<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/wordpress-mu-1.2.1" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: HIDUP BERSAMA</title>
	<link>http://forumteologi.com/blog/2007/05/08/hidup-bersama/</link>
	<description>Karya tulis Anda menghidupkan kami</description>
	<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 16:50:30 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=wordpress-mu-1.2.1</generator>

	<item>
		<title>By: Fajar</title>
		<link>http://forumteologi.com/blog/2007/05/08/hidup-bersama/#comment-30</link>
		<author>Fajar</author>
		<pubDate>Mon, 21 May 2007 11:17:19 +0000</pubDate>
		<guid>http://forumteologi.com/blog/2007/05/08/hidup-bersama/#comment-30</guid>
		<description>Pembicaraan mengenai pluralisme biasanya selalu bermula dari keeksklusivan teologi Kristen tentang " HANYA ADA SATU JALAN KESELAMATAN". Sejauh yang saya ketahui Alkitab bicara 2 jalan ke sorga, yaitu Taurat dan Anugerah. 


1. Taurat dengan jelas membawa manusia ke surga dengan syarat melakukan tanpa meleset SEMUA tuntutan hukum taurat. Jadi bisa memenuhi hukum taurat diPASTIKAN masuk surga. Permasalahannya adalah sejarah membuktikan TIDAK ADA yang dapat memenuhi tuntutan hukum taurat dalam STANDAR ALLAH. Dalam perspektif inilah dikatakan taurat  tidak membawa manusia ke dalam surga.

2. Namun Alkitab tidak menutup atau membatalkan jalan ini ( termasuk Yesus). Paulus kemudian mengingatkan bahwa taurat bisanya hanya bikin kita tahu apa itu dosa tanpa kasih tahu jalan keluarnya. Tetapi tetap JALAN TAURAT TETAP TERBUKA BAGI YANG MAU MEMILIH JALAN INI.

3. Yang menarik adalah Kitab Roma bicara tentang HUKUM TAURAT YANG DITULIS
LANGSUNG DI HATI MANUSIA. Hukum yang berbicara mengenai UPAYA DAN USAHA ke surga. Bagi saya - bagi  saya - produk sejenis yang  datang dari hati manusia untuk sampai ke surga adalah karya Allah. Seterbukanya jalan taurat ke surga TERBUKA JUGA JALAN UPAYA INI ke surga. Namun tetap diingat bahwa TIDAK ADA yang dapat memenuhi tuntutan hukum upaya dan usaha ini dalam standar Allah. Dalam perspektif inilah dikatakan USAHA DAN KEBAIKAN tidak membawa manusia ke dalam surga.

4. Anugerah. merupakan jalan alternatif yang ditawarkan Yesus atas kegagalan kita. Sampainya manusia ke surga sebagai konsekwensi dari suatu pilihan bukan konsekwensi dari usaha. 

Kesimpulan : banyak juga lah jalan ke surga tetapi YANG PASTI MANUSIA BISA SAMPAI - HANYA ANUGERAH.

Permasalahan yang terjadi di kalangan Kristen adalah - sepertinya - terjadi kompromi teologis karena "ketakutan" tuduhan arogan, eksklusif dan “sok suci sendiri dari agama lain”, bukan karena ada kajian teologi yang berkata lain dari teoligi Eksklusif. Muncullah statement :

"Kami tak dapat menyebut nama lain sebagai Juruselamat, kecuali nama Yesus Kristus; namun pada saat yang sama kami tak dapat membuat dinding-dinding yang membatasi cara Allah berkarya dalam hal keselamatan" .

atau 

"kami tidak dapat menunjuk jalan keselamatan lain selain Yesus Kristus; pada saat bersamaan kami tidak dapat  menetapkan batas-batas bagi kuasa penyelamatan Allah. Kami menghargai ketegangan ini dan tidak berusaha memecahkannya. "  Saya pikir pernyataan di atas tidak ada salahnya, tinggal apa latar belakang pemikiran yang menjiwai statemment tersebut dan atau samakah pemahaman pendeta GKI terhadap  statement di atas ? Dengan pemahaman yang saya uraikan di atas Kekristenan sangat menerima pluralisme kepercayaan dan agama yang memiliki keberbagaian  jalan menuju surga. Kekristenan sangat menghormati dan menerima keberadaan USAHA/JALAN itu karena kita pernah mencobanya, hidup dalam konsepnya, konsep taurat.

Kita MENGHORMATI mereka yang berupaya dengan "8 jalan kebenaran", "rukun iman dan rukun islam", dan berbagai jalan yang lain sekalipun kita tahu pasti gagal. Kita pernah menjadi bagian dari mereka, perbedaanya adalah kita sekarang tahu dan menjalani jalan yang lain yang sangat pasti yaitu anugerah. Kita MENGHORMATI semua upaya dan usaha ini sekalipun tidak bisa membenarkannya.

Pertanyaan :

1. Kekristenan kah yang tidak bisa menerima teologi mereka ( upaya dan usaha ) atau mereka yang tidak bisa menerima teologi kita ( “upaya dan usaha” dan anugerah )? Kekristenan sejak awal telah siap dengan pluralisme Paulus telah membuktikannya.

2. Perlukah kita menelikung ( sekalipun dalam semangat bijaksana) teologi kita agar kita diterima hidup dalam harmoni atau kita yang sebenarnya tidak memahami dengan benar teologi kekristenan sehingga kita yang menjadi resah dengan "keeksklusivan" kita.? Kadang-kadang kita secara tidak sadar lebih kuasa dari Kristus karena berani membatalkan hukum taurat yang juga jalan keselamatan itu. Sementara dini hari Yesus memang telah mengingatkan kita bahwa salib bagi mereka adalah kebodohan.

3. Pernahkah kita lebih terbuka dan lebih aktif menerangkan keberadaan jalan alternatif yang pasti jika akhirnya semua jalan-jalan yang terbuka itu gagal? Waktunya kita merenungkan kembali sebanyak apa aku berPI akhir-akhir ini.

4. Apakah dialog harus dibangun di atas “kesamaan” agar bisa diterima atau kita berupaya berdialog di atas perbedaan agar dapat saling menerima.


Kiranya memberi pencerahan. 
Pencerahan datang dari Roh Kudus</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pembicaraan mengenai pluralisme biasanya selalu bermula dari keeksklusivan teologi Kristen tentang &#8221; HANYA ADA SATU JALAN KESELAMATAN&#8221;. Sejauh yang saya ketahui Alkitab bicara 2 jalan ke sorga, yaitu Taurat dan Anugerah. </p>
<p>1. Taurat dengan jelas membawa manusia ke surga dengan syarat melakukan tanpa meleset SEMUA tuntutan hukum taurat. Jadi bisa memenuhi hukum taurat diPASTIKAN masuk surga. Permasalahannya adalah sejarah membuktikan TIDAK ADA yang dapat memenuhi tuntutan hukum taurat dalam STANDAR ALLAH. Dalam perspektif inilah dikatakan taurat  tidak membawa manusia ke dalam surga.</p>
<p>2. Namun Alkitab tidak menutup atau membatalkan jalan ini ( termasuk Yesus). Paulus kemudian mengingatkan bahwa taurat bisanya hanya bikin kita tahu apa itu dosa tanpa kasih tahu jalan keluarnya. Tetapi tetap JALAN TAURAT TETAP TERBUKA BAGI YANG MAU MEMILIH JALAN INI.</p>
<p>3. Yang menarik adalah Kitab Roma bicara tentang HUKUM TAURAT YANG DITULIS<br />
LANGSUNG DI HATI MANUSIA. Hukum yang berbicara mengenai UPAYA DAN USAHA ke surga. Bagi saya - bagi  saya - produk sejenis yang  datang dari hati manusia untuk sampai ke surga adalah karya Allah. Seterbukanya jalan taurat ke surga TERBUKA JUGA JALAN UPAYA INI ke surga. Namun tetap diingat bahwa TIDAK ADA yang dapat memenuhi tuntutan hukum upaya dan usaha ini dalam standar Allah. Dalam perspektif inilah dikatakan USAHA DAN KEBAIKAN tidak membawa manusia ke dalam surga.</p>
<p>4. Anugerah. merupakan jalan alternatif yang ditawarkan Yesus atas kegagalan kita. Sampainya manusia ke surga sebagai konsekwensi dari suatu pilihan bukan konsekwensi dari usaha. </p>
<p>Kesimpulan : banyak juga lah jalan ke surga tetapi YANG PASTI MANUSIA BISA SAMPAI - HANYA ANUGERAH.</p>
<p>Permasalahan yang terjadi di kalangan Kristen adalah - sepertinya - terjadi kompromi teologis karena &#8220;ketakutan&#8221; tuduhan arogan, eksklusif dan “sok suci sendiri dari agama lain”, bukan karena ada kajian teologi yang berkata lain dari teoligi Eksklusif. Muncullah statement :</p>
<p>&#8220;Kami tak dapat menyebut nama lain sebagai Juruselamat, kecuali nama Yesus Kristus; namun pada saat yang sama kami tak dapat membuat dinding-dinding yang membatasi cara Allah berkarya dalam hal keselamatan&#8221; .</p>
<p>atau </p>
<p>&#8220;kami tidak dapat menunjuk jalan keselamatan lain selain Yesus Kristus; pada saat bersamaan kami tidak dapat  menetapkan batas-batas bagi kuasa penyelamatan Allah. Kami menghargai ketegangan ini dan tidak berusaha memecahkannya. &#8221;  Saya pikir pernyataan di atas tidak ada salahnya, tinggal apa latar belakang pemikiran yang menjiwai statemment tersebut dan atau samakah pemahaman pendeta GKI terhadap  statement di atas ? Dengan pemahaman yang saya uraikan di atas Kekristenan sangat menerima pluralisme kepercayaan dan agama yang memiliki keberbagaian  jalan menuju surga. Kekristenan sangat menghormati dan menerima keberadaan USAHA/JALAN itu karena kita pernah mencobanya, hidup dalam konsepnya, konsep taurat.</p>
<p>Kita MENGHORMATI mereka yang berupaya dengan &#8220;8 jalan kebenaran&#8221;, &#8220;rukun iman dan rukun islam&#8221;, dan berbagai jalan yang lain sekalipun kita tahu pasti gagal. Kita pernah menjadi bagian dari mereka, perbedaanya adalah kita sekarang tahu dan menjalani jalan yang lain yang sangat pasti yaitu anugerah. Kita MENGHORMATI semua upaya dan usaha ini sekalipun tidak bisa membenarkannya.</p>
<p>Pertanyaan :</p>
<p>1. Kekristenan kah yang tidak bisa menerima teologi mereka ( upaya dan usaha ) atau mereka yang tidak bisa menerima teologi kita ( “upaya dan usaha” dan anugerah )? Kekristenan sejak awal telah siap dengan pluralisme Paulus telah membuktikannya.</p>
<p>2. Perlukah kita menelikung ( sekalipun dalam semangat bijaksana) teologi kita agar kita diterima hidup dalam harmoni atau kita yang sebenarnya tidak memahami dengan benar teologi kekristenan sehingga kita yang menjadi resah dengan &#8220;keeksklusivan&#8221; kita.? Kadang-kadang kita secara tidak sadar lebih kuasa dari Kristus karena berani membatalkan hukum taurat yang juga jalan keselamatan itu. Sementara dini hari Yesus memang telah mengingatkan kita bahwa salib bagi mereka adalah kebodohan.</p>
<p>3. Pernahkah kita lebih terbuka dan lebih aktif menerangkan keberadaan jalan alternatif yang pasti jika akhirnya semua jalan-jalan yang terbuka itu gagal? Waktunya kita merenungkan kembali sebanyak apa aku berPI akhir-akhir ini.</p>
<p>4. Apakah dialog harus dibangun di atas “kesamaan” agar bisa diterima atau kita berupaya berdialog di atas perbedaan agar dapat saling menerima.</p>
<p>Kiranya memberi pencerahan.<br />
Pencerahan datang dari Roh Kudus</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
