FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

July 20, 2007

Silsilah sebagai Legitimasi Identitas

Filed under: Tafsir — admin @ 3:10 am

Tafsir Retorik-Dialogis Silsilah Yesus Dalam Lukas 3:23-38
Dengan Silsilah Raja-Raja Jawa
Karya: Rony Chandra Kristanto, kategori: Pilihan Dosen

Teks :
Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit : “kepada-Mulah Aku berkenan”.

Ketika Yesus memulai pekerjaanNya, Ia merumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, akan Eli, anak Amtat, anak Lewi, anak Malkhi, anak Yusuf, anak Matica, anak Amos, anak Nahum, anak Hesli, aak Nagai, anak Maat, anak Matica, anak Simei, anak Yosekh, anak Yoda, anak Yohanan, anak Resa, anak Zerubabel, anak Sealtiel, anak Neri, anak Malkhi, anak Adi, anak Kosam anak Elmadam, anak Er, anak Yesua, anak Eliezer, anak Yorim, anak Matat, anak Lewi, anak Simeon, anak Yehuda, anak Yusuf, anak Yonam, anak Elyakim, anak Melea, anakMina, anak Matata, anak Natan, anak Daud, anak Isai, anak Obed, anak Boas, anak Salmon, anak Nahason, anak Aminadab, anak Admin, anak Arni, anak Hezron, anak Peres, aak Yehuda, anak Yakub, anak Ishak, anak Abraham, anak Terah, anak Nahor, anak Serug, anak Rebu, anak Peleg, anak Eber, anak Salmon, anak Kenan, anak Arpakhsad, anak Nuh, anak Lamekh, anak Metusalah, anak Henokh, anak Yared, anak Mahalaleel, anak Kenan, anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah.

Yesus yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibaa oleh Roh Kudus ke padang gurun

Pendahuluan
Pertanyaan seperti: “Siapa orang tuanya?”, “Keturunan siapakah dia?”, “Apakah berasal dari golongan bangsawan atau ‘hanya’ rakyat jelata?” masih sering terdengar dalam kenyataan kehidupan sehari-hari. Dalam konteks kehidupan di Indonesia, dalam hal ini Jawa khususnya, pertanyaan-pertanyaan seperti diatas masih jamak ditemui, karena orang akan merasa ‘aman dan nyaman’ jika telah mengetahui dengan siapa dia berhadapan, sehingga dapat mengetahui bagaimana harus bersikap terhadap orang yang dihadapi tersebut.

Melihat hal seperti inilah, maka saya tertarik untuk ‘membaca’ silsilah Yesus versi Lukas dalam dialog dengan penulisan silsilah raja-raja Jawa, apakah memang penulisan silsilah Yesus ditulis secara historis, kronologis dan dengan demikian memang dimaksudkan untuk ‘hanya/sekedar’ menceritakan keberadaan Yesus, karena jika benar demikian maka silsilah versi Matius sudah menghadang sebagai hambatan pertama. Atau memang silsilah ini memang tidak dimaksudkan sebagai silsilah secara kronologis, tetapi seperti
Penulisan silsilah dalam tradisi Semit, dimana istilah anak atau memperanakan tidak harus dipahami sebagai keturunan secara langsung dan fisik saja, ataupun mungkin juga seperti penulisan silsilah raja-raja Jawa yang menurut beberapa ahli sarat dengan berbagai kepentingan. Sehingga sebenarnya dengan pencantuman dan penyusunan suatu silsilah tertentu sebenarnya adalah kepentingan dari penulis yang akan dipakai sebagai retorika, yaitu untuk mempengaruhi pendengar/pembacanya.

Tafsir Retorik-Dialogis
Retorika berfungsi mempengaruhi/meyakinkan pendengaran/pembaca akan suatu hal yang dimaksudkan oleh penulis/pengarang (dalam konteks cerita/narasi disebut narator). Sehingga dengan demikian tafsir/penelitian retorik bertujuan memberi kesempatan pembaca untuk menyadari keberadaan dari retorika tersebut, meskipun tidak hanya berhenti sampai pada kesadaran tersebut saja dan bisa melanjutkannya pada counter reading.

Melalui tafsir retorik dapat dilihat besarnya peranan narator dalam kisah-kisah alkitab, karena narator tidak hanya menceritakan ulang begitu saja kisah ataupun peristiwa yang dilihat maupun diketahuinya, namun dikemas ulang dengan sudut pandang tertentu sebagai retorika, yaitu bertujuan mempengaruhi pembaca/pendengar agar percaya pada ide yang disampaikannya. Dalam tulisan ini yang hendak diteliti ialah retorika dari narator dalam menggunakan silsilah Yesus, apa sebenarnya yang dikehendaki oleh narator dengan ‘menyisipkan’ silsilah Yesus diantara kisah pengutusannya, mengapa silsilah versi Lukas berbeda urutan maupun penempatannya dengan versi Matius. Pembaca hendak membawa kearah kepercayaan seperti apa melalui pencantuman silsilah ini?

Dialogis yang dimaksudkan dalam penafsiran ini ialah melakukan dialog intetekstual antara teks alkitab, dalam hal ini silsilah versi Lukas, dengan teks lokal, dalam hal ini ialah silsilah raja-raja Jawa. Sehingga teks Alkitab dapat dipakai untuk memahami teks lokal dan begitu juga sebaliknya. Dengan asumsi bahwa masing-masing teks adalah retorika, sehingga melalui dialog intertekstual ini dapat dilihat kepentingan yang ada di balik masing-masing teks.

Melalui tafsir retorik-dialogis ini diharapkan dapat menunjukkan bagaimana silsilah dipakai sebagai ‘legitimasi identitas’ sehingga dapat membawa pembaca sampai pada pemahaman/kepercayaan tertentu mengenai ‘identitas’ tokoh yang ingin ‘dilegitimasi’ sehingga seperti yang diharapkan oleh sang penyusun.

Penelitian Ekstratekstual
Penelitian ini mencakup unsur-unsur yang ada di luar teks itu sendiri, yang dalam penelitian ini berkaitan dengan pemahaman dan pemakaian silsilah dalam alkitab, penulis dan konteks penulisan Lukas, serta sumber penulisan. Yang diharapkan dapat menjadi latar belakang untuk masuk dalam penelitian intratekstual dan memahami ‘retorika Lukas’ melalui silsilah

Pengertian Silsilah
Silsilah merupakan daftar nama-nama leluhur atau garis keturunan dari seorang atau beberapa orang, atau juga nama-nama yang terlibat dalam keadaan tertentu. Silsilah ini dapat ditemui antara lain dalam kitab-kitab Pentateukh, Ezra, Nehemia, dan Tawarikh. Silsilah ini meliputi daftar nama dari satu garis keturunan (band 1 Taw 1:1), dimana bentuk paling umum menghubungkan nama-nama dengan suatu rumusan dan terhadap beberapa nama disisipkan keterangan tambahan (Band Kej 5:24), ada juga sejarah lengkap berdasarkan kerangka nama-nama seperti dalam kitab raja-raja.

Beberapa silsilah dalam alkitab tidak mencantumkan beberapa angkatan, hal ini dapat dipahami mengingat kata ‘ben’ tidak hanya berarti ‘anak dari’ tetapi juga ‘cucu dari’ dan ‘keturunan’, dan juga kata kerja ‘yalad’ tidak hanya berarti mengandung secara fisik saja tetapi juga ‘menjadi leluhur dari’.

Ciri-ciri dari silsilah dalam alkitab ini dapat dibandingkan dengan naskah-naskah lain sejaman yang juga memuat daftar silsilah raja-raja di sekitar Asia Barat kuno, dimana kata ‘anak’ dipakai dalam arti luas, dan kata ‘anak dari’ lazim dipahami sebagai ‘keturunan dari’. Bahkan diceritakan tentang Raja Tirhakah (sekitar 670 SM) yang menghormati ayahnya, yaitu Sesoteris III (sekitar 1870 SM) yang hidup kurang lebih 1200 tahun sebelumnya.

Sehingga dengan demikian daftar nama dalam alkitab tidak harus lengkap dan bukan merupakan perhitungan kronologis yang tepat, sebab kegunaan utamanya ialah untuk meneguhkan keturunan dari beberapa leluhur tertentu, sehingga tujuan tetap dapat tercapai tanpa dipengaruhi tidak adanya beberapa, bahkan banyak nama.

Dalam silsilah tersebut terdapat silsilah haris naik dan silsilah garis turun. Silsilah garis naik umumnya dilakukan dengan rumusan menghubung-hubungkan, misal: x anak dari (ben) y (band 1 Taw 6:33-43; Ezra 7:1-5). Sedangkan silsilah haris turun menyebutkan x memperanakkan (yalad) (band Kej 5, Rut 4:14-23). Silsilah garis turun dapat berisi banyak informasi seperti umur dan kegiatan dari pribadi yang bersangkutan, sedangkan silsilah garis naik lebih umum berguna untuk menelusuri tokoh-tokoh leluhur penting masa lalu dari seseorang sehingga peranan tokoh-tokoh penengah tidak diperhitungkan.

Penulis dan Konteks Penulisan
Sejak lahir abad kedua telah diterima pandangan bahwa Lukas adalah penulis injil ini, sehingga jika hak ini diterima maka penulis injil ini dapat sedikit dikenal, yaitu Lukas seorang beriman yang berasal dari lingkungan non Yahudi yang merupakan kawan seperjalanan Paulus dan juga seorang tabib. Selain itu ia juga seorang yang terpelajar, peka terhadap peristiwa kehidupan dan paham terhadap kesusastraan Yunani. Sehingga ia mampu melakukan berbagai penyelidikan dan kemudian mengumpulkan serta menyusun hasilnya menjadi sebuah kisah mengenai Yesus yang melaluinya membaca ‘dapat mengetahui bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar’. (Luk 1:4).

Waktu penulisan diperkirakan sekitar tahun 80 M, tidak diketahui dimana kitab ini di tulis. Melihat pada konteks waktu, tempat, dan penerima, pada umumnya dapat disepakati bahwa injil ini ditulis untuk pembaca/pendengar yang berbahasa Yunani dan hidup, secara geografis, waktu, dan budaya, jauh dari konteks historis kehidupan Yesus. Dimana para pembaca sebagai jemaat kristen yang mempunyai latar belakang yang jauh berbeda dengan jemaat mula-mula, generasi baru ini pada umumnya cukup berada secara ekonomi, tinggal di kota dan berusaha menjadi warga negara yang baik dari kekaisaran Roma (yang dianggap penjajah pada masa Yesus) dan mereka mempertanyakan keterkaitan mereka dengan para pendahulu mereka dalam iman. Mengapa mereka, orang Yunani, mesti mempercayai suatu agama yang penuh dengan warna Ibrani, dan juga apakah berita-berita yang telah mereka dengar selama ini dapat dipercaya dan dijadikan dasar bagi iman mereka.

Sehingga dalam situasi seperti ini Lukas merasa perlu untuk menyusun suatu ‘berita’ yang berdasarkan pada penyelidikan yang cermat dan memiliki dasar yang kokoh sehingga berita tentang Yesus, yang adalah Kristus dan Tuhan, dapat menjawab berbagai pertanyaan dan menjadi dasar bagi keyakinan iman akan kuasa keselamatan Allah yang diberikan melalui Yesus.

Sumber Penulisan
Sumber penulisan Lukas seperti dikatakan dalam pendahuluan tulisannya ialah ‘seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayanan Firman’ (Luk 1:2). Namun dalam penelitian lebih seksama secara historis kritis, secara umum diterima pandangan bahwa Lukas (juga Matius) mendasarkan tulisannya pada Markus dan juga kumpulan ‘sumber’ (yang ditandai dengan ‘Q’) dan kemudian sebagai tambahan pada bahan ini Lukas memiliki sejumlah keterangan tambahan yang diberi simbol ‘L’.

Mengenai cara Lukas bekerja menyusun Injil-nya ada dua teori, yang pertama ialah Lukas menjadikan Markus sebagai karya dasar dan menyisipkan bagian-bagian dari ‘Q’ dan ‘L’. Teori kedua ialah Lukas menggabungkan terlebih dahulu bahan ‘Q’ dan ‘L’ barulah kemudian menggabungkan ‘proto Lukas’ ini dengan Markus. Ada berbagai macam pertentangan yang menentang dan mendukung teori-teori ini, yang kesemuanya sangat bersifat teknis dan berupa hipotesa. Sehingga perdebatan panjang mengai hal inibukan pada porsinya ditempatkan disini, namun cukup sebagai pengantar dan latar belakang bagi penafsiran.

Penelitian Intratekstual
Penelitian ini dibatasi pada konteks mikro teks, yaitu konteks dekat dari teks, sebelum dan sesudah silsilah. Sehingga difokuskan pada konteks mikro yang kemudian melaluinya diharapkan dapat diketahui retorika dari penulis yang menggunakan pencantuman silsilah Yesus ‘versi tertentu’. Secara sengaja pada tempat dan konteks tulisan tertentu, dimanaÿÿaya ÿÿraÿÿÿÿi ÿÿhwÿÿLuÿÿÿÿ(dalam konteks cerita diwakiliÿÿleh narator) bermaksud menggunakan silsilah ini sebagai legitimasi bagi identitas/keberadaan Yesus sebagai anak Allah.

Konteks Mikro
Menarik jika memperhatikan bagaimana dalam tulisan Lukas, silsilah mesti ‘menunggu sekian lama’ sampai akhirnya dimunculkan, tidak seperti dalam Matius yang diletakkan di awal tulisannya, dari penempatan ini nampaknya ada kesengajaan dan maksud tertentu. Karena silsilah ini tidak muncul di sekitar kisah kelahiran tetapi ‘menyela’ antara pembaptisan dan pencobaan Yesus.

Beberapa penafsir berpendapat bahwa silsilah ini adalah semacam sisipan atau footnote, karena tidak ada tradisi semacam ini pada waktu itu sehingga letaknya kemudian menjadi bagian dari teks. Tetapi tampaknya bagi saya tidak demikian, karena pencantuman silsilah yang ‘menyela’ periode pengutusan Yesus ini justru merupakan retorika dari penulisnya, dimana silsilah ini merupakan silsilah versi Lukas yang mengikuti pola silsilah garis naik yang secara umum berguna untuk menelusuri tokog-tokoh leluhur penting masa lalu dari seseorang, sehingga peranan tokoh-tokoh penengah tidak diperhitungkan.

Dengan pemilihan model silsilah garis naik ini saja, sepintas dapat diketahui bahwa maksud penulisnya ialah untuk menunjukkan siapakah sebenarnya ‘leluhur’ Yesus, yaitu nama yang berada pada akhir daftar, yaitu anak Adam, anak Allah. Beberapa penafsir maka bertujuan menunjukkan keuniversalan yesus yaitu dengan cara menariknya sampai kepada Adam sebagai leluhur semua manusia, dan tidak seperti Matius yang ditujukan pada pembaca Yahudi dan menarik silsilah Yesus pada Daud dan Abraham, yang cenderung (atau memang) eksklusif Yahudi. Sehingga Yesus bukan hanya bagi orang Yahudi tetapi juga bagi penerima tulisan ini yaitu orang Yunani.
Namun demikian menurut saya hal ini tidak sesuai dengan konteks mikro, yaitu teks sebelum dan sesudah silsilah ini ditempatkan. Dimana teks sebelumnya ialah :

Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdia, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atasNya. Dan terdengarlah suara langit: “Engkaulah anakKu yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”.

Yang kemudian diikuti dengan silsikah yang berakhir pada ‘anak Allah” dan kemudian dilanjutkan dengan teks :

Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar. Lalu berkatalah iblis kepadaNya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti”.

Dalam kelanjutan Lukas 4 dijumpai 3 kali penyebutan “jika Engkau Anak Allah” konteks mikro sedang menceritakan seluruh orang banyak dan Yesus yang juga bersama-sama dibaptis, tetapi nampak perbedaannya dimana ketika Yesus dibaptis langit terbuka, Roh Kudus turun, adan ada ‘suara dari langit’ yang menyatakan perkenan Allah kepada Yesus. Semua peristiwa ini tidak dialami ‘seluruh orang banyak’ meskipun sama-sama dibaptis dan juga pembaptisan Yesus dikesankan dilakukan setelah seluruh orang banyak selesai dibaptis. Dari kontras ini nampak bahwa narator ingin menunjukkan keunggulan dan kelebihan Yesus, bukan hanya dibanding orang lain tetapi bahkan dibanding ‘seluruh orang banyak’. Dimana dari segi kuantitas kecil namun tidak demikian secara kualitas.

Kemudian sebelum mulai menuliskan silsilah Yesus, diberikan pendahuluan bahwa silsilah ini ialah ‘menurut anggapan orang’, apa yang dimaksud dengan pernyataan ini, apakah silsilah ini memang yang umum dipahami/diketahui oleh orang-orang di sekitar kehidupan Yesus pada waktu itu? Jika Lukas memang mengetahui dan mengambil Markus sebagai salah satu sumber penulisannya, maka tentunya ia mengetahui bahwa dalam Markus (6:3) terdapat ungkapan ketidakpercayaan orang-orang mengenai keberadaan Yesus.

Bukankan Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukanlah saudara-saudaraNya yang perempuan ada bersama kita?” lalu mereka kecewa dan menolak Dia.

Jika ‘orang’ pada waktu itu bersikap demikian, maka apakah mungkinjika mereka ini juga yang kemudian dianggap sebagai orang yang menerima silsilah Yesus seperti yang dituliskan Lukas, rasanya hampir tidak mungkin (untuk tidak berkata ‘mustahil’). Lalu jika begitu siapa yang dimaksud oleh Lukas dengan ‘orang’, ‘people’ (TEV), ‘Everyone’ (CEV), yang menganggap bahwa Yesus adalah anak Allah. Kata yang diterjemahkan sebagai ‘menurut anggapan orang’, ‘as was supposed’ (KJV, NKJV, NASB, ASV), ‘so it was thought’ (NIV), menurut Vine’s Expositoty Dictionary dapat diartikan sebagai diingat, dipertimbangkan, dikira/dianggap, dan juga berdasarkan tradisi. Jika demikian maka tentu ini adalah ingatan, anggapan, dan tradisi dari orang yang adalah ‘saksi mata dan pelayan firman’. Sehingga ‘menurut anggapan orangtidak dapat dipahami bahwa inilah yang memang diterima oleh ‘semua orang’ yang hidup sejaman dengan Yesus, tetapi orang-orang yang ‘tidak kecewadanmenolak Dia’ yang lebih tepat dianggap sebagai pencetus tradisi silsilah ini.

Urutan peristiwa juga menunjukkan bahwa segera setelah pembaptisan di sungai Yorda, Yesus ‘dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun’. Sehingga silsilah yang diletakkan penulis diantara kisah ini juga semestinya dipahami dalam kaitan dengan Yesus yang diurapi dan dipenuhi, serta dipimpin Roh Kudus dan diperkenan ‘langit’ (baca: Allah) dan kemudian oleh Roh yang sama dipimpin menuju padang gurun untuk dicobai oleh iblis, bahkan iblis juga dalam komunikasi dengan Yesus menyebutkan sebagai anak Allah. Dalam teks LAI-TB memang dipakai kata “Jikalau Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti”, yang menimbulkan kesan seorang iblis ingin menguji apakah Yesus memang Anak Allah, tetapi dalam LAI-TB2 dipakai kata “Karena Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti”. Sehingga pencobaan ini lebih diarahkan pada kedudukan Yesus sebagai anak Allah, dimana pencobaan ini dapat mendorong Yesus untuk menyalahgunakan kuasa ilahi yang baru saja dimiliki (dalam konteks kisah ini) untuk mencapai tujuannya di dunia ini, menurut cara yang ditawarkan iblis dan bukan BapaNya.

Sehingga silsilah memang diletakkan menyela diantara kisah ‘pengesahan identitas’ dan ‘pengujian identias’ sebagai anak Allah. Atau dengan kata lain dalam konteks narasi yang ingin menunjukkan keberadaan Yesus sebagai anak Allah. Sehingga dengan demikian silsilah ini semestinya, menurut saya, dibaca sebagai bagian dari suatu retorika yang ingin mengarahkan dan meyakinkan pembaca pada identitas Yesus sebagai anak Allah. Sehingga mulai pencantuman silsilah ini, di tengah kisah Yesus sebagai anak Allah, dimaksudkan untuk semakin menegaskan dan meyakinkan akan ‘siapa Yesus sebenarnya’, atau lebih spesifik lagi ‘siapa leluhur Yesus’. Bahwa yesus memang anak Allah, yaitu orang yang diperkenankan oleh Allah, memiliki hubungan istimewa dengan Allah, dan juga memiliki kuasa Allah. Sehingga silsilah telah dan memang dipakai sebagai retorika oleh Lukas.

Dialog Intertekstual

Silsilah Raja-Raja Jawa
Silsilah ini dapat dijumpai dalam Babad Tanah Jawi (Sejarah Tanah Jawa) yang memiliki berbagai macam versi sebagai hasil peredaksian, maupun juga dalam silsilah resmi yang dipakai oleh Raja-Raja maupun bangsawan Jawa sampai pada saat ini. Saya berkesempatan untuk berbincang dengan salah seorang yang bertugas dalam penelurusan dan penulisan silsilah di Kerator Surakarta dan juga melihat silsilah resmi yang hanya boleh dilihat. Namun secara umum saya sempat membandingkan daftar silsilah yang saya miliki berdasarkan buku-buku dan mencocokkannya dengan daftar resmi tersebut. Secara garis besar memang sama dan perbedaan mulai nampak pada nama yang berkaitan dengan masa penulisan dan siapa raja yang berkuasa pada waktu versi tersebut ditulis, sehingga masing-masing versi Babad merupakan hasil peredaksian yang dipakai untuk menunjukkan kedudukan dan hubungan dari Raja yang sedang berkuasa dengan para leluhurnya. Hal ini sangat penting, karena tidak mungkin orang yang tidak mempunyai keterkaitan dengan ‘darah biru’ memiliki legitimasi dimata rakyat, meskipun orang tersebut tidak memiliki keterkaitan langsung, namun diupayakan untuk mengaitkan sebagai bagian dari keabsahan keberadaannya sebagai raja.

Selain berbagai versi tadi, silsilah ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu Pangiwa (silsilah sebelah kiri) dan Panengen (silsilah sebelah kanan), dimana pangiwa adalah daftar silsilah dari raja dan keturunannya yang beragam non-Islam (Hindu, Budha, dan lainnya) dimana dalam silsilah ini jika ditarik ke atas akan dijumpai daftar nama padewan (dewa-dewa) yang merupakan daftar silsilah dari raja dan keturunannya yang beragama Islam, sehingga silsilah ini jika ditarik ke atas akan menghubungkan raja dengan nabi Muhammad dan juga Kanjeng Nabi Adam (Adam).

Berg menunjukkan bahwa Babad Tanah Jawi selain terdiri dari banyak cerita juga berciri struktur silsilah. Dimana versi tertua dari Babad mencantumkan struktur 3 kali 7, yaitu raja sebelum Bra Wijaya I, 7 Raja Majapahit, dan 7 Keturunan Bra Wijaya II, struktur ini pada versi yang kemudian diperbesar menjadi struktur 7 kali 7. kemudian diperluas lagi ketika Islam mulai masuk untuk menjawab keingintahuan masyarakat Islam (dan legitimasi kekuasaan raja?), bahkan kemudian silsilah ini tidak hanya diperbesar tetapi juga diubah oleh para penulis di abad 17 dan 18, dengan tujuan memenuhi kepentingan para raja.

Jadi selain memiliki dua cabang, kiri dan kanan, juga ada berbagai veris dari silsilah yang tidak hanya diperluas tetapi juga diubah demi kepentingan penulis atau juga penguasa. Sehingga disini juga nampak bahwa penulisan silsilah raja-raja Jawa sebenarnya juga bukan berkenaan dengan aspek kronologis historis tetapi lebih pada retorika untuk melegitimasi identitas.

Mitologi
Aspek yang juga signifikan dalam dua silsilah ini ialah adanya kandugan mitos. Pemahaman mengenai mitos semestinya dipandang sesuai dengan world view yang dipakai oleh para penyusun silsilah. Karena dalam perspektif historis kritis, biasanya unsur mitologi dianggap sebagai suatu hal yang ahistoris, karena penekanan penelitian kritis ialah pada historisitas. Namun mitologi memang tidak dimaksudkan untuk memberi suatu penjelasan yang kronologis demi masa lampau itu sendiri.

Mitologi berfungsi untuk memberi suatu dasar bagi asal mula suatu hal maupun peristiwa di masa lampau, dimana masa lampau itu sendiri tidak dijelaskan, tetapi dipakai untuk menjelaskan masa yang kemudian, baik sekarang maupun yang akan datang. Sehingga ketepatan historis yang diharapkan dalam perspektif historis kritis tidak dapat ditemui. Karena itu sering kali pendekatan historis kritis ‘memaksa’ pembaca sekarang ini untuk mengabaikan mitologi karena diragunakn keabsahannya.

Begitu pula kalau silsilah Yesus maupun silsilah raja-raja ini hendak diteliti dengan pendekatan historis kritis, yang ujung-ujungnya adalah mempertanyakan keabsahan dari pohon silsilah tersebut. Karena selain menyebutkan nama-nama tokoh historis, silsilah tersebut juga mencantumkan nama tokoh mitis. Setidaknya memang dapat diperdebatkan dalam silsilah Yesus mengenai historisitas nama-nama pra Abraham, ataupun adanya tokoh-tokoh dewa dan pewayangan dalam silsilah raja-raja jawa. Bagi perspektif historis kritis adanya ‘gap’ antara figur manusia historis dengan figur mitis yang disatukan adalahs autu ‘sandungan’, sehingga solusi umumnya ialah menyingkirkan nama-nama yang dianggap ahistoris tersebut.

Namun jika pembaca sekarang ini mencoba melihatnya dengan pendekatan dan world view yang dipakai oleh para penulis/penyusun kedua silsilah pada masanya, maka ‘gap’ tadi tidak menjadi ‘sandungan’ karena pemikiran bahwa ada kesatuan antara yang natural/materi dengan yang supranatural, setidalnya dalam kehidupan kapangan tertentu (baca : masyarkat jawa kebanyakan, Jogja dan Solo khususnya) keyakinan akan keterkaitan raja sekarang ini dengan mitologi Kanjeng Ratu Kidul (Ratu pantai selatan) adalah sebuah legitimasi kekuasaan yang masih diyakini oleh pihak keraton maupun masyarakat.

Tidak dipersoalkan bagaimana dan kapan hubungan itu mulai dijalin, tetapi yang menjadi tujuan dari hubungan itu ialah akibatnya bagi legitimasi kekuasaan raja yang mempunyai backing kekuatan supranatural, sehingga secara kualitas raja berbeda dari kawula (rakyat), meskipun kawula bisa saja (sekarnag ini khususnya) secara ekonomi maupun intelektual lebih tinggi dari raja, namun secara kuasa jauh dibawah raja. Apakah pengkaitan dengan mitologi dalam silsilah ini adalah suatu keyakinan akan realita, bahwa memang tokoh-tokoh mitis itu memiliki keterkaitan dengan sang penguasa (raja), ataukah semua ini ‘sekadar’ bagian dari upaya melanggengkan kekuasaan sang penguasa, pertanyaan tersebut memerlukan studi tersendiri yang mendalam, namun dalam kaitan dengan silsilah maka pencantuman tokoh mitis juga dipakai untuk melegitimasi bahwa Yesus dan raja-raja jawa bukanlah sekedar ‘manusia biasa’!

Dialog
Setelah melihat bagaimana silsilah raja-raja jawa ditulis dan dipakai sesuai kepentingan penulis yang bertujuan mendukung pihak penguasa, maka pemahaman akan bagaimana silsilah ini ditulis dapat dipakai dalam ‘membaca’ silsilah Yesus, dalam hal ini versi Lukas.

Setelah mengerti bahwa silsilah tidak harus historis namun lebih sebagai retorika, maka silsilah Yesus dapat dibaca pula sebagai retorika dari penulisannya yang memang memiliki tujuan dengan pencantuman silsilah tertentu yang ingin menunjukkan siapa sebenarnya Yesus dalam kaitannya dengan Allah, bahwa ia adalah orang yang diperkenankan oleh Allah. Bisa juga jika dibandingkan dengan silsilah raja-raja jawa yang menghubungkan daftar silsilah dengan para dewa/padewan dimana ada legitimasi bahwa kuasa para raja berkaitan dengan para dewa sehingga secara kualitas dapat dipastikan bahwa para raja lebih unggul dari manusia biasa karena mereka adalah ‘keturunan ilahi’, bisa jadi ini juga diharapkan oleh Lukas untuk semakin memperjelas perbedaan kualitas Yesus dengan ‘seluruh orang banyak’. Dimana Yesus bukan sekedar anak Yusuf tapi sesungguhnya berkualitas lebih tinggi karena memiliki relasi khusus dengan Allah, karena bagaimanapun juga Ia adalah anak Allah!.

Penutup
Dengan melihat pada silsilah Yesus versi Lukas dan juga silsilah raja-raja jawa, maka nampak bahwa teks (baca: silsilah) tidak berdiri sendiri dan netral tetapi merupakan retorika. Sehingga dengan demikian kita tidak perlu terlibat dalam pertentangan mengenai silsilah mana yang absah/legitimate dan mana silsilah yang palsu. Atau juga terlihat dalam usaha mendamaikan dua versi silsilah Yesus dalam Matius dan Lukas, dimana yang satu sebagai silsilah dari Maria dan satunya dari Yusuf. Tetapi kita dapat menghargai dan mensyukuri kepelbagaian silsilah sebagai kekayaan, karena silsilah memang bukanlah ditulis sebagai dan secara kronologis-historis, tetapi terutama untuk meneguhkan keturunan dari leluhur tertentu, melegitimasi identitas, dan tentu saja sebagai retorika!

2 Comments »

  1. Good Job Brother. God Bless You. Semoga menemukan pasangan hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan dan benar.

    Comment by iwan setiawan — April 6, 2008 @ 2:24 am

  2. That’s great, Berkat Tuhan. Lebih indah menjadi murid Jesus daripada menjadi bagian dari keluarga bangsawan. piss…

    Comment by Johanes Wijaya — October 22, 2008 @ 6:35 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress