FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

July 10, 2007

GEREJA YANG BERAKAR PADA BUDAYA TIONGHOA DI TANAH INDONESIA

Filed under: Misi — admin @ 6:21 pm

Karya: Yoeng Min Lan, Kategori: Pilihan Mahasiswa

PENDAHULUAN
Merencanakan kemungkinan bagi Gereja untuk berakar dalam budaya setempat membutuhkan suatu pemahaman keberadaan budaya setempat dan bagaimana injil masuk dalam kebudayaan. Romo Dick hartoko memberikan gambaran ringkas mengenai perjalanan Injil masuk ke dalam kebudayaan yang dimulai dengan inkarnasi sang Firman, sampai kepada pertemuan Injil dengan kebudayaan setempat melalui inkulturasi , suatu istilah yang lazim dipakai di kalangan Katolik. Dalam inkarnasi Sang Firman, yang paling hakiki adalah kesaksian Yoh 1:14 bahwa “Firman itu menjadi manusia, diam di antara kita”. “Manusia di sini bukan sebagai manusia an sich, tetapi sebagai seorang Yahudi yang hidup pada awal Zaman Bersama (tarikh Masehi, C.E.), yaitu Yesus dari Nazareth. Seluruh pewartaan-Nya mencerminkan latar belakang budaya Yahudi. Melalui manusia yang satu itulah, Injil itu disampaikan kepada kita dalam bentuk kata-kata, ungkapan-ungkapan, kiasan-kiasan, dan tindakan-tindakan, yang dengan sendirinya juga terikat kepada suatu budaya tertentu pada waktu tertentu. Lebih rumit lagi kita tidak menerima Injil itu dari tangan pertama, melainkan entah dari tangan keberapa. Injil yang kita kenal adalah Injil yang telah mengalami proses inkulturasi selama berabad-abad dari satu konteks budaya ke konteks budaya lainnya. Untuk sampai kepada manusia, Injil selalu membutuhkan wahana budaya. Mengutip Paulus, ia bergerak dari “iman kepada iman”, tetapi juga dari satu kebudayaan ke kebudayaan lain.
Dalam rangka untuk memberitakan Injil inilah Gereja hadir di tengah-tengah dunia. Tetapi dunia yang mana? Ketika gereja ingin menyampaikan misinya tidak bisa tidak Gereja juga harus sungguh-sungguh mengerti apa yang menjadi misinya, peka terhadap siapa dan bagaimana misi itu hendak disampaikan. Hal ini menyangkut kondisi penerima Injil beserta dengan kebudayaannya. Apa relevansi Injil terhadap kebudayaan? Dalam kehidupan kita sehari-hari, masalah Injil dan Kebudayaan adalah masalah yang hidup dan masalah yang menyangkut kehidupan. Mengapa demikian? Karena baik iman maupun kebudayaan adalah kesehari-harian kita. Artinya, tidak pernah sejenakpun hidup kita itu dapat kita lepaskan dari iman yang kita hayati dan dari kebudayaannya
Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Jawa dan keturunan etnis Cina, saya mencoba melihat bagaimana gereja bisa berakar dalam budaya setempat. Gereja bisa berakar dalam budaya setempat jika gereja di dalam menjalankan misinya mau menjadi gereja yang kontekstual. Ada kesan khususnya di kalangan para pendeta GKI “alergi” terhadap inkultarasi. Misalnya saja sikap anti kebudayaan Cina di dalam diri pendeta, (kesaksian Eka Darmaputera) membuat “kakek saya”, beberapa puluh tahun yang lalu, harus meninggal dunia tanpa sempat dibaptiskan. Padahal, sebetulnya dari segi kepercayaan, komitmen, dan kesungguhan, beliau itu sudah sangat dekat dengan kekristenan. Beliau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, baik dengan kata-kata maupun tingkah lakunya. Lalu proses inkulturasi yang bagaimana yang bisa dilakukan oleh gereja?

SIFAT DAN SIKAP ORANG-ORANG TIONGHOA
Orang-orang Tionghoa pada umumnya mempunyai sifat dan sikap yang terbuka dan terang-terangan, ramah dan bersahabat, dan bergairah berusaha dan rajin serta tekun bekerja. Di sampng itu, mereka mempunyai keyakinan akan diri sendiri, gemar kehormatan serta prestise. Sifat-sifat dan sikap-sikap mereka yang lain diantaranya adalah bahwa mereka memiliki kebebasan meskipun tunduk kepada keluarga, suka menghargai persahabatan sejati, suka mengadu “nasib” dan berjudi, serta konservatif.
Sifat dan sikap konservatif tersebut nampak jelas terutama dalam hal berpegang pada kebudayaan yang berasal dari “negeri leluhur: mereka, khususnya adat-istiadat mereka. Berkenaan dengan hal ini, khalayak sering mendengar ucapan orang Tionghoa: “Segala sesuatu yang baik bagi nenek-moyang kami, tentunya akan baik pula bagi kami”.

KELUARGA-KELUARGA TIONGHOA
Bentuk rumahtangga orang Tionghoa yang mendasarkan diri pada sistem perkerabatan itu adalah keluarga-luas. Keluarga luas dapat dibagi menjadi dua. Pertama, keluarga-luas yang terdiri dari keluarga orang tua dan anaknya laki-laki yang tertua beserta isteri dan anak-anaknya dan saudara-saudaranya yang belum nikah. Kedua, keluarga-luas yang terdiri dari orang tua dengan anak-anak lelakinya beserta keluarga-batihnya masing-masing (Keluarga-batih terdiri dari suami, isteri, dan anak-anak). Sampai dengan akhir abad ke-19 rumah tangga orang Tionghoa pada umumnya masih mendasarkan diri pada bentuk-bentuk keluarga seperti itu.
Di kemudian hari, sejak dihapuskannya peraturan sistem perkampungan Tionghoa; yang dikenal dengan daerah Pecinan itu, lambat-laun bentuk-bentuk keluarga tadi telah mengalami perubahan. Hal sedemikian nampak jelas dalam kehidupan orang-orang Tionghoa yang telah berkenalan dengan pendidikan dan kebudayaan Barat, terutama di antara orang-orang Tionghoa Peranakan. Berkenaan dengan bentuk-bentuk keluarga itu, satu hal perlu diketengahkan di sini, yaitu bahwa orang-orang Tionghoa melakukan pekerjaan dagang dan pekerjaan lainnya atas dasar sistem perkerabatan; sistem keluarga, sistem klen.

AGAMA DAN KEBUDAYAAN ORANG-ORANG TIONGHOA
Sampai dengan parohan pertama abad ke-19 semua orang Tionghoa kecuali mereka yang beragama Islam, pada dasarnya menganut ajaran Sam Kauw (harafiah berarti: Tiga Agama), yang merupakan perpaduan dari ajaran Konghucu, ajaran Tao, dan ajaran Budha. Dalam Sam Kauw, ajaran yang paling menonjol dalam arti yang paling banyak mempengaruhi kehidupan orang-orang Tionghoa secara keseluruhan adalah ajaran Konghucu. Sebabnya adalah Konghucu oleh orang-orang Tionghoa sangat dihormati dan bahkan sangat dihargai sebagai “Guru Besar”. Secara garis besarnya dapat dikatakan bahwa ajaran Konghucu sebenarnya berisikan masalah-masalah yang berkaitan dengan kekeluargaan, kemasyarakatan dan ketatanegaraan, yang dialaskan pada ajaran tentang Hau {Huruf “Hau” sebenarnya terdiri dari dua huruf, yaitu lo(lau) dan tsu (cu). Lo berarti orang tua, sedangkan tsu berarti orang muda (baca: anak laki-laki). Dengan demikian hau berarti orang tua telah melindungi orang muda (anak laki-laki), atau orang muda (anak laki-laki) telah menggendong oleh orang tua (ayah). Bertolak dari pengertian semacam itu, kemudian orang mengartikan hau sebagai kepatuhan, ketaatan, dan kecintaan anak laki-laki kepada ayah atau kesalehan anak terhadap orang tuanya. Untuk keterangan lebih lanjut lihat H.A.C. Heldring, op. cit., blz. 4,9. Setelah mengalami perkembangan lebih jauh, hau mencakup pengertian sikap anak laki-laki terhadap ayah, isteri terhadap suami, anak laki-laki yang muda terhadap yang tua, teman terhadap teman, rakyat terhadap rajanya, dan seterusnya. Dari sini tampak adanya jalur hubungan: keluarga-masyarakat-negara}.Dengan demikian, maka Hau-lah pada hakikatnya yang menjadi dasar bagi kehidupan keluarga, baik dalam artinya yang sempit, yaitu keluarga biasa, maupun dalam artinya yang luas, yaitu masyarakat dan negara.
Dalam perkembangan selanjutnya, ternyata Hau tidak hanya dipahami dalam konteks hubungan antara orang-orang yang masih hidup saja, melainkan juga dimengerti dalam konteks hubungan antara orang hidup dan orang yang telah mati; yaitu hubungan antara orang hidup dengan para nenek-moyangnya. Kenyataan tersebut hanya dapat dimengerti dengan baik dalam kaitannya dengan hal berikut ini. Menurut pemahaman orang-orang Tionghoa, dalam corak pengabdian anak kepada orang tuanya, khususnya kepada bapanya, terdapat unsur yang penting. Unsur yang penting dimaksud adalah hasrat anak untuk melakukan tsuntse (cunce), yaitu sikap yang seharusnya ditempuh oleh seseorang anak supaya dengannya ia berada dalam kesempurnaan hidup.

PERSEPSI MENGENAI WAKTU
Filsafat Cina membicarakan tentang hidup manusia waktu “sekarang” dan tidak banyak membicarakan tentang akhirat dan “dunia yang akan datang”. Pernah Konfusius ditanya oleh seorang muridnya mengenai arti “mati”, tetapi ia menjawab “Bagaimana engkau dapat memahami arti “mati”, kalau hidup saja belum kau pahami?” Pernyataan ini menyiratkan sikap tidak memikirkan hal-hal yang terlalu jauh dari kenyataan. Sehingga dapat dikatakan melalui filsafat Konfusius orang Cina lebih berorientasi pada waktu masa kini yang memiliki sesuatu yang dapat dipahami.
Selain itu Konfusius juga memberikan penghormatan terhadap usia. Bagi orang Cina, ada keajaiban hidup yang hanya bisa ditanamkan oleh usia. Penghormatan terhadap usia juga sering terjadi dalam percakapan sehari-hari. Di Cina dalam suasana yang sama akan mengatakan, “Heran, Anda kelihatan lebih tua dari usia yang sebenarnya”. Maka orang yang disapa itu akan bangga dikatakan lebih tua dari usia yang sebenarnya. Ada nilai tertentu dari perjalanan waktu yang pendek. Orang Cina juga gemar menghormati benda-benda kuno dan pusaka, mengusut silsilah mereka, sejarah, karya-karya pujangga kuno, dan sebagainya.
Sehubungan dengan alam pemikiran fungsional pada kultur Cina ada kecenderungan manusia Cina memiliki orientasi pada masa yang akan datang, namun untuk jangka waktu yang pendek yang bersifat praktis. Tetapi orientasi ini tidak terungkap secara eksplisit seperti pada budaya Barat, melainkan secara inheren kultur Cina memiliki potensi untuk berorientasi waktu pada masa yang akan datang. Dalam bekerja misalnya, manusia Cina lebih berani mengorbankan atau mengubah sesuatu demi sesuatu yang lain di masa yang akan datang, meskipun itu tampak sebagai suatu spekulasi sekalipun. Jadi pada orang Cina, selain memiliki orientasi waktu masa lalu dan masa kini, ada kecenderungan juga memiliki orientasi waktu masa yang akan datang.

PERKAWINAN
Kalau dalam tradisi Jawa kawin cerai merupakan kejadian yang dianggap menonjol dalam perkawinan, maka sebaliknya pada masyarakat Cina, perceraian merupakan kejadian yang aib. Masalah yang terkandung dalam perceraian adalah tidak ada rasa hormat di antara pasangan itu. Istri tidak berbakti pada suami atau sebaliknya.
Ada juga kecenderungan pada orang Cina untuk berpoligami. Namun poligami ini harus disertai dengan tanggungjawab yang berkenan dengan hao (bakti anak kepada orang tua), yaitu bila seorang istri tidak bisa memberikan anak atau anak laki-laki. Anak laki-laki ini sangat dibutuhkan dalam keluarga untuk meneruskan nama keluarga dan memimpin perayaan atau upacara, serta memelihara abu leluhur di rumah. Sehubungan dengan hao tadi dapat terjadi seorang isteri rela meminta sendiri kepada suaminya untuk mengambil seorang isteri lagi untuk mendapatkan seorang anak laki-laki.
Dalam perjodohan dalam tradisi Cina juga mengenal catatan hari lahir dan horoscoop dari gadis/calon isteri. Catatan horoscoop ini oleh pihak laki-laki diperiksa keserasiannya dengan catatan horoscoop calon laki-lakinya. Horoscoop kedua calon mempelai ini juga dipakai untuk menentukan hari baik untuk melangsungkan pernikahannya. Dengan sengaja ditetapkan bahwa upacara pernikahan harus mahal, sulit dan agung untuk membuat pernikahan itu menjadi suatu kejadian yang sukar dan penting dalam kehidupan seseorang. Bagi orang Cina perkawinan akan menentukan bagaimana kelanjutan dari keturunan clan-nya.

BEBERAPA ADAT DAN BUDAYA YANG MENJADI DILEMA GEREJA
Uraian diatas belumlah mewakili keseluruhan kebudayaan Cina/Tionghoa yang seringkali bersinggungan dengan misi gereja, misalnya:
- Ada anggota keluarga (anak terkecil suka sakit-sakitan), dan ada anggota keluarga yang masih percaya untuk menitipkan (kuepang) nama anak yang sakit tersebut pada salah satu nama Dewa kepercayaan mereka (Dewa Kwan Im, Pek Kong, dsb.), supaya terhindar dari sakit penyakit, apakah jika itu “anak kita”, kita sebagai wakil gereja akan mengijinkan? Tidak mengijinkan berarti melawan orang tua (Put Hao/tidak berbakti kepada orang tua).
- Bagaimana jika pada pada upacara perkawinan harus melakukan sembahyang di foto leluhur yang sudah meninggal, atau harus melakukan upacara pernikahan segera sesudah waktu yang ditetapkan oleh keluarga, karena orang tua dari salah satu calon mempelai sedang sakit keras, padahal calon mempelai belum mengikuti katekisasi pernikahan?
- Yang sering terjadi jika ada orang tua dari anggota gereja meninggal dan dilakukan upacara menurut aturan tradisi Cina (sembahyang dengan membawa hio/dupa, melakukan ritual memutari peti jenazah,).
- Atau kalaupun seluruh anggota keluarga kristen, dan salah satu anggota keluarga meninggal (misalnya ayah), ada aturan untuk memberi 7 mutiara di wajah jenazah dengan kepercayaan agar jalannya terang.

BAGAIMANA GEREJA MENJALANKAN MISINYA?
Ada bermacam-macam rumusan tentang misi gereja. Gereja harus mengerti misinya, yaitu seperti Yesus menjalankan misiNya dari Bapa, kita menjalankan misi yang diajarkan Yesus. “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia (Yohanes 17:18)”. Dalam rangka untuk memberitakan Injil inilah Gereja hadir ditengah-tengah dunia. Dunia yang terkait erat dengan kebudayaan yang ada di dalamnya. Dalam pertemuan iman dan budaya, menurut Niebuhr ada lima sikap yang dipegang oleh orang Kristen: Sikap Radikal, Sikap Akomodatif, Sikap Sintetik, Sikap Dualistik dan Sikap Transformatif. Dalam menghadapi budaya Cina saya mengusulkan gereja untuk mengambil sikap Transformatif, karena menurut saya manusia dan kebudayaan manusia sudah dicemari oleh dosa, tidak ada yang sempurna. Gereja tetap perlu terbuka, tetapi juga bersikap kritis, karena jangan karena kekakuan Gereja maka kehadiran Kerajaan Allah menjadi terhambat dan tidak dirasakan oleh dunia. Dalam contoh-contoh diatas, misalnya orang Tionghoa yang cenderung memegang adat istiadat dan tradisi, walaupun Alkitab/Gereja tidak mengatur secara terinci, namun sepanjang itu tidak membuat orang semakin jauh dari Tuhan, jauh dari Kerajaan Allah, tidak perlu dipertentangkan. Misalnya sikap hormat terhadap orang tua, saya rasa justru ini merupakan suatu ajaran yang baik, tetapi yang perlu dikritisi misalnya waktu “anak kita” sakit-sakitan, orang tua tidak seharusnya membiarkana keadaan anak ini, justru orang tua harus lebih perhatian, sebab jika “anak kita sudah tidak sakit lagi, tidak mungkin orang tua memaksa untuk meng”kuepang”kan cucunya.
Dalam hal hadir di upacara kematian (orang tua yang meninggal misalnya), seringkali si anak yang sudah Kristen tidak mau tahu segala upacara yang dilakukan, termasuk memegang hio/dupa (seandainya keluarganya kebanyakan bukan Kristen), bahkan bersikap antipati. Saya berpendapat, kalau terpaksa setelah diberi penjelasan bahwa “si Kristen” menolak memegang hio/dupa tetap ditolak, janganlah kita berkonfrontasi, jika takut menjadi bahan pertanyaan rekan-rekan yang Kristen yang bersikap radikal, kita bisa menjelaskan dengan hikmat: “bukankah bayi Yesus pun menerima persembahan berupa kemenyan”.
Segala tradisi maupun ritual, yang menurut gereja tidak patut dilakukan oleh orang Kristen, bisa dicarikan jalan keluarnya untuk menghadapi anggota keluarga yang bukan orang Kristen maupun menjelaskan secara benar dan tidak meremehkan kepercayaan orang lain. Segala tradisi, ritual yang tidak prinsip, jika dilakukan tidak menjadi masalah, perlu dijelaskan juga kepada jemaat, misalnya melalui seminar, renungan di buletin. Seorang hamba Tuhan, teolog juga harus mempunyai kesiapan untuk terus belajar dan memperlengkapi diri di dalam keterbukaan dengan pandangan-pandangan lain, untuk semakin menguji pandangan gereja atau jika ada pandangan gereja yang perlu diperbaharui.
Para pemimpin gereja, teolog dan juga orang Kristen perlu belajar untuk lebih terbuka melihat berbagai gambaran Yesus, di mana Yesus diserahkan kepada berbagai kebudayaan, dan bagaimana Ia diterima dan ditanggapi, seperti yang dikemukakan oleh Volker Küster dalam bukunya The Many Faces of Jesus Christ. Dari lima hubungan Yesus dengan Kebudayaan yang dipaparkan Niebuhr, Niebuhr menawarkan tiga hal bagaimana hubungan Yesus dengan kebudayaan (Kristus di atas kebudayaan, Kristus dan kebudayaan dalam hubungan paradoksal, dan Kristus sebagai perubah bentuk kebudayaan) yang bisa menjadi kekayaan pemahaman di dalam menghadapi kebudayaan setempat. Dan pilihan Niebuhr pada Kristus sebagai perubah kebudayaan, dalam hal ini bisa diterapkan untuk menghadapi kebudayaan Cina di Indonesia, khususnya di tanah Jawa, sehingga harapan gereja untuk menjalankan misinya menjadi lebih bisa diterima dalam konteks budaya Cina, tanpa harus melakukan pertentangan dan perlawanan yang radikal terhadap budaya Cina, tetapi siap dan berani untuk mengkritik kebudayaan. Pada akhirnya saya setuju dengan pandangan ini, yaitu bahwa “Kristus mengubah bentuk kebudayaan”, yang didasarkan atas tiga pendapat teologis:
1. Umat manusia hidup oleh kuasa Sabda Pencipta; oleh karena itu kebajikan Allah melalui daya cipta terdapat dalam kebudayaan manusia.
2. Manusia membalikkan kebajikan yang ada dalam ciptaan menjadi pemberontakan terhadap Allah, yang mengakibatkan kebinasaan. Kebudayaan boleh jadi berdosa, namun tidak perlu adanya suatu peninjauan kembali yang apokaliptis, atau suatu ciptaan baru. Tetapi yang dibutuhkan adalah hanya pertobatan radikal.
3. Sejarah akan menjadi interaksi dinamis yang terbuka antara Allah dan umat manusia.

PENUTUP
Injil memerlukan kebudayaan, Injil perlu membudaya, tapi Injil tidak sama dengan kebudayaan. Sebaliknya kebudayaan memerlukan daya kritis dan transformatif dari Injil terus menerus. Keberadaan Cina sebagai masyarakat dan dalam gereja di Indonesia dapat dipahami sebagai kebangsaan, etnisitas, kebudayaan, atau agama; dan bahwa “ketionghoaan yang direlatifkan” dapat dipahami sebagai keutuhan yang ada dalam perspektif baru, unsur-unsur ketionghoaan tertentu dapat ditinggalkan, tetapi hal yang positif dapat disumbangkan sebagai unsur pluralistik pada masyarakat majemuk Indonesia.

2 Comments »

  1. Konghucu dicina dikenal sebagai filsafat hidup dan bernegara.
    Di Indonesia dijadikan agama konghucu ??? dan disetarakan dengan cara sembahyang dikelenteng.
    Kalau memahami secara utuh filsafat konghucu, akan sampai pada pemahaman kelenteng hanyalah tradisi cina kuno yang juga dibahas oleh konghucu.
    Membakar uang kerjas dan menjadi tempat bertanya dengan metode goyang bambu sangat ditentang oleh konghucu.

    Comment by Sugiar Jayawan — November 1, 2007 @ 10:58 pm

  2. sebaiknya gereja berakar di dalam Kristus, BUKAN BERAKAR pada Budaya apapun di dunia ini

    Comment by calvin dachi — December 29, 2007 @ 10:15 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress