Ekonomi Keluarga di Tengah Perubahan Jaman
Karya: Martin Krisanto N., Kategori: Pilihan Mahasiswa
PENDAHULUAN
Masalah perekonomian keluarga adalah salah satu sumber disorganisasi, kita dapat setuju sekaligus mempertanyakan “Mengapa hal ini sering terjadi?”. Dari skala permasalahan yang berlangsung lama dan perlahan-lahan, sampai pada perceraian yang mendadak dan tergesa-gesa karena kepanikan menghadapi krisis ekonomi keluarga.
Sebelum kita berbicara lebih jauh, ada baiknya kita batasi pembahasan kali ini dalam lingkup: Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak, dimana anak bukanlah termasuk usia angkatan kerja (dibawah usia 15 tahun). Dalam lingkup dimana kedua orang tua atau salah satunya bekerja, bekerja dalam arti mendapat upah berupa uang bagi keluarga itu sendiri. Maka bagi salah satu orang tua yang bekerja namun tidak memberi kontribusi finansial sedikitpun bagi keluarga tidak masuk pada pembahasan tulisan ini.
Upah kerja yang dimaksud tentu dimulai dari nilai kapital sekecil apapun atau dibawah batas upah minimum yang ditentukan pemerintah sampai nilai kapital sebesar apapun yang dapat dicapai seseorang tertentu selama satu bulan bekerja di ukur atas nilai mata uang Rupiah negara Indonesia.
Pekerjaan dapat dalam bentuk apapun, baik jasa maupun dalam berbagai bentuk lainnya. Pergeseran yang disoroti adalah bagaimana masyarakat agraris mulai berpindah menjadi masyarakat urban bahkan menuju masyarakat industri. Apa pengaruh pergeseran ini pada keluarga-keluarga, permasalahan-permasalahan apa yang timbul? Pengaruh-pengaruh apa sajakah yang ikut memainkan peranannya dalam menimbulkan permasalahan ini?
STUDI KASUS
Suatu saat, ketika saya mengikuti kegiatan pembinaan di pantai Sundak, saya bertemu dengan sekelompok pemuda yang tinggal di daerah pesisir selatan Jawa Tengah ini. Singkat cerita, mereka tidak mempunyai pekerjaan, karena kalaupun bekerja sifatnya hanyalah pada musim panen. Mereka mengeluh tentang kondisi ekonomi yang menekan mereka, sehingga mereka harus mengamen di sekitar pantai itu untuk mendapat penghasilan. Sementara kegiatan pariwisata di tempat itupun akhir-akhir ini menurut mereka merosot dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Berangkat dari permasalahan sosial yang umum yakni pengangguran maka ada baiknya jika kita melihat beberapa angka statistik yang terkait dengan persentase angkatan kerja jika dibandingkan dengan usia kerja di Indonesia berdasarkan hasil kerja BPS. Jika kita perhatikan maka angka pengangguran dapat ditinjau dari data ini, secara keseluruhan mencapai sekitar 32 – 42%. Pertanyaannya, katakanlah sekitar 25% berarti seperempat penduduk usia kerja di Indonesia tidak mempunyai pekerjaan selama seminggu terakhir, bila diasumsikan bahwa sebagian besar darinya merupakan usia dewasa dalam arti memasuki jenjang pernikahan. Maka seberapa besar jumlah keluarga yang sekurang-kurangnya mengalami krisis perekonomian tiap minggunya? Belum lagi ditambah dengan krisis keluarga karena perebutan kekuasaan atas sumber-sumber ekonominya?
Jika diamati, pada grafik ketenagakerjaan (% Angkatan Kerja terhadap Penduduk Usia Kerja) yang disuguhkan oleh BPS menunjukkan adanya peningkatan disekitar tahun 1997-2000, walaupun lamban menjelang tahun 2000, namun setelah itu grafik ini mulai perlahan-lahan bergerak turun. Jika krisis ekonomi yang tentu dipengaruhi juga oleh krisis lainnya seperti: kepemimpinan politik, krisis kepercayaan masyarakat pada perangkat hukum, dan sebagainya, menyebabkan hilangnya peluang memperoleh penghidupan secara ekonomis bagi keluarga-keluarga secara umum di Indonesia.
Mungkin kita tidak bisa tergesa-gesa mengatakan bahwa perubahan ini dibarengi urbanisasi masyarakat dari desa ke kota, serta ditandai munculnya kaum “borjuis” ataupun kaum “buruh” yang makin menyerukan demokrasi dan perubahan politik seperti yang dikatakan Heitink terjadi di Eropa. Hambatan dalam perkembangan ekonomi, terjadilah pengangguran masal, dan bersamaan dengan itu timbul masalah kemiskinan besar. Analisa semacam ini saya kira cukup sesuai dengan konteks di Indonesia, dimana kelompok lapisan bawah di perkotaan masih tergolong besar.
Animo dunia kerja yang terkesan penuh ketidak pastian dan masa depan yang kurang menjanjikan, layak menjadi salah satu alasan mengapa keadaan keluarga –keluarga juga ikut rapuh. Selain permasalahan pendidikan, komunikasi, perilaku seksual dan lain sebagainya, tidak berlebihan bila masalah ekonomi-lah yang walaupun lebih mudah diamati namun justru kurang mendapat perhatian dari gereja. Gereja menganggap permasalahan ekonomi adalah masalah dunia, dan hal ini yang menyebabkan seakan kehidupan perekonomian keluargapun tidak terkait langsung dengan keimanan mereka.
ILMU EKONOMI TENAGAKERJA
Sebagai sistem hubungan terorganisir yang mempunyai peranan sebagai pemasok jasa tenaga kerja dan peminta yang membutuhkan tenaga kerja, terserap dalam pasar tenagakerja. Namun suatu hal yang berbeda dengan pelaku produksi pasar lainnya, tindak laku manusia dalam produksi tidak dapat dibeli dan dijual seperti halnya pelaku produksi pasar yang bersifat materi seperti mesin, gandum, dsb.
Penjual jasa tenagakerja akan menilik dahulu rangkaian kondisi kerja seperti: letak, lingkungan kerja, jaminan tugas, kesempatan memperoleh kemajuan, dsb. Ciri pasar tenaga kerja memang lebih rumit dan mempunyai ciri yang berbeda sehingga hukum permintaan dan penawaran juga berbeda. Berangkat dari asumsi Don dan Mark, bahwa tidak ada sumber daya tenagakerja yang menganggur menggantungkan pada asumsi: sumber daya tenagakerja mempunyai informasi dan mobilitas yang sempurna, majikan memandang semua tenagakerja sebagai substitusi yang sempurna, upah bersifat luwes, tingkat permintaan keseluruhan adalah tertentu. Secara ekonomis dapat diperhitungkan seperti yang sudah kit abaca dari grafik bahwa jumlah penduduk, angkatan kerja ditambah jumlah jam kerja yang ditawarkan oleh angkatan kerja dan juga pada upah pasar. Menyikapi hal ini sesungguhnya tetap diperlukan upaya serius untuk melakukan penelitian pada tempat-tempat perekonomian sehingga dapat memberikan gambaran yang mendekati kondisi sebenarnya ketimbang menebak-nebak. Sehingga semangat menciptakan peluang di pasar tidak mengalami stagnasi.
KASUS KELUARGA
Tidak dipungkiri bahwa permasalahan ekonomi berkaitan pengangguran, kemiskinan bahkan kekayaan juga merupakan masalah warga gereja. Berarti sudah tentu menjadi masalah keluarga Kristen, krisis ekonomi keluarga merambah sampai pada krisis kepercayaan, krisis keberadaan. Keretakkan hubungan keluarga terjadi ketika salah satu anggota keluarga merasa pasangannya tidak mampu memberikan kapital yang cukup bagi dirinya lepas karena pasangannya menganggur ataupun berpenghasilan tetapi tertutup masalah keuangan.
Kita tidak harus terburu-buru menuduh bahwa ini merupakan masalah materialisme, melainkan sebuah realitas hidup yang menyentuh kebutuhan fisik yang pokok. Pada umumnya tekanan makin terasa ketika kondisi ekonomi belum membaik sementara anggota keluarga bertambah dengan hadirnya seorang anak. Orang tua rela berpuasa demi membeli sekotak susu, meninggalkan kegiatan rutin rohaninya dengan dalih “Toh, berdoa tidak mendatangkan makanan” atau sebaliknya “Hari Minggu, justru adalah hari terbagus untuk meraih omset”.
MITOS KEMALASAN
Citra tentang kemalasan pribumi, masyarakat Melayu, Jawa dan Filipina merupakan mitos yang digembar-gemborkan para pengamat asing Eropa selama masa kolonial. Kemalasan yang digambarkan adalah “cinta pada kepekerjaan yang mudah, kurang kegiatan, kurangnya hasrat dan kekuatan untuk bekerja dalam keadaan diperlukan, tidak cinta kerja, tidak mau kerja, tidak ada perhatian terhadap akibat dari usahanya, tidak ada perhatian pada perolehan dari usahanya dan tidak ada perhatian apda kebutuhan yang mendorong usaha tersebut. Ini sebetulnya adalah ketidaksediaan mereka untuk menjadi alat dalam sistem produksi kolonial.
Selain itu tidak mewarisi hubungan fungsional yang dekat dengan orang-orang Eropa, mereka lebih disibukkan pekerjaan mereka sehari-hari, bercocoktanam, menjala ikan, membangun rumah, memelihara ternak, dll. Bagi sebagian yang bekerja pada industri, terbukti bahwa mereka adalah pengawas yang sangat baik, ahli pompa, ahli lempeng baja, dan ahli bor. Dan menarik bahwa tidak pernah ada kecelakaan karena kesembronoan mereka.
Sebetulnya memang tidak dipungkiri bahwa ada muatan-muatan budaya yang cenderung membuat orang ingin terbebas dari kerja keras, namun itu terserap pada muatan-muatan budaya yang lebih positif ketika justru bertemu dengan dunia ketenaga kerjaan. Dan masih banyak faktor lain yang menggerakkan manusia, sehingga kita tidak perlu lagi cepat-cepat menuduh orang yang menganggur adalah orang yang malas, karena ini merupakan mitos yang hanya memperburuk keadaan.
MOTIF EKONOMI PRANIKAH atau NIKAH
Tidak disangkali bahwa manusia cenderung memilih pasangan yang sekurangnya tidak mempunyai permasalahan keuangan, tidak materialis entah dia kaya atau miskin keuangan dan harta benda, tidak terlibat hutang dengan siapapun. Rasa aman lebih terbangun bila keluarga mempunyai sumber keuangan dan harta benda yang cukup sampai waktu tertentu. Jika kaum materialistis melihat alasan ekonomi sebagai alasan terpenting, maka setidaknya kita memakai kacamata ini sebagai salah satu alasan, dan ada pula yang mengabaikan alasan ekonomi.
Menurut pengamatan saya sejauh ini, dari beberapa buku pembinaan dapat kita tuangkan beberapa prinsip untuk mengarahkan motif ekonomi; seperti masukan Richard De Haan komitmen – tekad memenuhi janji, komunikasi – ke atas, dalam dan samping, Keterlibatan – kehadiran fisik dan Pengendalian diri – masalah keuangan dan seksual. Pengendalian meliputi hidup yang tidak bergantung harta, melakukan perencanaan yang baik sehubungan dengan keuangan keluarga, tidak besar pasak dari pada tiang. Memang betul bahwa pengendalian dapat dilakukan dari sisi dalam keluarga itu sendiri, yakni memanajemen keuangan sebijaksana mungkin, namun bagaimana bila berhadapan dengan pengangguran? Merencanakan dengan baik bukan berarti mengatasi krisis ekonomi keluarga tersebut.
Memang betul materialisme adalah musuh utama hidup ke-Kristenan namun jika pemahaman ini berdiri sendiri saja, maka akan kontra produktif dengan kondisi pengangguran yang terjadi. Walaupun kondisi serba cukup atau kaya bukanlah tujuan pernikahan namun tetap dimungkinkan terjadi pada orang-orang yang tidak materialis, permasalahannya tidak hanya itu melainkan sistem finansial macam apakah yang berlaku? Siapakah yang mengelola keuangan? Bagaimana perjanjian yang berkaitan dengan gono gini atau harta terpisah? Mempersempit ruang pemikiran ekonomi dalam keluarga dapat memperbesar kerapuhan sistem ekonomi keluarga itu.
Saya setuju bila Douglas Weiss mengatakan bahwa uang dapat membangun atau menghancurkan keintiman dalam hubungan suami-istri, senada dengan pendapat Haan tentang komitmen. Weiss menekankan “Berjalankah dua orang bersama-sama, jika belum berjanji?”, diskusi keuangan sambil mengartikan kembali kesepakatan sangatlah baik, namun jika sumber keuangan sangat minim dan pasangan tersebut sudah terbuka dan sepakat untuk membeli beras saja tanpa lauk, toh keterpurukan keluarga ini tidak akan makin baik. Memang benar, kondisi keuangan semacam ini dapat meningkatkan ketergantungan keluarga tersebut kepada Tuhan. Saya tidak cukup puas mendengarkan masukan dari kedua orang diatas.
JURANG ANTARA KELUARGA DAN DUNIA
Dugaan saya mengenai keterpisahan masalah-masalah ekonomi secara umum pada pergumulan iman semakin jelas, gereja jarang berbicara mengenai topik-topik yang berkaitan dengan ideologi, filosofi bahkan teologi dalam bahasa ekonomi. Ini merupakan krisis yang kurang disadari, sementara perkembangan paradigma ekonomi dunia begitu cepat. Sejak tokoh-tokoh seperti John Locke di Inggris th.1690 mengamati menangnya kaum borjuis, Karl Marx dengan teori komunis menyoroti jurang antara lapisan dan lupa memisahkan wilayah prifat dan publik, Max Weber yang tanpa bersengaja menunjukkan pengaruh agama pada semangat kapitalisme, ketika meneliti protestanisme puritan walau telah dituding sana sini pada dekade ini justru memberi inspirasi berbagai kalangan pengamat ekonomi dunia.
Sementara itu para keluarga duduk tenang didepan televisi dan sibuk menyaksikan harga BBM naik, TDL naik, demo buruh, dan demo lainnya yang berkaitan masalah ekonomi. Sesampainya mereka digereja, kembali mendengar dogma Kristen, kisah-kisah yang secara etis terkadang sulit dihubungkan dengan dunia pekerjaan atau kondisi menganggur yang sedang dihadapi keluarga itu.
Pergeseran dari masa jaya sosialis yang sampai sekarang masih langgeng, Duchrow yang sosialis, menolak tindakan-tindakan yang dituduhnya sebagai kaum kapitalis termasuk Bretton Woods (IMF, World Bank, dsb), lalu sampai pada pemahaman yang bertolak belakang seperti Novak dan yang akhir-akhir ini beredar di took-toko buku “Tuhan Ingin Anda Kaya” karangan Pilzer mewakili golongan Neo-Liberal yang memakai teori Adam Smith tentang tangan tak kasat mata memandang mekanisme pasar bebas agar menginspirasi sebagian besar aspek kehidupan.
Pertumbuhan mekanisme pasar bebas yang pesat inilah yang juga memperkeras persaingan dunia bisnis dan perekonomian di Indonesia, sehingga mau tidak mau seleksi alam terjadi dan banyak orang menganggur.
Walaupun secara positif dapat kita lihat nilai-nilai positif dan konstruktif antara dua kubu diatas, baik sosialis dengan kepeduliannya pada kaum miskin dan tertindas maupun neo-liberal yang mengajak kita untuk bangkit melihat berbagai peluang ekonomi baru yang dapat kita ciptakan sendiri, namun secara kurang mendalam mereka melakukan upaya-upaya tafsir yang menurut saya perlu diolah lebih seksama.
TINJAUAN TEOLOGIS
Penekanan penting dalam membangun ekonomi keluarga jika dikaitkan dengan pekabaran Injil adalah memunculkan semangat produktifitas, semangat kemandirian dan kerja keras, yang tanpa kita sadari sudah dimiliki sebagian dari masyarakat kita karena terbentuk oleh faktor-faktor budaya yang secara positif mengambil peran dalam keluarga. Contohnya adalah budaya kaum minoritas seperti orang-orang cina keturunan yang secara implisit menyuburkan sifat-sifat hemat, efisien, menabung dan tidak terpisahnya masalah-masalah materi dengan dunia akhirat nanti, seperti yang diteliti oleh Yahya Wijaya. Dasar teologi yang dipakai oleh beliau secara tajam dapat mengajak gereja-gereja untuk intropeksi diri, yaitu tentang peristiwa perjamuan kudus.
Peristiwa perjamuan kudus yang dikerjakan Yesus merupakan dobrakkan baru untuk memperbaharui konsep keluarga pada struktur masyarakat Yahudi pada waktu itu, bagi Yesus keluarga diperluas menjadi komunitas iman yang artinya sebuah keluarga akan selalu terhubung secara tidak langsung dengan keluarga dan individu-individu disekitarnya. Dan yang menarik bahwa dalam peristiwa memecah-mecah roti dan minum anggur sesungguhnya adalah suatu penghargaan pada puncak perjalanan Yesus terhadap hasil-hasil produksi keluarga-keluarga dalam kehidupan sehari-hari dan dipakai untuk menjelaskan konsep tubuh dan darah Kristus.
Sehingga ini dapat membantu kita memaknai kembali bangunan ekonomi keluarga kita yang kurang berorientasi pada proses dan terlalu menuntut hasil, penghargaan akan produktifitas tidak semata-mata diukur dari hasil yang dimunculkan. Dengan demikian bentuk suatu pekerjaan yang sudah dilengkapi dengan berbagai nilai-nilai positif itupun tidak perlu dibatasi dari hasil keuangan yang didapat saja. Sehingga tujuan ekonomi adalah mengumpulkan secukupnya, bukan menimbun. Sementara pengangguran adalah korban cara berpikir yang menganggap kita ini selalu berebut peluang, namun ini tidaklah produktif karena sesungguhnya kita juga dapat menciptakan sendiri suatu peluang bagi diri kita, mandiri walau sering kali tidak disadari.
TEOLOGI
Hebat!!!!
Comment by Joko — July 31, 2008 @ 5:38 am