FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

May 9, 2007

Pendeta Perempuan

Filed under: Etika — admin @ 5:09 am

Karya: Ance M. D. Sitohang, kategori: pilihan dosen
Suatu Upaya memaknai Diri dan Panggilan menjadi Seorang Pendeta
dalam Konteks Pelayanan Gereja HKBP

Pendahuluan
Tidak ada satu katapun yang menyebutkan jabatan pendeta yang dapat kita temui di dalam Alkitab. Pendeta tidak muncul begitu saja, tentunya ada dasar atau alasannya Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata pendeta diberi arti orang pandai-pandai, pertapa (dalam cerita lama), pemuka atau pemimpin agama atau jemaah. Dengan pemberian arti seperti itu tidak diperoleh penjelasan yang alkitabiah. Oleh sebab itu penting untuk mencari rujukannya dalam alkitab sehingga keberadaan jabatan pendeta memiliki dasar gerejawi. Yang paling umum dipergunakan untuk menjelaskan jabatan pendeta adalah kata Yunani “poimen” (gembala) dapam Efesus 4:1, dan dalam kata Ibrani ‘ra’ah’ (gembala). Sekalipun kedua kata tersebut bisa menunjuk kepada banyak pengertian yaitu gembala dalam pengertian harafiah, gembala dalam pengertian yang menunjuk Allah/Yesus selaku Gembala Agung, tetapi juga menunjuk orang yang dipilih, dipanggil dan dilantik ke dalam jabatan di lingkungan umat-Nya.
Dari pengertian harafiah, seorang gembala mengemban tugas antara lain membawa domba-domba tuannya mencari rumput yang hijau dan air yang tenang, melindungi para domba asuhannya dari serangan binatang buas, dari cuaca yang buruk, membawa kembali ke dalam kandang, manjaganya dari kawanan pencuri dan sebagainya. Dengan demikian seorang gembala harus kuat, berdedikasi tinggi, mengasihi domba-domba peliharaannya, rela berkorban, tekun, berani, dan jauh dari mementingkan dirinya sediri. Ciri-ciri yang sama diterapkan juga terhadap gembala dalam arti seseorang yang dipanggil, dipilih dan diangkat sebagai gembala bagi domba-domba umat Allah .
Seseorang yang dipanggil, dipilih Allah (baca: pendeta) untuk menggembalakan domba-dombaNya tentunya harus mempunyai visi dan misi yang jelas atau tujuan yang jelas. Tanpa visi yang jelas maka seorang pendeta akan mengerjakan tugas-tugasnya tanpa arah dan segala sesuatunya menjadi sia-sia. Sukoco mendefinisikan visi pendeta sebagai pandangan yang diyakini sebagai karya Allah tentang situasi umat Allah (gereja) yang dilayani; bahwa umat Allah adalah umat pilihan yang bersedia menjawab dan menanggapi karya penyelamatan Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus dan yang bersedia dipakai oleh Allah atau menjadi alatNya dalam mewartakan karya penyelamatan Allah bagi segenap umat manusia. Sedangkan misi pendeta didefenisikannya sebagai tugas dari Tuhan Allah sendiri. Dengan demikian secara hakiki misi yang dilakukannya adalah misi Allah.
Berangkat dari pemahaman di atas, mulai dari defenisi pendeta secara teologis, tugas-tugas dan tanggung jawab sampai kepada visi dan misi seorang pendeta, jabatan kependetaan tidaklah dibatasi oleh gender, karena tugas itu dapat dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Tugas itu diberikan oleh Tuhan kepada setiap umat manusia. Pria dan wanita mempunyai derajat dan hak yang sama dan keduanya berkemungkinan yang sama untuk dapat terpilih menjadi seorang pendeta. Baik pria maupun wanita sama-sama dapat dipilih oleh Tuhan untuk menjadi pendeta.
Masa sekarang, aktualisasi dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh Tuhan untuk melayani memang ada, namun tetap mengalami pembiasan. Hal ini terjadi pada diri seorang pendeta perempuan. Oleh sebab itu, melalui paper kecil ini penulis ingin mengkaji tentang pendeta perempuan dan seputar permasalahan yang dihadapi dalam pelayan dengan menggunakan analisa beberapa aspek yang diduga turut memperngaruhi kemaksimalan pelayanan pendeta perempuan. Paper ini juga mengkaji bagaimanakah sesungguhnya seorang pendeta perempuan dapat berperan dalam dunia pelayanan di tengah-tengah masyarakat sekarang yang sarat dengan stereotipe-stereotipe yang membatasi ruang gerak wanita dimana wanita dipandang lebih lemah dari laki-laki, emosional, tidak logis, kurang tegas, dan lain sebagainya.

Pendeta Perempuan dan Permasalahannya dalam Konteks Pelayanan
Walaupun kenyataan menunjukkan bahwa peran perempuan semakin besar dalam berbagai sektor namun diskriminasi dalam berbagai bentuk masih dirasakan oleh perempuan. Kesempatan promosi perempuan tidak setara dengan laki-laki, perempuan kurang cocok dianggap sebagai pemimpin. Permasalahan ini juga ditemui dalam pelayanan gereja HKBP. Meskipun secara formal gereja HKBP sudah menerima pendeta perempuan, tata gereja HKBP juga memberi peluang bagi kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam pelayanan, namun kesetaraan gender masih sulit dipraktikkan. Banyak pendeta-pendeta perempuan yang tidak memperoleh kesempatan yang sama dengan saudara-saudaranya yang pria dalam melaksanakan tugas sebagimana mestinya. Kebersamaan dalam melakukan fungsi gereja serta mengambil keputusan masih merupakan hak istimewa laki-laki, terutama pada aras yang lebih tinggi.
Dalam pelayanan HKBP, pendeta perempuan yang terdaftar sampai saat ini berjumlah 184 orang, pendeta laki-laki berjumlah 1006 orang, total keseluruhan 1190 orang . Perbandingan jumlah pendeta perempuan dengan pendeta laki-laki adalah 1:5. Di tingkat sinode, dari 46 kursi, mulai dari Ephorus sampai kepada staf kantor pusat yang memegang jabatan sebagai kepala biro, semuanya laki-laki. Data ini menunjukkan bahwa peran perempuan masih sangat terbatas dalam pelayanan HKBP secara holistik.
Bentuk-bentuk diskriminasi lain yang dialami oleh pendeta perempuan :
penempatan pendeta perempuan sering di over-over oleh sinode. SK pendeta perempuan sudah turun ke jemaat, namun jemaat menolak pendeta dengan membuat pernyataan ke sinode bahwa mereka tidak membutuhkan pendeta perempuan, jemaat membutuhkan pendeta laki-laki, dengan alasan jarak pagaran dari gereja induk (resort) adalah sangat jauh untuk ditempuh oleh seorang perempuan. Pelayanan pada malam hari selalu ada di gereja mereka, yang menurut mereka kurang tepat dilakukan oleh perempuan. Oleh sebab itu pendeta perempuan tidak cocok ditempatkan di gereja mereka. Pernyataan ini juga didukung oleh pendeta ressort, dengan alasan akan lebih mudah bekerjasama dengan pendeta laki-laki. Pihak sinode tidak konsisten dengan SK yang mereka keluarkan, mereka menarik kembali SK yang telah dikeluarkan. Akhirnya pendeta yang ditempatkan oleh sinode HKBP ke jemaat adalah pendeta laki-laki. Pemikiran jemaat masih terpola untuk berpikir melalui paham-paham dan pemikiran laki-laki. Pemahaman yang menyatakan bahwa perempuan terkondisi untuk selalu mengalah, memendam kepentingan sendiri, kurang percaya diri, pribadi yang lemah, lebih mengandalkan perasaan daripada logika. Pemikiran-pemikiran yang seperti itulah yang membelenggu jemaat. Masih banyak jemaat yang beranggapan bahwa perempuan tidak akan pernah memberikan totalitas hidupnya untuk melayani (tidak bisa maksimal dalam pelayanan), berbeda dengan pendeta laki-laki. Perempuan kalau sudah menikah, hidupnya akan terbagi, untuk anak, suami, keluarga dan jemaat. Akan sulit memilih teman hidup kalau mau menjadi pendeta, karena posisi isteri akan mengalah terhadap suami. Menjadi pertanyaan bagi penulis, apakah pendeta laki-laki di dalam melayani tidak memikirkan anak, isteri, dan keluarga ? Apakah isteri harus mengalah terhadap laki-laki merupakan hukum taurat yang tidak bisa dilanggar? Bukankah masalah ini bisa dikomunikasikan dengan suami atau calon suami?

Analisa Terhadap Persoalan yang Dihadapi
Ada banyak tantangan yang dialami oleh pendeta perempuan dalam pelayanan dan kepemimpinanya di tengah-tengah jemaat. Penulis mencoba menganalisa beberapa aspek yang saling berkaitan, yang dipertimbangkan turut andil dalam menciptakan masalah yang dihadapi oleh pendeta perempuan dalam pelayanannya.

1. Analisa Budaya
Sistem kemasyarakatan dalam budaya Batak adalah bersifat patriarkhal, dimana laki-laki selalu didahulukan. Nilai-nilai yang menempatkan laki-laki lebih utama dari perempuan, mengakibatkan perempuan dikesampingkan dan kurang dihargai martabat kemanusiaannya . Secara khusus dalam budaya Batak, perempuan dianggap kurang layak untuk memberikan suara (keputusan), baik mewakili keluarga, kelompok atau organisasi tertantu. Kepemimpinan dan penyampaian berkat dalam budaya Batak hanya dapat dilakukan oleh laki-laki.
Dalam pelayan HKBP, budaya patriarkhal sangat menonjol. HKBP adalah gereja rakyat, dimana di dalamnya berbaur identitas budaya Batak dan identitas Kristen. Di dalam gereja HKBP terjadi pengambil-alihan nilai dan pola-pola budaya Batak ke dalam gereja, sehingga menjadikan gereja HKBP menjadi gereja persekutuan rohani sekaligus persekutuan budaya. Oleh sebab itu, budaya patriarkhal yang ditemukan dalam budaya Batak turut berperan dalam menciptakan masalah bias gender di tengah-tengah jemaat. Gereja yang merupakan tubuh Kristus sesungguhnya harus mampu bersifat kritis dan transformatif terhadap budaya patriarkhal.
Setiap manusia tidak terlepas dari nilai-nilai budaya atau pemahaman yang ada dalam masyarakatnya. Namun, budaya tidaklah sesuatu hal yang statis, karena ia adalah bagian dari hidup. Kebudayaan akan senantiasa bergerak, ia adalah suatu peristiwa komunitatif dari sebuah masyarakat. Oleh sebab itu diperlukan sikap yang kritis dan transformatif dari masyrakat termasuk gereja terhadap budaya, khususnya dalam budaya patriarkhal. Sehingga nilai-nilai budaya yang berkembang di dalam pelayanan gereja adalah nilai-nilai budaya yang bersifat membangun dan meningkatkan sebuah pelayanan.

2. Sistem Gereja
HKBP mempunyai struktur yang sangat hierarkis dan berada dalam konteks budaya patriarkhal. Struktur dibentuk berdasarkan budaya yang ada dalam masyarakat. Tentunya ada banyak perubahan yang terjadi dalam struktur dan tata gereja HKBP mulai dari HKBP berdiri sampai sekarang. Pada awalnya HKBP tidak mengijinkan perempuan untuk menjadi seorang pendeta, kemudian mengalami perkembangan setelah diperjuangkan oleh kaum perempuan juga, sampai akhirnya tata gereja HKBP memberi peluang bagi kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam pelayanan. Namun, dalam hal pelaksanaannya, decision maker di HKBP adalah didominasi oleh laki-laki. Tampak dari jumlah pendeta yang duduk di aras sinode.
Struktur dan tata gereja sudah mengalami perubahan, namun budaya Batak yang mempengaruhi pembentukan struktur tidaklah berubah. Tidak semua jemaat mengetahui dan mengerti tentang struktur dan tata gereja HKBP, jemaat lebih memahami dan menghidupi nilai-nilai budaya yang ada dalam masyarakat, akhirnya sikap jemaat terhadap perempuan juga masih dipengaruhi oleh pemikiran pemikiran yang patriarkhal. Sistem ini juga terlihat pada sikap seorang pendeta laki-laki yang melayani dalam gereja yang sama. Meskipun cukup banyak pendeta laki-laki yang bersikap terbuka, namun tetap saja ada diantara mereka yang belum bisa menerima pendeta perempuan sebagai rekan kerja di dalam pelayanan gereja dengan sepenuh hati. Alasan mereka kurang bisa menerima pendeta perempuan adalah karena perempuan dianggap makhluk yang lemah, terlalu banyak menggunakan perasaan dalam mengambil suatu keputusan atau dalam menghadapi sebuah masalah.

