FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

June 12, 2007

Wajah Yesus di Komunitas Suku Cina Benteng Rawa Kucing, Tanggerang

Filed under: Teologi Kontekstual — admin @ 4:05 am

karya : Agustina, kategori : pilihan dosen

I. Abstraksi Cina Benteng

 

Ditengah kehidupan modern Jakarta, masih ada juga kebudayaan primitif yang eksis diantara komunitas masyarakat yang sudah maju. Komunitas Cina Benteng yang berada didaerah pinggiran kota Jakarta, tepatnya di daerah Tanggerang adalah suku yang kebudayaannya tertinggal jika dibandingkan dengan komunitas masyarakat lainnya yang berada disekitar mereka.

Suku Cina Benteng tinggal di daerah yang bernama Rawa Kucing. Sebuah tempat yang selain dijadikan sebagai area pemukiman, juga dijadikan sebagai area pemakaman bagi pemeluk agama Buddha dan Kristen. Lahan tanah yang dijadikan sebagai area pemakaman lebih luas berkali-kali lipat dibandingkan dengan lahan tanah yang dijadikan sebagai area pemukiman.

Berbeda dengan suku Cina umumnya, secara fisik orang Cina Benteng berkulit coklat kehitaman. Hal itu disebabkan karena mata pencaharian mereka sebagai petani, pedagang dan penjaga pemakaman. Tapi mata yang sipit tetap menjadi ciri khas mereka sebagai etnis keturunan Tionghoa.

Mayoritas masyarakatnya adalah orang berpendidikan SD dan SLTP. Tingkat pendidikan yang rendah mempengaruhi pola berpikir dan cara hidup mereka. Rumah mereka umumnya masih terbuat dari blarak dan gedhek (anyaman daun kelapa untuk atap rumah dan anyaman bambu untuk dinding rumah). Diatas pintu rumah mereka selalu tergantung Hu (jimat yang bertuliskan huruf cina bertinta merah diatas kertas kuning). Hu berfungsi untuk menangkal marabahaya. Dalam berinteraksi dengan masyarakat diluar komunitas mereka, ada perasaan curiga dan rendah diri yang sangat mempengaruhi pola berinteraksi dan sekaligus menghambat. Mereka termasud komunitas suku yang tertutup.

Budaya masyarakat Cina Benteng yang terkenal adalah budaya Cokek (istilah bagi perempuan yang bekerja sebagai pekerja sex komersil). Dampak dari Cokek ini adalah banyaknya terjadi keretakan rumah tangga dan berkurangnya penghasilan para suami karena digunakan untuk “bermain” Cokek. Kebiasan lain yang membudaya adalah bermain judi seperti sabung ayam, cap sa dan mahyong. Mereka juga suka menggunakan penglaris (sejenis jimat yang membuat usaha menjadi maju). Dukun mempunyai peranan penting dalam memberikan jimat maupun menyembuhkan warga yang sakit sekaligus untuk mencelakakan orang yang tidak disukai. Jimat selain didapatkan dari dukun, juga didapat dari aktifitas Nyepi dikuburan (menyendiri untuk mencari wangsit).

Mayoritas penduduk Cina Benteng memeluk agama Buddha dan kepercayaan kepada leluhur. Gambaran mereka tentang yang Ilahi sangat berkaitan erat dengan yang dapat mendatangkan perbaikan hidup yang lebih baik (penggunaan penglaris dan jimat dalam usaha maupun dalam menangkal bahaya).

 

II. Kehadiran kekeristenan di komunitas Cina Benteng

 

Mengenai kapan kekristenan pertama kali hadir di daerah Rawa Kucing, penulis tidak mengetahui data itu. Karena pada awalnya penelitian terhadap masyarakat Cina Benteng diarahkan penulis untuk kepentingan penelitian yang bersifat sosial. Perhatian terhadap dimensi keagamaan tidak digali mendalam pada saat observasi. Namun kehadiran kekristenan tersebut tampak dalam wujud fisik berupa bangunan gereja yang ada ditengah pemukiman masyarakat Cina Benteng. Gereja beraliran Pantekosta dengan satu pendeta setempat dan jemaat berjumlah ± 20 orang (data tahun 2001).

 

III. Wajah Yesus bagi suku Cina Benteng di Rawa Kucing, Tanggerang

 

Bagaimanakah gambaran wajah Yesus yang tepat yang dapat dihadirkan bagi konteks masyarakat Cina Benteng di Rawa Kucing, Tanggerang ?

Penulis akan mencoba mengusulkan konstruksi wajah Yesus yang tepat bagi konteks masyarakat suku Cina Benteng.

· Kisah perjumpaan Zakheus dengan Yesus (Lukas 19:1-10)

Zakheus secara sosial merupakan orang yang terpinggirkan dalam masyarakat. Ia dikucilkan dari pergaulan sosial. Ketika Zakheus ingin melihat Yesus dari atas pohon Ara, Yesus malah menyuruh Zakheus untuk turun. Zakheus tidak hanya dapat melihat dan berbincang-bincang dengan Yesus dari jarak dekat, tapi Yesus malah menumpang dirumah Zakheus. Yesus mau menerima keberadaan Zakheus yang walaupun secara sosial dianggap kelompok masyarakat yang hina dan terkucilkan. Kedatangan Yesus ke rumah Zakheus membawa sebuah perubahan hidup bagi Zakheus. Yaitu hidup yang lebih baik. Zakheus mengalami pertobatan setelah berjumpa dengan Yesus. Ia mau meninggalkan kehidupan lamanya yang berorientasi pada uang. Zakheus berubah menjadi pribadi yang mau peduli terhadap orang yang ada disekitarnya dengan sikap hidup yang mau berbagi.

 

Relevansi kisah Zakheus bagi kehidupan komunitas Cina Benteng:

1. Kehadiran Yesus dalam kehidupan masyarakat Cina Benteng pun akan membawa suatu perubahan hidup yang lebih baik. Secara sosial masyarakat Cina Benteng merupakan masyarakat yang terpinggirkan karena pola pikir dan gaya hidup mereka yang tertinggal jika dibandingkan dengan budaya masyarakat sekitarnya yang tinggal dan hidup di kota besar. Hal tersebut menyebabkan timbulnya perasaan minder, rendah diri, malu dan curiga untuk berinteraksi dengan komunitas suku lainnya. Tetapi Yesus justru mau datang untuk mengadakan perubahan bagi masyarakat Cina Benteng yang terpinggirkan dari masyarakat yang modern. Yesus mau menerima mereka apa adanya diri mereka! Kedatangan Yesus ke dunia memang ditujukan kepada mereka yang termarginalkan dalam masyarakat (teologi Lukas). Hal itu berarti masyarakat suku Cina Benteng telah mendapat kelayakan dihadapan Yesus. Sehingga mereka pun harus berani keluar dari perasaan minder, rendah diri untuk berinteraksi dengan masyarakat lainnya, menganggap diri mereka terbelakang atau tidak sederajat dengan masyarakat modern. Masyarakat Cina Benteng dapat meneladani Zakheus yang mau berubah setelah mengalami perjumpaan dengan Yesus. Masyarakat Cina Benteng harus mau hidup berbagi dalam arti mau bergaul dengan masyarakat lainnya supaya mereka dapat diterima dan dapat mengalami perubahan hidup yang lebih maju dan hidup berdampingan dengan damai tanpa rasa curiga yang berlebihan terhadap masyarakat diluar komunitas mereka.

  1. Masyarakat Cina Benteng juga mau meneladani Zakheus yang rela meninggalkan kehidupan lamanya yang berorientasi pada uang. Hal itu berarti masyarakat Cina Benteng mau meninggalkan gaya hidup yang suka mencari jimat untuk penglaris (semacam pesugihan yang mendatangkan keuntungan berupa uang dalam usaha dagang mereka). Masyarakat Cina Benteng juga mau meninggalkan kebiasaan suka bermain judi, mengadu keberuntungan untuk berspekulasi mendapatkan untung yang besar berupa uang atau taruhan dalam bentuk materi apapun.
  2. Pertobatan Zakheus dinyatakan dalam sikap hidupnya yang mau peduli terhadap sesamanya, yaitu dengan memberikan setengah dari miliknya kepada orang miskin dan mengembalikan empat kali lipat kepada orang yang telah diperasnya. Masyarakat Cina Benteng dapat meneladani sikap Zakheus untuk peduli terhadap sesama mereka dalam kehidupan sehari-hari yaitu melalui sikap hidup yang tidak mencelakakan orang yang menyakiti hati mereka dengan magic atau kekuatan tertentu dari dukun atau dari roh orang yang telah meninggal. Masyarakat Cina Benteng menyatakan pertobatannya dengan hidup baru yang mau mengasihi sesamanya didalam ataupun diluar komunitas mereka.

 

Penutup

Dari uraian di atas penulis mengambil kesimpulan bahwa gamabaran mengenai wajah Yesus yang tepat dan kontekstual bagi masyarakat Cina Benteng adalah Yesus yang membawa perubahan. Konkretnya, Yesus seperti yang tergambar dalam kisah Zakheus. Profil Yesus yang demikian perlu mendapat penekanan tersendiri. Semoga paper ini bermanfaat, Amin.

3 Comments »

  1. Ya kalau orang cina yang menggambar yesus pasti nanti wajah yesus jadi berubah seperti orang Cina bermata sipit. sama seperti patung Budha yang ada di cina berwajah sipit juga ,padahal Budha kan itu orang India.

    Comment by santo — January 16, 2008 @ 12:28 am

  2. wah yesus tuh sebenarnya orang mana?

    Comment by roni — March 8, 2008 @ 6:38 pm

  3. wah yesus tuh sebenarnya orang mana?

    Comment by roni — March 8, 2008 @ 6:38 pm

    gimana sih katanya yesus tuhan,, tp ditanya org mana..
    yang benar mana sih?

    Comment by JAY — November 6, 2008 @ 11:17 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress