RELEVANSI KESADARAN SEJARAH DALAM TEOLOGI
Karya:Antoni Manurung, Kategori: Pilihan Dosen
I.PENGANTAR.
Gadamer adalah seorang filsuf terkemuka yang telah banyak mempengaruhi perkembangan pendekatan hermeneutika sampai sekarang ini. Banyak ide dan pemikiran yang disampaikannnya, akan tetapi dalam makalah ini saya hanya membicarakan mengenai kesadaran sejarah dan relevansinya terhadap teologi.
Saya akan menjelaskan ide tentang kesadaran sejarah terlebih dahulu, kemudian teologi, relevansi diantara kedua-duanya menjadi bagian berikutnya. Selain untuk menjadi tugas akhir perkuliahan, saya berharaf makalah ini dapat memperkaya pemahaman kita bersama.
II.KESADARAN SEJARAH
Kita adalah mahluk yang hidup dalam sejarah, kita dipengaruhi dan juga turut mempengaruhi suatu sejarah. Sejarah dapat membentuk, memperkaya, memperkuat atau menolong kita untuk menemukan identitas kita. Sebaliknya, sejarah juga dapat mengaburkan banyak hal dalam kehidupan kita. Pada kenyataannya sejarah tidaklah statis, tetapi dinamis. Realitas sebagai produk sejarah dipahami sebagai sesuatu yang terus mengalir dan berubah. Apa yang kini dan di sini tidak dapat dipisahkan dari apa yang terjadi sebelumnya. Oleh karena itu kesadaran sejarah adalah sesuatu yang sangat diperlukan. Gadamer menyebut bahwa sejarah adalah saat dimana kita selalu dapat berefleksi diri.
Sebagai mahluk yang hidup dan dibentuk dalam sejarah, pemahaman kitapun tidak bisa lepas dari sejarah. Kita memahami suatu teks, peristiwa, situasi dan keadaan yang ada bukan dengan kesadaran yang kosong tetapi dengan pra-sangka tertentu yang sudah ada dalam diri kita. Kita tidak dapat melepaskan diri dari prasangka, karena kita terikat dengan dunia dimana kita hidup. Dalam hal ini, Gadamer menghargai tradisi dan otoritas.
Prasangka yang dibentuk oleh sejarah akan menolong kita untuk berpikir dan memungkinkan kita untuk memiliki pemahaman. Prasangka itu berfungsi seperti saringan yang menyebabkan kita bisa melihat atau memahami sesuatu atau tidak melihat dan tidak memahami sesuatu. Prasangka harus terbuka terhadap dunia yang ada di luar diri kita – apakah itu teks, peristiwa, situasi dan keadaan, atau pendapat. Keterbukaan itu perlu supaya prasangka tidak dijadikan sebagai suatu kebenaran yang diabsolutekan, tetapi memungkinkan kita untuk mengkritisinya, mana prasangka yang dapat diterima dan mana yang harus disingkirkan.
Dalam hal ini bisa terjadi penggabungan kedua cakrawala atau fusion of the two horizons. Penggabungan ini tidak berarti bahwa kita selalu akan menghasilkan sebuah campuran yang seimbang diantara cakrawala masa lalu dan cakrawala masa kini. Juga tidak berarti bahwa cakrawala masa kini akan mendominasi cakrawala masa lalu. Sebaliknya, yang dimaksud Gadamer adalah makna asli hanya dapat diperoleh melalui penggabungan (integrasi) kedua cakrawala. Gadamer mau menekankan interaksi diantara kedua cakrawala dan bukan mengenai dominasi satu cakrawala terhadap cakrawala yang lainnya. Yang dibicarakan adalah cakrawala yang bergerak meluas, cakrawala kita diperluas dalam pertemuan dengan yang lain, sehingga kita dapat memahami cakrawala yang lain itu melalui cakrawala kita. Dalam penggabungan kedua cakrawala itu, maka yang baru dengan yang lama membentuk sebuah proses komunikasi yang dibangun lewat dialog. Dialog yang memungkinkan setiap pihak saling menentukan satu sama lain. Dalam interaksi demikian setiap pihak saling mengubah supaya kebenaran dapat ditemukan.
Kesadaran sejarah tidak hanya menerima begitu saja peristiwa atau teks masa lampau, tetapi berefleksi atasnya, merefleksikannya dalam konteks dimana ia berakar, dalam rangka mencari makna-makna dan nilai-nilai yang berhubungan dengannya. Bentuk refleksi seperti ini disebut interpretasi. Kita tidak hanya menginterpretasi peristiwa sejarah tetapi juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Tentu nilai-nilai itu akan diaplikasikan terhadap situasi tertentu, sebab aplikasi adalah suatu bagian yang penting dan menentukan. Objek dari aplikasi kita, menentukan dari awal dan dalam keseluruhan kenyataan serta isi konkret pemahaman hermeneutis. Karena itu tugas hermeneutis terutama berada diantara yang “familiar’ dan “asing”. Fungsinya adalah untuk membangun hubungan makna teks terhadap suasana kekinian. Hermeneutika tidak hanya sekedar sebagai upaya untuk masuk ke dalam suatu dunia lain, tetapi untuk menjangkau jarak antara teks dan situasi kekinian. Hermeneutika tidak hanya merupakan penjelasan apa yang dimaksud oleh teks dalam dunianya sendiri tetapi juga apa yang dimaksudkannya dalam moment kekinian kita.
Seorang penafsir tidak bisa tidak akan terikat dalam konteks sejarah tempat ia berpijak. Karena itu penafsir harus terbuka untuk masalampau, kini bahkan yang akan datang. Sebab makna dari sebuah karya bagi kita adalah produk integrasi horizon kekinian kita sendiri dan horizon karya tersebut. Dengan demikian proses hermeneutika yang kita lakukan tidak hanya sekedar merekonstruksi atau mendekonstruksi masalampau, tetapi merupakan suatu upaya kreatif dan kritis untuk memproduksi makna yang aplikatif.
Dalam pemahaman hermeneutika seperti itu, kita menemukan relasi dialogis antara masa lampau dan masa kini. Apa yang menjadi “milik saya” ditransformasikan ke dalam suatu bentuk baru melalui relasi dialogis dengan milik yang lain. Di sini ada kesatuan antara “milik saya” dengan “yang lain” yang kemudian menjadi suatu pemahaman yang baru dan otentik. Dalam hal ini objek sejarah adalah kesatuan antara yang satu dengan yang lain. Realitas demikian dipahami sebagai produktifitas sejarah- mengefektifkan hubungan masa lalu dan sekarang sebagai jalan menemukan kebenaran
III.TEOLOGI.
Teologi (Yunani Theos = Tuhan ; logos = Ilmu) adalah ajaran atau ilmu tentang Allah, yang secara metodis dan ilmiah menguraikan dan menerangkan wahyu ilahi. Teologi tidak pernah hanya bersifat teoritis saja melainkan selalu bercorak pewartaan dan eksistensial (menyangkut kehidupan manusia ) Teologi mencakup pengetahuan tentang ke-Tuhanan, dalam hal ini menyangkut mengenai sifat-sifat Allah, dasar-dasar kepercayaan kepada Allah dan agama, terutama berdasarkan pada kitab-kitab suci yang ada
Teologi juga dapat didefenisikan sebagai keseluruhan pengetahuan adikodrati yang objektif lagi kritis yang disusun secara metodis, sistematis dan koheren. Pengetahuan ini menyangkut hal-hal yang diimani sebagai wahyu Allah atau berkaitan dengan wahyu itu. Hal-hal tersebut adalah, Pertama sebagai pengetahuan adikodrati- kebenaran yang dicari teologi, yang diuraikan dan direnungkan olehnya bukanlah kebenaran yang dapat dibuktikan secara empiris, bukan pula kebenaran yang dengan sendirinya jelas karena masuk akal, melainkan kebenaran yang diterima dalam iman berdasarkan wahyu Allah. Apa yang diwahyukan Tuhan itu diterima manusia dalam iman karena Tuhan yang menyatakannya. Kedua sifat ilmiah teologi tampak dari cara si teolog mengadakan penyelidikannya. Secara metodis dicarilah kebenaran mana yang diwahyukan dan apa wahyu itu sebenarnya. Dalam hal ini teolog tidak bisa hanya bersikap pasif saja terhadap wahyu yang ada, tetapi harus dapat bersikap active untuk mengexsplorasi makna dan kebenaran yang terkandung di dalamnya. Ketiga, karena teologi sebagai ilmu yang mempelajari wahyu Allah, maka objek material teologi adalah apa yang diwahyukan oleh Allah. Wahyu itu sampai kepada manusia yang kemudian direnungkan tidak lepas dari peran sejarah. Wahyu yang kita terima dan yakini itu bertumbuh dan berkembang di dalam sejarah umat manusia. Sejarah yang tidak berada dalam kevakuman, tetapi di dalamnya ada situasi dan konteks yang berbeda-beda. Karena itu refleksi atas iman itu dapat beraneka ragam, karena tergantung dari orang, situasi dan zamannya. Ini tidak hanya sekedar menunjukkan adanya differensiasi, tetapi sekaligus menunjukkan adanya kedinamisan teologi yang selalu memberikan kemungkinan untuk memberi nilai-nilai reflektif dalam sejarah hidup manusia. Teologi yang dapat memberikan respon terhadap situasi dan persoalan-persoalan yang terjadi dalam sejarah kehidupan manusia.
Ada beberapa unsur yang menjadi perhatian dalam teologi, diantaranya adalah memperhatikan Alkitab yang berisi Firman Allah dan manusia yang menerimanya. Firman Allah harus diperdengarkan terus menerus dalam setiap situasi. Dalam hal ini teologi melalui para teolognya diharapkan dapat memberikan pemahaman teologis yang tepat. Oleh karena itu concern para teolog tidak saja hanya tertuju terhadap teks alkitab yang sudah ada di masa yang lampau, teolog juga harus menaruh concern dengan masa kini. Obyek ilmu teologi adalah hubungan dialogis antara Firman Allah dengan konteks manusia
Dalam teologi hubungan timbal balik antara alkitab dan konteks merupakan dua hal yang harus diperhatikan. Apakah itu konteks pribadi, masyarakat, bangsa, gereja, lokal, global dan sebagainya. Setiap konteks mempunyai segi-segi yang berbeda; psikologis, sosial budaya, agama, ekonomi, politik dan seterusnya. Hubungan antara alkitab dengan konteks disebut hubungan timbal balik karena di dalamnya berlangsung proses saling belajar, bertanya dan saling menjawab. Kedua hal ini merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Dalam hubungan timbalbalik ini, pada satu sisi alkitab turut menentukan sikap dan pandangan kita kita terhadap konteks. Pada sisi yang lain konteks turut menentukan pemahaman kita tentang Alkitab, konteks kita sekarang mempengaruhi pemahaman kita terhadap alkitab
Dalam teologi kita selalu bergumul supaya amanat alkitab dapat menjadi nyata dalam konteks. Kita bergumul supaya kabar baik yang terdapat dalam alkitab dapat menjadi nyata di dalam konteks. Bagaimana supaya teks yang ada di masa lampau dapat bermakna terhadap situasi kini. Sebab tanpa hal itu terjadi, teologi yang kita bangun hanya akan menjadi sia-sia belaka. Dalam menjawab pergumulan yang demikian para teolog harus terlibat dalam tugas hermeneutika. Dalam tugas ini, interpretasi merupakan bagian yang tidak dapat diabaikan. Dengan interpretasi kita dapat memahami makna atau pesan yang mau disampaikan teks dalam alkitab dan membuat teks tersebut menjadi aktual dalam koteks yang ada. Dalam upaya seperti inilah, saya akan melihat relevansi pemikiran Gadamer tentang kesadaran sejarah dalam berteologi. Bagian ini akan menjadi penjelaan topik berikut ini.
III.RELEVANSI KESADARAN SEJARAH DALAM BERTEOLOGI.
3.1 Alkitab
Dalam setiap upaya berteologi yang akan kita lakukan, sudah tentu kita harus mempunyai bahan yang sekaligus menjadi sumber teologi. Dalam teologi Kristen khususnya, alkitab dijadikan sebagai acuan sumber teologi. Membaca Gadamer akan mempengaruhi sikap dan pandangan kita terhadap alkitab. Kita tidak akan melihat alkitab sebagai sesuatu yang diturunkan dari surga secara langsung, tetapi sebagai buku yang memiliki sejarah tertentu. Sebagai suatu buku yang memiliki historisitas tertentu. Karena itu teks-teks yang ada dalam alkitab tersebut tidak terlepas dari pengaruh sejarah yang sedang terjadi bahkan situasi dan pandangan penulis teks itu sendiri. Itu berarti bahwa teks tersebut memiliki horizon pemahaman tersendiri. Alkitab bukan suatu buku bacaan mengenai doktrin-doktrin yang abstrak atau suatu teologi sistematis dimana kita harus menerimanya dengan begitu saja. Alkitab adalah suatu cerita interaksi Allah dengan manusia di dalam konteks sejarah yang khusus. Oleh karena itu kita harus memikirkannya dan mengeksplorasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Bagi saya, dengan pemahaman seperti ini akan memampukan saya melihat dan memahami alkitab secara kritis. Sikap demikian akan menjaga saya supaya tidak bersikap fundamentalis yang memahami ineransi (ketidakbersalahan) alkitab. Dengan sikap yang kritis maka ruang dan peluang yang besar akan kita temukan untuk mengungkap pesan kebenaran yang terkandung dalam alkitab. Misalnya, saya belum pernah mendengar orang mengambil nats dari kitab Yudas menjadi bahan kotbahnya. Mungkin karena Yudas diidentikkan dengan pengkhianat. Sekarang ada beberapa buku yang menulis tentang kitab Yudas. Buku-buku tersebut ternyata dapat memberi pemahaman yang baru tentang kitab Yudas. Menurut saya, buku-buku tersebut secara perlahan akan mengubah sikap orang terhadap kitab Yudas. Ini adalah pengaruh pemahaman kritis terhadap alkitab.
3.2 Interpretasi
Kesadaran sejarah turut mempengaruhi penafsiran yang kita lakukan terhadap teks. Kita yang berada dalam situasi kekinian akan memahami teks dari masa lampau dengan pra-sangka yang kita miliki. Pra-sangka tersebut akan mempengaruhi penafsiran yang kita lakukan. Misalnya: saya bisa menafsirkan teks dari kitab injil Lukas karena saya sudah mempunyai ide bagaimana teks itu akan berbicara dalam konteks saya. Akan tetapi tidak berarti bahwa semua uraian penafsiran yang saya lakukan merupakan dari diri saya sendiri, saya yang menjelma dalam wujud penulis injil Lukas. Bukan, melainkan uraian yang menggabungkan horizon pemikiran saya dengan penulis injil Lukas. Dalam hal ini, saya dapat menghargai tradisi dan otoritas kedua belah pihak. Saya menghargai tradisi kekinian dan teks injil Lukas sebagai wahyu Ilahi yang bertumbuh dan berkembang dalam sejarah manusia masa lampau, dan mencari kebenaran apa yang diwahyukan wahyu tersebut. Jadi penafsiran yang kita lakukan merupakan pertemuan horizon pemikiran dari kekinian dan horizon pemikiran dari masa lampau. Dalam pertemuan itu yang satu tidak mendominasi atau mematahkan horizon yang lainnya, yang terjadi adalah adanya interaksi diantara kedua horizon tersebut. Dalam pertemuan itu kita membangun relasi dan berupaya berdialog sehingga dapat menghasilkan suatu pemahaman yang baru dan akan menjadi milik kita. Dalam dialog itu kita mengafirmasi kebenaran dan mengkritisi kekurangan yang ada. Di sini kebersamaan dan partisipasi sangat ditekankan, setiap horizon sama-sama ikut terlibat dalam upaya memperkaya pemahaman. Saya dari subyek masa kini dan penulis injil Lukas sebagai subyek dari masa lampau sama-sama dilibatkan untuk memperkaya pemahaman. Dalam interaksi yang seperti ini, setiap horizon berperan untuk memberikan kontribusi sehingga tidak satupun yang dipandang lebih penting dari yang lainnya. Kontribusi demikian akan memperkaya pemahaman dan hasil penafsiran kita.
3.3 Aplikasi
Aplikasi adalah suatu upaya aktualisasi nilai-nilai yang sudah diperoleh terhadap suasana kekinian. Aplikasi akan menjangkau jarak antara teks dan situasi kekinian. Dalam berteologi, aplikasi menjadi hal yang harus dipergumulkan. Ini perlu supaya pesan yang ditemukan dari pertemuan kedua horizon tidak hanya sebagai konsep yang abstrak dan mengambang saja, tetapi dapat menjadi relevan dan mempunyai implikasi terhadap suasana kekinian. Berteologi tidak hanya sekedar menghasilkan rumusan dan pandangan teologis saja. Yang lebih penting dari situ adalah mengusahakan supaya rumusan dan pandangan teologi mempunyai makna dan dapat teraplikasi sehingga membawa perubahan yang lebih baik pada konteks yang menerima. Jika hal ini terjadi, maka persoalan-persoalan yang ada dalam sejarah akan dijawab oleh sejarah juga. Integrasi horizon sejarah di masa lalu dan masa kini dapat menjawab pergumulan kita. Jawaban yang dihasilkan sifatnya dinamis, sebab masa ke-kini-an itu selalu berada dalam sejarah kehidupan yang sedang dihidupi. Hari ini menjadi masa kini bagi saya karena saya hidup di sini, besok akan menjadi masa kini juga bagi saya bila saya hidup di situ, demikianlah seterusnya. Jika demikian pesan teologi yang kita bangun akan selalu aplikatif dan relevan. Dalam hal ini saya dapat memahami bahwa kebenaran adalah suatu yang ditemukan dalam sejarah. Itu adalah salah satu kelebihan sejarah - kesanggupannya untuk mendekati kebenaran.
IV.PENUTUP.
Ide kesadaran sejarah akan membantu kita dalam berteologi, baik itu dalam melihat alkitab sebagai sumber teologi, menginterpretasikan teks-teks alkitab dalam membangun rumusan dan pandangan teologis serta dalam upaya mengaplikasikannya. Ide kesadaran sejarah juga akan membuat kita dapat menghargai tradisi, otoritas, peristiwa dimasa lampau dan peristiwa yang ada dimasa kini. Baik masa lampau dan masa kini sama-sama dapat kita hargai.
TEOLOGI
untuk dapat menerjemahkan sejarah, apalagi untuk sejarah yang terlampau dulu hingga sisi sepekulasinya begitu kental. katkanlah hanya kalangan ilmuwan khussusnya sejarawan yang hanya dapat menerjemahkan dan mengerti makna yang dikomunikasikan oleh simbol-simbol masa lalu.
namun apakah rakyat jelata mampu menerima teransformasi keilmuan dari para sejarawan atau buku-buku sejarah, sedang untuk dapat mengerti bidang ini dibutuhkan modal dasarpengetauan seperti antropologi,geografi,sosiologi,dll.
sampai kapan ilmu pengetahuan hanya dapat dirasakan hanya oleh kaum borjuis saja sedang rakyat jelata hanya menjadi instrumen yang pasif dalam lajunya nafas peradaban, tidakah itu suatipenghianatan terhadap apa yang seharusnya. yaitu wajib hukumnya bagia yang berilmu untuk memberi pada yang tak berilmu begitupun sebaliknya.
Comment by jarwo — August 24, 2008 @ 5:24 am
sejarah akan sangat baik jika dituliskan oleh orang yang mengalami peristiwa tersebut. apabila sejarah dituliskan oleh seorang yang mengalami peristiwa tersebut, maka sejarah yang dituliskan akan lebih mendekati kebenaran sesungguhnya. penulisan sejarah juga berhubungan dengan kepentingan dari sepenulis sejarah; hal apa yang hendak ia tekankan. begitu juga dengan teologi. teologi yang sungguh-sungguh adalah teologi yang lahir dari dalam pergumulan seseorang tersebut. melalui pergumulan iman: karya Allah dalam hidup seseorang serta realitas kehidupan maka teologi yang dihasilkan adalah teologi yang relevan. inilah yang akan mengatar kepada pemahaman kontekstualisasi teologi.
Comment by leo — November 21, 2008 @ 3:32 am