Allah Mengasihi Orang-Orang Berdosa
Tafsir terhadap Perumpanaan Domba yang Hilang (Lukas 15:1-7)
Karya: Marudut Heppy Siahaan, Kategori: pilihan Dosen
Pendahuluan
Perumpamaan tentag domba yang hilang merupakan salah satu dari tiga perumpamaan Yesus tentang “yang hilang”. Kedua “perumpamaan yang hilang” lain adalah perumpamaan tentang dirgam yang hilang dan perumpamaan tentang anak yang hilang sepertinya redaktur Lukas dengan sengaja menempatkan ketiga perumpamaan yang hilang itu dalam satu pasal atau satu kelompok. Sama dengan perumpamaan- perumpamaan yang lain, perumpamaan tentang yang hilang juga dimaksudkan untuk menjelaskan dan menggambarkan Kerajaan Allah. Ketiga perumpamaan yang hilang itu masing-masing memiliki pesan dan inti pokok karena itu harus dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Karena itulah melalui makalah singkat ini, saya ingin menemukan apa pesan dan inti pokok yang mau disampaikan oleh perumpamaan yang hilang, khususnya perumpamaan domba yang hilang.
Teks memberitahukan ada 3 pihak sebagai pelaku dalam cerita ini, yakni pihak orang-orang Farisi dan ahli-ahli taurat, pihak pemungut cukai dan orang-orang berdosa, dan Yesus sendiri. Teks menceritakan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut ketika melihat Yesus makan bersama-sama dengan orang-orang berdosa. Kejadian ini membuat kaget orang-orang Farisi, dan itulah sebabnya mereka bersungut-sungut meresponi tindakan Yesus tersebut. Situasi inilah yang memotivasi Yesus untuk mengungkapkan perumpamaan tentang domba yang hilang. Jadi perumpamaan ini dialamatkan kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tersebut. Perumpamaan ini adalah sebagai pembelaan sikap dan tindakan Yesus terhadap kritikan orang-orang Farisi. Perumpamaan ini menggambarkan karakter Allah, sukacita Allah dalam pengampunan, dan itulah alasannya Yesus menerima orang-orang berdosa itu.
Komentar Terhadap Teks
Dalam cerita ini, salahs atu yang ingin saya soroti adalah kebersamaan Yesus dengan orang-orang berdosa (seperti yang diklaim oleh orang-orang Farisi) dalam perjamuan makan. Menurut Bailey, persekutuan atau perjamuan makan merupakan acara yang sangat serius dimanapun juga. Acara perjamuan makan merupakan tanda penerimaan yang khusus (special sign of acceptance). Dalam acara perjamuan makan tersebut tuan rumah biasanya mengungkapkan beberapa hal untuk didiskusikan bersama dengan para tamu. Tuan rumah menginginkan jawaban, masukan dan pertimbangan dari para tamu. Jadi kedudukan para tamu yang diundang dalam acara jamuan makan sangatlah istimewa karena pemikiran dan pertimbangan mereka juga sangat diharapkan oleh tuan rumah. Acara jamuan makan menembus batas-batas status sosial. Dengan demikian penerimaan Bailey, untuk memahami apa yang sedang dilakukan Yesus pada saat makan bersama orang-orang berdosa adalah penting untuk menyadari bahwa di Timur Tengah, bahkan sampai saat ini, mengundang orang dalam perjamuan makan merupakan suatu kehormatan. Hal itu merupakan tawaran perdamaian, persaudaraan dan pengampunan. Pendeknya, makan bersama berarti berbagi hidup (sharing of life). Makan bersama dengan orang-orang biasa dan orang-orang berdosa merupakan bentuk ungkapan misi dan pemberitaan Yesus (Markus 2:17). Penerimaan orang-orang berdosa dalam persekutuan jamuan makan merupakan ekspresi yang paling bermakna dari karya penebusan Allah. Dalam acara perjamuan makan di Timur Tengah, para tamu dianggap membawa kehormatan ke rumah tuan rumah yang mengadakan perjamuan makan tersebut. Tuan rumah menyambut dengan sukacita para tamu yang membawa kehormatan ke rumahnya. Para tamu juga akan menjawab sambutan tuan rumah itu dengan permohonan kepada Tuhan, kiranya berkat Tuhan melimpan atas tuan rumah, dan mereka juga merasa bahwa adalah suatu kehormatan besar bisa berada di rumah tuan rumah tersebut.menurut saya acara jamuan makan pada masa sekarang sepertinya juga memiliki budaya seperti itu.
Dalam teks tersebut “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka” kemungkinan menunjukkan bahwa Yesus sendiri sebagai tuan rumah dalam acara jamuan makan tersebut. Bagi orang-orang Farisi, orang-orang berdosa (hamartoloi) merupakan orang-orang yang tidak bermoral (jahat) dan orang-orang yang tidak memelihara dan menjalankan kemurnian ritual seperti yang dipraktekkan oleh orang-orang Farisi setiap harinya. Dengan demikian para pemungut cukai juga termasuk kepada golongan orang-orang berdosa, karena perbuatan mereka dianggap jahat dan orang-orang berdosa seringkali ditempatkan secara bersama-sama (Luk. 5:30; 7:34). Penekanan kepada kemurnian hidup dan hidup sesuai dengan hukum Taurat merupakan sikap hidup yang paling mendasar bagi orang-orang Farisi. Jadi siapa saja yang hidupnya tidak sesuai dengan ajaran dan perintah hukum Taurat masuk dalam golongan orang-orang berdosa ini.
Bagi orang-orang Farisi, penerimaan Yesus terhadap orang-orang berdosa merupakan suatu pelanggaran berat. Bagi-orang-orang Farisi makan bersama dengan orang-orang berdosa (mengundang secara formal), dan memenuhi undangan jamuan makan ke rumah orang berdosa juga merupakan pelanggaran serius. Mengapa? Menurut Montefiore sebagaimana dikutip Bailey ada perintah (keputusan) dari rabi Yahudi yang mengatakan “Janganlah seseorang bergaul dengan orang-orang berdosa, bahkan mendekatkan mereka kepada Tora”. Jeremias menunjukkan bahwa bagi orang-orang Farisi, mengadakan perjamuan makan dengan orang-orang non-Farisi “jika tidak sepenuhnya dilarang, paling sedikit dilindungi oleh batasan-batasan (aturan-aturan) yang sangat ketat”. Saya berpendapat mungkin karena sifat orang-orang Farisi yang sangat ekslusif juga turut mempengaruhi batasan-batasan hubungan mereka dengan orang-orang non-Farisi. Istilah “Farisi” berarti “yang terpisah” dan kenyataannya karena memisahkan diri bukan hanya dari kaum bangsawan dan dari semua pihak yang berkompromi dengan kuasa dan budaya asing, tetapi juga dari semua orang bangsanya sendiri yang “tidak mengenal hukum Taurat”, yaitu dari rakyat jelata (okhlos), dan orang-orang biasa/desa (amha’arest).
Sikap penerimaan Yesus terhadap orang-orang berdosa ini tentu saja menyakitkan hati orang-orang Farisi. Karena mereka menganggap bahwa Yesus dengan sengaja dan sewenang-wenang telah melanggar tuntutan hukum Taurat dan menghancurkan sistem kekudusan hidup yang telah dipelihara dan dijalankan dengan orang-orang Farisi setiap harinya. Kebencian kepada Yesus bertambah, di mana Yesus memberikan pengampunan kepada orang-orang berdosa yang bertobat. Bagi orang-orang Farisi, pengampunan hanya diberikan kepada orang-orang benar. Jadi orang-orang Yahudi harus lebih dahulu membersihkan dirinya dari segala dosa dan pelanggaran (menunjukkan dirinya benar) barulah mereka berhak menerima pengampunan. Jadi dibutuhkan uasaha dan pengorbanan untuk mendapatkan pengampunan itu. Pertobatan adalah tindakan mengawali pengampunan, yang harus dilakukan oleh orang-orang yang dosa-dosanya ingin diampuni. Tindakan penebusan salah atau pertobatan itu bisa dilihat misalnya dalam Imamat 6:1-5; Bil. 5:5-7. Bahkan pada zaman Yesus, pertobatan akan dilakukan melalui persembahan korban. Dalam Injil juga ditemukan perbedaan sikap Yesus terhadap pertobatan dengan Yohanes. Yohanes menyerukan pertobatan nasional. Yohanes menyerukan pertobatan dan kebenaran sebagaimana yang biasa dipahami. Sementara Yesus menerima orang-orang berdosa yang mengindahkan atau menyukai kehadiran-Nya. Yesus menawarkan pengampunan itu cuma-Cuma, tanpa syarat (unconditional forgivenessi). Yesus tidak menyerukan agar orang-orang berdosa itu lebih dahulu menyucikan diri dari dosa-dosa dan pelanggarannya, membawa korban pengampunan dosa, dan menyampaikan doa-doa pertobatan, barulah mereka bisa masuk bersekutu dengan Dia dalam acara perjamuan makan.
Merujuk kepada pendapat Oesterly- sebagaimana yang dikutip oleh Bailey, penyebutan gembala dalam perumpamaan ini juga bisa bermasalah bagi orang-orang Farisi. Biasanya figur gembala dianggap sebagai orang yang mulia. Tetapi berbeda dengan para gembala pada abad pertama yang menggbalakan domba-domba gembalaannya. Mereka adalah orang-orang biasa/desa (am ga’arest) dan dianggap tidak suci. Bagi orang-orang Farisi gembala juga termasuk “orang berdosa” sebagai orang tidak bermoral, yang tidak mememihara hukum Taurat atau orang yang terlibat perbuatan haram, yaitu bisa saja gembala menjual domba gembalaannya. Jadi jika sebelumnya sudah ada anggapan bahwa gembala itu adalah tidak suci, dan tiba-tiba Yesus menyampaikan suatu perumpamaan yang ditujukan langsung kepada orang-orang Farisi, maka bisa dibayangkan bagaimana orang-orang Farisi semakin membenci Yesus. Apalagi jawaban Yesus terhadap sungut-sungut orang-orang Farisi adalah “Siapakah di antara kamu …” bisa saja Yesus juga secara langsung menunjukkan bahwa orang-orang Farisi juga merupakan gembala. Menurut saya inilah sisi lain dari perumpamaan ini, yaitu kritik Yesus terhadap orang-orang farisi yang adalah juga sebagai gembala, yang tidak menjalankan tugasnya dengan benar. Apakah orang-orang Farisi juga menjalankan tugas gembalanya dengan sungguh-sungguh dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun? Dengan demikian, dengan menunjuk orang-orang Farisi sebagai gembala merupakan sindiran langsung dan sekaligus otokritik bagi orang-orang Farisi sendiri.
Sisi lain yang perlu juga diperhatikan adalah pemakaian kata (ekson) yang juga akan menentukan posisi si gembala tersebut. Menurut Bailey, di Palestina seorang gembala bisa saja menggembalakan domba miliknya sendiri (dalam jumlah kecil). Tetapi untuk jumlah yang besar, biasanya orang lain akan digaji untuk menggembalak dombanya. Tetapi bisa juga ada keluarga besar (extended family) yang terdiri dari beberapa keluarga dalam satu klan, memiliki domba secara bersama-sama, dan yang menjadi gembala juga berasal dari anggota keluarga besar itu. Jadi karena jumlah kawanan domba gembalaan besar bisa saja gembala yang menggembalakan pun lebih dari satu. Jadi gembala seperti ini bukanlah gembala sewaan, tetapi gembala yang bertanggung jawab pun terhadap klan keluarga besar. Kata kerja ……… dalam PB dapat berarti “hold in one’s charge or keeping”. Dengan demikian pernyataan Yesus “mempunyai seratus ekor domba” dapat berarti “bertanggung jawab penuh terhadap seratus ekor domba”. Dalam perumpamaan ini, saya lebih setuju bahwa gembala disini bukanlah gembala sewaan, tetapi gembala yang merupakan anggota dari keluarga besar, dan jumlahnya pun lebih dari satu. Jadi jika dalam teks disebutkan si gembala pergi mencari satu domba yang hilang, bukan berarti kesembilan puluh sembilan domba yang lain, yang ada di padang gurun akan ditelantarkan, tetapi juga dijaga oleh gembala lain, yang juga anggota dari keluarga besar (karena bagaimana mungkin seorang gembala menjaga seratus ekor domba. Dan jika dia mencari domba yang hilang, bagaimana dengan domba-domba yang lain?). sementara gembala yang satu sedang mencari domba yang hilang, gembala yang lain kemudian membawa pulang ke rumah kesembilan puluh sembilan domba yang aa di padang gurun itu. Gembala itu bertanggung jawab sepenuhnya kepada seluruh klan keluarga besar itu. Jadi dengan kehilangan satu ekor domba berarti juga kehilangan bagi semua keluarga besar.
Dalam perumpamaan ini juga perlu diperhatikan suka cita si gembala. Sukacita pertama ditunjukkan melalui kata (kairon) dalam ayat 5,yang menunjuk kepada sukacita gembala karena telah menemukan domba yang hilang itu. Domba yang hilang itu biasanya tergeletak tidak berdaya dan tidak berusaha pindah ke tempat yang lain. Dalam posisi seperti itu, gembala harus berusaha keras mencarinya, dan biasa saja si gembala pergi ke tempat yang sangat jauh. Bisa saja dalam pencarian itu si gembala bertemu dengan binatang buas. Dalam keadaan bahaya seperti itu, si gembala hanya memiliki tongkat dan gada untuk menyelamatkan dirinya. Jadi dalam pencarian itu juga taruhannya adalah nyawa. Jika domba yang hilang itu sudah ditemukan, bisa dibayangka alangkah gembiranya si gembala itu. Si gembala langsung meletakkan domba yang tak berdaya itu di atas bahunya dan membawa pulang. Sukacita kedua ditunjukkan melalui kata (zugkarete). Sukacita gembala yang telah menemukan domba yang hilang itu juga ditunjukkan melalui undangan terhadap sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya untuk sama-sama bersukacita (sharing in joy) karena telah ditemukannya domba yang hilang itu. Sahabat-sahabat dan tetangga dalam perumpamaan ini menunjuk kepada komunitas, khususnya pada klan keluarga besar. Sebagaimana telah disebutkan di atas, kehilangan satu domba merupakan kehilangan bagi semua keluarga besar. Demikian juga sukacita gembala yang telah menemukan domba yang hilang itu juga merupakan sukacita bersama keluarga besar. Dengan demikian sukacita itu juga merupakan ucapan syukur komunitas karena telah ditemukannya domba yang hilang itu.
Makna Teologis
Pertobatan Sebagai Anugerah
Tema utama yang dapat kita temukan dalam perumpamaan ini adalah pertobatan. Perumpamaan ini menimbulkan dua pertanyaan dalam hubungannya dengan pertobatan. Pertama, siapa yang diharapkan untuk bertobat? Kedua, apa hakikat dari pertobatan itu? Dalam teks kita menemukan (ayat 7) domba yang sembilan puluh sembilan itu adalah orang benar yang tidak memerlukan pertobatan. Perkataan Yesus ini juga merupakan sindiran kepada orang-orang Farisi, yang merasa dirinya sebagai orang-orang benar, yang tidak memerlukan pertobatan. Kehadiran Yesus ke dunia ini adalah untuk menyatakan Kerajaan Allah. Pertobatan adalah respon terhadap Kerajaan Allah. Penerimaan Yesus terhadap orang-orang berdosa adalah anugerah. Yesus menerima orang-orang berdosa itu tanpa syarat (unconditional acceptance). Yesus tidak lebih dahulu memberikan kriteria-kriteria terhadap peneriman itu. Penerimaan itu merupakan anugerah semata, bukan sebagai hasil usaha dan pemenuhan terhadap kriteria-kriteria yang harus dilalui sebelumnya oleh orang-orang berdosa tersebut. Dengan demikian, penerimaan dan pengampunan yang ditawarkan dan ditunjukkan oleh Yesus sangat berbeda dengan apa dipahami dan dijalankan oleh orang-orang Farisi dalam agama mereka. Kadi unconditioanl acceptance di sini tidaklah hanya terbatas bagi orang-orang berdosa saja, tetapi juga bagi semua orang, termasuk orang-orang farisi sendiri.
Menurut saya, gereja-gereja juga harus memikirkan uang visi dan misi pelayanannya di tengah-tengah dunia ini untuk terbuka kepada semua orang yang menghendaki pertobatan (tanpa batasan-batasan). Gereja-gereja tidak boleh tertutup pada suku dan golongannya sendiri, tetapi harus terbuka terhadap orang atau golongan di luar dirinya. Gereja juga harus menghindari sikap yang merasa bahwa dirinya lebih benar, dan orang atau golongan di luar dirinya adalah jahat dan jelek. Kesetiaan yang berlebihan pada golongan sendiri (seperti orang-orang Farisi) dapat mengakibatkan timbulnya keangkuhan, kefanatikan, kebencian, bahkan sifat emisahan diri (eksklusif) dengan orang atau kelompok lain di luar dirinya. Gereja harus mencari domba-domba yang hilang. Jadi gereja terpanggil keluar untuk mencari dan menemukan kembali yang hilang, bukan hanya menunggu dan melayani yang datang ke gereja.
Sukacita dan restorasi terhadap Pertobatan
Tema lain dari perumpamaan ini adalah suka cita si gembala. Analoginya adalah sukacita karena pertobatan orang-orang berdosa. Sukacita itu diekspresikan secara bersama-sama dalam komunitas. Tetapi sukacita itu tidak berakhir sampai di situ. Sukacita itu juga di dalamnya terdapat tanggung jawab restorasi (pemulihan). Domba yang hilang itu harus dipulihkan kembali. Restorasi mengimplikasikan suatu tugas atau tanggung jawab untuk memulihkan kembali keadaan domba yang hilang itu. Dalam perumpamaan ini, Yesus membela kehadiran orang-orang berdosa bersama-sama dengan Dia. Penyambutan Yesus kepada orang-orang berdosa tersebut merupakan tindakan pemulihan kepada masyarakat. Domba yang hilang harus ditemukan dan dibawa pulang kembali kepada kawanan domba yang sekarnag ada di kandangnya (komunitas). Tindakan pencarian si gembala itu merupakan harga mahal yang harus dibayar, tetapi juga tindakan pemulihannya. Tanggung jawab pemulihan itu mengandung impliksi kristologis, yang menunjuk kepada arah penderitaan Kristus. Gembala harus meletakkan domba yang hilang itu di atas bahunya. Tanpa tindakan itu tidak ada pemulihan.
Pentingnya Materi
Dari ketiga perumpamaan tentang yang hilang dan juga perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (Lukas 16:1-9), kita tidak menemukan respon apa-apa dari pihak orang-orang Farisi. Seolah-olah mereka diam saja, atau mereka telah mengerti maksud perumpamaan Yesus dan menerimanya. Atau Lukas sengaja menghilangkannya dengan alasan tertentu. Barulah pada Lukas 16:14 terlihat reaksi, dimana mereka mencemoohkan Yesus. Juga disebutkan bahwa orang-orang Farisi adalah sebagai hamba-hamba uang. Nampaknya perumpamaan tentang yang hilang juga berhubungan erat dengan materi. Dugaan ini sangat kuat jika dihubungkan dengan ayat sebelumnya (Lukas 16:9). “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi”.
Ini menunjukkan dan menegaskan bahwa salah satu sifat manusia adalah ia akan merasa bersedih, terbeban, merasa sangat kehilangan dan berusaha mencari, jika ada miliknya yang hilang. Pikirannya akan tertuju kepada barangnya yang hilang itu, sekalipun barang yang hilang itu mungkin jumlah dan nilainya tidak seberapa. Betapa berharganya barnag yang hilang itu bagi pemiliknya. Dan itulah mungkin yang menyebabkan Yesus mengatakan: “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau dia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” seekor domba itu sangat berharga, sekalipun jumlahnya tidak sebanding dengan sembilan puluh sembilan ekor domba yang lain, karena itu harus ditemukan. Tentu sifat dan usaha keras si gembala untuk menemukan domba yang sesat itu merepresentasikan sifat manusia yang merasa kehilangan miliknya, dan beruaha menenukannya. Si gembala tidak mau miliknya (dombanya) hilang. Bagi si gembala, domba yang hilang itu sama berharganya dengan domba-domba lainnya yang sedang berada di padang gurun. Jadi bagaimana sikap dan tindakan si gembala itu adalah juga sifat yang ajar yang dimiliki oleh orang-orang lain, termasuk orang-orang Farisi, ahli-ahli taurat dan tentu juga para pemungut cukai. Jadi menurut Lukas, dalam mengikuti Yesus, bukan berarti materi (kekayaan) tidak perlu lagi tetapi seseorang yang mengejar terus dan berusaha keras untuk mencari materi, suatu saat akan mentok dan datang menemui Yesus.
TEOLOGI
aku sempatkan mencari namu di google, karena sudah rindu lama,
dan ternyata ketemu tulisanmu disini. tulisanmu menyejukkan,
dan mengingatkan masa semester satu dulu dikampus…
tabik erat,
saurlin@gmail.com
den haag.
Comment by saurlin — September 19, 2007 @ 1:23 pm