3. Perbedaan Penafsiran
Perlakuan diskriminasi seakan-akan mendapat legitimasi dari Alkitab. Perbedaan pemahaman dalam menafsirkan sebuah teks dapat menimbulkan perlakuan diskriminasi terhadap pendeta perempuan. Seorang penafsir tidak akan pernah terlepas dari prasangka atau pemahaman yang mereka miliki. Dalam menafsir sebuah teks, kita mempunyai prasangka, dimana prasangka itu dikonstruksi dari tradisi-tradisi. Misalnya penafsiran tentang “Aku akan menjadikan penolong baginya……” (Kej 2: 18), Bagi orang atau masyarakat yang menjunjung tinggi budaya patriarkhal, mungkin akan muncul penafsiran bahwa ayat ini menggarisbawahi posisi wanita sebagai pelengkap atau sebagai penolong (pembantu) saja bagi pria, sehingga makna penolong yang sepadan dan kebersamaan kurang diberi penekanan. Contoh lain adalah penafsiran ayat-ayat yang dijadikan alasan untuk mengabaikan peran serta perempuan seperti yang nampak dalam penafsiran surat I Korintus 14:3 mengenai anjuran kepada perempuan untuk berdiam diri dalam ibadah. Ayat ini berbicara tentang tata tertib yang relevan pada waktu itu, bukan tata tertib yang universal dan sealma-lamanya.
Para pendeta juga akan memiliki perbedaan tafsir di dalam menyampaikan pesan kotbah kepada jemaat. Dalam mengangkat ayat-ayat yang berkenaan dengan gender, kadang-kadang pendeta tidak sadar bahwa mereka tidak jelas dalam menyampaikan pesan Firman yang sesungguhnya, akhirnya hal ini dapat mengkonstruksi pemahaman jemaat, mereka seakan-akan mendapat legitimasi dari Firman terhadap pendiskriminasian kaum wanita. Penafsiran pendeta semacam ini dapat disebabkan karena pemahaman mereka yang dipengaruhi oleh tradisi/budaya, dan dapat juga disebabkan karena pengetahuan teologi pendeta masing dangkal.

Menjadi Pendeta Profesional
Menjadi gembala sebagai teladan terhadap pribadi Yesus Kristus tidaklah dibatasi oleh gender. Tugas ini diserahkan Tuhan kepada setiap orang yang mau dipakaiNya menjadi alatNya. Oleh sebab itu, sekurang-kurangnya bagi penulis, perbedaan gender tidak menjadi suatu penentu dalam kemasimalan pelayanan. Kemaksimalan dalam sebuah pelayanan ditentukan oleh keprofesionalan seorang pelayan tersebut (dalam hal ini pendeta) dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Tentunya ketika mengerjakan keprofesionalannya seseorang tidak dapat terlepas dari sistem yang mempengaruhi kinerjanya, misalnya sistem budaya dan struktur, namun seorang profesional harus mampu untuk mengintegrasikan nlai-nilai hidup, keyakinan yang mendalam dalam dirinya dengan lingkungan sosial budaya. Menjadi seorang pendeta perempuan yang profesional di tengah-tengah struktur yang sangat hierarkis dan patriakhal sangatlah sulit, namun bukanlah sesuatu hal yang mustahil.
Seorang profesional selalu mempunyai komitmen tinggi terhadap pekerjaan yang dihadapinya, bukan sekedar karena pekerjaan itu sendiri melainkan karena ia berorientasi kepada misi, proses dan hasil. karakter profesional sangat besar dipengaruhi oleh integritas. Pendeta profesional adalah pendeta yang memiliki integritas. Menjadi seorang profesional/berintegritas berarti memiliki :
1. Kompetensi
Pendeta yang memiliki kompetensi adalah pendeta yang mampu untuk mengaplikasikan ilmu teologinya sehingga bermanfaat dalam pelayanan, tetap berakar pada alkitab serta memiliki keahlian/ketrampilan-ketrampilan yang memadai. Menurut Wiest dan Smith, salah satu karakteristik yang dimiliki oleh seorang profesional adalah memiliki pengetahuan yang khusus, pengetahuan yang meliputi : teori yang relevan, kemampuan dalam teknik-teknik/ketrmapilan praktis, contoh kompetensi yang dimiliki oleh seorang pendeta adalah dalam hal berkotbah, memimpin, memiliki keahlian dalam bidang pastoral, dan lain sebagainya.
2. Kemandirian
Memiliki kemandirian berarti mampu kritis terhadap sesuatu hal yang sudah baku dan cukup kreatif. Pendeta yang memiliki kemandirian adalah pendeta yang tidak mau tertindas oleh sistem dan aturan, berusaha menciptakan ide yang kreatif/ide-ide yang cemerlang sesuai dengan konteks. Pendeta yang bebas untuk berekspresi, tidak kaku dengan sistem atau aturan yang ada namun tetap berusaha untuk memperhatikan konteks masyarakat/jemaat yang sedang dilayani, sehingga melalui pelayanan yang dia lakukan kebutuhan jemaat dapat terpenuhi. Misalnya : mampu bersikap kritis terhadap setiap kebijakan dan aturan-peraturan yang dikeluarkan oleh sinode, sehingga pelayanan yang dikerjakan adalah pelayanan yang kontekstual.
3. Komitmen
Seorang pendeta sering sekali tenggelam dalam kesibukan, kecemasan dan masalah-masalah yang dihadapi sehari-hari oleh umat mereka atau umat yang bertetangga. Banyaknya tugas dan keanekaragaman kegiatan seorang pendeta, bermacam-macamnya orang yang dijumpai dan luasnya lingkup masalah yang dihadapi, membuat sebuah pertanyaan, bagaimana mereka dapat menghayati hidup secara terpadu dalam keadaan yang seperti itu dan bagaimana keutuhan diri pribadi mereka dapat dijaga di tengah-tengah berbagai rangsangan dari luar yang saling bertentangan? Kemungkinan banyak dari mereka telah memberikan diri mereka dalam kegiatan pastoral sehari-hari yang kadang-kadang begitu menuntut sehingga mereka merasa kosong, letih, lelah, dan sering kali kecewa. Kelelahan ini begitu terasa mendalam, sementara kemajuan jarang terlihat jelas dan hasilnya pun hanya kadang-kadang tampak. Seorang pendeta juga dituntut menjadi pembimbing yang baik yang mampu untuk menjawab setiap kebutuhan pribadi maupun kelompok, siap untuk mengambil bagian dalam perubahan sosial. Pertanyaan yang paling mendasar adalah apakah yang menggerakkan seorang pelayan/pendeta untuk melakukan ini semua? Bagaimanakah seorang pendeta mendapatkan kekuatan untuk menjaga keutuhan dalam kegiatan-kegiatan yang begitu beraneka ragam?
Bagi penulis, komitmen terhadap panggilan itulah menggerakkan seorang pendeta dalam melakukan tugas pelayanannya sehari-hari. Pendeta yang memiliki komitmen adalah pendeta yang memiliki nilai-nilai moral, karakter dan spiritualitas yang baik, yang dapat berkembang dan mengakar di tengah-tengah pelayanan. Spiritualitas merupakan praktik dan permenungan sistematis atas hidup Kristiani yang antara lain ditandai oleh doa, kebaktian dan disiplin rohani dalam kehidupan nyata yang menyangkut segala aspek kehidupan. Dengan demikian merupakan suatu sikap hidup orang beriman yang membuahkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kemurahan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Teladan nyata tentang spiritualitas yang baik adalah Tuhan Yesus. Tuhan Yesus senantiasa mengerjakan karya pelayanan dengan penuh kesungguhan meskipun tantangan pelayanan kian berat. Ia ditolak orang-orang-orang Nazaret, terus diincar kelemahanNya oleh orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Pekerjaan pelayanan yang Ia lakukan memiliki resiko yang tidak ringan, penuh tantangan dan sering mematahkan semangat. Namun, di tengah-tengah situasi seperti itu, Tuhan Yesus senantiasa menyempatkan diriNya untuk mempertahankan kualitas spiritualitasnya. (Mat 14:23; Markus 1: 35; Luk 5: 15-16).

Penutup
Menjadi seorang pendeta perempuan dalam budaya patriakhal dan struktur yang sangat hierarkis tidaklah sesuatu hal yang gampang, namun tidak juga sesuatu hal yang mustahil. Kalau seseorang itu meyakini dalam dirinya bahwa dia dipanggil/dipilih Tuhan menjadi seorang Pendeta, berarti dia memiliki visi dan tujuan yang jelas dalam mengerjakan sebuah pelayanan. Visi itulah yang menggerakkan dia untuk terus mau belajar menjadi seorang pendeta profesional melalui proses hidup yang dia alami, sehingga dia dapat lebih maksimal lagi dalam mengerjakan pelayanan.
Oleh sebab itu bukan perbedaan jenis kelamin yang menentukan keberhasilan pendeta, melainkan keprofesionalan dirinyalah yang menentukan keberhasilannya dalam pelayanan. Sekalipun bangunan budaya patriarkhal begitu megahnya dalam pelayanan HKBP, struktur yang sangat hierarkis dan kemungkinan ada bias dalam penafsiran nats-nats tertentu dalam Alkitab, pendeta perempuan harus tetap optimis dalam mengerjakan tugasnya karena pendeta itu berangkat dari keyakinannya bahwa Tuhanlah yang memilih dia untuk menjadi seorang pendeta, maka Tuhan juga yang akan memperlengkapi dia.
Penulis sangat bergumul untuk membuat paper ini, khususnya dalam merumuskan bagian penutup. Saat ini mungkin penulis menjadi seorang yang sangat idealis dan optimis dalam menggambarkan sosok pendeta perempuan, namun penulis tidak tahu bagaimana kelak penulis menjadi seorang pendeta. Apakah penulis mampu menjadi sosok pendeta perempuan seperti yang penulis deskripsikan dalam paper ini? Ataukah penulis menjadi penambah anggota dalam barisan pendeta-pendeta yang tergilas oleh sistem? Sejujurnya ketika melihat banyaknya tugas seorang pendeta, rumitnya kehidupan mereka, penulis tidak mampu untuk menjadi seorang pendeta. Dalam bangku perkuliahan saja terkadang penulis merasakan hidup terlalu sibuk, sibuk dengan diri sendiri, yang membuat penulis kurang peka dengan situasi di sekitar penulis, bagaimana mungkin menjadi seorang pendeta yang sibuk bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi untuk orang banyak? Penulis tidak tahu apakah penulis berhasil menjadi seorang pendeta yang profesional. Yang dapat penulis lakukan untuk saat ini hanyalah belajar taat dalam pimpinan Tuhan sehari demi sehari, memperlengkapi diri menjadi seorang hamba Tuhan melalui proses hidup yang penulis jalani.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang membukakan kembali sosok pendeta dengan segala kemungkinan yang akan dihadapi, memperlengkapi penulis untuk menjadi seorang pendeta.

2 Comments »

  1. Menjadi Pendeta Profesional
    1. Kompetensi
    2. Kemandirian
    3. Komitmen
    4. Integritas : Saying BEST doing BEST ( BEST means in God standard not in man )

    Tanggapan: Terimakasih, Kami akan mengirimkan masukkan Anda kepada penulis, akan lebih menarik lagi jika Anda menguraikan apa yang Anda maksud dengan keempat poin tersebut. ADMIN

    Comment by Fajar — May 16, 2007 @ 3:20 pm

  2. Terimakasih untuk tanggapannya. Dengan menuliskan keempat point, apakah saudara setuju dengan kriteria pendeta profesional yang ada dalam paper saya? Akan lebih menarik kalau saudara menjelaskan maksud dari keempat point tersebut. Terimakasih

    Comment by Ance — June 15, 2007 @ 5:30 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress