FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

July 13, 2007

SALIBKANLAH KAMI,

Filed under: Agama dan Masyarakat — admin @ 7:38 am

Simbol Kenistaan Yang Membanggakan Menjadi Motivasi Dalam Bekerja.
Karya: Raharjo Widhipangreksa
____________________________________

1. Pendahuluan
Tulisan ini adalah refleksi pengalaman pribadi sebagai sebagai seorang pekerja pada sebuah perusahaan dalam group of company yang di dalamnya terbentuk komunitas kecil persekutuan Kristen (Christian fellowship). Demikian juga pengalaman mendapat kesempatan sebagai salah satu pembina organisasi pekerja sehingga dapat mencermati pola-pola pergumulan pekerja dalam “masalah” pekerjaan.
Kehidupan pekerja adalah salah satu contoh masyarakat yang membentuk dan/atau dibentuk identitasnya melalui pergumulan-pergumulan dalam hidupnya baik itu relasi dalam pekerjaan ataupun kebutuhan dasarnya (upah). Bagaimana komunitas ini memaknai tatangan, kesulitan, demikian juga kesuksesannya mencari nilai spiritualiatas tertentu. Cara pandang terhadap kehidupan baik secara rohani maupun sekular berdialog dalam membentuk konsep diri mereka dan lingkungannya. Situasi dan kondisinya akan dipahami dan diperhadapkan kepada refleksi teologis iman Kristiani.

2. Konteks pekerja dan kesulitan yang dihadapi.
Pekerja/buruh biasanya digambarkan dalam keadaan tertindas, memang dalam banyak hal harus memperjuangkan nasibnya, dalam keterbatasan dan tekanan yang harus dihadapi. Pekerja biasanya mengalami masalah yang berhubungan dengan tugas pekerjaan, relasi dengan atasan/bawahan/teman sekerja dan hak-haknya. Kebanyakan pekerja orientasi bekerjanya adalah upah. Status jabatan memang juga menjadi incaran, namun konsekuensinya cenderung dihindari. Tentu pada setiap pekerja akan mendapati ketidak-puasan akan kenyataan yang ada dengan harapannya. Dalam hal pekerja merasa dilanggar haknya atau pekerja melanggar keinginan perusahaan maka akan menimbulkan perselisihan hubungan perindustrial i.
Ketidaktahuan pekerja atas hukum ketenagakerjaan menyangkut haknya juga merupakan hal yang perlu dibina, baik oleh serikat pekerja maupun oleh pihak perusahaan. Struktur sosial kehidupan pekerja dalam pelaksanaan hubungan perindustrial, secara umum dibangun dengan peraturan perundang-undangan ketenaga kerjaan UU no 13 2003. Untuk mewujudkan pelaksanaannya dilakukan melalui dan oleh Serikat Pekerja/Buruh, Organisasi Pengusaha, Lembaga Kerjasama Bipartite, dan Lembaga Kerjasama Tripartite. Jika ada juga gejolak perjuangan individu atau komunitas akan tekakomodasi oleh Serikat Pekerja. Hal ini mengharuskan pekerja untuk mampu berorganisasi dan berdiplomasi. Perjuangan pekerja di Dewan Pengupahan diatur dengan Kep Pres RI no 107 tahun 2004 yang secara halus membatasi pekerja dengan persyaratan tingkat pendidikan, juga secara halus kemungkinan “sepakat untuk tidak sepakat” dihapus.ii
Struktur sosial juga terbangun dari dalam yaitu perbedaan status jabatan dan status perusahaaniii, yang dengan mudah ditebak dari seragam yang digunakan (semacam pangkat dalam kemiliteran), Startifikasi terasa dalam status jabatan. Struktur lain yang juga ada, namun berusaha ditepis oleh karena sensitif adalah perbedaan ras agama perbedaan agama. Struktur ini sering dihembuskan oleh beberapa orang yang tidak puas akan kebijakan perusahaan atau karirnya. Namun juga struktur ini terbentuk sebagai akibat dari “manoeuvre” untuk mendukung karirnya. Masyarakat pekerja yang tersusun dalam perbedaan status, bidang pekerjaan, dll ini, akan menyesuaikan pergumulan hidup beragamanya dalam struktur masyarakatnyaiv.

3. Persekutuan Kristen dinilai sebagai komunitas elite pekerja
Di tempat saya dulu bekerja ada sebuah kelompok pesekutuan doa (christian fellowship) di setiap hari Sabtu di luar jam kerja. Daftar seluruh anggota yang pernah datang sekitar 70 orang, namun dalam persekutuan biasanya yang hadir berkisar 15 s.d. 20 orang. Sedangkan jumlah keseluruhan karyawan dari group perusahaan ini sekitar 3000 lebih karyawan. Mereka terdiri dari capuran karyawan dari beberapa perusahaan yang tergabung dalam “group of company “v dan dari beberapa level status/jabatan. Beberapa kali mengadakan acara khusus perayaan natal, paskah, dan refreshing course. Mereka saling peduli, saling mendukung dan menolong. Umumnya mereka yang ikut terkenal baikvi, peduli dan sering membantuvii karyawan yang bukan sesama anggota persekutuan. Ada juga suara negatif yang beranggapan bahwa komunitas Kristen ini salah satu cara untuk akrab dengan beberapa pimpinan. Mungkin karena kebanyakan mereka tidak tergerak menjadi pengurus Serikat Pekerjaviii ataupun jika ditawari mereka tidak bersedia. Kelompok ini memang menjadi sorotan, padahal memang pekerja pada umumnya juga enggan jika harus mendapat tanggung jawab tambahan yang berkesan beroposisi dengan perusahaan, bukan hanya anggota kelompok persekutuan Kristen ini. Tetapi dalam organisasi koperasi karyawan kami “Bina Sejahtera” teman-teman yang beragama Kristen banyak berperan menjadi pengurus.
Bisa jadi ini sample yang kurang mewakili, agaknya memang ada kesan bahwa komunitas Kristen cenderung menghindari diri beroposisi atau bahkan konflik dengan perusahaan. Mungkin konsep mereka tentang kasih menjiwai sikap mereka untuk tidak bertindak dalam pertentangan yang terkesan sebuah kekerasan. Saya sendiri pada saat itu melihat bahwa sering kali pengurus Serikat Pekerja yang ingin memperjuangkan kesejahteraan karyawan, tidak punya commitment terhadap resiko penentangan, maka saya beranggapan bahwa ketika masih dalam posisi sebagai pekerja biasa, maka kita hanya mampu bertahan dari ketidak adilan. Seolah jalan keluar satu-satunya adalah pertumbuhan diriix menuju kemandirian.x

4. Pergumulan komunitas Kristen menyikapi keadaan masalah
Seperti halnya karyawan yang lain menghadapi masalah-masalah dalam pekerjaan, demikian juga komunitas Kristen ini, dan mereka mencari makna pekerjaannya dalam persekutuan doa. Di dalamnya mereka saling mendoakan dan bernyanyi bersama sebagai satu bentuk “keluarga Allah” yang cukup memberi kesegaran dan motivasi lagi untuk bekerja. Sebenarnya fasilitas yang mereka dapatkan tidak berbeda dengan yang lain, dan sama-sama memiliki beban pekerjaan, mungkin juga sama-sama kecewa terhadap perusahaan. Namun mereka menyempatkan waktu sejenak disela-sela kesibukannya untuk mencicipi persaudaraan, melupakan penat dan pekerjaan sejenak walaupun tetap akan dihadapinya lagi.
Pelayanan firman yang diberikan berorientasi sekitar pegumulan pekerjan dan bagaimana memaknai hidupnya dengan memandang diri sebagai tubuh Kristus. Allah membuka Kasih karunia melalui salib yang hina itu. Sehingga mereka ditantang untuk tetap hidup kudus, karena mereka yang oleh Kristus harus menderita “memikul salib” akan bersama-sama dengan Kristus. Memikul salib sudah menjadi kata kunci, sebagai jawaban untuk mendapatkan kelegaan, walaupun di tengah penderitaan. Kristus adalah harapan dalam penderitaan, Kristus juga teladan bagaimana bertahan dalam penderitaan.
Menurut Marx, agama sudah menjadi obat penenang dan muncul karena rasa keterasingan (alieniasi). Bagi mereka yang kurang mampu bersaing, keberadaan agama merupakan tempat untuk menghibur diri. Mereka menerima nasibnya karena mendapatkan suatu janji kebahagiaan surgawi di “masa yang akan datang” (setelah meninggal). Bahkan Hegel yang menyimpulkan bahwa agamalah menghanyutkan manusia dalam keterasingan (alienasi)xi.
Pendapat mereka bukan tidak mengandung kebenaran, mungkin dapat dipahami ada kecenderungan seperti itu. Namun ada beberapa keberatan saya, yang pertama: sejauh saya mengenal mereka, rata-rata mereka adalah orang yang berkomitmen melayani Tuhan, bukan seorang oppurtunis. Menyempatkan diri untuk terlibat dalam persekutuan menambah resiko beban kepadatan tanggung jawab kerja mereka. Itu butuh perjuangan kerena jarak antar perusahaan juga menyita waktu. Yang kedua: Perasaan keterasingan sewajarnya merata, bisa terjadi atau dirasakan setiap karyawan, namun pelayanan persekutuan doa ini justru membangkitkan motivasi untuk kembali menghadapi tanggung jawab pekerjaan, jadi bukan karena keterasingan alasan utama orang mencari Tuhan (beragama). Yang ketiga: penghiburan yang didapatkan bukan semata-mata kebahagiaan surgawi setelah meninggal, sebab pencarian makna kehidupan tidaklah menghilangkan masalah yang mereka hadapi, namun melalui masalah itu mereka belajar dan bertumbuh bukan nanti setelah di surga, namun saat ini di sini.
Dalam menanggapi kesulitanxii atau ketidak-adilan secara natural reaksi manusia adalah agresif menyalahkan yang lain, atau pasif merasa sedih mengasihani diri dan merengek-rengek, atau menahan diri berlagak cuek tapi hatinya mendidih dan dendam. Semua reaksi itu hanya membawa kepada kekecewaan. Di dalam persekutuan doa kecil ini mereka belajar alternatif lain yang memuliakan Allah dan memberikan keteguhan, kedamaian dan motivasi walau dalam tekanan. Kristus tidak menghendaki perbuatan anarki, tetapi membangun di hati manusia kerajaan damai, ini bukan berarti berkompromi dengan kesewenang-wenangan. Kepatuhan sebagai pengakuan akan keberadaan penguasa, berarti mengesampingkan ego dan bersedia tergantung pada Allah. Yesus adalah teladan yang sempurna, dengan melihat penderitanNya orang Kristen memahami penderitaannya sebagai panggilan hidup dari Kristus. Maka mereka memang telah bersedia memikul salibnya, “SALIBKANLAH KAMI”, salib sebuah simbol kenistaan yang membanggakan telah menjadi motivasi dalam bekerja supaya dapat bertumbuh.
Beban berat pekerjaan telah dimaknai sebagai salib yang mulia, dimana orang Kristen dapat belajar dari Yesus untuk bertumbuh dan menang bersama Yesus, suka-cita walaupun dalam kesusahan. Bagaikan layang-layang akan membumbung tinggi kalau diterpa angin, asalkan tali kendali tidak terputus. Demikian juga dalam persekutuan ini dibangkitkan pengertian untuk memandang beban pekerjaan sebagai angin yang menerpa yang akan menguji dan melatihnya untuk bertumbuh asalkan tetap berpegang pada iman akan salib itu. Salib itu menjadi simbol yang memberi kekuatan manakala harus menghadapi beban berat. Saya percaya pihak manajemenpun akan melihat motivasi dan etos kerja karyawan yang bertanggung jawab. Pada kesempatan tertentu pastilah akan dipertimbangkan kualitas pribadi “karakter” lebih dari pada sekedar keahlian “skill” itulah saatnya layang-layang itu membumbung karena terpaan angin.
Webber melihat Etika Protestan dalam panggilan-nya (“calling”) memacu semangat daya saing. Demikian juga pekerja butuh memahami panggilan-nya dalam era globalisasi yang syarat dengan kompetisi. Perikop garam dan terang dunia dalam Matius 5 : 13-16 dipahami bahwa orang Kristen perlu berprestasi sebagai garam dan terang dunia. Panggilan orang Kristen dalam bekerja menjadi garam dan terang dunia mempunyai dampak sosiologis yang lain. dengan memastikan diri tidak tawar dan berada di kaki dian. Hal ini berarti lebih berorientasi kepada pengembangan diri dulu (mencapai sukses) sebelum mempengaruhi dunia. John C Maxwell mendifinisikan suksesxiii sebagai berikut :
1. Mengetahui maksud anda dalam kehidupan ini.
2. Bertumbuh menuju potensi maksimal diri.
3. Menabur benih-benih yang memberikan manfaat bagi sesama.
Pemikiran ini sangat luas memberikan motivasi bagi orang Kristen (juga orang diluar Kristen). Integrasi antara iman dan pekerjaan intinya bahwa cara kita melakukan pekerjaan memperlihatkan seberapa serius sikap terhadap iman kita.xiv

5. Implikasi etis dalam relasi
Pendapat Hegel yang menyimpulkan bahwa agamalah menghanyutkan manusia dalam keterasingan (alienasi)xv itu juga perlu diwaspadai. Konsep panggilan di atas sebagai garam dan terang dunia, lebih berorientasi pada diri. Mungkin secara tidak sadar memberi kelegaan bagi orang Kristen akan kekawatiran berjuang bersama masyarakat kelas bawah yang beresiko berada dalam pertentangan dengan atasan.
H. Ricard Niebuhr merumuskan pilihan teologis yang menentukan sikap kita dengan dua kemungkinan yaitu: kita diselamatkan dari dunia yang binasa, atau kita adalah bagian dari dunia yang sedang diselamatkan.xvi Kalau Orang Kristen memilih yang pertama, maka kepedulian pada sesama adalah melalui penginjilan agar setelah menjadi Kristen mereka juga ikut diselamatkan. Namun ini berarti Allah memperlakukan ciptaanNya seperti ampas. Sebaliknya jika yang kedua yang dipilih maka tanpa merendahkan arti penginjilan, perjuangan penegakan keadilan dan perdamaian merupakan tanda-tanda kerajaan Allah, kita bersama saudara-saudara yang beragama lain menuju satu keselamatan bersama. Ini berarti orang Kristen harus peka dan peduli terhadap situasi masyarakat sekitar yang tertindas dan mengupayakan pembebasan, sehingga selayaknya orang Kristen tidak anti terhadap perjuangan hak pekerja yang terkesan beroposisi dengan atasan. Sehingga nilai-nilai kebersamaan perekat kolektivitas gemeinscaft juga dibangun. Selain juga membangun kebersamaan pada konsensus kesadaran individual yang disepakati bersama demi damai dan hormat-menghormati gesselschaft.
Pemahaman keselamatan dalam salib Kristus akan kurang dapat diterima, jika tidak mengandung nilai kepedulian. Identitas orang Kristen terletak pada iman akan jaminan keselamatan melalui “Salib Kristus”, namun perlu diwaspadai pemahaman iman menjadi sesuatu yang esklusif. Allah telah menjadi manusia, Dia meleburkan identitas Allah yang mahakuasa, mengosongkan diri untuk bersama dengan manusia. Identitas istimewa sebagai anak-anak Allah bukan sesuatu yang mengangkat diri dalam perbedaan, tetapi merangkul dan bersama dalam kepedulian dan kasih untuk mewujudkan shalom Kerajaan Allah.

Daftar Pustaka
Hendropuspito,
1983 “Sosiologi Agama” Yogyakarta :Kanisius,
Life@Work Co
2000 Enam Belas Pemimpin Ternama Berbicara Tentang Keunggulan Dalam Berbinis. Thomas Nelson
Maxwell, John C
2004 Your Road Map for Succes Batam : Interaksara
Nelson, John Campbell
2006 Teologi Wiki : Tantangan Lokal dan Global untuk Pendidikan Teologi yang Terbuka, makalah yang disajikan pada dalam Seminar 100 Tahun Pendidikan Teologi Yogyakarta

2 Comments »

  1. please sent me anything that talk about religion and society. thanks

    Comment by Abi yusri — August 9, 2007 @ 6:41 pm

  2. I could not agree more so to say

    Comment by Pembina — September 9, 2008 @ 6:51 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress