<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/wordpress-mu-1.2.1" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: RELEVANSI KESADARAN SEJARAH DALAM TEOLOGI</title>
	<link>http://forumteologi.com/blog/2007/06/01/relevansi-kesadaran-sejarah-dalam-teologi/</link>
	<description>Karya tulis Anda menghidupkan kami</description>
	<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 16:54:49 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=wordpress-mu-1.2.1</generator>

	<item>
		<title>By: leo</title>
		<link>http://forumteologi.com/blog/2007/06/01/relevansi-kesadaran-sejarah-dalam-teologi/#comment-28107</link>
		<author>leo</author>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 10:32:25 +0000</pubDate>
		<guid>http://forumteologi.com/blog/2007/06/01/relevansi-kesadaran-sejarah-dalam-teologi/#comment-28107</guid>
		<description>sejarah akan sangat baik jika dituliskan oleh orang yang mengalami peristiwa tersebut. apabila sejarah dituliskan oleh seorang yang mengalami peristiwa tersebut, maka sejarah yang dituliskan akan lebih mendekati kebenaran sesungguhnya. penulisan sejarah juga berhubungan dengan kepentingan dari sepenulis sejarah; hal apa yang hendak ia tekankan. begitu juga dengan teologi. teologi yang sungguh-sungguh adalah teologi yang lahir dari dalam pergumulan seseorang tersebut. melalui pergumulan iman: karya Allah dalam hidup seseorang serta realitas kehidupan maka teologi yang dihasilkan adalah teologi yang relevan. inilah yang akan mengatar kepada pemahaman kontekstualisasi teologi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sejarah akan sangat baik jika dituliskan oleh orang yang mengalami peristiwa tersebut. apabila sejarah dituliskan oleh seorang yang mengalami peristiwa tersebut, maka sejarah yang dituliskan akan lebih mendekati kebenaran sesungguhnya. penulisan sejarah juga berhubungan dengan kepentingan dari sepenulis sejarah; hal apa yang hendak ia tekankan. begitu juga dengan teologi. teologi yang sungguh-sungguh adalah teologi yang lahir dari dalam pergumulan seseorang tersebut. melalui pergumulan iman: karya Allah dalam hidup seseorang serta realitas kehidupan maka teologi yang dihasilkan adalah teologi yang relevan. inilah yang akan mengatar kepada pemahaman kontekstualisasi teologi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: jarwo</title>
		<link>http://forumteologi.com/blog/2007/06/01/relevansi-kesadaran-sejarah-dalam-teologi/#comment-10469</link>
		<author>jarwo</author>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 12:24:14 +0000</pubDate>
		<guid>http://forumteologi.com/blog/2007/06/01/relevansi-kesadaran-sejarah-dalam-teologi/#comment-10469</guid>
		<description>untuk dapat menerjemahkan sejarah, apalagi untuk sejarah yang terlampau dulu hingga sisi sepekulasinya begitu kental. katkanlah hanya kalangan ilmuwan khussusnya sejarawan yang hanya dapat menerjemahkan dan mengerti makna yang dikomunikasikan oleh simbol-simbol masa lalu.
namun apakah rakyat jelata mampu menerima teransformasi keilmuan dari para sejarawan atau buku-buku sejarah, sedang untuk dapat mengerti bidang ini dibutuhkan modal dasarpengetauan seperti antropologi,geografi,sosiologi,dll. 
sampai kapan ilmu pengetahuan hanya dapat dirasakan hanya oleh kaum borjuis saja sedang rakyat jelata hanya menjadi instrumen yang pasif dalam lajunya nafas peradaban, tidakah itu suatipenghianatan terhadap apa yang seharusnya. yaitu wajib hukumnya bagia yang berilmu untuk memberi pada yang tak berilmu begitupun sebaliknya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>untuk dapat menerjemahkan sejarah, apalagi untuk sejarah yang terlampau dulu hingga sisi sepekulasinya begitu kental. katkanlah hanya kalangan ilmuwan khussusnya sejarawan yang hanya dapat menerjemahkan dan mengerti makna yang dikomunikasikan oleh simbol-simbol masa lalu.<br />
namun apakah rakyat jelata mampu menerima teransformasi keilmuan dari para sejarawan atau buku-buku sejarah, sedang untuk dapat mengerti bidang ini dibutuhkan modal dasarpengetauan seperti antropologi,geografi,sosiologi,dll.<br />
sampai kapan ilmu pengetahuan hanya dapat dirasakan hanya oleh kaum borjuis saja sedang rakyat jelata hanya menjadi instrumen yang pasif dalam lajunya nafas peradaban, tidakah itu suatipenghianatan terhadap apa yang seharusnya. yaitu wajib hukumnya bagia yang berilmu untuk memberi pada yang tak berilmu begitupun sebaliknya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
