<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/wordpress-mu-1.2.1" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: SUMBANGAN KARAKTERISTIK EKONOMI-BISNIS TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN GEREJA</title>
	<link>http://forumteologi.com/blog/2007/05/29/sumbangan-karakteristik-ekonomi-bisnis-terhadap-peningkatan-kualitas-pelayanan-gereja/</link>
	<description>Karya tulis Anda menghidupkan kami</description>
	<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 16:51:15 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=wordpress-mu-1.2.1</generator>

	<item>
		<title>By: jimy</title>
		<link>http://forumteologi.com/blog/2007/05/29/sumbangan-karakteristik-ekonomi-bisnis-terhadap-peningkatan-kualitas-pelayanan-gereja/#comment-1557</link>
		<author>jimy</author>
		<pubDate>Thu, 20 Dec 2007 12:49:29 +0000</pubDate>
		<guid>http://forumteologi.com/blog/2007/05/29/sumbangan-karakteristik-ekonomi-bisnis-terhadap-peningkatan-kualitas-pelayanan-gereja/#comment-1557</guid>
		<description>HKBP Yogyakarta, sebuah gereja yang bisa dikatakan sudah tua, namun sayangnya tidak sedewasa umurnya... Saya setuju dengan opini anda, terlalu monoton dan tidak adanya kekreatifan dari majelis sendiri. Saya melihat mereka masih sangat mengikuti apa kata pusat. Terlebih lagi Ompu Ephorus kita sekarang dijuluki beberapa komuniti adalah "Penjaga Gerbang Konservatif HKBP &#38; Penjaga Tradisional HKBP" sehingga efeknya sampai ke akar bawah. HKBP Jogja yang menampung banyak mahasiswa juga ternyata tidak bisa kreatif, dan bener banyak yang 'jajan' di gereja lain sama seperti saya, klo bosan di hkbp yahh kemana-mana. Tapi, kita juga sebenarnya dihimpit oleh suatu kesukaran, setahu saya HKBP YK pernah melakukan pelayanan dengan full band, tapi akhirnya banyak yang pulang dan mengira bahwa HKBP YK telah berubah menjadi karismatik. Penerimaan dari jemaat juga masih ada yang belum menerimanya. Bisnis di gereja juga tidak salah, asalkan benar2 dilakukan dengan benar dan adanya transparansi keuangan dalam hal bisnis tersebut, karena banyak sekali dari yang namanya 'uang' berakhir perpecahan. GBU</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>HKBP Yogyakarta, sebuah gereja yang bisa dikatakan sudah tua, namun sayangnya tidak sedewasa umurnya&#8230; Saya setuju dengan opini anda, terlalu monoton dan tidak adanya kekreatifan dari majelis sendiri. Saya melihat mereka masih sangat mengikuti apa kata pusat. Terlebih lagi Ompu Ephorus kita sekarang dijuluki beberapa komuniti adalah &#8220;Penjaga Gerbang Konservatif HKBP &amp; Penjaga Tradisional HKBP&#8221; sehingga efeknya sampai ke akar bawah. HKBP Jogja yang menampung banyak mahasiswa juga ternyata tidak bisa kreatif, dan bener banyak yang &#8216;jajan&#8217; di gereja lain sama seperti saya, klo bosan di hkbp yahh kemana-mana. Tapi, kita juga sebenarnya dihimpit oleh suatu kesukaran, setahu saya HKBP YK pernah melakukan pelayanan dengan full band, tapi akhirnya banyak yang pulang dan mengira bahwa HKBP YK telah berubah menjadi karismatik. Penerimaan dari jemaat juga masih ada yang belum menerimanya. Bisnis di gereja juga tidak salah, asalkan benar2 dilakukan dengan benar dan adanya transparansi keuangan dalam hal bisnis tersebut, karena banyak sekali dari yang namanya &#8216;uang&#8217; berakhir perpecahan. GBU</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
