DIALOG: MEMBANGUN KEBERSAMAAN DALAM MASYARAKAT MAJEMUK
Karya: Antoni Manurung , Kategori: pilihan dosen
I.PENDAHULUAN
Penulis akan membahas topik “Dialog: Membangun Kebersamaan Dalam Masyarakat Majemuk. Pemilihan topik ini tentu tidak terlepas dari konteks masyarakat di Indonesia yang pluralistik dalam agama. Konteks ini ternyata tidak hanya sebagai kekayaan yang konstruktif tetapi sering menjadi dilema bahkan tidak jarang menimbulkan hal-hal yang destruktif. Menurut penulis dalam konteks demikian, salah satu sikap yang perlu diupayakan adalah dialog di antara umat beragama. Ini diharapkan memperkaya iman, menciptakan suasana damai dan persaudaraan di antara orang-orang beragama di Indonesia.
Makalah ini akan terlebih dahulu membicarakan pluralitas agama di Indonesia sebagai konteks yang tidak terabaikan dan problematik. Kemudian akan membicarakan pentingnya dialog dan tujuan dialog dilaksanakan.
II.PLURALITAS AGAMA DI INDONESIA
2.1 Konteks yang tidak terabaikan.
Indonesia adalah sebuah “pertemuan” dan sekaligus sebagai “ kumpulan” yang ramai bagi pengaruh agama-agama dunia. Pemilihan Pancasila sebagai dasar negara mencerminkan adanya pluralitas agama di Indonesia. Pencantuman sila KeTuhanan Yang Maha Esa tidak lain berakar pada realitas kemajemukan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia. Dalam konteks berbangsa, bermasyarakat dan beragama di Indonesia dengan dasar Pancasila seperti yang sudah dijelaskan di atas tadi, diakui ada enam agama di Indonesia. Keenam agama tersebut adalah Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha dan Konfucu.
Pluralitas agama di negeri ini merupakan realitas empirik yang tidak bisa lagi dipungkiri. Itulah yang membuat para pendiri bangsa ini memilih Pancasila sebagai dasar negara yang secara implisit memberikan dasar-dasar yang kuat bagi warga bangsa ini untuk bersikap toleran, menghargai kepelbagaian dan menjunjung tinggi perbedaan, dalam hal ini termasuk pluralitas agama.
2.2 Konteks yang problematis.
Pada satu sisi pluralitas agama di Indonesia mencerminkan keindahan dan kekayaan tanah air Indonesia. Kemajemukan itu memungkinkan setiap orang untuk melihat dan mempelajari hal-hal yang berbeda dari antara satu sama lainnya. Interaksi antara satu sama lain yang mempunyai agama dan kepercayaan yang berbeda-bedapun dapat dilakukan. Akan tetapi pada sisi lain konteks pluralitas agama dengan sendirinya ternyata tidak selalu berarti baik. Di sana dapat ditemukan hal-hal atau unsur-unsur yang tidak baik termasuk dari dalam agama itu sendiri (institusi agama, kegiatan misi, kepemimpinan) yang memungkinkan terjadinya ketegangan bahkan konflik. Selain itu ada juga faktor non agama ( ekonomi, politik, sosial, budaya) yang juga turut melahirkan perseteruan serta konflik agama. Sejarah bangsa Indonesia menunjukkan pluralitas agama sering menjadi “ladang” atau “pemicu” terjadinya hal – hal yang menakutkan dan menimbulkan penderitaan, pertikaian, permusuhan, kekerasan bahkan pembunuhan. Akibatnya ratusan rumah ibadah dirusak, dihancurkan dan dibakar. Korban berjatuhan, fasilitas umum dirusak, kerugian material tidak terhitung jumlahnya dan meninggalkan trauma yang mendalam dan sulit dipulihkan. Peristiwa yang terjadi di Ambon merupakan salah satu bukti “sejarah pahit” tentang hal itu
III.DIALOG
3.1.Pentingnya Dialog Dilakukan
Dialog antar agama menjadi suatu perhatian saat ini. Itu disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, secara eksistensial, karena keberadaan kita yang mempunyai agama yang berbeda dan hidup bersama-sama dalam sebuah masyarakat. Kedua, secara ideologis, kita mempunyai pandangan dan perhatian terhadap agama yang lain. Dalam konteks demikian setiap orang mempunyai pandangan dan perhatian tidak hanya untuk agamanya sendiri, tetapi juga terhadap orang yang beragama lain. Pandangan kepada agama lain ternyata tidak selamanya diwarnai pandangan yang positif, sering juga diwarnai pandangan yang negatif. Banyak faktor yang menyebakan hal itu terjadi. Itulah yang sering membuat pluralitas agama di Indonesia tidak hanya sebagai kekayaan tetapi sering menimbulkan perpecahan, pertikaian, kerusuhan dan konflik yang hanya menimbulkan derita yang berkepanjangan.
Jika demikian, tugas bersama umat beragama adalah bagaimana membangun komunikasi yang baik diantara umat beragama dan membuat pluralitas agama itu dapat menjadi suatu kesempatan dimana setiap umat beragama dapat diperkaya dan memperkaya antara satu sama lain. Berusaha meninggalkan sikap arogansi dan intoleransi yang banyak terjadi dalam sejarah serta mengoreksi secara kritis sikap exlusivitas dalam semua agama. Ini adalah tantangan umat beragama yang ada di Indonesia. Karena itu sikap yang terbuka dan dialog secara bersama-sama harus dibangun dan dikembangkan. Dialog penting untuk dilakukan, sebab dengan dialog dan sikap kemauan menerima perbedaan dalam konteks saling menghormati dan menghargai dapat menghasilkan kedewasaan iman kepada semua pihak dan menjadi katalisator yang kuat untuk kebaikan. Jikalau hal ini dilakukan dengan penuh simpati dan rasa hormat terhadap integritas pihak lain, itu akan dapat menyebabkan terjadinya perkembangan rohani dan akan memperkaya semua pihak serta membawa “kesejahteraan” kepada manusia.
3.2.Bentuk dan tujuan dialog
Melihat kenyataan problematik di tengah-tengah pluralitas, dialog antar agama perlu didasari bahkan didahului oleh suatu dialog teologis untuk melakukan suatu kajian kritis terhadap diri sendiri. Sebab tanpa dialog teologis sulit bisa diharapkan suatu pemahaman yang mendasar tentang hak hidup orang lain baik secara spritual maupun secara sosial. Dialog teologis diharapkan dapat membangun sebuah teologi yang memberi pengakuan kepada keabsahan teologi dari agama-agama lain, sejauh memberikan sumbangan kepada proses pemanusiaan manusia. Pada pihak lain dialog teologis perlu dilakukan karena distorsi dan kesalahpahaman perlu diminimalisir, dan juga apresiasi perlu ditumbuhkan. Setelah itu dialog aksi serentak perlu dilakukan. Permasalahan kemanusiaan yang dihadapi sekarang tak mungkin dipecahkan oleh sekelompok agama saja. Masalah-masalah seperti lingkungan hidup, kemiskinan, ketidak adilan, kebodohan dan konflik tak bisa dimengerti dan tidak mungkin dipecahkan kecuali ada kerjasama antara agama-agama. Kebersamaan kelompok-kelompok yang berbeda diperlukan untuk menghadapi hal-hal itu semua. Kebersamaan yang demikian hendaknya dijadikan sebagai dasar etis dalam kerjasama antar agama untuk membangun teologi agama yang relevan di Indonesia.
Dialog yang korelasional dan bertanggungjawab secara global diantara agama-agama merupakan salah satu bentuk yang perlu untuk dilaksanakan. Dalam dialog ini setiap umat beragama berupaya saling mengerti dan berbicara atas dasar komitmen bersama terhadap kesejahteraan umat manusia maupun lingkungan. Masing-masing berpikir untuk berbuat apa yang dapat mensejahterakan kehidupan manusia. Perjumpaan dialogis dilakukan dalam suatu komunitas yang egaliter dan bukan hierarkhis. Sebab suatu dialog korelasional tidak bisa dilaksanakan kalau satu agama mengklaim kekuasaan, atau superior dan dalam segala hal akan membuat norma terakhir yang menyingkirkan norma-norma lainnya. Dalam hal ini ada suatu yang harus di terima; kebenaran tidak dapat dimonopoli oleh satu kelompok saja. Dialog antar agama akan gagal apabila salah satu agama secara apriori memandang dirinya lebih unggul dalam segala hal, sehingga agama tersebut tidak mau atau tidak mampu belajar dari agama-agama lain. Tujuan dialog dilakukan adalah bagaimana “mereka’ dan “kami” menjadi “kita” – “kita” adalah hal yang lebih penting. Disana setiap umat beragama dapat saling menerima dan belajar bersama demi kelangsungan dan kesejahteraan hidup, mengatasi permasalahan-permasalahan hidup yang di alami oleh manusia, memperkaya hati dan pikiran serta jiwa manusia. Dialog yang demikianlah yang diharapkan akan dapat mengatasi kesulitan, memperbaiki yang sudah rusak, menghindari perpecahan, menjauhkan sikap superior atas orang lain dan menciptakan hubungan kebersamaan.
IV.PENUTUP.
Masyarakat Indonesia sudah saatnya memiliki paradigma yang baru dalam realitas kemajemukannya, secara khusus dalam agama. Kepelbagaian agama hendaknya dapat dijadikan sebagai sumber kekuatan yang dapat disinergikan dalam menghadapi persoalan-persoalan kemanusiaan yang berat sekarang ini. Permasalahan kemanusiaan seperti kemiskinan, kebodohan, gender, ketidakadilan, dan rentannya terjadi konflik agama haruslah dihadapi bersama. Dalam upaya membangun kebersamaan itulah diperlukan dialog antar umat beragama. Dengan dialog demikian, tercipta satu komunikasi yang baik dan komitmen bersama untuk membangun kehidupan bersama yang dapat memberikan kesejahteraan kepada setiap umat beragama.
TEOLOGI
Untuk menyelesaikan perselisihan persepsi antara agama dan didalam agama yang telah terpecah menjadi 73 firqah sesuai Ruum (30) ayat 32, Al Mu’minuun (23) ayat 53,54 serta Yudas 1:18,19,20,21, dan untuk menyatukan menjadi satu umat dengan persepsi tunggal sesuai An Nahl (16) ayat 93, Al Baqarah (2) ayat 148, kami telah menerbitkan buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
“BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
berikut 4 macam lampiran acuan:
“SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selam 25 tahun oleh:
“SOEGANA GANDAKOESOEMA”
dengan penerbit:
“GOD-A CENTRE”
dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
“DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
Comment by Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi. — January 25, 2008 @ 7:07 pm
Buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
“BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
Penulis: Soegana Gandakoesoema
I. Telah diserahkan pada hari Senin tanggal 24 September 2007 kepada Prof. DR. ibu Siti Musdah Mulia, MA., Islam, Ahli Peneliti Utama Balitbang Departemen Agama Republik Indonesia, untuk diteliti sampai mendapat keputusan menerima atau menolak dengan hujjah, sebagaimana buku itu sendiri berhujjah.
II. Telah dibedah oleh:
A. DR. Abdurrahman Wahid, Gus Dur, Islam, Presiden Republik Indonesia ke-4 tahun 1999-2001.
B. Prof. DR. Boedya Pradipta, Penghayat Kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, dosen FS Universitas Indonesia.
C. Prof. DR. Usman Arif, Konghucu, dosen Filsafat Universitas Gajah Mada.
D. Prof. DR. Robert Paul Walean Sr., Pendeta Nasrani, sebagai moderator, seorang peneliti Al Quran sebagaiamana Soegana Gandakoesoema meneliti Al Kitab perjanjian lama dan perjanjian baru, keduanya setingkat dan sederajat dengan Waraqah bin Naufal bin Assab bin Abdul Uzza 94 tahun, anak paman Siti Hadijah 40 tahun, isteri Muhammad 25 tahun, sebelum menerima wahyu 15 tahun kemudian pada usia 40 tahun melalui Jibril (IQ).
Pertanyaannya yang sulit dijawab akan tetapi sangat logis untuk ditanyakan adalah Muhammad sebelum turun wahyu nikah dengan Siti Hadijah dengan cara ritual agama apa dan mereka berdua dalam keadaan beragama apa.
E. Disaksikan oleh 500 peserta seminar dan bedah buku dengan diakhiri masa sesi dialog tanya-jawab yang apabila waktu tidak dibatasi akan mengulur panjang sekali, sehubungan banyaknya gairah pertanyaan yang diajukan para hadirin.
Pada hari Kamis tanggal 29 Mei 2008, jam 09.00-14.30, tempat Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, jl. Salemba Raya 28A, Jakarta, dalam rangka memperingati satu abad (1908-2008) kebangkitan nasional “kebangkitan agama-agama (1301-1401 hijrah) (1901-2001 masehi)” diacara Seminar & Bedah Buku hari/tanggal: Selasa 27 Mei - Kamis 29 Mei 2008, dengan tema merunut benang merah sejarah bangsa untuk menemukan kembali jati diri roh Bhinneka Tunggal Ika Panca Sila Indonesia.
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
Comment by Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi. — June 29, 2008 @ 5:01 am
Buku “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
tersedia ditoko buku KALAM
Jl. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120
Telp. 8573388
Comment by Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi. — July 1, 2008 @ 12:23 pm
Camkan dengan pandangan akal fikiran yang sehat dan naluri hati yang waras, bahwa ratusan tahun sebelum agama-agama dan kepercayaan/keyakinan dari luar, seperti Hindu, Buddha, Islam, Nasrani, Konghucu, Ahmadiyah dan lain sebaginya, masuk kedalam Nusantara Indonesia, kemudian mempengaruhi pemikiran dan hati masyarakatnya, dan menjadikan negeri kita ini bershahatain sebagai ajang pertarungan yang katanya masing-masing membawa “kebenaran”, suasana dinegeri kita sebelum itu dalam keadaan berkeyakinan “animisme” atau Penghayat Kepada Ketuhanan Yang Maha Esa disebut shahadat tauhid memenuhi Az Zumar (39) ayat 45, dan tidak bershahatain sesuai Ali Imran (3) ayat 80 (sifat ARBABAN), At Taubah (9) ayat 31 (sifat ARBABAN selain Allah). Untuk itu marilah kita kembali sesuai simbul makna dari azan, yaitu diawali dengan shahadatain Allah dan Nabinya, kemudian diakhiri dengan shahadat tauhid lailahaillah!
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal agama millennium ke-3 masehi.
Comment by Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal, Agama millennium ke-3 masehi. — September 5, 2008 @ 10:21 am
Buku “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
Penulis: Soegana Gandakoesoema
Penerbit: GOD-A CENTRE
Bonus: “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)” berukuran 63×60 cm.
Tersedia ditoko-toko buku distributor tunggal:
P.T. BUKU KITA
Tel. 021.78881850
Fax. 021.78881860
Comment by Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal, Agama millennium ke-3 masehi. — November 15, 2008 @ 7:00 am