YESUS MEMBAWA PEMISAHAN LUKAS 12 : 49-53
Karya : Andri Purnawan, kategori pilihan dosen
PENDAHULUAN
Lukas 12 : 49-53 merupakan bagian dari kisah Lukas tentang perjalanan Yesus dari Galelia ke Yerusalem (9:51-19:27). Namun bukan berarti catatan Lukas tersebut memiliki langkah yang pasti maupun arah yang jelas. Dari apa yang saya baca, memang dalam setiap pasal ada gambaran tentang jarak yang ditempuh dan kegiatan yang dilakukan. Namun semua gambaran itu dinilai tidak lebih dari sekedar bingkai yang rapuh, yang memuat cerita dan ajaran-ajaran Yesus. Walaupun cerita perjalanan Yesus ini berisi episode yang seakan tidak saling berkaitan, namun cerita tersebut sudah cukup menggambarkan perjalanan Yesus.
Dan karena kesan tersebut, penulis memberanikan diri untuk memilih perikop 12 :49-53 ini sebagai perikop yang mandiri, walaupun banyak buku tafsir dari para ahli mengelompokkan 12 : 49-53 dan perikop selanjutnya yaitu 12:54-59 ke dalam satu perikop. Tujuan penulis memilih 12 : 49-53 sebagai perikop yang berdiri sendiri adalah untuk mendapatkan pesan yang lebih spesifik. Karena bagi penulis walaupun masih berkaitan, kedua perikop tersebut mengandung 2 tema yang berbeda. Dan kebetulan dalam hal ini TB-LAI mengelempokkan perikop tersebut menjadi 2 bagian.
Jika kita membaca perikop ini, kita juga harus mempertimbangkan bagian-bagian sebelumnya yang berbicara mengenai manusia yang berhadap-hadapan dengan maut dan pengadilan (mis. 12:20,40). Sebab itu diserukan kepada kita supaya berjaga dan berlaku setia dalam memenuhi tugas kita di dunia ini (12 : 35-48). Nah, pada perikop ini Yesus menjelaskan kepada para pendengarnya, bahwa zaman dimana para pendengar-Nya hidup adalah zaman krisis. Dan pada saat itulah Yesus menegaskan kembali kompetensinya di dunia ini.
TERJEMAHAN
(49) “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah aku harapkan, api itu telah menyala ! (50) Aku harus menerima baptisan dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung ! (51) Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi ? Bukan, kataku kepadamu, bukan damai melainkan pertentangan. (52) Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. (53) Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anaknya perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”
TAFSIR
Ayat 49-50 :
Lukas 12 : 49 ini kontras dengan pasal 4 :14 – 9:50, yang disana dikisahkan Yesus yang mengajar, berkarya dan melakukan banyak mujizat. Sedangkan pada ayat ini tiba-tiba dikatakan bahwa Yesus datang sebagai sosok yang membawa krisis, dan kekacauan (api yang dilemparkan akan membakar dan membuat kekacauan) Kata melempar/ ?????? mungkin dipilih untuk mendapatkan makna yang netral. Karena jika kita melihat pada Mat. 10:34, kata itu dipakai untuk ungkapan membawa damai. Penulis berkesan bahwa mungkin ayat ini sebagai kata-kata pembuka untuk ayat 51-53. Oleh karena itu pasti “api” dalam hal ini tidak menunjuk kepada pencurahan Roh Kudus seperti yang ditafsir oleh Tafsir Masa Kini. Api di sini bersangkutpeut dengan krisis, pemisahan, hukuman (kata krisis berasal dari kata Yunani yang berarti :memisah, mengadili, menghukum, dsb.). Namun apakah krisi yang dimaksud menunjuk kepada akhir zaman ? lebih baik pertanyaan ini kita simpan dulu.
Selain itu kata yang menarik dari ayat 49a bagi penulis adalah datang ( ????? ). Menurut penulis kata ini memiliki arti penting untuk menunjukkan identitas Yesus. Jika Yesus “datang” ke bumi, berarti sesungguhnya Yesus tidak berasal dari bumi. Lalu dari manakah Yesus berasal ? pertanyaan kita ini akan terjawab jika kita membuka Luk. 18 :8. disana Yesus beridentitassebagai Anak Manusia yang akan menghakimi semua orang. Oleh karena itu kita dapatt mengambil kesimpulan bahwa maksud ayat 49a adalah sbb: muncullah Yesus di bumi ini, perkataan dan perbuatan-Nya dan terutama kematian dan kebangkitan-Nya nanti (pada saat itu), menimbulkan suatu krisis. Sedangkan ayat 49b mengesankan sebuah teriakan yang sejajar dengan 50b. dalam BIS dipakai kalimat yang lebih jelas yaitu : “Alangkah baiknya kalau api itu sudah menyala”. Dengan demikian kesan kuat yang muncul adalah bahwa sekarang (pada saat Yesus ngomong seperti itu) api itu belum menyala, tetapi sudah dilemparkan. Dengan kata lain sudah ada api, tetapi belum terjadi kebakaran hebat. Atau krisis yang ada sekarang akan semakin hebat nanti.
Ayat 50. dalam ayat ini dibicarakan mengenai baptisan yang akan diperoleh Yesus. Ayat ini mengingatkan kita lagi bahwa Yesus sedang dalam perjalanan ke Yerusalem Pada permulaan pekerjaan-Nya Yesus dibaptis oleh Yohanes (3:21). Dan pada akhir perjalanan itu Yesus akan dibaptiskan (dibenamkan) ke dalam penderitaan dan kematian. Pada 50b. kita akan melihat keluhan Yesus yang bisa dibandingkan dengan Luk. 22:42-44. jadi ayat 49-50 dapat disimpulkan sebagai berikut. Renacana Allah atas hidup Yesus sudah berlaku mulai sekarang, namun puncaknya adalah nanti pada saat kematian-Nya yang masih nanti. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Yesusdi satu sisi merindukan masa itu, namun di sisi lain Ia juga merasa gamang dengan apa yangakan terjadi terhadap diri-Nya.
Ayat 51-53 :
Penulis berkesan bahwa di ayat ini Yesus hendak menyatakan bahwa keselamatan/ damai yang dibawa Yesus bukanlah keselamatan “duniawi” dan damai “duniawi”. Munculnya Yesus justru membawa sebuah iklim pertentangan, karena manusia harus mengambil sebuah keputusan menerima Yesus atau menolak Yesus. Dan karena penerimaan dan penolakan Yesus itulah muncul pertentangan-pertentangan dalam satu keluarga. Nampaknya dalam hal ini Lukas mengutip Mikha 7:6. Penulis menduga pertentangan tersebut disebabkan karena ada perbedaan pendapat dalam keluarga. Yang satu memilih untuk menerima Yesus,dan yang lain menolak-Nya. Pertentangan antara anak laki-laki dan ayah, anak perempuan dan ibu, menantu dengan mertua mungkin menunjuk kepada angkatan yang berbeda. Keluarga adalah lambang sebuah persekutuan yang erat, tapi toh juga akan tetap bertentangan karena keputusan untuk menerima atau menolak Yesus adalah keputusan yang merdeka/individu. Antara angkatan tua dan angkatan muda. Hal itu tidak berarti salah satu dari angkatanlah yang benar. Namun penulis berkesan bahwa dalam krisis tersebut terdapat pertentangan antara orang-orang berpegang kuat dengan tradisi dan orang-orang yang lebih fleksibel, melihat kenyataan dan membuat keputusan dan terobosan baru.
Jika dikaitkan dengan perikop sebelumnya kita akan mengerti bahwa Yesus hendak mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa kedatangan-Nya di dunia ini adalah sebuah permulaan krisis, dan manusia harus segera mengambil keputusan, dan akibatnya krisis dan pengambilan keputusan itu akan membuat jalan hidup seseorang berbeda-beda sehingga akan terjadi perselisihan dan pertentangan dari orang-orang pada awalnya berjalan di jalan yang sama.
RELEVANSI
1. Kedatangan Yesus ke dunia bukan menjadi penyelamat duniawi dan ia tidak akan membawa damai duniawi. Dalam artian Yesus tidak datang ke dunia untuk memuaskan keinginan manusia. Yesus adalah pembawa damai sejati. Kehadirannya tidak untuk menghadirkan damai instant. IA hadir di tengah system yang memiliki pola pikir yang sama sekali berlainan dengan pola pikir Allah. Oleh karena itu gejolak dan krisis justru muncul di saat Yesus hadir karena kehadiran-Nya membawa sebuah misi yang berlainan dengan utophia masyarakat. Ia bagaikan api yang membuat sebuah system bergejolak dan pontang-panting merasakan panasnya. Kehadiran Yesus telah menelanjangi kebohongan dan kejahatan structural yang paling tersembunyi.
2. Jika kita mengikut Yesus kita harus siap melepaskan konsep-konsep tertentu yang selama ini bercokol dalam pemikiran kita (bahkan saking akrabnya sudah seperti satu keluarga). Konsep yang lama (angkatan tua) seperti feodalisme, patriarki, mau menang sendiri, dsb harus ditanggalkan dan dipertentangkan dengan konsep yang baru, yang berani melakukan terobosan-terobosan tertentu dalam berteologi. Seperti Yesus yang telah merusak konsep Mesianik Yahudi dan mengemukakan konsep Pemisahan yang menelanjangi dan membakar utophia masyarakat pada saat itu. Kita harus menemukan identitas di tengah kondisi masyarakat yang begitu majemuk. Namun di balik itu semua, konsep pemisahan yang dikemukakan injil Lukas tidak untuk untuk dipakai sebagai bahan pelegitimasi eksklusifitas orang Kristen. Jika pola berpikir eksklusif itu masih selalu tertanam dalam benak kita, berarti kitapun tidak lebih dari masyarakat yahudi yang konsep mesianik dan utophianya diobrak-abrik oleh Yesus.
PENUTUP
Demikian tafsiran yang bisa dibuat penulis berkaitan dengan Lukas 12 : 19-53. Kiranya paper ini dilihat sebagai tulisan seorang yang sedang belajar dan berproses untuk membaca Alkitab seperti seorang kafir, yang lebih jujur dan objektif dalam membaca teks. Kalaupun salah, semoga kesalahannya tidak bertumpuk-tumpuk. Kalupun ngawur,semoga ngawurnya tidak keterlaluan. Akhir kata wassalammualaikum wr.wb. Amin.
TEOLOGI
Saya sungguh senang membaca artikel yang telah dimuat ini. Banyak sekali informasi yang saya dapatkan. Terlepas dari semua itu ada beberap hal yang hendak saya sampaikan mengenai artikel yang bersangkutan.
1. Dalam menafsirkan KITAB SUCI (selanjutnya disingkat KS) sebaiknya perikop demi perikop jangan dipisahkan. Saya sungguh menyayangkan pemisahan yang telah dilakukan di dalam telaah tafsir ini. Padahal jika penulis sungguh cermat dengan apa yang hendak ditafsirkan baik perikop sebelumnya dan sesudahnya adalah dua hal yang berhubungan. Saya hanya menyarankan agar penulis coba mengacu pada buku tafsir The Jerome Biblical Comentary sebabagai pembanding mungkin akan lebih bermanfaat dan memiliki bobot yang kuat atas tafsiran yang telah ditulis diatas.
2. Kritik saya, penulis sungguh melupakan bahwa tradisi Lukas cenderung mengacu pada Markus sebagai Injil yang memuat hampir kebanyakan dalam Sinoptik, kecuali Injil Yohanes. KS sendiri disusun bukan pada waktu bersamaaan karena tradisi Kekristenan Injil Markus diyakini sebagai yang pertama, jadi setidaknya dalam memberikan tafsiran janganlah lepas bebas sesuai dengan apa yang kita mau dan menurrut kira-kira saja sebab hal itu sama saja dengan spekulasi.
3. Selanjutnya, Saya sungguh mempertanyakan bagaimana bisa dimensi eskatologis dari Yesus Kristus dilupakan oleh anda sebagai penulis tafsir ini, padahal dimensi eskatologis Yesus merupakan unsur yang terpenting dan seharusnya tidak anda lupakan. jika anda mencermati kedatangan Yesus sudah terpenuhi, namun akan tetap terpenuhi hingga akhir jaman. jadi dimensi Eskatologis adalah sesuatu yang penting di dalam karya Penebusan Isa Almasih.
4. Coba lebih dicermati kembali penafsiran Lukas 12: 49 mengenai “Api”. bandingkanlah dengan tafsiran modern sekarang ini.
5. terkahir, diperbaiki kembali cara penulisan dan pengolahan kata yang termuat dalam artikel anda sehingga daapat sedemikian rupa mencerminkan Bahasa Indonesia yang baik. Trimakasih!
Wasalam….!
Comment by Al Sonny Aryanto — June 29, 2007 @ 10:06 pm