Suatu Tanggapan Terhadap Kristologi S.J. Samartha Dalam Bukunya “One Christ Many Religions”
Karya: Made Gunaraksawati Mastra, Kategori: Pilihan Dosen
I. Otobiografi
Stanley Jedidiah Samartha, lahir 7 Oktober 1920 di Karkal, India. Ia dibesarkan dalam lingkungan komunitas Kristen yang kecil dari Basel Mission di tengah-tengah mayoritas penduduk yang memeluk agama Hindu. Ia belajar teologia di United Theological College di Bangalore (1941-1945) kemudian melayani sebagai pendeta di Gereja India Selatan (1945-1947). Ia kemudian mengajar di Basel Mission’s Theological Seminary di Mangalore (1947-1949) lalu studi di luar negeri (1949-1952) kemudian kembali dan menjabat Rektor (1952-1960), Profesor pada United Theological College di Bangalore (1960-1965), dan Rektor pada Serampore College di Bengal Barat (1968-1968). Bekerja selama 12 tahun di Dewan Gereja-gereja se-Dunia, pertama sebagai sekretaris pada Departemen Studies in Mission and Evangelism (1968-1970), kemudian sebagai direktur sub-unit Program Dialogue with People of Living Faiths and Ideologies (1971-1980). Pada tahun 1981 ia kembali ke India untuk mengajar, refleksi dan menulis, di samping menjadi konsultan pada Christian Institute for the Study of Religion and Society di Bangalore.
II. Pokok-pokok Pikiran Samartha
Samartha dikenal oleh sumbangan pemikiran teologisnya pada dialog antar umat beragama, kristologi dalam konteks Hindu di India, dan hermeneutika Asia. Pandangan-pandangannya dikembangkan selama bekerja di Dewan Gereja-gereja se-Dunia. Pada permulaannya ia mendalami studi tentang agama-agama lain, tapi kemudian studi ini dikembangkan untuk dialog dengan mereka yang beragama lain dan perumusannya ditarik lebih jauh menjadi Dialogue with People of Other Faith yang nantinya menghasilkan Guidelines on Dialogue. Pokok-pokok pikirannya adalah sebagai berikut.
4.1. Berteologi dalam Konteks Kemajemukan Agama
Dalam dialog dengan penganut agama lain, pandangan Samartha pada mulanya adalah kristosentris, menempatkan Kristus sebagai pusat, dan inklusivisme, menekankan Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan menuju Allah. Namun sejak pertengahan 70-an, pandangan teologisnya secara perlahan beralih ke teosentris, menempatkan Allah sebagai pusat, dan pluralisme, meyakini ada banyak jalan keselamatan menuju Allah selain melalui Yesus.
Melalui inkarnasi Yesus Kristus, Allah telah merelativisasikan diri-Nya dalam sejarah, karena itu para teolog Kristen tidak dapat memutlakkan doktrin mengenai tokoh yang telah direlativisasikan Allah itu. Berdasarkan ini, Samartha mengajukan gagasan kristologi yang bersifat “relational distinctive” (kekhasan relasional), yang memaknai Kristus dalam relasi dengan agama-agama lain, dengan menerima kekhasan dari semua tradisi-tradisi agama besar sebagai tanggapan yang berbeda-beda terhadap Misteri Allah, untuk saling memperkaya agama-agama yang ada.
Menurut Samartha, makna teologis dari kenyataan kemajemukan agama adalah agar kita memahami Allah dan hubungan Allah dengan keseluruhan kreasi oikumene, yang tidak hanya mencakup Kekristenan; kemajemukan adalah struktur dari realitas, yang menunjukkan bahwa Allah memang mengkehendaki keberanekaan agama terus berlangsung di dunia.
Atas dasar pemahaman ini, Samartha mengembangkan suatu teologi agama-agama yang Kristen, namun saat bersamaan bersifat universal, yaitu suatu kristologi yang bersifat teosentris yang menekankan Allah sebagai pusat; dengan tetap mempertahankan keunikan Kristus, tetapi Kristus tidak a priori normatif bagi mereka yang bukan-Kristen; dan secara bersamaan terbuka kepada kebenaran-kebenaran yang terkandung dalam teologi agama-agama lain dalam menanggapi Misteri Ilahi. Samartha meyakini bahwa kesaksian-kesaksian dari semua agama-agama yang ada di dunia akan memungkinkan pengenalan mengenai Allah secara lebih sempurna.
Samartha menentang pandangan eksklusivisme yang mengklaim Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Menurut Samartha, pandangan ini dimungkinkan berkembang di Barat yang bercirikan satu agama tetapi tidak dimungkinkan di Timur yang bercirikan kemajemukan agama. Ia mengkritik bahwa pandangan eksklusivisme untuk waktu yang lama telah menyebabkan tidak adanya keterbukaan untuk mempelajari dan memahami agama lain. Kenyataan kemajemukan agama menuntut gereja tidak lagi bisa bertindak dalam keterasingan dari agama-agama lain yang ada di dunia, namun harus terbuka untuk berdialog dengan umat beragama lain.
4.2. Berteologi dalam Konteks India
Samartha melihat tugas dasariah gereja di India adalah mengungkapkan makna kepercayaan kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat bagi kehidupan orang Kristen serta Gereja, dalam konteks budaya dan agama Hindu di India.
Dalam rangka ini, Samartha mengembangkan kristologi berdasarkan konteks spiritual dari filsafat India yang sangat terkenal yaitu advaita. Advaita adalah filsafat yang terkandung dalam kitab suci agama Hindu, Vedanta, yang dalam bentuk modernnya amat dipengaruhi oleh penafsiran acharya Sankara (788-820 M.). Titik tolak teologis Samartha pada advaita, karena kebanyakan tokoh terkemuka di India amat dipengaruhi oleh filsafat advaita penafsiran Sankara dan sampai sekarang pun orang masih terus-menerus mempelajari advaita dan menghubungkannya dengan kehidupan dan pemikiran modern.
4.3. Misteri Ilahi dalam Advaita
Advaita adalah suatu pemahaman bahwa “tidak ada keduaan” (non-dualisme), yang ada hanya Yang Satu. Konsep ini merangkum segala sesuatu yang bertentangan sekalipun dalam suatu kesatuan yang kreatif, seperti: Allah dan dunia, manusia dan alam, ilmu dan agama, transendensi dan imanensi, tubuh dan jiwa, semua agama yang ada.
Ada berbagai penafsiran mengenai Yang Satu, salah satunya adalah penafsiran Sankara yang menyatakan bahwa realitas yang satu itu adalah Brahman, yang dalam Kekristenan identik dengan Allah. Melalui penamaan Yang Satu itu, keberadaan ilah-ilah tidak dihilangkan, melainkan tetap dipertahankan dengan mengkaitkan mereka ke Yang Satu yang diakui sebagai Pusat Misteri, dan kepada satu sama lain, supaya mereka dapat bersama-sama berada dalam suatu struktur dengan tetap mempertahankan keunikan yang dimilikinya. Meskipun kekhasan dan kekuasaan dari ilah-ilah yang berbeda itu dikenali dalam relasi eksistensial, namun materi ontologis dari Yang Satu tetap di atas dan melampaui semua ilah-ilah itu. Kemajemukan dimungkinkan dengan mengakui adanya Pusat Misteri. Misalnya, perbedaan yang ada pada agama Buddha – yang menolak otoritas Veda, superioritas para Brahman, dan ritual korban – tidak menghalangi agama Buddha dihisab ke dalam struktur agama Hindu sebagai avatara. Demikian pula, sampradayas (tradisi-tradisi yang dikaitkan dengan Wisnu, Siwa dan Sakti) yang berbeda-beda dalam Hinduisme direkat bersama dalam suatu kerangka kerja yang lebih luas.
Dalam rangka berteologi kontekstual di India, Samartha menekankan perlunya memiliki suatu rasa akan adanya misteri. Menurut Samartha, Misteri Ilahi adalah dasar ontologis untuk toleransi, sebab bila tidak ada, akan beresiko menjadi keramahan yang tidak kritis. Misteri Ilahi ini memiliki segi transenden yang melampaui pengertian kita, bahkan melampaui semua pemahaman yang ada mengenai-Nya. Misteri Ilahi melampaui pengetahuan kognitif (tarka), namun terbuka untuk visi (dristi) dan intuisi (anubhava). Misteri Ilahi yang sifatnya “ketidak-duaan” (advaita) itu menyatukan dikotomi mengenai keberadaannya: dekat dan sekaligus jauh, diketahui dan sekaligus tak diketahui, personal dan sekaligus di atas segala-galanya. Sifat yang demikian ini mencerminkan keberanekaan yang ada dalam hati Keberadaan itu sendiri, yang dengan demikian juga berlaku dalam kemanusiaan.
Samartha menganjurkan perhatian yang lebih besar kepada dimensi-dimensi bukan-rasional yang terdapat pada Misteri, yang selama ini dikecilkan artinya dalam pandangan eksklusivisme – antara lain: dimensi batiniah seperti mistik, esoterik, ritual dan simbol-simbol, doa, penyembahan, meditasi; dimensi estetika seperti kesenian, seni pahat, musik dan tarian – dalam kehidupan religius, yang kesemuanya melengkapi pemahaman mengenai Kebenaran Tertinggi dan sebagai sarana untuk mediasi Kebenaran. Samartha mengamati bahwa banyak teolog Kristen Barat yang sudah terbuka untuk berdialog dengan penganut agama lain, masih tidak nyaman ketika dihadapkan dengan persembahyangan atau kesenian dalam pertemuan-pertemuan dialog antar agama.
4.3.1. Misteri Ilahi dalam Trinitas
Samartha berusaha mengungkapkan Misteri Ilahi dalam struktur hubungan yang ada dalam doktrin Trinitas – yang kita kenal sebagai Bapa, Putera dan Roh Kudus – melalui pemahaman advaita mengenai Yang Satu.
Samartha menguraikan, dalam kehidupan religius, usaha manusia memaknai peristiwa-peristiwa tertentu dalam sejarah atau dalam kesadaran manusia merupakan penafsiran manusia terhadap Misteri Ilahi. Sejarah agama-agama memperlihatkan bahwa penafsiran-penafsiran itu banyak dan beranekaragam dan terkondisikan oleh budaya dan sejarah. Karena itu, menurut Samartha, tidaklah adil bila kriteria yang diturunkan dari satu penafsiran dijadikan norma untuk menilai penafsiran yang lainnya. Samartha mencontohkan, Misteri Ilahi dalam suatu aliran Hindu dimaknai sebagai sat-cit-ananda (kebenaran-kesadaran-sukacita) melalui konteks budaya India, sedangkan dalam Kekristenan dimaknai sebagai Tritunggal – Bapa, Putera dan Roh Kudus – dalam usaha memaknai Yesus dari Nazaret, sebagai Kristus, melalui konteks budaya Yunani, yang mempunyai kategori-kategori yang berbeda dari konteks India. Keterbatasan bahasa menyebabkan baik sat-cit-ananda maupun Trinitas, kedua-duanya tidak memadai untuk menerangkan karya ontologis interioritas dari Misteri. Karena itu, tidak ada dasar bagi klaim untuk mengatakan bahwa rumusan Trinitas memberikan wawasan yang lebih benar mengenai Misteri daripada sat-cit-ananda. Kedua rumusan ini hanya merupakan lambang, yang merujuk kepada Misteri di belakang sat-cit-ananda maupun Allah Tritunggal, yang meneguhkan makna yang telah disingkapkan, tetapi tidak menyingkapkan totalitas misteri yang ada.
Samartha menempatkan Allah Bapa dalam rangka pendekatan teosentrik, menekankan pusat pada Allah Bapa, dengan alasan bahwa Alkitab senantiasa menekankan prioritas kepada Allah, dan Yesus sendiri bersikap teosentrik.
Dalam memaknai Yesus sebagai Putera Allah, yang dilandasi oleh kristologi yang teosentrik, Samartha berpendapat bahwa meskipun dalam Yesus Kristus berdiam kepenuhan Allah, namun itu tidak menjadikan-Nya dapat menggantikan kedudukan Bapa. Samartha bahkan menganjurkan agar menempatkan Yesus Kristus tidak sebagai Allah, namun sebagai allah orang-orang Kristen, sebanding dengan allah-allah dalam agama lain, dalam dialog dengan penganut agama lain. Samartha mengatakan bahwa upaya meninggikan Yesus ke status Allah beresiko “Jesuologi”, sedangkan upaya membatasi Kristus ke Yesus dari Nazaret beresiko menjadi pandangan “Kristomonisme” yang sempit. Menurut Samartha, kristologi yang teosentrik mencegah terjadinya bahaya-bahaya ini dan membantu membangun hubungan yang harmonis dengan orang-orang beragama lain.
Dalam memaknai Roh Kudus, Samartha secara konsekwen menempatkannya dalam kerangka pendekatan yang bersifat teosentrik. Ia setuju pandangan gereja Ortodoks mengenai klausa filioque pada konsili Nicea (451 M.) – bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan bukan dari Putera – tidak mengecilkan kesentralan Yesus Kristus dalam iman Kristiani, tetapi justru menempatkan-Nya lebih jelas dalam struktur Trinitas. Pemahaman bahwa Roh Kudus tidak sama dengan Roh Kristus, menjadikan karya Roh Kudus tidak terbatas pada kehidupan orang Kristen atau gereja semata tetapi melingkupi kehidupan orang yang beragama lain.
4.3.2. Keselamatan, Dosa, Sorga
Samartha mengemukakan bahwa ada berbagai makna mengenai keselamatan, dosa dan sorga. Ia menunjukkan bahwa di kalangan jemaat Kristen perdana sekalipun ada perbedaan penafsiran mengenai makna keselamatan dalam Yesus Kristus, oleh orang-orang Kristen Yahudi yang berbahasa Aramik, orang-orang Yahudi Hellenik diaspora serta orang-orang Kristen bukan-Yahudi, seperti Yunani, Syria dan Romawi.
Dosa dimaknai sebagai masalah (predicament) dalam Kekristenan, sebagai avidya (ketidak-tahuan) dalam Hindu, dan sebagai dukkah (kedukaan), yaitu suatu kondisi darimana mereka harus dibebaskan, dalam Buddha.
Moksha dan nirvana (sorga) dimaknai sebagai tujuan akhir pembebasan, yang dapat dicapai melalui berbagai macam cara, antara lain melalui sadhanas, jalan disiplin. Pada konteks zaman sekarang, keselamatan diartikan bermacam-macam, antara lain sebagai pembebasan dari penindasan, kesewenang-wenangan dan ketidakadilan.
Kenyataan adanya beraneka ragam ungkapan keselamatan, dosa, sorga yang memberikan makna dan arahan bagi orang-orang dalam berbagai budaya, yang telah berlangsung selama ribuan tahun, tidak memungkinkan orang Kristen mengklaim bahwa tradisi Barat-Kristen-Yahudi adalah jawaban untuk semua persoalan di semua tempat dan untuk semua orang di dunia. Pernyataan Samartha ini tidak bermaksud untuk mengingkari kebenaran keselamatan dalam Yesus Kristus, tetapi untuk menunjukkan bahwa klaim eksklusivisme oleh orang-orang Kristen tidak didukung oleh peristiwa sejarah, kehidupan kelembagaan gereja, ataupun kehidupan banyak orang-orang Kristen yang menyatakan klaim tersebut. Samartha menandaskan, jika kita meyakini bahwa keselamatan datang dari Allah maka kita harus terbuka akan kemungkinan pengalaman keselamatan yang lain. Karena itu Samartha menganjurkan suatu kristologis yang bersifat teosentris.
4.3.3. Otoritas dan Hermeneutika Kitab Suci
Samartha mengkritik klaim orang Kristen, bahwa normativitas Kristus didasari oleh otoritas Alkitab, tidak mempertimbangkan kenyataan bahwa ada banyak kitab suci yang otoritasnya berlaku normatif bagi pemeluknya. Samartha juga mengemukakan bahwa makna otoritas berbeda-beda dalam menafsirkan kitab suci. Bagi orang Hindu dan Buddha, otoritas kitab suci tidak tergantung pada segi teks yang tertulis, tetapi dari mendengarkan dan melihat firman (Sabda), sebab mereka meyakini kesakralan teks secara intrinsik terkandung dalam teks. Karena itu, orang terlibat di dalamnya tidak harus dengan cara memahaminya tetapi dengan cara melafalkannya dan mendengarnya.
Atas dasar ini, para teolog Kristen India sekarang giat mempelajari perkembangan teori-teori penafsiran Hindu dan Buddha dalam sejarah agama-agama di India serta implikasinya dalam rangka mengembangkan hermeneutika Kristen yang sesuai dengan konteks India.
4.3.4. Suatu Teologi yang Berdasarkan Model Pluralis
Pemahaman Allah sebagai Pencipta dan Penyelamat dari semua kehidupan – yang diteguhkan oleh Alkitab dan oleh pemaknaan advaita bahwa Misteri atau Sat atau Yang Transenden atau Realitas Tertinggi atau Wawasan Tertinggi dari seantero kehidupan – menempatkan orang Kristen dan orang-orang beragama lain dalam satu hubungan dengan sumber kehidupan, dan dengan demikian melibatkan semua orang bersama-sama dalam pergumulan kehidupan dan tanggungjawab pemeliharaan kelangsungan kehidupan.
Kristologi teosentrik, yang mempertahankan Misteri Allah dan saat bersamaan mengakui kekhasan Yesus Kristus, menurut Samartha, memungkinkan komitmen kepada Allah melalui Yesus Kristus tanpa bersikap negatif terhadap orang beragama lain, dan dengan demikian memberikan kerangka kerja yang lebih komprehensif dalam dialog dengan agama-agama lain; memungkinkan dialog yang dialektis, bukan yang satu arah; menggeser penekanan dari normatif ke sikap yang relasional terhadap orang yang beragama lain, yang diarahkan untuk mengenali dan menghargai perbedaan ketimbang mencari persamaan dan usaha menyeragamkan; menghindari dikotomi “kita” dan “mereka” atau orang yang “di dalam’ dan orang yang “di luar”.
Samartha menegaskan bahwa bahwa lingkup teosentrik mencakup lingkup kristosentrik, sehingga memungkinkan suatu keterbukaan terhadap makna teologis dari pewahyuan, pengalaman dan pengungkapan keselamatan dari agama yang lain. Teosentrik membuka peluang bagi orang-orang yang beragama lain untuk turut terlibat memaknai Yesus Kristus, yang jika betul-betul dilakukan, akan mewujudkan impian Kekristenan untuk memperkaya orang beragama lain sekaligus diperkaya oleh orang beragama lain. Dan terakhir, Samartha menganjurkan agar pendekatan teosentrik tidak melandaskan kerjasama atas dasar manfaat, tetapi pada teologi, dalam rangka visi melibatkan semua orang dalam misi Allah di dunia, untuk menyembuhkan hati yang hancur, mengatasi keterkotak-kotakan kehidupan, dan menjembatani ketegangan antara alam, manusia dan Allah.
III. Tanggapan
3.1. Tanggapan Umum
Pokok-pokok pikiran Samartha secara tegas mengarah kepada pendekatan teologis yang pluralisme dan teosentrik. Pendekatan ini mengundang pertanyaan-pertanyaan. Yang pertama adalah masalah relativisme. Meskipun penganut paham pluralis tidak merelatifkan kebenaran dengan menganggap bahwa semua agama sama saja, namun bahaya relativisme tetap perlu diwaspadai. Yang kedua adalah asumsi bahwa tafsiran-tafsiran mengenai kebenaran yang ada merupakan bagian dari suatu mosaik kebenaran untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai Allah. Setiap penafsiran kebenaran perlu dikritisi dan dinilai berdasarkan kristologi dan pneumatologi yang berpegang pada norma Alkitab. Sebab tafsiran kebenaran itu berbeda-beda bagi setiap orang, kebenaran oleh yang satu belum tentu dianggap kebenaran oleh yang lain, selain itu perlu pemilahan antara kebenaran sejati dan ketidakbenaran yang terselubung. Jadi kita dapat menerima kebenaran yang sifatnya komplementer yang membantu pemahaman yang lebih sempurna tentang Allah, tetapi sebaliknya bila bertentangan, maka “kebenaran” itu diterima sebatas dihormati tapi tidak dipakai sebagai panduan. Sebab sikap pluralisme tidak berarti menerima semua kebenaran tanpa penilaian, untuk tujuan “menyenang-nyenangkan” orang yang beragama atau berkepercayaan lain, tetapi dalam artian sikap yang toleran dan menghormati tetapi dengan tetap mempertahankan integritas iman yang kita yakini. Yang ketiga adalah peranan, status Kristus. Penyataan Allah yang sempurna di dalam Yesus Kristus bukan berarti Allah hanya menyatakan diri di dalam Yesus Kristus saja. Yesus Kristus sebagai Penebus dan Juruselamat tetap diakui dan normanya berlaku mutlak bagi orang Kristen, tetapi tidak lagi a priori normatif bagi orang bukan-Kristen. Pertanyaan berikutnya yang terkait dengan pertanyaan ini adalah persoalan masih perlukah penginjilan. Menurut saya, kerangka pemikiran Samartha mengenai kenormatifan Kristus tidak menolak usaha penginjilan, tetapi seperti dikatakan oleh Samartha, menempatkan penginjilan sebagai arena “berbagi” dalam dialog yang peka dan rendah hati dengan penganut agama dan kepercayaan yang lain, yang memberikan kemungkinan yang lebih luas kepada penganut agama lain untuk mempelajari, memahami dan membanding-bandingkan iman kepercayaan Kristiani dengan iman agama mereka. Menurut saya, peranan kita sebagai orang Kristen adalah “berbagi manfaat” yang kita alami dalam iman kepada Kristus, sedangkan perkara “meyakinkan” adalah karya Roh Kudus dalam kedalaman batin seseorang yang akan menghantar orang itu kepada Allah melalui iman kepada Yesus Kristus.
Pemahaman mengenai Trinitas berdasarkan advaita, menempatkan hubungan Bapa-Putera-Roh Kudus dalam struktur Trinitas secara lebih jelas dalam kerangka teosentrik yang kristosentris. Meskipun orang Kristen mengakui ke Tritunggalan Allah, namun dalam praktek sehari-hari seringkali orang hanya mengacu kepada Yesus, doa dipanjatkan kepada Yesus dan ditutup dalam nama Yesus kembali, dan seringkali kedudukan Yesus dipersamakan dengan Bapa, tumpang tindih, tanpa pembedaan yang jelas, misalnya lagu-lagu yang mengagungkan Yesus sebagai pencipta alam semesta, bahkan dalam perkembangan sekarang yang dipengaruhi aliran Karismatik, ada pula yang memanjatkan doa langsung kepada Roh Kudus tanpa referensi kepada Allah Bapa dan Yesus Kristus. Pemahaman bahwa Roh Kudus bukanlah Roh Kristus melainkan Roh Allah menjadikan karya-Nya tidak terbatas di kalangan orang Kristen atau gereja, tetapi juga diluarnya. Hal ini akan mendorong keterbukaan untuk menemukan kebenaran-kebenaran Allah yang dinyatakan di luar kekristenan, di dalam agama-agama lain, untuk menyempurnakan pemahaman bersama mengenai Allah. Saya cenderung membedakan Roh Kudus sebagai Roh Kristus dan Roh Allah. Saya tetap berpegang pada Roh Kristus (Roh Allah yang menuntun kepada pengenalan akan Allah melalui Yesus Kristus), yang dinyatakan dalam Perjanjian Baru, dalam menilai kebenaran untuk iman Kristen saya, tetapi secara bersamaan juga mengakui Roh Allah, yang dinyatakan dalam Perjanjian Lama, bekerja dalam seluruh dimensi kehidupan kemanusiaan dan dalam semua agama dan keyakinan yang ada di dunia.
Pemahaman bahwa lingkup teosentris mencakup lingkup kristosentris, menyebabkan paham kristosentris tidak perlu disingkirkan, tetapi tetap dipertahankan bersama-sama dengan paham teosentris. Tetapi paham teosentris tidak memberi tempat bagi mono-kristosentrisme. Sehubungan kritikan Samartha terhadap mono-kristosentrisme, Emanuel Gerrit Singgih, dalam kuliah Teologi Kontekstual Asia, juga dalam bukunya Iman dan Politik dalam Era Reformasi di Indonesia, menguraikan bahwa sebenarnya tradisi kekristenan menurut warisan tradisi Calvinisme adalah teosentris yang kristosentris. Dalam tradisi Calvinisme diakui bahwa Yesus adalah Allah, tapi keilahian itu tidak habis dirangkum dalam diri Yesus Kristus, dengan kata lain, Allah adalah lebih luas dari pribadi Yesus Kristus; prinsip Calvinisme ini disebut “illud extra-Calvinisticum”. Tetapi dalam perkembangannya pada praktek devosional umat cenderung menghayati sebagai mono-kristosentris. Dengan demikian, ia menyimpulkan bahwa dalam penerapannya, prinsip Trinitas telah beralih menjadi Unitarian, karena itu ia mengemukakan perlunya pemahaman Trinitas yang seimbang; yang mencakup Teosentris, Kristosentris dan Pneumasentris. Dalam dialog dengan agama dan kepercayaan lain, ia menyarankan penekanan pada segi Teosentris dan Pneumasentris namun tanpa merugikan dimensi Kristosentrisme.
3.2. Kritikan Terhadap Pendekatan Samartha
Berikut ini adalah beberapa kritikan terhadap teologi Samartha serta tanggapannya:
(1) Ada kritikan bahwa teologi kontekstualnya bersifat elitis, yaitu dinilai terbatas jangkauannya pada kalangan kecil agamawan dan tidak meluas ke kalangan orang banyak. Advaita yang khas jnanamarga dikatakan sebagai sesuatu yang esoterik, mistisisme, yang tidak bisa diketahui oleh semua orang tetapi hanya oleh orang-orang yang belajar pada sekolah tertentu, jadi terbatas pada golongan intelektual tinggi dalam lingkup agama. Hal ini dituduh sebagai cara orang-orang intelektual Hindu untuk menguasai atau mendominasi wacana. Padahal teologi kontekstual seharusnya yang komunikatif.
Dalam menanggapi kritik bahwa advaita bersifat elitis, Samartha menjelaskan bahwa advaita bukan sekedar filosofi seperti dalam pengertian Barat, tetapi adalah suatu darshana, visi atau pemahaman mengenai realitas, yang tidak hanya ada dalam tingkat konseptual tetapi juga suatu sampradaya, suatu cara pandang hidup dan pedoman perilaku yang sampai sekarang dijadikan arahan bagi jutaan pengikutnya di India, memungkinkan mereka tetap bersatu dalam perbedaan bahasa, ras, etnis, agama dan politik.
(2) Ada juga yang mengkritik bahwa pendekatan Samartha terlalu menekankan mistisme dan kurang memperhatikan kepedulian sosial.
Atas kritikan ini, Samartha menjawab bahwa kritikan advaita kurang memperhatikan kepedulian sosial dan etis mencerminkan ketidakmengertian Barat terhadap hidup dan praktek Hindu. Advaita perlu dipahami melalui pemahaman orang Hindu sendiri. Samartha menambahkan bahwa neo-advaitik modern, bersama-sama dengan umat beragama lainnya, juga memberikan penekanan lebih besar kepada masalah-masalah sosial seperti ketidakadilan sosial dan ekonomi, namun tetap perlu diingat bahwa dasar pemersatu mereka dalam usaha ini berakar pada advaita, rasa “ketidak-duaan”.
Dari kacamata tokoh-tokoh teolog kontekstual Indonesia, Emanuel Gerrit Singgih, membenarkan pemikiran Samartha memang lebih dekat pada pokok inkulturasi daripada pokok pembebasan. Sedangkan Andreas Yewangoe, berpendapat bahwa pendekatan Samartha – yang didasari konsep advaita yang menyatukan baik jasmani maupun rohani – merupakan wujud pembebasan diri yang sifatnya lebih memuaskan dalam menangani masalah kemiskinan dan ketidakadilan daripada konsep-konsep pembebasan sekuler yang sering berat sebelah.
Menurut saya, unsur mistisisme maupun esoterik adalah bagian Misteri Allah yang selama ini kurang mendapat perhatian dari Barat karena dianggap berkaitan dengan kekafiran, dan dengan demikian juga berimbas ke teologi Timur yang masih banyak mengacu kepada Barat, adalah penting dalam pengenalan akan Misteri Allah yang adalah Roh. Juga karena warisan tradisi agama-agama besar Hindu, Buddha, agama-agama asli dan suku menyebabkan orang-orang Kristen Asia, termasuk Indonesia, memiliki kepekaan yang lebih tinggi mengenai hal ini, dan memerlukan usaha penggalian lebih lanjut dalam rangka pengenalan Allah secara holistik dari berbagai dimensi, dalam rangka berteologi secara kontekstual di Asia.
Saya setuju dengan pendapat Andreas Yewangoe, sebab transformasi batiniah yang diperoleh dari pendekatan ini pada akhirnya juga akan mempengaruhi cara pandang dunia seseorang mengenai etika dan sosial dan tindakan untuk mewujudkannya.
(3) Teolog-teolog Dallit mengemukakan bahwa usaha kontekstualisasi teologi Samartha dalam rangka berdialog dengan Hindu melalui konsep Advaita Vedanta dianggap secara tidak langsung mendukung kelompok Hindu fundamentalis yang ingin menjadikan India sebagai negara Hindu dengan memberlakukan prinsip-prinsip Veda. Usaha ini dilakukan melalui pengalihan ke tulisan dari tradisi oral dan kanonisasi berbagai teks sakral Hindu dengan berpedoman pada Veda sebagai norma satu-satunya.
Samartha menjelaskan bahwa upaya orang Hindu untuk mempelajari teks-teks sakral mereka secara tulisan, selain melalui tradisi oral, dan kanonisasi Alkitab adalah meniru apa telah dilakukan lebih dahulu oleh orang Kristen.
Menurut saya, hal ini merupakan proses yang tak terelakkan dalam perjalanan umat Hindu untuk lebih menghayati imannya, disamping dampak globalisasi yang mengarahkan kepada partikularitas.
IV. Penutup
Saya sangat menghargai usaha Samartha mengembangkan kristologi dengan kerangka kerja konseptual yang bersifat lebih inklusif dalam menanggapi realitas kemajemukan agama di dunia pada saat ini. Juga usahanya berhermeneutika dengan menggunakan warisan khasanah falsafah religius agama-agama besar di Asia.
Dalam keseharian di Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, saya masih sering mendengar komentar yang meremehkan pemahaman religius dari agama lain, yang langsung diberi stigma kekafiran tanpa usaha mempelajari dan memahaminya terlebih dahulu, baik oleh orang Kristen Indonesia maupun asing, malah kebanyakan dari kalangan yang berstatus “penginjil”. Sikap meremehkan ini juga sering saya jumpai dalam pembahasan terbuka di tempat umum, seperti restoran, yang tidak sungkan-sungkan meremehkan falsafah agama lain tanpa mempertimbangkan bahwa karyawan yang melayaninya dan mendengarkan pembicaraannya mungkin beragama Hindu. Hal ini hanyalah cerminan pandangan umum kekristenan yang eksklusif dan tertutup terhadap kebenaran dalam agama lain. Oleh karena itu saya berharap teologi yang teosentris dan kristosentris dapat lebih dikonkretkan dalam penghayatan kehidupan beriman Kristiani, khususnya dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat yang majemuk agama.
TEOLOGI