FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

June 15, 2007

MISSIO CHRISTIFIDELIS

Filed under: Misi — admin @ 9:12 am

Karya: Martin Krisanto N., Kategori: Pilihan Mahasiswa

I. INTRODUKSI
Mengawali dengan lebih berani, dengan anggapan bahwa fenomena tradisi yang telah sekian lama menancap kuat pada agama-agama di bersifat mono-kultural, bahkan demikian pula yang terjadi secara umum di dunia. Rupanya anggapan ini yang menggerakkan Rum Maal dalam upayanya mengelompokkan tipe-tipe mendasar beragama di dunia, apakah benar demikian? Rupanya potret ini merupakan potret terbatas yang bisa jadi bersifat persuasif agar masing-masing meninjau kembali ke dalam agamanya.
Ada suatu fakta yang menarik untuk meyakinkan diri kita tentang kehidupan beragama di Indonesia, yakni katakan anggapan diatas sebagai suatu kebenaran, toh suasana di grass root menunjukkan nuansa inter-religius. Demikian hasil pengamatan beberapa rekan di lapangan, penulispun pernah menghantar beberapa penduduk desa Peguyangan Kangin – Denpasar yang berlatarbelakang Katolik dan Islam untuk melancong ke Besakih dan melakukan pengobatan alternatif pada tokoh adat Hindu disana, dan merekapun membawa canang berisikan sesembahan juga foto rontgen. Lalu sesudah berobat canang tersebut diletakkan di tempat sembahyang pada rumah tokoh tersebut, menarik bahwa pengobatan dilakukan cuma-cuma tanpa sepeser uang.
Karya tulis ini berusaha menggali potensi apa saja yang mungkin menjadi sumber bagi berkembangnya nuasa inter-kultural, melihat keanekaragaman agama yang ada di Indonesia maka penulis membatasi diri pada dua agama yakni: Kristen dan Islam. Dan tidak dipungkiri bahwa suasana ketakutan akan terjadinya konversi agama juga tetap memainkan perannya sebagai wajah anti “Kristenisasi atau Islamisasi”
Tentang gereja dimana penulis akan berkiprah, tentu penilaian yang disampaikan pada karya tulis ini bersifat sementara karena tetap perlu pengkajian lebih dalam dan komprehensif di masa mendatang. Gambaran umum dalam introduksi ini juga sedikit banyak mewakili fenomena yang terjadi di GKI Sinode Wilayah Jatim, karena mekanisme gereja lebih merupakan mekanisme reaktif dengan munculnya Departemen Oikumene Kemasyarakatan pasca peristiwa geger di GKI Ciledug –Jawa Barat, dari pada sikap pro-aktif. Dan sejauh pengamatan saya, tidak pernah ada kegiatan dialog bersengaja yang diselenggarakan oleh jemaat setempat manapun di Jawa Timur ini.

II. OPINI
Beberapa pendapat mengenai misi akan saya awali dengan pendapat mengenai dakwah. Jika dikatakan bahwa pemahaman Islam mengenai dakwah adalah sama dengan misi dalam Kristen, maka saya cenderung mengatakan bahwa keduanya hanyalah beranalogi, karena terdapat kemiripan dengan semangat evangelisasi yang bersifat ke dalam dan keluar.

2.1. Pendapat Islam:
• Dalam memaparkan keutamaan dakwah, Jum’ah Amin Abdul Aziz menyatakan sebuah penyesalan sebagai berikut: “Sayang sekali, kaum muslimin saat ini masih terus berkutat mengajak sesama mereka (umat Islam) untuk menuju Islam. Padahal, sudah saatnya penekanan dakwah ditujukan kepada selain umat Islam. Yaitu untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, dan membimbingnya menuju jalan yang benar, yaitu Shirath Al-‘Aziz Al-Hamid” dan salah satu karakter dakwah adalah Jihadiyah, artinya terus memerangi siapa saja yang berani menghalang-halangi Islam, dan mencegah tersebarnya dakwah.

• Masyarakat lemah – negara lemah, demikian pemaparan M. Imam Aziz , basis rasionalitasnya bahwa Islam tidak pernah mengenal pemisahan total antara agama dan negara (din wa daulah), dan bahwa negara harus tercermin dari norma-norma mayoritas. Karena itulah perlu representasi Islam, meski tidak formal yang menjamin agar negara tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Walau selalu gagal merumuskan bersama penyelenggaraan negara, ini pertanda tidak perlu membesar-besarkan klaim bahwa Islam sebagai mayoritas politik. Justru kalangan Islam mengacu pada 1945 duduk bersama merumuskan common denominator untuk memperjelas konstitusional yang berlaku bersama tanpa membedakan agama, ras, suku, asal-usul dan seterusnya.

• Peta yang dibuat oleh Alwi Shihab , didorong pembaharuan Islam di Timur Tengah, pertentangan internal dalam masyarakat Jawa dan penetrasi misi Kristen-lah yang memicu tumbuh kembang gerakan Muhammadiyah di Indonesia. Gerakan yang dipelopori oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan di Yogyakarta (November 1912) menjadi penggerak pendidikan agama menanggapi kemunduran Islam di Indonesia, dengan meletakkan pendidikan sebagai prioritas utama sebagai jalan keluar bagi kaum Muslim di Indonesia. Mencontoh misi Kristen dengan menyebarkan berbagai fasilitas pendidikan dan mendesakkan pendalaman iman.

• Komaruddin Hidayat menyatakan polarisasi mayoritas-minoritas yang senantiasa dilanggengkan menjadi sindrom yang berdampak politik dan psikologis, sementara ‘dosa warisan’ dari penjajah menjadi beban mental secara historis psikologis diperkuat istilah “Barat” bagi sebagian orang Islam memiliki konotasi yang perlu dicurigai. Ditambah dua gejala sosiologis; kecenderungan orang-orang Kristen Indonesia yang “mengidentifikasikan” diri dengan Barat hampir dalam segala hal, ketimbang ke Timur Tengah, tempat lahir agama Kristen itu sendiri. Lalu “termakan” stereotipe yang diciptakan oleh (para orientalis) Barat tentang Islam menyangkut isu fundamentalisme, fenomena terorisme dan sebagainya. (2) ‘Kekerasan Informasi’ realitas dunia Islam yang dihadirkan media massa Barat seringkali terbaca biasnya pada media massa yang bernafaskan Kristen di tanah air. Berita tentang Islam di Timur-Tengah, yang bernada tendensius oleh kantor berita Barat dijadikan referensi tanpa sikap kritis oleh pers dalam negeri (Perang Teluk, Perang Bosnia, krisis di Aljazair) menumbuhkan perasaan antipati dikalangan sebagian umat Islam. Komentar mengenai dialog, baik dari kalangan Islam maupun Kristen, selalu ada kelompok yang tidak bisa diajak berdialog, sebaliknya bagi yang pro-dialog agar terus menggulirkan gagasan-gagasan mereka dalam rangka mempengaruhi wacana secara serius dan terprogram dalam pemikiran keagamaan.

Ditambah lagi dengan analisa David A. Kerr dalam analogi komparatifnya mengolongkan kepada tiga posisi yakni: (1) supercessionist – dimana kehadiran prinsip Qur’ani menghapuskan / menarik kembali agama yang ada sebelumnya. Mereka juga menyarankan agar umat Muslim tidak berhubungan dengan orang Kristen. (2) Revisionist – bersifat lebih mengakomodasi, hanya saja mereka menganggap doktrin trinitas, inkarnasi dan penyelamatan telah membutakan orang Kristen terhadap kebenaran Qur’an dan Nabi Muhammad s.a.w. maka dakwah diperlukan untuk mengembalikan orang Kristen kepada kebenaran yang sesungguhnya. Selain itu penekanan pada intra-Muslim sendiri. (3) Ecumenical – sejalan dengan revisionist hanya saja tidak perlu terjadi konversi ke Islam. Mengintepretasi al-Qur’an yang membenarkan prinsip pluralisme agama-agama, dengan menentang relativisme dan mengajak pada dialog yang saling kritis terhadap diri sendiri. Sejajar dengan pendapat Budhy Munawar-Rachman yang mengutip kalimat-un sawa menurut al-Qur’an – siapapun dapat memperoleh “keselamatan” asalkan dia beriman kepada Allah, kepada hari Kemudian dan berbuat baik.

2.2. Pendapat Kristen:
• Semangat ekspansif nampak menginspirasi pemahaman misi Albert Konaniah yang merekam “Global Consultation on World Evangelization by A. D. 2000 and Beyond” di Singapura – 1989, dengan tujuan membangkitkan semangat orang Kristen di seluruh dunia untuk mengadakan gerakan penginjilan supaya sebelum tahun 2000 berlalu, terang Injil Kristus sudah disampaikan ke seluruh pelosok dunia. Serupa dengan “The Lighting Ceremony of the Great Commission,” Yerusalem –1988. Ini terkait erat dengan amanat gereja dalam Matius 28:18-20, menjadikan semua bangsa murid Tuhan. Gereja harus pandai-pandai menggunakan cara yang efektif, termasuk pelayanan sosial, membela hal asasi manusia, dan penginjilan; di antara cara-cara itu penginjilan merupakan cara yang paling efektif. Penginjilan bukanlah amanat dan tujuan akhir, penginjilan hanya merupakan cara dan proses, maka penginjilan harus berusaha membawa orang lain menjadi murid Tuhan yaitu percaya kepada Yesus Kristus dan menggabungkan diri dalam gereja serta mendirikan gereja baru. Ini juga merupakan tugas sekolah teologi, Albert mempertanyakan apakah tugas utama sekolah teologi? Hanya membentuk kehidupan spiritual ? hanya sekadar memberi informasi perkembangan teologi terkini? Hanya ingin membangun suatu teologi sendiri? Sekadar mencetak teolog-teolog zaman ini? Hanya pendidikan teologi yang berpusat pada Amanat Agung Tuhan Yesus-lah yang dapat berjalan seiring dengan pekerjaan penginjilan dunia

• Pendapat seorang tokoh GKI Sinode Wilayah Jawa Barat – Almarhum Pdt. Eka Darmaputera secara induktif mengemukakan bahwa (1) Kecenderungan sebagian masyarakat melihat umat Kristen dengan curiga, antipati dan sikap bermusuhan, semakin meningkat. (2) Realitas pahit betapa kehadiran kita telah semakin dianggap tidak berarti, suara kita terdengar tapi cuma mengganggu atau “nyaris tak terdengar”. (3) Kualitas kehadiran ktia juga semakin memprihatinkan, stereotip positif (berpendidikan, pandai, jujur, disiplin, dan sebagainya) mulai berguguran diganti dengan stereotip negatif (tukang memaksa, tukang berkelahi, fanatik, anasional). (4) Kecuali kita melakukan rethinking total mengenai kehadiran kita sekarang. Who are we? Where are we? Apa misi dan panggilan kita yang spesifik? Bagaimana strategi kita? Skala prioritas kita? Tapi apa yang terjadi? Sementara gereja-gereja berpikir “yang penting survive” Asal jalan, cukuplah. Kalau tidak puas sekadar jalan lalu kepedulian yang terbesar adalah bagaimana membesarkan diri (self-glorification) – dalam semalam 3000 orang bertobat, Wah, wah , wah (bagi mereka) ini berbahaya, berapa umat mereka yang hilang dalam seminggu? Dengan bangga desas-desus bahwa si A atau si B ‘bertobat’: kenyataannya tidak benar, tetapi kekhawatiran ‘mereka’ benar. Menanggapi beberapa hal tadi beliau berpendapat yang tepat adalah teologi rekonsiliasi (Kolose 1:19-20); kata ‘rekonsiliasi’ (=perdamaian) hanya dipakai sekali dalam kitab-kitab Injil (Matius 5:23-24). Yesus minta agar kita yang pertama mengambil langkah untuk memulihkan kembali hubungan baik kita dengan sesama kita .

• Dalam dialog literaturnya, Aristarchus Sukarto menyambut baik tulisan Darmaputera diatas tadi dengan menyoroti: (1) Pandangan bahwa gereja harus mentobatkan orang lain, hanya akan bertahan apabila hanya ada dua pihak yang saling berhadapan, yaitu yang mentobatkan dan yang ditobatkan. Tidak demikian jika berada pada kemajemukan, pandangan ini dapat kehilangan tempat berpijak. (2) Seperti pandangan sebelumnya, maka pihak yang mentobatkan harus mempunyai pemahaman identitasnya sendiri secara jelas. Batas untuk menyatakan bahwa seseorang itu masuk dalam kelompok atau tidak , perlu tegas. Itulah yang dilakukan Ezra . Namun apakah batas identitas seperti itu yang harus ditunjukkan gereja? (3) Budaya Indonesia menekankan pengenalan akan unsur-unsur yang memiliki kesamaan dari pada menekankan perbedaan, ini mempengaruhi berkurangnya semangat untuk mentobatkan (4) Kekristenan di Indonesia adalah bagian yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia sendiri. Oleh sebab itu semangat misi sebagaimana terkandung dalam pemahaman di atas tidaklah mudah untuk diwujudkan. Misi gereja (Matius 28:19-20) adalah gambaran bahwa murid harus memahami Tuhan dan segala kehendak-Nya sebelum menjadikan yang lain sebagai murid sangat ditonjolkan dalam Injil Matius. Juga Perjamuan Kudus sebagai simbol komunitas yang inklusif dan rekonsiliatif, inilah misi umat-Nya.

III. TINJAUAN TEOLOGIS LEBIH LANJUT
Setelah mendengar beberapa pemaparan pengertian seputar dakwah dan misi Kristen, maka secara konsultatif akan mendialogkan kepelbagaian tadi kepada beberapa bagian dari dokumen kekristenan yang ada, yakni alkitab. David J. Bosch telah membuat karya tulisnya yang menginspirasi para misiolog, dengan mengupas beberapa naskah seperti kitab Matius, Lukas-Kisah Para Rasul, misi dalam Paulus, dan menelusuri sebagian paradigma tradisi misi sampai pada satu kesatuan utuh dari enam peristiwa keselamatan kristologi. “Dalam misi kita, kita memberitakan Kristus yang menjelma, disalibkan, bangkit, naik ke surga, hadir di antara kita di dalam Roh dan membawa kita ke masa depan sebagai ‘tawanan dari arak-arakan kemenangan-Nya’” yang implikasinya adalah Kristus berada bersama korban-korban penindasan – misi pembebasan (teologi pembebasan), misi pengosongan diri – misi pelayanan yang rendah hati, misi yang bangkit dari kuasa-kuasa maut dan kehancuran – menelanjangi topeng-topeng berhala modern dan kemutlakan palsu, prinsip kasih yang mengorbankan diri, misi dalam kuasa Roh-Nya, misi pengharapan.
Sekian panjang sejarah gerakan misi reformasional tidak cukup mengejar ketertinggalannya menandingi munculnya orang-orang tertindas, para korban dan bertumbuhnya kemiskinan pada tiap dekade baru, dalam hal ini secara nyata paradigma misi Lukas-Kisah Para Rasul dengan “amanat agung”-nya (Lukas 4:16-21) merepresentasikan konsep penjelmaan merupakan pilihan yang cenderung mulai ditinggalkan mengajak kita berpikir lebih keras dan melawan kelelahan untuk melangkah pada misi transformasional. Dengan semangat utama yang mempunyai semboyan, bahwa mereka sendirilah yang akan melepaskan diri mereka dari ketidakadilan, kemiskinan. Misi semacam ini bukanlah misi reaktif, karena misi ini telah lebih dulu menanamkan sikap kritis, kekuatan pola pikir, cara pandang dalam pemahaman iman mereka.
Menarik apa yang dikatakan Banawiratma dalam papernya, “Amanat Agung” pada Matius mengenai tugas pengutusan untuk memuridkan (matheteusate) berarti memasuki gerakan Kerajaan Allah, berarti menjumpai wakil-wakil Yesus di dunia ini – yang paling hina. Selanjutnya adalah didaskontes terein panta, terein panta artinya “memegang teguh, setia pada semua” yaitu setia pada tindakan nyata dalam golden rule (Matius 7:12) dan dua hukum terutama tentang sesama manusia (Matius 22:37-39) rangkaiannya dengan “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40, 45).
Perwujudan Missio Christifidelis semacam ini menurut saya memerlukan semangat (energi) inter-kultural dan dikerjakan oleh aktor-aktor inter-disipliner, karena tanpa membesar-besarkan bahwa pekerjaan yang besar memang benar membutuhkan orang-orang yang berjiwa besar pula tidak cukup tanpa pengetahuan dan wawasan yang luas. Pengetahuan yang dimaksud dimengerti secara luas pula mencakup antariman, antar sudut pandang ekonomi, antar budaya, antar ideologi, antar lapisan masyarakat, antar etika, antar pemahaman politik, antar teknologi, antar teologi agar terjadi saling tukar informasi sebagai wujud karya Roh Kudus yang tidak terbatasi. Pemikiran semacam ini bukan timbul karena optimisme yang berlebihan melainkan menjawab tantangan kesulitan di jaman yang makin kompleks.
Justru melalui permasalahan dan krisis yang makin sulit, maka semakin suburlah pertanyaan teodise, dan secara teologis mengimani bahwa Kristus berada bersama mereka yang sedang ber-teodise. Memperteguh argumen yang sering dilupakan banyak orang, dan termasuk gereja sendiri lupa jika Kristus berada dipihak mereka yang termarginalisasi maka justru berbagai potensi yang tersimpan menunggu waktu agar dapat menunjukkan bahwa merekalah wakil-wakil Tuhan. Gereja seringkali membiarkan mereka “bungkam” sehingga gereja lambat untuk dewasa, gereja juga membiarkan orang-orang non-gerejanya lepas kontak dengan kata lain “marginalisasi” pendapat sehingga kontribusi positifnya bagi gereja juga lemah vice versa. Dimana Kristus berada, disitulah potensi demi potensi dimungkinkan diproduksi. Bisa jadi makin terpisahnya gereja dengan mereka, dengan agama lainnya, dengan kehidupan ekonomi dan politik maka makin terpisah pula dengan misi Kristus – missio Christus.
Menarik bahwa setelah memperhatikan beberapa pendapat dari Islam dan membandingkannya dengan beberapa pendapat Kristen, justru penekanan pentingnya dialog antaragama tidak muncul dari pendapat Kristen. Tidak dipungkiri bahwa sikap inklusif dan pentingnya rekonsiliasi adalah masukan penting bagi gereja protestan khususnya GKI Jatim, pertanyaannya adalah mengapa kedua tokoh diatas yang mewakili penerus tradisi kalvinis dan menonite tidak menekankan dialog? Apakah karena dialog benar-benar tidak terjadi / belum terjadi? Atau karena kepentingan mereka adalah permasalahan wacana / pola pandang didahulukan? Semoga semuanya tidak mengesampingkan dialog sebagai salah satu wujud nyata dari missio christifidelis.

IV. DISKURSUS
Wacana inter-kultural yang diperkenalkan oleh Prof. Frans Wijsen, menurut hemat saya merupakan ‘energi’ yang hidup berabad-abad lamanya di tanah Jawa. Anggapan ini saya bangun melihat kenyataan, setinggi-tingginya tembok dibangun, serapat-rapatnya pintu ditutup, masyarakat Indonesia tetap saling mengenal, menyaksikan, berinteraksi dalam pluralitas agama-agama yang ada. Baik secara deduktif melalui pendidikan sejarah, moral, agama (disekolah-sekolah negeri), media massa, juga secara induktif, mendengarkan acara keagamaan yang berbeda-beda di TVRI, mendengar adzan maghrib tiap sore hari, mendengar lagu-lagu natal atau lebaran di super market, dan masih banyak lagi.
Bahkan pergaulan di kampung-kampung, di perumahan, dan lainnya, anak-anak sejak kecil main bersama tanpa membeda-bedakan agama mereka. Masuk disekolah Katolik atau Kristen-pun mereka bertemu dengan teman-teman beragama lain. Walaupun tidak mengatakan tentang wacana inter-kultural, namun Siswono Yudohusodo memaparkan cikal bakalnya demikian:
1. Sama sekali diluar kekuasaan para penganut agama itu sendiri, mengapa agama tertentu turun atau tidak turun di suatu tempat. Saya kira sikap religius yang tepat adalah kembali pada kuasa Ilahi. Pada banyak kejadian, kita memang lebih banyak memeluk agama yang telah ada di sekitar masyarakat kita, yang telah menjadi bagian kehidupan masyarakat itu sendiri.
2. Bila ada berbagai umat yang berlainan paham diam pada daerah yang sama, mereka sendirilah yang menyelesaikan perbedaan paham yang dianutnya itu dengan cara terbaik berdasarkan petunjuk-petunjuk umum yang telah diberikan oleh agama-agama yang dipeluk masing-masing. Barangkali tidak akan banyak terjadi perbedaan pendapat jika kita mengatakan bahwa datangnya wahyu Ilahi tidaklah dimaksudkan untuk merusak keadaan yang telah ada, tetapi justru memperbaikinya.
Dalam buku “The Religion of Java” Clifford Geertz (antropolog) menampilkan perbedaan yang amat tajam antara golongan santri dan abangan, namun ia juga menyatakan agar jangan gegabah menganggap ada pertentangan di antara keduanya. Ia mengatakan: “Sekiranya memang unsur yang memecah itu saja yang ada, masyarakat Jawa sudah lama terjerumus ke dalam perang semua lawan semua. Sekarang perlu ditampilkan kembali unsur-unsur pemersatu dalam masyarakat Jawa yang membentenginya terhadap unsur yang memecah itu. Di antara unsur-unsur pemersatu ini, yang paling penting adalah adanya perasaan sebagai warga dari kebudayaan yang sama.”
Pertama-tama tidak berlebihan, bila optimisme semacam ini mendapat tempat, melihat kenyataan bahwa masyarakat kita dulupun membangun rumah bahkan rumah ibadat bersama-sama tanpa melihat perbedaan agama merupakan wujud nuansa inter-kultural. Dan tidak salah jika disinyalir, peristiwa Ambon atau Situbondo dan sebagainya tidak terlepas dari permasalahan sosial-politis, dari sekadar isu agama. Perkiraan bahwa ‘energi’ inter-kultural benar-benar ada dan terstruktur di masyarakat Indonesia memang perlu dikaji lebih dalam lagi, namun tidak dipungkiri wacana ini akan banyak membantu kepercayaan kita pada diri bangsa ini walaupun pada kenyataannya nuansa terpecah belah yang selalu dituduhkan akibat kolonialisme toh juga mengambil bagian dalam bentuk ‘energi’ yang tetap eksis. Diskursus ini sedikit banyak juga akan menampik tuduhan bahwa jika ‘Barat’ (Belanda) telah gagal dengan penetrasi kolonialismenya, menanamkan misi dengan model mono-kultural, lalu sekarang membawa lagi dengan model inter-kultural maka semuanya tetaplah produk ‘barat’. Tradisi mono-kultural ‘Barat’ tidak begitu saja diserap oleh masyarakat Indonesia mentah-mentah, lebih berupa sinkretisme sehingga sifat “mono”-nya masih perlu dipertanyakan.
Kedua, seperti yang disampaikan Darmaputera sebelumnya bahwa benar ketegangan-ketegangan antar agama, terutama Kristen-Islam adalah stigma bagi kehidupan agama-agama di Indonesia maka justru menjadi bukti bahwa interaksi dan ‘energi’ inter-kultural telah ada sejak dahulu bahkan secara psikologis telah saling memberikan kontribusi walaupun dalam konotasi yang negatif. Namun jenjang inter-kultural ataupun inter-religius yang masih “kekanak-kanakkan” sehingga perlu kesadaran untuk memasuki proses pendewasaan. Sekurang-kurangnya diskursus ini beranalogi dengan teori bahwa globalisasi-lah yang membentuk lokal-lokal, bahwa suatu budaya makin mengarah secara primordial apabila berjumpa dengan budaya lain yang tidak dikenalinya sebagai bagian dari sistem budaya kelompoknya.
Walau bukan satu-satunya potensi dalam me-rekonstruksi ulang misi Kristen di Indonesia, namun kedua diskursus diatas merupakan benih yang pada gilirannya akan menunjukkan pengaruhnya pada proses transformasional agama-agama di negeri ini. Bagi kita yang telah mengenali mekanisme model inter-kultural, walaupun bukan yang ‘totok’ melainkan model ‘peranakkan’ maka tidak ada salahnya menjadikan wacana ini menjadi bentuk alternatif misi gereja-gereja dimulai dari jemaat setempat. Tentu upaya dialog bahkan secara bersengaja mengikuti pendidikan agama Islam di tempat-tempat yang terjangkau dapat dimulai. Dengan maksud ingin mempelajari secara otentik, mengalaminya sebagai bahan pendewasaan iman, menuai benih-benih perdamaian pada lingkungan kita masing-masing sehingga citra-citra buruk yang secara intensif diproduksi dari oknum-oknum atau instansi tertentu tidak dengan mudah melakukan penetrasi pada cara hidup dan cara berpikir kita.

V. PENUTUP
Tak kalah pentingnya kesadaran konteks glokalisasi membuat keseimbangan antara pro-global dan pro-lokal dalam misi . Dengan demikian Missio-Christifidelis – Misi Kristen (sejati) akan membuat wajahnya penuh empati, perhatian pada kebutuhan-kebutuhan keadilan, pembebasan, dan filantropi lainnya jika dibawakan dengan “wajah” yang simpatik, maksud yang tulus, dengan secure (bahasa psikologi). Sikap tenang yang tidak dibuat-buat, siap mendengar penuh empati, bertemu dengan berbagai model lainnya baik mono atau multi-kultural. Apa yang kita pikir dan renungkan jika pada perjumpaan pertama kita diawali dengan diberi fotokopi kisah sebagai berikut:

Aku berdiri dengan hati gundah. Jalan Yusuf, Rawa Belong, Jakarta Barat, tempat yang selama ini aku akrabi, tampak senyap dan berkabut. Pikiranku kalut dan bimbang. Hidup akhir-akhir ini terasa begitu berat. Cobaan demi cobaan datang silih-berganti, membuat aku limbung.

Tekadku sudah bulat untuk menemui pendeta sebuah gereja di kawasan Jakarta Barat. Pendeta itu menjanjikan bantuan keuangan untukku sebesar lima juta rupiah dan akan mencoba membantu mengatasi permasalahan-permasalahan yang aku hadapi. Jujur aku katakan, aku kehilangan tempat bertanya, aku menggapai-gapai nyaris putus asa, tapi tak seorangpun yang peduli. Aku tercampak, aku terhina, aku dicaci maki. Aku nyaris roboh.
Sebelumnya aku sudah berniat bunuh diri. Semua persiapan sudah matang. Tapi ketika aku akan melaksanakannya, tangisan Nurmala, putriku yang dulu lahir premature, membuat aku tersadar. “Mama…” dia menangis dengan raut muka yang tidak bisa aku lukiskan. “Ya Allah,” aku tersentak. Putriku itu bagaikan malaikat yang menyadarkanku akan dosa besar yang nyaris aku perbuat.
Setelah berhari-hari dalam kemurungan yang tak bertepi, pendeta itu meneleponku dan menyuruhku dating. Ada keraguan, ada kebimbangan, tapi aku tak punya teman untuk berbagi. Jilbab yang selama beberapa bulan ini aku pakai, langsung aku copot. Toh aku akan menemui seorang pendeta. Rasanya ada yang berbeda ketika jalan Yusuf, tempat yang selama ini membesarkanku, aku telusuri. Perbedaan itu ada pada hatiku yang kini sedang guncang.

Ketika kendaraan yang akan aku naiki menuju tempat pendeta itu, seorang tetangga yang melihatku menyapa, “tumben nggak berjilbab?” Teguran sederhana yang mungkin bagi dia basa-basi tapi membuatku tersentak.
“Ya Allah, apa yang akan aku lakukan? Ternyata masih ada orang yang memperhatikanku. Aku tidak sendirian, masih ada Kau, ya Allah, yang menegurku dengan cara-Mu sendiri”
Aku langsung membatalkan tujuan untuk bertemu pendeta itu. Aku kembali menelusuri jalan pulang. Sesampai di rumah, aku merenung dan berusaha untuk menenangkan hati.

Dari kisah tersebut maka baik pertanyaan atau pernyataan yang muncul dibenak kitalah yang akan menunjukkan sejauh mana kedewasaan misi kita sebagai orang Kristen. Sebagai contoh beberapa kemungkinan buah pikiran yang terwakili dalam karya tulis ini; Cerita ini tidak ada istimewanya! …, sayang sekali ibu itu tidak jadi pergi ke pendeta …, inilah gambaran manusia yang hidupnya tergantung pada materi (materialis)…, kasihan ibu ini karena dia tidak mengenal Kristus, dan inilah saat yang tepat …, sayang sekali – kok pendeta itu tidak mendatangi ibu itu, kurang pro-aktif! …, tuh – lihat! Ibu itu tidak dipedulikan oleh sesamanya! …, jangan-jangan ibu ini pernah berbuat dosa besar sebelumnya dan dia belum sadar! …,lagi-lagi wajah kekristenan sama dengan ‘uang’ …, wah! Gawat! Pendeta dan uang dianggap cobaan! …, orang ini pasti tidak tekun beragama …, suatu dosa besar karena ibu ini meragukan Tuhan! …, ini pasti pekerjaan iblis! …, dan sebagainya.
Disamping kisah itu ada foto ibu tersebut dan sebuah ayat yang bunyinya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (QS Al-Ankabut: 2-3) judul yang diberikan adalah “Cobaan itu Hampir Membuatku Murtad”.
Maka berdasarkan konsep misi yang transformatif ternyata baru hanya ada satu pernyataan etis dari orang-Muslim yang memberikan fotokopi tersebut: “Mengapa kalau ada orang yang minta pertolongan kok tidak ditanyakan dahulu kepada siapa seharusnya orang itu meminta bantuan?” Secara mendalam melukiskan muncul pertanyaan kepedulian macam apakah? Bagaimana etikanya?. Lalu baiklah kita menyambut dengan pertanyaan, bagaimanakah meng-intepretasi ayat al-Qur’an yang dikutip itu? Bagaimanakah kisah itu menjelaskan sebagian ajaran Islam? Apa manfaatnya bagi pembaca?
Dengan demikian, saya mengajak Gereja Kristen Indonesia secara umum dan Sinode Wilayah Jawa Timur secara khusus untuk meneliti dan mengembangkan wacana misi yang kurang lebih memunculkan nuansa inter-kultural, mengembangkan unsur inklusif, memperjuangkan rekonsiliasi, kebebasan dan keadilan. Mempertimbangkan lagi bentuk-bentuk misi yang karikatif, memperbaiki dan memantapkan bentuk-bentuk misi yang reformatif, segera memulai misi yang transformatif. Dan tak kalah pentingnya, penulis berharap mendapatkan masukan-masukan atau tanggapan-tanggapan agar suasana dialogis tidak sekadar wacana namun menjadi realita.

Didedikasikan kepada:
Gereja Kristen Indonesia Sinode Wilayah Jawa Timur

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress