TRANSFORMER BATIN DALAM KISAH “ANAK YANG HILANG”
Sebuah tilikan kritis kontribusi terhadap Etika sebagai cerita yang benar
Karya: Daniel K. Listijabudi, Kategori: Pilihan mahasiswa
Barang siapa dipanggil Tuhan, ke dalam pekerjaanNya
Akan melihat tanda heran yang sudah diadakanNya
Meskipun jalan turun naik, mengaku jalan Tuhan baik
Halleluya, halleluya!
(Nyanyian Rohani no.15)
Pendahuluan
Adalah Henri Nouwen – seorang teolog pastoral terkemuka dari Harvard yang berpindah pelayanan menjadi pastor bagi orang-orang cacat mental di komunitas L’Arche, Toronto – yang menuliskan kisah Anak yang Hilang ini dengan sedemikia memukau. Di dalam bukunya Nouwen mengkontemplasikan secara mendalam baik lukisan abad 17 dari Rembrandt maupun “lukisan” kisah dalam Injil Lukas 15: 11-32, sehingga ia tersadar bahwa kisah Anak yang Hilang itu pertama-tama adalah kisah tentang hidupnya sendiri karena kedua media ini menolong Nouwen menyadari sisi-sisi gelap dan terang yang ada di dalam diri sendiri. Melalui pendalaman yang intensif terhadap teks dan diri sendiri, Nouwen menemukan adanya panggilan untuk mengakui bahwa di dalam dirinya ada si Anak Bungsu, ada si Anak sulung, dan dalam keadaan seperti itu ada keterpanggilan untuk berjalan menjadi seperti si Bapa. Kejujuran, kedalaman, detail refleksi, dan keterburukan Nouwen dalam menunjukkan “perjalanan” spiritual yang diterangi oleh kedua media inilah yang menjadi daya pikat dan daya gerak bagi batin pembacanya. Kepindahan Nouwen dari kegemelapan prestisiusitas akademis di Harvard ke komunitas orang-orang cacat di L’Arche Toronto agaknya menjadi bukti yang tak terbantahkan dari buah perjalanan spiritual itu. Pergumulan Nouwen bukan hanya menghasilkan sebuah buku yang menarik melainkan juga bahkan terlebih lagi – menghasilkan pengakuan, pendalaman, penghayatan dan peneguhan dalam praksis pelayanan bagi sesama manusia cacat mental yang jauh dari prestisiusitas Harvard, yang tidak membutuhkan pengakuan akan nama besar Nouwen, yang tidak pernah mengukur Nowen dari segala macam prestasi akademisnya. Tentu saja buah dari transformasi batin ini bersifat khas dan kontekstual bagi setiap orang sehingga pilihan Nouwen tidak bisa dimutlakkan menjadi standar, bagi semua orang lain – namun demikian bahwa transformasi batin itu mensyaratkan buah secara sosial, adalah suatu keniscayaan.
Berkaitan dengan pokok gagasan pentingnya transformasi batin dalam karya etis dan memikatnya transformasi batin yang terjadi pada Nouwen dalam perpindahan pelayanan sosialnya dari Harvartd ke L’Arche, maka masalah yang hendak diangkat dalam paper ini adalah adanya “kekeringan” yang harus diatasi bahkan di lawan, against dryness, di dalam karya pelayanan bagi komunitas. Suatu kiprah yang barangkali dimaksudkan secara demi terciptanya sebuah realitas yang etis (dalam skopa yang multi dimensional) bisa jadi ternyata dikerjakan, dilayankan, diperjuangkan tanpa spiritualitas yang mengakar dalam. Patut diduga hal ini terjadi karena orang memisahkan perjuangan etis dan transformasi batin dalam kutub-kutub yang berbeda, tanpa dialektika. Bila dikaitkan dengan salah satu elemen lingkaran germeneutis – yang dianggap cocok untuk konteks Indonesia – yakni cerita yang benar, tentu saja dapat diandaikan bahwa pemisahan semacam ini mengandung bahaya, yakni memperjuangkan berseminya cerita yang benar tanpa sendiri mengalami kebenaran cerita itu.
Dalam rangka menjawab permasalahan di atas, paper ini akan mendalami spiritualitas dari Henri Nouwen dan menariknya ke aras discourse dalam “dunia” etika batin. Namun demikian walaupun diinspirasi oleh pengalaman Nouwen mendalami lukisan kuat Rembrandt dan “lukisan” kisah Injil, paper ini tidak pertama-tama bermaksud untuk meresensi buku Nouwen atau menyajikan ulasan Nouwen tentang lukisan Rembrandt, atau melakukan tafsir Kitab Suci. Tujuan penulisan paper ini adalah untuk menunjukkan bagaimana pengalaman batn dalam mendalami Kitab Suci sebagai salah satu elemen dari lingaran hermeneitus dapat menggerakkan etika proadi dan etika sosial secara dialektis dalam suatu cerita yang benar. Penulis tidak bermaksud memisahkan etika pribadi dari etika sosial secara dikotomis – sebab etika pribadi pada hakikatnya selalu bersifat sosial dan etika sosial bersifat pribadi – namun demikian keduanya tetap dapat dililah lalu diperjumpakan secara dialektis. Kedialektisan relasi inilah yang menjadi fokus kajian penulis. Untuk mengkaji dialektika relasi ini maka penulis akan “meminjam” gagasa Nouwen dalam memetakan kisah “anak yang hilang” dan kemudian menunjukkan kontribusi etis dari transformasi batin yang dialami oleh para tokoh dan Nouwen sendiri serta mengkaitkannya dengan lingaran germeneutis sosial sehingga kita akan mendapati sebuah cerita yang benar dalam suatu tinjauan kritis. Diharapkan melalui langkah-langkah ini dialektika etika pribadi dan etika sosial dalam bingkai transformasi batin atau etika batin ini dapat terpedakan dengan memadai.
Kisah “Anak yang Hilang” dan kisah hidup Nouwen
Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: “Bapa, berikanlah kepadaku harta milik kita yang menjadi hakku”. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu diantara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia membotoskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: “Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: “Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa,aku tidak layak lagi disebutkan anak Bapa, jadikan aku salah seorang upahan Bapa”. Maka nagkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: “Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak Bapa”. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: “Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan septu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan di dapat kembali”. Maka mulailah mereka bersukacita. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: “Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatkannya kembali dengan sehat”. Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya “telah bertahun-tahun aku melayani Bapa dan belum pernah aku melanggar perintah Bapa, tetapi kepadaku belum pernah Bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersuka cita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja daang anak Bapa yang telah memboroskan harta kekayaan Bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka Bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia”. Kata ayahnya kepadanya, “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanmu. Kita patut bersuka cita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan di dapat kembali”.
Kisah perumpamaan dari Yesus ini memilat Nouwen kaerna – seperti dikutip di halaman awal – kisah ini membantu Nouwen menyusun kisah dirinya sendiri. Kisah itu berlangsung dalam 3 tahap. Tahap pertama adalah pengalaman Nouwen menjadi si Anak Bungsu, yaitu perasaan diri sebagai yang hilang. Ia bepergian kemana-mana, mengajar di mana-mana, bertemu dengan banyak orang dengan segala gaya hidup dan keyakinan, terlibat dengan banyak soal di Amerika Selatan dan Tengah, ikut dalam berbagai gerakan, tetapi pada akhir semuanya itu ia merasa amat lelah dan tidak punyai rumah. Oleh karena itu – seperti si anak bungsu dalam kisah – ia pun rindu pulang, menantikan sambutan sang Bapa. Tahap kedua adalah pengalaman menjadi Anak sulung. Di tahap ini – setelah disadarkan oleh sahabat yang bernama Bart Gavigan – Nouwen melihat bahwa di sepanjang hidupnya ia adalah orang yang patutu dan taat, baik kepada orang tua, guru-guru, uskup-uskup, dan Tuhan. Ia tidak pernah terhanyut dalam “pestapora dan kemabukan”. Ia tradisional, bertanggung jawab dan kerasan di rumah namun ia juga melihat bahwa ia memiliki kecemburuan, kemarahan, mudah tersinggung, keras kepala, mudah menggerutu dan terutama sikap selalu merasa paling benar yang sangat halus, dan senantiasa ditunggangi oleh perasaan dendam. Jadi ia adalah anak sulung yang terhilang seperti si anak bungsu kendari ia senantiasa berada di rumah di sepanjang hidupnya. Tahap ketiga adalah pengalaman menjadi sang Bapa di tahap ini Nouwen menyadari bahwa sang Bapalah satu-satunya yang mengungkapkan secara amat penuh panggilannya dalam kehidupan. Sebetulnya ada penolakan hebat di dalam dirinya untuk memikirkan diri sebagai seorang Bapa, namun seorang teman bernama Sue Mosteler meneguhkan dia dengan berkata, “Engkau telah mencari banyak sahabat selama hidupmu, engkau begitu mendamba untuk beroleh kasih sayang selama aku mengenalmu, engkau begitu tertarik dengan macam-macam hal, engkau mencari perhatian, penghargaan, dan pengakuan. Saatnya tiba untuk mengikuti panggilanmu yang sejati yaitu menjadi bapa yang mampu menyambut anaknya pulang tanpa bertanya sepatah kata pun kepadanya dan tanpa menginginkan sesuatu pun sebagai imbalannya. Pandanglah sang bapa dalam lukisanmu dan engkau akan tahu engkau harus menjadi siapa. Kami di komunitas fajar (L’Arche) dan sebagian besar orang di sekitarmu tak membutuhkan engkau menjadi seorang teman yang baik atau bahkan seorang saudara yang ramah. Kami membutuhkan engkau menjadi seorang bapa yang tampil sebagai sumber belas kasih sejati.
Dialektika-dialektika Kisah/cerita
Bila kita mendalami dengan cermat kedua kisah di atas, kita akan mendapati adanya beberapa elemen yang dapat diperjumpakan secara dialektis. Dialektis pertama adalah memperjumpakan pendalaman (discernment) terhadap kisah injil yang ditajamkan oleh lukisan Rembrandt – dengan kisah tentang perjalanan hidup Nouwen sendiri. Dalam dialektika dari dua kisah/cerita ini didapatkan berbagai dinamika dan pengakuan terhadap kisah injil maupun kisah sendiri. Buah dari dinamika dan pengakuan ini adalah peneguhan dan keterpanggilan untuk mentransformasi batin sendiri dalam spiritualitas hati yang terkait dan sekaligus diterangi oleh Sabda Kitab Suci. Nouwen menyejajarkan kelelahan ketika menjadi pengahar di Harvard berikut dengan segala aktivitas gerakannya dengan kisah “hilang” nya si anak bungsu karena kedua kisah itu berbicara tentang kelelahan dan kerinduan kembali ke “rumah”, Nouwen menyejajarkan kecenderungan-kecenderungan tertentu di dalam dirinya (terutama sikap merasa paling benar dan perasaan dendam) dengan “hilang”nya si anak sulung kaerna kedua kisah berbicara tentnag perasaan superior, kepahitan dan keirihatian dari orang yang amat taat, patuh memperhatikan aturan, selalu bekerja keras, dihargai dipuji, dikagumi orang lain dan dianggap sebagai anak teladan tanpa cacat yang ternyata memiliki kepribadian pendendam, sombong, tidak ramah, gelap dan egois yang muncul ke permukaan ketika dihadapannya tersaji kegembiraan bapa atas kepulangan si adik; Ia juga menyejajarkan keterpanggilannya untuk menyambut pulang setiap orang tanpa pamrih dengan “hati” sang Bapa, karena kedua kisah ini berbicara tentnag belas kash yang diotaarkan pada siapa saja yang rindu pulang. Dialektika kisah Injil dan kisah hidup, terbukti memberikan spiritualitas bagi karya pelayanan Nouwen. Darinya kita mendapati bahwa etika sosial dan etika pribadi memang sangat terhubung, karena dengan mengelola batin dalam terang Kitab Suci, maka pelayanan nyata kepada dunia akan memperoleh akar yang kuat dalam spiritualitas dan sebaliknya dengan melayani sesama (di komunitas L’Arche) spiritualitas sang Bapa mendapatkan wahana dan peneguhan.
Dialektika kedua, adalah pada pendalaman dan penghayatan Nouwen terhadpa spiritualitas dari “Anak-anak yang Hilang dan sambutan Bapa yang berbelas kasih” dalam Kitab Suci yang pada dasarnya adalah suatu interpretasi adalah suatu proses, bukan suatu keputusan sekali untuk selamanya. Tentu saja yang diinterpretasikan adalah elemen-elemen lingkaran hermeneutis yang terdiri dari pengalaman, refleksi, studi alkitab, analisis sosial, perencanaan, doa, aksi. Titik awal memang bisa dimulai dari mana saja sesuai konteks, namun keterkaitan dinamis dengan emelen-elemen yang lain perlu dipelihara. Bila suatu elemen lingkaran herneneutis dimutlakkan pada dirinya sendiri, maka hal itu bukan saja akan menjadikan stragnasi bagi elemen tertentu, namun – lebih parah lagi – akan menghentikan seluruh proses dialektis yang dinamis dari lingkaran itu. Bila ini yang terjadi maka etika pribadi akan terpisah dari etika sosial, narasi individu akan terlepas dari narasi komunal, narasi orang beriman akan terpisah dari narasi kitab suci yang menginspirasi iman, spiritualitas akan bercerai dengan pelayanan kemanusiaan. Oleh karena itu masih di halaman yang sama, Bernard Adeney Risakotta mengingatkan agar “aktivitas moral terus menerus diuji dalam doa, refleksi atas pengalaman, studi alkitab, diskusi dalam komunitas, analisis sosial, perencanaan dan aktivitas yang dibarui. Ini adalah suatu lingkaran tanpa awal dan akhir.
Dialektika ketiga adalah antara penemuan makna realitas hidup oleh diri sendiri dan oleh komunitas. Dalam mendalami dialektika pertama dan kedua, Nouwen jelas dibantu oleh orang-orang lain (dalam hal ini Bart Gavigan dan Sue Mosteller) untuk menyadari keberadaan si sulung dan sang Bapa di dalam diri Nouwen yang tadinya hanya melihat dirinya sendiri semata sebagai si bungsu. Ada perjumpaan antara refleksi pribadi dan refleksi orang lain (komunitas) yang menghasilkan pengayaan, pendalaman dan peneguhan. Perjumpaan refleksi dialektis inilah yang berperan besar dalam memetakan spiritualitas diri dan kontribusi sosial dari spiritualitas diri. Dialektika semacam inilah telah membawa mereka (Noweun dan komunitas L’Arche) masuk ke dalam suatu lingkaran hermenetis yaitu sebagai suatu model mengenai bagaimana melakukan penafsiran moral dan teologis di mana pengalaman di dalam suatu konteks komitmen membawa orang kepada refleksi komunal atas pengalaman itu dari sudut firman Allah. Di titik ini peringatan Yahya Wijaya bahwa “di Indonesia ada kecenderungan membangun etika di atas dasar teologi yang difilosofikan dan bukan dibangun di atas teologi yang hidup di dalam komunitas” mendapatkan signifikansinya. Namun demikian yang penting untuk senantiasa dipelihara adalah dialektika dari komunalitas dan personalitas, bukan pada pemutlakan salah satu dari keduanya.
Bagaimana merangkulkan cerita yang benar dengan Spiritualitas dan Etika?
James Gustafson menunjukkan bahwa ada hubungan antara moral dan spiritual. Hidup moralitas tanpa spiritualitas bisa kering dan tidak berakar, sedangkan hidup spiritual tanpa moralitas adalah sumber kemunafikan. Oleh karena itu Gustafson menunjukkan adanya korelasi antara kesadaran dan sikap spiritual, kepercayaan dan iman kepada Tuhan, dan hidup moral/etis di dunia. Korelasi itu tidak boleh dipisahkan melainkan justru harus direngkuh bersama dalam dialektika. Penulis menyebut korelasi Gustafson ini sebagai korelasi rangkap tiga. Di tahap ini pernyataan kritis yang perlu diajukan adalah bagaimana kita dapat memperjumpakan korelasi rangkap tiga itu dengan cerita yang benar tentang diri sendiri dan dunia agar korelasi itu di satu pihak dapat memperkuat cerita yang benar, dan sebaliknya cerita yang benar pun dapat memperdalam, memperkaya dan meneguhkan korelasi rangkap tiga itu?
Tentu saja pernyataan di atas harus dijawab terlebih dahulu dengan menyelesaikan dan menuntaskan mengenai apa yang dimaksud dengan cerita yang benar? Apa yang membuat sebuah cerita dapat disebut benar? Apa parameter dan konsiderasinya? Bagaimana bila cerita yang dulunya dianggap benar, dikemudian hari ternyata diakui sebagai yang tidak benar atau kurang benar? Bahkan kita dapat bertanya apa yang dimaksud dengan benar? Dan apakah yang dimaksud dengan cerita, sembarang cerita atau cerita tertentu?
Tanggapan paling prinsip terhadap sekian banyak pertanyaan di atas adalah bahwa suatu cerita yang benar bukanlah sekedar dongeng atau lagu penghantar tidur (lullaby) melainkan realitas yang diceritakan agar melaluinya orang hidup dengan lebih mendalam dan bermakna. Nilai kebenaran sebuah cerita bukan terutama terletak pada kategori fiksi atau non-fiksi, melainkan pada makna dari realitas yang hendak diungkapkannya. “Kita” kata Bernard Adeney-Rosakotta, “hidup dengan cerita, kita berpikir dengan cerita, kita bercerita dalam cerita. Cerita masing-masing kita lebih menentukan bagaimana kita hidup lebih dari peraturan-peraturan. Adalah tugas kita untuk menghadirkan cerita yang benar. Lebih lanjut, orang yang sama menulis bahwa etika sosial sangat tergantung pada ceritamana yang dipercayai. Kita tidak bisa bertindak kecuali kita mengerti makna sejarah, masa kini dan arah yang mau dijalankan ke masa depan. Makna adalah sebuah cerita. Cerita adalah konstruksi sosial manusia […] cerita yang paling mendalam tidak dibikin oleh seorang pribadi tetapi adalah hasil dari pergumulan komunal […] cerita-cerita yang membentuk hidup kita tidak dipilih secara sengaja tetaip justru ceritanya yang memilih kita. Kita ditarik dan dirayu oleh cerita sampai cerita itu menjadi bukan saja obyek perhatian kita, tetapi lebih dari itu, cerita menjadi mata kita yang membentuk dan memberi makna kepada dunia kita.
Dengan demikian sekarang kita dapat dengan yakin memperjumpakan korelasi rangkap tiga dari Gustafson dengan cerita yang benar, sebab keduanya mempunyai keprihatinan, concern yang dapat didialogkan dan didialektikkan, karena keduanya berakar pada pengakuan akan pentingnya makna hidup spiritual-etis dalam narasi riil manusia. Bagi Gustafson, concern dari korelasi rangkap tiga itu adalah pada kesadaran setiap saat akan Tuhan dalam hidup moral sebagaimana diungkap dalam bagian terakhir artikelnya “This existential question is how to keep the experience of the Holy alive and vital in our preoccupations with all the specific activities that conscientiousness requires from day to day […] I hope I have established that the awareness and experience of God is important as a ground for these senses (senses of dependence, limit, gratitude, repentance, obligation, just, ordering, direction) are significant for our moral lives […] This is not to make worship and prayer means to a better moral life. But it is to affirm that apart from worship the spiritual roots of the moral life of the Christian community, the spirit out of which and in which its member act, loses its distinctive character”. Kebermaknaan moral baru didapatkan dalam perjumpaannya dengan spiritualitas kesadaran setiap hari dalam hidup senyatanya, bukan sekear dalam gagasan, ide ataupun wacana. Gagasan ide, wacana adalah media yang berguna namun bukan pusatnya. Pusatnya terletak pada hidup senyatanya yang dimaknai oleh spiritualitas –etis dan oleh cerita yang benar. Sintesisnya adalah bahwa sebuah cerita yang benar disebut operatif secara etis-spiritual bila dialektika-dialektika yang bergerak dialamnya melayani realitas hidup manusia dalam konteks nyatanya.
“Alternatif” lingkaran hermeneutis dan kontribusi terhadap Cerita yang Benar
Ada banyak variabel dari suatu lingkaran germeneutis. Bahkan lingkaran hermeutis yang satu memiliki variabel yang berbeda dengan lingkaran ermeneutis lainnya. Dahulu ketika kaum protestan menekankah Kitab Suci dan Kaum Katholik menekankan pada tradisi serta akal budi, maka penekanan-penekanan tadi menjadi variabel dari lingkaran hermeneutik untuk menjelaskan apakah yang dimaksud dengan etika. Kemudian ada juga lingkaran hermeneutik yang lebih rumit dengan variabel-variabel : pengalaman, refleksi, kitab suci/tradisi, analisis ilmu sosial, rencana untuk perubahan, aksi/tindakan, (kembali ke) pengalaman. Ada juga lingkaran hermeneutik yang oleh Bernard Adeney-Risakotta dianggap paling cocok untuk konteks Indonesai yang bervariabelkan: hukum/peraturan, prinsip/nilai, ilmu sosial untuk memahami masalah nyata, transformasi batin/spiritualitas, pembentukan karakter, cerita yang benar. Dengan melihat perkembangan yang dinamis dari variabel/elemen lingkaran hermeneutis maka kita mendapati bahwa yang paling penting bukan apa yang menjadi variabel melainkanapakah sebuah variabel memang sesuai dengan konteks dan apakah – ini yang paling pokok – variabel-variabel itu bersifat dialektis dan dialogis.
Dengan memperhatikan kedua catatan tentang ariabel yang kontekstual dan dialektis tersebut maka orang bisa saja membuat lingkaran hermeneutisnya sendiri. Dalam konteks “perziarahan” batin dari Nouwen, kita dapat mengemukakan beberapa variabel dari “lingkaran” hermeneutis timbal balik, yaitu :
Aksi pastoral bagi komunitas dalam penghayatan lama (yang “melelahkan”, in dryness) ?? teks kitab suci ?? lukisan Rembtandt ?? refleksi Nouwen tentang kisah hidupnya sendiri ?? refleksi orang lain (komunitas) tentang hidup Nouwen ?? kesadaran baru (akan ke Anak Bungsuan, ke Anak Sulungan dan Ke Bapaan) ??pengalaman spiritual baru ?? aksi pastoral bagi komunitas dalam penghayatan baru (against dryness) ?? (kembali ke) teks kitab suci, dan seterusnya.
Dengan memperhatikan aliran akur dialektika di atas, kita dapat melihat bahwa transformasi batin yang menghidupkan diri sendiri dankomunitas dengan penghayatan baru adalah transformasi batin yang berdialektika dengan realitas nyata secara sosial sebagaimana batin itupun berdialektika dengan kitab suci dan media-media lain yang dapat membatu discenrment yang dikerjakan dalam oleh batin.
Nouwen memang berpindah dari Harvard ke K’Arche – ini amat mengagumkan – namun letak transformasi batinnya tidak pertama-tama dapat diukur pada kepindahan tempat pelayanan yang memang kontradiktif dari banyak segi, melainkan pada penghayatan baru yang muncul dalam perjumpaannya dengan realitas diri yang melayani. Sehingga dari pijakan awal lingkaran hermeneutik yang dimulai dengan aksi pastoral in dryness seorang yang tergerak untuk melayani komunitas secara etis – spiritual dapat terus tergerakkan secara dialektis hingga membuahkan aksi pastoral yang against dryness. Dari praksis “in” ke “against kekeringan, dryness. Dengan demikian telos, tujuan akhir dari dialektika lingkaran hermeneutik kisah Nouwen ini adalah kesadaran akan kerahiman Allah yang mendamaikan dunia baik dunia batin Nouwen maupun dunia pelayanannya secara empiris. Kerahiman Allah di dalam tokoh Bapa yang disaksikan oleh Lukas 15 dan panggilan menjadi Bapa yang ada pada Nouwen dalam realitas sesehari “berciuman dan berangkulan”. Inilah spiritualitas baru yang di alami di dalam realitas lama, sehingga melaluinya realitas lama menjadi “baru” karena “Ia yang hilang ditemukan, ia yang mati hidup kembali (si anak bungsu) – Ia yang patuh dan beku hati diundang masuk ke pesta gembira (si anak sulung) – Ia yang senantiasa berbelas kasih mendapatkan kembali cintaannya (sang bapa).
Jika demikian sekarang kita dapat menambahkan makna dari cerita yang benar selain 7 ciri yang diungkapkan Bernard Adeney Risakotta. Sebuah cerita disebut cerita yang benar bila :
1. Di dalam cerita itu terkandung perjumpaan spiritual antara seseorang atau komunitas dengan spiritualitas kerahiman Allah secara mendalam.
2. Dari perjumpaan intensif itu bersemilah karya etis-spiritual yang melawan kekeringan hati sendiri (against dryness indeed).
3. Karya etis-spiritual itu melayani realitas hidup manusia dalam konteks nyatanya, bukan sekedar dalam gagasa dan wacana belaka.
4. Segala dialektika yang bergerak di dalam suatu lingkaran hermeneutis yang mengandung pendalaman dan sekaligus keterbukaan, pada seluruh bingkainya disetujui sepenuhnya sebagai “cerita yang benar” bagiku, menjadi “ceritaku sendiri”. Ini bukan keegoisan, melainkan justru suatu affirmasi bahkan suatu peneguhan diri yang muncul dari dialektikan pendalaman dan keterbukaan, bukan dari kebekuan dan kekerasan hati.
Penutup
Kiprah setiap orang berlainan, social concern orang pun beragam, aplikasi perjuangan etis tiada tunggal,namun dalam segala kepelbagaian kiprah dan perjuangan untuk mengadirkan Kerajaan Allah di dunia yang riil ada sebuah spiritual – ethic common ground yang senantiasa perlu dipelihara, yaitu seyogyanya semua kiprah/aplikasi/keprihatinan itu tidak berdasar pada sekedar filosofi, atau sekedar teori-teori moralitas apalagi kepentingan-kepentingan yang bengkok melainkan kiranya berakar dan bersemi dari “sumber air yang menghidupkan dan menyegarkan” jiwa sehidup-hidupnya dan sesegar segarnya agar – sebagaimana kutipan Nyanyian Rohani 15 awal tulisan ini “walau jalan turun naik, tetap mengaku bahwa jalan Tuhan baik”.
TEOLOGI
Sangat menarik pembahasan Kisah Anak Yang Hilang.Nouwen dapat menjiwa posisi sebagai Anak Sulung maupun Anak Bungsu.Kedua Anak disebut sebagai Anak Hilang,dengan pemahaman yang berbeda.Senang sekali mengikuti pembahasannya.
Comment by Berlin Simarmata. — December 3, 2008 @ 1:29 am