FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

July 3, 2007

YESUS SANG PENGGANGGU DAN PENGUSIK

Filed under: Kristologi — admin @ 8:59 am

Suatu Studi Kristologi
Karya: Martin Krisanto N., Kategori: Pilihan Mahasiswa

I. Pendahuluan
Sebuah kaos buatan IISNA (Islamic Information and Service Network of Australasia) bertuliskan “I love Jesus because I’m a Muslim and so is he” menggerakkan Dzikrullah mengopinikan pendapatnya pada majalah Tempo bahwa Yesus adalah seorang Muslim yang inti pengajarannya sama dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu tauhid, menolak penyembahan dan pengabdian selain kepada satu Ilah. Namun menurutnya penyimpangan demi penyimpangan terjadi karena beberapa murid berkompromi dengan Paulus yang tidak pernah berjumpa Yesus bahkan berbalik dari anti-ajaran Yesus menjadi pendakwah utama ajaran Kristen. Paulus mengakomodasi kepercayaan pagan Romawi dan menyepakati trinitas. Kemudian memuncak ketika Kaisar Konstantin Agung menyelenggarakan Konsili Nicea tahun 325 M, dan konggres ini memilih teologi Paulus sebagai teologi resmi gereja dan menganggap semua aliran Kristen yang lain sebagai heresy (kekafiran). Dan pada masa kekaisaran Theodosius mengeluarkan Edict of Theodosius yang meresmikan Kristen sebagai agama negara. Secara sederhana kaos tadi mendudukkan perkara sebenarnya bahwa Yesus adalah nabi.
Rupanya kontroversi diatas bukan merupakan bahan perbincangan yang baru bagi kalangan Kristen maupun Muslim. Bahkan dalam artikel ini juga dikatakan bahwa “Logika sehatnya, kehadiran orang-orang misi Kristen di Aceh – sebuah negeri Muslim – justru kesempatan bagi rakyat Aceh untuk meluruskan kebengkokan ajaran iman mereka. ” Bersama dengan karya ini saya ingin menghadirkan pertanyaan bagi kita orang-orang Kristen, mengapa Yesus yang hadir dalam sejarah dan dikenal sebagai sosok manusia yang serba sempurna itu justru pada konteks Indonesia hadir kembali sebagai pengganggu dan pengusik bagi orang-orang non – Kristen? Apa yang sesungguhnya mengusik? Benarkah mengusik? Mengapa kehadiran orang Kristen juga dapat mengganggu sekitarnya?
II. Jawaban Konteks Yesus
Secara cermat dapat diperhatikan bahwa kehadiran Yesus dalam sejarah secara tidak berlebihan menjadi penyebab amarah orang-orang di sekitarnya, walau memang tetap ada beberapa yang bersimpati kepada-Nya. Diawali dengan peristiwa penolakan yang telah memaknai teologi dasar bagi berjuta-juta orang Kristen di seluruh dunia, pada saat kelahiran-Nya diberitakan. Beberapa pemegang peranan penolakan diantaranya adalah tidak adanya tempat penginapan (Luk 2:7), dari sekian juta manusia malahan mengundang sekelompok gembala yang hanya dipandang sebelah mata pada jaman itu. Sosok Herodes sebagai rezim boneka Romawi yang bengis tidak ketinggalan mewarnai nuansa pekanya urusan kekuasaan, kemasyuran dan kejayaan sehingga harus menghapus musnahkan sekian banyak bayi-bayi (Mat 2:16) demi menyingkirkan tersangka seorang pesaing statusnya sebagai raja.
Masa-masa pertumbuhan Yesus sampai pada usia belasan tahun rupanya tidak mendapatkan banyak perhatian, teman-teman sebaya ataupun orang-orang tua disekitar Yesus yang mendapat kesempatan hidup bersama-sama, mendidik Yesus tentang bahasa, tulisan dan sebagainya sampai pada pekerjaan-pekerjaan yang umum dilakukan disekitar kehidupannya juga tercengang ketika tahu bahwa Yesus yang mereka kenal telah melakukan banyak mujisat yang spektakuler di daerah-daerah lain seperti yang dinarasikan oleh Lukas yaitu Galilea. Setelah melakukan perjalanan, Yesus kembali ke Nazareth sementara berita tentang kehebatan-Nya telah terlebih dahulu sampai ditelinga mereka sehingga mereka penasaran ingin melihat Yesus.
Menurut Bavinck kondisi inilah yang menyebabkan amarah sebagian orang di Nazareth, ketika coba dinarasikannya kembali bahwa Yesus seakan berkata; “Datanglah kepadaKu sebagai manusia yang hidup! Hentikanlah impianmu dan pandanglah dirimu, pandanglah kepapaanmu! Sekarang masih lagi Aku berdiri ditengahmu, marilah sebelum terlambat! Janganlah tetap memandang Aku seperti sahabatmu, sebagai obyek kesombonganmu.” Perkataan-perkataan Yesus meletakkan orang-orang yang mendengarnya ke dalam dua pilihan yaitu sadar atau menjadi marah, mereka akan marah ketika mereka berjalan terus pada jalan yang sudah ditempuhnya dan bahkan kebencian akan makin memuncak karena Yesus tidak memenuhi cita-cita kesombongan, kemegahan, kehormatan, kemenangan politis, kekayaan ekonomi serta semua yang ideal dan istimewa.
Beberapa latar belakang cita-cita tersebut oleh Fletcher dipaparkan antara lain karena Kondisi kemelaratan yang nyata amatlah buruk di masyarakat Palestina pada awal abad pertama, ini dapat dikategorikan sebagai penetes (bertahan dengan susah payah, Luk 16:3) dan ptokhoi (tidak punya apapun, tanahnya dirampas, berhutang hingga menjadi budak, Mat 25:29, Mat 18:25). Penderitaan ini bergandengan dengan harapan penyelamatan ilahi (Luk 3:15) dalam bentuk pengembalian keadaan jaya di masa lampau, pembalasan pada musuh, ditiadakan utang, dan perkebunan besar dibagi-bagikan serta bebas dari perbudakan. Pandangan tentang Mesias seperti raja Daud sang pahlawan menghantar kepada kecurigaan akan rancangan pemberontakan sebagai musuh politik dan harus disalibkan.
Siapakah Yesus dihadapan murid-muridnya digambarkan oleh Elizabeth A. Johnson adalah; bagi Matius – Yesus adalah Musa baru, pengajar hukum baru, bagi Markus – Yesus adalah Mesias yang menderita, bagi Lukas – Yesus yang penuh dengan Roh Kudus, adalah Juru Selamat semua orang, bagi Yohanes – Yesus adalah Sabda Allah yang menjelma menjadi manusia, bagi Paulus – Yesus adalah Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan. Kalau mau secara teliti kita telusuri pergumulan mereka selama mengikut Yesus justru secara unik kita dapati bahwa seringkali perilaku dan ucapan Yesus mengagetkan mereka, bahkan jawaban Yesus terhadap pertanyaan mereka seringkali tidak dapat mereka tangkap dengan tepat.
Beberapa golongan yang memainkan peranan penting dalam masyarakatnya pada saat itu adalah orang-orang Farisi yang senantiasa membawa sikap bersungut-sungut turut mengiringi perjalanan Yesus bersama murid-muridnya, Taurat yang adalah hukum utama yang mereka pegang teguh. Latar belakang yang menyebabkan karena kegiatan mereka berpusat di sinagoge dan penelitian hukum Taurat. Mereka lebih populer bagi masyarakat dibanding kaum Saduki, karena dianggap orang saleh. Kaum ini tidak mengambil bagian dalam kegiatan politik, karena bagi mereka penjajahan Romawi merupakan hukuman dari Allah dan hanya bisa bebas bila mereka setia pada Taurat. Yesus bagi mereka adalah seorang pelanggar hukum Taurat yang mengusik pemahaman-pemahaman yang tengah mereka tanamkan, Ia sungguh unik, perlu diawasi gerak-gerik-Nya dan bila ada kesempatan dapat dibunuh.

2.1. Kajian Sejarah Dogma dari C. Groenen OFM
Memahami uraian Groenen mengenai Yesus pada kekristenan Yahudi, penulis mencoba menemukan kembali gangguan-gangguan apa saja yang dapat ditimbulkan ketika bertemu dengan berbagai pandangan filsafati yang telah dahulu ada diantara masyarakat khususnya Yahudi. Pandangan-pandangan tersebut antara lain; 1) Apokaliptik - Jemaah Kristen keturunan Yahudi; Yesus orang Nazaret, orang suci dan kudus, dipilih Allah dan diangkat menjadi Mesias, Kristus (namun orang itu belum ada), 2) Kerygmata Petrou (abad II) dalam Pseudo-Clementina; Yesus seorang rabi sebagai “Nabi sejati” (sudah ada sejak kekal) yang adalah Roh Kudus yang dahulu nampak dalam (merasuki) Adam, Musa dan sebagainya yang terus-menerus berganti nama dan karena jasanya oleh Allah diurapi menjadi Kristus lalu beristirahat tetap dalam diri Yesus (sebagai tempat kediaman Roh) maka Yesus serentak Kristus, Mesias sejati, melebihi Musa dan nabi-nabi lain. 3) Anabathmoi Iakobou dalam Pseudo-Clementina; Yesus seorang nabi dan Kristus kekal (sama dengan Roh Kudus), Roh itu sejak awal ada dan selalu menyertai orang takwa (Theophania – pada Abraham/Musa, namun kembali ke tahta surgawi-Nya) dan akhirnya tampil dalam Yesus dibumi. 4)“Injil orang Nasrani” (menurut orang-orang Ibrani) Roh Kudus disebut sebagai Ibu Kristus (ruah dalam pengertian feminin), Maria adalah nama suatu kekuatan surgawi & waktu Yesus dibaptis, Roh Kudus berkata: “Anakku, dalam semua nabi aku menantikan engkau sampai engkau datang. Dan aku beristirahat dalam dirimu. Sebab engkau peristirahatanku. Engkau anak sulungku, yang akan berkuasa untuk selama-lamanya”. 5) Kristologi Pneumatologis (th. 150) Roh, Kekuatan ilahi yang diperorangkan, secara definitif tampil dimuka bumi dengan memuncak pada kebangkitan Yesus. Roh itu “menjelma” dalam diri Yesus, melampaui dimensi manusiawi (ciri manusiawi Yesus makin disingkirkan) terutama setelah “didiami” Roh Kudus. 6) Adoptianisme (generasi berikutnya yang mendekati Kristologi Pneumatologis); Yesus (hanya) anak angkat Allah (dalam Injil kaum Ebyonim – gnostis), Yesus manusia biasa berubah menjadi Kristus sejak dibaptis oleh Yohanes namun Kristus itu meninggalkan Yesus ketika disalibkan. Yang mati dan bangkit hanyalah Yesus, Yesus bukan Kristus karena Kristus sesuatu yang rohani belaka. 7) Kristologi Angelis, sejalan perkembangan “angelologi” dan “demonologi” pada awal tarikh Masehi di Yahudi yang berhaluan apokaliptis; Malaikat-malaikat diperorangkan dengan pendekatan dinamis, dunia Allah (teratas) – dunia roh-roh jahat – dunia manusia (paling bawah), jadi Yesus turun di dunia orang mati untuk mewartakan kemenangan-Nya, mengalahkan “Malaikat Maut” dan membebaskan orang (benar) yang terkurung disana.
Usaha dan percobaan; masa-masa abad II-III belum ada “ajaran umum dan resmi” dan belum ada “orthodoxia” yang keluar akibat bentrokan dan menjadi ajaran dan refleksi resmi tentang Yesus Kristus yang cukup seimbang dan utuh. Pendekatan yang terjadi kemudian di kategorikan sebagai Kristologi dari atas yang condong menonjolkan ciri ilahi Yesus Kristus. Kristologi Kristen-Yahudi yang menekankan kemuliaan, kekuatan dan kemenangan Yesus Kristus (berdekatan dengan kristologi Injil Yohanes) sulit menempatkan peristiwa kematian Yesus yang ngeri di salib.
Selanjutnya di dunia Yunani, pengharapan akan kedatangan (parousia) mendapat tempat yang mantap. Menjelang akhir zaman rasuli (abad I) telah ada usaha untuk membendung ketidakseragaman konseptualisasi dan pengungkapan kepercayaan Kristen dengan disusun ketiga Injil sinoptik (riwayat hidup Yesus); Markus, Matius dan Lukas walaupun pendekatan dari ketiganya juga tidaklah sama apalagi bila ditambah karangan Yohanes. Karangan-karangan pada tokoh tertentu dari awal, seorang rasul, murid Yesus lain, murid-murid rasul ataupun semua rasul dalam bentuk Injil, Kisah, Surat, Wahyu diistilahkan sebagai “Pseudepigraph”. Dan istilah “apokrip” untuk yang tidak berhasil dicantumkan dalam Perjanjian Baru. Berangkat dari kepercayaan Yahudi dan Kristen, berkembang sinkritisme dari pelbagai aliran filsafat dalam pandangan hidup gnosis, yang dasariah amat toleran dan serentak esoteris (teruntuk bagi kelompok orang pilihan) selanjutnya juga menetaskan “doketisme” (dianggap sebagai, tampak sebagai). Kemanusiaan Yesus kurang sesuai dengan alam pikiran gnostis, karena gnosis memandang kejasmanian secara negatif, yang ilahi tidak bercampur dengan materi. Jadi doketisme-nya adalah Yesus hanya pura-pura mati di salib.

III. Jawaban Bapa-bapa Gereja
Menjawab keberadaan gnosis inilah muncul Kristologi yang menekankan kemanusiaan Yesus, salah satunya adalah kristologi Ignatius (th.110) yang menganut “Kristologi dari Atas” yang menyebut Yesus sebagai Allah dengan keseimbangan dengan menekankan bahwa Yesus Kristus serentak Allah dan manusia. Lalu juga Monarkianisme-modalistis; kristologi Markion (th.140) yang mengartikan Yesus Kristus sebagai penampakan Allah sejati (memperlawankan Allah Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama) tentu kepura-puranan kematian Yesus dapat dijelaskan sebagai alasan merebut orang berdosa dari kuasa Allah dengan tipuan. Berikutnya juga Kristologi Yustinus; kristologi dari atas dan subordinasionistis (th. 165), tekanan terletak pada Yesus Kristus adalah “Logos/Firman Allah” yang ada sejak kekal. Yesus Kristus adalah pribadi tidak kekal dan sungguh-sungguh manusia, lahir, dibaptis, mengajar, mengerjakan mujizat, benar-benar menderita dan mati. Yustinus terikat pada Perjanjian Lama, meracik dalam regula fidei yaitu kaidah iman atau kebenaran-kebenaran pokok tradisi Kristen dan menjurus pada syahadat juga Injil-injil tertulis. Disini Yustinus sebagai tokoh apologetika mula-mula.
Dari sekilas uraian sejarah dapat kita lihat bahwa dalam upaya menerima dan membuat konsep mengenai Yesus, bapa-bapa gereja terdahulu pada waktunya juga tetap terganggu dan terusik oleh peristiwa Yesus secara utuh. Di antara mereka dapat terjadi berusaha menerima beberapa hal dan menolak hal lain yang dirasa bertentangan dengan konsep-konsep filosofi yang telah dulu ada dalam tatanan pemikiran yang ada atau tengah ditanamkan dalam masyarakat mereka. Yang menarik adalah reaksi beberapa tokoh yang justru karena pergolakan tersebut menjadi cikal bakal apologetika.

3.1. Apologetika dan Konsili sebagai Reaksi
Perkembangan gereja dalam dunia Helenistik membuat orang-orang Kristen berpikir dan mengajar dalam budaya Laut Tengah, diperhadapkan dengan berbagai pertanyaan secara ontologis yang memaklumkan perilaku penyelamatan yang dilakukan Yesus dan bergeser pada pertanyaan tentang siapakah Dia sehingga berkemampuan sebagai penyelamat. Pertanyaan bertubi-tubi memperdebatkan tentang jatidiri Yesus sebagai Allah atau manusia, dimana manusia berarti benar tubuh-Nya berupa daging, berjiwa manusiawi dan apakah satu atau dua pribadi. Tarik-menarik antara kecenderungan penekanan pada keilahian Yesus dengan kemanusiaan Yesus tidak dapat dihindari, sejak perumusan Syahadat Nicea pada Konsili Nicea pada tahun 325 bahwa Yesus diakui sebagai “Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar; dilahirkan bukan dijadikan; sehakikat dengan Bapa” juga antara lain dalam Konsili Konstantinopel (th.381) dimana menekankan bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia seperti yang ditulis oleh Paus Leo I “Sama-sama jahat dan berbahayanya menyangkal kebenaran kodrat kemanusiaan Kristus dan menolak kepercayaan bahwa kemuliaan-Nya sama-sederajat dengan Bapa.” Dan akhirnya pada Konsili Kalsedon dinyatakanlah iman bahwa Yesus Kristus sehakikat dengan Bapa sebagai Allah, dan sehakikat dengan kita sebagai manusia sebagai dua kodrat dalam satu pribadi.
Rumus-rumus dogmatis dijabarkan berulangkali dan menjadi hafalan bagi orang-orang Kristen, yaitu bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah ataupun “Allah-Anak” yang dapat berbeda artinya. Semua ini terdapat dalam katekismus dan sampai pada konsep Allah Tritunggal yang menjadi polemik yang agak tajam yang dijadikan kritik bagi Kekristenan. Groenen menandaskan bahwa katekismus tidak ditemukan dalam Perjanjian Baru, ini membuat masalah menjadi rumit karena orang menemukan berbagai gelar yang antara lain adalah Anak Allah dan tidak pernah Allah-Anak dan kata “Tuhan” lebih berarti seperti gelar Jawa: gusti. Mengenai Allah Tritunggal juga tidak ditemukan, kecuali dalam sisipan 1 Yohanes 5:7-8 “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.” Alam pikiran Alkitab yang “Fungsional” tidak cukup menjawab apa dan siapa, karena lebih menjawab apa yang dikerjakan, mana fungsi, kedudukan dan peranan Yesus Kristus sedangkan dogma berbicara secara esensial. Lalu penulis kembali mengajak untuk menelaah sesungguhnya secara fungsional maupun esensial, Yesus Kristus adakah tetap sebagai Sang Pengganggu atau Pengusik? Tentu secara tersirat telah terjawab, namun dalam memaknai konsepsinya akan dibicarakan lebih lanjut.
IV. Jawaban Kultur Indonesia
Tidak berlama-lama dengan putaran kalaedoskop pergumulan Kristologi sepanjang sejarah Kekristenan, penulis mencoba melompat ke dalam konteks masyarakat Indonesia yang termasuk dalam rumpun negara di Asia. Sedikit mengenai Asia ada baiknya bila kita sedikit mengulas bagaimana gambaran Kristus di Asia yang dibawakan secara unik oleh Masao Takenaka dalam membangun jembatan antara kultur dengan Iman Kristen. Melalui cerita mengenai visi Kristus pada Sri Ramakrishna (1836-1886) dimana Kristus mempunyai wajah asing namun berhidung pesek seperti orang Asia umumnya seakan berbicara bahwa kekuasaan Kristus tidak dapat dibatasi dengan tembok-tembok gereja maupun komunitas Kristen yang terbatas, apakah ini merupakan pernyataan yang bernada terlalu optimistik? Kemunculan nuansa kehadiran Kristus yang lintas budaya seharusnya melakukan sesuatu bila diperhadapkan pada pembangunan konsep ekklesiologi, bagaimana dengan gereja-gereja di Indonesia yang diperhadapkan dengan heterogenitas budaya bangsanya?
Suatu pertanyaan besar akan coba untuk dijawab, bahwa permasalahan polemik antara pemahaman Islam tentang Yesus dan Kristen tentang Yesus Kristus seperti pada pendahuluan paper ini adakah bersangkut paut dengan budaya Indonesia yang ada terlebih dahulu dengan nuansa Hindu, Budha, Tao, Konfusianisme atau berbagai kepercayaan lain. “Ya” secara tidak pasti dan “Tidak” secara lebih optimis, walaupun harus dengan penelitian dan analisa sosial lebih lanjut secara mendalam. Dikatakan secara lebih optimis karena kembali pada virtue-virtue (kebajikan) yang telah berakar dalam kultur, seringkali tidak membentur pemahaman yang secara fungsional dipaparkan gamblang-gamblang pada Alkitab. Benturan-benturan justru datang pada pergumulan esensialnya, bila dilakukan penyelidikan lebih lanjut dapat jadi budaya di Indonesia yang sangat berbeda dengan budaya Yahudi dan Yunani lebih dapat berdialog dengan fungsi dan esensi peristiwa Yesus Kristus. Di sinyalirkan justru pola-pola asing yang dibawa dari luarlah yang senantiasa memperkeruh dan mengaduk-aduk berlomba dengan gangguan-gangguan oleh Kekristenan yang mengatasnamakan Yesus Kristus.

4.1. Ritus Korban Versus Pengorbanan Kristus
“Yang ilahi bersifat keras dan mengancam” suatu mekanisme pengosongan kekerasan secara kolektif yang oleh Rene Girard disebut dengan mekanisme kambing hitam, menolong J.B. Banawiratma SJ. menguraikan tentang ritus korban binatang dalam berbagai upacara adat diantara suku-suku di Indonesia. Garis besarnya adalah manusia berusaha menenangkan yang ilahi semacam itu dengan korban-korban, agar manusia bebas dari ancaman kehancuran yang sesungguhnya datang dari rivalitas dan kekerasan satu sama lain, yang kemudian diikat dan dikosongkan dalam upacara tersebut. Seperti yang terjadi di Soa dan Riung – Flores, slametan di Jawa, mitos korban manusia dalam Brotoyudo sebagai tawur, bebanten, tumbal, landhesan & wadal, dalam masyarakat modern justru mekanisme ini tersembunyi makin rapat dibalik kekerasan yang saling membalas. Gambaran Ilahi yang keras dan membalas serta mengancam inilah yang membentuk suara hati.
Penulis tidak membicarakan tentang kemungkinan kesalahan presepsi mengenai pengorbanan Kristus dan kebangkitannya bagi Kekristenan di Indonesia, melainkan mencoba menyuarakan mekanisme “ancaman” diatas tadi bersama-sama dengan mekanisme “gangguan dan usikkan” yang tengah digumulkan agar dapat membedakan secara jelas akan dampak yang berbeda walau memiliki nuansa yang kasat mata adalah sama. Pengorbanan Kristus bukan merupakan ancaman karena diri-Nyalah korban itu sehingga bukan darah dari siapapun selain diri-Nya, bukan perlawanan antara kelompok atau individu tetapi semua melawan satu, kematian-Nya bukanlah korban karena Dia dibunuh tidak dalam upacara korban melainkan karena setia pada pengutusan-Nya pada situasi politis yang konkret. Paling tidak, pernyataan yang baru saja diutarakan oleh penulis ini telah memaparkan bagaimana gangguan pada tatanan duniawi tengah terjadi oleh satu sosok saja.

V. Jawaban Transformasional
Perlu disadari bahwa pada waktu yang sama ketika Yesus hidup di dunia, justru keberadaan-Nya sangat terbatas oleh waktu dan tempat dimana kehidupan ditempat lain tidak tersentuh oleh kehidupan Yesus. Saat itu sangat berbeda dengan sekarang yang mana nama Yesus sudah begitu menyebar diseantero jagad dan Sang Pengganggu benar-benar tidak hanya mengusik satu konteks kehidupan melainkan diberbagai tempat dan konteks melampaui berbagai lingkungan sosial, budaya, politik, sejarah, ekonomi, ekologi, bahasa dan sebagainya. Jadi keberadaan kita secara utuh pada konteksnya dan keberadaan Yesus secara utuh sebagai Tuhan atas diri kita, sejauh mana akan mengganggu diri kita yang dipahami sebagai “ke-aku-an”.
Penulis sependapat dengan Martin Buber yang mengutarakan bahwa dalam konsepnya mengenai I and Thou dimana Thou selaras dengan You dan You adalah pembebas sekaligus langkah seterusnya yang secara unik diperhadapkan kepada diri kita, didalam kerangka hubungan dengan keberadaan lainnya dalam dunia secara eksklusif. Dimana hubungan dengan Tuhan merupakan kemutlakan secara eksklusif maupun inklusif. Sehingga seluruh hal akan terlibat dalam hubungan tersebut bukan dengan mengabaikan segala hal tetapi melihat segalanya dalam You (Tuhan) sehingga tidak menjauhi dunia justru meletakkan diri dimana ia berada.
Hal yang sama terjadi jika memulai dari pihak yang berlawanan dan mencari elemen yang esensial dari perilaku religius dengan masuk dalam dirinya, apakah dirinya dapat melucuti semua subyektifitas serta “ke-aku-an”nya, dan dapatkah mengerti bahwa dirinyalah yang berpikir dan “ada”. Demikianlah bahwa sudut pandang pertama-tama haruslah Tuhan yang masuk kedalam keberadaan yang telah dibebaskan dari “ke-aku-an” atau bahwa pada titik tersebut, muncul Tuhan dalam keberadaannya.
Namun perlu di waspadai beberapa kondisi yang meniadakan You adalah I-I yang tidak mendengarkan orang lain dan tidak memperhatikan bahwa ada I yang lain, I-It orang yang sangat tekun pada obyek tertentu sementara orang lain lebih memikirkan dirinya daripada dirinya sendiri – mereka biasanya adalah pelajar yang baik namun tidak dapat setia. Tipe lainnya adalah It-It hidupnya didominasi oleh obyek ketertarikannya, pelajar yang sangat baik dan pengetahuannya luar biasa bahkan tidak punya waktu untuk dirinya sendiri – belajar tanpa mengalaminya karena tidak ada waktu untuk berpengalaman, sembrono dan tanpa humor. Selanjutnya adalah tipe We-We begitu kekanak-kanakan sampai tidak pernah berkata aku sehingga tidak obyektif dan selalu butuh kelompok sebagai dunianya dan I, You, It, He and She hanyalah bayangan. Terakhir adalah tipe Us-Them yang memisahkan dunia selalu kepada dua hal; Anak terang dan anak kegelapan, domba dan kambing, dipilih dan tidak dipilih, rentan menimbulkan masalah sosial karena kelompoknya saja yang mempunyai hak istimewa (prerogatif).

5.1. Bahaya akan Ketidaktergangguan
Bila dicermati dalam artikel pada pendahuluan, sudah ada pergeseran bahwa upaya-upaya orang-orang Kristen yang oleh orang-orang non-Kristen digolongkan sebagai usaha peng-Kristenan saat ini dilihat sebagai peluang untuk meluruskan ajaran iman orang Kristen kembali pada pemahaman mereka tentang Yesus. Bukankah yang terjadi bahwa Yesus bukan lagi Sang Pengganggu dan Pengusik bagi mereka? Bila benar demikian maka upaya-upaya peng-Kristenan merupakan usaha yang sudah tidak relevan dalam konteks Indonesia. Gereja serta berbagai organisasi Kristen patut belajar dan menemukan hal-hal baru sehingga salah satu amanat dalam Matius 28:19-20 tidak dimengerti secara mekanis begitu saja, sementara Matius 25: 31-46 yang begitu gamblang diamanatkan seakan-akan mendapat prioritas kedua dalam kehidupan misi gereja-gereja.
Di dalam gereja sendiri, bila diamati dengan cermat akan banyak ditemukan kehidupan pribadi-pribadi yang sudah tidak terganggu lagi oleh Yesus – Firman Allah. Hal ini tampak karena kehidupan bersama kebenaran yang berdampak dinamis itu akhirnya menjadi suatu kehidupan yang statis. Sehingga dalam kehidupan bergereja seringkali ditemukan orang-orang Kristen yang mengalami berbagai kejenuhan, kebosanan bahkan selalu mempersalahkan golongan lain yang tidak sependapat sebagai wujud pembenaran bahwa pemahamannya sudah terpatok disuatu titik yang pasti sehingga tertutup akan perubahan.

5.2. Dimensi Hermenutis
Secara hermeneutis, ketika seseorang mengatakan bahwa “enak, ya karena sudah ada seorang Manusia serentak Tuhan yang mau berkorban bagi kita” maka seakan-akan Yesus menjawab “Aku bukanlah korban bagi keretakan hubungan persaudaraanmu, kekerasan antara saudara-saudaramu (Matius 5:23-24)
“Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”
dan semoga tulisan ini akan sangat mengganggu karena seringkali orang-orang Kristen di Indonesia lebih merasa bahwa orang-orang Kristen di luar negeri adalah sesamanya sementara tetangganya yang non-Kristen diabaikan begitu saja dengan mengatakan “Yesus melindungi dan berkorban bagiku, lihat semua rumah didaerahku terbakar kecuali rumahku karena mereka semua non-Kristen!” atau mengklaim bahwa telah memiliki keselamatan dalam Yesus secara eksklusif sehingga secara berlebihan mengatakan bahwa diluar gereja dan Kekristenan tidak ada keselamatan bagi siapapun.

5.3. Dimensi Pengalaman
Penulis ingin mengutarakan suatu deskripsi fenomena gangguan dalam dunia teknik yang sampai saat ini menjadi pekerjaan rumah utama dari sebuah perusahan milik negara Indonesia yaitu PLN (Perusahaan Listrik Negara). Dalam agenda rapat seluruh General Manager bersama Direktur Utama mencantumkan bahwa tantangan yang harus dihadapi bersama adalah mengurangi “Losses” dengan mem-petakan gangguan pada jaringan distribusi. Mengapa ini begitu sulit dan harus ditangani, karena daya yang tersedia dibandingkan daya terpakai oleh masyarakat tidak seimbang. Maksudnya adalah banyak daya yang terbuang dalam pendistribusian listrik pada jaringan sehingga kerugian daya atau “Losses” tidak dapat dihindari. Oleh sebab itu, dengan mem-petakan berbagai macam gangguan yang terjadi pada jaringan dapat memperkecil “Losses” dalam arti bukan menghilangkannya karena tidak mungkin meniadakan faktor tersebut.
Yang menjadi perhatian adalah bagaimana dampak dari upaya menanggani gangguan-gangguan yang terjadi pada proses distribusi, PLN dimanapun berlomba secara positif untuk menunjukkan indeks “Losses” terendah yang berhasil dicapai namun tidak sedikit upaya dan dana yang dikeluarkan demi mengatasi gangguan-gangguan tersebut. Pekerjaan rumah mereka hampir dikatakan menjadi pekerjaan “abadi” yang tidak akan berhenti, berbagai pemikiran dan peralatan diciptakan dengan memanfaatkan tenaga ahli serta pesatnya teknologi.
Dalam kehidupan beriman, seringkali bergumul dengan Firman Allah menghantar kita dalam situasi yang tidak enak dan ini sangat mengganggu diri kita, disadari atau tidak Firman Allah yang hidup itu akan membuat diri kita selalu berupaya untuk mengatasi gangguan dimulai dengan berbagai macam cara yang keliru yaitu dengan melawan atau menentang sampai pada situasi dimana kita menemukan bahwa diri kita sendirilah lawan yang harus ditentang sekuat tenaga sehingga lambat laun diri kita ber-transformasi tiada henti karena faktor pengganggu yang adalah kebenaran itu senantiasa berada dalam keberadaan kita.

VI. PENUTUP
Gangguan, usikan, kritik, polemik, pergolakan, benturan dan ancaman adalah serumpun kata-kata yang sarat akan sorotan negatif bila seseorang belum merubah kacamatanya tentang kehidupan yang nyata dan faktual. Karena kelompok kata inilah yang akan selalu dihindari orang tanpa sadar bahwa didalamnya terkandung kebenaran.
Memang benar bila I diperhadapkan pada You maka proses transformasional dimulai karena I terganggu atau terusik oleh penetrasi You tersebut. Seperti yang dikatakan Walter Kaufmann bahwa “Mundus vult decipi” yaitu dunia ingin selalu ditipu atau dicurangi, karena kebenaran terlalu kompleks dan menakutkan, rasa dari kebenaran itu adalah belajar merasakan bahwa sedikit yang bisa dipelajari. Ini merupakan jawaban mengapa peristiwa Yesus yang merupakan kebenaran sejati itu mengganggu sehingga pantas bila kita mengagungkan bahwa Yesus Sang Pengganggu dan Pengusik.
Sebagai suatu masukan strategi konseptual maka penulis cukup terkesima ketika pengampu Bp. Aristarchus Sukarto mengungkapkan tentang “ada 170 macam definisi dari satu kata ‘budaya, bandingkan bahwa intepretasi teologis tentang keselamatan juga tidak didefinisikan secara komprenhensif dalam Alkitab” sehingga menghindarkan “definisi” sebagai faktor pembatas. Senada dengan apa yang diungkapkan Kaufmann yakni “The good way must be clearly good but not wholly clear. If it is quite clear, it is too easy to reject” . Demikian pula kiranya kita diajak untuk melihat kebenaran dalam peristiwa Yesus, sehingga tidak ragu-ragu lagi bahwa sebetulnya kita tidak akan pernah mengerti sepenuhnya tentang politik Yesus karena ketika kita mulai agak mengerti tentang sesuatu yang berhubungan dengan Yesus maka disitulah kita memulai pemahaman baru kita yang siap sewaktu-waktu untuk diganggu lagi dengan berbagai macam ujian.
Sebagian politik Yesus yang berat bagi kita adalah seperti yang dituliskan pada sampul buku karangan John Howard Yoder:
“Love your enemies, do good to those who hate you; bless those who curse you and pray for those who maltreat you.” – “Give to all who beg from you.” – “Do to others what you would have them do to you.” – “Be compassionate, as your Father is compassionate.”

4 Comments »

  1. Saya sebagai orang awam tentang agama, sangat sulit menghadirkan Yesus dalam imajinasi saya. Padahal ada pepatah mengatakan, saya tidak tahu maka saya beriman.

    Salah satu kebutuhan manusia adalah kebutuhan akan hiburan. Salah satu hiburan adalah dongeng atau cerita. Dongeng yang paling dinikmati adalah dongeng tentang kebaikan mengalahkan kejahatan.

    Pada anak-anak ada dongeng ultraman, power ranger. Pada orang tua ada Spiderman, Superman, Hulk. Dongeng tersebut adalah dongeng masa kini. Jaman dahulu ada Mahabarata, Ramayana, Hercules, Samson.

    Dongeng tentang melawan kejahatan biasanya terdapat cerita keajaiban, kesaktian, mukjizat, dll. Gatot Kaca misalnya, ia memiliki kemampuan otot baja, tulang besi seperti juga pada Hercules, Hulk, dan lain-lain.

    Pada jaman dahulu di Palestina, orang juga membuat dongeng tentang kebaikan melawan kejahatan, yang tidak lain adalah Yesus. Dongeng ini dibuat oleh sebuah konsorsium (asosiasi pembuat dongeng) saat itu, yang beranggotakan antara lain: Markus, Lukas, Matius, Yohanes, dll. Mereka adalah cerdas, jenius, luar biasa, dan berkecukupan. Tak tertandingi oleh Isaac Newton, Albert Eisntein, Stephen Hawkins, bahkan Bill Gates.

    Dongeng perlawanan terhadap kejahatan/ dosa pada cerita Yesus adalah luar biasa. Kalau Power Ranger melawan kejahatan hanya mencakup seluruh dunia untuk saat itu saja, namun Yesus melawan kejahatan untuk seluruh dunia sejak tahun 33M sampai dunia ini berakhir.

    Perlawanan Yesus sangat cantik dan romantis. Ia melawan dengan kelembutan hati, membela orang yang lemah. Walaupun begitu Yesus, seperti dongeng lainnya, Ia juga memiliki kesaktian, misalnya membuat burung dari tanah liat, mengubah arah angin dan cuaca, membuat orang buta bisa melihat, orang tuli bisa mendengar, membuat roti bolu di langit kemudian disajikan 4.000 orang dalam sekejap. Tentu saja kesaktian ini sangat luar biasa dibanding dengan tokoh dongeng lain.

    Ending dari cerita Yesus memang unik. Kalau dongeng lain, tokoh menggunakan kesaktian fisiknya untuk mengalahkan kejahatan dan hidup bahagia, sedangkan Yesus tidak. Saat kejahatan melawan dirinya, ia tidaknya memanfaatkan kesaktiannya. Ia malah mengorbankan dirinya, untuk menghapus dosa, sehingga mati. Matinya diharapkan untuk menghilangkan dosa manusia. Namun dosa masih sangat banyak setelah dongeng itu dibuat. Ada perang Dunia II, perang Vietnam, perang Irak.

    Dongeng Yesus memang indah untuk diresapi, tak usah dinalar. Ia sebagai penyejuk hati. Sehingga jika dongeng Yesus masuk dalam perasaan dan diimajinasikan menjadi ada maka yang menganggap ada akan merasakan terlindungi dan merasa ada tempat sharing/ berbagi imajinatif.

    Bagi yang butuh dongeng yang menyejukkan, dongeng Yesus untuk sebagian orang memang terbukti sangat ampuh.

    Comment by Kaspo — October 22, 2007 @ 4:00 am

  2. salam dalam kasih…
    banyak sekali orang2 yg selalu mau menguji kekristean..
    rata - rata mereka menguji siapakah jesus itu,apakah benar2 ada ato tidak…
    aq mau tanya balik sama kalian kaum muslim..
    apakah kalian percaya sama MUSA,NUH dan nabi2 terdahulu..
    apakah kalian tau bangsa apa yg pimpin mereka ..?
    baca aja sejarahnya menurt kitab kalian…
    bangsa yg dipimpin oleh nabi2 itu adalah bangsa Israel bangsa diberkati sampai sekarang..
    itu salah satu acuan saya secara pribadi kalo ALLAH yang saya sembah adalah ALLAH abraham
    dialah allah yg di sembah bangsa israel bangsanya nabi Musa , Nuh dll mereka Nabi2 terdahulu
    mereka menyembah Allah Bngsa israel Bukan ALLAHnya Bangsa Arab ( muhamad )
    dan saya masih Bingung Sebenarnya Yg mereka sembah itu Allah Ato Sebuah Batu Hitam (ka”bah)..?
    Menyembah Batukan Sama kayak Menembah Berhala…?

    Comment by GARRY — March 27, 2008 @ 2:29 am

  3. dan satu lagi tau gak kenapa Bangsa ISRAEL dari dulu sampe sekarang gak pernah kalah dlm perang…?
    Karna Mereka Adalah bangsa yg di Berkati Tuhan Dari Zaman adam sampe sekarang..
    Tau gak kok Aceh Yg di terjang tsunami tepat desember hari kelahiran Tuhan JESUS..?
    Karna TUHAN sangat Marah,.. kok Orng Kristen mo disuruh pake jilbab n Gereja
    ato rumah tuhan kok disuruh tutup dan jgn ibadah..
    kalo ada yg kamu gak ngerti mengenai kristen bisa email garry_ktg@yahoo.co.id
    aku tungguh yah…
    GBU

    Comment by GARRY — March 27, 2008 @ 2:40 am

  4. 87g58whvo0jcwqlx

    Comment by Penelope Clay — November 12, 2008 @ 2:09 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress