ROOT CAUSES OF RELIGIOUS CONFLICT
Karya: Leonard C. Epafras
Abstrak:
Ada kesan yang kuat bahwa akar konflik bernuansa agama berada pada wacana dan retorika teologis yang
dikembangkan oleh masing-masing agama. Hal ini tampak melalui literatur-literatur mengenainya (mis. oleh
Charles Kimball, R. Scott Appleby, Mark Juergenmeyer dll) yang diproduksi di Barat. Tentu saja analisa
mereka amat bermanfaat dan membantu kita merumuskan apa yang terjadi. Namun jika kita berusaha mendengar
suara para pelaku dan korban dari konflik agama tersebut, ada banyak hal dan faktor lain yang bermain
dalam menyebabkan suatu konflik bernuansa agama terjadi. Saya berasumsi bahwa analisa yang diwakili
oleh par ahli di atas, pertama, lahir dari suatu paradigma yang khas, yaitu pemisahan yang tegas antara
agama dan negara. Paradigma melahirkan citra keagamaan tertentu yang khas pula, yaitu agama “yang baik”
adalah agama yang privat dan menyerahkan seluruh pengelolaan sosial lainnya pada lembaga sekular, yaitu
negara. Kedua, kelanjutan dari paradigma itu maka semangat keagamaan yang “dikritik” adalah (hampir
selalu) semangat fundamentalisme agama. Fundamentalisme agama lahir dari ketidak puasan
terhadap dominasi sekularisme dan paradigma yang memisahkan dengan ketat urusan agama dan dunia. (tentu
ada banyak hal lain lagi yang dapat dikatakan soal fundamentalisme). Sehingga solusi yang dimungkinkan
adalah pembatasan berkembangnya fundamentalisme. Namun dalam konteks Indonesia yang dari “sononya” sudah
menempatkan agama pada posisi yang tinggi, maka konflik bernuansa agama perlu dilihat benar
alasan-alasan dan akarnya. Dan fundamentalisme merupakan salah satu faktor yang berada dalam dinamika
keagamaan yang ada (bukan melulu faktor luar). Makalah ini akan mencoba melihat dari perspektif para pelaku
dan korban untuk menangkap persepsi mereka sendiri tentang konflik agama. Sumber utama makalah ini adalah
notulen 2 pertemuan antar-iman di Ambon dan Tentena-Poso (2006) dan wawancara dengan korban Poso
Kristen (2005). Dari upaya ini tampak ada banyak faktor yang menjadi akar persoalan seperti sejarah,
identitas, politik, di samping faktor internal agama seperti tafsir dan teologi operatif. Selamat membaca.
TEOLOGI
Agama merupakan bagian dari masyarkat, kehadiran agama di masyarakat di maksudkan untuk
membantu menata ulang sebuah komunitas yang mempunyai warna yang berbeda. Munculnya
berbagai konflik lebih disebabkan oleh ketidakdewasaan individu dalam hidup beragama.
Agama adalah garam di dalam masyarakat, kehadiran bukan untuk memicu beragam konflik
melainkan memberikan rasa yang berbeda yaitu terbentuknya masyarakat yang madani.
Pastilah …. !!!
Comment by Wahyu_BR — March 1, 2008 @ 2:14 am