“ ADAKAH KESUNGGUHAN BISMILAHIRRAHMANIRRAHIM DALAM HATIKU?”
karya : Dioz Mahardhika, Kategori : pilihan dosen
Pendahuluan
“Allah Hu Akbar….. Allah Hu Akbar….. ayo kita harus berjihad ke Libanon yang diserang..!!!!…. Allah Hu Akbar….. Allah Hu Akbar!!, Ganyang saja semua yang mau menghancurkan Libanon, hancurkan Israel dan hancurkan Amerika…..”
Begitulah teriakan-teriakan yang sering kita dengar dan saksikan di televisi kita, banyak sekelompok orang yang menyatakan bahwa dia adalah pengikut setia dari satu komunitas beragama yang menjunjung tinggi nilai keadilan dan nilai kemanusiaan. Rela mengeluarkan banyak hal untuk tercapainya satu tujuan yang belum jelas juntrungannya menurut khalayak ramai, namun bertujuan mulia menurut mereka yang berpartisipasi di dalamnya.
Kekerasan yang terjadi di Poso, yang juga berbau dengan konflik antar umat beragama, yang juga tidak sedikit mereka yang membela agamanya mengatakan satu nama “ Jihad” demi kesetiaan mereka pada agama mereka dan kepada Tuhan yang mereka sembah dan percayai serta mereka imani. Pemenggalan kepala, penembakan, tindakan apatis terhadap aparat yang hendak mengamankan, dan sikap anarkis terhadap satu seruan perdamaian.
Dan komunitas FPI yang mengatas namakan Tuhan dalam setiap tindakan mereka yang terlihat nampak mau menghakimi siapa saja yang tidak sesuai dengan norma yang menurut mereka adalah norma yang berlandaskan nilai ketuhanan, yang dengan senang hati, siap berkonflik dan menjadikan diri mereka sebagai manusia yang tidak memiliki sikap toleransi kepada setiap manusia yang mempunyai pandangan yang berbeda dengan mereka, memerangi kezoliman di tengah-tengah kehidupan bangsa yang dinilai mulai rusak dan hancur, baik dalam segi moralitas maupun spiritual.
Tetapi pertanyaan yang patut dijawab, Apakah semua hal ini juga boleh disalahkan? Apakah semua hal ini adalah memang hal yang dibenarkan? Apakah hal ini juga merupakan satu kebodohan umat manusia yang cenderung suka pada kekerasan dan membenci satu kata yang bermaknakan cinta? Jihad sebagai bentuk kesetiaan dan bentuk pengabdian kepada Allah adalah benar adanya, namun apakah bentuk Jihad harus seperti teriakan tadi?, pemenggalan kepala tadi?, pembakaran gereja, pengeboman tempat-tempat yang mereka anggap sebagai tempat yang najis, haram, maksiat atau harus dilakukan dalam bentuk yang lain?
Makna akan Bhineka Tunggal Ika yang di pegang kokoh oleh seekor burung garuda yang menjadi lambang dasar Negara Indonesia yang juga mempunyai asas demokrasi, dan adanya 2 hal yang sudah mendarah daging yang ditanamkan sejak dahulu, bahwa adanya penghormatan antara umat beragama, intern beragama, yang diwujudkan dalam beberapa point dalam UUD 45, seakan-akan semuanya sudah mati dan sudah tidak berguna / tidak berharga lagi.
Pembukaan
Pembuktian kesetiaan seseorang Muslim kepada Tuhannya dirasakan tidaklah cukup hanya dengan melakukan satu tindakan yang berupa ritual saja, namun tindakan dan sikap hati yang lebih dari makna satu ritual saja harus dilakukan. Taqwa dan Berjuang adalah dua kata yang tepat untuk membuktikan bahwa seorang muslim benar-benar taat pada Tuhan. Taqwa adalah suatu sikap ketika mereka berbuat hal yang baik seturut dengan kehendak Tuhan dan berjuang dalam arti Jihad, adalah suatu kata yang di artikan sebagai bentuk tindakan para muslim untuk memerangi tindak kejahatan. Sebab dirasakan oleh umat muslim bahwa memang sudah sepantasnya bahwa orang yang mengaku bahwa dia adalah seorang muslim yang sejati, dia harus melakukan itu semua. Kesetiaan umat muslim yang terwujud dalam tindakan merekapun selalu dilandasi satu dasar yang cukup kuat sejalan dengan pola pikir dan penafsiran mereka terhadap Al-Qur’an. Setiap kata darinya haruslah dilakukan sebaik mungkin, karena Qur’an dianggap adalah nilai dari segala nilai yang paling benar.
Surat Al Baqarah ayat 177
Pokok – pokok Beribadah
Bukanlah menghadapkan wajahmu kea rah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir ( yang memerlukan pertolongan ) dan orang-orang yang meminta-minta ; dan (memerdekakan ) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zhakat ; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar ( imannya ) ; dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.
A. Prinsip dari Kesalehan
Dari yang tertulis dalam surat Al Baqarah ayat 177 di atas, adalah satu pokok pemikiran muslim tentang ibadat, ibadat yang bukan hanya suatu ritual saja, namun adalah bentuk ketaatan orang muslim yang memandang bahwa hidup ini adalah harus melayani Tuhan. Dan pada pemahaman umum, kehidupan muslim yang saleh dan taat kepada Tuhannya di sebut dengan Taqwa. Satu benang merah, mengapa dalam kehidupan muslim mau melakukan semuanya itu adalah isi dalam Qur’an yang memerintahkan supaya “Jadilah Soleh!!”
Catatan sejalan dengan pendidikan orang muslim, Fazlur Rahman (1919-88), memandang bahwa taqwa sebagai “ mungkin salah satu yang paling penting dalam Qur’an…” suatu pernyataan yang sama juga tentang kebenaran dari S. Tahir Mahmood, memberikan perhatiannya kepada 4 hal…… adalah : keadilan, kebaikan, saling menghormati, dan saling menyayangi. Dia mengatakan, 4 hal ini adalah yang dapat menuntun dalam segala aspek kehidupan manusia secara pribadi dan kehidupan masyarakat luas.
“Dalam segala aspek” pada esensinya merupakan salah satu pemikiran saja, pada kepercayaan muslim, yang menuntun hidupnya adalah ditandai dengan satu hal, yaitu “takut akan Tuhan”. Ini adalah diatas sebuah konsep, lebih luas dari satu pandangan yang spesifik, dan lebih dalam dari makna peraturan yang legal. Itu adalah sikap dari agama itu sendiri, mengekspresikan total dalam kehidupan. Jiwa Islam terbentuk pada rasa takut akan Tuhan, dan mengalir dalam kehidupan umat manusia. Hal ini tercermin dalam kehidupan umat manusia dalam moralitas dan etika, tetapi di sini, moralitas dan etika merupakan bagian yang sangat special. Kespesialannya adalah pengakuan akan Ketuhanan dari Tuhan, dan pengabdian, dan fungsi-fungsi hokum atas manusia. Ini adalah merupakan Taqwa dan sikap kerendahan hati.
Muslim modern (muhammad Abduh-1906), telah mengingatkan orang-orang islam bahwa Qur’an adalah mengajarkan sangat lebih tentang moralitas daripada hukum legal yang tertulis.
Surat Ali ‘Imran ayat 132 – 135
Perintah Ta’at kepada Allah dan Rasul serta sifat-sifat orang-orang yang bertaqwa
132 Dan ta’atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat
133 Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.
134 (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
135 Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu mohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah?. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
Definisi Qur’an berhasil dalam moral :
Surat Ali ‘Imran ayat 104
Keharusan Menjaga Persatuan
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada orang yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar , merekalah orang-orang yang beruntung.
Qur’an menuntut bahwa moralitas bukalah hanya hal yang ideal saja, namun adalah satu keharusan yang dinampakkan pada kesalehan :
Surat Al Israa’ ayat 23
Beberapa Tata Krama Pergaulan
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.
Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dlaam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia .
…………………….
Qur’an mengingatkan bahwa orang yang saleh harus menyertakan kerendahan hati
Surat Luqman ayat 17 – 22
Nasihat Luqman kepada anaknya
17 Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.
Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18 Dan janganlah memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19 Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
20 Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni’mat-Nya lahir dan batin.
Dan diantara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.
21 Dan apabila dikatakan kepada mereka: “ikutilah apa yang diturunkan Allah”
Mereka menjawab : “(tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”.
Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?
22 Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.
Dan akhirnya, Qur’an meyatakan bahwa kesalehan yang ditarik dari penyerahan diri pada Tuhan, adalah untuk mengingat Tuhan.
Surat Al Ahzab ayat 35
Sifat-sifat Orang Mu’min dan Kewajiban mereka terhadap Perintah Rasul.
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min , laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang benar.
Mohammed Fadhel Jamali mengilustrasikan bagaimana pemikiran muslim berusaha untuk menerjemahkan panggilan Qur’an untuk menjadi saleh. Berdasarkan dari penerimaan Qur’an dia (jamali) mensugestikan kebajikan moral dan tindakan, bahwa seorang muslim harus menghargai dan melakukannya, dan dalam beberapa aspek yang tidak bermoral seorang muslim harus menjauhi itu.
Yang bermoral adalah :
Saleh Bekerja
Baik kepada orang tua Berjuang
Berbuat yang baik Kerelaan
Sabar Martabat
Kedermawanan Persaudaraan
Penuh rasa percaya Kesatuan
Mengisi penuh dengan kewajiban Tidak berlebihan
Penghargaan akan kebenaran Rendah hati
Adil Kesukaan
Rahmat Kepedulian
Pengekangan hawa nafsu dan mengampuni Kepercayaan kepada Allah
Bekerjasama Membaca dan terus belajar
Kualitas muslim dan tindakan yang harus dilawan adalah :
Ajaran yang menyembah banyak Tuhan Kelicikan dalam ukuran
Ketidak adilan Menipu
Kemunafikan- kepura-puraan Kebohongan
Pembanggaan diri dan kesombongan Penghianatan
Korupsi Kecurigaan dan memata-matai
Pelanggaran hukum Menyerang dari belakang
Pembunuhan Gossip terhadap perempuan (jahat)
Berzinah Kecemburuan (iri hati)
Bersaksi dusta Kekikiran
Penggelapan Perselisihan, ketidaksetujuan, pemborosan
Dalam kedua hal ini Jamali menyoroti bahwa hal ini adalah perlu dilakukan dan dihindari orang muslim, pembentukan moral dan pendidikan moral perlu di support oleh orang tua, dan guru harus ambil bagian. Dosa pribadi dan kejelekan dalam lingkungan yang harus di perangi dalam perjuangan muslim sebagai bentuk kesalehan. Ini lah prinsip dari orang muslim.
B. Jihad
Jihad berarti perjuangan memerangi tindak kejahatan. Setiap muslim haruslah berjihad. Berjihad dalam muslim adalah satu kewajiban yang harus ada dalam hati setiap orang muslim, dalam lidahnya, tangannya, dan di dalam pedangnya. Perbedaan antara bentuk perjuangan secara spiritual dan secara bentuk fisiknya adalah yang biasa di perdebatkan diantara banyak orang. Yang spiritual adalah peperangan atau perjuangan melawan setan dan kehidupan kita yang tidak baik. Dan yang secara fisik adalah perang dengan manusia yang tidak benar.
Banyak orang muslim menyadari bahwa kata-kata jihad telah menjadi hal yang mengganjal untuk orang non muslim, yang selalu menghubungkan pada ekstrimisme dan suatu tindak kekejaman dan kekerasan. Tetapi muslim tidak melihat dari sisi itu. Bagi orang islam kata-kata Jihad adalah suatu hal yang berbau tentang nilai suatu agama dan yang sifatnya positif, yang mungkin hal ini dapat menjadikan kesalah mengertian antara muslim dan non muslim. Perbandingan ini dapat menjadikan pandangan-pandangan yang semrawut menjadi jelas, sehingga pandangan tentang agama yang berdasar pada kekerasan bisa kembali di revisi.
1. Jihad dan Kekerasan : Perbedaan dan Hubungan
Sebelum berbicara mengenai jihad secara detail kita akan melihat konteks kekerasan dalam muslim. Jihad dan kekerasan adalah dua buah bentuk hal yang berbeda, serupa namun mempunyai batasan sendiri-sendiri, terkadang saling meng-overlap. Serupa dalam hal ini dikarenakan dua diantaranya ada perbedaan identitas. Biasanya mujahit yang bijaksana tidak melakukan kekerasan. Hal ini terkait dengan perkembangan spiritualitas, dan keserupaan itu timbul dalam hubungannya dengan orang yang tidak memahami kata jihad yang sesungguhnya .
Dalam negara yang menerapkan hukum Islam dalam struktur pemerintahan dan hukumnya, terkadang dan kebanyakan yang terjadi adalah perbedaan pandangan dengan negara lain yang hidup berdampingan dengan Negara Islam, kekerasan adalah hal yang sangat disoroti dalam sistem pemerintahan (hukum) Negara tersebut. Pandangan mengenai Kekejaman yang diberikan kepada rakyatnya ketika rakyatnya melakukan kesalahan saat ini menuai pertanyaan, apakah kekerasan menjadi salah satu pilihan untuk semua? Atau hanya untuk komunitas muslim saja? Kapankah kekerasan menjadi satu kebutuhan? Banyak orang muslim yang tidak setuju dengan pertanyaan itu, namun mereka akhirnya membuat satu kesepakatan dalam mufakat yang terus berkembang.
Dasar dari teori muslim dari kekerasan adalah selalu berhubungan dengan nilai-nilai normative ( yang sudah ada dalam peratutran mereka baik dalam Qur’an maupun hadizt). Mereka akan menggunakan kekerasan dengan alasan tertentu, ketika kedamaian itu tidak ada. Orang muslim mempunyai pandangan dan dasar pemikiran penggunaan kekerasan, apabila mereka tidak diganggu, maka mereka bisa saling mengasihi sesama manusia dan bahkan bisa menjadi pembuat damai. Bagaimana hal itu bisa terjadi kebalikannya adalah ketika mereka diganggu.
Muslim mempunyai alasan ketika mereka menggunakan kekerasan dalam tindakannya terhadap orang lain, diantaranya adalah :
a. ketika salah seorang dari mereka diserang
b. ketika keluarga atau teman mereka diserang
c. ketika satu bangsa diserang
kemudian ada batasan ketika jihad harus dilaksanakan, yaitu ketika keadaan sedang :
d. ketika satu agama diserang
e. ketika penganiayaan harus dilawan
untuk pertahanan muslim itu sendiri, ……… jihad adalah benar ketika menggunakan kekerasan dalam perang.
f. tindakan kekerasan militer adalah dibenarkan untuk penyebaran islam
jadi tindakan kekerasan yang digunakan yang dikira merupakan jihad oleh banyak orang bukan merupakan salah sau pemikiran yang dimiliki oleh para mujahid yang bijaksana, atau mujahid yang lebih condong kepada perjuangan mempertahankan nilai moral dan etika yang tidak jelas dan terdapat penyelewengan dalam Islam dan mungkin dalam pelaksanaannya.
2. Jihad dan Qur’an serta Pemahamannya Secara Klasik.
Ketika ada banyak pertimbangan atau anggapan bahwa dalam muslim ada banyak jalan yang diartikan sebagai jihad, kita harus mau melihatnya dalam Qur’an, karena Qur’an adalah sumber dasar ajaran seorang Muslim memahami Jihad.
Hal yang bisa menyebabkan pemahaman yang berbeda saat ini tentang praktik tentang Jihad dan ajaran tentang Jihad dalam Qur’an adalah kesalahpahaman yang terjadi dalam diri umat islam itu sendiri. Yang paling penting adalah bagaimana kita memahami Qur’an bukan hanya hal yang sangat letter lux saja, namun kita harus melihat konteks budaya saat itu yang ada dan disaksikan dalam Qur’an. Zaman Muhhamad, perkelahian dan peperangan adalah sangat rentan terjadi.
Karena berdasarkan uraian-uraian terdahulu, dalam Islam tidak mengenal istilah Jihad dalam bentuk yang lain, kecuali dalam rangka membela dan mempertahankan dan mengembangkan agama Allah Swt. Atau dengan kata lain Jihad itu ditujukan untuk mengembangkan da’wah Islam secara keseluruhan. Oleh karena itu, untuk mengetahui tujuan-tujuan Jihad, kita tidak bias melepaskan diri dari tujuan disyari’atkannya Jihad itu sendiri, yaitu keleluasaan dan kebebasan dalam mengembangkan da’wah Islam.
Dari ayat-ayat Qur’an yang telah dikemukakan terdahulu kita dapat mengetahui bahwa tujuan Jihad itu dapat dikelompokkan menjadi 2 tujuan, sebagai berikut :
• menolak dan menghadapi musuh
yang dimaksudkan di sini adalah musuh kebenaran, yang selalu melakukan dan menyebarkan kerusakan di atas muka bumi. Disyari’katkannya Jihad adalah karena Islam tidak pernah mau kompromi dengan apa saja yang merendahkan kebenaran, apapun bentuknya. Watak dari agama ini adalah revolusioner, yang artinya tidak akan pernah berhenti dalam menata kehidupan manusia menuju kepada kehidupan yang sesuai dengan fitrah sucinya. Jihad juga untuk membendung dan memberantas unsure-unsur yang merusak sendi-sendi kebenaran. Sebab, jika tidak demikian, maka akan meluaslah kerusakan dan kezaliman di atas muka bumi.
Hal ini dapat dilihat padafirman Allah Swt, yang mengisyaratkan bahwa agama itu perlu kekuatan yang melindunginya dari segala macam ancaman, baik fisik maupun ideology. Isyarat tentang hal ini dapat di lihat dalam surah al-Hajj ayat 38 – 41. Dakam ayat ini dapat dikatakan sebagai ayat pertama di izinkannya kaum muslimin untuk melakukan Jihad, dalam arti penggunaan kekuatan, baik dalam bentuk fisik, maupun harta benda serta jiwa. Dan menurut Ibn. Katsir, jihad seperti ini diperlukan oleh semua umat, agar kebenaran dapat dipertahankan .
• pemeliharaan kebebasan mengembangkan da’wah
tujuan ini bukan dimaksudkan supaya orang memeluk Islam dan melahirkan kata Islamisasi, namun ditujukan untuk mengembangkan tujuan fi sabilillah dalam arti seluas-luasnya. Dalam hubungannya, setiap umat Islam punya tanggung jawab untuk mengembangkan da’wah ini kepada setiap manusia pada segala tempat dan waktu. Artinya setiap muslimj tidak boleh berpangku tangan dalam melakukan sosialisasi nilai-nilai kebenaran yang diajarkan Islam, bahkan ini merupakan satu kewajiban, sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing. Di samping itu juga ada ayat yang memerintahkan Nabi Muhammad Saw dan orang-orang mukmin berjihad dengan menyebarkan da’wah ini kepada segenap manusia. ( surat Al-Maidah ayat 67, Surah asy-Syura ayat 7 ). Dalam 2 ayat tersebut , dapat manjadikan argumentasi bahwa salah satu tujuan dari jihad adalah pemeliharaan kebebasan pengembangan da’wah. Menurut Muhammad Daruzah, tujuan dari Jihad dalam hal ini adalah sangat penting, sebab kalau hal ini tidak terjamin, maka musuh akan dengan mudah melakukan “aksi-aksinya”.
Kesimpulan yang didapatkan adalah :
• Jihad dalam Qur’an adalah pengerahan segenap kemampuan dalam menegakkan dan meninggikan agama Islam, baik ketika menghadapi musuh-musuh yang nampak nyata maupun yang tidak nyata.
• Jihad merupakan salah satu cara dalam mempertahankan, memelihara, dan mengembangkan nilai-nilai fi sabilillah dalam artian yang seluas-luasnya.
• Jihad merupakan bagian dari ajaran-ajaran dari Qur’an yang senantiasa harus dilaksanakan oleh umat Muslim, baik dengan hartanya, maupun dengan segenap totalitas pribadinya.
3. Pandangan orang Moderat Jaman Sekarang
Banyak orang Islam jaman sekarang melihat dan menekankan Jihad adalah sebagai pertahanan iman kepada Allah, yang harus digaris bawahi. Mereka menghargai pengadaan hukum Islam dan pengadaan hukum itu dalam pemerintahan Islam yang sangat dibutuhkan saat ini. Karena banyak orang Islam saat ini melihat dan merasakan bahwa dunia sudah mulai rusak dan kebenaran sudah mulai terkikis secara parah, dan mereka tidak punya satu pemimpin, sehingga mereka (komunitas orang-orang Moderat saat ini ) sering bergerak sendiri bersama-sama dalam satu nama Jihad Islam. Dan yang mereka lakukan adalah hal-hal yang berdasarkan hukum Islam yang mereka pahami. Dalam pandangan orang Moderat, Jihad adalah masih menjadi satu kebutuhan, tetapi harusnya sekarang diarahkan dalam dua hal, yaitu keadilan dan peng-express-ian iman mereka.
Dalam nada yang sama, Ghulam Parwez, seorang Pakistan modern, menjelaskan/menafsirkan bahwa Qur’an memperingatkan Islam tidak hanya melihat Jihad sebagai bentuk peperangan untuk menambah kekayaan dan dominasi, untuk kehendak Tuhan hanyalah kebenaran, takut akan Tuhan, dan menjaga kebenaran diatas muka bumi. Sekali lagi dalam Tulisan ini, bahwa nilai Jihad yang paling tinggi adalah membawa derajat manusia dan iman manusia kejenjang yang lebih tinggi.
Sufi, menggunakan konsep Jihad sebagai dasar iman untuk memerangi setan. Dan bagian dari pertahanan itu harus membunuh egoisitas dan harus menjadi seorang martir.
Dari sudut pandang ini, kita melihat bahwa pemahaman iman kepada Allah bukan lagi untuk dominasi, melainkan untuk kebenaran dan keadilan. Dan dalam latar belakan pandangan moderat ini, adalah menitik beratkan pada Islam adalah sebagai peace-maker. Muslim jangan diapresiasikan dalam stereotype sebagai kaum fanatic dan ekstrim saja. Sedikit dari Muslim adalah seperti itu, karena mereka mempunyai komitmen yang kuat dalam hal yang seringdisebut dengan istilah “fundamentalisme”, dan mereka sadar, bahwa ke-ekstrim-an dan ke-fanatik-an dalam komunitas mereka juga merupakan satu masalah. Namun pada dasarnya mereka juga mempercayai bahwa Islam Mainstream berdiri pada prinsip yang berbau dengan kedamaian. Karena banyak tokoh Islam yang saat ini menghargai dan bahkan ikut menyuarakan suara perdamaian, seperti Maulana Abdul Kalam Azad, bahkan dia juga melihat ajaran (dan mungkin saja) mengkombinasikannya dengan kepemimpinan Mahatma Gandhi yang dia lihat, dalam hal pluralitas agama yang akhirnya dapat menjadikan kedamaian antar umat beragama dalam bangsa ini.
4. Pendekatan Radikal Jaman Sekarang
mendengar kata radikal terkadang membuat kita sedikit bergidik dan merinding, sempat terlintas, bahwa radikal adalah satu tindakan dimana selalu menekankan hal yang berbau dengan fundamentalis.
Fundamentalis sering sekali dikonotasikan sebagai hal yang sangat negative, namun dewasa ini sikap fundamentalis justru tumbuh dengan subur. Bukan hanya dilingkungan agama saja, namun juga sudah merambah ke hal yang sekuler. Bukti dari hal ini adalah fundamentalis sering di nilai sebagai gejala khas monoteisme, yang saat ini juga sudah mulai masuk ke dalam Budha atau Hindu, Syikh dan lainnya, bahkan Kristen pun dapat memakai istilah ini dan menjadi Kristen fundamentalis, atau dalam hal lain, missal Fasis Fundamentalis, kapitalis fundamentalis, atau komunis fundamentalis.
Namun saat ini masih saja banyak orang yang mengejek dan mempunyai konotasi pejorative terhadap kata-kata fundamentalis. Seperti kata Radikal yang cenderung pada satu sikap ekstrim pada satu nilai hal tertentu (hal ini sering dikaitkan dengan nilai-nilai keagamaan), dan anehnya seseorang yang dikatakan sebagai orang fundamentalis dan radikal justru bangga, karena mereka dianggap orang yang memang beriman dan bertaqwa kepada Tuhannya.
Dalam Islam yang saat ini terkait dengan Jihad, terkadang juga memunculkan nilai negative tentang kata-kata fundamentalis dan radikal, bukan saja factor kesetiaan pada Tuhannya atau kesetiaan terhadap sendi-sendi keyakinan mereka saja yang menjadi “sasaran tembak”, namun konotasi negative itu juga ditujukan pada sikap tempramen social yang “tertuduh” yang cenderung eklusif dan intoleren, bahkan terkadang keras bersimbah darah. Mungkin hal inilah yang bias menjadi titik terang untuk menjelaskan apa yang disebut dengan “radikal bodoh” dan “the true radikal”, ketika ada seorang pendeta dari timur tengah yang satu ketika dia mendapatkan luka yang sangat serius, dan ketika dia dirawat di rumah sakit, dia mengatakan bahwa, semua ini bukan karena agama, ataupun orang yang taat kepada Tuhan, namun karena oknum Islam yang semena-mena menghakimi dan berdasarkan dalih kewajiban menghukum dia.
Nampaknya dari titik ini kita bisa melihat bahwa Fundamentalis dan Radikal yang mengandung unsur kebenaran dan menjunjung tinggi keadilan, yang juga dapat kita artikan sebagai Jihad yang harus dilakukan, sebenarnya bukan menjadi hal yang perlu ditakuti, karena aksi radikal dan fundamentalisme terjadi bukanlah pada kisaran ajaran yang universal yang bersifat prinsipial dan fundamental. Melainkan pada cara dan metoda yang bersifat particular dan instrumental. Oleh sebab itu, apa yang sering kita sebut dengan tindakan radikal dan fundamentalis yang cenderung negative, adalah salah satu gerakan instrumentalisme. Karena yang mereka tekankan adalah bukan nilai tapi metode yang bersifat instrumennya saja. Dan menurut pendekatan ini, haruslah menjelaskan bahwa cara dan metode adalah hal yang bersifat nisbi atau kondisional saja, dalam kata lain, pendekatan radikal dengan kekerasan yang bersimbah darah adalah pilihan yang batal .
5. Perdebatan Intern Muslim tentang Jihad
Dari hasil resume serta membaca buku wajib dan referensi lainnya, ada hal-hal yang menjadikan perdebatan dalam Islam sendiri tentang Jihad, dan semua itu cukup terlihat jelas dalam tulisan-tulisan di atas, yaitu dari pihak “ekstrim bodoh” yang sering dinilai memandang bahwa Islam adalah komunitas yang mempunyai kebenaran mutlak bahkan dalam iman mereka, serta pemahaman yang keliru tentang Jihad yang dilakukan, bahwa Jihad haruslah dengan kekerasan, sama ketika “Muhammad menggunakan pedangnya merebut kota Mekkah”. Dan komunitas yang kontra dengan hal itu sendiri, tentunya bukan tidak akan melakukan hal demikian, karena Jihad adalah wajib, dari tulisan-tulisan di atas telah jelas bahwa dalam Islam pun sebenarnya memiliki bentuk Jihad yang lainnya, yang juga tidak dalam bentuk kekerasan, yang ternyata itu semua didapat dari menafsirkan secara terbuka akan wahyu-wahyu Allah yang terdapat dalam Qur’an.
Dan akhirnya, mereka yang selalu berpegang pada keotentikan Qur’an akan menyebut dirinya, dan terkadang menjadikan orang lain memberikan persepsi sebagai komunitas fundamentalis, namun dalam hakikatnya fundamentalis sendiri, tentunya mempunyai pemaknaan yang bukan ala kadarnya, dan terkadang, hal yang ala kadarnya dapat di artikan sebagai fundamentalis yang batal.
Penutup
Jihad jika dalam makna yang sesungguhnya memang bukan menjadi praktisi dari umat Islam yang harus ditakuti namun bukan juga hal yang harus dimaklumi tanpa melihat kenyataan yang menjadi alasan, kenapa hal ini harus terjadi. Menjadi umat yang dengan itikad baik dari dalam hati, yang menyebabkan timbulnya istilah kesalehan dan suatu penilaian terhadap ketaqwaan seseorang terhadap Tuhannya tercermin dalam tindakan ketika orang itu berusaha melakukan segala perintahNya. Menjalankan perintah dari apa yang dipercayainya memang sangat tidak boleh terlalu cepat untuk dinilai dengan sebelah mata saja, namun hal itu menjadi tidak bijaksana apabila tidak ada penafsiran atau analisa dari sebuah tindakan yang patut dikritisi dengan Jihad. Memegang paham normative memang juga tidak salah, namun ketika ada seseorang melakukan kesalahan, apakah harus selalu dihancurkan atau dibalas dengan Jihad?
Saat ini, di Indonesia, pemaknaan Jihad sudah menjadi hal yang sangat keliru. Kenapa? Karena saat ini pergeseran moral bangsa yang kian lama membentuk orang menjadi apatis, anarkis dan “sebenarnya” banyak manusia yang sudah tidak peduli dengan keadaan orang lain, namun terlalu dipaksakan, sehingga istilah BONEK cocok bukan hanya pecinta sepakbola F.C. PERSEBAYA saja, namun buat para pelaku Jihad yang melakukannya tanpa hati dan hanya karena ikut-ikutan saja, bisa diambilkan contoh ketika kejadian Libanon-Israel, banyak orang-orang yang sebenarnya tidak menganalisa kejadian itu, apakah permainan media yang secara sepihak dengan kuasa totalitariannya mengekspos suatu keadaan secara sepihak, seperti saat itu, yang dinampakkannya adalah Israel yang selalu melakukan tindakan amoral, yang menggempur Libanon tanpa ampun, dan media membuat seolah-olah Libanon adalah hanya menjadi sekelompok komunitas yang tidak berdaya, yang patut diberikan bantuan dengan cara memberikan bantuan kekuatan militer. Banyak yang akhirnya terperdaya dengan keadaan itu, ikut-ikutan dan akhirnya harus tersingkir karena tidak adanya bekal yang mantap dalam tindakannya, apatis, anarkis dan bonek.
Tradisi dan budaya yang sudah lama berdiri dan sangat kuat dipegang oleh komunitas muslim ini, memang bukan hal yang harus disalahkan, banyak orang yang tidak berani melakukan pendobrakan tradisi dalam setiap sisi kehidupannya, baik dalam dogmatika yang sudah diyakini benar dan nilai-nilai yang dianggap paten . Kebiasaan menganalisa dalam satu keadaan dan menganalisa dalam surat-surat yang terdapat dalam Qur’an bukan menjadi hal yang biasa, kritik teks dan kritik narasi dan pendekatan yang lainnya yang bisa mendekatkan kita dengan makna sesungguhnya dan yang terkadang dapat menghasilkan pemikiran yang lebih baik dan bisa dipertanggung jawabkan terkadang malah menimbulkan bencana bagi komunitas tertentu yang melakukannya. Dianggap sebagai sekte sesat adalah menjadi satu ketakutan besar yang luar biasa ketika menghadapi mayoritas yang tidak biasa dengan perubahan ini, hukuman yang tidak hanya diberikan oleh pihak yang berwajib saja, namun terkadang juga oleh sikap apatis, anarkis, dan bonek lah yang menghantam komunitas yang sebenarnya ingin berkembang tersebut. Dapat diberikan contoh ketika adanya komunitas Ahmadiyah, juga R.U.U A.P.P, banyak dari komunitas muslim sendiri yang pro dan kontra, dan akhirnya diberlakukanlah jalan keluar yang baik menurut mayoritas, yaitu sering juga dikatakan Jihad, namun tindakan brutal (apatis,anarkis, dan BONEK) lah yang muncul.
Kembali kepada satu nilai dan tradisi yang tidak boleh disalahkan, kesalehan terhadap Qur’an memang layak diacungi jempol untuk orang yang benar-benar melakukannya, berhubungan dengan Jihad yang terkadang overlap dengan kekerasan. Dalam Islam, pertarungan antara kebaikan dengan kejahatan baik dalam tatanan social masyarakat, politik, budaya dan militer adalah bukan hal yang aneh lagi sejak jaman dahulu dan dalam Qur’an pun dituliskan demikian. Pewahyuan akan setiap isi Qur’an dipandang semua dari Allah yang diwahyukan kepada Muhammad. Muhammad yang bukan hanya seorang guru, bukan hanya seorang nabi, melainkan juga dijelaskan dalam Qur’an bahwa beliau adalah seorang panglima perang dalam satu kekuatan militer, tidak jarang kehidupan Muhammad dipenuhi dengan tindakan kekerasan akibat perang, sehingga bisa dinilai dan dibayangkan, dalam setiap kata-katanya pastilah tercermin kepribadiannya. Dan pemberian makna dari hal yang harus diperangi adalah terkesan sangat radikal dan keras. Dalam berjuang, dalam berjihad, adalah dianggap sebagai perang suci di jalan Allah, berjuang demi Tuhannya yang disembah (bukti kesalehan), maka pemberian makna musuh juga dalam konteks tersebut, berarti musuh itu melawan Tuhan, dan karena prinsip dasarnya adalah Tuhan yang maha penguasa, pemimpin Negara Islam tertinggi, dengan rasul dan para khalifah setelah rasul, sebagai wakil-Nya, maka didapat pengertian bahwa Tuhanlah yang memerintah tentara itu. Tentara tersebut adalah tentara Tuhan dan musuhnya berarti juga musuh Tuhan, dan tentara-tentara Tuhan ini harus mengirimkan musuh-musuh Tuhan ini secepatnya kedalam penghukuman Tuhan, yaitu ke dalam akhirat, yaitu mati. Dengan pemahaman ini maka wajar saja ketika seseorang mempunyai pandangan tentang Jihad adalah tidak berbeda dengan menjadi lascar Tuhan dalam kehidupannya dan memusuhi setiap orang dan tidak sungkan memberantasnya jika dirasakan sudah sangat mengganggu.
Makna judul yang saya berikan pada paper ini, yaitu, “ ADAKAH KESUNGGUHAN BISMILAHIRRAHMANIRRAHIM DALAM HATIKU?”, bukanlah hal yang ingin menghakimi setiap Islam yang melakukan Jihad, namun makna terdalam apakah yang kita miliki dalam setiap tindakan kita, ketika kita meyakini tindakan kita adalah tindakan yang mencerminkan nilai-nilai Ilahi. Apakah “bismilahirrahmanirrahim” sudah terwujud? Ketika mengawali semua tindakan kita dengan dasar Tuhan yang maha pengasih dan penyayang, akan membakar tempat ibadah dengan sangat mudah? Perang? Entah itu antar agama atau apa saja yang mengatas namakan agama, dan mengatas namakan iman kepada Tuhan. Mungkin, dan bisa saja iya dan tidak, dan boleh sangat subyektif ketika muncul kalimat “ekstrim bodoh”, atau “fundamentalis bodoh”, kita tidak harus cepat menilai atau menghancurkan siapa saja yang berkata demikian, namun refleksi dengan metode “memakai sepatunya” dan memahami arti kata “bismilahirrahmanirrahim” sangatlah penting dalam menjalankan iman dan taqwa kita kepada Allah, siapapun itu. Predikat, terlalu naïf dan bukan merupakan orang yang beriman, tentunya juga akan kita dengar jika kita terkadang tidak satu visi dengan komunitas tertentu atau ketika kita sangat teliti dengan analisa-analisa yang menghasilkan result, dan membuat kita enggan melakukan hal yang sia-sia, namun siapa tahu dalam hal itu justru mempunyai makna terdalam dari sebuah refleksi iman, dan belajar untuk menjadi yang baik bukanlah hal yang keliru
TEOLOGI
nabi muhammad berperang dalam makna jihad, adalah suatu pilihan terakhir dimana jika tidak dilakukan akan membahayakan umat islam pada saat itu, dimana terjadi kezaliman dan penganiayaan terhadap umat islam oleh bangsa non islam. dan itu diperbolehkan.
namuan muhammad adalah rasul yg sempurna yg setiap tindakan dan perkataannya adalah wahyu dari allah dan menjadi panutan umatnya. yang sangat mencintai perdamaian, pun kepada mereka yg berusaha membunuhnya, membencinya, meludahinya, Ia tetap bersikap baik.
Sekali lg Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan dalam arti negatif. Tindakan anarkis adalah murni dari oknum islam yang sesungguhnya tidak memahami islam itu sendiri. Allah membenci segala bentuk kezaliman kepada umat manusia siapapun,pilihan jihad dengan fisik adalah kewajiban bila umat islam sudah diinjak, dizalimi baik rohani maupun fisik, dibatasi dalam ketakwannya kepada allah, dan pilihan terakhir apabila sudah tidak bisa diselesaikan secara perdamaian atau musyawarah.
Jihad memang diwajibkan sebagai suatu bentuk tangung jawab umat islam terhadap diri dalam mengabdi kepada allah dan dalam mempertahankan agama allah. Bahkan dalm qur-an lebih banyak ajakan jihad terhadap kezaliman secara batiniyah bukan fisik, seperti berjuang melindungi diri dan umat terhadap gangguan setan,kenikmatan duniawi, kezaliman orang lain, yaitu dengan banyak melakukan ibadah;menjauhkan aktivitas duniawi yg membuat kita jauh dari allah, mendoakan dan tetap bersikap baik kepada orang yg menzalimi sebatas mereka tidak membatasi kita untuk tetap beribadah kepada allah.
Sikap seperti FPI yang anarkis memang sangat tidak dibenarkan atau diajarkan dalam al quran. Selama kita umat islam diindonesia dapat melakukan ibadah kepada allah dan menjalankan perintah Nya, semua kemaksiatan dan kemurtadan harus diselesaikan secara syiar dan dakwah, penataan iman dsb. Namun terkecuali dengan usaha permutadan yang jelas dengan nyata ataupun terselubung berusaha memaksa ( ruhani dan fisik )umat muslim untuk meyakini keyakinan / agama lain dengan dalih apapun (politik, ekonomi )sehingga umat islam sudah tidak memiliki kebeasan dalm beribadah dan dibatasi segala fasilitasnya, jelas adalah pelanggaran yg sudah menghina agama allah. dan itu diwajibkan untuk berjihad dalam pilihan terakhir, yatu perang fisik.
Comment by aini — December 13, 2007 @ 1:20 pm
Belakangan ini kog saya tidak terlalu yakin untuk membangun argumen dan analisis berdasarkan teks. Mengapa? Karena bahkan untuk kalangan kristen sendiri, bunyi teks bisa diartikan berbeda. Ini disebabkan oleh kepelbagaian metode hermeneutikanya. Jika hal demikian saja bisa terjadi dalam lingkup kristen apalagi dalam upaya dialog antar agama. Mungkin itu sebabnya mengapa kosuke koyama lebih menyukai pengenalan terhadap budhis daripada budhisme. Mengenal agama lain? Rasanya mustahil. Cilford Geertz mengatakan bahwa agama dialami ketika dilakoni dan bukan ketika disistematiskan. Seperti tarian Rangda Barong (bali)hanya dapat dialami ketika tarian itu ditarikan (tangan anda harus bergerak, kepala dan mata bergerak, otot-otot tubuh ada bergerak mengikuti pakem tarian). Anda tidak akan cukup paham dan memahami ketika tarian itu hanya anda epistem, apresisi, tafsir, dsb. Artinya, jika anda ingin memahami dengan benar apa itu islam, anda harus memeluk dan menghidupi islam. Demikian juga sebaliknya, jika anda ingin memahami dan mengalami kristen, anda harus memeluk dan menghidupi agama kristen. Singkatnya, alangkah sulitnya kita mencoba mensistematiskan, memahami agama yang berbeda dengan kita, apalagi mencoba mendiskusikan hermeneutik kita tentang teks agama lain.
Saya mencoba mendekati alur berpikir aini. Begini, belakangan ini fpi mengusung pembubaran ahmadiyah dan melakukan perang fisik terhadap para penganut ahmadiyah. Jadi, sekurang-kurangnya berdasarkan alur berpikir aini, fpi benar dalam tindakannya kali ini. Nampaknya mereka sudah bertaubat dan melakukan jihad yang benar, sekurang-kurangnya mengacu pemikiran aini. Saya tidak akan mendebat hal ini. Begitu logikanya, toh? Karena saya bukan islam, tidak paham islam, tidak akan mencoba menghermeneutik teks Quran suci.
Yang saya paham, bahwa saya warga negara indonesia. Saya aseli indonesia, lahir dan besar di indonesia, sedikit-sedikit baca buku dari eropa, amerika, afrika, asia, australia. Saya suka makan gudeg (meskipun saya batak), suka krecek-nya, suka steak yang tenderloin, pernah makan di hoka-hoka bento, spageti yang dibawain teman dari italy, burger amerika. Tapi saya tetap merasa aseli indonesia. Saya yakin semua produk barang itu tunduk terhadap peraturan dirjen pajak indonesia, bea cukai RI, karena saya beli yang legal. Saya kira soal agama begitu. Kalau melakukan sesuatu mulailah dengan mengkonversinya dengan hukum dan aturan indonesia. Tidak sesuai? Ajukan amandemen lewat wakil-wakil kita.
Ya, kita perlu melakukan tidakan kita sesuai dengan tuntunan moral yang kita sepakati bersama. Di luar itu? Ya, ilegal. Peringatan: hati-hati mengkonsumsi daging sapi ilegal. Anda bisa terkena penyakit mulut dan kuku, maupun antrax.
Comment by andohar purba — July 30, 2008 @ 1:04 am