Pengetahuan = Dosa ?, K E J A D I A N 3 : 1 – 2 4
Karya: David Christanto, Kategori: Pilihan dosen
1. Pengantar
Kejadian 3 selama ini dibicarakan untuk menjelaskan “dosa warisan”, karena di dalamnya dianggap menceritakan dosa pertama manusia yang dilakukan oleh nenek moyang manusia, Adam dan Hawa. Sering dimengerti dosa adalah pemberontakan manusia terhadap Allah yang berdaulat. Bahwa dosa adalah pelanggaran terhadap perintah Allah. Bahwa manusia dalam kebebasannya ingin menjadi sama dengan sang khalik. Dan berkaitan dengan dosa, sering pula nats ini dibicarakan dalam kaitannya dengan “Janji Induk”. Dan ujung-ujungnya akan dibawa pada kehadiran Yesus Kristus dalam segenap karyaNya. Hal-hal tersebut kita temukan bila dimengerti dalam kacamata dogma. Namun bila kita melepaskan kacamata tersebut, dan melihatnya secara narasi, akankah berita itu masih berbicara dengan nada yang sama? Dalam pengertian inilah kita akan maju bersama menggali narasi Kejadian 3:1-24, yang oleh Lembaga Alkitab Indonesia diberi judul “Manusia jatuh dalam Dosa”. Namun dalam tafsiran ini lebih baik kita berdiri di luar judul yang diberikan itu agar tidak terjebak dalam kerangka berpikir yang sudah ada di belakangnya.
2. Penokohan
Dalam narasi ini kita akan menyaksikan Ular, “Perempuan”, “Manusia”, dan TUHAN Allah, serta Kerub sebagai aktor-aktor yang bermain dimana Narator yang mengetahui kisah menceritakan kisah sesuai kepentingan yang hendak dibangunnya.
a. Ular, secara jelas digambarkan oleh Narator sebagai “yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah.” Dengan karakter ini, narator hendak menceritakan, bahwa berkat kemampuan dalam berolah pikiran dan mempermainkan pikiran serta kepandaian berbicaralah yang menyebabkan tujuan ular dalam cerita ini berhasil.
b. “Perempuan” , tidak secara langsung digambarkan karakternya, namun dalam peran yang telah ditunjukkan kita dapat menyimpulkan, bahwa ia digambarkan sebagai orang yang lugu, tanpa prasangka terhadap orang/tokoh lain. (lihat keseluruhan percakapannya dengan ular, kesan itulah yang saya tangkap). Mungkinkah ia orang yang suka melebih-lebihkan suatu hal? (lihat jawabannya, dengan tambahan … ataupun raba buah itu…(ayat 4b), bila dibandingkan pasal 2:17 yang hanya berbicara tentang jangan makan). Apakah setelah itu ada perintah ulangan untuk mempertegas larangan kita tidak tahu, yang jelas sesuai apa yang diceritakan narator, hal meraba tidak termasuk dalam larangan, namun perempuan mengatakannya. Ini bisa menjadi salah satu kemungkinan sifat yang dimiliki perempuan (kecuali jika Adam sudah menambahkan larangan itu). Perempuan juga digambarkan sebagai seorang yang punya rasa keinginan tahu yang besar (lihat pergumulan hatinya dalam ayat 6a). Disamping itu ia digambarkan juga sebagai seorang yang selalu mengingat kekasihnya dan punya sifat baik, yaitu mau berbagi (perhatikan ayat 6b).
c. “Manusia” tidak digambarkan menonjol karakternya oleh narator, kecuali bahwa sebelum bersama perempuan ia lama berada dalam situasi kesepian (lihat pasal 2:20b), dan orang yang lemah hati. Terbukti ketika ia diberi istrinya buah dari pohon yang terlarang, ia dengan gampang menerima dan memakannya tanpa ada konflik (ayat 6b). Karakter negatifnya justru terlihat jelas ketika ia membela dirinya di hadapan TUHAN. Dari jawabannya terlihat bahwa ia adalah seorang pengecut yang tidak berani mengakui kesalahannya (ayat 12). Bahkan bila diperhadapkan dalam keadaan terdesak ia bisa hantam kiri, hantam kanan (secara tersembunyi bisa dirasakan bahwa disamping menyalahkan perempuan, ia juga menyalahkan TUHAN ketika kondisinya terjepit, lihat ayat 12: … perempuan yang Kau tempatkan di sisiku…).
d. TUHAN Allah, adalah tokoh penguasa yang digambarkan Narator menjadi pencipta dan pemilik taman Eden. Ia memiliki kekuasaan mutlak, sehingga dengan otoritas yang dimilikiNya berkuasa memberikan hukuman bagi orang yang melanggar perintahNya.
e. Kerub, hanya peran pembantu yang karakternya tidak digambarkan sama sekali, kecuali bahwa mereka patuh melaksanakan perintah TUHAN Allah, menjaga jalan menuju pohon kehidupan.
3. Alur Cerita
Cerita ini bersetingkan taman Eden, yang dalam pasal 2 digambarkan sebagai taman yang penuh dengan berbagai pohon yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya. Di tengah-tengah ada pohon kehidupan dan di sisi yang lain ada pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Taman ini juga merupakan taman yang subur, karena digambarkan memiliki sungai yang bercabang yang membasahi taman. Di taman ini berbagai binatang hidup dengan rukun, terbukti manusia dapat bergaul dengan binatang bahkan memberi nama pada mereka. Manusia yang kesepian setelah memiliki seorang pendamping akhirnya mengalami pengalaman yang merubah seluruh kehidupannya (bahkan akhirnya juga merubah hidup seluruh umat manusia).
Seharusnya cerita ini tidak dilepaskan dari pasal 1 yang mengawali kisah penciptaan, hingga akhirnya kamera diarahkan ke taman Eden sebagai settingnya. Bagian yang kita baca adalah babak ke dua dari cerita di taman Eden. Babak pertama adalah ketika manusia di tempatkan di dalamnya dan menikmati kehidupan bersama binatang-binatang, dan di akhir babak itu dimunculkanlah tokoh perempuan. Kemudian babak kedua (bagian yang tengah kita amati) menampilkan karakter secara menonjol dari perempuan yang menjadi istri manusia juga karakter ular, yang kemudian berkembang menjadi konflik yang cukup rumit.
Cukup menarik bila menghubungkan pasal ini dengan pasal satu. Dalam pasal satu narator selalu menekankan komentar TUHAN ketika selesai melakukan pekerjaan penciptaan dalam satu harinya dengan kalimat “bahwa semuanya itu baik” (ada 6 kali), demikian pula kesimpulan dari keseluruhan penciptaan (dalam pasal 1:31) dengan pernyataan “… sungguh amat baik…” Tidak ada ketidakbaikan dan kejahatan dari apa yang diciptakan. Kemudian dalam pasal 2:17 dimunculkan suatu pohon dengan nama “pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat”, dan ini menjadi satu-satunya yang dilarang TUHAN dimakan manusia. Akhirnya di pasal tiga manusia melanggar larangan dengan memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Bila ketiga bagian ini diperhatikan dengan memperhitungkan kesamaan dalam penonjolan hal yang baik dan lawannya, yang jahat, maka kita bisa membuat tiga alur cerita , yaitu:
(1) Dalam pasal 1 diawal perkembangan kehidupan dunia, yang dikenal dan diperkenalkan (pada) manusia (oleh TUHAN) adalah hal yang baik;
(2) Namun demikian pasal 2 kemudian dipersiapkan narator sebagai permulaan dari klimaks drama di taman Eden. Pasal 2 memperlihatkan kemungkinan manusia dapat mengenal yang jahat, selain yang baik. Manusia tidak menyadari hal itu, namun dengan hadirnya tokoh ketiga - yang begitu diidam-idamkan oleh manusia, yaitu perempuan maka kemungkinan bagi manusia untuk mengenal selain yang baik terbuka lebar;
(3) Hal itulah yang akhirnya menjadi kenyataan, manusia akhirnya mengenal (memiliki pengetahuan) tentang yang baik dan yang jahat. Dan hal itu harus dibayar mahal karena manusia dan istrinya telah melanggar larangan TUHAN, sehingga harus menerima hukuman dan puncaknya diusir dari taman Eden. Mulai saat itulah manusia mengenal kejahatan selain kebaikan.
Kalau kita membaca pasal 3 sendiri, kita dapat menemukan tiga alur cerita. Plot pertama menggambarkan percakapan perempuan dengan ular, sampai akhirnya perempuan makan buah yang dipercakapkan dan berbagi dengan suaminya. Untuk masuk ke plot kedua dihubungkan dengan penggambaran manusia yang takut karena mengerti diri mereka telanjang.
Plot kedua menggambarkan percakapan TUHAN Allah dengan manusia, perempuan dan ular, serta vonis hukuman yang diberikan. Untuk masuk pada plot ketiga dihubungkan dengan pemberian pakaian oleh TUHAN pada manusia dan istrinya.
Plot ketiga menggambarkan pengusiran manusia dan istrinya dari taman Eden. Hal yang membuat saya bertanya-tanya setelah membaca berkali-kali narasi ini adalah apakah benar narator hendak menceritakan tentang kejatuhan manusia dalam dosa? Apakah narator bukannya hendak menyampaikan suatu cerita tentang asal muasal manusia mengenal kejahatan? Apakah pengenalan ini yang dimaksud sebagai dosa, atau proses mengenalnya yang menjadikan manusia berdosa - yaitu pelanggaran terhadap perintah TUHAN? Narator sendiri sampai pasal 3 ini tidak pernah berbicara tentang dosa, barulah di pasal 4:7, kata dosa disebutkan. Selanjutnya mari kita masuk dalam tafsirannya.
4. Tafsir Naratif Kejadian 3:1-24
Narator langsung memperkenalkan tokoh ular sebagai pemeran utama dari kejadian ini. Ular ditampilkan sebagai binatang darat , ciptaan TUHAN Allah yang paling cerdik. Dengan perkenalan ini, maka narator memiliki alasan menampilkan ular yang kemudian berinisiatif membuka percakapan dengan kepandaian berbicaranya. Pemilihan kata yang diambil tampaknya punya maksud terselubung, namun kita belum tahu apa maksud ular tersebut. Ular memilih bercakap-cakap dengan perempuan sehubungan dengan topik pembicaraan yang dipilihnya: masalah makan buah. Lihat pilihan kata yang diucapkan ular: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (ayat 1). Ini bukan inti dari apa yang akan dibicarakan ular, namun sebagai pembuka percakapan saja. Dengan perkataan pembuka ini sepertinya ular tengah menghembuskan sentimen pribadinya pada Allah, dan coba menularkannya pada perempuan (Perhatikan kata: tentulah… jangan kamu makan…) . Namun kita juga bisa melihat kemungkinan lain bila memperhatikan kalimat “jangan kamu makan.” Ular tampaknya tengah memancing perempuan agar berbicara tentang buah yang dilarang untuk dimakan, tanpa harus ular sendiri yang mengatakannya. Dengan berpura-pura tidak tahu (ular memang berpura-pura, bandingkan ayat 4 dan 5 yang menunjukkan bahwa ular tahu sesuatu), maka perempuan akan terpancing untuk memberitahukan apa yang diketahuinya tentang larangan makan buah tertentu.
Kalau berbicara tentang kecerdikan, apakah kecerdikan tersebut juga berkaitan dengan pemilihan orang yang diajaknya bercakap-cakap? Mungkin saja ular telah memperhitungkan hasil percakapan bila ia bercakap-cakap dengan manusia. Dalam pasal dua (ayat 16), narator telah membuka sedikit tentang larangan tersebut. Larangan diberikan pada manusia sebelum perempuan dijadikan baginya. Kita tidak menemukan cerita kalau TUHAN mengulangi laranganNya. Yang jelas perempuan juga mengetahui larangan itu, tapi kita tidak tahu apakah dari TUHAN sendiri ataukah dari manusia (Adam), suaminya. Namun melihat pasal tiga (ayat 11) yang arah pertanyaannya begitu pribadi pada manusia, tersirat bahwa manusialah yang bertanggungjawab atas informasi pelarangan itu - dan tampaknya narator juga berpendapat serupa. Jikalau demikian, maka pilihan bercakap-cakap mengenai buah yang dilarang dimakan sangat tepat bila dibicarakan dengan perempuan yang notabene bukan penerima perintah pertama dari TUHAN. Penerima perintah yang bukan langsung dari si pemberi perintah pasti lebih longgar dalam melaksanakan perintah, ketimbang orang yang langsung menerima perintah dari orang yang memberi perintah.
Perempuanpun akhirnya mengklarifikasi pernyataan ular, bahwa segala buah dari pohon di taman itu boleh mereka (perempuan dan suaminya) makan. Tapi memang ada yang dilarang dimakan, yaitu buah yang ada di tengah-tengah taman. Perempuan itu bahkan memberikan informasi tambahan selain tidak boleh memakan, juga tidak boleh merabanya (ayat 2). Entah siapa yang memberikan informasi tambahan ini, bisa jadi hal ini dilebih-lebihkan perempuan. Yang jelas perempuan ini sebenarnya tahu tidak boleh makan atau meraba buah, bahkan tahu konsekuensinya yaitu mati.
Ular melanjutkan perangkapnya dengan mengatakan bahwa perempuan itu tidak akan mati. Menurut ular, Allah mengatakan itu memang ada alasannya, tapi bukan karena akibatnya adalah kematian. Allah tahu bahwa waktu memakannya, mata yang memakannya akan terbuka dan akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat (ayat 4, 5). Tampaknya ular hendak mengatakan bahwa ancaman mati itu hanyalah usaha Allah untuk menakut-nakuti manusia, agar mereka tidak menjadi sama dengan Allah yang tahu tentang yang baik dan yang jahat. Kalau mencermati arah kalimat ini, ular tampaknya berusaha memprovokasi manusia agar meragu-ragukan larangan Allah, dan berusaha memancing manusia agar memberontak terhadap kekuasaan Allah, dengan memunculkan isu “menjadi seperti Allah”. Tapi kita harus jujur, bahwa yang dimunculkan ular adalah sama seperti Allah dalam arti tahu tentang yang baik dan yang jahat (sesuai nama pohon tersebut, 2:17). Ini jelas bukan dalam hal kekuasaan. Dalam hal ini tampaknya ular tidak sepenuhnya berbohong, kenyataannya memang demikian! (lihat akibat yang dialami manusia dan istrinya, persis yang dikatakan oleh ular).
Kamera zoom kemudian diarahkan pada perempuan yang tengah berdiri di hadapan pohon dan memandangnya. Dalam pikirannya kemudian muncul pertimbangan menikmati atau tidak buah dari pohon yang bernama pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (ayat 6). Narator menunjukkan bahwa alasan perempuan ini kemudian mengambil buah dari pohon itu dan memakannya (serta membaginya dengan suaminya) karena perempuan melihat bahwa buah itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya. Ini adalah pertimbangan untuk memuaskan mata, serta lidah dan perutnya. Buah lain yang mungkin hanya memuaskan mata, lidah dan perut; namun pohon ini lebih dari itu. Pohon ini (seperti penuturan ular) juga menarik hati karena memberi pengertian. Jadi sang perempuan merasa pohon ini adalah pohon yang menarik karena dapat memuaskan keinginan hatinya (sisi intelektualnya?) jika ia memakannya. Hanya itu alasannya. Bukan karena ia termakan hasutan ular supaya menjadi seperti Allah. Keinginan inilah yang tampaknya membuat perempuan itu lupa atau melupakan konsekuensi mati. Apakah ini suatu kesengajaan untuk memberontak? Narator tidak mengatakannya dan nada itu tidak saya temukan! Dalam peristiwa ini yang manakah yang dimaksud sebagai dosa oleh narator? Narator tidak (atau mungkin belum) memperlihatkan konsep dosa, kecuali bahwa perempuan lebih memperhatikan keinginannya akibat bujukan ular daripada mengingat larangan TUHAN. Mungkinkah ini yang dimaksud sebagai dosa? Narator jelas-jelas tidak mengatakannya!
Kita patut mempertanyakan keberadaan manusia (Adam) waktu itu. Manusia tampaknya tanpa banyak cakap menikmati saja buah itu. Seandainya manusia tahu, maka ia bersalah karena membiarkan dirinya ikut makan. Seandainya ia tidak tahu maka ia juga bersalah karena tidak mencari tahu terlebih dahulu buah yang dimakannya. Atau mungkin manusia tahu dan ketika melihat perempuan yang memakannya tidak mati maka iapun mau menikmati pula. Atau seperti lagu “… Namun kadangkala pria tak berdaya, tekuk lutut di sudut kerling wanita?…” Narator membantu kita memberikan penilaian dengan memakai “mulut” TUHAN, karena menurut TUHAN (ayat 17), manusia mendengarkan perkataan istrinya (dan menurutinya), dan berarti tidak memegang larangan TUHAN. Dengan makan buah itu akhirnya terbukalah mata mereka (ayat 7) dan tahu bahwa mereka telanjang. Untuk menutupi ketelanjangan mereka, lalu mereka membuat cawat dari daun pohon ara yang mereka rangkai.
Pertanyaan kemudian berkembang: mengapa mereka tidak mati? Apakah mati yang dimaksud TUHAN mempunyai pengertian lain. Dan apakah manusia mengetahui arti mati yang dimaksud TUHAN tersebut? Apalagi dalam ancaman larangannya kepada manusia, TUHAN berkata bahwa, pada hari manusia memakannya, pastilah manusia mati (pasal 2:17b). Teks Ibrani membantu kita memahami ancaman TUHAN. Kata yang dipilih sebenarnya tidak menyebut pada hari dimana mereka memakan, melainkan pada harinya. Inilah yang tampaknya sengaja dipermainkan ular pada perempuan dan manusia. Memang pada hari memakannya mereka tidak mati, tapi pada harinya (pada saatnya) mereka pasti mati. Dan kenyataannya mereka tidak langsung kehilangan nyawa mereka (bila itu yang dimaksud dengan mati), melainkan mata mereka terbuka. Mereka bisa mengerti bahwa mereka telanjang (Apakah berarti sebelumnya mereka sebenarnya telanjang tapi tidak mengerti bahwa mereka telanjang). Dengan makan buah pohon yang baik dan yang jahat, mereka tahu apa yang baik dan apa yang jahat (lihat pula komentar TUHAN ayat 22b). Pengetahuan inilah yang tampaknya membuat mereka takut bertemu dengan TUHAN (ayat 8-10), meskipun TUHAN telah memanggil mereka.
Ketika TUHAN memanggil manusia, “Dimanakah engkau?” Manusia menjawab, “Ketika aku mendengar , bahwa Engkau ada dalam taman ini aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Narator ingin memperlihatkan bahwa perubahan pengertian tentang keberadaan tubuh (yang terlihat telanjang) menyadarkan manusia bahwa mereka telah menerima akibat dari pelanggaran mereka. Pengetahuan baru ini seketika membuat mereka bingung dan takut. Karena mereka tahu yang baik dan yang jahat, maka mereka tahu bahwa telanjang adalah memalukan sehingga mereka berusaha menutupinya.
Pemikiran yang bisa jadi muncul ketika membaca narasi ini dengan sungguh-sungguh adalah, berarti sebelum manusia dan istrinya makan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, mereka belum mengenal apa itu baik dan apa itu jahat. Bila demikian bisa jadi narator hendak mengatakan bahwa apa yang dikerjakan oleh perempuan tidak didasari pada pengenalannya akan apa yang baik dan apa yang jahat. Dia makan buah karena ketidaktahuannya bahwa melanggar larangan TUHAN itu jahat. Sungguh aneh pula bila kita renungkan bahwa “pagar’ yang melindungi pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat dari tangan manusia yang hendak memakannya adalah ancaman mati. Padahal TUHAN tidak membekali manusia dengan kemampuan mengetahui bahwa memegang perintah TUHAN itu adalah baik dan melanggarnya adalah jahat. Atau mungkin juga manusia mengerti bahwa menaati perintah TUHAN itu memang baik, hanya kemudian ular dengan kecerdikannya memberikan pemahaman lain, sehingga perempuan dengan keinginannya melihat ada suatu yang lebih baik daripada larangan TUHAN. Namun demikian dalam peristiwa itu narator tidak memberi ruang bagi saya untuk melihat bahwa apa yang dilakukan perempuan adalah jahat.
Hal itu kemudian ditegaskan dengan jawaban manusia (ayat 12). Karena dengan memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, ia mengetahui apa yang baik dan yang jahat, maka iapun menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah jahat, karena itu ia berusaha membela dirinya. Akibatnya disamping usaha menimpakan kesalahan pada perempuan, terlihat bahwa manusia juga menyalahkan TUHAN dengan kalimat “… Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku…” Perempuanpun demikian pula, sehingga ia membela dirinya dan tidak mau mutlak disalahkan atas pelanggarannya. Ia kemudian melemparkan tanggung jawab pada ular. Lucunya kepada ular TUHAN tidak melakukan kroscek, melainkan langsung memberikan vonis hukuman. (Apakah TUHAN memang punya masalah tertentu dengan ular? Kita tidak tahu).
Kalau perbuatan manusia dan istrinya dimengerti sebagai “jatuh dalam dosa” (yang sebenarnya narator sama sekali tidak menyebutkannya) maka tampaknya narator disamping menyalahkan, juga hendak membela manusia. Kejatuhan tersebut terjadi karena adanya ular yang cerdik, yang menyalahgunakan kecerdikannya untuk menjerumuskan manusia (ayat 13). Kalau cerita narator benar seperti apa yang saya tangkap, maka dosa oleh narator tidak hendak dikaitkan dengan apa yang baik dan apa yang jahat. Mungkin sekali narator dalam kisah ini tidak hendak berbicara tentang manusia yang jatuh dalam dosa, melainkan asal mula manusia mengenal kejahatan. Dan kalau kejahatan dianggap sebagai dosa, maka manusia (dan perempuan) dalam pasal tiga tidak jatuh dalam dosa, melainkan manusia atas kemauannya sendiri mau mengenal kejahatan, selain kebaikan. Pengenalan itulah yang kemudian memungkinkan manusia jatuh dalam dosa. Karena pengenalan akan baik dan jahat itulah manusia menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah dosa. Namun sebelum memakannya mereka tidak menyadari bahwa pelanggaran mereka adalah dosa. Di sini saya menangkap narator hendak mengatakan bahwa buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat itulah yang menyebabkan manusia berdosa, dan bukan terutama karena pelanggarannya.
Kepada ular ada alasan TUHAN menghukum, yaitu karena ular telah memperdayakan perempuan , maka ular harus dihukum (ayat 13, 14). Hukuman bagi ular memperlihatkan pengetahuan narator yang melebihi pembaca, bahwa sebenarnya ular ketika di taman eden tidak seperti sekarang yang melata dan menjalar dengan perutnya, sehingga mulut langsung berhadapan dengan tanah dan akibatnya banyak debu tanah yang harus masuk dalam mulutnya. Karena ulahnya pada perempuanlah ia harus mengalami hukuman itu. Bahkan akibat ulahnya, permusuhan antara ular dengan umat manusia (keturunan perempuan) tetap abadi. Perhatikan, bahwa dalam menggambarkan ular, narator tidak pernah sekalipun menghubungkannya dengan iblis, namun kenyataannya narator-narator yang lain dalam kisah-kisah yang lain memang ada yang menghubungkannya. Oleh beberapa penafsir hal ini kemudian dihubungkan dengan janji TUHAN akan kehadiran Juru Selamat, sehingga hukuman ini dianggap mengandung “Janji Induk” (Dalam hal ini tafsir narasi belum dapat memberikan tanggapannya).
Kepada perempuan TUHAN tidak memberikan alasan, mungkin karena alasan sudah jelas sebagaimana diakui perempuan secara tidak langsung (ayat 13). Ia mengakui bahwa ia telah makan buah (ayat 13) dan telah mengajak suaminya untuk makan buah (ayat 12), tapi akibat tipu muslihat ular. Perempuan dihukum sehubungan dengan pengetahuan yang didapatnya, yaitu berhubungan dengan ketelanjangan. Logikanya: ketika makan pengetahuan yang baik dan yang jahat mereka mengerti ketelanjangan. Dan ini berhubungan dengan pengantar narator dalam pasal 2:24,25, menjadi satu daging dengan penjelasan: telanjang; dan perintah TUHAN dalam pasal 1:28, beranak cucu dan bertambah banyak memenuhi bumi. Aneh juga perintah beranak cucu justru dapat direalisasikan ketika manusia menyadari bahwa mereka telanjang, dan ini terjadi justru akibat mereka melanggar perintah TUHAN?! (Ini tentu bisa diperdebatkan). Yang jelas beranak cucu bagi perempuan bukanlah suatu hukuman. Hukumannya adalah susah payah waktu mengandung dan kesakitan waktu melahirkan, namun meski sakit perempuan tidak dapat menghindar dari hal itu, karena (TUHAN menambahkan) perempuan akan berahi pada suaminya sebaliknya suami akan berkuasa atas dia (konsep narator jelas Patriakal sekali).
Kepada manusia TUHAN menyebutkan alasan hukuman, yaitu karena manusia lebih mendengarkan perkataan perempuan, istrinya daripada menjaga larangan TUHAN. Mengusahakan tumbuhan yang dulu bukan merupakan hukuman, sekarang menjadi hukuman bagi manusia. Hukumannya adalah pekerjaan itu menjadi lebih berat karena tanah menjadi lebih sulit untuk diolah. Hal itu harus dikerjakan sampai manusia menjadi tanah. Di sini kita baru melihat hubungannya dengan kematian. Ada batas hidup bagi manusia, yang semula tidak pernah disinggung oleh TUHAN. Inilah kematian yang disinggung oleh TUHAN dalam laranganNya.
Dalam penjelasan TUHAN mengapa manusia dihukum kita bisa melihat kekecewaan TUHAN pada keputusan manusia (ayat 17), namun lihat yang dihukum sebenarnya siapa, manusia atau tanah? Hukuman memang tidak secara langsung ditujukan pada manusia, namun mengingat manusia sendiri dibentuk dari debu tanah tampaknya secara tidak langsung manusia juga dikutuk. Saya melihat TUHAN juga prihatin pada manusia akibat kegagalan manusia menjaga larangan dan lebih menuruti perkataan istrinya, sehingga hukuman tidak jauh-jauh dari tugas pemelihara kehidupan (sebagaimana di taman Eden), hanya saja tugasnya semakin berat. Hal itu harus dilakukan manusia sampai akhir hidupnya.
TUHAN juga melihat konsekuensi dari kesadaran telanjang manusia adalah rasa malu dan bahaya kedinginan sehingga Ia membuat pakaian (bisa dimengerti sebagai usaha mengajarkan cara membuat pakaian) dari kulit binatang.
Narator kemudian memperlihatkan ada nada positif, sekaligus khawatir yang diungkapkan oleh TUHAN. Nada positif kita lihat ketika TUHAN beranggapan bahwa dalam hal pengetahuan yang baik dan yang jahat, manusia sama dengan TUHAN. Nada khawatir dapat kita lihat ketika TUHAN tidak mau manusia hidup selama-lamanya. Ada cara bagi manusia untuk hidup selama-lamanya, yaitu dengan makan buah pohon kehidupan. Bila manusia masih ada di Eden, maka bisa jadi hal yang dicemaskan TUHAN akan terjadi, sehingga manusia dan istrinya harus diusir keluar dari taman Eden, dan jalan menuju ke Eden di jaga oleh Kerub.
5. Penutup
Narasi Kejadian 3 : 1 – 24 harus difahami sebagai narasi yang tidak secara jelas berbicara tentang dosa. Makna dosa harus digali dengan lebih teliti ke dalam teks, dan itupun hasilnya adalah berbagai kemungkinan tentang makna dosa itu sendiri. Bila memperhatikan uraian narator dalam kisah yang dituturkannya fakta yang disampaikan jelas, bahwa manusia melanggar perintah TUHAN. Namun perlu difahami bahwa pelanggaran itu di luar pengetahuan mereka akan apa yang jahat. Maka setelah mereka melanggar perintah dengan memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat manusia mengerti bahwa apa yang mereka lakukan adalah jahat. Karena manusia telah mengenal apa yang jahat, maka umat manusia berpotensi untuk melakukan yang jahat. Karena potensi berbuat jahat ini, maka TUHAN menutup kemungkinan manusia untuk mengalami hidup kekal dengan makan buah pohon kehidupan. Akhirnya selain hukuman yang sudah disebut TUHAN, manusia harus diusir dari Eden agar tidak makan buah dari pohon kehidupan. Pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat ini kemudian juga dimiliki seluruh keturunan Adam dan Hawa.
TEOLOGI
Tulisan yang bsgus dan menarik. Hanya saya bertanya-tanya. Apakah dengan melihat yang baik manusia tidak tahu(bukan tidak mampu)akan yang jahat?
Comment by Hery Santoso — February 11, 2009 @ 8:48 pm