FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

May 29, 2007

SUMBANGAN KARAKTERISTIK EKONOMI-BISNIS TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN GEREJA

Filed under: Teologi Ekonomik — admin @ 9:47 pm

Tinjauan Terhadap HKBP Yogyakarta
Karya: Ance M. D. Sitohang, kategori: Pilihan Mahasiswa

Pendahuluan
Menarik bagi saya untuk mengangkat topik ini sebagai bahan paper akhir saya. Berbicara tentang ekonomi-bisnis tidaklah asing bagi kita, kita sering mendengar tentang perilaku bisnis mulai dari skala kecil sampai ke skala besar, apakah itu melalui media massa maupun elektronik, bahkan perilaku-perilaku bisnis sangatlah akrab dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun, sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, Ilmu ekonomi-bisnis sangat jarang diangkat menjadi topik yang menarik untuk disampaikan atau didiskusikan di tengah-tengah jemaat, berbeda dengan topik-topik lain, misalnya berbicara tentang budaya, hukum, politik, dan lain sebagainya. Kalaupun kadang-kadang dalam kotbah menyinggung sedikit tentang ekonomi, terbatas pada persembahan. Padahal ada banyak nilai-nilai ekonomi-bisnis yang dapat dipelajari dan dikembangkan dalam sebuah pelayanan. Dalam hal ini penulis menyoroti gereja HKBP khususnya HKBP Yogyakarta.
Dari kondisi di atas, akhirnya muncul berbagai pertanyaan di benak saya, apakah memang perilaku bisnis ini tidak menyentuh kehidupan gereja itu sendiri? Atau benarkah gereja sendiri tidak berbisnis? Saya kira tidak, HKBP khususnya Yogyakarta jelas-jelas melakukan bisnis. Hal ini dapat kita lihat dengan berdirinya gedung sopo godang yang dapat disewakan untuk menambah kas gereja, dalam hal manajement keuangan, dan lain sebagainya. Atau gereja itu memang tidak tahu apa sesungguhnya bisnis, gereja sudah terkecoh dengan asumsi umum yang menyatakan bahwa “ekonomi dan bisnis itu kotor. Sehingga gereja yang menganggap dirinya suci menjauhkan diri dari kenajisan? Dan akhirnya gereja kurang memberi respon terhadap persoalan-persoalan ekonomi–bisnis yang sesungguhnya sangat menyentuh kehidupan jemaat.

Dalam paper ini penulis mencoba untuk mendeskripsikan bisnis secara umum dan bagaimana sumbangan karakteristik bisnis dapat meningkatkan kualitas pelayanan gereja, dengan melihat potret pelayanan HKBP Yogyakarta secara umum.

Bisnis atau Pembodohan?
Menurut perkataan orang, ekonomi dan bisnis bukanlah untuk orang-orang jujur, saleh dan bermoral. Pada hakekatnya, begitu kata mereka, ekonomi dan bisnis itu kotor. Asumsi orang terhadap pernyataan “ekonomi dan bisnis itu kotor” membuat penulis tergelitik untuk melihat nilai-nilai bisnis yang ada dalam dunia bisnis. Benarkah ekonomi bisnis itu selalu kotor? Hal ini menjadi pertanyaan yang kontroversial bagi kita, di satu sisi kita melihat bagaimana prilaku ekonomi-bisnis di tengah-tengah masyarakat kita yang mau tidak mau mempengaruhi kita untuk beranggapan bahwa bisnis itu adalah kotor. Contoh-contoh perilaku ekonomi-bisnis yang kotor sangatlah akrab dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, ketika kita beli sesuatu di pasar, para pedagang mencuri timbangan. Jeruk satu kilo disulap menjadi sembilan ons, duku-duku yang busuk diselipkan di antara yang baik dan menarik, ada saja akal licik mereka. Belum lagi keluhan kita yang merasa tertipu, sebab harus membayar yang lebih mahal untuk membeli sebuah barang yang di toko sebelah ternyata hanya 800 ratus rupiah, dan banyak contoh-contoh lainnya. Contoh-contoh yang penulis utarakan masih contoh-contoh yang berskala kecil, di skala yang besar kita bisa melihat sampai ke perilaku korupsi. Bahkan di tingkat yang lebih tinggi, yang terjadi bukan hanya menipu, tapi juga membunuh bila perlu.
Sementara itu istilah ekonomi berasal dari bahasa Yunani, oikonomia. “Oikonomia”, ekonomi rumah tangga, sebagai sesuatu yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pokok anggota rumah tangga dan masyarakat secara keseluruhan (koinonia, polis). Ini berarti bahwa tujuan utama dari ekonomi yang wajar adalah memenuhi kebutuhan pokok manusia. Bisnis terdiri dari semua aktivitas yang bertujuan mencari laba dan perusahaan yang menghasilkan barang serta jasa yang dibutuhkan oleh sebuah sistem ekonomi. Dari istilah di atas dapat dilihat bahwa dengan pemenuhan kebutuhan manusia dan usaha-usaha yang dilakukan dalam pemenuhan kebutuhan tersebut, sampai manusia dapat merasa puas ketika kebutuhannya terpenuhi. Manusia tidak pernah merasa puas, maka perilaku ekonomi bisnis semakin meningkat, dari hal yang sangat sederhana, yaitu pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan sampai kepada pemenuhan kebutuhan yang sangat kompleks.
Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa kotor tidaknya ekonomi-bisnis tergantung bagaimana orang memandang dan bersikap terhadap bisnis itu sendiri. Ekonomi bisnis akan menjadi kotor jika orang terlalu tamak dan tidak bertanggungjawab terhadap perilaku bisnis, dan sebaliknya jika orang beranggapan bahwa ekonomi-bisnis adalah positip, berarti dia memandang dan bersikap secara bertanggungjawab dalam perilaku bisnis.
Asumsi ini, seakan-akan menggejala di dalam kehidupan gereja. Gereja HKBP secara keseluruhan sangat jarang berbicara tentang perilaku bisnis kepada jemaatnya, baik itu melalui kotbah, PA, pembinaan-pembinaan kepada jemaat, dan melalui kegiatan lainnya. Padahal dalam pengembangan kualitas pelayanannya, gereja HKBP sebaiknya banyak belajar dari dunia bisnis.

Gambaran Pelayanan HKBP Yogyakarta secara Singkat
HKBP Yogyakarta dalam usianya yang ke-60, berusaha untuk mengerjakan tugas pelayananya sesuai dengan tugas panggilan gereja. Dalam menentukan gerak pelayanan, HKBP Yogyakarta mengadopsi secara utuh visi dan misi HKBP secara global, tanpa menyederhanakan visi dan misi itu sesuai dengan konteks Yogyakarta. Banyak misi yang telah dilakukan melalui program-program gereja yang dilakukan, tetapi program tersebut hampir sama dari tahun ke tahun. Dalam artian gereja kurang inovatif, kurang berani mencoba hal-hal yang baru, kurang kreatif. Padahal jemaat HKBP Yogyakarta sangat berpotensi untuk melakukan perubahan-perubahan yang baru demi peningkatan pelayanan geraja.
Ada banyak kegiatan-kegiatan gereja yang monoton, misalnya tata ibadah gereja. Dari mulai saya lahir sampai sekarang dan dari beberapa gereja HKBP yang sudah saya ikuti, tata ibadahnya tidak berubah dan sama bentuknya. Pelayanan yang dilakukan, mulai dari hal-hal yang terkecil, khususnya di HKBP Yogyakarta, misal dalam hal penerima tamu, penyajian warta, sambutan majelis kepada jemaat, dilakukan dengan kurang kreatif. Dari minggu ke minggu penyajiannya sama. Gereja kurang memberdaya potensi-potensi yang ada di tengah-tengah jemaat. Dalam hal persiapan song leader kurang dipersiapkan dengan sungguh-sungguh dan kurang serius, termasuk para pelayan yang akan melayani di dalam kategorial-kategorial yang ada. Gereja kurang mampu menawarkan permintaan pasar, kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan jemaat, sehingga ada kesan bahwa pemuda/i HKBP yang merantau ke Jogja tidak beribadah di gereja HKBP (gereja asal) dengan alasan pelayanan di HKBP tidak menarik, dan tidak ada kebebasan dan wadah untuk berkreasi. Bahkan ada jemaat gereja itu sendiri yang “jajan” ke gereja lain. Kondisi yang sangat menyedihkan. Melihat kondisi yang seperti ini, timbul pertanyaan, apakah gereja memiliki konsep pelayanan yang menyatakan: “wong yang kita lakukan pelayanan koq, ketika mampu dan ada waktu, ya kita kerjakan”. Atau adanya kepuasan bagi gereja itu sendiri dengan merasa bahwa tradisi gereja yang sekarang sudah dianggap baik sehingga tidak perlu lagi melakukan perubahan. Tentu untuk mengetahui kebenarannya, perlu dilakukan suatu penelitian. Tidak adanya keseriusan dan kesungguhan dan semangat untuk melakukan transformasi dalam sebuah pelayanan mengakibatkan pelayan stagnan, sehingga gereja tidak mampu untuk melakukan transformasi ke luar.
Dari kondisi di atas, gereja HKBP sebaiknya belajar dari perilaku bisnis, yang selalu berusaha untuk mengembangkan diri sampai akhirnya tujuan bisnis tersebut tercapai.

Karakteristik Dunia Bisnis yang dapat Dibagikan kepada Gereja
Hakekat dari ekonomi adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kebutuhan mampu menjadi daya dorong untuk vitalitas, produktivitas, kemajuan, dan keberhasilan. Perilaku ekonomi-bisnis jika dilakukan secara bertanggungjawab sangat bernilai positip, baik untuk dunia bisnis sendiri (pribadi dan masyarakat) maupun semangat yang ditawarkan terhadap aspek-aspek kehidupan lainnya.
Dari dunia bisnis dapat dilihat bagaimana kualitas seorang bisnis. Seorang bisnis harus kreatif, inofatif (berorientasi pada perubahan), kerja keras, fleksibel, komitmen terhadap misi agar mampu untuk bersaing. Dengan semangat inovatifnya, untuk mencapai tujuan, seorang bisnis siap melakukan terobosan-terobosan baru sekalipun dengan segala konsekuensi yang akan dihadapi. Pilzer menyatakan bahwa kegagalan awal biasanya justru memberikan kesempatan yang kita cari Entrepreneur (wirausaha) adalah seseorang yang menyukai perubahan, melakukan berbagai temuan yang membedakan dirinya dengan yang lain, menciptakan nilai tambah, memberikan manfaat bagi dirinya dengan orang lain, karyanya dibangun berkelanjutan (bukan sekedar sesaat) dan dilembagakan agar dapat bekerja dengan efektif di tangan orang lain. Winarto menyatakan ada lima ciri seorang entrepreneur unggulan (excellent entrepreneur) yaitu :
1. Berani mengambil risiko
Artinya berani memulai sesuatu yang serba tidak pasti dan penuh risiko. Dalam hal ini, tentu tidak semua risiko yang diambil, melainkan hanya risiko yang telah diperhitungkan secara cermat.
2. Menyukai tantangan
Segala sesuatu yang dilihat sebagai tantangan bukan masalah. Perubahan yang terus terjadi dan zaman yang serba edan menjadi motivasi kemajuan, bukan menciutkan nyali seorang entrepreneur unggulan. Dengan demikian, seorang entrepreneur akan terus memacu dirinya untuk maju, mengatasi segala hambatan.
3. Punya daya tahan yang tinggi
Seorang entrepreneur harus banyak akal (bukan akal-akalan) dan tidak mudah putus asa. Ia harus selalu mampu bangkit dari kegagalan dan tekun.
4. Punya visi jauh ke depan
Segala yang dilakukan punya tujuan jangka panjang meski dimulai dengan langkah yang amat kecil. Ia punya target untuk jangka waktu tertentu. Usahanya bukan karena latah (ikut-ikutan).
5. Selalu berusaha memberikan yang terbaik
Entrepreneur akan mengarahkan semua potensi yang dimilikinya. Jika hal itu dirasa kurang, ia akan merekrut orang-orang yang lebih berkompeten agar dapat memberikan yang terbaik kepada pelanggannya.
Jadi bagi seorang bisnis inovasi dan keberanian untuk mengambil risiko sangat penting. Inilah yang membuat seorang bisnis selalu tampil dengan gagasan-gagasan yang baru, orang yang kreatif.
Dalam dunia bisnis prinsip-prinsip efisiensi, produktivitas, informasi, manajemen keuangan juga diperhatikan. Perusahaan bertanggungjawab untuk mengetahui atau melakukan penelitian berkaitan dengan kemungkinan bahwa produknya dalam suatu masa dapat merugikan konsumen. Untuk maksud tersebut, perusahaan harus mempertimbangkan latar belakang kesadaran dan pendidikan dari konsumennya, yaitu apakah mampu untuk melakukan pilihan-pilihan atas produksi yang baik ataukah tidak. Masing-masing harus diantisipasi oleh sebah perusahaan. Perusahaan mempunyai tanggung jawab untuk memperlihatkan potensi dan produksinya.

REFLEKSI TEOLOGIS
Dalam proses penciptaan, Allah juga berjuang untuk menciptakan semua ciptaannya. Sebelum proses penciptaan, ada khaos sebelum penciptaan (ada sesuatu sebelum, tidak kosong melompong) sebelum penciptaan Padang gurun belantara (tohu wabohu), gelap (khosyek), samudera raya (tehom) dan air (mayim) adalah wujud material. Wujud-wujud ini bermaknajan kekosongan, tetapi tidak lalu berarti mereka tidak ada. Mereka ada, namun sebagai wujud pra penciptaan. Ketika Allah menciptakan, wujud-wujud material yang praeksis ini diolah kembali menjadi benda-benda ciptaan. Dalam proses penciptaan, Allah pun berjuang untuk menciptakan bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Allah dengan kreatif untuk membuat, memisahkan, menata, menamai, membentuk dan membangun segala sesuatu yang telah ada dalam pra penciptaan menjadi tercipta secara sempurna.
Dalam hal ini Allah menunjukkan teladannya untuk melakukan inovasi, lebih kreatif, mampu untuk berjuang, bekerja keras untuk memperoleh sesuatu hal yang lebih baik dalam kehidupan manusia.
Allah adalah Pencipta yang memiliki dan memerintah atas seluruh alam ciptaan. Allah mempercayakan alam ciptaan itu kepada manusia. Manusia adalah makhluk utama yang diberi mandat untuk memelihara, menaklukkan dan memerintah alam ciptaan. Dengan akal budi pekerti manusia dianugerahi Allah untuk mengerjakan tugas yang telah dimandatkan kepada manusia. Dalam hal ini manusia diberi kemampuan untuk berinovatif, kreatif, bekerja keras, berjuang untuk mengubah sesuatu hal ke arah yang lebih baik, sehingga manusia dapat memenuhi kebutuhannya di tengah-tengah dunia ini, sebagaimana yang telah diterapkan dalam dunia ekonomi dan bisnis. Gereja termasuk bagian dari ciptaan Tuhan, milik Tuhan. Oleh karena itu gereja diharapkan mampu untuk berinovatif, kreatif, bekerja keras, berjuang untuk mengubah sesuatu hal ke arah yang lebih baik, untuk meningkatkan kualitas pelayanan.
Meeks menjelaskan kebebasan dari peristiwa keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir. Peristiwa keluaran sangatlah penting dalam sejarah Israel. Melalui peristiwa ini Allah memperlihatkan kebajikan-Nya dengan membebaskan umat Israel dari kuasa maut, yakni perbudakan. Peristiwa ini sekaligus memperlihatkan bagaimana Allah mengelola rumah tangga Israel yang sebelumnya dikuasai oleh ekonomi Firaun (perbudakan) untuk beralih kepada ekonomi Allah (kemerdekaan). Berdasarkan penghayatan terhadap ekonomi Allah yang membebaskan dari narasi keluaran, umat Israel merefleksikan bahwa Allah yang sama adalah Allah yang menciptakan segala sesuatunya: dari sesuatu yang nihil, hampa, dipenuhi nuansa maut, chaos ke dunia yang baik. Begitu pula dengan manusia yang diciptakan dalam rupa Allah –sebagai Ekonom- dan memiliki keistimewaan dibanding ciptaan yang lainnya terjadi berdasarkan pengaturan ekonomi Allah.
Tindakan kebajikan Tuhan juga dapat dilihat dari peristiwa kebangkitan yang dinarasikan dalam perjanjian baru. Dengan Roh kebajikan-Nya, Allah Bapa memanggil sang Anak keluar dari perbudakan maut. Allah yang bangkit dalam diri Yesus kemudian dihayati sebagai Ekonom yang mengaruniakan kehidupan bagi orang-orang yang mati (Roma 4:17). Kebangkitan Yesus ini bukanlah sebuah peristiwa yang bersifat pribadi, tetapi menghasilkan dampak bagi seluruh rumah tangga; kebangkitan-Nya menjadi awal mula “ciptaan yang baru” yang hidup dalam oikos yang baru pula. Oleh gereja, pengorbanan ekonomik Allah dapat dihayati dengan cara bagaimana gereja mengelola jemaat dan potensi yang ada dalam jemaat tersebut, sehingga jemaat mendapatkan kebebasan, kepuasan, kehidupan yang baru melalui pelayanan gereja. Melalui pelayanan gereja, jemaat dapat merasakan kasih Allah yang membebaskan.

PENUTUP
Dari karakteristik dunia bisnis, gereja diharapkan belajar dari prilaku bisnis dan mampu untuk mengadopsi nilai-nilai yang terdapat dalam dunia bisnis dalam mengembangkan kualitas pelayanan gereja. Gereja hendaknya bersahabat dengan dunia bisnis, bukan berarti gereja harus terjun langsung sebagai pelaku-pelaku bisnis, melainkan gereja mampu untuk melihat nilai-nilai positip yang disumbangkan oleh dunia bisnis dan sebaliknya gereja dapat menyumbangkan nilai-nilai kekristenan dalam perilaku bisnis. Gereja HKBP sebagai gereja Tuhan sebaiknya berusaha untuk membuka diri, melakukan inovasi dengan memberdayakan potensi-potensi yang ada di tengah-tengah jemaat, produktif, mempersiapkan suatu pelayanan dengan sungguh-sungguh/serius dan kretif, memberikan yang terbaik bagi pelayanan, sehingga jemaat dapat menikmati kasih Tuhan. Gereja mampu menolong jemaat untuk merasakan kasih Tuhan dalam setiap pergumulan hidup yang dialami oleh jemaat. Memang tidak gampang untuk melakukan pembaharuan, namun, jika gereja ingin bertumbuh, gereja harus mau membuka diri terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi dan mampu untuk berbenah diri.
Oleh sebab itu, gereja juga bertanggungjawab untuk memperkenalkan dunia bisnis kepada jemaat, apakah itu melalui tema-tema kotbah yang berhubungan dengan dunia bisnis atau melalui diskusi-diskusi, bahkan melalui pembinaan-pembinaan kepada jemaat, sehingga jemaat tidak merasa asing dengan dunia bisnis dan jemaat tidak beranggapan bahwa dunia bisnis itu kotor. Sehingga jemaat mampu untuk melihat dan mengembangkan nilai-nilai positip yang ditawarkan dalam dunia bisnis untuk mengembangkan potensi jemaat yang bermanfaat bagi pribadi jemaat dan juga peningkatan kualitas pelayanan. Di sisi lain, gereja juga mampu untuk memberikan sumbangan bagi dunia bisnis, sehingga gereja mampu untuk melakukan transformasi ke luar.

1 Comment »

  1. HKBP Yogyakarta, sebuah gereja yang bisa dikatakan sudah tua, namun sayangnya tidak sedewasa umurnya… Saya setuju dengan opini anda, terlalu monoton dan tidak adanya kekreatifan dari majelis sendiri. Saya melihat mereka masih sangat mengikuti apa kata pusat. Terlebih lagi Ompu Ephorus kita sekarang dijuluki beberapa komuniti adalah “Penjaga Gerbang Konservatif HKBP & Penjaga Tradisional HKBP” sehingga efeknya sampai ke akar bawah. HKBP Jogja yang menampung banyak mahasiswa juga ternyata tidak bisa kreatif, dan bener banyak yang ‘jajan’ di gereja lain sama seperti saya, klo bosan di hkbp yahh kemana-mana. Tapi, kita juga sebenarnya dihimpit oleh suatu kesukaran, setahu saya HKBP YK pernah melakukan pelayanan dengan full band, tapi akhirnya banyak yang pulang dan mengira bahwa HKBP YK telah berubah menjadi karismatik. Penerimaan dari jemaat juga masih ada yang belum menerimanya. Bisnis di gereja juga tidak salah, asalkan benar2 dilakukan dengan benar dan adanya transparansi keuangan dalam hal bisnis tersebut, karena banyak sekali dari yang namanya ‘uang’ berakhir perpecahan. GBU

    Comment by jimy — December 20, 2007 @ 5:49 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress