FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

June 19, 2007

Mewujudkan Masa Depan Baru : Antara dengan Kekerasan dan Perdamaian

Filed under: Tafsir — admin @ 8:13 am

Karya: Tri Harmaji, Kategori: pilihan dosen

Pendahuluan; bagaimana suatu pengharapan apokaliptik muncul

Bagaimanakah visi apokaliptik muncul, merupakan pertanyaan yang paling pertama harus kita jawab jikalau kita ingin membahas apa itu apokaliptik dan bagaimana konsep ini dapat dimanfaatkan bagi kemanusiaan. Dari persoalan (pertanyaan) ini kita akan mengetahui apa yang sesungguhnya mendorong orang untuk berusaha mengganti situasi hidupnya saat itu dengan suatu sistuasi hidup yang baru, yang dalam banyak kasus bahkan diperjuangkan dengan kekerasan - yang disisi lain justru itu mengorbankan, bukan hanya sesama kelompok mereka tetapi juga diri mereka sendiri. Dalam beberapa kasus perjuangan apokaliptik, harapan mereka tidak putus pada kematian yang sangat nyata ada di depan mereka, padahal dalam kematian mereka tidak mungkin lagi dapat menikmati apa yang mereka cita-citakan dan tengah mereka perjuangkan itu. Kematian ini bukannya tidak disadari oleh mereka sebagai masalah ketika mereka berusaha mewujudkan dunia baru apokaliptik mereka, hanya saja kematian dianggap terlalu kecil bila dibandingkan dengan apa yang sedang mereka perjuangan. Kematian seringkali dianggap sebagai pengorbanan yang harus terjadi, tetapi bagi mereka kematian bukanlah hambatan untuk dapat menikmati dunia baru yang sedang mereka perjuangkan itu karena toh bila saatnya tiba mereka akan dibangkitkan. Pemikiran ini paling tidak tampak dalam visi apokaliptik Yahudi dan agama Kristen. Mungkin saja ada variasi mengenai hal ini dalam visi-visi apokaliptik yang lain, tetapi yang utama harus kita tangkap di sini adalah kekuatannya dalam menggerakan manusia (masyarakat). Dalam sejarah, visi apokaliptik telah menggerakkan banyak bangsa dan kelompok masyarakat untuk mengambil tindakan-tindakan besar (seperti peperangan misalnya) yang penuh dengan perjuangan dan penderitaan. Pengorbanan terhadap segala sesuatu untuk visi ini merupakan indikasi dari betapa berharganya dunia baru yang mereka bayangkan itu.

Bagaimana gerakan apokaliptik ini muncul? Sebagai contoh, marilah kita melihat dari beberapa gerakan apokaliptik di bawah ini:

1. Gerakan Apokaliptik Yahudi

Telah kita ketahui bahwa gerakan apokaliptik Yahudi muncul pada zaman antar-perjanjian, khususnya pada kira-kira tahun 250 sM- 100 M[1]. sebelum masa ini, kira-kira pada abad ke-3 sM, Aleksander Agung dari Yunani telah menaklukkan banyak daerah termasuk Palestina. Salah satu rencana besar Aleksander terhadap wilayah-wilayah jajahannya adalah yang kita kenal sebagai program helenisasi. Aleksander Agung begitu mengagumi kebudayaan Yunani sehingga ia bermaksud untuk menyebarkan kebudayaan itu ke seluruh dunia. Di sini, nampaknya ia punya gambaran mengenai dunia baru yang satu (oukumene), di mana tidak ada lagi perbedaan kebudayaan antar bangsa karena semuanya telah bersatu dalam budaya Yunani itu. Program ini disatu sisi sangat mengesalkan orang Yahudi dan menimbulkan perlawanan dari mereka. Orang Yahudi seperti kita tahu sangat membanggakan dan percaya diri dengan idetitas kebangsaannya sebagai satu-satunya umat pilihan Allah, yang demikian kebudayaan mereka pun (yang didasarkan pada Taurat) juga merupakan kebudayaan “suci” karena berasal dari Allah. Namun demikian, Aleksander Agung dan penerus-penerusnya terus mencoba memaksakan helenisasi terhadap orang Yahudi dengan pertimbagan kesatuan dan persatuan negara. Zaman pemerintahan Atiokus IV Epifanes merupakan puncak dari usaha helenisasi terhadap orang Yahudi; pada tahun 167 sM ia mengeluarkan sebuah keputusan yang isinya melarang orang-orang Yahudi untuk menjalankan hukum-hukum dan adat-istiadat nenek moyang mereka lagi. Ciri-ciri khas kepercayaan Yahudi dilarang untuk dipraktekkan dengan ancaman hukuman mati bagi pelanggarnya. Puncak penghinaan ini terjadi ketika sebuah altar dewa Zeus Olympus ditempatkan di atas altar bait Allah dan di situ daging babi dipersembahkan sebagai sesajen (II Makabe 6:2; Dan 11:31; 12:11).[2]

Menanggapi ini, orang-orang Yahudi menjadi amat geram (walaupun ada juga yang tertarik untuk menjadi helenis) dan menyerukan perlawanan. Di bawah kepemimpinan Yudas Makabeus banyak orang Yahudi bersatu untuk mengadakan pemberontakan melawan penjajah yang kurang ajar itu. Sebenarnya energi apakah yang mendorong orang-orang Yahudi waktu itu untuk mengadakan perlawanan, walaupun sebenarnya kekuatan mereka sangat kecil bila dibandingkan dengan kekuatan Syria yang menjajah mereka waktu itu? Jawabannya adalah pengharapan apokaliptik! Yang dianggap oleh Aleksander Agung sebagai dunia baru itu, bagi orang Yahudi adalah suatu penindasan dan penderitaan. Keadaan ini membuat orang Yahudi tersinggung sebagai bangsa pilihan karena identitasnya mau dilebur begitu saja dalam helenisme. Mereka percaya bahwa bukan seperti ini rencana Allah bagi mereka dan dunia. Dari para nabi mereka tahu bahwa rencana Allah adalah kesatuan seluruh bangsa di bumi dengan Israel sebagai mahkotanya, dan sekali lagi bukan orang Yunani. Yang terjadi sekarang ini bukanlah apa yang sesuai dengan kehendak Allah, oleh sebab itu keadaan ini tidak akan kekal. Sebentar lagi Allah pasti akan turun tangan untuk mengakhiri kerusuhan dan pemberontakan iblis ini dan mulai menciptakan kembali dunia baru seperti yang direncanakanNya. Kesadaran ini membuat mereka akhirnya memutuskan untuk melawan helenisasi, baik secara aktif seperti kelompok makabe atau pun secara pasif seperti kelompok Eseni. Banyak hal dikorbankan untuk proyek perlawanan ini; harta benda dan bahkan nyawa mereka dipertaruhkan demi pengharapan mereka akan rencana Allah yang akan segera mengakhir kenyataan buruk saat ini.

2. Gerakan Apokaliptik Kristen

Gerakan apokaliptik Kristen sebenarnya merupakan lanjutan dari gerakan apokaliptik Yahudi karena pada dasarnya agama kristen adalah sempalan dari agama Yahudi. Dalam Perjanjian Baru terdapat paling tidak dua tulisan apokaliptik besar yaitu kitab Wahyu dan kotbah Yesus tentang akhir zaman dalam Matius 24, tetapi selain itu masih pula terdapat dalam tulisan-tulisan perjanjian baru lainnya seperti; Yoh. 3:13; Kis. 10:42; 1Kor. 1:8; Fil. 1:6; Ibr. 9:28; Yak. 5:7-8; 1Ptr. 4:7; Yud. 17-19 dll. Bagaimanakah apokaliptik kristen muncul? Selain sebagai lanjutan dari apokaliptik Yahudi dengan pengharapan akan dunia barunya, apokaliptik Kristen terutama dicirikan dengan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Umat Kristen Perjanjian Baru, percaya bahwa keadatangan Yesus yang pertama dalam pelayanan dan kematiannya walau pun telah membawa dunia baru (kerajaan Allah) tetapi itu belum sempurna. Penyempurnaan dunia baru dalam kerajaan Allah, baru akan terwujud ketika Tuhan Yesus datang lagi ke dalam dunia (parousia).

Memang ada yang mengaitkan antara berbagai penganiayaan yang dialami oleh orang Kristen waktu itu dengan tulisan-tulisan apokaliptik mereka, sama seperti orang Yahudi melahirkan pengharapan apokaliptiknya di tengah-tengah penderitaan yang mereka sedang alami. Menurut saya, memang pendapat seperti ini tidak sepenuhnya salah karena yang pertama memang pengharapan apokaliptik Kristen merupakan kelanjutan dari apokaliptik Yahudi, sehingga kesamaan konsep seperti itu mungkin saja memang ada. Terus yang kedua, secara psikologis, seseorang yang mengalami penderitaan pastilah mengharapkan suatu pelepasan dan kemerdekaan dari penindasan itu. Demikian juga orang Kristen ketika mengalami penganiayaan baik dari orang Yahudi pada permulaan dan dari orang Romawi (seperti dialami oleh Yohanes dalam kitab Wahyu), kemudian mengharapkan suatu jaman kemerdekaan dimana mereka akan terlepas dari segala penderitaan dan sebaliknya mengalami sukacita, kehormatan dan kebebasan. Dunia saat ini mereka pandang sebagai dunia dalam kekuasaan iblis yang harus mereka tundukkan untuk kerajaan Kristus. Dalam kitab Wahyu dengan jelas digambarkan bagaimana orang-orang kudus harus bertahan dalam menghadapi kekejaman iblis sambil menunggu Allah dan pasukanNya datang untuk menyelamatkan mereka. Dunia baru yang mereka harapkan baru akan terjadi setelah kuasa iblis dan para pengikutnya dapat ditundukkan sepenuhnya dalam pengukuman kekal. Keyakinan akan janji Yesus untuk datang kembali kedunia dan membawa dunia baru bagi mereka, merupakan energi utama untuk bertahan dalam menghadapi penganiayaan dan penderitaan, sambil –di sisi lain- secara aktif menjadi saksi dalam mengabarkan Injil.

3. Gerakan Apokaliptik Jawa

Orang Jawa juga memiliki pengharapan akan datangnya suatu dunia baru yang penuh dengan kemakmuran dan kebahagiaan. Jaman ini terkenal dengan Jaman Ratu Adil. Setelah bosan dengan keadaan sengsara yang terus mereka alami saat ini, mereka mengharapkan bahwa suatu saat akan datang suatu jaman dimana mereka dapat hidup berkecukupan dan bahagia karena tidak ada lagi penindasan dari para penguasa. Pengharapan akan datangnya Ratu Adil ini terutama berasal dari ramalan Jayabaya dan ramalan Ronggowarsita. Ramalan Jayabaya sendiri, walaupun banyak ahli meragukannya, beasal dari raja Jayabaya yang memerintah kerajaan Kediri pada tahun 1135-1157 M. Dalam ramalan ini dijelaskan bahwa sejarah sebenarnya dapat dibagi menjadi tiga era besar (jaman Kali Swara, Jaman Kali Yoga dan Jaman Kali Sangsara), lalu setiap dari tiga era tersebut dibagi lagi masing-masing menjadi tujuh masa.[3] Menurut ramalan ini, jaman Ratu adil baru akan datang setelah berlangsungnya jaman kala Bendu (termasuk dari tujuh jaman dalam Jama kali Sangsara) yang penuh dengan kesengsaraan.

Jaman kala Bendu adalah jaman kesengsaraan, dimana rakyat akan mengalami penindasan dari para penguasa mereka. Kesengsaraan itu digambarkan dengan keadaan sosial politik yang kacau; kenaikan pajak, banyak orang menjadi semakin jahat, hukum tidak lagi dapat memberikan keadilan, wanita akan kehilangan kehormatannya, orang tidak lagi mengindahkan Tuhan dan orang tuanya. Selain itu terjadi juga berbagai bencana; kelaparan, ketidakteraturan musim, gempa, gerhana dan terjadi perang terus-menerus. Baru setelah ini semua berakhir akan datanglah Ratu Adil yang membawa dunia baru itu. Dalam sejarah Indonesia kontemporer, pengharapan akan datangnya Ratu Adil dalam masyarakat Jawa bisanya selalu muncul ketika mereka mengalami suatu keadaan yang dapat disamakan dengan jaman kala Bendu di atas. Ketika menghadapi penjajahan Belanda dan Jepang, Soekarno memaknai kemerdekaan yang mereka cita-citakan sebagai Ratu Adil yang akan memberikan kemakmuran dan kedamaian kepada seluruh rakyat Indonesia. Demikian juga dalam Reformasi ’99 konsep Ratu Adil kembali diperbincangkan di kalangan masyarakat Jawa.

4. Gerakan Apokaliptik Modern(?)[4]

Pengharapan dan bayangan akan suatu dunia baru yang makmur dan damai bukan hanya dimiliki oleh masyarakat kuno seperti yang muncul dalam agama Yahudi, Kristen atau orang Jawa masa lalu, melainkan lebih merupakan kecenderungan universal yang bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Sebenarnya bila ternyata bahwa orang Yahudi, kristen atau Jawa saat ini masih mengharapkan dunia baru seperti yang dijanjikan dalam warisan apokaliptik mereka, ini membuktikan bahwa manusia kontemporer pun memiliki pengharapan-pengharapan semacam itu. Hanya saja di sini kita menyadari bahwa pengharapan mereka itu selalu merujuk pada apa yang mereka warisi dari generasi-generasi sebelum mereka, jadi mereka tidak menciptakan sendiri bentuk dunia baru yang mereka harapkan itu.

Dalam bagian ini saya tidak akan menyampaikan suatu uraian mengenai pengharapan dunia baru kontemporer ini sebagai kecenderungan universal tetapi penulis akan memberikan suatu contoh yang sebenarnya merupakan gambaran dari kecenderungan universal tersebut. Contoh ini penulis ambil dari sebuah artikel dalam RENAI; kisah fundamentalisme yang telah diceritakan tiga kali: upaya sosialis, kapitalis, dan protestan untuk mengubah penduduk dataran tinggi bagian tengah Vietnam (Oscar Salemink)[5]. Artikel ini berusaha menjelaskan bagaimana pemerintah Republik Sosialis Vietnam berusaha untuk mengubah penduduk dataran tinggi bagian tengah menjadi apa yang mereka sebut sebagai “manusia sosialis baru” demi mencapai masa depan baru yang lebih baik. Penduduk dataran tinggi bagian tengah atau yang sering disebut sebagai orang gunung ini merupakan minoritas etnis di Vietnam yang dianggap sebagai yang paling tertinggal dan primitif.

Pada tahun 1975 Republik Sosialis Vietnam baru, yang bersatu kembali mulai menerapkan sejumlah kebijakan yang saling berkaitan di bawah panji-panji apa yang disebut ortodoksi Komunis. Dalam kebijakan/ program ini pemerintah Vietnam berusaha menata dan mengubah masyrakatnya, seperti kata Chan menjadi “sistem baru, manusia baru” yaitu suatu masyarakat yang mereka yakini lebih baik sebagai prasyarat untuk datangnya dunia baru yang mereka ciptakan dan nantikan itu. Apa yang mereka maksudkan menjadi manusia baru di sini adalah berubah dari “manusia tradisional” dan manjadi “manusia sosialis baru”. Menjadi manusia sosialis baru berarti meninggalkan segala kebiasaan manusia tradisional yang terbelakang seperti pola bertani tebang-bakar[6] yang bertujuan konsumsi, yang disamakan dengan pola nomaden yang bersifat primitif menjadi manusia modern yang memiliki pola pertanian menetap dan berorientasi pada pasar. Manusia sosialis baru adalah manusia yang telah memperluas cakrawala atau loyalitasnya dari keluarga menjangkau Partai, dari desa menjangkau bangsa; mereka telah membuang kebodohan dan keterbelakangan untuk memperoleh pengetahuan, disiplin kerja, patriotisme dan sosialisme dan mengganti kepercayaan pada roh dan takhyul dengan percaya diri, keyakinan pada gaya hidup kolektif dan sosialis.

Untuk mencapai cita-cita ini, pemerintah berusaha dengan membuat berbagai program, yang dapat mendorong masyarakat, khususnya dalam hal ini penduduk dataran tinggi bagian tengah, untuk berubah dari pola hidup tradisional ke arah manusia baru. Program-program itu dapat digolongkan menjadi 2, yaitu yang bersifat lunak dan keras. Progam yang dapat dikatakan sebagai lunak adalah meliputi mobilisasi (van dong), propaganda (tuyen truyen) dan transmigrasi; mobilisasi dan propaganda dilakukan dalam bentuk-bentuk seperti pengadaan pelayanan “modern” misalnya pendidikan dan perawatan kesehatan atau perayaan ekspresi budaya tradisional melalui penyelenggaraan “festival gong” (le hoi cong chieng) yang dipertandingkan. Dalam program ini juga dilakukan apa yang disebut sebagai “seleksi budaya”, jadi pemerintah berhak untuk menentukan budaya manakah yang pantas untuk dipertahankan, ditransformasikan atau bahkan dilenyapkan. Kebiasaan yang ketinggalan jaman dan praktek-praktek yang sudah kadaluarsa dan terbelakang seperti praktek-praktek religius (takhyul, ilmu sihir, tabu yang tak beralasan) harus dihapuskan karena bertentangan dengan pengetahuan modern. Selain itu pesta dan persembahan korban yang menyertai ritual siklus kehidupan seperti pernikahan dan kematian dianggap sebagai pemborosan dan tidak sehat, sehingga prakteknya harus mendapat pengawasan ketat dari pemerintah. Sedangkan program transmigrasi dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat metamorfosis penduduk dataran tinggi bagian tengah yang dianggap terbelakang itu menjadi manusia sosialis baru; dalam program ini pemerintah berusaha memindahkan penduduk dari dataran rendah yang padat tetapi maju ke dataran tinggi bagian tengah yang kurang penduduk dan terbelakang. Dengan cara ini pemerintah selain melakukan pemerataan tetapi terutama berusaha mempercepat kemajuan orang-orang gunung tersebut yaitu dengan bantuan (pengaruh) orang dataran rendah yang dipindahkan ke sana. Sedangkan yang kedua, program-progam yang dapat dibilang keras dan kaku adalah apa yang disebut sebagai “pendidikan ulang” dikamp-kamp khusus; program ini sebenarnya merupakan program “cuci otak” yang ditandai dengan kerja berat secara fisik, propaganda yang diulang-ulang, menulis otobiografi dan pengakuan serta sesi “kritik” (terhadap diri sendiri).

Pada kenyataannya, program ini kurang berhasil karena progran ini kurang mengakomodasi budaya dan kepentingan penduduk dataran tinggi bagian tengah. Penduduk dataran tinggi bagian tengah merasa sangat dirugikan dalam program-progaram ini kerena selain mereka banyak kehilangan tanah, mereka juga kehilangan pola hidup (budaya rumah panjang) tradisional mereka. Sebagai bentuk perlawanan, mereka pindah semakin menjauh ke tengah hutan sehingga tidak terjangkau oleh pejabat-pejabat pemerintah. Bahkan orang-orang gunung ini sempat melakukan perlawanan bersenjata yang bertujuan untuk membentuk zona otonom di dataran tinggi bagian tengah, tetapi akhirnya dikalahkan dan pada tahun 1992 mereka (FULRO) menyerahkan diri pada Pejabat Transisi PBB di Kampuchea. Sebagai bentuk perlawanan yang terkahir mereka melakukan perpindahan agama menjadi penganut agama kristen Protestan, yang dalam konteks Vietnam dapat berarti sebagai penegasan kembali terhadap batas-batas entis mereka sebagai orang-orang gunung yang otonom dan tidak tunduk pada pemerintahan komunis Vietnam.

Apa itu Apokaliptik

Yang seringkali kita pahami adalah bahwa kata ini selalu beruhubungan dengan eskatologi (akhir zaman). Istilah akhir zaman, atau kiamat dalam agama Islam, selalu berkaitan dengan doktrin agama monotheis seperti Kristen, Islam dan Yahudi. Sehingga bila kita berbicara mengenai apokaliptik selalu saja yang ada dalam pikiran kita adalah suatu keadaan yang mencekam, suatu kehancuran dan ketakutan karena era bumi / dunia ini telah berakhir, seperti digambarkan dalam doktrin kiamat agama monotheis di atas. Jadi apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan apokaliptik itu? Kata “apokaliptik” sebenarnya berasal dari sebuah kata Yunani apokalypis yang berarti “menyingkapkan”, “membukakan”, biasanya merujuk kepada sesuatu yang sebelumnya tersembunyi tetapi kini telah disingkapkan.[7] Pertanyaannya kemudian adalah; Apakah yang sebelumnya tersembunyi tetapi yang kini telah disingkapkan itu? Dari sastra-sastra apokaliptik yang berasal dari contoh-contoh pengharapan apokaliptik di atas (khususnya dalam Yahudi, Kristen dan Jawa), kita tahu bahwa yang dimaksud dengan apokaliptik itu adalah apa yang bisa kita sebut sebagai “masa depan”. Tahun-tahun dimana sastra apokaliptik itu muncul biasanya adalah tahun-tahun yang penuh dengan ketidakpastian, (khususnya bagi orang-orang tertentu penerima/ penggagas apokaliptik itu), penderitaan, atau paling tidak suatu keadaan yang tidak seperti yang mereka inginkan dan harapkan. Mereka sangat tidak menyukai situasi saat itu dan sedang mengharapkan agar situasi itu berubah ke arah yang lebih baik (terutama bagi mereka sendiri), lebih makmur dan damai. Hal ini terlihat dari konsep langit baru dan bumi baru dalam apokaliptik kristen, dunia yang dipersatukan dengan Yerusalem sebagai pusatnya dalam apokaliptik Yahudi, Ratu Adil dalam apokaliptik Jawa dan dunia baru dalam apokaliptik Republik Sosialis Vietnam.

Dari hal di atas maka menurut penulis secara oprasional yang disebut apokaliptik sebenarnya adalah suatu masa depan baru yang penuh dengan segala kebaikan, yang mereka harapkan akan menggantikan masa kini yang penuh dengan ketidakpastian dan keburukan. Tetapi masalahnya dalam sastra apokaliptik keagamaan kenapa pengharapan ini selalu dihubungkan dengan akhir jaman/ kiamat, sedangkan dalam apokaliptik modern hanya dihubungkan dengan ideologi masa depan bangsa saja (seperti tampak dalam cita-cita ortodoksi komunis di Vietnam)? Hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang sulit dijelaskan. Dalam apokaliptik keagamaan, orang memang secara otomatis mengharapkan suatu campur tangan Tuhan dalam pengharapan akan dunia baru mereka. Hal ini dapat dengan mudah dimengerti karena orang yang beragama memang hampir selalu mendasarkan setiap harapan dan tindakan-tindakannya pada kepercayaannya kepada Tuhan. Tetapi di sisi lain masyarakat sekuler seperti yang tampak di Vietnam sama sekali tidak memiliki konsep tentang Tuhan yang akan menolong manusia untuk mencapai kemakmuran, tetapi sebaliknya mereka sepenuhnya bertopang pada kekuatan diri sendiri. Jadi pengharapan akan dunia baru yang mereka harapkan itu selalu masih dalam batas jangkauan manusia; dunia baru itu tidak akan terjadi di luar ruang dan waktu yang tidak bisa dijangkau manusia seperti dalam pengharapan akan dunia baru dalam agama (surga).

Jadi dalam pengertian seperti ini kita dapat menempatkan antara pengharapan pemerintah Vietnam untuk menciptakan masyarakat sosialis yang makmur, pengharapan akan datangnya Ratu Adil di Jawa, pengharapan akan bersatunya dunia di bawah pemerintahan Israel (Yerusalem) dan konsep sorga dalam agama Kristen dan Islam dalam kedudukan yang sejajar dan sama. Entah mungkin di sini akan tidak tepat lagi penggunaan istilah apokaliptik, tetapi memang pada tingkat oprasional pengharapan akan dunia baru itu selalu melahirkan gerakan-gerakan yang hampir sama; gerakan Zelot dalam agama Yahudi, gerakan Injil Sosial dalam agama Kristen, gerakan perlawanan Diponegoro dalam masyarakat Jawa dan pemaksaan ortodoksi komunis oleh pemerintah Vietnam, adalah suatu usaha kongkret manusia untuk berusaha mewujudkan dunia baru yang mereka harapkan secara nyata dan mandiri.

Bayangan mengenai bagaimana mewujudkan dunia baru

Bagaiamana pun pengharapan akan suatu dunia baru itu harus diwujudkan, entah itu dilakukan dengan kekuatan sendiri ataupun dengan pertolongan Tuhan. Ada dua pilihan cara yang dapat digunakan untuk mewujudkan dunia baru itu, yaitu dengan kekerasan seperti perang misalnya dan dengan perdamaian. Tarik-ulur antara dua cara ini sebenarnya tidak hanya terjadi dalam dunia modern yang beradab ini, yang telah mengembangkan kemampuan untuk bernegosiasi dan memecahkan konflik secara damai, tetapi sebenarnya telah juga menjadi wacana dan bahkan dalam kadar tertentu dipraktekkan sejak jaman Perjanjian Lama. Di bawah ini penulis akan memberikan uraian singkat mengenai kedua hal ini:

1. Mewujudkan dunia baru dengan kekerasan

Gambaran apokaliptik dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama mau pun Perjanjian Baru memang penuh dengan warna kekerasan. Dalam kitab Daniel kedatangan dunia baru yang dipersonifikasikan dengan kedatangan Anak Manusia harus didahului dengan muncul dan berkuasanya 4 binatang yang membawa kehancuran bagi manusia (Dan. 7:1-28). Dalam pasal 12 kedatangan akhir zaman diwarnai dengan kesesakan besar (ay. 1), suasana penganiayaan dan perang, yang akhirnya kekuatan Anak Manusia mengalahkan segala kekuatan penghacur dalam diri binatang yang keempat dan seluruh pengikut mereka dihukum. Dalam nada yang sama, dalam kitab Wahyu Perjanjian Baru, kedatangan dunia baru yang dipersonifikasikan dengan Yerusalem Baru juga didahului dengan terjadinya bencana-bencana alam dan sosial; perang, kelaparan, wabah (6:4,8 bnd. Mat. 24:7), gempa bumi (16:12; 8:5; 11:13,19; band. Mat. 24:7), belalang (9:3-11; band. Yoel 2:1-11) dan perubahan benda langit (6:12-17; 8:10-12; band. Yes. 24:21-23; Yoel 3:3-4).[8] Setelah semuanya ini terjadi maka pemerintahan Allah akan mengadakan pengadilan untuk menghukum orang-orang yang selama ini berbuat jahat kepada mereka (para pengikut Iblis).

Dalam tradisi yang lain (di luar Alkitab), banyak orang dan bangsa menggunakan pepatah Latin; si vis pacem, para bellum, jika anda menginginkan perdamaian, bersiap-siaplah untuk berperang. Sepanjang masa, kemampuan masyarakat untuk melangsungkan peperangan telah menjadi upaya yang dilembagakan dan menetap, dengan sejumlah besar sumber diperuntukkan bagi tentara dan persenjataan, dan kemajuan teknologi ditujukan untuk melahirkan senjata-senjata yang semakin canggih dan ampuh.[9] Konsep dan keyakinan seperti inilah yang kemudian melahirkan semua peperangan yang ada di dunia sepanjang ribuan tahun sejarah manusia. Pengharapan apokaliptik Yahudi telah melahirkan gerakan Zelot yang memimpin perjuangan orang Yahudi melawan pendudukan Roma, yang mana sebagai akibat dari perlawanan itu ribuan orang Yahudi mati dan ditawan sebagai budak, serta Bait Allah diratakan dengan tanah pada Tahun 70 M. dan selanjutnya pada pemberontakan terakhir orang Yahudi tahun 135 M, orang Yahudi terusir dari tanah miliknya dan kota Yerusalem dihancurkan sama sekali. Orang-orang Zelot tidak bisa membayangkan suatu hidup baru dibangun dalam suasana kehadiran bangsa Romawi yang menindas. Bagi mereka dunia baru yang penuh syalom baru akan terwujud dengan dikalahkannya bangsa Roma, untuk selanjutnya ganti mengabdi kepada bangsa Yahudi dalam masa pemerintahan Kerajaan Allah. Lebih dari ini semua, dalam sejarah selanjutnya, dunia dihancurkan oleh perang dunia I dan perang dunia ke II. Menurut Renner, tiga perempat korban perang yang tewas sejak jaman Julius Caesar terjadi pada abad ini. Jumlah kematian akibat perang telah membengkak mulai dengan kurang dari 1 juta dalam abad keempat belas sampai sekitar 110 juta sejauh sampai abad ini, jauh lebih cepat dari pada laju pertambahan penduduk.[10] Kenyataan buruk ini masih diperburuk dengan berbagai aksi terorisme dewasa ini seperti peristiwa 11 September di gedung kembar Amerika Serikat, bom bali dll., yang akhirnya berbuntut pada serbuan tentara Amerika ke Afganistan dan Irak yang menghancurkan negeri-negeri itu.

2. Mewujudkan dunia baru dengan damai

Apakah seluruh Alkitab setuju dengan pendapat bahwa suatu dunia baru harus diwujudkan dengan kekerasan seperti tampak dalam kitab Daniel dan Wahyu? Ternyata tidak! Kisah penciptaan dalam kitab Kejadian ternyata memberikan gambaran yang berbeda. Dalam menciptakan bumi dan segala isinya Allah memberdayakan potensi-potensi yang telah ada tanpa kekerasan dan pemaksaan.[11] Kata bara (mengatur) yang digunakan dalam teks ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak menciptakan dari ketiadaan (creatio ex nihillo), tetapi dari potensi-potensi yang memang sudah ada seperti samudra raya misalnya. Dari teks Kejadian pasal 1 kita tahu bahwa Allah tidak terlebih dahulu menghancurkan (kekerasan) samudra raya itu dalam usaha menciptakan kehidupan baru di bumi, melainkan Allah hanya mengatur dan menatanya sana-sini sehingga kehidupan bisa mendapatkan tempat. Dan yang perlu diingat juga bahwa dalam program penciptaanNya, Allah tidak berusaha melenyapkan tetapi sebaliknya bahkan memberikan tempat yang besar kepada samudra raya (sebagai sesuatu yang telah ada) dalam kerangka ciptaanNya yang utuh. Cerita ini sebenarnya merupakan gambaran dari agan-angan penulis kitab Kejadian tentang bagaimana seharusnya suatu dunia baru diciptakan. Dalam dunia kuno yang selalu diwarnai dengan kekerasan dan perang, harapan seperti ini terlihat seperti mimpi yang tidak mungkin menjadi kenyataan. Tetapi bagaimana pun menurut penulis harapan untuk menciptakan suatu dunia baru tanpa kekerasan memang benar-benar telah menjadi wacana dan impian sejak jaman Perjanjian Lama. Cerita mengenai Yunus yang diutus Tuhan untuk memberitakan seruan pertobatan kepada masyarakat kota Niniwe merupakan gambaran lain dari wacana ini. Dalam kitab Yunus ini diceritakan bagaimana Allah, dalam kehendakNya untuk menciptakan suatu dunia baru di Niniwe (Niniwe yang penuh dengan keadilan dan kebaikan), ternyata lebih memilih cara pertobatan-pengampunan (perdamaian) sebagai pilihan pertama dari pada dengan cara penghukuman (kekerasan). Adanya indikasi mengenai hal ini juga didukung oleh tafsiran pada umumnya mengenai kitab Yunus bahwa sebenarnya kitab ini ingin menggambarkan suatu inklusifitas dalam Perjanjian lama.[12] Dalam mewujudkan suatu dunia baru, seharusnya Israel tidak perlu tertutup (yang berakibat pada tertutupnya kemungkinan dialog) terhadap bangsa-bangsa lain karena toh Allah juga mengasihi mereka. Dalam Perjanjian Lama sepertinya dua pandangan ini sama-sama bertumbuh dan selalu menantang untuk dijadikan pilihan.

Dalam dunia modern dimana kemampuan manusia untuk berdialog telah berkembang dengan pesat, pilihan untuk mewujudkan dunia baru yang dicita-citakan dengan perdamaian semakin menjadi pilihan yang diidealkan. Saat ini hampir seluruh bangsa dan negara di dunia telah menyadari bahwa jalan perdamaian/ dialog adalah selalu lebih baik dari pada jalan kekerasan/ perang, walaupun pada kenyataannya banyak bangsa dan negara yang gagal mempraktekkannya. Kesadaran akan hal ini akhirnya telah melahirkan oraganisasi perdamaian terbesar di dunia, Perserikatan bangsa-Bangsa (PBB). Adlai Stevenson menjelaskan dalam sebuah pidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa: “kami tidak membayangkan suatu dunia yang tanpa perselisihan. Tetapi kami memang mendambakan suatu dunia yang tanpa peperangan – dan hal ini mau tidak mau memerlukan sebuah sistem alternatif untuk mengatasi perselisihan.” Suatu tatanan dunia yang sungguh baru dapat muncul seandainya dimungkinkan adanya perubahan tanpa kekerasan, baik di dalam maupun di antara bangsa-bangsa.[13] Dan dalam empat puluh tahun pertama penjagaan perdamaian oleh PBB, hanya 13 oprasi yang dilakukan. Tetapi, pada tahun-tahun belakangan ini (buku ini ditulis 1995), Helm Biru telah dibanjiri permintaan akan pelayanan mereka.[14] Semua ini menunjukkan bahwa bangsa-bangsa di dunia semakin menyadari bahwa penyelesaian secara damai jauh lebih baik dan murah dari pada dengan perang yang bukan hanya mahal tetapi juga menghancurkan. Dari tahun 1948 sampai tahun 1992, PBB telah mengeluarkan sekitar$8,3 miliar untuk pemeliharaan perdamaian – suatu jumlah yang amat kecil bila dibandingkan dengan sekitar $30 triliun (dengan perhitungan nilai dolar tahu 1990 yang tidak berubah) yang dibelanjakan untuk maksud-maksud militer tradisional semenjak Perang Dunia II.[15] Peran penting yang semakin meningkat dari PBB dalam memenuhi tuntutan dunia akan perdamaian terlihat dari apa yang ditulis Renner berikut ini:

“Secara tradisional, oprasi pemeliharaan perdamaian PBBdipusatkan melulu pada mengatasi konflik – memantau perbatasan dan wilayah-wilayah penyangga setelah ditandatanganinya gencatan senjata, dan mencegah pelanggaran bersenjata atau arus senjata secara gelap menyebrangi perbatasan tersebut, tetapi kini oprasi tersebut beralih melampaui fungsi-fungsi ini. Misi-misinya menjadi lebih kompleks dan ambisius, dan semakin lama semakin terlibat bukan hanya dalam menjaga perdamaian melainkan juga dalam menciptakan perdamaian tesebut: mengawasi pelucutan atau pembubaran kelompok-kelompok bersenjata, menetapkan wilayah-wilayah perlindungan, memantau pemilihan umum dan catatan-catatan hak-hak asasi manusia, memulangkan para pengungsi, dan bahkan – mengenai masalah kamboja – untuk sementara waktu mengambil-alih pemerintahan sebuah bangsa yang dicabik-cabik oleh perang agar memudahkan penyusunan kembali lembaga-lembaga serta prasarana, dan dengan demikian memudahkan lahirnya kembali masyarakat sipil.”[16]

Paradoks Apokaliptik

Pengharapan akan suatu dunia baru memang secara kuat melahirkan tindakan-tindakan kongkret untuk mewujudkannya seperti yang terlihat dalam penggalan-penggalan peristiwa sejarah di atas. Sebenarnya ada dua hal yang membingungkan (paradoksal) dalam fenomena apokaliptik semacam ini, yaitu:

1. Apokaliptik yang bertrabrakan

kalau kita memperhatikan fenomena perjuangan manusia dalam mewujudkan kehadiran dunia baru, tidak sekedar dari satu kacamata tertentu yang memihak melainkan dari kacamata pengamat yang netral, maka akan terlihat bahwa yang sebenarnya terjadi bukanlah suatu bangsa yang sedang berjuang untuk melewati rintangan-rintangan (kelompok lain) menuju dunia baru mereka tetapi yang terjadi adalah suatu persaingan untuk saling mengalahkan demi dunia barunya masing-masing. Ini mungkin dapat terlihat dengan jelas dalam perjuangan orang Yahudi melawan pemerintahan Yunani (juga Romawi). Di satu sisi orang Yahudi merasa berjuang untuk suatu dunia baru yang telah “ditakdirkan” untuk terjadi, dan melihat pendudukan Yunani sebagai penghalang yang mau tidak mau harus disingkirkan. Tetapi di sisi lain orang Yunani (Aleksander Agung) dalam usaha-usaha pendudukan itu juga merasa sedang memperjuangkan suatu dunia baru yang memang seharusnya terjadi juga. Hal yang sama juga terjadi dalam fenomena ortodoksi komunis di Vietnam, aksi-aksi terorisme dewasa ini, perang dunia I dan perang dunia II. Yang sebenarnya terjadi adalah tabrakan-tabrakan dari bayangan dunia baru yang dicita-cita oleh masing-masing bangsa dan kelompok yang berperang.

2. Pergantian dominasi

Dari semua contoh di atas, hampir semua perjuangan apokaliptik berarti berusaha memutus dominasi kelompok lain dan sebaliknya ganti mendominasi kelompok lain tersebut. Dominasi kelompok lain yang biasanya dilakukan dengan kekerasan (perang, penjajahan dll.) selalu dipandang menimbulkan penderitaan dan berbagai keterbatasan yang harus dimusnahkan. Sayangnya usaha pemutusan itu lebih sering dilakukan dengan cara-cara kekerasan yang sebenarnya justru menimbulkan kehancuran –suatu situasi yang bertolak belakang dari dunia baru penuh damai yang mereka sedang berusaha wujudkan. Menurut Franz Magnis Suseno, bila perang nuklir terjadi maka tidak akan ada yang mengalami kemenangan, semua kalah. Perang nuklir berarti kehancuran fisik total masyarakat bersangkutan. Lebih dari 50% dari seluruh masyarakat akan mati, seluruh sumber daya ekonomi hancur.[17]

Mengapa kekerasan harus diselesaikan dengan kekerasan dan suatu dominasi tertentu harus diganti dengan dominasi yang lain? Mengapa penjajahan Yunani dan Romawi terhadap orang Israel harus digantikan dengan penjajahan Israerl terhadap Yunani, Romawi dan bahkan seluruh dunia? Mengapa dominasi dunia barat atas dunia timur harus diganti dengan dominasi timur terhadap barat? Menurut penulis, hal ini terutama disebabkan oleh karena pengharapan apokaliptik yang selalu bersifat partikular; dunia baru dalam kepentingan eksklusif kelompok-kelompok tertentu, yang tentu saja mau tidak mau akan bertabrakan dengan kepentingan-kepentingan kelompok lain. Dalam hal ini, mungkin yang bisa disebut sebagai pengharapan apokaliptik universal adalah suatu pengharapan akan dunia baru yang dicita-citakan oleh PBB; yaitu suatu dunia baru bagi semua bangsa dan umat manusia, yang berusaha diwujudkan dengan jalan dialog dan tanpa kekerasan.

Kesimpulan

Bagaimanapun sampai saat ini, umat manusia masih belum puas dengan situasi yang mereka alami. Masih ada harapan besar untuk mengubah situasi yang buruk ini menjadi situasi yang lebih baik bagi kehidupan. Harus diakui juga bahwa pengharapan-pengharapan akan dunia baru itu seringkali masih sangat bersifat partikular; orang Kristen, orang Islam, orang Aceh, orang Papua misalnya memiliki bayangan yang berbeda-beda mengenai dunia baru yang mereka harapkan. Pengharapan akan dunia baru masih terkotak-kotak dalam agama, suku bangsa, kelompok sosial dst. Al-Qardhawy, dalam buku Islam dan Peradaban Masa Depan, jelas-jelas mendiskriminasi peradaban barat yang materialistis (hal.89) dan agama Kristen sebagai yang tidak mampu memberikan keselamatan (hal.135), sembari menegaskan bahwa hanya dalam Islam saja dunia yang “kacau” ini akan dapat ditata kembali dengan baik.[18] Hal semacam ini seperti sudah kita lihat di atas sangat mengandung potensi konflik, dan konflik selalu berpotensi malahirkan kekerasan, dan selanjutnya kekerasan selalu berpotensi menimbulkan penderitaan dan kehancuran bagi semua. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk di satu sisi mewaspadai potensi apokaliptik yang menghancurkan ini, tetapi di sisi lain juga secara jenius memanfaatkan sumber energi yang besar ini bagi kemanusiaan.

Dalam rangka ini, menurut penulis penting untuk mengembangkan suatu apokaliptik yang bersifat universal, yaitu suatu masa depan bersama bagi semua. Suatu dunia baru yang mempunyai tempat untuk semua kelompok, suku, bangsa dan seluruh umat manusia secara sederajat dan sama. Dengan demikian tidak akan lagi tabrakan-tarabrakan apokaliptik yang pada akhirnya justru hanya menyisakan kehancuran dan penderitaan. Selain itu, penting juga untuk mengutamakan jalan damai dalam usaha mewujudkan pengharapan apokaliptik partikular –yang bagaimana pun mungkin mustahil untuk dimusnahkan dari realitas manusia yang majemuk. Dalam hal ini penyelesaian konflik Aceh dengan jalan perundingan adalah teladan yang baik untuk diperhatikan.

Daftar Pustaka

Russell, D.S., Penyingkapan Ilahi, Jakarta: BPK Gunung Mulia 1992

Gosweiler, Christian, Reformasi Pada akhirZaman- dokumentasi matakuliah

Apokaliptik & Eskatologi, STT Abdiel 2005.

____________, agama dan kekerasan, Seri Esensia 2.

Salemink, Oscar, kisah fundamentalisme, dalam RENAI- jurnal politik lokal & sosial-humaniora Th.II, No. 3-4, edisi Musim kemarau-labuh, 2002

Brown, Lester R., dkk., Masa depan Bumi, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995

Park, Eung Chun, Either Jew or Gentile – Paul’s Unfolding Theology of Inclusivit, London: Westminster John Knox Press, 2003

Al-Qardhawy, Yusuf, Islam Peradaban Masa depan, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1996

[1] D.S. Russell, Penyingkapan Ilahi, Jakarta: BPK Gunung Mulia 1992, hal.30

[2] D.S. Russell, Penyingkapan Ilahi,, hal.34

[3] Christian Gosweiler, Reformasi Pada akhirZaman- dokumentasi matakuliah Apokaliptik & Eskatologi, STT Abdiel 2005. hal.41

[4] Dalam judul pokok ini penulis memberi tanda tanya dalam kurung (?), karena penulis menyadari bahwa apa yang akan penulis uraikan di bawah ini sebenarnya masih dapat dipertanyakan apakah memang benar-benar dapat disebut apokaliptik atau tidak.

[5] Oscar Salemink, kisah fundamentalisme, dalam RENAI- jurnal politik lokal & sosial-humaniora Th.II, No. 3-4, edisi Musim kemarau-labuh, 2002, hal. 82-114

[6] Pola ini sebenarnya tidak dapat disamakan begitu saja dengan pola bertani nomaden. Pola mereka lebih tepat disebut sebagai pola rotasi karena mereka setelah meninggalkan tanah garapan mereka untuk mengistirahatkan tanah sembari menunggunya untuk subur kembali, mereka akan kembali lagi ketempat itu dan demikian seterusnya.

[7] Secara teknis kata ini baru mulai dipakai oleh jemaat kristen pada abad ke-2 untuk menunjukkan suatu jenis sastra yang erat hubungannya dengan Wahyu kepada Yohanes dalam Perjanjian Baru. D.S. (Russell, Penyingkapan Ilahi, hal. 19)

[8] Christian Gosweiler, Reformasi Pada akhirZaman, hal. 22

[9] Lester R. Brown, dkk., Masa depan Bumi, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995, hal. 369

[10] Lester R. Brown, dkk., Masa depan Bumi, hal. 370

[11] Ada protafsiran lain yang mengatakan bahwa penciptaan sebenarnya merupakan hasil dari perang pengakhlukan chaos /leviatan seperti dalam mitos-mitos babel mengenai Marduk yang mengalahkan Tiamat. Menurut tafsiran ini, penciptaan berarti dikerjakan dengan kekerasan juga. Namun demikian menurut penulis teks penciptaan sama sekali tidak menggambarkan terjadinya kekerasan seperti itu.

[12] Band. Eung Chun Park, Either Jew or Gentile – Paul’s Unfolding Theology of Inclusivit, London: Westminster John Knox Press, 2003, hal.14-16

[13] Lester R. Brown, dkk., Masa depan Bumi, hal. 396-397

[14] Lester R. Brown, dkk., Masa depan Bumi, hal. 398

[15] Lester R. Brown, dkk., Masa depan Bumi, hal. 399

[16] Lester R. Brown, dkk., Masa depan Bumi, hal. 401

[17] Dr. Franz Magnis Suseno, agama dalam gerakan perdamaian – dalam agama dan kekerasan, Seri Esensia 2.

[18] Dr. Yusuf Al-Qardhawy, Islam Peradaban Masa depan, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1996. hal. 140-141 – tentu kecaman-kecaman yang senada ini tidak terbatas pada orang Islam saja tetapi hampir muncul dalam kelompok-kelompok fundamentalisme manapun termasuk dalam agama Kristen ataupun kelompok-kelompok ideologi lainnya.

1 Comment »

  1. Analisisnya menarik mas, sebenarnya seluruh kisah dari zaman Aleksander, Yudeo Kristen Pra-Islam, Islam, Islam Syiah dan Sunni dengan Mahdiismenya, Jawa dengan ratu Adilnya, maupun di era modern seperti di Kamboja salingberkaitan, dan sambung menyambung meneruskan gaagsan yang sama. Katakan saja gagasan itu gagasan untuk melakukan perubahan radikal berupa gekaran
    Mahdiisme. Di Jawa Ratu Adil mempunyai akar yang kuat dari tradisi Yudeo Kristen yang sebeneranya justru sudah dipatahkan
    oleh Nabi Muhammad SAW Di Mekkah. Makanya di al-Qur’an sebenarnya tak ada istilah Al-Mahdi. Namun setelah era pengganti meninggal (4 khalifah), Mahdiisme muncul dan menyisip sebagai isu Politik khususnya di kalangan Partai Ali alias Syiah dan menyebar ke Indonesia dengan istilah Ratu Adil. Jayabaya sebenarnya orang yang paham pengetahuan Yudeo Kristen, Islam, dan tradisi Sang Penyelamat. Jadi, istilah Ratu Adil dll akhirnya memang sebenarnya mewakili sosok yang mampu mengubah zaman.

    Comment by Somad Allah — December 3, 2007 @ 6:23 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress