KEKERASAN dalam I RAJA-RAJA 18:20-40
Karya : Andri Purnawan, Kategori : pilihan dosen
A. PENDAHULUAN
Seorang Pendeta dalam sebuah persidangan gerejawi, pernah berkata : “….Saya heran, mengapa di manapun orang Islam berada, mereka selalu membuat keributan dan keresahan masyarakat”. Memang pernyataan tersebut muncul karena latar belakang tertentu. Namun hal itu cukup menunjukkan bahwa tidak jarang orang Kristen yang berpikir dalam agama lain kekerasan dianggap sebagai hal yang legal. “Dunia semakin diwarnai dengan kekerasan, sedangkan gereja adalah pecinta perdamaian”. Itulah konsep yang dominan dalam pemikiran orang Kristen. Gereja sedemikian membenci kekerasan seolah-olah kehidupan gereja adalah kehidupan yang menuju kehidupan yang penuh rasa damai.
Diakui atau tidak, kekerasan dan kasih merupakan realitas hidup yang harus dijalani, bukan dipilih. Bisa saja kita mengatakan bahwa hakekat kekristenan adalah kasih, sehingga kita harus senantiasa mengamalkan kasih. Akan tetapi pada kenyataannya kita hidup di dunia yang sangat kompetitif dan penuh dengan kekerasan. Di dalam Alkitab pun dimensi kasih dan kekerasan nampak silih berganti. Bukankah hal ini menunjukkan bahwa haram hukumnya apabila kita meniadakan salah satu di anataranya.
Makalah ini akan membawa kita masuk ke dalam dunia keras PL yang memuat kisah pengorbanan dan pembantaian. Sering kali gereja melupakan, bahkan menutup mata tehadap kenyataan pengorbanan, kekerasan dan kekejaman yang terjadi dalam Perjanjian Lama (PL). Jika ada yang membuka mata terhadapnya, maka hanya akan terjadi dua penilaian hitam-putih, yaitu :
• Menentang
Kisah-kisah kejam PL hanya dianggap sebagai catatan kelam yang (agaknya) ditabukan. PL ditempatkan sebagai perjanjian nenek moyang Perjanjian Baru (PB) yang belum ber-evolusi. PL yang bertabur kisah kekerasan dianggap sebagai “perjanjian yang sudah diralat”. Dengan demikian PB, yang mengajarkan perdamaianlah yang benar.
• Meng-Amin-kan (Membenarkannya)
Kelompok ini menganggap bahwa perdamaian akan terjadi jika kedaulatan Tuhan telah ditegakkan. Kekerasan dalam PL dianggap sebagai hal yang baik karena dilakukan dalam rangka penegakan kedaulatan Tuhan. Konsekuensinya beberapa golongan tertentu dalam gereja dengan mudah mengklaim orang lain sebagai kafir, murtad dan menggolongkan diri mereka sendiri sebagai kumpulan “anak Tuhan”. Seandainya memungkinkan kelompok ini akan melakukan imperalisasi (seperti intervensi yang dilakukan AS terhadap negara-negara Islam dunia).
Kembali pada masalah kekerasan dalam PL. Pemilihan I Raja-Raja 18:20-40 sebagai bahan diskusi tentang kekerasan, tidak berangkat dari paham yang mengidentikan PL sebagai kitab yang kejam. Perikop ini dipilih justru karena penulis menduga, ada yang berharga dari kisah pengorbanan di Gunung Karmel dan pembantaian nabi-nabi Baal di Sungai Kison.
TUJUAN
Menilai dimensi kekerasan dalam I Raja-Raja 18:20-40, itulah tujuan penulisan makalah ini. Penilaian yang dimaksud bukalah sebuah upaya justifikasi, melainkan upaya reflektif terhadap fenomena kekerasan dalam Alkitab. Makalah ini tidak bertujuan untuk membuat sebuah konstruksi teologis, namun hanya sebuah upaya mengeksplorasi, menafsir dan mengambil kesimpulan yang reflektif.
Berdasarkan hal tersebut, penulis akan me-reobservasi aspek kekerasan dalam PL, khususnya kisah Elia di Gunung Karmel (I Raj. 18:20-40), melihatnya dari teori Deus Saevus Zahner dan mengkajinya dari sudut pandang etis. Dalam hal ini penulis akan menggunakan metode dialogis antara literer-historis dengan kajian Estetis Zahner serta Etika Niebuhr. Diharapkan hasil dialog dan kajian tersebut dapat memberi sumbangsih yang berarti bagi kehidupan bergereja di masa kini.
B. KAJIAN LITERER-HISTORIS I RAJA-RAJA 18:20-40
I. STRUKTUR KITAB
Secara garis besar Kitab Raja-Raja menceritakan “sejarah” kerajaan Israel mulai masa jaya hingga terpecah. Struktur kitab ini adalah sebagai berikut :
a. I Raj. 1:1-11:43 : Kerajaan Salomo
b. I Raj. 12-II Raj. 17 : Pecahnya Kerajaan Israel
c. II Raj. 18-25 : Kerajaan Yehuda
Perikop I Raj 18:20-40 termasuk dalam kategori struktur yang kedua. Di sana dikisahkan bahwa kerajaan Salomo terpecah menjadi Yehuda di bawah Rehabeam, dan Israel-suku utara (terbanyak)- di bawah Yerobeam. Dari saat pecahnya kerajaan, Israel sangat dipengaruhi agama “kafir”. Pada bagian inilah sepak terjang Elia ditulis.
II. I RAJA 18:20-40
1. ELIA: SANG TOKOH UTAMA
Dalam bahasa Ibrani nama Elia ditulis dengan ‘eliyyahu atau ‘eliyya, yang berarti ‘Yah-lah El’ atau YHWH-lah Allah. dari nama itu dapat diketahui bahwa Elia adalah seorang pejuang yang mati-matian menegakkan ke-Allah-an YHWH. Dapat dikatakan bahwa Elia adalah seorang yang fanatis (jika dilihat dari namanya). Kisah tentang Elia disajikan dalam I Raj. 17-19; 21; II Raj. 1-2. pelayanan kenabiannya hanya dilakukan di Israel Utara selama pemerintahan dinasti Omri. Sebaya dengan Ahab dan Ahazia. Seri cerita tentang Elia mengutarakan enam peristiwa dalam hidupnya : pemberitaan masa kekeringan dan pelariannya, adu kuasa di Gunung Karmel, pelariannya ke Horeb, peristiwa Nabot, nubuat mengenai Ahazia, dan peristiwa pengangkatannya. Semua kisah tentang Elia pada dasarnya berkaitan dengan pelanggaran ibadah YHWH dengan ibadah Baal Melkar, dewa pelindung (dewa politis) Tirus. Nampaknya selain fanatis, Elia memiliki tabiat yang emosional, percaya diri sekaligus penakut. Keberanian Elia muncul karena YHWH mengutusnya. Ini menujunkan sosok Elia yang begitu religius. Namun apabila tidak ada petunjuk dari YHWH, Elia cenderung kehilangan nyali (bdk. 19:3-8 : setelah melakukan pembantaian terhadap nabi-nabi Baal, Elia ketakutan).
2. POKOK PERSOALAN
A. Perzinahan Religius
Sebagai seorang pejuang YHWH yang fanatis, Elia menyerukan suara kenabiannya di tengah penyelewengan dan perselingkuhan religius yang dilakukan oleh Ahab. Pengaruh Izebel (anak raja Tirus), istrinya begitu kuat. Ia membangun kuil pemujaan Baal (dari Tirus) di Samaria lengkap dengan mezbahnya, patung Asyera dan pelayan-pelayan (I Raj. 16:32). Izebel memacu semangat kelompok-kelompok besar nabi palsu bersama penyembah Baal (18:19,20) untuk menentang YHWH secara terbuka. Upaya Izebel ini bisa ditafsirkan sebagai upaya menghadirkan nuansa religius-politik Tirus di Israel.
Penyelewengan (perzinahan) religius yang dilakukan oleh Israel di bawah pemerintahan Ahab setidaknya mencakup dua aspek penting, yaitu :
a. Aspek Perjanjian :
Dengan menyembah dewa lain, secara otomatis perjanjian YHWH dengan Abraham akan terpatahkan. Hanya YHWH yang akan menjadikan Israel sebagai bangsa yang besar. Dengan memegang janji YHWH kepada Abraham dan Daud Israel akan mencapai puncak kejayaan seperti pada masa Daud dan Salomo.
b. Aspek Politik :
Agama pada masa PL bukan hanya sebuah sistem kepercayaan, namun juga sebuah symbol politis. Setiap bangsa memiliki dewa yang berbeda. Ciri khas ketuhanan Israel adalah ketuhanan yang monotheis – transcendental. Menerima dan menyembah Baal Melkar (yang merupakan dewa resmi Tirus) berarti mengakui kedaulatan Tirus atas Israel. Kedaulatan YHWH adalah kedaulatan Isarael. Jika kedaulatan YHWH tidak dapat ditegakkan Israel akan runtuh (dikisahkan dalam II Raj, bagian akhir).
YHWH bukan hanya sumber politik kekuatan Israel, namun juga pengikat, pemersatu semangat nasionalis Israel. Menyembah dewa lain berarti kehilangan nasionalisme. Kehilangan nasionalisme berarti siap menjadi pelacur jajahan bangsa-bangsa yang lebih besar di sekitar Israel. Harus diakui bahwa sejak Abraham, bangsa Israel hanyalah bangsa gurem dan nomaden di tengah peradaban bangsa lain yang sudah mapan . Dengan kehilangan semangat juang yang YHWH-is, Israel akan runtuh.
Oleh karena itulah Elia menentang keras perzinahan iman Ahab dan kebijakan politiknya yang kontra produktif tersebut.
B. ADU KUASA DI GUNUNG KARMEL (18:20-40)
Menurut penulis, bagian ini merupakan bagian klimaks yang menggambarkan Elia sebagai pejuang YHWH. Nampaknya kisah ini diambil dari kalangan pengikut para nabi. Buktinya dimensi mujizat -yang merupakan ciri utama cerita rakyat- begitu ditonjolkan dalam perikop ini . Penulis ingin meyoroti dua babak penting dari perikop ini. Event adu kuasa ini diwarnai dengan kekerasan. Upaya penegakan kedaulatan YHWH (sekaligus kedaulatan Israel) ditempuh dengan jalan kekerasan. Paling tidak ada dua bukti yang menunjukkan adanya jalan kekerasan untuk membuktikan klaim kebenaran tentang Tuhan. Inilah yang ditempuh oleh Elia.
B.1. Upacara Pengorbanan
Gunung Karmel -tempat upacara “adu kuasa” antara Elia dengan para nabi Baal- pernah menjadi tempat penaklukkan musuh-musuh Yosua, termasuk raja Yokneam dari Karmel (Yos.12:22). Di sinilah Elia atas nama Allah menentang nabi-nabi Baal dan Asyera. Hal-hal menarik yang terjadi dalam ritual kompetitif ini adalah :
a. Kompetisi ini disponsori dan dihadiri oleh Ahab (18:20). Kapasitas Ahab adalah sebagai penguasa politik Israel. Hal ini jelas menunjukkan bahwa perseteruan Elia dan para nabi Baal adalah perseteruan yang sangat berbau politis.
b. Rakyat (18:21-22) ikut hadir. Penulis berkesan bahwa peran rakyat hanyalah sebagai pupuk bawang, elok-elok’an, penonton dan penggembira (bdk. 18:21-22 dengan 18:30, 39). Namun di sisi lain kehadiran mereka adalah sebagai bentuk legitimasi politis. Allah (siapapun) yang lebih berkuasa akan diikuti dan dipercayai oleh seluruh Israel (raja dan rakyat).
c. Ide tentang bentuk kompetisi yang berupa ritual pengorbanan tidak digagas oleh Ahab, namun justru oleh Elia (18:23-25). Pengorbanan dipilih Elia sebagai jalan untuk menyatakan mujizat Allah. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa ritual pengorbanan (yang syarat kekerasan) bukanlah sesuatu yang haram bagi seorang fanatis seperti Elia. Pengorbanan merupakan tanda bakti. Tuhan yang dapat merespon bakti umat-Nya dianggap sebagai Allah sejati. Implikasinya jelas, hal ini berarti bahwa YHWH adalah Allah yang toleran, bahkan tidak alergi pada kekerasan. Buktinya pada akhirnya Elia-lah yang memenangi kompetisi ini.
d. Nuansa kekerasan semakin tampak ketikan para nabi Baal dan Asyitoret melakukan ritusnya. Mereka mendemontrasikan sebuah adegan keras dengan menoreh-noreh diri mereka dengan pedang dan tombak sampai darah bercucuran (lih.18:28). Hal ini semakin menguatkan kesan bahwa ritual pengorbanan dalam setiap kepercayaan pada dasarnya adalah kejam dan keras.
e. Hal terakhir yang menarik pada episode ini adalah kemenangan Elia. Ia menang dengan sebuah seruan yang sangat provokatif, “…..Engkaulah Tuhan dan Allah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu….” (ay.36-37). Seruan ini sangat mirip dengan sebuah doksologi yang menyatakan eksistensi politis Allah. YHWH bertindak pada saat Elia menegaskan kedaulatan YHWH atas Israel.
Para nabi baal yang menyiksa diri diabaikan, sedangkan Elia yang menyerukan kedaulatan YHWH diberi kemenangan. Apakah YHWH membenci kekerasan? Jawabnya tidak, karena episode kompetisi pengorbanan ini diakhiri oleh ritual pembantaian.
B.2. Upacara Pembantaian
Lagi-lagi gambaran kedaulatan YHWH dan kedaulatan Israel atas bangsa Tirus (dan bangsa sekitar) ditonjolkan. Kisah pembantaian empat ratus lima puluh nabi Baal di sungai Kison oleh Elia (ay. 40) menunjukkan betapa beringasnya Elia. Nampaknya bandingan angka satu dibanding empat ratus lima puluh adalah untuk menunjukkan betapa besar lawan Elia. Israel (yang dipresentasikan oleh Elia) bukanlah apa-apa dibanding dengan Tirus (presentasi bangsa-bangsa mayor di sekitar Israel). Kemenangan atas representasi yang besar tersebut membuat sebuah keputusan yang sangat kejam. Empat ratus lima puluh orang dibantai seketika.
Penulis memberikan dua analisis terhadap kasus pembantaian masal ini :
• Hal tersebut merupakan sebuah metafor
Jika bangsa Israel berpihak pada YHWH, maka mereka akan dapat mengebiri dan menghabisi bangsa-bangsa besar sekitar yang selalu mengancam. Aspek yang paling menonjol dari kisah tersebut adalah aspek kekerasan. Kedaulatan Israel dan YHWH ditegakkan dengan jalan kekerasan. Kitab Raja-Raja melegalkan hal tersebut. buktinya Elia tidak pernah dihukum YHWH karena pidana pembunuhan yang telah dilakukannya. Justru pada kisah-kisah selanjutnya Elia selalu diayomi.
• Pemabantaian nabi-nabi Baal merupakan upaya scape-goating
Sebelum kompetisi di Karmel, dikisahkan bahwa Israel menderita bencana kekeringan dan kelaparan (bdk. I Raj. 17). Selain itu muncul anggapan bahwa terpecah dan terseok-seoknya Israel karena penyelewengan religius yang dilakukan oleh para raja. Dalam kasus ini Elia dan rakyat Israel tidak akan menyalhkan raja. Mereka mencari sasaran baru untuk dituduh sebagai biang kerok. Kekalahan para nabi Baal di Karmel mengkondisikan mereka sebagai pihak tertuduh yang membawa bencana bagi Israel. Sesuai dengan teori Girad, maka layaklah jika para nabi Baal tersebut menjadi sasaran amuk Elia dan rakyat Israel waktu itu.
3. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas, kisah I Raj 18:20-40 harus diakui sebagai kisah yang melegalkan tindak kekerasan dalam sebuah ritual. Terlepas dari motivasi mempertahankan eksistensi, Elia dan Allah telah melibatkan diri dalam circle of violence. Persoalannya adalah bagaimana kita menilai kekerasan dan kekejaman (Elia dan YHWH) dalam konteks yang demikian?
C. MENILAI KEKERASAN dalam I RAJA-RAJA 18:20-40
Memang terlalu sulit bagi kebanyakan orang Kristen untuk mengakui bahwa secara faktual I Raja-Raja 18:20-40 memuat tindak kekerasan seorang nabi Allah. Bisa dikatakan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh Elia dalam konteks I Raj. 18: 20-40 adalah kekerasan ilahi karena ritual pengorbanan dan pembantaian tersebut dilakukan dalam kerangka penegakan kedaulatan politis YHWH atas Israel. Sebagai jalan masuk untuk menilai kekerasan dalam I Raj. 18 :20-40 penulis akan menggunakan teori Deus Saevus seorang ahli sejarah agama, R.C. Zaehner yang termuat dalam bukunya Our Savage God . Selain itu penulis akan mengkaji kekerasan ini dari sudut pandang etis.
I. ABSTRAKSI TEORI DEUS SAEVUS
Dalam Our Savage God, Zaehner membahas kesamaan pola pemikiran Hinduisme khususnya Upanishad dengan filsafat Yunani pra- Sokrates, mengenai Charles Manson dan pengikut-pengikutnya yang telah membunuh bintang film Sharon Tate pada tahun 1969, mengenai Plato, Budhisme Zen dan agama Kristen. yang mendorong dia untuk menulis Charles Manson dan pengikutnya adalah orang-orang yang mempelajari pemikiran-pemikiran religius Timur. Dalam hal ini Charles Manson mengikuti jejak banyak orang dunia Barat yang merasa tidak tersentuh lagi dengan pemikiran-pemikiran Barat, termasuk agama Kristen. hal itu membuat Manson mencari alternatif pada spiritualitas Timur, khususnya India.
Pemikiran religius atau spiritual menurut Zaehner mempunyai ciri khas, yaitu berusaha melewatyi criteria mengenai “baik” dan “jahat”. Jika agama Semit seperti Yahudi, Kristen dam Islam menekankan pada dimensi etik dan bergumul hidup mati untuk dapat membedakan apa yang baik dan apa yang jahat, maka spiritualitas Timur menekankan dimensi estetik. Dimensi estetik ini tidak dapat diartikan secara sempit sebagai dimensi yang berhubungan dengan “estetika” , melainkan berhubungan dengan kesatuan dan keseluruhan dari realitas. Bergerak melewati criteria mengenai “baik” dan “jahat” berarti menyadari kesatuan dari realitas. Dengan demikian kita akan dapat melihat “baik” dan “jahat” pada tempatnya masing-masing dan melihat kaitan di antara keduanya. Kaitan ini tidak akan terlihat jika kita hanya terpaku pada dimensi etik saja. Dengan kata lain, pendalaman terhadap spiritualitas Timur yang berusaha mencari prinsip yang menyatukan segala sesuatu akan membuat kita menemukan relativitas dari apa yang tadinya kita mutlakkan sebagai yang “baik” dan yang “jahat” itu.
Sehubungan dengan relativitas Zaehner mengutip Katha Upanisad (2.19) :
“Apabila si pembunuh mengira ‘aku telah membunuh’ atau yang dibunuh mengira ‘aku telah dibunuh’, maka kedua-duanya tidak dapat memiliki pengetahuan yang benar; ia tidak membunuh atau dibunuh”
Yang merisaukan Zaehner adalah bahwa penafsiran syair itu dapat dikembangkan. Bukan lagi menyadari diri bahwa “ia tidak membunuh dan dibunuh”, melainkan tidak ada lagi bedanya, membunuh atau dibunuh, dan karena itu silahkan “membunuh”. Zaehner berusaha mencari penjelasan mengapa Charles Manson dan para pengikutnya yang belajar spiritualitas Timur membunuh dengan demikian kejam dan tenangnya. Menurut dia oleh karena Manson menarik kesimpulan yang amat ekstrim dan adsurb dari relativitas semacam yang ditunjukkan oleh katha Upanishad tersebut.
Jika dikatakan bahwa Manson menarik kesimpulan yang amat ekstrim dan adsurb dari pemahaman spiritualitas Timur tersebut, itu berarti pemahaman tersebut tidak harus diartikan demikian. Untuk mencegah orang memutlakkan sebagian karena salah paham mengiranya sebagai keseluruhan, mistik semacam ini amat berguna. Artinya melalui mistik semacam ini kita dapat menempat halhal pada proporsi yang seharusnya. Meskipun demikian, menurut Zaehner relativitas di atas tetap mengandung bahaya, dapat dengan mudah diselewengkan ke arah yang negatif. Ada kekuatiran bahwa relativitas akan berubah menjadi relativisme. Hal ini disebabkan karena mistik semacam itu berusaha mematikan rasio yang menolong manusia untuk mengambil kesimpulan yang benar dan tepat . Oleh sebab itu Zaehner mengusulkan agar orang-orang di dunia Barat tetap setia pada iman Kristiani berdasarkan Alkitab, terutama dalam penggambarannya mengenai Allah. Jika kita membaca PL secara khusus, di sana akan terdapat gambaran yang sangat dashsyat dan kejam, Allah yang sewenang-wenang. Deus Saevus. Dalam bahasa Indonesia adalah “Allah yang ganas”. Sedangkan dalam PB yang memberitakan Allah yang kasih adanya (Yohanes) pada akhirnya juga memproklamirkan pembalasan Allah yang dashyat (Wahyu). Gambaran yang ganas ini tidak perlu kita kaburkan sebab memang itulah ciri khas dari penyataan (revelation). Pengaburan atau penghapusa aspek ilahi yang mengerikan ini justru akan berakibat sebaliknya. Orang bisa jatuh ke dalam kesimpulan yang menghapuskan perbedaan antara yang baik dan yang jahat. Sementara jika kita mengakui dan mempertahankan Deus Saevus, dampaknya secara horizontal justru sebaliknya : kita dapat hidup dengan benar di dunia, oleh karena kita tahu benar perbedaan antara yang baik dan yang jahat. Bukan itu saja, Zaehner mengutip perkataan Kabir, seorang penyair Hindi yang juga dihormati oleh kaum Muslim dan Sikh : “God is a Thug : and Thuggery’s what he was brought to the world! Yet hoe can I Live without him, tell me, my mother friend…For once I recognized the Thug, The Thuggery vanished away” . Jika kita mengakui bahwa Allah adalah ganas, maka keganasan itu akan lenyap.
Namun demikian, Zaehner juga menekankan bahwa pengakuan akan keganasan Allah tersebut harus diimbangi dengan pemikiran rasional menurut ajaran Aristoteles. Jadi bukan hanya spiritualitas Timur yang perlu “diamankan” melalui Aristoteles, tetapi juga penyataan ilahi menurut Alkitab! Jika rasio diabaikan, maka pengakuan akan keganasan Allah akan membuat kita ganas pula. Ada banyak contoh dalam sejarah kekristenan bahwa orang membenarkan kekejaman yang dilakukannya dengan dalih bahwa hal itu terdapat dalam Alkitab dan dilakukan Allah atau nabi Allah sendiri.
II. TANGGAPAN TERHADAP ZAEHNER
Dalam sejarah kita melihat bahwa orang yang terlampau tegas menentukan mana yang baik, mana yang jahat, terlampau mencolok menggambarkan Dunia sebagai hitam-putih, terlampau mencolok menempatkan dirinya pada pihak Tuhan dan pihak lain pada setan, akan mengakibatkan orang justru jadi jahat, jadi hitam, jadi setan. Dan tragisnya mereka tidak menyadari sama sekali. Tetapi usaha melampaui kriteria yang baik dan yang jahat juga tidak menjamin seseorang akan selalu berbuat baik. Buktinya Zaehner sendiri secara-terang-terangan mengakui dirinya sebagai orang Khatolik tradisional. Secara tidak langsung ia hendak mengatakan bahwa memahami Allah di dalam Alkitab dengan bnar dan mendalami spiritualitas Timur secara aman hanya dapat dilakukan melalui ajaran Khatolik tradisional.
Yang menarik untuk diangkat ke permukaan adalah pengakuan Zaehner pada Deus Saevus dalam Alkitab, khususnya PL. Walaupun demikian penulis tidak memiliki tendensi untuk menuduh PL sebagai gudang kekerasan. Penulis hanya ingin memaknai fakta kekerasan yang terjadi dalam PL dengan pendekatan yang estetik Zaehner.
III. DIMENSI DEUS SAEVUS DALAMI RAJA-RAJA 18:20-40
Secara faktual, aktor kekerasan dalam episode ritual pembantaian di Gunung Karmel adalah Elia. Namun jangan lupa bahwa peran nabi dalam PL adalah sebagai man of god. Hal itu berarti bahwa secara konseptual Elia menjalankan tugas kenabiannya dari YHWH. Allah YHWH-lah “the real actor” dalam kisah ini. Jika hal ini dihubungkan dengan pandangan helgesichste (sejarah karya penyelamatan Allah), maka peran Allah sebagai real actor dalam seluruh Alkitab, termasuk dalam perikop I Raj.18:20-40 dapat diaminkan.
Konsekuensinya jelas. Dengan menempatkan Allah sebagai aktor di belakang kekejaman profetis Elia, berarti kita melihat dimensi kekerasan ilahi dalam kisah Elia di Gunung Karmel. Terlepas apapun kepentingan Elia dan YHWH dalam kisah tersebut, secara factual sudah terjadi kekerasan yang kejam. Oleh karena itu penulis menggolongkan kekerasan pada ritual pengorbanan dan pembantaian yang dilakukan oleh Elia ke dalam kekerasan ilahi.
Mengapa kekerasan tersebut dapat terjadi?
1. Karena Elia berada dalam posisi yang sangat mutlak. Kapasitas Elia sebagai nabi YHWH yang menyerukan ke-wahid-an YHWH membawa di ke dalam golongan determinis yang ditentang oleh Zaehner . Jika dihubungkan dengan teori Zaehner Elia adalah sosok yang sangat dikotomis dan radikal. Selalu ada keputusan jelas untuk menilai sesuatu baik atau jahat, benar atau salah.
2. Episode Gunung Karmel bagi penulis adalah sebuah adegan “perang”. Bukan hanya perang kuasa, namun juga sebagai perang politis, perang kredibilitas. Di dalam keadaan perang, seseorang hanya diberi dua pilihan, dibunuh atau membunuh. Tidak berlaku pilihan melarikan diri bagi yang kalah, atau mengampuni bagi yang menang. Pada kondisi peperangan yang sangat prestisius tersebut, maka sangatlah wajar jika Elia mengambil keputusan untuk menghabisi para nabi Baal. Sekali lagi, hal tersebut sah dalam kondisi “perang”. YHWH sebagai the real actor juga ikut berperang. Hal ini juga didukung pendapat para ahli yang menyimpulkan teologi Raja-Raja dengan teologi Allah yang menyertai .
IV. TINJAUAN ETIS TERHADAP I RAJA 18:20-40
Deus saevus yang dipresentasikan Elia melalui adegan pembantaian selain ditinjau dari kajian estetik Zaehner harus dilihat dari kacamata etis. Hal ini dilakukan agar relativitas terhadap kekerasan tersebut tidak berubah menjadi sebuah relativisme.
Pilihan tindakan yang sungguh baik/benar, sempurna tanpa mengandung unsure salah dari segi nilai-nilai/ norma-norma yang berlaku, hampir tidak pernah ada . Ritual pembantaian yang dilakukan Elia dapat dikatakan benar jika dapat dipertanggung jawabkan. Paham “dapat dipertanggung jawabkan berkaitan erat dengan “kebertanggung-jawaban” (responsibility). H. Richard Niebuhr mengungkapkan ada empat unsur penting dalam responsibility :
a. Jawaban (tanggapan; response)
Dalam responsibilitiy selalu ada unsure jawaban orang atas sesuatu yang terjadi pada dirinya.
b. Penafsiran (interpretation)
Unsur ini penting untuk lebih memahami apa yang sedang terjadi, supaya didapat jawaban yang paling tepat
c. Pertanggung-jawaban (accountability)
Jawaban kita bisa mendapat tanggapan dari pihak lain, karena itu kita harus bisa memberikan pertanggung-jawaban atas jawaban kita.
d. Solidaritas Sosial (social solidarity)
Unsur ini adalah konsekuensi logis dari sikap yang mau memperhitungkan kemungkinan tanggapan dari pihak lain atas jawaban kita.
Dari hal di atas kita dapat menarik pedoman untuk menilai apakah jalan kekerasan yang ditempuh oleh Elia dapat dipertanggung-jawabkan, karena itu dapat dibenarkan secara etis. Pedoman tersebut dapat dirumuskan sbb:
Penggunaan kekerasan (sebagai respon Elia) dapat dipertanggung-jawabkan (menjadi responsible) jika:
1. Hal tersebut diberikan sebagai jawaban yang paling tepat, dengan mempertimbangkan norma-norma yang berlaku. Pusat interpretasi normative bagi Elia adalah YHWH. Segala sesuatu yang berada dalam komando YHWH adalah benar, yang melanggar berarti salah. Kekerasan digunakan pada waktu “perang adalah hal yang pada tempatnya juga.
2. Hal itu dilakukan dengan sikap yang penuh pertanggung-jawaban, yang memeperlihatkan adanya solidaritas sosial. Seperti yang telah dijelaskan dalam Bab II, dapat dikatakan bahwa motivasi kekerasan Elia adalah sebagai bentuk ungkapan nasionalisme seorang nabi Yahudi. Jalan kekerasan ditempuh dalam rangka menegakkan kedaulatan YHWH yang menjadi simbol nasional bangsa Israel.
Dengan demikian tindak kekerasan Elia (yang lebih cocok dinyatakan sebagai bentuk mekanisme pertahanan) secara etis adalah benar.
V. KESIMPULAN
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aspek kekerasan dalam I Raja 18:20-40, secara estetis dan etis dinyatakan sah. Tindak kekerasan Elia merupakan sesuatu yang sportif, kontekstual dan etis dalam menjawab tantangan dunia pada saat itu. Penilaian sah terhadap kekerasan yang dilakukan oleh Elia ini tidak bertujuan untuk mencari legitimasi terhadap kekerasan atas nama Tuhan. Namun harus dipahami sebagai upaya memahami secara kontekstual dan ilmiah terhadap fakta pembantaian empat ratus lima puluh nabi Baal di Sungai Kison. Lalu, bagaimana kesimpulan ini mesti diaplikasikan dalam kehidupan gereja di Indonesia? Bab IV akan menjawabnya.
D. RELEVANSI BAGI HIDUP BERGEREJA DI INDONESIA
Dilihat dari berbagai dimensi, Indonesia adalah negara yang plural, termasuk dimensi religiusnya. Konflik agama hampir selalu terjadi di kawasan yang dihuni oleh pemeluk agama yang berbeda. Dalam perkembangan agama, keberadaan norma-normanya telah diinternalisasi dan disistemisasikan. Norma-norma yang telah sistematis itu kemudian menjadi guide dalam perilaku sosial tiap-tiap pemeluknya. Selain itu, norma-norma tersebut telah menjadi sumber interpretasi atas realitas yang ada di jagat. Perbedaan interpretasi itulah yang membuat konflik terjadi. Konflik agama sangat bersahabat dengan tindak fanatisme dan militan yang berbuah kekerasan. Agama memiliki andil penting dalam merebaknya culture of violence. Agama yang arti harafiahnya “tidak kacau” ( sansekerta : a= tidak, gama = kacau ) justru menjadi instrumen legitimasi bagi kekerasan yang terjadi di masyarakat plural . Dalam kondisi seperti inilah gereja ditantang untuk menjadi Elia-Elia modern yang berani mengahadapi zamannya.
Jika disandingkan dengan kasus I Raja 18:20-40, kondisi agama-agama Indonesia hampir serupa. Semua agama ingin berkembang dan dituntut untuk menjalankan misi masing-masing. Dalam kondisi yang demikian mekanisme bertahan sambil menyerang dilakukan, termasuk oleh gereja. Dalam kondisi seperti ini, sikap yang mungkin tepat untuk dilakukan adalah bersifat realistis. Dalam arti sbb:
a. Jika gereja hendak menjalankan misi Allah (misio Dei), yaitu menghadirkan damai di Indonesia, seharusnya gereja tidak berkonflik, tepatnya menghindari konflik. Konkretnya, gereja tidak perlu neka-neka mengadakan ekspansi dan pelipat gandaan kuantitas. Menghadirkan damai dapat dilakukan jika gereja mengambil peran dalam sistem apapun, entah ekonomi, sosial, politik, atau bahkan dalam IPTEK. Hanya dengan dengan demikianlah gereja akan dapat menyumbangkan sesuatu untuk membuat orang lain bahagia dan merasakan damai sejahtera. Bagaimana mungkin gereja berharap berbuat banyak jika hanya berani menyeruakan suara kenabiannya? Hanya menjawab dan menilai benar-salah terhadap tatanan kehidupan yang kacau di Indonesia. Terobosan yang telah dilakukan Elia seharusnya dipahami sebagai langkah konkret. Berani turun langsung ke dalam realitas yang kejam dengan tangan yang berdarah-darah. Tidak ada kata tidak bagi missio Dei. Gereja harus terjun ke dunia yang ganas dan kejam.
b. Apabila dalam menjalankan Missio Dei-nya gereja mendapat tantangan, gereja harus berani melawan. Upaya melawan harus dilakukan secara sportif, kontekstual dan etis seperti yang diteladankan Elia. Hal itu tidak melulu jalan kekerasan yang ditempuh. Karena hakikat gereja adalah kasih. Namun gereja juga harus berani untuk mengangkat senjata dan berperang melawan kelaliman system yang ada. Bahkan Yesus yang adalah manifestasi kasih Allah pun, pernah memporak-porandakan Bait Allah yang berubah fungsi. Gereja harus represif sekaligus pro-aktif dalam menghadapi tantangan.
PENUTUP
Bagaimanapun juga harus diakui bahwa ketegangan antara kekerasan dan kasih sangatlah sulit dijembatani. Namun keduanya adalah realitas hidup yang harus dipilih bergantian di dalam hidup. Semoga makalah ini cukup bermanfaat untuk dibaca. Amin.
TEOLOGI
penjelasan kekerasan yang lebih siknifikan
Comment by astomo — November 2, 2007 @ 10:41 pm
Trims….Bagus sekali tulisan ini. Pergumulan berikutnya adalah agar sedapat mungkin materi ini dapat dirancang dengan bahasa yang lebih sederhana sehingga dapat dipahami sebanyak mungkin kalangan. Kasih dan keadilan, itulah sesungguhnya jalan Yesus mengalami kekerasan paling kejam seraya menebarkan kelembutan paling agung di kayu salib. Semoga gereja semakin bertumbuh dalam kasih dan keadilan yang serupa. Kami tunggu ulasannya….GBU
Comment by Saor Silitonga — February 25, 2008 @ 8:30 pm
thank’s.artikel ini sangat membantu saya untuk menyampaikan pemahaman tentang kasih & kekerasan serta mengupas tokoh Elia
untuk para pemuda remaja anak-anak rohani saya.
Kiranya TUHAN memberkati pelayanan Anda agar lebih luar biasa lagi ! shallom.
Comment by tabitha — July 15, 2008 @ 3:03 am