tuhan yang mmberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan” (ps 1:21). Tetapi apakah Ayub akan berkata demikian andaikata dia mengetahui, bahwa Tuhan telah “mencelakakannya tanpa alasan” (ps 2:3)?
TEOLOGI
Sya tdk stuju dengan pemikiran sperti itu , klo anda sedang mendalami alkitab seharusna itu anda berdiskusi knp Tuhan kasih jalan itu ke ayub , bkan menjelek”kn Tuhan , n menyamakan Dia dengan iblis , klo anda sprti ini , yg jd iblis itu siapa Tuhan atau anda . . ?
Comment by Nn — November 20, 2008 @ 10:28 pm
semuanya menuju/kembali ke awal pada kitab kejadian psl 3.
Setan menjadi jahat, menantan, bukan kemahakuasaan allah, bukan kekuatan allah, tetapi pada HAK manusia untuk memrintah diri sendiri, bahwa Allah TIDAK BERHAK untuk menjadi penguasa, Bahwa manusia TIDAK TERGANTUNG pada allah, bahwa manusia hanya menyembah dia UNTUK KEUNTUNGAN FINASIAL. ITULAH SEBABNYA setan TIDAK langsung dibunuh. Tantangan itu membutuhkan waktu untuk menjawabnya. Ayub berkesempatan untuk menjawab tantangan tersebut…
Perkataan Juragan besar Einstein dimaksudkan untuk mereka2 yg atheis bin tidak percaya pada adanya TUHAN. dia melihat betapa teraturnya segala sesuatu. bahwa TUHAN itu ada. Bahwa TUHAN itu mahluk serius yg tidak suka mempermainkan nasib seseorang. Ingat dalam buku ulangan TUHAN hanya MENYEDIAKAN 2 (dua) jalan kepada kita. Pilih mengikuti jalan allah atau mengikuti jalan yg lain. disuruh milih lho kita! bukan diatur (takdir)!, jadi hasil baik atau jelek bukan karena diatur, tapi konsekuensi pilihan kita sendiri.
Saya yakin seperti ditulis dalam kitab2 nya yg lain. Tuhan TIDAK mencobai siapapun (saya pernah berpendapat sebaliknya, tetapi setelah baca2 baru saya percaya bahwa MANUSIA dicobai JALANNYA sendiri, BAHWA jika manusia tidak menurut pada allah, kejelekanlah hasilnya).
Jadi dalam kasus ayub, Ayub diberi hak kesempatan untuk menjawab tantangan setan yg diucapkan setan sejak dari taman firdaus. dan TUHAN yakin akan kesetiaan ayub. Apakah anda dan semua yg baca ini juga tidak senang diberi kesempatan menjawab tantangan setan? - dan kita semua masih? Jawablah tantangan setan yg menyebutkan bahwa manusia hanya menyembah dia untuk kesejahteraan/keuntungan finansial belaka.
-Lihat apa yg diserang oleh setan pertama kali? yaitu sarana beribadah Ayub (binatang yg pada waktu itu dipergunakan sebagai sarana pelayanan/penyembahan/beribadat - untuk menyucikan dosa anak2nya dan dosa dirinya (ayub) sendiri- Bagaimana mungkin Ayub beribadat jika sarananya diambil?, tapi pada akhirnya ayub TETAP beribadat kan? buktinya di ayat2 terakhir kitab ayub, TUHAN tetap mengakui dia sebagai hambanya, bahkan dipergunakan sebagai imam untuk penyucian ke 3 temannya?)
Saya senang bahwa kita semua MASIH tertarik pada masalah2 rohani…..
selamat….
Comment by doni — June 7, 2009 @ 11:56 pm
saya tidak setuju dengan bahwa anak2 ayub membuat korban atas dosa2 keluarga ayub sedang kan tuhan yg mencipta manusia tidak butuh persembahan yg ia butuh adalah ibadah manusia.
Comment by fahhad — June 10, 2009 @ 3:41 am
sedang kan ayub di beri ujian oleh allah swt untuk mengingat kan kita manusia untuk melihat pemimpin umat bisa hancur sekejap oleh kekuatan allah,jadi manusia harus belajar dan menghayati dan besyukur kepada apa yg di berikan oleh allah swt.
Comment by fahhad — June 10, 2009 @ 3:52 am
loh yg bilang anak2 ayub membuat korban untuk keluarga di ayat mana?….
emang kalo berpandangan bahwa allah butuh disembah atau allah butuh sesuatu seperti mahluk yg berkekurangan itu aneh ya…
tapi coba darimana dasar pemikiran itu? apalagi jika berpandangan bahwa tuhan butuh ibadah manusia… darimana itu? Emang TUhan mahluk yg membutuhkan sesuatu dari manusia?
SEKALI LAGI. Ayub TIDAK diberi ujian OLEH Allah SWT. ALLAH/TUHAN TIDAK dicobai dan TIDAK memberi cobaan pada siapapun. KEBANYAKAN-apa yg disebut cobaan oleh manusia- ADALAH 1. HASIL PILIHAN manusia itu sendiri, 2. HAsil dari Saat dan Waktu yg tidak tepat, 3. HASIL dari kelakuan SETAN.
Iseng amat Allah Mencobai manusia. APALAGI MENENTUKAN (baca Takdir) HASIL AKHIRNYA !!!!
APakah Jika kita mengendarai motor tanpa helm trus celaka adalah takdir?Cobaan dari Tuhan? Enak aja….
Apakah kapal udara jatuh dan menewaskan sekian orang itu adalah hasil cobaan Tuhan pada manusia? Periksa dulu peralatan pesawat, Cuaca, Cara/Keputusan waktu ada situasi genting dll dll, enak aja nyalahin Tuhan atas terjadinya suatu tragedi….
Comment by doni — June 15, 2009 @ 2:52 am